Daerah

Kota Gunungsitoli: Barometer Perekonomian Kepulauan Nias

Kota Gunungsitoli atau sering disebut "Luaha" sudah dikenal sejak abad ke-18. Sebagai pintu gerbang Pulau Nias, kota ini menjadi barometer perekonomian khususnya di sektor jasa, perdagangan, dan industri.

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO

Aktivitas bogkar muat barang di Pelabuhan Angin, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, Senin (13/4/2015). Pelabuhan menjadi poros distribusi utama barang dan hasil bumi yang keluar-masuk Kota Gunungsitoli. Kapal ferry dari pelabuhan tersebut juga menjadi akses transportasi warga yang hendak menuju Sibolga atau Singkil, Aceh.

Fakta Singkat

Hari Jadi 
6 April 1678

Dasar Hukum
Undang-Undang Darurat No.47/2008

Luas Wilayah
469,36 km2

Jumlah Penduduk
137.583 jiwa (2022)

Kepala Daerah
Wali Kota Lakhomizaro Zebua
Wakil Wali Kota Sowa’a Laoli

Instansi terkait
Pemerintah Kota Gunungsitoli

 

Kota Gunungsitoli merupakan salah satu daerah dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Terletak di Pulau Nias dan berjarak sekitar 85 mil laut dari Kota Sibolga, Gunungsitoli merupakan kota tertua dan terbesar di Kepulauan Nias.

Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Nias. Dulunya kota ini adalah sebuah kecamatan di Nias. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada 26 November 2008 berlandaskan UU 47/2008 tentang Pembentukan Kota Gunungsitoli Di Provinsi Sumatera Utara.

Dalam UU 47/2008 tersebut, antara lain disebutkan tujuan pembentukan Kota Gunungsitoli adalah untuk meningkatkan pelayanan dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Selain itu, pembentukan kota ini diharapkan dapat memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah.

Hari Jadi Kota Gunungsitoli ditetapkan pada tanggal 6 April 1678. Pembentukan Kota Gunungsitoli diyakini telah dimulai pada masa pemerintahan adat yaitu saat penetapan Fondrako uni’o ni’o wulu-wulu tanggal 6 April 1678 silam.

Momentum ini dijadikan dasar penetapan hari lahir Kota Gunungsitoli yang selanjutnya disahkan sebagai hari jadi Kota Gunungsitoli melalui Perda Kota Gunungsitoli Nomor 2 Tahun 2021 tentang Hari Jadi Kota Gunungsitoli.

Kota berpenduduk 137.583 jiwa (2022) ini dipimpin oleh Wali Kota Lakhomizaro Zebua bersama Wakil Wali Kota Sowa’a Laoli. Lakhomizaro merupakan Wali Kota Gunungsitoli dua periode hingga 2026 mendatang.

Sebagai pintu gerbang Pulau Nias, Gunungsitoli memiliki posisi strategis sebagai pintu keluar masuk wilayah Kepulauan Nias. Letak yang strategis ini menjadikan Gunungsitoli menjadi barometer pertumbuhan perekonomian bagi daerah lainnya di Pulau Nias.

Kota ini memiliki visi “Kota Gunungsitoli Berdaya Saing, Nyaman, dan Sejahtera”. Adapun Misi Pemerintah Kota Gunungsitoli untuk periode 2021-2026 ada lima. Pertama, membangun sumber daya manusia yang unggul. Kedua, memperkuat perekonomian yang berbasis sumber daya lokal. Ketiga, membangun infrastruktur yang berkeadilan dan pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan.

Kemudian keempat, meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik berbasis elektronik. Terakhir kelima, memperkokoh kehidupan sosial kemasyarakatan yang berbudaya, religius, dan taat hukum.

Sejarah pembentukan

Dalam buku “Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe” yang ditulis Zaenuddin HM dan dikutip dari website Pemerintah Kota Gunungsitoli, disebutkan berdasarkan catatan sejarah, Gunungsitoli yang juga disebut “Luaha” yang sudah dikenal dan dikunjungi sejak abad ke-18. Posisi kota ini terletak di muara Sungai Nou.

Pada masa itu, ada tiga marga dominan yang menghuni kota Luaha, yakni Harefa, Zebua, dan Telaumbanua atau lebih dikenal dengan sitolu tua. Konon yang memberi nama Gunungsitoli adalah para pedagang yang berasal dari Indochina daratan Asia. Mereka itulah yang kelak menjadi nenek moyang orang Nias.

Secara harafiah, kata Gunungsitoli berasal kata “Gunung” dan “Sitoli”. Gunung berarti tanah yang tinggi (berbukit) dan Sitoli berasal dari nama orang yang berdiam di bukit tersebut (daerah Onozitoli sekarang).

Ada pula yang berpendapat, Gunungsitoli berasa dari kata “Onozitoli”, yakni nama sebuah kampung di kawasan Sungai Idanoi, sekitar 16 kilometer dari Gunungsitoli. Kata “zitoli” menjadi “sitoli” dan berpadu dengan kata “gunung” sehingga akhirnya menjadi nama kota Gunungsitoli.

Pendapat yang berbeda menyebutkan, sebutan bagi kota Gunungsitoli berasal dari kata “Hili-gatoli”, yakni nama gunung di pusat kota Gunungsitoli, tempat berdirinya menara televisi.

Menurut kisahnya, nama gunung itu berasal dari nama orang Toli’ana’a dengan panggilan sehari-hari Gatoli. Toli’ana’a dikuburkan di gunung tersebut dan karena putra sulung raja Lokozitolu Zebua, maka gunung itu disebut menurut namanya Hili Gatoli.

Jauh sebelum menjadi sebuah daerah otonom, Gunungsitoli dikenal sebagai salah satu kota tertua dan representasi dari perkembangan peradaban modern di wilayah Kepulauan Nias. Pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang memiliki budaya megalitik.

Kepulauan Nias sebelum adanya pemekaran beberapa daerah otonom baru, dulunya merupakan suatau wilayah administratif pemerintahan, yakni Pemerintahan Daerah tingkat II Nias dengan ibu kotanya Kecamatan Gunungsitoli.

Seiring lahirnya regulasi tentang Pemerintahan daerah atau yang lebih dikenal dengan otonomi daerah, wilayah pemerintahan Kabupaten Nias secara bertahap mulai mengalami pemekaran. Mulai dari terbentuknya Kabupaten Nias Selatan pada tahun 2003, dan dilanjutkan oleh Kota gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara, dan kabupaten Nias Barat pada tahun 2008. Gunungsitoli ditingkatkan statusnya dari kecamatan menjadi kota otonom, berdasarkan UU 47/2008.

KOMPAS/DEDI MUHTADI

Pesta Ya’ahowu 93– Keramaian dan tari-tarian masyarakat Pulau Nias, Sumatera Utara, saat Pesta Ya’ahowu (19-21 Juni 1993) di Kota Gunungsitoli.

Geografis

Kota Gunungsitoli terletak pada garis khatulistiwa, tepatnya pada 1 o 17’ LU dan 97o37’ BT. Kota ini memiliki luas wilayah mencapai 469,36 km², atau mencapai 0,63 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Kecamatan Gunungsitoli Idanoi merupakan kecamatan terluas yaitu sebesar 134,78 kilometer persegi dan Kecamatan Gunungsitoli Barat menjadi kecamatan terkecil, yakni 28,70 kilometer persegi.

Dari luas tersebut, kawasan Gunungsitoli terdiri dari kawasan perumahan 5.237 ha, kawasan perkantoran seluas 114 ha, kawasan pendidikan seluas 90 ha, kawasan pariwisata seluas 70 ha, kawasan pertanian seluas 1.164 ha, dan kawasan perkebunan seluas 99 ha.

Batas-batas wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Nias Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Nias, sebelah timur berbatasan dengan Samudera Hindia, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Nias.

Secara topografi sebagian besar wilayah Kota Gunungsitoli berbukit-bukit sempit dengan ketinggian bervariasi antara 0-800 meter diatas permukaan laut. Struktur batuan dan susunan tanah Kota Gunungsitoli umumnya bersifat labil, mengakibatkan sering terjadinya patahan pada jalan-jalan aspal dan juga longsor.

Karena dekat dengan garis khatulistiwa, curah hujan di kota ini terhitung cukup tinggi setiap tahunnya. Pada tahun 2022, rata-rata curah hujan mencapai 297 mm3 per bulan dengan banyaknya hari hujan mencapai 291 hari setahun atau rata-rata 24-25 hari per bulan.

Curah hujan yang paling besar terjadi pada bulan Desember dengan jumlah hari hujan sebanyak 28 hari dan curah hujan mencapai 433,5 mm3. Sementara curah hujan paling sedikit terjadi pada bulan Februari dengan jumlah hari hujan sebanyak 20 hari dengan curah hujan hanya mencapai 112,5 mm3.

Di Kota Gunungsitoli, banyak terdapat aliran sungai kecil dengan ukuran panjang yang bervariasi antara 2 km sampai 25 km. Total terdapat 78 nama sungai yang telah terdaftar di Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Gunungsitoli.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Warga melintas di dekat Stasiun Pasang Surut yang berfungsi sebagai Tsunami Early Warning System di Pelabuhan Angin Gunungsitoli, Sumatra Utara, Senin (3/10/2011). Stasiun Pasang Surut tersebut dioperasikan melalui pemanfaatan energi matahari dan angin.

Pemerintahan

Sejak ditetapkan sebagai daerah otonom pada 2008, Kota Gunungsitoli telah dinakhodai oleh beberapa kepala daerah, baik setingkat penjabat hingga wali kota. Tercatat Martinus lase sebagai penjabat wali kota pertama yang memerintah Kota Gunungsitoli. Martinus menjadi penjabat wali kota Gunungsitoli  periode 2009-2010 dan diteruskan oleh Lakhomizaro Zebua sebagai penjabat wali kota periode 2010-2011.

Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) perdana di Kota Gunungsitoli, terpilih wali kota dan wakil wali kota Gunungsitoli periode 2011-2016, yakni Martinus Lase dan Aroni Zendrato. Selanjutnya pada Pilkada Kota Gunungsitoli 2016, terpilih Lakhomizaro Zebua sebagai wali kota untuk dua periode yakni 2016-2021 dan 2021-2026.

Secara administratif, Gunung Sitoli terdiri atas 6 kecamatan, 98 desa, dan 3 kelurahan. Keenam kecamatan itu adalah Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kecamatan Gunungsitoli, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kecamatan Gunungsitoli Barat, dan Kecamatan Gunungsitoli Idanoi.

Untuk mendukung jalannya pemerintahan, Pemerintah Kota Gunungsitoli didukung oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 2.470 orang. Rinciannya, 1.065 orang (43,12 persen) merupakan PNS berjenis kelamin laki-laki dan 1.405 orang (56,88 persen) berjenis kelamin perempuan.

KOMPAS.COM/HENDRIK YANTO HALAWA

Wali Kota Gunungsitoli, Lakhomizaro Zebua, sematkan secara simbolis tanda jabatan kepada Perwakilan Kepala Desa Terpilih saat diambil sumpah dan janji di Taman Ya’ahowu Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.

Politik

Peta politik di Kota Gunungsitoli berlangsung dinamis. Setidaknya hal itu terlihat dari tiga kali tiga kali pemilihan umum. Dari 25 kursi yang tersedia, Demokrat dan PDI Perjuangan tercatat pernah memperoleh kursi terbanyak di tingkat parlemen.

Di Pemilu Legislatif 2009, Demokrat mendominasi perolehan suara di DPRD Kota Gunungsitoli. Dari 25 kursi yang diperebutkan, Demokrat berhasil meraih enam kursi. Disusul Pelopor Kebangsaan dan PDI Perjuangan sama-sama meraih dua kursi. Adapun PKPB, Hanura, PPD, Barnas, Gerindra, Golkar, PNBK, Pakarpangan, PPI, PDP, Partai Buruh, PKDI, PIS, Partai Patriot, dan PDS masing-masing memperoleh satu kursi.

Di Pemilu Legislatif 2014, Demokrat kembali memperoleh kursi terbanyak dengan enam kursi. Di urutan berikutnya, PDI Perjuangan dan Golkar sama-sama mendapatkan empat kursi serta Hanura meraih tiga kursi. Selanjutnya Gerindra, Hanura, dan Nasdem sama-sama meraih dua kursi serta PAN dan PKB masing-masing mendapatkan satu kursi.

Di Pemilu Legislatif 2019, giliran PDI Perjuangan yang berhasil memperoleh kursi terbanyak dengan enam kursi. Disusul Demokrat dan Hanura memperoleh empat kursi dan Gerindra tiga kursi. Sementara Golkar, Nasdem, dan Perindo meraih dua kursi serta PKPI dan PAN masing-masing satu kursi.

DOKUMENTASI BAWASLU KOTA GUNUNGSITOLI

Pelantikan atau Pengambilan Sumpah/Janji Anggota DPRD Kota Gunungsitoli Periode 2019-2024 yang dilaksanakan di ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Gunungsioli di jalan Gomo No 37 Gunungsitoli, Rabu (30/10/2019)

Kependudukan

Kota Gunungsitoli dihuni oleh 137.583 jiwa pada tahun 2022. Rinciannya 66.938 jiwa penduduk laki-laki dan 70.645 jiwa penduduk perempuan. Dengan proporsi tersebut, rasio jenis kelamin Kota Gunungsitoli adalah sebesar 94,70 persen, artinya untuk tiap 100 jiwa penduduk perempuan terdapat 94-95 jiwa penduduk laki-laki di Kota Gunungsitoli. Selain itu, laju pertumbuhan penduduk kota Gunungsitoli, tercatat sepanjang tahun 2010-2021 adalah sebesar 0,68 persen.

Menurut data Sakernas 2022, pada tahun 2022 di Kota Gunungsitoli terdapat 104.788 penduduk yang tergolong dalam usia kerja (15 tahun atau lebih). Sebanyak 66.745 orang terserap dalam lapangan kerja (bekerja), sebanyak 2.529 orang masih menganggur atau mencari pekerjaan, dan sebanyak 35.514 orang sedang bersekolah/mengurus rumah tangga/lainnya.

Di bidang ketenagakerjaan, sebesar 25,70 persen mata pencarian penduduk Kota Gunungsitoli berasal dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Mulai dari tanaman pangan, perkebunan, sayur-sayuran, buah-buahan serta peternakan dan perikanan, semua telah diusahakan masyarakat Kota Gunungsitoli.

Selain didiami oleh suku Nias yang merupakan penduduk asli Pulau Nias, Kota Gunungsitoli juga dihuni oleh beragam suku lain seperti Batak, Padang, Jawa, dan etnis Tionghoa.

Para pendatang dan perantau ini kerap dijuluk ”Niha Siefo” oleh masyarakat asli Nias. Seiring berjalannya waktu, banyak dari ”Niha Siefo” tersebut yang sudah menetap bahkan berketurunan di Pulau Nias, khususnya di Kota Gunungsitoli.

Mayoritas penduduk Kota Gunungsitoli menganut agama Kristen Protestan sebanyak  92.510 jiwa atau 71,04 persen. Kemudian disusul Islam sebanyak 21.147 jiwa atau 16,24  persen. Katolik sebanyak 16.278 jiwa atau 12,50 persen dan Budha sebanyak 284 jiwa atau 0,22 persen.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Persiapan tari perang (faluaya), yakni tari adat khas Nias, di Desa Adat Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu (28/3/2015), menjadi atraksi wisata di Pulau Nias. Secara kompetensi, Indonesia siap merebut peluang pariwisata di tengah krisis regional dan global.

Indeks Pembangunan Manusia
70,23 (2022)

Angka Harapan Hidup 
71,71 tahun (2022)

Harapan Lama Sekolah 
13,77 tahun (2022)

Rata-rata Lama Sekolah 
8,64 tahun (2022)

Pengeluaran per Kapita 
Rp 8,434 juta (2022)

Tingkat Pengangguran Terbuka
3,65 persen (2022)

Tingkat Kemiskinan
14,81 persen (2022)

Kesejahteraan

Kota Gunungsitoli termasuk daerah yang pembangunan manusianya tergolong baik. Hal ini terlihat dari nilai IPM-nya yang masuk kategori tinggi. Angka IPM Gunungsitoli pada tahun 2022 tercatat mencapai 70,23, meningkat dibanding pencapaian pada 2021 sebesar 69,61.

Dari capaian IPM tersebut, tercatat angka harapan hidup selama 71,71 tahun. Sementara untuk pendidikan, harapan lama sekolah selama 13,77 tahun dan rata-rata lama sekolah selama 8,64 tahun. Adapun pengeluaran per kapita tercatat sebesar Rp 8,434 juta.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Gunungsitoli pada Agustus 2022 sebesar 3,65 persen atau sebanyak 2.529 jiwa, mengalami penurunan sebesar 1,15 persen dibanding Agustus 2021 sebesar 4,80 persen

Sementara itu, angka kemiskinan di Gunungsitoli masih terhitung tinggi dibandingkan kabupaten/kota di Sumatera Utara. Tercatat pada 2022 persentase penduduk miskinnya mencapai 14,81 persen atau sekitar 21,85 ribu jiwa dengan Garis Kemiskinan Rp 426.349. Angka kemiskinan tersebut turun dibandingkan tahun 2021 sebesar 16,45 persen atau 24,02 ribu jiwa dengan garis kemiskinan sebesar Rp 408.190.

KOMPAS/AHMAD ARIF

Anak-anak sekolah dasar di Kota Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara menampilkan maena atau tarian siaga bencana diringi syair-syair yang dinyanyikan bersama, Senin (27/3/2017). Dalam tarian tradisional, syairnya telah disisipkan pesan-pesan tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa dan tsunami. Upaya ini merupakan inisitaif untuk mengenalkan kesiapsiagaan sejak dini melalui pendekatan budaya.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 
Rp 25,03 miliar (2022)

Dana Perimbangan 
Rp 660,19 miliar (2022)

Pendapatan Lain-Lain
Rp 17,78 miliar (2022)

Pertumbuhan Ekonomi
3,11 persen (2022)

PDRB Harga Berlaku
Rp 6,47 triliun (2022)

PDRB per kapita
Rp 47,07 juta/tahun (2022)

Ekonomi

Kota Gunungsitoli sebagai pintu gerbang Kepulauan Nias, menjadi pusat masuk dan keluarnya barang baik melalui jalur laut maupun udara. Di kota ini, terdapat pelabuhan dan bandara udara sebagai pintu masuk. Selain itu Kota Gunungsitoli terdapat dua lokasi terminal angkutan darat yang resmi, yaitu di Faekhu dan Sisarahili Gamo.

Sebagai pintu gerbang Pulau Nias, tak heran jika perekonomian Kota Gunungsitoli terutama ditopang oleh sektor perdagangan, konstruksi, dan pertanian. Pada tahun 2022, tercatat kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor sebesar 27,41 persen. Kemudian diikuti oleh konstruksi sebesar 20,13 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 14,94 persen.

Di sektor perdagangan, berdasarkan data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gunungsitoli, pada tahun 2021 terdapat 24 sarana perdagangan yang tersebar di 6 kecamatan di Kota Gunungsitoli, yaitu 11 pasar tradisional, 1 pasar ikan, dan 12 los pekan.

Gunungsitoli dikenal pula sebagai penghasil durian. Tempat ini menjadi sarana masyarakat desa membawa hasil panen duriannya untuk diperjualbelikan. Selain itu, Kota Gunungsitoli ada sebuah Tugu Durian di Taman Ya’ahowu sebagai identitas dari kota tersebut.

Di bidang keuangan daerah, realisasi pendapatan Pemerintah Kota Gunungsitoli tahun 2022 tercatat sebesar Rp 703 miliar. Kontribusi terbesar masih ditopang oleh pendapatan transfer sebesar Rp 660,19 miliar. Kemudian pendapatan asli  daerah atau PAD sebesar Rp 25,03 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp17,78 miliar.

Gunungsitoli juga menjadi pintu gerbang pariwisata di Kepulauan Nias. Di kota ini terdapat beberapa objek wisata yang menarik, yakni panorama pantai yang indah, rumah adat Nias, dan peninggalan sejarah berupa batu megalit.

Beberapa objek wisata alam di Gunungsitoli adalah Pantai Muara Indah, Pantai Charlita, Pantai Bunda, Pantai Malaga, Pantai Hoya, dan Pantai Kaliki.

Sementara rumah adat Nias terbanyak terdapat di Kecamatan Gunungsitoli yaitu sebanyak 28 buah, kemudian Kecamatan Gunungsitoli Barat sebanyak 25, Gunungsitoli Idanoi sebanyak 24 buah, Gunungsitoli Selatan sebanyak 14 buah, Gunungsitoli Utara dan Gunungsitoli Alo’oa masing-masing sebanyak 11 dan 10 buah rumah adat.

Untuk batu megalit terbanyak terdapat di Kecamatan Gunungsitoli Idanoi yaitu sebanyak 8 lokasi, dan kecamatan yang memiliki lokasi batu megalit paling sedikit adalah Kecamatan, Gunungsitoli Alo’oa dan Gunungsitoli Utara yaitu masing-masing memiliki 1 lokasi batu megalit.

Untuk mendukung beragam kegiatan, kota ini memiliki 26 hotel nonbintang dengan kamar sebanyak 458 kamar dan tempat tidur sebanyak 903 tempat tidur. Rata-rata lama inap tamu nusantara selama 1,06 hari sedangkan tidak ada tamu mancanegara yang berkunjung ke Kota Gunungsitoli selama tahun 2021. (LITBANG KOMPAS)

DOKUMENTASI PERKUMPULAN HIDORA

Wisatawan asing rombongan West Sumatera Yacht Rally 2022 menikmati suguhan makanan tradisional di rumah adat Nias di desa adat Desa Tumöri, Kecamatan Gunungsitoli Barat, Kota Gunungsitoli. Sumatera Utara, Sabtu (2/4/2022). Pariwisata berbasis kebudayaan dan bahari menjadi daya tarik Nias.

Referensi

Arsip Berita Kompas
  • “Kilas Politik & Hukum: Mendagri Resmikan Tujuh Daerah Baru”, Kompas, 27 Mei 2009, hlm. 02
  • “Gunungsitoli: Menanti Terwujudnya Kota ”Samaeri” * Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015”, Kompas, 13 Mei 2015, hlm. 22
  • “Strategi Pemerintahan: Meretas Isolasi * Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015”, Kompas, 13 Mei 2015, hlm. 22
  • “Energi Listrik: Gunungsitoli Sudah Terang”, Kompas, 14 Apr 2016, hlm. 22
Buku dan Jurnal
  • Zaenuddin HM. 2013. Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe. Jakarta: Change
Aturan Pendukung

Editor
Topan Yuniarto