Kronologi | Hari Guru

Dedikasi Guru Untuk Negeri

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah satu-satunya kebanggaan yang dirasakan oleh seorang guru. Kepuasan dan kebahagiaan yang hakiki seorang guru apabila bisa ikut andil dalam mencerdaskan dan memberikan pendidikan yang baik bagi anak didiknya demi kemajuan pendidikan di Tanah Air.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Guru Inggin Sugiarsih mengajar siswa kelas I SD Negeri Cipadu 03, Kota Tangerang, Banten, di rumah salah seorang siswa di Pondok Aren, Tangerang Selatan, 1 September 2020. Kunjungan guru ke rumah siswa di tengah pandemi Covid-19 itu dilakukan setelah orangtua siswa mengeluhkan keterbatasan kuota internet.

Wajah sebuah bangsa sering kali ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Indonesia menyadari pentingnya pendidikan sehingga dalam konstitusi pun ditegaskan, setiap orang berhak mengembangkan diri lewat pemenuhan kebutuhan dasarnya, mendapat pendidikan, serta memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan. (Tajuk Rercana: “Saatnya Peduli Kualitas Pendidikan”, Kompas, 2 April 2020).

Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan dengan adanya sosok guru. Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada anak didik. Proses belajar mengajar di sini meliputi penyampaian ilmu pengetahuan yang dikuasainya, termasuk juga pendidikan karakter dan budi pekerti bagi setiap anak didik.

Tentu tugas ini bukan perkara yang mudah, melihat tingkat kecerdasan dan pemahaman masing-masing anak didik berbeda-beda. Selain itu, seorang guru dituntut untuk menguasai teknologi dan cakap dalam mengikuti perkembangan teknologi yang belakangan ini berkembang begitu pesat. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari setiap guru untuk dapat menyampaikan materi pelajaran agar dapat dipahami dengan mudah oleh anak didik. Terlebih lagi, pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda melanda negeri ini.

Pada saat anak didik tidak dapat belajar di sekolah, guru harus lebih bekerja keras lagi agar dapat memastikan anak didik tetap dapat belajar di rumah dengan baik melalui pembelajaran jarak jauh. Penyampaian materi pelajaran secara daring menuntut kreativitas guru agar efektivitas belajar mengajar terjaga dengan baik.

Berbagai tuntutan dan tanggung jawab agar turut andil dalam proses pembangunan dan kemajuan pendidikan Indonesia tersebut perlu diimbangi dengan adanya perhatian khusus dari Pemerintah terhadap profesi guru.  Bagaimanapun, sebagai sebuah profesi, guru juga membutuhkan imbalan atau penghasilan untuk kelangsungan hidupnya. Akan tetapi, kesejahteraan guru yang seharusnya bisa didapat oleh seorang guru belum sepenuhnya terpenuhi. Terlebih lagi saat ini Indonesia masih kekurangan guru.

Guru honorerlah yang menjadi tumpuan untuk mengatasi kekurangan ini. Hal ini menjadi problematika tersendiri di saat guru, termasuk guru honorer, dituntut akan profesionalismenya sebagai pengajar dan pendidik. Namun, di sisi lain pemerintah juga abai terhadap kesejahteraan guru. Total ada 34.954 guru honorer yang lolos seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK dalam perekrutan Februari 2019. Hampir dua tahun menanti kepastian, pemerintah belum juga menetapkan mereka sebagai PPPK. (Nasib 34.954 Guru Honorer Belum Jelas, Kompas, 24 November 2020 halaman 5).

Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Setiap tahun momentum ini dijadikan refleksi dan pengingat bahwa profesi guru dengan segala problematikanya harus menjadi perhatian khusus oleh pemerintah dan dicari solusi penyelesaiannya. Guru sebagai pendidik yang bertanggung jawab mencerdaskan anak bangsa harus menjaga amanat besar dalam menentukan masa depan bangsa ini.

Berikut beberapa catatan dedikasi guru yang berhasil dirangkum berdasar arsip Kompas:

  • Jiji Suhaiji

(Pendiri SMK Patriot Mandiri)

Konflik Poso membuat guru sebuah SMK di Poso ini memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Sukabumi Jawa Barat. Di Sukabumi, Jiji menemukan banyak sekali anak-anak putus sekolah, terutama anak-anak yang kurang pintar dan berasal dari keluarga tidak mampu. Berangkat dari keprihatinan itu, Jiji bersama kerabatnya berinisiatif mendirikan SMK yang ia namai SMK Patriot Mandiri di Desa Cimanggu, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi dengan menghibahkan tanah warisan ke Yayasan Sudarma Patriot Mandiri selaku payung SMK Patriot Mandiri.

Sosok: Jiji Suhaiji – Pengabdian “Pengungsi” Poso (Kompas, 31 Oktober 2019 halaman 12)

  • M Khairul Ikhwan

(Pendiri SMK Ondak Jaya, Dusun Desa Dalem Utara, Desa Pringga Jurang, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur)

Ikhwan membangun SMK Ondak Jaya karena relatif sedikit keluarga miskin di Lombok Timur yang mendapat akses pendidikan. Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga petani, buruh tani, dan anak-anak tenaga kerja Indonesia. Ia ingin mendirikan SMK yang melahirkan lulusan hebat agar terserap pasar kerja dan membangun usaha mandiri.

Sosok: M Khairul Ikhwan – Sekolah bagi Anak TKI (Kompas, 30 Oktober 2019 halaman 12)

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Muhammad Khairul Ihwan

  • Agusta Tamala

(Guru honorer di Desa Yamalatu, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah)

Bermodalkan ijazah SMA, ia nekat menjadi guru bagi anak-anak korban konflik. Untuk mendapatkan buku, ia harus ke Masohi, ibu kota kabupaten, menempuh perjalanan dua hari karena harus menyeberang puluhan sungai. Pada 2012, Desa Yamalatu dikunjungi Bupati Maluku Tengah saat itu. Agusta menyampaikan kepada Bupati agar menugaskan seorang guru pegawai negeri sipil di SD Inpres Yamalatu. Guru didatangkan dan sekolah juga mulai diperbaiki. Setelah mengajar 14 tahun, Agusta dijanjikan akan dibayar Rp 200.000 per bulan.

Sosok: Agusta Tamala – Mengabdi Tanpa Gaji (Kompas, 18 Januari 2019 halaman 12)

  • Pudin

(Pelaksana Harian Kepala MTS Mathla’ul Anwar Sariak Layung di Desa Peucangpari, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten)

Pudin memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak putus sekolah di Desa Peucangpari. Minat orangtua di desa itu untuk menyekolahkan anaknya yang sangat rendah. Pudin mendirikan MTS Mathla’ul Anwar Sariak Layung dengan keterbatasan bangunan sekolah yang berada di daerah rawan longsor dan bangunan yang sudah tidak layak sebagai tempat belajar mengajar.

Sosok: Pudin – Peduli Anak Putus Sekolah (Kompas, 19 Oktober 2018 halaman 16)

  • Kadiyono

(Pendiri dan Guru SLB Insan Terang Bangsa)

Pada 2015, Kadiyono mendirikan SLB Insan Terang Bangsa karena anak-anak berkebutuhan khusus di perdesaan tidak mendapatkan akses pendidikan. Setiap hari, ia berkeliling desa untuk meyakinkan orangtua bahwa sekolahnya gratis dan dirinya siap menjemput juga mengantar pulang murid-muridnya. Selesai mengajar dan mengantar para murid, ia membuka bengkel tambal ban hingga tengah malam untuk menambah penghasilan.

Sosok: Kadiyono – Suluh Tukang Tambal (Kompas, 13 Agustus 2018 halaman 12)

  • Yulianti

(Pengajar sekaligus pendiri Sekolah Dreamable Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Hidayah di Dusun Cibisoro, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)

Yulianti mendirikan Sekolah Dreamable pada 2014 karena minimnya perhatian pada anak-anak luar biasa di sekitar Kabupaten Bandung. Ia mengajarkan siswa berinteraksi dengan lingkungan seperti rekreasi ke Kebun Binatang dan mengikuti lomba menggambar pada hari Peduli Autisme Sedunia di Bandung. Anak sulungnya, Hanif Nauval, adalah anak berkebutuhan khusus difabel grahita ringan. Setelah berhasil membuat Hanif menjadi anak yang mandiri, ia tergerak untuk berbagi pengalaman hidupnya kepada orangtua yang mengalami hal serupa dengan dirinya.

Sosok: Yulianti – Kasih Sayang untuk Difabel (Kompas, 3 Mei 2019 halaman 12)

KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Foto bersama – Yulianti (nomor tiga dari kiri) sedang foto bersama sebagian siswa anak berkebutuhan khusus seusai kegiatan belajar di Sekolah Dreamable Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Hidayah, Dusun Cibisoro, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/4/2019).

  • Ai Dewi

(Guru Madrasah Ibtidaiyah Masyarikul Huda di Kampung Cicakal Girang, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten)

Pada 1992, Ai mengajar tanpa digaji dan pernah selama 10 hari hanya makan daun singkong pemberian warga. Selain mengajar di tengah keterbatasan fasilitas, ia kerap menghadapi bahaya saat menyusuri hutan, seperti melewati pohon bambu yang baru ditebang hingga menceburkan diri ke Sungai Ciujung. Semua itu ia lakukan agar anak-anak usia sekolah di Kampung Cicakal Girang tak lagi berkawan dengan buta aksara.

Sosok: Ai Dewi – Pelita bagi Buta Aksara (Kompas, 19 April 2018 halaman 16)

  • Nurul Huda Maarif

(Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Lebak, Banten)

Nurul giat menulis buku untuk menanamkan toleransi. Selain itu, ia juga menggairahkan literasi di sela-sela menunaikan kewajiban untuk mendidik para santri. Berkat dedikasinya, ia mendapatkan penghargaan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Banten 2016 dan  menerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Banten (2017).

Pendidik Berprestasi: Berkhidmat di Jalur Profesi Guru… (Kompas, 15 Maret 2018 halaman 1)

  • M Miftakul Falah

(Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus, Jateng)

M Miftakul Falah bersama istrinya, Dyah Ahsina Fahriyati menggairahkan pembelajaran bagi siswa di sekolah dan sekitarnya. Melalui program Weekend Science Kids, mereka menggelar permainan sains secara bergantian di beberapa tempat secara gratis.

Pendidik Berprestasi: Berkhidmat di Jalur Profesi Guru… (Kompas, 18 Maret 2018 halaman 1)

  • Arif Darmadiansah

(Guru di NTT)

Arif memperkenalkan alat peraga pembelajaran dari perangkat telepon seluler. Lulusan Universitas Negeri Semarang ini memunculkan hologram di layar ponsel lalu disorotkan di depan kelas. Inovasi yang disebut discovery inquiry berbasis hologram itu membuat para siswa takjub, senang, dan betah belajar.

Pendidik Berprestasi: Berkhidmat di Jalur Profesi Guru… (Kompas, 18 Maret 2018 halaman 1)

  • Fanie Dipa Pawakaningsih

(Guru Sekolah Luar Biasa Negeri Semarang)

Fannie mendedikasikan separuh hidupnya untuk mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK). Ia rutin melatih artikulasi dan komunikasi siswa. Mayoritas siswa kesulitan karena mereka tunarungu dan tunawicara. Sebelum mengajar di SLBN Semarang, Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini merintis pendirian SMP khusus ABK di Purworejo, Jateng, bernama Tiara Bhakti.

Pendidik Berprestasi: Berkhidmat di Jalur Profesi Guru… (Kompas, 15 Maret 2018 halaman 1)

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO

Kadiyono setiap hari menjemput anak-anak difabel dengan sepeda motornya untuk belajar di sekolah yang ia dirikan.

  • Sahidin

(Pendiri SMP dan SMK Manba’el-Huda)

Pada 2001, ia mendirikan SMP Manba’el-Huda dengan biaya sendiri. Setahun kemudian, ia juga mendirikan SMK dengan nama yang serupa. Sekolah tersebut ia dirikan agar generasi muda bisa melanjutkan pendidikan, apa pun kondisinya. Ia juga tidak jarang membeli beragam keperluan siswa seperti seragam dan buku pelajaran. Di tengah keterbatasan, Sahidin ingin usahanya dikenal dan menjadi semangat banyak manusia Indonesia lainnya.

Sosok: Sahidin – Setia Cerdaskan Anak Bangsa (Kompas, 23 Agustus 2017 halaman 16)

  • Darta

(Guru Bahasa Indonesia dan Kepala Sekolah SDN 014 Anggana, Kutai Kartanegara Kaltim)

Pada 1994, Darta bersama istrinya bersedia ditempatkan di daerah terpencil yaitu Desa Tani Baru yang berjarak tiga jam dari Samarinda dengan naik perahu motor. Setahun berada di sana, ia sudah merasakan penderitaan seperti belum tersedianya listrik dan transportasi yang mahal. Pada 1997, ia merintis SMP Terbuka yang sepuluh tahun kemudian menjadi SMPN 4 Anggana. Atas kerja kerasnya, ia meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berdedikasi Daerah Khusus tingkat nasional tahun 2008.

Sosok: Darta – Guru Teladan dari Desa (Kompas, 8 Mei 2017 halaman 16)

  • Warkina

(Guru Honorer di SMPN 2 Suranenggala Kabupaten Cirebon, Jawa Barat)

Warkina membuka akses pendidikan bagi anak-anak hingga orangtua. Dengan menyewa sebuah rumah, ia membuka PAUD dan menerapkan sistem pembayarannya dengan sampah plastik rumah tangga agar setiap anak didik bertanggung jawab atas sampahnya. Bersama istri dan anaknya, Warkina berkeliling pasar malam dengan mobil Carry setiap tiga kali sepekan untuk menyuguhkan 300 buku aneka judul secara gratis bagi pengunjung. Saat di sekolah, ia membuat taman baca, mengajak siswa membaca 50 judul buku per semester, dan mendorong siswa menulis.

Sosok: Warkina – Pak Guru yang Ingin Terus Merdeka (Kompas, 4 Mei 2017 halaman 16)

  • Suhartatik

(Guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Creative School di Dusun Pucukan, Kabupaten Sidoarjo dan sukarelawan di bagian tata usaha SDN Gebang II)

Suhartatik adalah guru tunggal sekaligus pengelola PAUD di Dusun Pucukan. Ia juga memeriksa urusan administrasi SDN Gebang II dan membantu mengajar murid di sana. Ketika matahari terbenam, lulusan Universitas Terbuka Surabaya ini kembali bersiap untuk membimbing sekitar 27 murid yang tengah belajar membaca Al Quran dan ilmu agama.

Sosok: Suhartatik – Pelita di Pesisir Kota Delta (Kompas, 25 Agustus 2016 halaman 16)

  • Sarino

(Guru honorer di SDN Caringin Desa Nangela, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)

Pada awal menjadi guru, Sarino tidak menerima gaji. Ia menjadi kuli angkut gula merah dari Kampung Caringin menuju Kampung Cikupa pada hari minggu atau hari libur untuk mencukupi kebutuhannya dan membeli keperluan mengajar. Pada 2014, ia mendapat panggilan tes CPNS kategori 2. Ia termasuk satu dari sekitar 600 guru yang diangkat menjadi CPNS oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Sosok: Sarino – Guru Andalan Anak Kampung Caringin (Kompas, 26 November 2015 halaman 16)

  • Budiono

(Guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABC Putra Manunggal, Desa Patemon, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah)

Sebagai guru tunanetra, Budiono sering kali menjadi rujukan bagi guru lain soal pola pendekatan dan pembimbingan murid difabel. Lulusan UIN Sunan Kalijaga ini memilih metode pengajaran seperti ceramah, diskusi, dan melatih ketajaman pendengaran para murid dengan musik atau cerita yang diputar melalui komputer. Pada 2009, ia diangkat menjadi PNS dan aktif menyuarakan hak anak difabel yang tidak dipenuhi akibat kurangnya kepekaan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus.

Sosok: Budiono – Membimbing Tunanetra dalam Gulita (Kompas, 23 Juni 2014 halaman 16)

  • Ining Berg

(Kepala Sekolah SDN Pembakulan, Batang Alai Timur)

Ining berasal dari kalangan Suku Dayak Meratus yang bertekad menjadi guru karena ingin anak-anak di pedalaman bisa maju dan bangkit dari ketertinggalan. Ia harus proaktif mengubah paradigma masyarakat di pedalaman terhadap pendidikan, karena kebanyakan orangtua melarang anaknya bersekolah. Ining tak jarang harus menjemput murid-muridnya ke rumah masing-masing. Atas dedikasinya, Ining mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya atas pengabdian selama 30 tahun dari Presiden RI, 2013

Sosok: Ining Berg – Mendidik Anak-anak Pedalaman untuk Maju (Kompas, 10 Mei 2014 halaman 16)

  • Theresia Pantini

(Pendiri Taman Kanak-kanak Kuncup Melati Putih di Palangkaraya, Kalimantan Tengah)

Theresia mendirikan TK Kuncup Melati Putih karena prihatin melihat anak-anak tidak bersekolah karena terkendala biaya. Atas keprihatinan itu, ia tak memungut biaya masuk, biaya SPP yang dapat disesuaikan dengan kemampuan orangtua, serta menyediakan tiga setel seragam, buku, dan alat tulis kepada anak didiknya. Lewat TK, ia bisa merengkuh anak-anak yang merupakan kuncup harapan bangsa agar memperoleh kesempatan belajar yang sama.

Sosok: Theresia Pantini – Pendidik Kuncup Generasi Bangsa (Kompas, 15 Maret 2014 halaman 16)

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Theresia Pantini

  • Safrina Rovasita

(Guru Sekolah Luar Biasa Yapenas Yogyakarta)

Meskipun menderita “cerebral palsy” yang membuatnya berbicara tidak jelas dan gerak tubuh yang tidak dapat dikendalikan, Safrina justru bisa menjadi penulis yang produktif dan guru yang kreatif. Anak bungsu dari empat bersaudara ini membuktikan keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi. Ia meraih sejumlah penghargaan di bidang penulisan dan menjadikan menulis di telepon genggam atau laptop sebagai salah satu cara mengajar yang membuat anak-anak tunagrahita dan cerebral palsy bergairah belajar.

Sosok: Safrina Rovasita – Guru “Cerebral Palsy” yang Penuh Semangat (Kompas, 27 Desember 2013 halaman 16)

  • Alexander de Fretes

(Pendiri dan pemilik Yayasan Asuhan Kasih, Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Fretes berasal dari Kisar, Maluku dan pada tahun 1969, ia berhasil lulus dari sebuah sekolah guru pendidikan luar biasa di Bandung. Tahun 1984, ia membangun lembaga pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di NTT dengan dukungan dana Rp 100 juta dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ia telah membantu sekitar 7.000 ABK selama 27 tahun bekerja lewat lembaga Asuhan Kasih dan 45 persen diantaranya berhasil menjadi manusia mandiri.

Sosok: Alexander de Fretes – Mengabdi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Kompas, 30 Januari 2013 halaman 16)

  • Hariftallazzi

(Guru honorer SDN06 Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Bengkulu)

Hariftallazzi semula bekerja sebagai petani, namun melihat kondisi anak-anak di Dusun Air Putih terlantar karena kepindahan para guru di SDN 06 Pinang Belapis, ia menawarkan diri menjadi guru. Lima tahun pertama mengajar, ia hanya mendapat honor berupa padi dan dua kilogram beras pemberian orangtua murid. Walaupun kehidupannya relatif terbatas, suami dari Erdalena ini bahagia dan bangga jika anak didiknya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Sosok: Hariftallazzi – Demi Masa Depan Dusun Air Putih (Kompas, 2 Januari 2012 halaman 16)

  • Murniati

(Guru honorer di SDN 28 Kalukuang, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar)

Guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini menggalakkan penanaman bakau sekitar awal 2007 hingga sekarang kepada para siswa agar mereka mencintai lingkungan. Kegiatan tersebut dilakukan di luar jam belajar atau pada hari Minggu dan hari libur sekolah lainnya. Sejak gerakan ini dimulai, Murniati dan anak didiknya sudah menanam lebih dari 1000 batang pohon.

Sosok: Murniati – Merangkul Siswa, Memulihkan Hutan Mangrove (Kompas, 11 November 2011 halaman 16)

  • Sutiani

(Guru SDN Wonorejo IV, di Dusun Pusung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur)

Perempuan asal Pasuruan, Jawa Timur ini sejak masih remaja bercita-cita menjadi guru. Ia mengajar siswa hampir satu sekolahan, tepatnya siswa kelas I, V, dan VI. Tantangan terbesarnya bukan hanya mengajar di tiga kelas sekaligus, ia harus menaklukkan tiga bukit di perbukitan Pusung dengan berjalan kaki sekitar 3-4 kilometer. Selama persiapan ujian, Sutiani rela menginap di sekolah bersama para siswa untuk meningkatkan fokus belajar mereka.

Sosok: Sutiani, Pelita dari Bukit Pusung (Kompas, 26 Maret 2011 halaman 16)

  • Aloysius Abi

(Guru di SD Tuamolo di Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara)

Selama 32 tahun mengabdi, Abi sudah bekerja di 15 desa pedalaman. Tak hanya mengajar, ia juga terlibat dengan jumlah kegiatan desa, seperti membantu menyusun administrasi desa dan menggerakkan warga mengikuti sejumlah program pemerintah. Guru PNS golongan IVA ini bercerita bahwa ratusan anak didiknya telah berhasil lulus S-1, di antaranya ada yang menjadi dokter, camat, anggota DPRD dan guru SD.

Sosok: Aloysius Abi – Upaya bagi Warga Pedalaman NTT (Kompas, 7 Juli 2011 halaman 16)

  • Sumarmo

(Guru honorer dan salah satu pelopor di SDN 2 Balian Tongkang)

Sumarmo adalah guru honorer yang sudah mengabdi selama 16 tahun. Ia hanya berpendidikan SMA karena tak mampu menyelesaikan kuliah di Universitas Terbuka. Pada 2002-2005, ia mengajar siswa kelas I-VI SD karena empat guru honorer lain tak sanggup bertahan di daerah yang serba minim fasilitas tersebut. Ia juga berkebun untuk menambah penghasilan.

Pendidikan di Pedalaman: Pengabdian Guru Selamatkan Anak Bangsa (Kompas, 3 Februari 2014 halaman 14)

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

Sekolah di pedalaman banyak mengandalkan guru honorer. Meskipun kesejahteraan dan fasilitas mengajar minim, guru honorer tetap bersemangat melayani siswa di SDN 2 Balian Pemekaran, Desa Balian, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

  • Bambang Suminto

(Kepala Sekolah dan Dewan Pembina Suharjo Putra)

Bambang telanjur jatuh hati kepada anak berkebutuhan khusus. Mulai dari lemparan sepatu yang hampir mengenai kepala hingga pelukan sayang dari anak-anak itu biasa diterimanya. Bahkan, ketika sebagian orang “menyerah”, Bambang tetap menaruh senyum di wajahnya. Bambang juga dikenal sebagai pendamping perintisan SLB, terutama oleh para perintis SLB di daerah Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Selain merintis SLB Bakti Putra di Kecamatan Karangmojo, dia juga membidani lahirnya tiga sekolah luar biasa yang lain: SLB Suharjo Putra di Kecamatan Patuk, SLB Purworaharjo di Kecamatan Purwosari, dan SLB Krida Mulya di Kecamatan Rongkop.

Sosok: Bambang dan Perintisan SLB (Kompas, 11 Februari 2010 halaman 16)

  • Joris Lilimau

(Guru di SD Kecil Hoaulu, Seram Utara)

Joris Lilimau mengenalkan sekolah bagi suku Hoaulu, suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

45 Figur Inspiratif: Joris Lilimau, Pendidik Suku Hoaulu (1) (Kompas, 31 Mei 2010 halaman 16)

  • Sunta Atmaja

(Guru SDN Mulyasari I UPTD – TK, SD Kecamatan Ciampel, Karawang)

Sunta menekuni perbedaan arti antara bahasa Sunda dialek Karawang dan bahasa Sunda pada umumnya. Ia ingin agar bahasa Sunda dialek Karawang tetap ada tanpa harus berbenturan dengan bahasa Sunda pada umumnya yang diajarkan di sekolah. Ia pun menyusun kamus khusus bahasa Sunda, yaitu Kamus Basa Sunda Wewengkon Karawang.

Sosok: Sunta Atmaja Nilai Lokal yang Terlupakan (Kompas, 7 Oktober 2010 halaman 16)

  • Rudi Manggala Saputra

(SD Negeri Cikoneng)

Pengabdian selama 27 tahun sebagai guru SD tanpa gaji dari pemerintah tak pernah membuat Rudi Manggala Saputra ingin berhenti menjadi pendidik bagi anak-anak dari keluarga pemetik teh di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keinginannya hanyalah melihat anak-anak pemetik teh yang miskin di sejumlah desa terpencil itu bisa menikmati bangku sekolah sehingga ada harapan untuk perbaikan hidup di masa depan.

Sosok: Rudi MS, Guru Anak-anak Pemetik Teh (Kompas, 21 Januari 2009 halaman 16)

  • Joni

(Guru honorer di SDN 16 Gun Jemak, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau)

Di dusun yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong tersebut, Joni menjadi guru bersama Katarina, Kepala SDN 16 Gun Jemak. Mereka mengajar anak-anak Dayak di pedalaman itu. Belum ada jalan darat untuk menjangkau Gun Jemak, salah satu desa terujung di Kalbar yang berbatasan dengan negara bagian Sarawak. Satu-satunya transportasi adalah menyusuri Sungai Sekayam ke arah hulu dengan perahu motor.

Sosok: Joni, Guru di Tapal Batas Borneo (Kompas, 30 Januari 2009 halaman 16)

  • Joko Triyono

(Guru Kesenian di SMA Negeri Prembun)

Esensi nilai suatu permainan sejatinya tak perlu hilang, tetapi medianya bisa berubah. Prinsip itulah yang menjadi dasar pijakan bagi Joko Triyono dalam menciptakan program virtual gamelan di komputer yang menjadi media pembelajaran kesenian di SMA Negeri Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. “Medianya yang berubah, dari alat gamelan asli ke computer.

Sosok: Joko Triyono, Guru Pencipta Virtual Gamelan (Kompas, 21 Maret 2009 halaman 16)

KOMPAS/MADINA NUSRAT

Beberapa murid SMA Negeri Prembun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Selasa (10/3/2009), memainkan seni karawitan dengan menggunakan Virtual Gamelan ciptaan guru kesenian mereka, Joko Triyono. Lewat permainan Virtual Gamelan, para siswa yang sudah terbiasa bermain permainan virtual di komputer dapat mengenal kembali kesenian asli daerahnya.

  • Ciptono

(Guru dan Kepala Sekolah SLB Negeri Semarang)

Ciptono mengadakan Lomba Jalan Sehat Keluarga Pendidikan Luar Biasa yang diperuntukkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tujuannya untuk mencari bakat-bakat terpendam yang ada pada anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Sosok: Pencari Bakat Anak Berkebutuhan Khusus (Kompas, 9 Februari 2009 halaman 16)

  • I Putu Sudibawa

(Guru SMA 1 Sidemen, Karangasem, Bali)

Guru mata pelajaran Kimia ini berusaha membawa Kimia menjadi mata pelajaran favorit bagi para siswa. Kreativitasnya dalam mengajarkan pemahaman kimia dengan peralatan seadanya dari lingkungan sekitar sekolah membuat kimia disukai siswa. Ia melakukan penelitian berjudul “Integrasi Kegiatan Penenun Tradisional dalam Proses Pembelajaran Kimia”, yang  mengantarkannya menjadi juara pertama Sains Education Award (SEA) yang digelar Indonesia Toray Sains tahun 2006.

Sosok: Belajar Kimia Bersama Putu Sudibawa (Kompas, 2 Maret 2009 halaman 16)

  • Sukarlik

(Kepala SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya)

Ancaman dicopot dari jabatan sebagai kepala sekolah tak menyurutkan keyakinan Sukarlik membuka SD negeri yang dipimpinnya terbuka bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia yakin, membaurkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal di sekolah reguler justru membuat mereka belajar saling memahami dan mendukung.

Sosok: Sukarlik dan Anak Berkebutuhan Khusus (Kompas, 14 Maret 2009 halaman 16)

  • Upar Suparwan

(Guru SD Negeri Ciptagelar)

Menyendiri, jauh dari keramaian kota, merupakan pilihan yang diwariskan para leluhur Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul. Di tengah upaya mempertahankan eksistensi sebagai komunitas adat, masyarakat adat dihadapkan pada realitas mengenai pentingnya pendidikan. Bagi Upar Suparwan, yang merupakan satu-satunya warga adat yang menjadi guru di Ciptagelar, masyarakat adat sendirilah yang harus peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka.

Sosok: Upar Suparwan, Pendidikan Dasar di Ciptagelar (Kompas, 12 Agustus 2009 halaman 16)

  • Cecep Maman Suherman

(Perintis dan Pengasuh Yayasan PKBM Gajah Mada)

Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Gajah Mada Cirebon adalah lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Setiap tahun ajaran baru, lembaga ini menerima siswa dari berbagai kalangan untuk belajar membuat berbagai kerajinan, atau berwirausaha. Setidaknya ada 23 jenis keterampilan usaha yang diajarkan Cecep, mulai dari membuat kue hingga pengelasan.

Sosok: Cecep, Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya (Kompas, 4 Mei 2009 halaman 16)

KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM

Cecep Maman Suherman, penerima Upakarti 2008 Pemberdayaan Yatim Piatu dan Tunakarya.

  • Ade Suarsa

(Guru seni musik Sunda SMA Budi Mulia, Bogor; dalang)

Ade Suarsa bisa dikatakan masih menjadi satu-satunya dalang di Kota Bogor, Jawa Barat, yang punya latar belakang pendidikan formal. Dia tak hanya menjadikan pendidikan formalnya sebagai bekal untuk mengajar bidang seni musik Sunda. Lewat pengetahuan dan pengalamannya selama ini, ia juga membuat inovasi dengan menciptakan gambang katung atau karawitan awi tutung (dalam bahasa Sunda berarti bambu hangus).

Sosok: Ade, Membuat Gambang yang Fleksibel (Kompas, 18 Agustus 2009 halaman 16)

  • Amos Palu

(Guru dan Kepala Sekolah SMK Negeri Kelautan Miangas)

Pada siang hari Amos Palu menjadi guru merangkap Kepala Sekolah SMKN Kelautan Miangas. Ketika malam datang, dia menjadi penjaga di sekolah yang terletak di ujung Desa Miangas, kawasan ujung utara Indonesia ini. Bagi Amos, dengan segala keterbatasan yang ada, kehadirannya di tengah masyarakat Miangas adalah pelayanan hidupnya.

Sosok: Siang Jadi Guru, Malam Jaga Sekolah (Kompas, 22 Agustus 2009 halaman 16)

  • Nurul Karimah

(Ketua Yayasan Cendekia Mandiri)

Nurul mendirikan Komunitas Belajar Cendekia Mandiri. Setiap hari mereka menyelenggarakan kegiatan belajar bagi anak-anak yang tak lulus SD atau tak mampu merampungkan SMP di lereng Gunung Sumbing, Dusun Kemloko, Desa Kemloko, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Sosok: Nurul, Semangat untuk Anak-anak Gunung (Kompas, 27 Agustus 2009 halaman 16)

  • Yuwono dan Nurbaiti Eka Sari

(Pendiri Sekolah Alam Palembang)

Menurut Yuwono, sekolah alam adalah sekolah yang inklusif sebab kecerdasan tak sebatas kemampuan akademik. Sekolah di Indonesia umumnya bersifat eksklusif, mengutamakan kemampuan akademik. Sekolah seperti ini hanya cocok untuk anak pintar. Sekolah inklusif bisa menggali potensi anak. Sekolah alam mengutamakan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Murid dilatih tak takut mengungkapkan pendapat. Sebaliknya, di sekolah umum, murid umumnya tak punya kebebasan berekspresi dan dampaknya terbawa sampai dewasa.

Sosok: Yuwono dan Eka, Pendiri Sekolah Alam (Kompas, 14 September 2009 halaman 16)

  • Frederick Sitaung

(Guru sekaligus Kepala Sekolah SD Inpres Poepe, Merauke, Papua)

“Kitorang di sini butuh guru, bukan burung!” Demikian lelucon atau mop yang populer di masyarakat Merauke, Papua, untuk mengolok-olok guru yang sering kabur dari sekolah dan kelayapan ke bar atau klub malam yang menjamur di kota. Kisah guru yang kabur dan membiarkan murid tanpa guru adalah gambaran lumrah di pedalaman Merauke. Ketika guru lain memilih kabur, Frederick Sitaung tetap bertahan menjadi satu-satunya guru di Kampung Poepe, Desa Welputi, Kabupaten Merauke, Papua. Pernah didera kelaparan sepekan, nyaris dipanah orangtua murid, hingga gaji terlambat datang berbulan-bulan, tak membuatnya goyah.

Sosok: Frederick Sitaung, Guru Sejati di Papua (Kompas, 1 September 2007 halaman 16)

KOMPAS/AHMAD ARIF

Frederick Sitaung (35) menjadi satu-satunya guru di SD Inpres Poepe, Desa Welputi, Kabupaten Merauke, Papua. Selama 15 tahun mengajar anak-anak suku Malind, Frederick pernah nyaris dipanah dan pernah hanya makan daun-daunan selama dua minggu karena kehabisan bahan makanan.

  • Nur Fadilah

(Pendiri dan pendidik PKBM Hidayatul Mubtadiin)

Ketika mendengar Kota Kediri, Jawa Timur, menyatakan diri bebas buta aksara, Nur Fadilah merasa sedih. Terbayang di benaknya wajah-wajah warga di kampungnya, Desa Lebak Tumpang, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang belum mengenal aksara Latin dan angka, harus menelan kekecewaan karena tidak lagi diakui keberadaannya.

Sosok: Nur Fadilah, Pemberantas Buta Aksara (Kompas, 18 November 2009 halaman 16)

  • Maria Elizabeth Chitra Eka Dewi

(Guru SLB Negeri 3 Kalibayem, Yogyakarta)

Sebagai sesama tunarungu, Chitra memiliki totalitas dalam mengajar. Hal ini tecermin pada kritiknya terhadap penggunaan bahasa isyarat. Merujuk pengalamannya sebagai tunarungu sekaligus pendidik, ia prihatin dengan kondisi pengajaran anak tunarungu. Bahasa isyarat memang membantu mereka berbicara dengan sesama penyandang tunarungu. Namun, bagaimana dengan orang yang tidak menguasai bahasa isyarat? Menurut dia, mereka harus terus-menerus diajari berbicara agar tetap mampu berkomunikasi dengan siapa saja dan harus memiliki keterampilan sehingga bisa hidup mandiri.

Sosok: Chitra Dewi, Mengabdi dalam Kesunyian (Kompas, 26 Desember 2009 halaman 16)

  • Darminah

(Pendidik; Pendiri PKBM Shandyka)

Peluang karier menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah setelah mengabdi hampir 30 tahun sebagai guru SD dilepas Darminah. Mantan guru SD di Kecamatan Sombu Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ini memilih pensiun dini sebagai guru pegawai negeri sipil. Darminah pensiun dini lima tahun lebih awal sejak 2005 karena mendirikan dan mengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Shandyka. Niatnya satu, menjangkau warga miskin untuk maju dan mandiri lewat pendidikan di luar sekolah.

Sosok: Darminah, Pensiun Dini Demi Keaksaraan (Kompas, 26 September 2008 halaman 16)

  • Tugimin

(Kepala Sekolah SD Negeri 04 Kecamatan Lais, Bengkulu Utara)

Menjadi kepala sekolah di daerah rawan bencana, seperti Tugimin, harus selalu tegar meskipun sekolah roboh diguncang gempa. Bila larut dalam kesedihan, niscaya dia tak bisa mempertahankan semangat belajar siswa yang juga bersedih karena rumahnya roboh. Meskipun berusaha tegar, dari nada suaranya Tugimin tak mampu menutupi rasa sedihnya melihat Sekolah Dasar Negeri 04 Kecamatan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara, yang dipimpinnya, roboh akibat gempa berkekuatan 7,9 skala Richter, Rabu (12/9). Apalagi, sejak tahun 2000, bangunan sekolah tersebut sudah dua kali roboh akibat gempa.

Sosok: Tugimin, Memimpin Sekolah Rawan Gempa (Kompas, 28 September 2007 halaman 16)

  • Guarda Nona

(Guru honorer SD di Dusun Hepang, Kecamatan Doreng)

Dari sekitar 387 warga Dusun Hepang, pilihan komite sekolah jatuh kepada Guarda Nona yang hanya tamatan SMK Kewapante Maumere untuk menjadi guru anak mereka. Dusun Hepang terletak sekitar 35 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Guarda Nona pun dengan tekad bulat menerima amanat warga untuk mengajar anak-anak kelas I di dusun terpencil di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT. Guarda dipandang layak mendapat kepercayaan warga demi mengangkat warga Hepang dari ketertinggalan dan kebodohan.

Sosok: Guarda Nona, Jangan Ada Anak Putus Sekolah (Kompas, 5 Oktober 2007 halaman 16)

  • Haswa

(Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Raha, Sulawesi Tenggara)

Keprihatinan terhadap buta aksara, membuat Haswa dengan sukarela memperkenalkan aksara Latin dari pintu ke pintu. Itu dilakukannya sejak pria ini bertugas di SMP Negeri 6 Raha, ibu kota Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tahun 1997. Ia menyangsikan keakuratan data statistik yang menyebutkan penduduk buta huruf di Sultra tinggal 73.787 orang pada tahun 2006 dan di Kabupaten Muna tersisa 13.457 orang.

Sosok: Haswa Kenalkan Aksara dari Pintu ke Pintu (Kompas, 24 November 2007 halaman 16)

KOMPAS/YAMIN INDAS

Haswa bersama anggota karang taruna Soliwunto binaannya.

  • Mardhan-Hartati

(Pendidik; Pendiri SLB Mandara)

Keprihatinan pada nasib anak-anak berkebutuhan khusus yang tak mendapat layanan pendidikan, mendorong Mardhan mendalami pendidikan luar biasa. Dengan menyisihkan gaji dirinya dan istri sebagai pendidik, pasangan Mardhan-Hartati menjalankan satu-satunya sekolah luar biasa atau SLB di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sejak 1990. Pasangan ini memperjuangkan nasib anak-anak berkebutuhan khusus di Kendari agar mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Maka, puluhan anak yang semula disembunyikan keluarga perlahan dikirim belajar ke SLB Mandara, yang awalnya berada dalam Kampus Universitas Haluoleo, Kendari.

Sosok: Mardhan-Hartati, Merintis SLB di Kendari (Kompas, 2 Juni 2008 halaman 16)

  • Setiyana

(SMA Negeri 1 Bandongan, Magelang, Jawa Tengah)

Setiap tahun Setiyana berusaha merealisasikan impiannya dengan terus-menerus berinovasi dalam metode pembelajaran kimia. Harapannya, dengan cara itulah murid-murid mau dan menyukai pelajaran kimia. Semangat dan kegigihan Setiyana mewujudkan mimpi dibuktikan melalui prestasi yang dicetaknya tanpa henti. Ia meraih Juara I Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran, khusus untuk guru SMA. Ini gelar juara pertama yang untuk kelima kalinya dia raih dalam lomba serupa di tingkat nasional.

Sosok: Memelihara Mimpi untuk Berinovasi (Kompas, 19 Desember 2007 halaman 16)

  • Haji Asep Saefulloh Sholeh

(Pendidik, Ketua Yayasan As-Sholehiyah)

Lewat Yayasan As-Sholehiyah, Haji Asep Saefulloh Sholeh menyelenggarakan Pendidikan gratis dengan menampung 464 anak usia taman kanak-kanak (raudhatul atfal), sekolah dasar plus (madrasah ibtidaiyah), sekolah menengah pertama (madrasah tsanawiyah), dan sekolah menengah atas (madrasah aliyah) dari keluarga miskin.

Sosok: Pendidikan Gratis Model H Asep Saefulloh (Kompas, 23 Juni 2008 halaman 16)

  • Basyarudin Thayib

(Kepala Sekolah SMA Plus PGRI Cibinong)

Basyarudin Thayib bukan kepala sekolah biasa. Berkat kepemimpinannya, SMA Plus PGRI Cibinong yang terletak di tengah perkampungan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini berkembang menjadi sekolah yang menjanjikan. Mitos sekolah PGRI alias Persatuan Guru Republik Indonesia sebagai sekolah pinggiran telah dipatahkannya. Sekolah ini merupakan model sekolah rakyat yang mampu menjawab tantangan zaman. Dengan anggaran terbatas, sekolah ini dapat menerobos menjadi sekolah yang unggul dalam teknologi informasi.

Sosok: Ubah Mitos Sekolah Pinggiran (Kompas, 6 Oktober 2006 halaman 16)

  • Raja Dima Siregar

(Guru SD Dusun Sigoring-goring)

Raja Dima Siregar hanya petani dari desa. Namun, bagi warga Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Barumun Tengah, Tapanuli Selatan, dia adalah pahlawan. Pahlawan, karena dia menjadi guru bagi anak-anak dusun dari kelas I hingga kelas VI hanya dengan bayaran 80 kaleng beras per tahun- satu kaleng beras setara dengan 16 kilogram. Selain itu, dia juga guru mengaji tanpa imbalan.

Sosok: Guru dengan Bayaran Seadanya (Kompas, 29 Juli 2005 halaman 16)

KOMPAS/AHMAD ARIF

Raja Dima Siregar (37), mengajar lima kelas di Sekolah Dasar Dusun Sigoring-goring, Kecamatan Binanga, Kabupaten Tapanuli Selatan, hanya mendapat bayaran 80 kaleng beras atau setara dengan 1.280 kg oleh para orang tua murid setahun sekali. Sekolah satu-satunya di dusun tersebut hanya memiliki satu ruang kelas sehingga seluruh siswa mulai dari kelas satu hingga kelas enam bercampur, dan gurunya juga hanya seorang diri. Sementara, murid-murid harus belajar dengan menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C, terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan.

  • Oktovianus Natboho

(Guru SLTPN II Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Persoalan rendahnya prestasi siswa di sekolah mendorong guru Pendidikan Kewarganegaraan Nasional ini mencari terobosan guna meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah. Metode itu adalah pengetahuan kooperatif (cooperative learning) tipe jigsaw (potongan pembelajaran) yang menekankan pada kreativitas, inovasi, dan variasi belajar siswa. Pola yang dipakainya itu membawa Natboho sebagai Guru Teladan Tingkat Nasional kategori penerapan sistem pembelajaran efektif di sekolah tahun 2006.

Sosok: Natboho, Pembelajaran Guru (Kompas, 26 Januari 2007 halaman 16)

  • Indi Sahindi

(Guru SLB B II YP3ATR Bandung, Jawa Barat)

Indi sudah menghabiskan hampir separuh usianya untuk menjadi guru dan ahli terapi bicara bagi anak-anak tunarungu. Indi akan merasa sangat senang jika murid-muridnya berhasil kuliah di perguruan tinggi atau mendapat pekerjaan meskipun jumlahnya tidak banyak. Pelajaran berharga yang didapatnya adalah mengajar dengan sabar dan baginya menjadi guru sekolah luar biasa adalah suatu anugerah.

Sosok: Indi, Bangga Jadi Guru Tunarungu (Kompas, 9 Maret 2006 halaman 16)

  • Saur Marlina Manurung

(Pengajar Rumah Sokola)

Perempuan yang biasa dipanggil Butet ini menerapkan pola pendidikan alternatif bagi Suku Anak Dalam atau Orang Kubu di dalam kelebatan hutan Makekal Hulu di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Provinsi Jambi. Bagi Orang Kubu yang lebih suka disebut Orang Rimba, sekolah di luar sana itu berarti melanggar adat. Butet harus bekerja keras dulu untuk mengembangkan pendidikan alternatif tersebut agar tidak dianggap melanggar adat.

Ibu Guru Anak-anak Rimba * Box (Kompas, 14 September 2002 halaman 12)

  • Wanhar Umar

(Kepala Sekolah dan guru SD Muhammadiyah 2/74, Desa Talanglangsatan, Bandinganyar, Muaraenim, Sumatera Selatan)

Wanhar Umar bukan manusia super, tetapi dia sanggup mengajar enam kelas seorang diri. Dia menjadi satu-satunya tenaga sekolah itu. Dia yang menjabat kepala sekolah, dia yang menjadi pegawai administrasi dan dia juga yang menjadi guru, 62 orang murid kelas satu sampai kelas enam.

Wanhar Umar: Saya Akan Beli Seng buat Atap Sekolah * Box (Kompas, 11 Desember 2000 halaman 12)

  • FX Kadam Mangkoeatmadja

(Guru Agama Katolik SMA Negeri 4 dan SMK Mardisiswa Semarang)

Kadam sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Tetapi, jalan hidup akhirnya membawanya ke profesi yang secara pendidikan formal tidak pernah dijalaninya. Bahkan, sampai di usia uzur saat ini, ia harus menjalani pekerjaan yang menjadi satu-satunya keahliannya, yakni mengajar yang sudah dijalaninya selama 56 tahun lebih.

Mbah Kadam, Kesetiaan Seorang Guru * Box (Kompas, 26 November 2004 halaman 12)

KOMPAS/TRI AGUNG KRISTANTO

FX Kadam Mangkoeatmadja, guru berusia 91 tahun lebih.

Sumber: Arsip Kompas

Penulis: Khusniani/Muhammad Rofiq

Riset foto: AAN/Rofiq

Editor: Dwi Rustiono

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Daftarkan email Anda dan ikuti kronologi peristiwa terkini secara lengkap di Kompaspedia.

close