Kronologi | Hari Pers Nasional

Kronologi: Perkembangan Pers Daerah 1900-1945

Kebangkitan kesadaran politik Indonesia pada tahun 1908 mendorong pertumbuhan pers berbahasa anak negeri di sejumlah daerah. Umumnya pers daerah bercorak perjuangan dan kritik atas penjajahan.

Pelajar SD berkeliling di Museum Kebangkitan Nasional (Stovia) untuk mengikuti acara Haul 90 Tahun RM Tirto Adhi Soerjo di Jakarta (6/12/2008). Untuk memperingati tokoh pers dan perintis persuratkabaran nasional yang menerbitkan Medan Prijaji (surat kabar nasional pertama yang menggunakan bahasa Melayu) tersebut, malam itu diluncurkan prangko dan amplop hari pertama RM Tirto Adhi Soerjo.

KOMPAS/LASTI KURNIA

Perkembangan pers di Indonesia dirintis oleh para pengusaha Eropa dan pedagang Tionghoa. Kala itu, pers dimanfaatkan untuk membela kepentingan sosial dan politik mereka, walaupun mulai muncul beberapa surat kabar dengan bahasa pengantar Bahasa Melayu. Diterapkannya kebijakan politis etis di Hindia Belanda melahirkan kalangan bumiputra terpelajar. Perkembangan intelektual ini pada gilirannya merangsang orang Indonesia mendirikan pers sendiri.

Munculnya gerakan Budi Oetomo pada tahun 1908 meningkatkan kesadaran akan pentingnya organisasi dan pers organisasi demi menyebarluaskan gagasan pemikiran kebangsaan. Dari sinilah mulai muncul pers yang dikelola oleh kaum bumiputra terpelajar di sejumlah daerah di Pulau Jawa, kemudian menyebar hingga ke luar Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Surat kabar Medan Prijaji yang terbit pada tahun 1907 dianggap sebagai pelopor pers nasional. Surat kabar ini berbeda dengan media pers berbahasa Melayu terdahulu karena telah membawa ideologi kebangsaan Indonesia sebagai sebuah cita-cita. Medan Prijaji mengambil peranan penting dalam menambah kesadaran kaum pribumi untuk terus menentang penjajahan. Hal itu mengilhami penamaan beberapa nama surat kabar di sejumlah daerah yang menggunakan istilah semangat perjuangan dan pembaharuan seperti “cahaya”, “bintang”, “merdeka”, “bergerak” dan lain-lain.


1855
Bromartani terbit dalam Bahasa Jawa.

1858
Soerat Chabar Betawie terbit dalam Bahasa Melayu di Batavia.

1865
Bintang Timoer merupakan surat kabar terbit di Padang.

1874
Pemberita Batavia merupakan surat kabar tertua di Batavia berbahasa Melayu. Redakturnya adalah J. Hendriks.

1869
Tjahaja Siang merupakan surat kabar pertama terbit di Sulawesi Utara diusahakan oleh Perhimpunan Penginjil Belanda disingkat NZG atau Zending. Menggunakan Bahasa pengantar Melayu, yang dipimpin oleh J. ten Hove.

1886
Pelita Ketjil
terbit tanggal 1 Febuari 1886 di bawah pimpinan Mahyudin Datuk Sutan Mahardja.

1888
Pewarta Manado
diterbitkan sebagai mingguan oleh Que Bros. Editornya adalah J.A.M. de Winter.

1893
Bintang Betawi
adalah surat kabar yang terbit di Jakarta berbahasa Melayu dan redakturnya adalah J. Kieffer.

Pertja Barat terbit di Padang dipimpin oleh Dja Endar Moeda. Surat kabar ini berbahasa Melayu.

1895
Warta Berita didirikan di Padang oleh dua orang bangsawan Minangkabau, yaitu Sutan Raja nan Gadang bersama Datuk Sutan Mahardja

1897
Tjaja Somatra terbit di kota padang. Surat kabar ini merupakan hasil kerja sama perusahaan percetakan milik orang Indo, Baumer dengan pengusaha Cina, Lim Soen Kim dan pengusaha pribumi Engku Baginda.

1898
Taman Sari
merupakan surat kabar yang terbit di Batavia, yang dipimpin oleh redaktur F. Wiggers.

1901
Insulinde
muncul pada April 1901 di bawah asuhan Dja Endar Moeda. Terbitan berkala ini bertujuan untuk memajukan minat akan pendidikan di kalangan para guru dan bangsawan.

1902
Pertja Timoer
merupakan surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Medan pada bulan Agustus 1902. Yang bertanggung jawab sebagai editor adalah Chatib Radja Soetan.

1903
Wasir Hindia adalah surat kabar yang digawangi oleh Soetan Radja nan Gadang sebagai editor.

Pemberita Makassar diterbitkan oleh N.V. Handelsdrukkerij en Kantoorhandel Celebes di Makassar.

1904
Alam Minangkabau merupakan mingguan yang menggunakan bahaya Melayu. Dja Endar Moeda tercatat sebagai editornya. Redaksinya diduduki oleh Haji Mohd. Salleh dan Haji Mohd Amin.

1905
Sinar Sumatra terbit di Padang tanggal 4 oktober 1905. Dicetak dalam Bahasa melayu, editornya Lim Soen Hin.

Binsar Sinodang Batak adalah surat kabar berbahasa Batak yang dipimpin oleh Immanuel Siregar.


Solo Pantas “dihadiahi” Monumen Pers Nasional (bekas Gedung Sociteit Sasana Suka tempat lahirnya PWI), karena di kota ini, media massa cetak tumbuh dan tumbang silih berganti. Di masa lalu peran kota ini dalam perkembangan pers, cukup menonjol. Solo misalnya menjadi saksi sejarah dari lahirnya dua organisasi wartawan. Sebelum PWI seperti tersebut di muka, ada Persatoean Djoernalis Indonesia atau disingkat Perdi (23 Desember 1933), salah satu organisasi wartawan yang pertama di masa penjajahan Belanda. (KOMPAS/EDDY HASBY)

1907
Medan Prijaji
adalah surat kabar pribumi pertama yang dipimpin oleh Tirto Adhi Surjo, tokoh yang dianggap sebagai pelopor pers nasional. Surat kabar mingguan ini terbit pertama kali tanggal 1 Januari 1907 di Bandung

Soeloeh Keadilan. Pada April 1907 Tirto Adi Soerjo bersama R.M.T. Pandji Arjodinoto meluncurkan bulanan Soeloeh Keadilan. Haji Nohd. Arsad diminta oleh Tirto untuk mengelola bulanan ini.

Sinar Borneo adalah surat kabar berbahasa Melayu yang mucul di Banjarmasin. Bertugas sebagai editor adalah Ong Keng Lie dan Lie Kooij Gwan.

Bintang Pagi terbit di Semarang.

Tjahaja Timoer terbit di Malang dan dipimpin oleh Raden Djojosoediro.

Bintang Pasir merupakan surat kabar yang terbit di Sibolga. Yang bertanggung jawab sebagai editor adalah Lim Lim Boen Sian.

Pewarta Menado merupakan surat kabar yang dipimpin oleh J.A. Worotikan.

Pewarta Borneo menjadi surat kabar yang terbit di Banjarmasin. M.Neys bertugas sebagai redakturnya.

Kaoem Moeda berdiri di Bandung. Surat kabar ini condong ke Indische Partij. Diasuh oleh Raden Djojosoediro.

1908

Poetri Hindia merupakan surat kabar khusus perempuan yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Tirtokoesoemo, terbit pada Juni 1908. Artikel seputar rumah tangga dan isu perempuan banyak ditulis.

Darmo Kondo dimiliki oleh seorang keturunan Tionghoa, Tah Tjoe Kwan, dan redaksinya dipegang oleh Tjhie Siang Ling. Setelah itu, koran ini dibeli oleh Boedi Oetomo Cabang Surakarta dengan modal f.50.000.

Pewarta Borneo muncul di Banjarmasin pada Juli 1908.

1909
Boemipoetera adalah mingguan yang lahir tanggal 17 Juli 1909 di Jakarta.

Tjahaja Gorontalo terbit pada Oktober 1909 oleh Gorontalo Drukkerij dipimpin oleh Jo Im Ann. Koran ini terbit mingguan.

1910
Pewarta Deli adalah surat kabar nasional pertama di Medan. Direkturnya Hadji Mohd. Thahir, sementara pemimpin redaksinya adalah Dja Endar Mod.

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2008 tidak hanya milik insan pers. Ratusan siswa sekolah dasar di Kota Solo ikut memeriahkan HPN dengan membuat kliping koran tentang berbagai peristiwa di Bale Kambang, Solo, Jawa Tengah (9/2/2008). Kegiatan ini diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran bagi siswa sekolah bahwa surat kabar merupakan sumber pengetahuan. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

1911
Oetoesoan Melayu dipimpin oleh Sutan Maharadja dan tercatat sebagai media pers umum daerah tertua di Minangkabau. Isinya lebih banyak berbicara persoalan pembaharuan adat Minangkabau.

Al-Moenir
tampil pada 1 April 1911, jurnal ini berpandangan reformis dikelola oleh Haji Abdullah Ahmad.

1912
Warta Palembang terbit perdana pada 11 maret 1912 oleh perkumpulan Tjahaja Boedi. Surat kabar ini diasuh oleh Raden Nongtjik

Matahari Terbit terbit di Manado pada tanggal 10 Januari 1912. Dipimpin oleh S.T. Najoan.

Saroetomo adalah koran yang terkenal karena tulisan Marco Dikromo. Namun, adanya campur tangan pemerintah Belanda mendorong Marco mendirikan surat kabar sendiri bernama Doenia Bergerak.

De Express terbit pada tanggal 1 Maret 1912. Surat kabar ini lahir dari partai Indische Partij, serta mempunyai arti penting dalam perkembangan pers nasional. De Express banyak memuat tulisan Douwes Dekker. Meskipun berbahasa Belanda, isinya membawa pesan kesatuan dan perjuangan kemerdekaan.

1913
Majalah De Indier didirikan oleh Tjipto Mangunkusumo. Dateok Soetan Mahardja menjadi editor.

Soeara Melajoe adalah surat kabar yang muncul tanggal 4 April 1913.

Oetoesan Hindia lahir di Surabaya pada tanggal 26 Juli 1913. Diasuh oleh Tjokroaminoto, Sosrobroto, serta Tirtodanudjo. Selama tiga belas tahun koran ini isinya mencerminkan dunia pergerakan politik, ekonomi, dan perburuhan.

1914
Sumatera Tengah terbit di Padang, di bawah pimpinan Soetan Radjo Nan Gadang.

1916
Hindia Poetra
 didirikan oleh  R.M. Suwardi Suryaningrat.

Soeara Kemadjoean Kota Gedang terbit di Koto Gadang, dikelola oleh Vereningning Studiefonds Koto Gadang, semacam perkumpulan pengusaha dari Koto Gadang. Dipimpin oleh A.S. Machoedoem dan H.S. Pamenan.

Benih Merdeka terbit pada 20 November 1916. Direktur perusahaan tersebut adalah Tengkoe Radja Sabaroedin dan Pemred Moh. Samin. Topik-topik yang diangkat menyangkut kepentingan rakyat lapisan bawah.

1919
Minangkabau Bergerak di bawah pimpinan St. Said Ali.

Tapian Na Oeli terbit 2 kali seminggu di Tapanuli Selatan. Redakturnya adalah Achmad Amin. Bahasa media tersebut menggunakan Bahasa Indonesia dan sebagian Bahasa Batak.

Sinar Mardeka didikan oleh Parada Harahap, terbit di Padang Sidempuan. Terbit seminggu sekali dan berbahasa Indonesia.

1920
Ma’loemat terbit dibawah pimpinan H.S.S. Parpatieh.

1924
Indonesia Merdeka merupakan majalah yang diterbitkan oleh para mahasiswa di Nederland. Majalah ini untuk pertama kalinya menggunakan kata Indonesia dalam kata pengantar nomor pertamanya. Majalah ini terbit dalam dua Bahasa. Redaksi dipegang oleh Perhimpunan Indonesia (PI).

1926
Lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI) menambah jumlah surat kabar partai. Pada akhir 1926 tercatat lebih dari 20 penerbitan PKI tersebar di sejumlah wilayah di antaranya di Semarang (Sinar Hindia, Soeara Ra’jat, Si Tetap, Barisan Moeda), Surabaya (Proletar), Yogyakarta (Kromo Mardiko), Bandung (Matahari, Mataram, Soerapati, Titar), dan Batavia (Kijahi-Djahoer, Nyata).

1942
Memasuki pendudukan militer Jepang  semua media pers ada di bawah pengawasan pemerintahan militer dan dipergunakan sebagai alat propaganda perang melawan sekutu. Tercatat ada delapan surat kabar berbahasa Indonesia, yaitu di Jakarta (Asia raya, Pembangoenan, Kung Yung Pao), Bandung (Tjahaja), Yogyakarta (Sinar Matahari), Semarang (Sinar Baroe), Surabaya (Pewarta Perniagaan, Soeara Sia).

1946
Republik terbit pada tanggal 17 Agustus 1946 dipimpin oleh Zafry Zamzam di  Kalimantan Selatan. Majalah ini terbit dalam rangka memperjuangkan Kalimantan Selatan bersatu dalam wilayah negara RI dan menentang tegas separatisme Belanda.

Kalimantan Berjoang (Ka-Be) terbit tanggal 1 Oktober 1946 di Kota Kandangan. Lahir untuk mengimbangi surat kabar milik pemerintah Belanda, Suara Kalimantan. Pemimpin umumnya adalah A. Jabar dengan pemimpin redaksi Adonis Samad.

Terompet Rakjat, harian stensilan yang terbit pada tanggal 2 Desember 1946 dipimpin Amran Ambrie dan Ys. Antemas. Harian ini dipindahkan ke Alabio karena mengalami kesukaran teknis di Amuntai.

Referensi

Buku
  • Adam, Ahmat. (2003). Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan 1855-1913. Pustaka Utan Kayu: Jakarta.
  • Adam, Ahmat. (2012). Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat 1900-1941. Penerbit Universit Malaya: Kuala Lumpur.
  • Naldi, Hendra. (2008). “Booming” Surat Kabar di Sumatra’s Westkust. Penerbit Ombak: Yogyakarta.
  • Said, H. Mohammad. (1976). Sejarah Pers di Sumatera Utara: dengan Masyarakat yang Dicerminkannya (1885-Maret 1942). Waspada: Medan.
  • ——————. (2007). Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa. I:Boekoe: Yogyakarta.
  • —————–. (2002). Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Penerbit Buku Kompas: Jakarta.

Penulis
Arief Nurrachman
Editor
SUSANTI AGUSTINA SIMANJUNTAK

error: Content is protected !!