Paparan Topik | KRI Nanggala 402

Sejarah dan Peran Kapal Selam Indonesia

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Nanggala-402 mengalami musibah tenggelam di perairan utara Bali dan 53 awak kapalnya dinyatakan gugur. Di masa lalu, Indonesia pernah memiliki 12 kapal selam dan menjadi armada angkatan laut yang disegani.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Kapal Selam KRI Nanggala-402 merapat di Dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur di Surabaya, Senin (6/2/2012).

Fakta Singkat

  • 1958-1980: Indonesia pernah memiliki 12 kapal selam

Kapal Selam saat ini:

  • KRI Cakra-401
  • KRI Nanggala-402
  • KRI Nagapasa-403
  • KRI Ardadedali-404
  • KRI Alugoro-405

KRI Nanggala-402:

  • Nama lengkap: Kapal Perang Republik Indonesia Nanggala
  • Nomor lambung: 402
  • Nanggala: senjata Prabu Baladewa dalam pewayangan
  • Tahun Pemesanan: 1977
  • Pabrik: Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, Jerman
  • Tipe U-209/1300
  • Kapal selam tempur/serbu
  • Tiba di Indonesia: 8 Oktober 1981
  • Diresmikan: 21 Oktober 1981
  • Diresmikan oleh: Menhankam/Pangab Jend TNI M Yusuf
  • Komandan pertama: Letnan Kolonel Laut Armanda Aksya
  • Berat benaman: 1.285 ton di permukaan 1.390 ton saat menyelam
  • Dimensi: panjang: 59,5 meter; lebar:6,3 meter; sarat air: 5,5 meter
  • Kecepatan: 11 knot di permukaan ; 21,5 knot saat menyelam
  • Jelajah kedalaman: 240 meter
  • Senjata: 14 buah torpedo 21 inci/533 mm dalam 8 tabung
  • Durasi penyelaman: 50 hari

Kapal selam Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Nanggala-402 yang dinyatakan hilang kontak sejak 21 April 2021 telah ditemukan pada 25 April 2021. Kapal selam ini terdeteksi tenggelam di perairan utara Pulau Bali. Seluruk awak kapal yang berjumlah 53 personel TNI AL dinyatakan gugur dalam musibah ini.

Selama 40 tahun kiprahnya menjaga kawasan perairan di negeri ini, sejumlah peran besar telah ditorehkan KRI Nanggala-402. Pada Agustus – Oktober 1999, KRI Nanggala-402 ditugaskan dalam sebuah misi intelijen di Timor Timur (kini Timor Leste). Misi tersebut dilakukan bersama KRI Cakra-401 untuk melacak pergerakan Pasukan Internasional untuk Timor Timur (Interfet).

KRI Nanggala-402 juga mengikuti misi-misi terbuka di antaranya dalam latihan-latihan dengan US Navy tahun 2002 di Laut Jawa dan Selat Bali dengan nama latihan Coorperation Afloat Readiness and Training/CARAT. KRI Nanggala-402 juga kerap ikut latihan perang. Dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) XV/04 di Samudera Hindia pada 2004, misalnya, KRI Nanggala-402 berhasil menenggelamkan eks KRI Rakata, sebuah kapal tunda samudra buatan 1942 dengan Torpedo SUT (surface and underwater target).

Selanjutnya, pada 2005, KRI Nanggala-402 menjadi ujung tombak dalam konflik perebutan blok Ambalat. Dua tahun lalu pada 2019, kapal yang dijuluki “monster bawah laut” diikutsertakan dalam sebuah latihan gabungan bersama kapal selam Amerika Serikat bernama USS Oklahoma City. Latihan yang digelar pada 9 Agustus 2019 tersebut juga diikuti oleh KRI Diponegoro-365 dan sebuah helikopter produksi Jerman, Bölkow-Blohm.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Kapal Selam KRI Nanggala-402 merapat di Dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur di Surabaya, Senin (6/2/2012). Kedatangan KRI Nanggala setelah menjalani perbaikan di Korea Selatan disambut langsung oleh Kepala Staf Angkalan Laut Laksamana TNI Soeparno dan anggota Komisi I DPR RI.

Sejarah Satuan Kapal Selam

Pada dokumen artikel yang diterbitkan TNI AL (2020) berjudul “Tradisi TNI Angkatan Laut” disebutkan pembentukan satuan kapal selam NKRI sudah dimulai pada 1958 yakni diawali pengiriman calon awak kapal selam ke Polandia.

Dua calon awak kapal selam berangkat dari Surabaya dengan kapal berbendera Denmark “Heinrich Jessen” menuju Rijeka, Yugoslavia pada 5 Agustus 1958. Dari Yugoslavia dua calon awak kapal selam Indonesia menuju Gedinia Oksiwi, Polandia. Rombongan dipimpinan Mayor Pelaut RP Poernomo. Setahun kemudian, dari Polandia kembali ke tanah air menggunakan  kapal RI Morotai.

Semua kapal perang TNI AL ditandai dengan inisial “KRI” yang merupakan singkatan dari Kapal Perang Republik Indonesia.

Pada era pascakemerdekaan, Indonesia memiliki 12 unit kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet, yaitu KRI Tjakra, KRI Nanggala, KRI Nagabanda, KRI Tjandrasa, KRI Trisula, KRI Nagarangsang, KRI Wijayadanu, KRI Hendrajala, KRI Bramastra, KRI Pasopati, KRI Tjundamani, dan KRI Alugoro. Periode tahun 1960 merupakan era kejayaan kapal selam Indonesia sebagai kekuatan Angkatan Laut yang sangat disegani khususnya di kawasan Asia Pasifik.

KOMPAS/ANSEL DA LOPEZ

Kapal selam KRI Nanggala di pantai Cilegon pada gladi resik tanggal 2 Oktober 1981 menyongsong Hari ABRI ke-36 tanggal 5 Oktober 1981. KRI Nanggala, buatan galangan “Howald Dutsche Werke” Kiel, Jerman Barat.

Kapal Selam Indonesia yang Pertama

Pada 7 September 1959 dua kapal selam berbendera Uni Soviet yang akan diserahkan kepada Indonesia merapat di Dermaga Ujung Surabaya. Pada 11 September 1959 dilaksanakan penyematan brevet Hiu Kencana yang pertama kali kepada semua awak kapal selam yang baru menyelesaikan pendidikannya di Polandia. Sebutan Hiu Kencana sampai saat ini melekat kepada korps awak kapal selam TNI-AL.

Selanjutnya, pada 12 September 1959 dilaksanakan serah terima dua kapal selam dari pemerintah Uni Soviet kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Kepala Staf TNI AL, Kolonel Pelaut RE Martadinata. Kedua kapal selam itu diberi nama KRI Tjakra dengan Komandan Mayor Pelaut RP Purnomo dan KRI Nanggala dengan Komandan Mayor Pelaut OP Koesno. Tanggal bersejarah ini kemudian setiap tahun diperingati sebagai “Hari Lahir Korps Hiu Kencana”.

Berdasarkan surat keputusan KASAL bernomor Men/KASAL No. A. 4/2/10 diresmikan “Divisi Kapal Selam” disingkat Divkasel dalam tubuh Komando Armada pada 14 September 1959. Komandan Divkasel yang pertama adalah Mayor Pelaut RP Poernomo.

Untuk mempercepat armada pasukan bawah laut, pada 1 November 1959 berdasarkan surat keputusan KASAL bernomor Men/KASAL Nomor A.19/4/1 diresmikan Sekolah Kapal Selam Angkatan Laut disingkat SEKASAL yang berkedudukan di Surabaya. Mayor Pelaut RP Poernomo ditunjuk sebagai Komandan Sekolah Kapal.

Pemerintah mengirim sejumlah teknisi ke Uni Soviet pada 25 Maret 1961 untuk melakukan pendidikan teknisi kapal selam. Pendidikan Kesatuan Latihan Kapal Selam disingkat KELAKAS tersebut dipimpin Mayor Pelaut AT Wignjoprajitno. Mereka berangkat menuju ke Vladiwostok, Uni Soviet untuk mengikuti pendidikan kapal selam selama sembilan bulan.

Berdasarkan Surat Keputusan KASAL bernomor Men/KSAL/5401.48/1961 tentang organisasi Komando Armada, Divisi Kapal Selam selanjutnya disebut sebagai Komandan Jenis Pembantu Kapal Selam (Kojenkasel). Keputusan tersebut ditetapkan pada 1 Desember 1961.

KOMPAS/ANSEL DA LOPEZ

Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf seusai meresmikan kapal selam KRI “Cakra” dan kapal LST (landing ship tank) KRI “Teluk Mandar” pada Rabu, 8 Juli 1981, di dermaga Ujung, Surabaya. KRI “Cakra” merupakan satu dari dua kapal selam yang dipesan dari Jerman Barat. Sebuah lagi, yakni KRI “Nanggala”, akan tiba sebelum 5 Oktober 1981.

Kapal Selam Tempo Dulu

Dua kapal pungut Torpedo Cather Boat/TCB yang dibeli pemerintah RI dari Uni Soviet tiba di Indonesia dan diberi nama KRI Buaya dan KRI Biawak pada akhir 1961. Kemudian pada 29 Januari 1962, pemerintah Indonesia menerima lagi empat kapal selam dari Uni Soviet, yaitu KRI Naga Banda, KRI Tjandrasa, KRI Trisula, dan KRI Nagarangsang.

Beberapa bulan kemudian yakni pada 10 Agustus 1962, pemerintah Indonesia menerima sebuah kapal selam dari Uni Soviet. Kapal yang serah terimanya dilakukan di dermaga Madura Ujung Surabaya tersebut selanjutnya diberi nama KRI Ratulangi.

Pada 15 Desember 1962 pemerintah Indonesia menerima lagi enam kapal dari Uni Soviet, yaitu KRI Wijaya Danau, KRI Hendrajala, KRI Bramastra, KRI Pasopati, KRI Tjundamani, dan KRI Alugoro. Selain itu, diterima pula kapal tender kapal selam, yaitu KRI Thamrin.

Untuk memperdalam teknik operasional kapal selam, sejumlah perwira, bintara, dan tamtama dikirim ke Valdiwostok, Rusia pada 2 Februari 1966 untuk belajar menjadi instruktur dan tenaga ahli kapal selam. Sebagai upaya tindak lanjut pengembangan keahlian mengoperasikan kapal selam, pada 3 Mei 1966 dilakukan pembangunan ruang latihan serangan torpedo untuk memahirkan para komandan, perwira pelaksana dan perwira navigasi kapal selam dalam melakukan serangan torpedo.

Pada 9 Desember 1966 Stasion Bantu KS (SIONBAN) diresmikan oleh Panglima AL Laksamana Muljadi. Unit ini berfungsi sebagai eselon pelayanan terhadap KS dalam hal pengisian baterai, aliran listrik dari darat, air suling, dan udara tekanan tinggi.

Pada 12 Desember 1966, KRI Tjakra dan KRI Nanggala (era 1960) telah menyelesaikan tugasnya sebagai alutsista di Angkatan Laut. Menyusul Pada 18 Maret 1970, KRI Henrajala dan KRI Alugoro selesai masa tugasnya. Pada 25 Mei 1971 tiga kapal selam yakni KRI Trisula, KRI Nagarangsang, dan KRI Tjandrasa dinyatakan selesai melaksanakan tugasnya sebagai kapal selam perang milik TNI. Masa operasional kapal selam pada masa itu rata-rata antara 6 – 20 tahun.

KOMPAS/ANSEL DA LOPEZ
Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf, Letjen TNI M. Sanfi dan Panglima Armada RI Laksamana Muda R. Kasenda sedang mengamat persiskop di dalam kapal selam KRI Nanggala pada kedalaman 13 meter di bawah permukaan Laut Jawa depan Pulau Madura pada 16 Maret 1983.

Profil KRI Nanggala-402

Nama Nanggala diambil dari kisah pewayangan. Nanggala merupakan senjata dari Prabu Baladewa. Dikisahkan dalam pewayangan, Nanggala merupakan perwujudan sebuah tombak pendek dan runcing namun memiliki kekuatan yang bersumber dari kesaktian Baladewa. Senjata ini mampu membelah sebuah gunung bahkan melelehkan besi baja dengan sangat mudah. Dalam perkembangannya KRI Nanggala-402 mendapat julukan “monster bawah laut”.

KRI Nanggala-402 merupakan satu dari lima kapal selam yang dioperasikan oleh TNI AL. Kelima kapal yang beroperasi yakni KRI Cakra-401, KRI Nanggala-402, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405.

KRI Nanggala-402 termasuk jenis kapal selam tipe U-209/1300. Kapal ini satu jenis tipe dengan kapal Cakra-401. Kapal ini tiba di Indonesia pada 8 Oktober 1981 merapat di Surabaya. Peresmian kapal ini sebagai KRI dilakukan oleh MenHankam/Pangab Jendral TNI M Yusuf di dermaga Madura Ujung Surabaya pada 21 Oktober 1981.

Komandan pertama kapal ini adalah Letnan Kolonel Laut (P) Armanda Aksya. Pada 9 November 1981 berdasarkan Skep Pagarma Nomor Skep/331/XI/1981 tertanggal 9 November 1981, ditetapkan nomor lambung KRI Nanggala adalah 402.

Masuknya kapal selam kelas U-209/1.300 (KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402) dari Jerman Barat membuktikan TNI AL memiliki kemampuan untuk mengoperasikan dua jenis kapal selam dari blok berbeda (blok timur dan blok barat), yaitu 12 kapal dari kelas Whiskey dari Uni Soviet kapal dan 2 kapal U-209/1300 dari Jerman Barat. Dalam perkembangan selanjutnya TNI AL mengoperasikan kelas kapal tipe U-209/1400 produksi Korea Selatan.

Untuk mempertahankan kondisi teknis kapal selam kelas U-209/1300, pemerintah Indonesia memutuskan untuk melaksanakan perbaikan menyeluruh (overhaul) secara bertahap di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Okpo, Korea Selatan. Diawali dengan perbaikan KRI Cakra-401 pada 2004 dan selesai pada 2006.

Selanjutnya, KRI Nanggala-402 melaksanakan overhaul pada 2010 dan selesai pada 2012. Overhaul terutama pada sistem Sewaco pada KRI Nanggala-402 dengan meningkatkan sistem kendali.

KOMPAS/CAPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO

Kapal selam KRI Nanggala-402 berlayar mendekati dermaga Indah Kiat di Kota Cilegon, Banten (4/04/2012)

Spesifikasi KRI Nanggala-402

KRI Nanggala-402 dengan tipe U-209/1300 adalah kelas kapal selam perang bermesin diesel-listrik seri 209 yang dikembangkan oleh Howaldtswerke-Deutsche Werft di Jerman. Perusahaan pembuatan kapal asal Jerman ini berkantor pusat di Kiel. Perusahaan ini adalah bagian dari kelompok perusahaan ThyssenKrupp Marine Systems, yang dimiliki oleh ThyssenKrupp.

Varian awal kelas 209 adalah tipe 209/1100 yang dirancang pada akhir 1960-an. Terdapat lima varian lainnya yakni 209/1100, 209/1200, 209/1300, 209/1400 dan 209/1500. Meskipun tidak dioperasikan oleh Angkatan Laut Jerman, varian-varian tersebut telah diekspor ke 13 negara. Sebanyak 61 kapal selam telah dioperasikan antara tahun 1971-2008 dan menjadi tipe yang paling banyak dipesan oleh negara-negara di dunia pada saat itu.

Dalam pemberitaan Kompas edisi 5 Februari 1977 berjudul “Dua Kapal Selam Baru untuk TNI-AL” disebutkan KRI Nanggala dipesan oleh pemerintah Republik Indonesia pada 2 April 1977. Pembuatan KRI Nanggala merupakan bagian dari pinjaman senilai 625 juta dolar Amerika Serikat dari Jerman kepada Indonesia. Sebesar 100 juta dolar AS dari pinjaman tersebut digunakan untuk membuat KRI Nanggala dan KRI Cakra.

Kapal selam ini dirancang oleh Ingenieurkontor Lübeck (IKL) yang dipimpin oleh Ulrich Gabler dan sebagian besar didasarkan pada desain kapal selam Jerman sebelumnya yakni tipe 206 dengan peralatan yang ditingkatkan. Desain lambung tunggal dan memungkinkan komandan untuk melihat seluruh kapal selam dari haluan ke buritan sambil berdiri di periskop.

Terdapat empat baterai 120 sel sebagai catu daya (power supply) yang ditempatkan di depan dan belakang pusat komando di dek bawah. Dua tangki pemberat utama dengan tangki depan dan belakang memungkinkan kapal untuk menyelam. Mereka didukung oleh empat mesin diesel MTU dan empat generator AEG. Motor listrik AEG dipasang langsung ke baling-baling dengan lima atau tujuh bilah.

Tenaga baterai diisi oleh generator yang dijalankan empat unit mesin diesel MTU jenis “supercharged”. Total daya yang dikirim adalah 5.000 shp (shaft horse power), tenaga motor listrik dihasilkan oleh baterai-baterai besar yang beratnya sekitar 25 persen dari berat kapal.

Senjata dan Performa Kapal

Kapal selam tipe 209 merupakan kapal selam serbu atau kapal selam pemburu. Kapal selam ini yang dirancang khusus untuk tujuan menyerang dan menenggelamkan kapal selam lain dan kombatan permukaan.

Kapal selam tipe ini dipersenjatai dengan tabung torpedo 8 busur 533 mm dan 14 torpedo. Tipe 209 /1200s yang digunakan oleh Yunani dan Korea Selatan, dan tipe 209/1400 yang digunakan oleh Turki juga dipersenjatai dengan rudal Sub-Harpoon. Kapal yang digunakan oleh Korea Selatan dapat dipersenjatai dengan 28 ranjau sebagai pengganti torpedo dan rudal Harpoon. Sedangkan perahu India dapat membawa 24 ranjau secara eksternal.

Kapal ini dapat dipersenjatai dengan berbagai model torpedo tergantung negaranya. Mayoritas kapal yang membawa torpedo Surface and Underwater Target (SUT) yakni: Yunani, India, Indonesia, Afrika Selatan, Korea Selatan. Kapal selam KRI Nanggala-402 memiliki 14 buah senjata torpedo buatan AEG dan dapat diincar melalui periskop buatan Zeiss yang diletakkan disamping “snorkel” buatan Maschinenbau Gabler.

KRI Nanggala memiliki berat di permukaan air 1.285 ton, sedangkan berat selam mencapai 1.390 ton saat menyelam. Dimensi kapal  panjang 59,5 meter, lebar 6,3 meter, dan sarat air (jarak vertikal antara garis air sampai dengan lunas kapal) sepanjang 5,5 meter. Dalam dokumen Nuclear Threat Initiative disebutkan kapal tersebut diawaki 34 pelaut itu sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 21,5 knot saat menyelam setara 39,8 km/jam atau 24,7 mph. Saat di permukaan air kecepatan bisa mencapai 11 knot setara 20 km/jam atau 13 mph.

Setelah mengalami perbaikan menyeluruh atau overhaul di Korea Selatan, kedalaman jelajah menyelam KRI Nanggala-402 yang aman ditingkatkan dari 240 meter (790 kaki) menjadi 257 meter (843 kaki), dengan kecepatan tertinggi ditingkatkan dari 21,5 knot (39,8 km/jam) menjadi 25 knot (46 km/jam). Daya tahan kapal selam KRI Nanggala-402 di dalam air sekitar 50 hari.

Alokasi Anggaran Pertahanan

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO

Presiden Joko Widodo meninjau galangan kapal perang PT PAL yang terletak di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Prov Jawa Timur (27/01/2020). Presiden didampingi oleh Menseskab Pramono Anung, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menhan Prabowo Subianto, Menko Polhukam Mahfud MD, Menlu Retno Marsudi dan Menkeu Sri Mulyani. Usai peninjauan Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas bertajuk Kebijakan Pengembangan Alutsista bertempat di gedung Faskasel Galangan PT PAL.

Dalam kajian DPR disebutkan anggaran pertahanan mengalami tren yang meningkat sejak 2018 sebesar Rp106,8 triliun menjadi Rp127,35 triliun di tahun 2020. Saat ini, alokasi terbesar anggaran pertahanan adalah untuk belanja pegawai yaitu sebesar 41,6 persen, untuk belanja barang sebesar 32,9 persen dan untuk belanja modal sebesar 25,4 persen.

Selama ini, anggaran militer Indonesia sebagian besar tersalurkan pada belanja matra darat. Pada tahun 2019 anggaran militer untuk TNI AD sebesar Rp44,96 miliar, TNI AL sebesar Rp17,44 miliar dan TNI AU sebesar Rp13,76 miliar. Di tahun 2020, anggaran untuk TNI AD sebesar Rp55,92 miliar, TNI AL sebesar Rp22,08 miliar dan TNI AU sebesar Rp15,50 miliar.

Kementerian Pertahanan juga mengalokasikan anggaran untuk program modernisasi alutsista pada tahun 2020 yaitu sebesar Rp10,86 triliun yang terdiri Rp4,59 triliun untuk matra darat, Rp4,16 triliun untuk matra laut dan Rp2,11 triliun untuk matra udara.

Harian Kompas (29/01/2020) dalam Tajuk Rencana menyebutkan kapal selam ampuh sebagai kekuatan penggentar (deterens). Menyadari pentingnya kapal selam dalam pertahanan, Singapura dan Malaysia mengikuti jejak Indonesia. Singapura mengoperasikan empat kapal selam asal Swedia, dan Malaysia mengoperasikan dua kapal selam buatan Perancis. Vietnam, seperti disebut The Military Balance (IISS, 2019), mengoperasikan delapan kapal selam.

Dalam situs Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Direktorat Pengelolaan Ruang Laut menyebutkan luas wilayah perairan Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke sekitar 3,25 juta km persegi, memiliki 17.499 pulau, dan 2,55 juta km persegi wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), Dalam kajian DPR disebutkan pada Minimum Essential Force alutsista TNI tahap III (2020-2024) target Indonesia memiliki 8 kapal selam. Dengan luas laut yang dimiliki, postur jumlah kapal selam yang ideal bagi Indonesia sebanyak 12 kapal selam.

Awak Kapal Selam KRI Nanggala-402

Sebanyak 53 awak kapal selam KRI Nanggala-402 dinyatakan gugur. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono menjelaskan sejumlah barang temuan dari KRI Nanggala-402 berupa baju keselamatan awak kapal selam dalam konferensi pers bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di pos media center di Pangkalan TNI Angkatan Udara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (25/4/2021) petang. KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam dan seluruh personel di dalam kapal selam itu dinyatakan gugur.

Referensi

Surat Kabar

“Dua Kapal Selam Baru untuk TNI-AL” (Kompas, 5/02/1977)

“Kapal Selam dan Pertahanan Kita” (Tajuk Rencana Kompas, (29/01/2020)

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close