Paparan Topik | ASEAN

ASEAN: Gelombang Lanjutan Covid-19 dan Diplomasi Vaksin

Dalam ulang tahun ke-54, sebagian besar anggota ASEAN disibukkan dengan penanganan gelombang lanjutan Covid-19. Diplomasi vaksin menjadi tantangan antaranggota maupun dengan mitra kerja sama ASEAN.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Presiden Joko widodo (baju batik), Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi (ketujuh kiri), Sekretaris Jendral ASEAN Le Luong Minh (keenam kiri) serta perwakilan negara anggota ASEAN berfoto bersama dalam acara Peringatan Hari Jadi ASEAN Ke-50 di Kantor sekretariat ASEAN, Jakarta (11/8/2018).

Fakta Singkat

ASEAN: Gelombang Lanjutan Covid-19 dan Diplomasi Vaksin 

Kasus Covid-19 ASEAN (per 6 Agustus 2021)

  • Total kasus: 7,9 juta kasus. Terbanyak Indonesia (3,6 juta), Terendah Laos (7,8 ribu)
  • Total kematian: 164.597 kasus. Terbanyak Indonesia (104 ribu), Terendah Laos (7)

Proporsi penduduk divaksin penuh (per 6 Agustus 2021)

  • Singapura (61,9%)
  • Kamboja (33,5%)
  • Malaysia (25,5%)
  • Laos (16%)
  • Fipilina (9,8%)
  • Indonesia (8,4%)
  • Brunei (8,2%)
  • Timor-Leste (6,1%)
  • Thailand (6,1%)
  • Myanmar (2,8%)
  • Vietnam (0,8%)

Gelombang lanjutan lonjakan pandemi Covid-19 menjadi tantangan yang berat bagi setiap negara, termasuk negara-negara anggota ASEAN. Dipicu oleh virus Covid-19 varian Delta, sebagian besar negara ASEAN sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Dalam upaya mencegah dan menangani Covid-19, para menteri kesehatan ASEAN sepakat bahwa vaksinasi menjadi langkah yang diupayakan bersama untuk mewujudkan kekebalan kelompok (herd immunity). Untuk mempercepat program vaksinasi, diperlukan ketersediaan vaksinasi bagi tiap negara di ASEAN. Akan tetapi, di tingkat dunia, termasuk di ASEAN, kesenjangan vaksinasi masih lebar.

Merangkum WHO, UNDP mencatat, hingga 4 Agustus 2021, sejumlah 1 dari 2 orang (51,15%) penduduk di negara-negara berpenghasilan tinggi telah divaksin. Sementara itu dalam periode waktu yang sama, di negara-negara berpenghasilan rendah, hanya 1 dari 74 orang (1,36%) yang telah divaksin Covid-19. Ketika stok vaksin lebih banyak dikuasasi oleh negara-negara berpenghasilan tinggi, muncullah isu kesetaraan dalam hal vaksin.

Kesetaraan vaksin berarti bahwa vaksin seharusnya dapat dibagikan secara merata ke seluruh negara di dunia tanpa memandang status ekonomi dan perkembangan suatu negara. Data yang dirangkum oleh UNDP dari UNICEF, Gavi, dan Aliansi Vaksin menunjukkan bahwa harga satu dosis vaksin Covid-19 berkisar antara 2 hingga 40 dollar AS. Selain itu, perkiraan harga distribusi vaksin adalah 3,7 dollar AS per orang dengan dua dosis.

Harga tersebut menjadi hal yang membebani bagi negara-negara berpenghasilan rendah. Berdasarkan data survei UNDP, WHO, dan UNICEF, negara-negara berpengasilan tinggi “hanya” perlu menambah pengeluaran kesehatan rata-rata sebesar 0,8 persen untuk dapat memenuhi biaya vaksinasi bagi 70 persen penduduknya. Sedangkan, negara-negara berpenghasilan rendah harus meningkatkan biaya kesehatan mereka rata-rata sebesar 56,6 persen untuk membiayai vaksinasi bagi 70 persen populasinya

Data di atas menunjukkan bahwa terjadi ketidaksetaraan dalam hal akses dan kepemilikan vaksin Covid-19 antarnegara. Situasi ini disebut oleh direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagai penghalang utama bagi dunia untuk mengakhiri pandemi dan memulihkan diri dari Covid-19. Ketimpangan akses dan stok vaksin dapat berdampak pada lamanya pemulihan sosial dan ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah akibat pandemi. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya akselerasi untuk memastikan vaksinasi dapat terbagi rata dengan harga yang terjangkau.

Ketidaksetaraan vaksin di tingkat dunia juga terjadi di ASEAN. Hingga minggu pertama Agustus 2021, di antara negara-negara anggota ASEAN, kesenjangan vaksin tampak dari kesenjangan proporsi penduduk yang telah divaksin dua kali. Di satu sisi, terdapat negara ASEAN yang telah memvaksin 61,9 persen penduduknya, yakni Singapura. Di sisi lain, Vietnam baru memvaksin 0,8 persen penduduknya. Dengan kata lain, terdapat jarak sebesar 61,1 persen proporsi penduduk yang telah divaksin dua kali di antara negara anggota ASEAN.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan akses dan kepemilikan vaksin Covid-19 juga menjadi tantangan bagi negara-negara ASEAN dalam upaya menangani pandemi di kawasan Asia Tenggara.

Ulang tahun ASEAN ke-54 pada 8 Agustus 2021 mengingatkan kembali akan semangat Deklarasi Bangkok, yakni kerja sama dan solidaritas regional di kawasan Asia Tenggara. Saat semua anggota ASEAN diterpa pandemi Covid-19 yang dipicu varian Delta, seruan solidaritas regional tersebut semakin nyata untuk diwujudkan, terutama dalam hal akses dan ketersediaan vaksin.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Sekjen ASEAN Lim Jock Hoi meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (8/8/2019).

Varian Delta

Situasi lonjakan kasus Covid-19 pada pertengahan tahun 2021 yang dialami oleh negara-negara ASEAN ditengarai dipicu oleh penyebaran varian Delta yang lebih kuat dan mudah menular.

Hingga 5 Juli 2021, varian Delta telah teridentifikasi di 96 negara. Beberapa hal yang dianggap meningkatkan penularan varian ini adalah peningkatan kontak antarmanusia karena peningkatan mobilitas sosial, penurunan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, hingga distribusi vaksin yang belum merata.

Sebuah riset yang dibuat di Guangdong, China menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi virus Covid-19 varian Delta memiliki konsentrasi atau jumlah virus (viral load) 1.260 kali lebih banyak dari orang yang terinfeksi virus Covid-19 varian lainnya. Konsentrasi virus yang tinggi itu membuat orang dengan virus Covid-19 varian Delta lebih mudah menularkannya kepada orang lain.

Berdasarkan klasifikasi WHO, varian virus SARS-CoV-2 Delta (B.1617.2) mulai terdokumentasi muncul di India pada Oktober 2020. Pada awalnya, 4 April 2021, WHO menggolongkan varian Delta sebagai variants of interest (VOI), yakni varian yang diketahui telah menimbulkan penularan di masyarakat atau terdeteksi di berbagai negara. Setelah melihat dampaknya yang signifikan, pada 11 Mei 2021, varian Delta digolongkan menjadi variants of concern (VOC), yakni varian yang menunjukkan adanya peningkatan penularan, peningkatan perubahan gejala klinik, atau penurunan efektivitas vaksin dan pengobatan.

Sebagai varian yang ditetapkan sebagai VOC, varian Delta dianggap menginfeksi manusia dengan lebih efektif dibandingkan dengan varian Alfa yang merupakan varian pertama yang teridentifikasi. Otoritas kesehatan Inggris menyebutkan bahwa varian ini 50 persen lebih mudah menular dibandingkan varian Alpha. Varian ini telah menyebabkan peningkatan kasus positif di Inggris serta kasus positif dan kematian di India. Selain lebih menular, varian Delta juga teridentifikasi di Skotlandia kebanyakan menyerang kelompok usia yang lebih muda dibandingkan varian Alpha. Varian Delta juga meningkatkan risiko pasien untuk dirawat di rumah sakit hingga dua kali lipat dibandingkan dengan varian Alpha.

Situasi Covid-19 di ASEAN

Hingga 6 Agustus 2021, terdapat total 7,9 juta kasus Covid-19 di ASEAN, atau sekitar 4 persen dari total kasus Covid-19 di dunia.

Dari jumlah tersebut, Indonesia menjadi negara di ASEAN dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak, yakni 3,6 juta kasus diikuti Filipina dengan 1,6 juta kasus dan Malaysia dengan 1,2 juta kasus. Sebaliknya, Laos menjadi negara di ASEAN dengan total kasus terendah, yakni 7,8 ribu kasus diikuti Timor-Leste dengan 11,4 ribu kasus dan Singapura dengan 65,6 ribu kasus.

Di sisi lain, total angka kematian karena Covid-19 di ASEAN mencapai 164.597 jiwa atau kurang lebih empat persen dari angka kematian dunia. Dari sisi jumlah, kembali Indonesia menempati peringkat pertama kasus kematian karena Covid-19 di ASEAN, dengan 104.010 kematian per 6 Agustus 2021. Selanjutnya, terdapat Filipina dengan 28.673 kasus kematian dan Myanmar dengan 11.262 kasus kematian.

Sebaliknya, Laos menjadi negara di ASEAN dengan jumlah kematian karena Covid-19 terkecil, yakni tujuh kematian. Diikuti dengan Timor-Leste dengan 26 kematian dan Singapura dengan 41 kematian.

Lonjakan kasus Covid-19 di ASEAN

Secara jumlah, kasus Covid-19 di ASEAN tergolong rendah dibandingkan dengan total kasus dunia. Akan tetapi, dipicu oleh munculnya varian Delta, terjadi lonjakan kasus Covid-19 di banyak negara ASEAN. Lonjakan tersebut dialami negara-negara di ASEAN pada periode waktu yang berbeda beda pada tahun 2021.

Negara-negara selain Indonesia dengan total kasus di atas 10.000 kasus meliputi Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Malaysia pada 31 Juli 2021 mendapati kasus terkonfirmasi harian hingga 17.786 kasus dan angka tersebut masih terus meningkat hingga data terakhir pada 4 Agustus 2021 dengan 19.819 kasus baru.

Filipina mengalami lonjakan kasus pada 17 Februari sampai 2 April 2021 dengan total kasus tertinggi sebanyak 15.298 kasus. Angkat tersebut berangsur membaik hingga 23 Mei dengan 1.595 kasus harian. Akan tetapi, kasus harian di Filipina kembali naik hingga pada 6 Agustus 2021 mencapai 10.529 kasus harian.

Thailand pada 16 Juni 2021 hanya mendapati 2.331 kasus baru. Namun, angka tersebut lalu melonjak naik hingga tanggal 6 Agustus 2021 dengan pertambahan 21.319 kasus harian baru.

Lonjakan kasus harian baru juga dialami oleh Vietnam. Pada Vietnam mengalami lonjakan kasus dengan puncak pada 27 Juli 2021 sebesar 10.774 kasus dari titik awal sebesar 214 kasus pada 25 Juni 2021. Angka tersebut kemudian meningkat tajam  menjadi 16.954 kasus baru pada 3 Agustus 2021. Pada 6 Agustus 2021, penambahan kasus harian di Vietnam turun menjadi 4.315 kasus baru.

 

Bila melihat angka di atas, tampak bahwa lonjakan jumlah kasus positif Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara terjadi di Indonesia, mencapai angka di atas 50.000 kasus.

Akan tetapi bila jumlah kasus tersebut diperbandingkan dengan jumlah penduduk suatu negara, data total kasus positif Covid-19 di Asia Tenggara sejak awal hingga tanggal 4 Agustus 2021 menunjukkan bahwa total kasus di Indonesia bukanlah total kasus tertinggi di Asia Tenggara.

Dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta penduduk, Indonesia mengalami total 3,5 juta kasus Covid-19 sejak kasus pertama tercatat pada 2 Maret 2020 dari kasus yang ditemukan di Depok, Jawa Barat hingga 4 Agustus 2021. Hal itu berarti dari setiap satu juta penduduk, terdapat 13.047 kasus positif Covid-19 atau 1,3 persen dari total populasi. Angkat tersebut masih lebih rendah dari angka rasio kejadian kasus Covid-19 di Filipina (15.308 kasus tiap satu juta penduduk atau 1,53% dari total penduduk) dan Malaysia 37.285 kasus tiap satu juta penduduk atau 3,73% dari total penduduk).

Angka rasio kejadian kasus Covid-19 di Indonesia juga masih lebih rendah dari rasio kejadian kasus Covid-19 di dunia dengan angka 25.526 kasus tiap satu juta penduduk atau 2,55 persen dari total penduduk dunia.

Tabel: Angka Kasus dibanding Jumlah Penduduk per 4 Agustus 2021

Negara Jumlah Populasi Jumlah Kasus* Jumlah Kasus tiap Satu Juta Penduduk Rasio Kasus dibanding Populasi
Dunia 7.800.000.000 199.099.061 25.526 2,55
Malaysia 31.200.000 1.163.291 37.285 3,73
Filipina 104.900.000 1.605.762 15.308 1,53
Indonesia 268.000.000 3.496.700 13.047 1,30
Singapura 5.612.000 65.213 11.620 1,16
Thailand 69.400.000 652.185 9.397 0,94
Timor Leste 1.339.862 10.982 8.196 0,82
Myanmar 53.370.000 306.354 5.740 0,57
Kamboja 16.010.000 79.051 4.938 0,49
Vietnam 95.540.000 165.339 1.731 0,17
Laos 7.364.903 7.015 952 0,10
Brunei 428.607 338 789 0,08

*Angka kasus senyatanya mungkin lebih tinggi mengingat jumlah tes yang terbatas. Sumber: CSIS.org. Diolah: Litbang Kompas/AP1.

Perbandingan di atas juga dapat dilihat dari kasus mingguan Covid-19 di tiap negara per satu juta penduduk di ASEAN.

Pada 6 Agustus 2021, Malaysia menjadi negara dengan kasus mingguan Covid-19 per satu juta penduduk terbesar di ASEAN, yakni 3.989 kasus mingguan per satu juta penduduk. Selanjutnya, terdapat Thailand dengan 1.952,8 kasus mingguan per satu juta penduduk, diikuti Indonesia dengan 861 kasus mingguan per satu juta penduduk.

Sebaliknya, Brunei menjadi mencatatkan kasus mingguan per satu juta penduduk terendah di ASEAN, yakni 6,9 kasus mingguan per satu juta penduduk. Diikuti oleh Singapura dengan 127,2 kasus mingguan per satu juta penduduk dan Kamboja dengan 253,9 kasus mingguan per satu juta penduduk.

 

Angka kematian Covid-19 di ASEAN

Kendati angka rasio kejadian kasus Covid-19 di Indonesia terhitung masih di bawah rerata global dan bukan yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN, angka kasus kematian di Indonesia sangat mengkhawatirkan.

Dari total 3,5 juta kasus Covid-19 di Indonesia, terdapat 9 ribu kasus kematian. Fakta ini ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan angka kasus kematian akibat Covid-19 tertinggi kedua di antara negara-negara di ASEAN dengan angka case-fatality rate (CFR) mencapai 2,83 persen, lebih tinggi dari angka CFR global pada 2,13 persen.

Angka CFR tertinggi di antara negara-negara ASEAN terjadi di Myanmar dengan angka mencapai 3,28 persen. Sementara itu, negara-negara dengan angka case-fatality rate terendah di Asia Tenggara adalah Singapura (0,06%), Laos (0,10%), dan Timor-Leste (0,24%).

Negara Total Kasus Covid-19 Total Kasus Kematian Case-Fatality Rate (%)
Dunia 199.099.061 4.239.882 2,13
Myanmar 306.354 10.061 3,28
Indonesia 3.496.700 98.889 2,83
Kamboja 79.051 1.471 1,86
Filipina 1.605.762 28.093 1,75
Vietnam 165.339 1.881 1,14
Brunei 338 3 0,89
Thailand 652.185 5.315 0,81
Malaysia 1.163.291 9.598 0,83
Timor Leste 10.982 26 0,24
Laos 7.015 7 0,10
Singapura 65.213 38 0,06

Tabel 3: Case-Fatality Rate di Asia Tenggara per 4 Agustus 2021. Sumber: CSIS.org. Diolah: Litbang Kompas/AP1.

Selain dari CFR, angka kematian karena Covid-19 di antara negara-negara anggota ASEAN juga dapat dipotret dari sisi kasus kematian mingguan per satu juta penduduk.

Pada 6 Agustus 2021, kasus kematian mingguan Covid-19 per satu juta penduduk di ASEAN tertinggi ditempati oleh Malaysia dengan 44,9 kematian mingguan per satu juta penduduk. Selanjutnya terdapat Myanmar dengan 42,6 kematian mingguan per satu juta penduduk, turun dari 45,6 pada satu minggu sebelumnya. Diikuti oleh Indonesia dengan 42,8 kematian mingguan per satu juta penduduk.

Sebaliknya, pada periode yang sama, Brunei dan Timor-Leste menjadi negara anggota ASEAN dengan kasus kematian mingguan per satu juta penduduk terendah, yakni 0 kematian mingguan per satu juta penduduk. Selanjutnya terdapat Laos dengan 0,1 kematian mingguan per satu juta penduduk.

Situasi vaksinasi Covid-19 di ASEAN

Lonjakan kasus harian dan kematian di ASEAN menunjukkan ketidaksiapan negara-negara di ASEAN menghadapi munculnya gelombang penularan Covid-19 yang dipicu varian Delta.

Bagaimana kesulitan ini mesti diatasi? Selain upaya pengetatan protokol kesehatan dan pembatasan kegiatan masyarakat, vaksinasi merupakan langkah upaya penanganan yang penting untuk menekan laju penularan Covid-19.

Vaksinasi memang tidak memberikan perlidungan 100 persen yang menghilangkan kemungkinan penularan virus Covid-19. Akan tetapi, vaksinasi terbukti meningkatkan kekuatan antibodi untuk mencegah terjadinya peluaran dan menurunkan risiko tingkat keparahan penyakit akibat infeksi Covid-19.

Dalam hal ini, antibodi yang dimunculkan oleh vaksin dapat diibaratkan seperti dinding laut yang didesain untuk melindungi suatu kota dari gelombang ombak yang membawa air laut masuk ke kota. Pada umumnya dinding tersebut dapat bertahan menahan terpa gelombang, tetapi angin kencang dapat menyebabkan air untuk sebagian tetap berhasil melewati dinding tersebut. Bila dibandingkan dengan varian virus Covid-19 lainnya, varian Delta dapat diibaratkan seperti angin puting beliung yang kencang. Varian ini lebih menular dan memberikan tantangan yang lebih besar bagi sistem imun orang yang telah menerima vaksin sekalipun.

Dari sisi jumlah, di antara negara-negara ASEAN, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk yang telah divaksinasi penuh (2 dosis) terbanyak per 6 Agustus 2021, yakni 22,9 juta penduduk. Selanjutnya, terdapat Filipina dengan 10,7 juta penduduk dan Malaysia dengan 8,3 juta penduduk yang telah divaksinasi penuh.

Sebaliknya, Brunei menjadi negara di ASEAN dengan jumlah penduduk yang telah divaksinasi penuh terendah, yakni 35,9 ribu penduduk. Diikuti dengan Timor-Leste dengan 103,2 ribu penduduk, kemudian Vietnam dengan 820 ribu penduduk.

Akan tetapi, bila dibandingkan dengan total penduduk, Indonesia berada di posisi ke-6 dengan 8,4 persen penduduk yang telah divaksinasi secara penuh.

Singapura menjadi negara ASEAN dengan proporsi penduduk yang telah divaksin penuh terbesar, yakni 61,9 persen per 4 Agustus 2021. Di posisi kedua terdapat Kamboja dengan proporsi vaksinasi penuh sebesar 33,5 persen penduduk diikuti Malaysia dengan 25,5 persen penduduk.

Di posisi terendah terdapat Vietnam dengan proporsi 0,8 persen penduduk yang telah divaksin secara penuh kemudian terdapat Myanmar dengan 2,8 persen dan Thailand dengan 6,1 persen.

 

Diplomasi vaksin ASEAN

Besarnya perbedaan jumlah penduduk yang telah divaksin maupun proporsinya menunjukkan adanya berbagai persoalan dalam program vaksinasi. Di luar adanya kesulitan terkait penolakan masyarakat dan tenaga pendukung, salah satu persoalan yang tampak nyata adalah kesenjangan akses dan kepemilikan vaksin Covid-19 di antara negara-negara di ASEAN. Dengan kata lain, kebutuhan vaksinasi di negara-negara ASEAN masih tinggi sedangkan suplai vaksin dunia belum terbagi rata.

Dalam situasi kesenjangan vaksin, ASEAN ditantang untuk mewujudkan kerja sama pemerataan vaksin di antara negara anggotanya. Pada ulang tahun yang ke-54 pada 8 Agustus 2021, ASEAN berupaya menjajaki kerja sama riset dan produksi vaksin dengan perusahaan di negara mitra ASEAN. Upaya tersebut ditempuh untuk mengurangi diskriminasi vaksin terutama antara negara-negara berpenghasilan atas dengan negara-negara berpenghasilan bawah.

Berdasarkan pemeringkatan Bank Dunia per 1 Juli 2021, kebanyakan (7) negara ASEAN (Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Myamar, Laos, Kamboja, Vietnam) merupakan negara berpengasilan menengah bawah (lower-middle income). Dua negara termasuk negara dengan berpengasilan atas (high income), yakni Singapuran dan Brunei Darussalam. Sedangkan dua lainnya, yakni Malaysia dan Thailand merupakan negara dengan penghasilan menengah atas (upper-middle income).

 

Melihat besarnya perbedaan proporsi vaksinasi di antara negara anggota ASEAN serta variasi pendapatan tiap negara, diplomasi vaksin menjadi salah satu agenda penting kerja sama ASEAN dengan negara-negara mitra. Pentingnya solidaritas dan kerja sama antarnegara anggota ASEAN juga diperkuat dengan fakta bahwa  kawasan Asia Tenggara merupakan medan tempur persaingan diplomasi vaksin China dan AS. Di kawasan ini, China telah mendistribusikan 190 juta dosis vaksin. Sedangkan, AS 23,8 juta dosis.

Pada 8 Agustus 1967, lima negara di Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand mendeklarasikan pentingnya kerja sama dan solidaritas regional di kawasan Asia Tenggara dengan membentuk ASEAN. Semangat tersebut kembali mengemuka saat kawasan ASEAN mengalami persoalan pandemi dan tantangan ke luar yang sama, pengadaan vaksin yang merata bagi tiap negara anggota. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Majalah
  • “The next covid catastrophe”, the Economist, 17 Juli 2021.
Internet
Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close