Peta Tematik

Kawasan Rawan Bencana Gunung Sinabung

Satu-satunya gunungapi di Sumatera Utara yang tipenya beralih menjadi A sejak letusan 2010, karena sebelumnya tidak terjadi erupsi magmatik sejak 1600-an.

Fakta Singkat 

Nama lain
Deleng Sinabung

Nama kawah
Kawah I, Kawah II, Kawah III, Kawah IV

Tipe gunungapi
Strato

Letak
Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Posisi geografis
98°23’30” BT dan 3°10’00” LU

Tinggi di atas muka laut
2.460 mdpl

Status Gunungapi
Level III “Siaga” (sejak 20 Mei 2019)
Terakhir meletus 2 Maret 2021

Gunung Sinabung secara administratif berada di wilayah Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sebelum erupsi pada Agustus 2010, Gunung Sinabung ini masuk ke dalam gunungapi Tipe B yaitu gunungapi yang memiliki catatan sejarah letusan sebelum tahun 1600 (Klasifikasi Direktorat Vulkanologi), sejarah erupsinya tidak banyak diketahui dengan lengkap serta tidak terdapat dalam catatan sejarah dan literatur. Namun sejak erupsi Agustus 2010 lalu gunungapi ini diklasifikasikan ke dalam gunungapi aktif Tipe A, hal ini didasari dari peristiwa erupsi freatik yang diikuti oleh erupsi abu.

Peristiwa erupsi freatik pada Agustus 2010 lalu tidak menyebabkan adanya korban jiwa manusia, namun abu letusannya merusak daerah perkebunan dan pertanian masyarakat setempat dan mengakibatkan adanya sumber air yang terkontaminasi. Disamping itu berdampak juga pada kesehatan penduduk setempat seperti iritasi kulit dan mata, ISPA dan diare. Perubahan klasifikasi Gunung Sinabung dari Tipe B ke Tipe A membuat pemantauan, penyelidikan dan sosialisasi tentang kegiatan gunungapi ini dilakukan secara lebih intensif oleh pihak yang berwenang.

Saat kembali aktifnya Gunung Sinabung ini, maka kawasan rawan bencana dibutuhkan untuk melakukan antisipasi terhadap aktivitas yang terjadi di Gunung Sinabung tersebut. Tingkat kerawanan bencana Gunung Sinabung dibagi menjadi tiga tingkat yang digambarkan pada peta di atas.

  • Kawasan Rawan Bencana (KRB) I

Kawasan yang berpotensi terlanda lahar, namun apabila erupsinya membesar maka kawasan ini berpotensi terkena hujan abu, awan panas dan lontaran batu pijar.

  • Kawasan Rawan Bencana (KRB) II

Kawasan yang berpotensi terkena awan panas, aliran lava, guguran lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

  • Kawasan Rawan Bencana (KRB) III

Kawasan yang sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran dan guguran lava, gas beracun, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Kawasan ini yang paling dekat dengan puncak Gunung Sinabung.

Gunung ini tidak tercatat dengan baik meskipun pernah erupsi sebelum tahun 1600, namun kembali aktif aktivitasnya pada Agustus 2010 lalu, setelah aktivitas terakhir pada tahun 1912.

Sejarah letusan

Letusan di gunung Sinabung terjadi sebelum 1600, berikut urutan aktivitas yang sempat tercatat.

Sebelum 1600
Aktivitas terakhir tercatat sebelum tahun 1600 berupa muntahan batuan piroklastik serta aliran lahar yang mengalir ke arah selatan puncak gunung.

1912
Adanya aktifitas solfatara yang terlihat di puncak dan lereng gunung.

Sepanjang 2010

27 – 29 Agustus 2010
Terjadi aktivitas dengan mengeluarkan asap dan abu vulkanis hingga mengeluarkan lava.

3 September 2010
Terjadi dua letusan dengan waktu yang berdekatan, letusan pertama mengeluarkan debu vulkanis setinggi 3 kilometer, letusan kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang terasa hingga 25 kilometer dari pusat gempa.

7 September 2010
Terjadi letusan yang terdengar hingga jarak 8 kilometer, debu letusannya tersebut hingga 5 kilometer di udara.

Sepanjang 2013

20 – 23 November 2013
Terjadi letusan dalam sehari kurang lebih sebanyak 10 kali sehingga membentuk kolom abu setinggi 8 kilometer di atas puncak gunung. Hujan abu vulkanik hingga sampai ke Kota Medan yang berjarak 80 km dari puncak gunung Sinabung.

24 November 2013
Status gunung dinaikkan pada level tertinggi yaitu Level IV (Awas). Status ini bertahan hingga awal tahun 2014.

Sepanjang 2014

3 – 4 Januari 2014
Terjadi guguran lava pijar dan semburan awan panas serta terjadi rentetan gempa, letusan dan luncuran awan panas secara terus menerus.

8 April 2014
Aktivitas gunung Sinabung diturunkan dari level IV (awas) menjadi Level III (siaga).

Sepanjang 2015

3 Januari 2015
Terjadi erupsi dengan tinggi kolom mencapai 3 kilometer disertai awan panas sejauh 4 kilometer ke arah selatan. Tercatat juga adanya 24 kali guguran awan panas dari puncak.

2 – 3 April 2015
Aktivitas Gunung Sinabung meningkat dan mengeluarkan awan panas. Guguran awan panas mengalir dalam radius 3,5 – 4 kilometer dari puncak.

2 Juni 2015
Aktivitas Gunung Sinabung meningkat kembali sehingga level kembali di naikkan menjadi Level IV kembali atau awas.

4 Agustus 2015
Terjadi guguran lava pijar sejauh 700 – 1.500 meter dengan 35 kali guguran. Tinggi kolom abu mencapai 2 kilometer.

15 September 2015
Erupsi kembali terjadi dengan guguran awan panas mencapai 3 kilometer dan tinggi kolom abu 2,5 kilometer.

17 November 2015
Aktivitas kembali meningkat dengan mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur hingga 4 kilometer dan tinggi kolom abu mencapai 2 kilometer dari puncak gunung.

2016

25 Februari 2016
Terjadi aktivitas semburan lava pijar sejauh 500 meter dan tinggi kolom abu 2 kilometer.

Sepanjang 2017

21 Februari 2017
Terjadi letusan sebanyak tiga kali dengan semburan abu vulkanik hingga 2,5 kilometer.

2 – 3 Agustus 2017
Terjadi erupsi hingga menghancurkan kubah lava di puncak lebih dari 2,3 juta meter kubik. Erupsi ini menghasilkan kolom abu pekat hingga mencapai 4,2 kilometer dana wan panas meluncur ke arah tenggara dan timur hingga 4,5 kilometer ke sungai Laborus. Tidak terjadi korban jiwa namun kerugian materil cukup banyak karena abu menutupi perkebunan dan pertanian.

Sepanjang 2018

19 Februari 2018
Terjadi erupsi dengan tinggi kolom 5 kilometer dan terjadi gempabumi akibat letusan tersebut.

6 April 2018
Terjadi erupsi kembali dengan tinggi kolom abu lebih dari 5 kilometer.

Sepanjang 2019

7 Mei 2019
Terjadi letusan dengan tinggi kolom abu sekitar 2 kilometer diatas puncak.

11 Mei 2019
Adanya aktivitas erupsi dengan amplitude maksimum 9 mm dan durasi kurang lebih selama 33 menit.

Sepanjang 2020

8 Agustus 2020
Adanya aktivitas erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 2 kilometer di atas puncak.

10 Agustus 2020
Adanya aktivitas erupsi sebanyak dua kali dengan tinggi kolom abu hingga 5 kilometer.

2 November 2020
Terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu setinggi 1,5 kilometer bergerak kea rah timur.

2021

Januari – Februari 2021
Terjadi hembusan gas dari kawah puncak dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal sekitar 50 – 1.000 meter dari puncak. Terjadi 37 kali erupsi eksplosif, sehingga menghasilkan kolom erupsi setinggi 1 kilometer dari atas puncak. Guguran awan panas hingga mencapai 2 kilometer.

2 Maret 2021 (terkini)
Terjadi rangkaian awan panas guguran dengan jarak luncur 2 – 5 kilometer, disertai kolom asap setinggi 4 – 5 kilometer. Telah terjadi 13 kali kejadian guguran awan panas.
Mekanisme adanya guguran awan panas akibat dari adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida (batuan padat, cairan dan gas) ke permukaan yang mendorong kubah lava. Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa low Frequency dan Hybrid yang tinggi. Berdasarkan pengamatan tersebut maka aktifitas Gunung Sinabung masih pada lebel III (Siaga).

Kontributor:
Muhammad Fiqi Fadillah

Editor:
Slamet JP

Referensi:

Artikel Kompas.com

  • “Gunung Sinabung Erupsi, Ini Sejarah Letusannya dalam 5 Tahun Terakhir” (10 Agustus 2020)
  • “Gunung Sinabung Meletus, Situasi Terkini dan Rekomendasi PVMBG” (2 Maret 2021)
Pahami Lebih Dalam dengan Infografik Peta Tematik

Pahami Lebih Dalam dengan Infografik Peta Tematik

Daftarkan email Anda dan dapatkan pemahaman mendalam dengan infografik peta tematik Kompaspedia

close