Daerah

Kabupaten Kediri: “Bumi Panji” yang Kaya Sumber Daya Alam dan Narasi Sejarah

Terletak di antara dua gunung, yakni Gunung Kelud dan Gunung Wilis, Kabupaten Kediri menyimpan potensi sumber daya alam dan kaya akan narasi sejarah dan kemasyuran cerita masa lalu. Wilayah ini menjadi saksi tiga zaman, yakni masa kejayaan Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Suasana Monumen Simpang Lima Gumul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (9/12/2020) malam. Monumen megah menyerupai Arc de Triomphe, Perancis, di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, itu mulai dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Kediri Sutrisno tahun 2003 dan diresmikan lima tahun kemudian.

Fakta Singkat

Hari Jadi 
25 Maret 804

Dasar Hukum
Undang-Undang No. 12/1950

Luas Wilayah
1.563,42 km2

Jumlah Penduduk
293.597 jiwa (2021)

Kepala Daerah
Bupati  Hanindhito Himawan Pramana
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa

Instansi terkait
Pemerintah Kabupaten Kediri

Kediri merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya memiliki posisi strategis karena terletak di jalur utama lalu lintas yang menghubungkan antara bagian barat dan timur Pulau Jawa.

Kabupaten Kediri berdiri berdasarkan UU 12/1950 tentang Pemerintahan Daerah Kabupaten di Jawa Timur. Sebelumnya, pusat pemerintahannya berada di Kota Kediri. Namun sejak masa kepemimpinan Bupati Kediri Sutrisno pada 2000, ibu kota kabupaten secara de jure berada di Kecamatan Ngasem, meski wacana pemindahan ke Kecamatan Pare sudah disuarakan sejak lama.

Adapun hari jadi Kabupaten Kediri ditetapkan pada 25 Maret 804 berdasarkan surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kediri nomor 82 tahun 1985 yang ditandatangani oleh Penjabat Bupati Kediri, Usri Sastradiredja, pada 22 Januari 1985.

Hari jadi Kabupaten Kediri tersebut berdasarkan Prasasti Harinjing atau Prasasti Sukabumi. Prasasti ini dulunya ditemukan pada tahun 1916 di Kebun Kopi Sukabumi, Desa Siman, di wilayah Pare. Sekarang wilayah tersebut menjadi Kecamatan Kepung. Saat itu, pada masa kolonial Belanda Prasasti asal nama Kediri diamankan oleh Administratur Kebun yang bernama W Pet di perumahannya.

Di Prasasti Harinjing itu, terdapat kata “Kadiri” yang kelak menjadi Kediri. Prasasti yang berukuran tinggi 118 cm, lebar 88 cm, dan tebal 33-58 cm ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor koleksi D-173.

Dengan luas wilayah 1.563,42 km persegi, Kabupaten Kediri dihuni oleh 1.673.158 jiwa (2021). Daerah yang terdiri dari 26 kecamatan, 343 desa, dan 1 kelurahan ini dipimpin oleh Bupati Hanindhito Himawan Pramana dan didampingi oleh Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa untuk periode 2021-2024.

Dalam sejarahnya, wilayah Kediri menjadi saksi tiga zaman, yakni masa kejayaan Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit. Tidak mengherankan jika kabupaten yang dibelah Sungai Brantas dan berada di lereng sisi timur Gunung Kelud itu memiliki ribuan benda cagar budaya yang tersebar hampir di seluruh wilayah.

Di samping itu, kabupaten ini juga memiliki sejumlah foklor, mulai dari Panji Asmorobangun (Panji), kisah janda antagonis Calon Arang, hingga keagungan Jayabaya yang terkenal dengan ramalannya, menjadi bagian dari sejarah panjang Kediri.

Kabupaten Kediri dikenal pula sebagai Kota Tahu, karena disebut-sebut sebagai pelopor pembuatan tahu sejak dulu. Di luar itu, Kabupaten Kediri merupakan daerah potensial di segi ekonomi, karena dinamika industri dan perdagangannya yang cukup kuat.

Untuk periode 2020-2024, Kabupaten Kediri memiliki visi: “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Kediri yang Maju, Berkarakter Nasionalis-Religius, serta Sejahtera berdasarkan Ekonomi Kerakyatan yang Didukung Birokrasi yang Melayani”.

Adapun misinya adalah pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter nasionalis – religius; reformasi birokrasi dan pelayanan publik; pengembangan ekonomi kerakyatan dan peningkatan investasi daerah; revitalisasi pertanian untuk ketahanan dan swasembada pangan.

Kemudian peningkatan infrastruktur dan konektivitas antar wilayah; optimalisasi kepariwisataan berbasis kearifan lokal; optimalisasi tata kelola lingkungan hidup, sumber daya alam, dan mitigasi bencana; pengembangan seni budaya, olahraga dan kreativitas pemuda; mewujudkan kemandirian desa untuk kesejahteraan masyarakat.

Sejarah pembentukan

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Kediri, disebutkan ada beberapa versi mengenai asal muasal nama Kota Kediri. Versi pertama menyebutkan, Kediri berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Kadiri” atau “Kedi” yang berarti mandul atau wanita yang tidak datang bulan.

Versi lainnya menyebutkan, arti “kedi” berdasarkan kamus Jawa Kuno juga berarti “dikebiri” bidan atau dukun. Namun asal usul secara etimologi ini dianggap kurang beralasan sebagai nama Kota Kediri. Pendapat lainnya menyebutkan, kediri berasal dari kata diri yang berarti adeg, andhiri, menghadiri atau menjadi raja dalam bahasa Jawa Jumengan.

Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama, dan Kitab Calon Arang. Demikian pula, beberapa prasasti menyebutkan nama Kediri seperti Prasasti Ceker, berangka tahun 1109 Saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo.

Dalam prasasti ini, disebutkan karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, “Tanah Perdikan”. Dalam prasasti itu, tertulis “Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri”, artinya raja telah kembali kesimanya atau harapannya di Bhumi Kadiri.

Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek berangka tahun 1116 saka, tepatnya tanggal 31 Agustus 1194. Pada prasasti itu, juga disebutkan nama Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur, sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang.

Menurut sejarawan MM. Sukarto Kartoatmojo, hari jadi Kediri muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun nama Kadiri yang paling tepat dimunculkan pada ketiga prasasti.

Alasannya Prasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Berdasarkan ketiga tanggal tersebut, nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M.

Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga Prasasti Harinjing. Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang.

Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi “Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Sejumlah temuan benda cagar budaya oleh masyarakat, termasuk Prasasti Geneng atau Brumbung 1 dan 2 (belakang), disimpan di "museum" kecil di halaman Balai Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sebagaimana tampak pada Hari Minggu (21/3/2021).

Sejarah Kediri menyebutkan bahwa Bagawanta Bhari membendung Sungai Harinjing untuk pengairan dan kesejahteraan rakyatnya, yang sekarang menjadi Sungai Srinjing. Pada zaman Airlangga, Sungai Brantas dijadikan tempat perniagaan, hal ini menunjukkan bahwa air, khususnya Sungai Brantas, di Kediri sebagai aset yang perlu diperhatikan dan dibudidayakan.

Sejarah juga mencatat Kabupaten Kediri pernah menjadi bagian berbagai kerajaan penting di Pulau Jawa. Penemuan prasasti Tondowongso di Kecamatan Gurah (15 km Timur Kota Kediri) pada awal tahun 2007 terindikasi merupakan kompleks pemukiman penting.

Sejak perpindahan Kerajaan Medang dari Mataram ke timur menjelang milenium kedua, berdiri Kerajaan Kadiri atau Panjalu yang berlokasi di keraton Daha. Kerajaan Kadiri merupakan penerus Kerajaan Medang setelah pembagian wilayah sepeninggal Prabu Airlangga. Puncak kejayaan Kerajaan Kadiri adalah pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.

KOMPAS/OK BPCB JAWA TIMUR

Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur melakukan ekskavasi terhadap struktur petirtaan di Dusun Kebonagung, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Ekskavasi tahap pertama dilakukan pada 12-17 Juli 2020 dan akan dilanjutkan 21-27 Juli 2020.

Geografis

Kabupaten Kediri terletak diantara 111˚47’05” sampai dengan 112˚18’20” Bujur Timur dan 7˚36’12” sampai dengan 8˚0’32” Lintang Selatan.

Kabupaten Kediri berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Jombang di sisi Utara, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Malang di sisi Timur, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung di sisi Selatan, serta Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Nganjuk di sisi Barat.

Luas wilayahnya mencapai 1.532,92 km persegi. Kecamatan Mojo merupakan kecamatan dengan wilayah terluas, yaitu 141,5 km persegi. Sedangkan Kecamatan Gampengrejo merupakan kecamatan dengan wilayah tersempit yaitu 18,36 km persegi.

Kondisi topografinya terdiri dari dataran rendah dan pegunungan yang dilalui aliran Sungai Brantas yang membelah  dari selatan  ke utara. Rata-rata ketinggian berada antara 50-353 meter dari atas permukaan laut.

Wilayah Kabupaten Kediri diapit oleh dua gunung yang berlawanan sifatnya, yaitu gunung yang bersifat non vulkanik, Gunung Wilis di sebelah Barat dan gunung yang bersifat vulkanik, Gunung Kelud, di sebelah Timur.

Di bagian tengah wilayah Kabupaten Kediri melintang aliran Sungai Brantas yang membelah wilayah menjadi dua bagian. Bagian barat Sungai Brantas merupakan perbukitan lereng Gunung Wilis dan Gunung Klotok. Sementara bagian timur Sungai Brantas merupakan perbukitan kurang subur yang membentang dari Gunung Argowayang di bagian utara dan Gunung Kelud di bagian selatan.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Wajah Kawah Kelud Pascaerupsi 2014 – Kondisi puncak atau kawah Gunung Kelud di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, Jawa Timur, tampak telah terisi air, setelah empat tahun erupsi dahsyat pada Februari 2014. Kondisi kawah ini banyak menarik minat wisatawan untuk datang dan menikmati suasana terkini gunung setinggi 1.731 meter dari permukaan laut itu. Gambar diambil akhir September 2018.

Pemerintahan

Sejarah Kabupaten Kediri mencatat, bupati Kediri pertama pada masa Pemerintahan Kolonial dipegang oleh Pangeran Slamet Poerbonegoro (1800-1825), yang bertepatan dengan masa perang Jawa. Setelah itu, Kabupaten Kediri berturut-turut dipimpin oleh Tjakraningrat Teposono (1825-1850), Djojonegoro (1850-1860), Soemodirdjo (1860-1880), Tedjo Koesoemo (1880-1890), Djojo Koesoemo (1890-1910), Tondo Adit Tjokro (1910-1912), Moestajab Koesoemo Adi Winoto (1912-1928), RAA. Danoediningrat 1/Soebari Danoedipoera (1928-1929), RAA. Danoediningrat 2 / Moeladi (1930-1943), dan R. Moestadjab (1943-1945).

Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, Kabupaten Kediri dipimpin oleh R. Darmadi (1945), R. Samadikoen (1945-1947), R. Moch Machin (1948-1960), RM. Imam Koesoebagijo (1960-1963), AKBP Achmad Soebari (1963-1965), M Iswadi Wirosepoetro (1965-1970), Letkol Inf Siswoharjoko (1970-1975), Usrie Sastradiredja (1975-1985), Letkol Asmono (1985-1990),  Kol. Ruspanji (1990-1995), Kol. Suparyadi (1995-2000), Soetrisno (2000-2010), Harjanti Soetrisno (2010-2020), dan Hanindhito Himawan Pramono (2021-2024)

Kabupaten Kediri terbagi ke dalam 26 kecamatan, 343 desa, 1 kelurahan, 2.788 RW, dan 9.371 RT. Dalam menjalankan roda pemerintahan, pemerintah Kabupaten Kediri dibantu oleh 9.016 pegawai negeri sipil (PNS). Mayoritas PNS di Pemerintah Kabupaten Kediri berstatus golongan III yaitu sebesar 46,75 persen. Sementara berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan, mayoritas menamatkan pendidikan sarjana sederajat dengan persentase sebesar 64,55 persen.

KOMPAS/KPU KABUPATEN KEDIRI

Calon bupati dan wakil bupati Kediri terpilih, Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa, tengah berfoto bersama ketua dan anggota KPU Kabupaten Kediri saat penetapan calon terpilih pilkada serentak 2020 di Kediri, Jawa Timur, Jumat (22/1/2021).

Politik

Peta politik di Kabupaten Kediri dalam tiga kali pemilihan umum legislatif memperlihatkan dominannya PDI Perjuangan dalam meraih simpati rakyat Kabupaten Kediri. Pilihan rakyat tersebut tecermin dari perolehan kursi partai politik (parpol) di DPRD Kabupaten Kediri.

Pada Pemilu Legislatif 2009, PDI Perjuangan memperoleh kursi terbanyak dengan 14 kursi dewan dari 50 kursi yang diperebutkan di DPRD Kabupaten Kediri. Kemudian Demokrat di urutan berikutnya dengan delapan kursi. Disusul PKB dan Golkar dengan meraih tujuh kursi, PAN empat kursi, Gerindra dan PPP sama-sama meraih tiga kursi serta PKS dan PKNU masing-masing satu kursi dewan.

Pada Pemilu Legislatif 2014, PDI Perjuangan kembali mendominasi perolehan kursi dewan di DPRD Kabupaten Kediri kendati kursinya turun menjadi 12 kursi. Disusul PKB meraih sembilan kursi, PAN enam kursi, Golkar dan Nasdem sama-sama meraih lima kursi. Selanjutnya Demokrat memperoleh empat kursi serta PKS, PPP, dan PBB masing-masing memperoleh satu kursi.

Terakhir pada Pemilu 2019, PDI Perjuangan masih menempati urutan pertama dengan meraih 14 kursi di DPRD Kabupaten Kediri. Posisi kedua ditempati oleh PKB dengan sembilan kursi dewan. Kemudian posisi ketiga ditempati oleh PAN, Gerindra, dan Nasdem dengan meraih enam kursi dewan. Disusul oleh Golkar lima kursi serta Demokrat dan PPP masing-masing memperoleh empat kursi.

DPRD KABUPATEN KEDIRI

Di puncak hari jadi Kabupaten Kediri ke 1218 di Pendopo Panjalu Jayati Jum’at (25/3/2022) pagi. Dodi Purwanto Ketua DPRD Kabupaten Kediri hadir mendampingi Bupati Kediri Hanindito Himawan Pramana. Hadir di acara tersebut jajaran Forkompimda Kabupaten Kediri dan kepala SKPD Pemkab Kediri.

Kependudukan

Penduduk Kabupaten Kediri tercatat sebanyak 1.673.158 jiwa menurut data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kediri. Rinciannya, 845.152 jiwa penduduk laki-laki dan 828.006 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan tahun 2020, penduduk Kabupaten Kediri turun sebesar 0,02 persen.

Kepadatan penduduk di Kabupaten Kediri tahun 2021 mencapai 1.217,28 jiwa/km2. Kecamatan Grogol merupakan kecamatan terpadat dengan angka kepadatan penduduk 3.422,30 jiwa/km2.

Berdasarkan kelompok usia, komposisi penduduk Kabupaten Kediri tahun 2021 terdiri atas 21,35 persen penduduk berusia 0-14 tahun, 59,16 persen berusia 15-54 tahun, dan 19,48 persen berusia 55 tahun ke atas.

Pada tahun 2021, lapangan usaha di bidang jasa merupakan lapangan usaha yang banyak digeluti masyarakat di Kabupaten Kediri yakni sebesar 44,75 persen. Pertanian sebesar 34,29 persen; dan Manufaktur sebesar 20,96 persen.

Kediri adalah daerah yang berpenduduk majemuk. Mayoritas masyarakat Kediri berasal dari suku Jawa. Karena itu, masyarakat Kediri masih kental dengan adat Jawa pada umumnya. Salah satunya adalah pelestarian budaya dalam rangka pelestarian lingkungan melalui sebuah ritual.

Di sisi agama, mayoritas penduduk Kabupaten Kediri beragama Islam dan lainnya menganut Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Pada tahun 2020, pemeluk agama Islam tercatat sebesar 97,1 persen dari total penduduk Kabupaten Kediri, disusul Kristen Protestan 1,6  persen, Katolik 0,8  persen, Hindu 0,3  persen, serta sisanya 0,2 persen pemeluk agama Budha dan kepercayaan lainnya.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Pementasan kesenian jaranan secara massal digelar di kawasan Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, 2014 silam.

Indeks Pembangunan Manusia
72,56 (2021)

Angka Harapan Hidup 
72,65 tahun (2021)

Harapan Lama Sekolah 
13,44 tahun (2021)

Rata-rata Lama Sekolah 
8,08 tahun (2021)

Pengeluaran per Kapita 
Rp11,127 juta (2021)

Tingkat Pengangguran Terbuka
5,15 persen (2021)

Tingkat Kemiskinan
11,46 persen (2021)

Kesejahteraan

Kesejahteraan penduduk di Kabupaten Kediri terus meningkat dari tahun ke tahun seperti tecermin dari indeks pembangunan manusia (IPM). Pada 2021, IPM Kabupaten Kediri tercatat sebesar 72,56, naik 0,51 poin dibanding pada 2020 sebesar 72,05. Dengan capaian IPM itu, Kota Kediri masuk kategori tinggi.

Ditilik dari dimensinya, umur harapan hidup (UHH) pada tahun 2021 tercatat selama 72,65 tahun. Kemudian untuk dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah penduduk usia 7 tahun selama 13,44 tahun dan rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas selama 8,08 tahun. Sedangkan dimensi standar hidup layak yang diukur dengan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan sebesar Rp 11,127 juta.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Kediri pada 2021 tercatat sebesar 5,15 persen atau sebanyak 10.911 orang. Jumlah itu turun 0,09 persen bila dibandingkan pada 2020, di mana pengangguran terbukanya sebesar 5,24 persen.

Pada Agustus 2021, TPT laki-laki sebesar 5,47 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan yang sebesar 4,67 persen. Dibandingkan Agustus 2020, TPT laki-laki turun sebesar 0,18 persen poin dan dan perempuan naik 0,05 persen poin

Sementara angka kemiskinan di Kabupaten Kediri belum menyentuh satu digit meski dalam beberapa tahun terakhir persentasenya menurun. Tahun 2021, angka kemiskinan masih 11,46 persen atau 184,49 ribu orang, turun dari 2020 sebesar 11,40 persen atau sebanyak 179,93 ribu orang.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Suasana kursus bahasa inggris di salah satu lembaga kursus di kampung inggris Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 
Rp489,33 miliar (2021)

Dana Perimbangan 
Rp2,12 triliun (2021)

Pendapatan Lain-lain 
Rp259,58 miliar  (2021)

Pertumbuhan Ekonomi
3,06 persen (2021)

PDRB Harga Berlaku
Rp42,69 triliun (2021)

PDRB per kapita
Rp25,96 juta/tahun (2021)

Ekonomi

Produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Kediri pada 2021 tercatat sebesar Rp25,96 triliun. Perekonomiannya ditopang tiga sektor utama, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan 23,33 persen, industri pengolahan 21,47 persen, dan sektor perdagangan dengan kontribusi 19,11 persen.

Sektor lainnya yang kontribusinya cukup besar adalah konstruksi 8,76 persen, informasi dan komunikasi 5,99 persen, serta jasa pendidikan 5,07 persen. Sedangkan sektor-sektor lainnya di bawah 4 persen.

Di sektor pertanian, komoditas pertanian didominasi oleh produk tanaman pangan. Misalnya padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, sayur mayur, dan buah-buahan. Hasil pertanian yang merupakan produk unggulan Kabupaten Kediri adalah tebu, nanas, mangga Podang, dan lain-lain.

Potensi perkebunan di Kabupaten Kediri juga memiliki komoditi yang bernilai tinggi. Misalnya, tebu yang diproduksi di Kecamatan Wates, kelapa di Kecamatan Grogol, kapuk randu di Kecamatan Kandangan, tembakau di Kecamatan Purwoasri dan Papar, jambu mete di Kecamatan Plosoklaten, dan stroberi di Besuki.

Sektor industri juga menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kabupaten Kediri. Industri makanan dan minuman tercatat menjadi penyumbang terbesar industri pengolahan, yakni sebesar 42,79 persen. Kemudian disusul industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 28,74 persen, industri pengolahan tembakau sebesar 18,72 persen. Sedangkan peranan subsektor industri lainnya kurang dari 6 persen.

Di kabupaten Kediri pada 2020 tercatat memiliki 3.349 unit usaha industri dengan serapan tenaga kerja mencapai 50.655 orang pada industri kecil dan industri sedang/menengah.

Adapun produk unggulannya, antara lain kelambu di Kecamatan Kunjang, sulam pita dan border di Kecamatan Purwoasri, kerajinan tempurung kelapa di Kecamatan Grogol, kerajinan pasir laut di Kecamatan Wates, tinta timbul untuk mengukir di Kecamatan Ngasem, tasbeh di Kecamatan Mojo, serta sapu sabut kelapa di Kecamatan Plemahan.

DOK HUMAS PT GUDANG GARAM TBK

Alat berat yang tengah digunakan untuk pembangunan Bandara Kediri di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pencanangan pembangunan bandara yang dbiayai oleh PT Gudang Garam Tbk ini dilakukan Rabu (15/4/2020).

Di bidang keuangan daerah, realisasi penerimaan daerah Kabupaten Kediri pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp2,86 triliun. Penerimaan tersebut berasal dari pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp489,33 miliar (17,11 persen), dana perimbangan sebesar Rp2,12 triliun (74,13 persen) dan pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp259,58 miliar (8,76 persen).

Di sektor pariwisata, Kediri menyimpan pesona objek wisata, baik wisata alam pegunungan, wisata air terjun bendungan, wisata cagar budaya candi, dan wisata seni budaya serta kerajinan khas kediri.

Destinasi wisata yang populer di wilayah Kediri antara lain Gereja Poh Sarang, Bendung Gerak, Candi Tegowangi, Taman Wisata Ubalan, wisata alam Gunung Kelud, kawasan wisata Besuki, Candi Surowono, dan Wisata Sri Aji Joyoboyo.

Tak hanya objek wisata, Kabupaten Kediri terkenal dengan kuliner khas, seperti Soto Branggahan, Sate Bekicot, Ayam Bakar Bangi, Tahu kuning GTT, Soto Kediri, Tahu Takwa, Gethuk Pisang, Nasi Goreng Arang dan Krengsengan Bekicot.

Adapun seni budaya tradisional menjadi daya tarik lainnya bagi wisatawan, seperti Jaranan, Tayub, Kentrung, Jemblung, Tiban, Reog Kendang, Reog Dadak Merak, Wayang Kulit, Wayang Krucil, Samroh, Pencak Silat, Karawitan, Campursari, dan Cungkir.

Untuk akomodasi, di kabupaten ini terdapat 30 hotel yang terdiri dari 2 unit hotel bintang dan 28 unit hotel non bintang pada tahun 2020. Sementara jumlah kamar yang tersedia ada sebanyak 664 kamar yang dilengkapi 1.083 unit tempat tidur.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Wisatawan menikmati jajanan pasar sor pring (di bawah pohon bambu) di Desa Ngadi, Kecamanan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (24/3/2019). Keberadaan tempat wisata tersebut membuat warga berkontribusi langsung untuk menjaga pohon bambu. Tempat wisata bertema alam dikembangkan di sejumlah desa. Mereka mengangkat potensi wilayahnya agar dapat menggerakkan perekonomian masyarakat selain dari sektor pertanian.

Referensi

Arsip Berita Kompas
  • “Kabupaten Kediri *Otonomi”, Kompas, 19 April 2002, hlm. 08
  • “Tekad Jadi Daerah Basis Melinjo *Otonomi”, Kompas, 19 April 2002, hlm. 08
  • “Peziarahan di Kediri: Dari Mbah Wasil hingga Aji Jayabaya”, Kompas, 03 September 2002, hlm. 25
  • “Wisata: Misteri Keelokan Gunung Kelud”, Kompas, 21 Juli 2008, hlm. 39
  • “Penemuan Arca di Kediri Bertambah * Diperkirakan Berumur 800 Tahun”, Kompas, 13 September 2008, hlm. 12
  • “Kampung Pare, “Kampungnya Inggris”, Kompas, 22 Oktober 2010, hlm. 41
  • “Tanah Air: Kediri, Negeri Seribu Cagar Budaya”, Kompas, 14 Februari 2015, hlm. 24
  • “Panorama: Menikmati Monumen Kediri Rasa Perancis”, Kompas, 15 April 2015, hlm. 23
  • “Sejarah: Brantas Merajut Kehidupan Masa Lalu hingga Kini”, Kompas, 07 Mei 2016, hlm. 22
Buku dan Jurnal
Aturan Pendukung

Editor
Topan Yuniarto