Daerah

Kota Palangka Raya: Kota “Cantik” yang Dibidani Soekarno

Dalam sejarahnya, Palangka Raya pernah digadang-gadang menjadi ibu kota pemerintahan RI pada era Presiden RI pertama, Soekarno. Tugu Soekarno Palangka Raya yang diresmikan Soekarno pada 1957 menjadi ikon dan saksi sejarah perkembangan kota ini. Palangkaraya tumbuh menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan bisnis di wilayah Kalimantan Tengah.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Tugu Soekarno di Palangka Raya diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, Sabtu (1/8/2015). Patung Presiden Soekarno yang dibangun di sekitar lokasi Tempat Pemancangan Tiang Pertama Pembangunan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah itu dibuat dari perunggu seberat 1.300 kilogram dengan tinggi 6 meter dengan biaya Rp 3,5 miliar. Selain menjadi salah satu daya tarik wisata, patung Presiden Soekarno juga diharapkan menjadi lambang semangat pembangunan bagi generasi saat ini.

Fakta Singkat

Hari Jadi 
17 Juli 1957

Dasar Hukum
Undang-Undang No. 10/1957

Luas Wilayah
2.853,12 km2

Jumlah Penduduk
298.950 jiwa (2020)

Kepala Daerah
Wali Kota Fairid Naparin
Wakil Wali Kota Umi Mastikah

Instansi terkait
Pemerintah Kota Palangka Raya

Palangka Raya merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini terletak di tengah-tengah Indonesia dan memiliki wilayah terluas kedua di Indonesia.

Kota Palangka Raya mulai dibangun pada tahun 1957 bersamaan dengan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah yang resmi terbentuk pada tanggal 23 Mei 1957 berdasarkan UU Darurat 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah. Sebelum menjadi daerah otonom, Kalimantan Tengah merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan pusat pemerintahan berada di Kota Banjarmasin.

Palangka Raya menjadi pusat pemerintahan daerah Provinsi Kalimantan Tengah dengan berlakunya UU 27/1959 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor Des. 52/12/2-206.

Pendirian Kota Palangka Raya ditandai dengan peresmian Tugu ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut pada tanggal 17 Juli 1957. Tanggal inilah yang kemudian dirayakan sebagai hari jadi Kota Palangka Raya.

Peresmian tugu sekaligus pendirian Kota Palangka Raya ini merupakan imbas dari diresmikannya Provinsi Kalimantan Tengah. Saat itu, nama Palangka Raya  masih bernama Pahandut. Kemudian berdasarkan  UU 21/1958, nama Pahandut berganti nama dengan Palangka Raya.

Hingga kini, tugu yang diresmikan Presiden Soekarno itu masih berdiri dan lebih dikenal dengan nama Tugu Soekarno Palangka Raya. Tugu ini merupakan landmark bersejarah Kota Parangkaya. Letaknya tak jauh dari Bundaran Besar sebagai pusat kota, tepatnya berada di Jalan S Parman, di sisi Sungai Kahayan yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Tengah.

Pembangunan monumen itu mempunyai makna yang mendalam. Makna-makna tersebut seperti, angka 17 yang melambangkan hikmah Proklamasi Kemerdekaan RI. Tugu Api yang berarti api tidak kunjung padam, semangat kemerdekaan, dan membangun. Pilar yang berjumlah 17 berarti senjata untuk berperang, juga Segi Lima Bentuk Tuga melambangkan Pancasila mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kota yang memiliki semboyan “Isen Mulang” atau semangat pantang mundur ini memiliki luas 2.853,52 km2. Terdiri dari lima kecamatan dan 30 kelurahan, kota ini dipimpin oleh Wali Kota Fairid Naparin dan Wakil Wali Kota Umi Mastikah untuk periode 2018–2023.

Kota yang memiliki moto kota ”Cantik”, yaitu terencana, aman, nyaman, tertib, indah, dan keterbukaan ini, memiliki visi “Terwujudnya Kota Palangka Raya Menjadi Kota Yang Maju, Rukun, dan Sejahtera untuk Semua” untuk periode 2018–2023.

Adapun misinya adalah mewujudkan Kota Palangka Raya Smart Environment (lingkungan cerdas). Kedua, mewujudkan kerukunan seluruh elemen masyarakat Smart Society (masyarakat cerdas). Ketiga, mewujudkan kesejahteraan masyarakat kota dan masyarakat daerah pinggiran Smart Economy (ekonomi cerdas).

Sejarah pembentukan

Dalam buku berjudul Sejarah Kota Palangka Raya yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya pada 2003, disebutkan cikal bakal Kota Palangka Raya tak lepas dari kondisi tanah di Lewu Rawi pada sekitar tahun 1800-an yang tak cocok untuk lahan bertani. Hal itu membuat pasangan suami istri Bayuh dan Kambang memutuskan untuk mencari tempat lain.

Dengan menggunakan perahu, akhirnya mereka berhenti di wilayah yang kini dikenal dengan nama Kecamatan Pahandut. Lokasi itu tanahnya dikenal cukup subur, kaya akan ikan dan lain-lain sehingga mengubah kehidupan Bayuh dan Kambang.

Kabar tersebut dengan cepat menyebar di Lewu Rawi, sehingga menyebabkan banyak warga desa yang mengikuti langkah pasangan itu. Singkat cerita desa itu menjadi ramai dan kemudian dikenal dengan Desa Dukuh Bayuh. Bayuh menjadi pembaka atau kepala desa.

Lebih lanjut di desa itu kemudian diketahui seseorang pria dengan anak bernama Handut yang dikenal cukup sakti. Berkat kemampuan supranatural yang mampu menyembuhkan orang sakit, banyak warga desa lain yang meminta pertolongan kepadanya.

Sesuai adat Dayak Ngaju yang menganut teknonimi ,yaitu pemberian nama kepada ayah atau ibu berdasarkan nama anaknya, maka tokoh Desa Dukuh Bayuh itu akrab disapa Bapak Handut atau Pak Handut. Setelah tua dan meninggal dunia, sebagai bentuk penghormatan, warga desa kemudian mengubah nama desa itu menjadi Pahandut.

Catatan penggalan cerita itu terdapat pada arsip pemerintah Hindia Belanda dalam laporan Zacharias Hartman, seorang penjabat Hindia Belanda yang melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kahayan, pada Oktober 1823. Keberadaan Desa Pahandut juga tercantum dalam peta yang dibuat misionaris Jerman.

Sementara itu, dari notulen rapat perdamaian di Tumbang Anoi pada 1894 disebutkan di Kampung Pahandut terdapat delapan betang atau rumah panjang. Artinya, sebagai desa, pada 1800-an Pahandut sudah cukup ramai untuk ukuran desa di pedalaman Kalimantan kala itu.

KOMPAS/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO

Berdirinya Kota Palangkaraya ditandai dengan pemancangan tiang oleh Presiden Soekarno di kawasan tepian Sungai Kahayan. Tugu peringatan peristiwa tersebut hingga sekarang masih kokoh berdiri di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Tujuh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, muncul gerakan masyarakat di Kapuas, Barito, dan Kotawaringin agar dibentuk provinsi administratif Kalimantan Tengah. Tuntutan itu terus menggelora dan disampaikan kepada pemerintah daerah Kalimantan dan pemerintah pusat di Jakarta.

Setelah melalui proses dramatis dan perlawanan fisik yang dikenal dengan Gerakan Mandau Telawang Pantjasila Sakti (GMTPS) serta dukungan diplomasi politisi berupa Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, akhirnya pada  tanggal 10 Desember 1956, Ketua Koordinasi Keamanan Kalimantan RTA Milono mengumumkan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah.

Kemudian pada tanggal 23 Januari 1957, dibentuk panitia penentuan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah dengan Mahir Mahar sebagai ketua, anggota Tjilik Riwut, G Obos, E Kamis, C Mihing, lalu penasehat ahli R Moenasier dan IR DAW van Der Pijl. Hasil rapat kemudian diambilah posisi sekitar Desa Pahandut dan Bukit Jekan serta sekitar Tangkiling untuk calon ibu kota Kalimantan Tengah.

Pada tahun 1956, dilaksanakan Kongres Rakyat Kalimantan Tengah I di Banjarmasin, di Gedung Tjong Hua Tjong Hoi di Jalan Pangeran Samudra selama tiga hari. Kemudian pada tanggal 23 Mei 1957, terbit UU Darurat 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.

Kemudian pada 17 Juli 1957, Presiden Soekarno menancapkan tiang pertama Provinsi Kalimantan Tengah di lokasi yang sekarang dinamakan Tugu Soekarno di Jalan S Parman Palangka Raya.

Berdasarkan UU 21/1958, Parlemen Republik Indonesia tanggal 11 Mei 1959 mengesahkan UU 27/1959, yang menetapkan pembagian Provinsi Kalimantan Tengah dalam lima kabupaten dan Palangka Raya sebagai ibu kotanya.

Dengan berlakunya UU 27/1959 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia tanggal 22 Desember 1959 Nomor: Des. 52/12/2-206, maka ditetapkan pemindahan tempat dan kedudukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah dari Banjarmasin ke Palangka Raya terhitung tanggal 20 Desember 1959.

Selanjutnya, Kecamatan Kahayan Tengah yang berkedudukan di Pahandut secara bertahap mengalami perubahan dengan mendapat tambahan tugas dan fungsinya, antara lain, mempersiapkan Kotapraja Palangka Raya. Kahayan Tengah ini dipimpin oleh Asisten Wedana, yang pada waktu itu dijabat oleh J. M. Nahan.

Palangka Raya menjadi kotapraja yang otonom pada tanggal 12 Juni 1965 berdasarkan UU 5/1965, Lembaran Negara Nomor 48 Tahun 1965. Dengan dihadiri oleh Ketua Komisi B DPRGR, LS Handoko Widjojo dan beberapa penjabat penting negara Indonesia saat itu berlangsunglah upacara peresmian Palangka Raya sebagai kota yang otonom.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Robert Nego (65), juru pelihara sandung, sedang menceritakan sejarah sandung Suradjaja Pati Lawak dibangun, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (1/3/2016). Sandung merupakan tempat menyimpan tulang-belulang leluhur suku Dayak. Pada kepercayaan Kaharingan, sandung merupakan media roh para leluhur unutuk ke surga. Sandung yang berumur sekitar 154 tahun tersebut masih bertahan di tengah pesatnya teknologi dan kehidupan modern suku Dayak.

Geografis

Kota Palangka Raya berada di tengah-tengah Provinsi Kalimantan Tengah. Secara geografis, Palangka Raya terletak pada 113°30’ — 114°07’ Bujur Timur dan 1°35’ — 2°24’Lintang Selatan.

Palangka Raya berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas di sebelah utara dan timur, dengan Kabupaten Pulang Pisau di sebelah selatan dan timur, dan dengan Kabupaten Katingan di sebelah barat.

Luas keseluruhan wilayah Kota Palangka Raya adalah 2.853,52 km2. Dengan luas wilayah yang begitu besar ini, Palangka Raya disebut sebagai salah satu kota terluas di Indonesia selain Kota Dumai, Tidore Kepulauan, dan Sorong.

Topografi Kota Palangka Raya terdiri atas tanah datar dan berbukit dengan kemiringan kurang dari 40 persen.

Di wilayah Kota Palangka Raya terdapat tiga sungai/anak sungai besar, yaitu Sungai Kahayan, Sungai Rungan, dan Sungai Sabangau.

Suhu udara di Kota Palangka Raya selama tahun 2020 berkisar antara 21,1 °C sampai dengan 35,4 °C. Kelembapan udara tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 100 persen. Jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada April yang mencapai 23 hari. Curah hujan tertinggi pada Januari, sedangkan curah hujan terendah pada Juli.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Rumah-rumah lanting berjejer di sepanjang Sungai Kahayan, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/3/2018). Sebagian besar warga miskin di Kalimantan Tengah tinggal di pinggir sungai dengan rumah lanting atau rumah yang mengapung.

Pemerintahan

Tercatat hingga saat ini, Kota Palangka Raya sudah memiliki 12 wali kota dari latar belakang yang berbeda-beda.

Wali Kota yang pertama kali menjabat adalah Yanti Saconk. Yanti Saconk dilahirkan di Penda Katapi, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas , pada Juni 1929. Anak kedua dari pasangan Tiki Gatar Kunom dan Ramitan Lawak ini menjabat antara 18 September 1965 sampai 18 Oktober 1965

Kemudian berturut-turut diteruskan oleh Agoes Ibrahim  (19 Oktober 1965 — 31 Agustus 1967), Letkol Infantri W. Sandi (13 Agustus 1967 — 6 September 1975), Letkol. Cin Madnoch (6 September 1975 — 27 Januari 1978), Letkol Kadiyoto (27 Januari 1978 — 16 September 1983), Lukas Tingkes (16 September 1983 — 16 September 1988), D.N. Singaraca (16 September 1988 — 16 September 1993), dan Nahson Taway (16 September 1993 — 16 September 1998)

Memasuki era Reformasi, kota ini berturut-turut dipimpin oleh Kol.Inf. Salundik Gohong (12 September 1998 — 12 September 2003), Tuah Pahoe (22 September 2003 — 22 September 2008). Kemudian dilanjutkan oleh H.M. Riban Satia selama dua periode (22 September 2008 — 23 September 2018), dan Fairid Naparin (24 September 2018 — 23 September 2023).

Secara administratif, Kota Palangka Raya terdiri dari lima kecamatan dan 30 kelurahan. Selain itu, terdapat 720 RT dan 159 RW di Kota Palangka Raya. Kelima kecamatan itu adalah Kecamatan Pahandut, Kecamatan Sabangau, Kecamatan Jekan Raya, Kecamatan Bukit Batu, dan Kecamatan Rakumpit.

Untuk mendukung jalannya pemerintahan, pada tahun 2021, Pemerintah Kota Palangka Raya didukung oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 4.710 PNS, yang terdiri dari PNS perempuan 3.101 orang dan PNS laki-laki 1.609 orang. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah lulusan S1 ke atas sebanyak 3.493 orang.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Perwakilan Sekretariat Pertumbuhan Ekonomi Hijau dari Global Green Growth Institute (GGGI) mengadakan diskusi terkait ekonomi hijau bersama pemerintah Provinsi Kalteng di sebuah kapal susur sungai di Palangka Raya, tepatnya di SUngai Kahayan, Senin (25/2/2019).

Politik

Peta perpolitikan di Kota Palangka Raya dalam tiga pemilihan umum (pemilu) legislatif menunjukkan dinamika pilihan rakyat terhadap partai politik. Namun demikian, dari hasil pemilu, tampak bahwa PDI Perjuangan mampu meraih suara sekaligus kursi terbanyak dalam tiga kali pemilu.

Peta perpolitikan di Kota Palangka Raya pada tahun 2009 relatif merata. Di Pemilu kali ini, PDI Perjuangan mampu meraih empat kursi, disusul Partai Demokrat dan Golkar yang masing-masing meraih tiga kursi. Kemudian Partai Gerindra, PKS, dan PAN masing-masing meraih dua kursi dan sisanya masing-masing satu kursi untuk Partai Hanura, PKPI, PKB, PDP, PPP, PDS, PBB, PBR, dan Partai Buruh.

Di Pemilu Legislatif 2014, PDI-P berhasil meningkatkan perolehan kursinya hingga tujuh kursi. Disusul Golkar, Gerindra, dan Hanura masing-masing mendapatkan empat kursi, PKB tiga kursi dan sisanya masing-masing dua kursi untuk Nasdem, Demokrat, PAN, dan PPP.

Terakhir di Pemilu Legislatif 2019, peta perpolitikan di Kota Palangka Raya kembali berubah. Kali ini, PDI Perjuangan dan Golkar sama-sama meraih tiga kursi. Adapun partai lain yang memperoleh dua kursi adalah Hanura, Gerindra, PKB dan Partai Persatuan Indonesia. Satu kursi lain dimiliki oleh PSI.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Petugas TPS 29 memberikan surat suara kepada salah satu penyandang disabilitas yang masuk dalam daftar pemilih di Gang Giat, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (27/6/2018). Ia menggunakan hak suaranya dalam pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palangka Raya.

Kependudukan

Jumlah penduduk Kota Palangka Raya pada tahun 2021 sebanyak 293,5 ribu jiwa, yang terdiri dari 152,06 ribu penduduk laki-laki dan 146,90 ribu penduduk perempuan. Dengan luas wilayah sekitar 2.853,12 km2, kepadatan penduduk Kota Palangka Raya sebanyak 103 jiwa setiap satu kilometer persegi.

Angka rasio jenis kelamin pada tahun 2021 sebesar 103,6 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 103 penduduk laki-laki.

Piramida penduduk Kota Palangka Raya tergolong dalam piramida struktur penduduk muda, kelompok umur 25–29 tahun dan 20–24 tahun. Pada piramida penduduk sebelum tahun 2021  kelompok umur yang paling lebar adalah 20–24 tahun.

Penduduk Kota Palangka Raya terdiri atas berbagai suku dan agama. Keanekaragaman sosial budaya ini cukup baik terpelihara dan terkendali di Kota Palangka Raya.

Dari sisi etnis, kota ini dihuni oleh tiga suku dominan, yaitu Dayak, Banjar, dan Jawa. Selain itu, terdapat pula masyarakat yang berasal dari Suku Madura, Suku Sunda, Suku Bali, dan Suku Batak.

Berdasarkan agama, penduduk Kota Palangka Raya terbanyak menganut agama Islam (69,79 persen), kemudian agama Kristen 26,74 persen, Katolik 1,98, Hindu 1,29 persen, Budha 0,18, serta sebagian yang lain beragama Konghucu dan kepercayaan.

Kebanyakan penduduk Palangka Raya bekerja sebagai petani, pedagang, dan pekerja industri. Sebagian besar warganya juga menggantungkan hidup pada sungai, baik sebagai petani ikan keramba, nelayan tangkap, maupun tukang perahu wisata susur sungai.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Ibu-ibu pengajian pulang dari Masjid Al-Azhar yang dibangun dengan dinding yang sama dengan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Nasaret, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (16/12/2019). Gereja dan masjid satu dinding ini menjadi salah satu simbol kerukunan umat beragama di Kalteng.

Indeks Pembangunan Manusia
80,82 (2021)

Angka Harapan Hidup 
73,24 tahun (2021)

Harapan Lama Sekolah 
14,96 tahun (2021)

Rata-rata Lama Sekolah 
11,53 tahun (2021)

Pengeluaran per Kapita 
Rp14,07 juta (2021)

Tingkat Pengangguran Terbuka
5,86 persen (2021)

Tingkat Kemiskinan
3,75 persen (2021)

Kesejahteraan

Pembangunan manusia di Kota Palangka Raya terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Bahkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Palangka Raya selalu lebih tinggi daripada IPM kabupaten lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah. Pada tahun 2021, IPM Kota Palangka Raya tercatat telah mencapai 80,82. Pencapaian IPM itu masuk kategori “sangat tinggi”.

Peningkatan ini mengindikasikan semakin baiknya kualitas hidup masyarakat Kota Palangka Raya seiring dengan meningkatnya kemampuan daya beli, angka harapan hidup yang tinggi, dan tingkat pendidikan yang terus membaik.

Dari komponen pembentuknya, angka harapan hidup tercatat 73,24 tahun, harapan lama sekolah 14,96 tahun, rata-rata lama sekolah 11,53 tahun, dan pengeluaran per kapita sebesar Rp 14,07 juta.

Sementara untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Palangka Raya tahun 2021 tercatat sebesar 5,86 persen. TPT Palangka Raya tersebut adalah yang tertinggi di Kalimantan Tengah. TPT Kalimantan Tengah pada tahun yang sama sebesar 4,53 persen.

Adapun persentase penduduk miskin Kota Palangka Raya pada 2021 tercatat sebesar 3,75 persen. Angka itu merupakan terendah ketiga setelah Kabupaten Sukamara dan Kabupaten Lamandau.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Maulida (24), salah satu pengajar di PAUD milik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Luthfillah, Kelurahan Pahandut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (29/10/2016) sedang mengajarkan murid-muridnya bernyanyi. PKBM LUthfillah menjadi pemrakarsa Kampung Literasi di wilayah tersebut. Sebelum menjadi Kampung Literasi, banyak anak putus sekolah karena ekonomi rendah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 
Rp141,64 miliar (2021)

Dana Perimbangan 
Rp932,70 miliar (2021)

Pendapatan Lain-lain 
Rp1,22 miliar  (2021)

Pertumbuhan Ekonomi
4,32 persen (2021)

PDRB Harga Berlaku
Rp19,65 triliun (2021)

PDRB per kapita
Rp61,01 juta/tahun (2021)

Ekonomi

Produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Palangka Raya pada 2021 mencapai Rp19,65 triliun. Perekonomian Kota Palangka Raya ditopang sektor administrasi pemerintah, pertahanan , dan jaminan sosial dengan persentase 20,41 persen terhadap total PDRB.

Selanjutnya, sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor konstruksi memberikan kontribusi masing-masing sebesar 17,57 persen dan 11,43 persen terhadap PDRB. Sementara itu, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 11,43 persen. Pada tahun yang sama, sektor transportasi dan pergudangan tercatat berkontribusi sebesar 8,53 persen.

Dengan luas wilayah yang cukup besar, Palangka Raya memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar. Sektor kehutanan, perkebunan, pertanian tanaman pangan, perikanan, peternakan, industri, hingga pariwisata menjadi andalan pemerintah setempat.

Untuk kehutanan misalnya, Palangka Raya mempunyai potensi di industri pengolahan kayu, tanaman gaharu, dan lebah madu. Untuk perkebunan, mayoritas di Palangka Raya adalah kebun karet, sawit, kelapa, dan jambu mete.

Di sektor pertanian, salah satunya tanaman padi gogo dan palawija. Sementara, peternakan terdapat ternak babi, ayam buras, bebek, sapi, hingga kambing.

Palangka Raya juga memiliki potensi di bidang perikanan, terutama budi daya ikan dalam karamba dan karamba jaring apung, serta lahan darat untuk budi daya ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan di antaranya patin, nila, gurame, bawal, betok, dan lele.

Di sektor industri pengolahan, jumlah industri kecil di Kota Palangka Raya dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2018, jumlahnya mencapai 1.732 industri.

Pertumbuhan ekonomi Palangka Raya pada tahun 2021 sebesar 4,32 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Kalteng sebesar 2,48 persen. Tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Palangka Raya sempat terkontraksi hingga 2,67 persen akibat merebaknya pandemi Covid-19 di tanah air yang menyebabkan lesunya ekonomi.

Total pendapatan Kota Palangka Raya pada 2021 menembus Rp1,07 triliun. Dana perimbangan menjadi penopang pembangunan daerah ini, yakni senilai Rp932,70 miliar atau 86 persen dari total pendapatan.

Sementara itu, kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) tercatat senilai Rp141,64 miliar atau 13 persen dari total pendapatan daerah ini pada tahun yang bersangkutan. Komponen lain-lain pendapatan yang sah berkontribusi paling rendah yaitu senilai Rp1,22 miliar.

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS

Wisatawan mendaki Bukit Tangkiling di Palangka raya, Kalimantan Tengah. Pemandangan indah bisa dinikmati dari tempat yang termasuk Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling dengan jarak 34 km dari pusat Kota Palangkaraya tersebut. Puncak bukit dengan ketinggian 197 mdpl itu dapat dicapai setelah pendakian selama sekitar 30 menit. Bukit Tangkiling merupakan tujuan wisata terpadu unggulan.

Di sektor pariwisata, Kota Palangka Raya memiliki banyak tempat wisata, mulai dari museum, rumah adat, danau, hingga wisata susur sungai. Tempat wisata dalam bentuk museum adalah Museum Balanga yang merupakan lembaga pelestarian, dokumentasi, serta penyajian koleksi peninggalan suku Dayak.

Kemudian terdapat pula Tugu Soekarno, Rumah Betang (Rumah Adat Dayak Ngaju), Situs sejarah Tajahan Tjilik Riwut, Sandung Ngabe Sukah (bangunan kecil yang khusus diperuntukan bagi penyimpanan tulang belulang orang yang telah meninggal setelah melalui upacara  Tiwah) dan rumah lanting (perkampungan di atas sungai).

Untuk wisata alam, terdapat Danau Tahai, Arboretum Nyaru menteng, Taman Wisata Kum-kum, Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Batu Banama, Taman Wisata Fantasi Beach, Perahu Wisata Susur Sungai, serta Bundaran Besar, Bundaran Kecil dan Bundaran Burung, Pulau Kaja di Kecamatan Tangkiling.

Untuk wisata kuliner, percampuran suku dan budaya membuat makanan khas Palangka Raya memiliki keunikan tersendiri. Beberapa di antaranya adalah karuang yang terbuat dari daun singkong yang ditumbuk halus. Kemudian, bangamat yang diolah dari daging kelelawar dan sayur jantung pisang dengan kuah rasa gurih yang khas. Ada pula kue gagatas, jelawat goreng, wadi patin, juhu umbut rotan, dan keripik kelakai.

Untuk akomodasi, jumlah usaha hotel di Kota Palangka Raya pada tahun 2020 tercatat sebanyak 142, yang terdiri dari 12 hotel bintang dan 130 hotel nonbintang.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Warga Kota Palangka Raya menikmati senja di kafe yang berada di tepi Sungai Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (10/4). Keindahan alam termasuk potensi wisata susur sungai menjadi salah sastu potensi wisata yang ada di Palangka raya, tapi pengelolaannya belum optimal.

Referensi

Arsip Berita Kompas
  • “Palangkaraya, Kota yang Dibidani Soekarno”, Kompas, 23 Oktober 1992, hlm. 11
  • “Palangkaraya, Kota Berwajah Tiga”, Kompas, 19 April 1999, hlm. 11
  • “Kota Palangka Raya * Otonomi Daerah”, Kompas, 05 Oktober 2002, hlm. 08
  • “Kelaparan di Kota Sudah Biasa * Otonomi Daerah”, Kompas, 05 Oktober 2002, hlm. 08
  • “Hutan Dibuka, Lahir Palangka Raya”, Kompas, 28 Juli 2006, hlm. 37
  • “Jelajah Kalimantan: Sepotong Jalan Rusia dan Impian Soekarno”, Kompas, 19 Februari 2009, hlm. 01
  • “Pariwisata: Kota Palangka Raya Tak Punya Wisata Unggulan”, Kompas, 12 April 2014, hlm. 24
  • “Pembangunan Perkotaan: Kota ”Cantik” Terus Berbenah * Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015”, Kompas, 16 Juni 2015, hlm. 22
  • “Strategi Pembangunan: Swasta Pun Digandeng * Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015”, Kompas, 16 Juni 2015, hlm. 22
  • “Tanah Air: Isen Mulang, Semangat Hidup Suku Dayak”, Kompas, 27 Juli 2016, hlm. 26
Buku dan Jurnal
  • Patianom, JID, HJ Ulaen, dkk. 1992. Sejarah Sosial Palangka Raya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta
  • Hakim, Arief Rahman. 2003. Sejarah Kota Palangka Raya, Pemerintah Kota Palangka Raya
  • Zaenuddin, HM. 2013. Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe. Jakarta: Change
Aturan Pendukung
  • UU Darurat 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah dan Pengubahan Undang-Undang No. 25 Tahun 1956 (Lembaran-Negara No. 65 Tahun 1956)
  • UU 21/1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat No. 10 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah dan Perubahan Undang-Undang No. 25 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (Lembaran-Negara Tahun 1957 No. 83) Sebagai Undang-Undang
  • UU 5/1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya Dengan Mengubah Undang-Undang No. 27 Tahun 1959, tentang Penetapan Undang-Undang Darurat No. 3 Tahun 1953, tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Di Kalimantan
  • UU 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah
  • UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah
  • Perda Kota Palangka Raya Nomor 2 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2018-2023

Editor
Topan Yuniarto

error: Content is protected !!