Tokoh

Pratikno

Pratikno adalah seorang akademisi dengan latar belakang pendidikan ilmu politik dan pemerintahan. Mantan rektor Universitas Gadjah Mada ini dipercaya menjadi Menteri Sekretaris Negara selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc

Lahir
Bojonegoro, 13 Februari 1962

Almamater
Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Jabatan Terkini
Menteri Sekretaris Negara 2019–2024

Pratikno merupakan profesor bidang Ilmu Politik di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM. Ia ahli dalam bidang politik lokal dan desentralisasi, politik keuangan negara, dan kebijakan publik dan birokrasi. Ia menjadi sosok penting dalam pemerintahan Joko Widodo setelah ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) yang bertanggung jawab membantu Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Sosoknya mulai dikenal masyarakat, ketika Pratikno dipercaya oleh KPU sebagai salah satu pemandu debat Capres tahun 2009. Sebagai Dekan FISIP UGM, ia mendapatkan kesempatan sebagai moderator dalam Debat Capres yang bertopik “NKRI, Demokrasi, dan Otonomi Daerah”. Selain itu, Pratikno juga ditunjuk menjadi tim seleksi anggota KPU dan Bawaslu. Ia kemudian terpilih menjadi rektor ke-14 Universitas Gadjah Mada dengan masa jabatan 2012–2017.

Pada tahun 2014, ia dipercaya menjadi anggota tim sinkronisasi Tim Transisi Jokowi-Jusuf kalla. Ia bertugas menyatukan semua usulan kelompok kerja Tim Transisi dan menetapkan langkah prioritas pelaksanaannya sebagai masukan kepada presiden terpilih.

Sebagai anggota Tim Transisi, Pratikno memiliki kedekatan dengan Jokowi yang masih satu almamater di UGM. Kedekatan itu akhirnya membawa Pratikno menjadi Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Kerja 2014–2019. Pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, Pratikno kembali dipercaya menjabat Mensesneg dalam Kabinet Indonesia Maju 2019–2024.

Keluarga sederhana

Pria kelahiran Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro pada 13 Februari 1962 ini berasal dari keluarga sederhana. Pratikno merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dari pasangan Kariman dan Kasminah yang berprofesi sebagai guru SDN di Dolokgede. Sang Ayah pernah menjabat Kepala Desa dan Kepala Sekolah SD di kampung halamannya.

Pratikno kecil menamatkan pendidikan dasarnya di kampung halamannya yang dikelilingi hutan jati dan perkebunan tembakau yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari pusat kota Kabupaten Bojonegoro. Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan ke SMP 1 Padangan yang berjarak 20 kilometer dari kampungnya. Orangtuanya mengizinkannya indekos dekat sekolahnya demi melanjutkan pendidikan dan belajar hidup mandiri.

Setelah lulus SMP, ia melanjutkan SMAN 2 di Kota Bojonegero, Jawa Timur yang jaraknya sekitar 40 km dari rumahnya. Setelah tiga tahun mengecap bangku SMA, Pratikno muda melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada 1980. Alasan memilih jurusan tersebut karena ia bercita-cita ingin menjadi Sekretaris Daerah, dia pun sempat berkeinginan menjadi Camat karena sosok camat di desanya sangat dihormati.

Semasa kuliah di UGM, Pratikno hidup serba pas-pasan dan pernah merasa minder dengan status sosialnya. Namun, ia berhasil melewatinya dengan meraih prestasi sebagai mahasiswa terbaik saat memasuki semester III di Jurusan Ilmu Pemerintahan. Pratikno juga aktif dalam kelompok diskusi dan sering memenangi lomba riset mahasiswa. Tak hanya itu, ia juga rajin menulis dan mengirimkannya ke beberapa media cetak dan mendapat honor tulisan yang ia gunakan membantu membiayai kuliahnya.

Setelah menyandang gelar sarjana tahun 1985, saat usianya 23 tahun, dia diterima menjadi dosen di almamaternya. Profesinya sebagai pengajar mengharuskan dia mengambil gelar master dan doktor di luar negeri.

Ia menyandang gelar master administrasi pembangunan (M.Soc.Sc) pada tahun 1991 setelah mengambil jurusan Development Administration di University of Birmingham, Inggris. Pratikno kemudian terbang ke Australia guna melanjutkan pendidikan doktor di negara tersebut. Pratikno mengambil program doktoral di Flinders University of South Australia jurusan Asian Studies dan gelar doktor diraihnya pada tahun 1997.

Pada 21 Desember 2009, Pratikno dikukuhkan sebagai Guru Besar FISIP UGM. Dalam pengukuhannya, ia menyampaikan pidatonya yang berjudul “Rekonsiliasi Reformasi Indonesia: Kontribusi Studi Politik dan Pemerintahan dalam Menopang Demokrasi dan Pemerintahan Efektif”.

Pratikno menikahi Siti Faridah dan dikaruniai tiga orang putri. Putri pertama mereka bernama Anisa Firdia Hanum lahir tahun 1992, sudah menikah dan memiliki satu anak. Putri kedua pasangan ini lahir tahun 1995 bernama Hilda Mutia Hanum yang berprofesi sebagai dokter gigi. Sedangkan putri bungsu mereka lahir tahun 1997 dan diberi nama Gita Nadia Hanum.

Kompas/Wawan H Prabowo

Menteri Sekretaris Negara Pratikno

Karier

Pratikno memulai kariernya sebagai dosen di FISIP UGM setelah ia meraih gelar sarjana di Jurusan Ilmu Pemerintahan.

Selain menjadi dosen, di awal tahun 1990-an, Pratikno dan rekan-rekan akademisnya mendirikan kelompok sinau bareng (belajar bersama) di desanya. Tujuannya untuk memotivasi penduduk di desanya, agar dapat ikut membangun di segala bidang. Untuk mendukung itu, Pratikno pun mendirikan lembaga swadaya masyarakat yang bernama Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Indonesia.

LSM itu bertujuan memajukan bangsa dengan cara menyelesaikan masalah sosial yang paling krusial di desa, yaitu rendahnya kualitas demokrasi, tingginya kemiskinan, dan ketimpangan sosial, melalui proses sinau bareng untuk menciptakan inovasi sosial dari para stakeholder strategis yaitu lembaga pemerintah, bisnis, dan masyarakat. Lembaga itu membantu lembaga pemerintah, bisnis, dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosial di desa dengan inovasi.

Karier akademisnya dimulai meroket saat ia dipercaya sebagai wakil dekan bidang akademik FISIP UGM periode 2001–2004. Kemudian pada tahun 2003, Pratikno ditunjuk sebagai Direktur dan pengajar di Program Pascasarjana Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi. Saat masa jabatannya berakhir di 2008, ia diangkat menjadi Dekan FISIP UGM hingga 2012.

Selama menjadi pengajar di UGM, Pratikno juga aktif di berbagai organisasi profesional di antaranya, Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia, dan Asian Consortium for Political Research (ACPR). Pada tahun 2010, ia aktif sebagai panelis dalam beberapa kegiatan akademik seperti International Research Workshop and Ph.D. Course on “Transformative Politics” in University of Oslo, Norwegia dan the 6th EuroSEAS (The European Association for South‐ East Asian Studies) Conference “Indonesian Democracy in Comparative Perspective”, the School of Global Studies, University of Gothenburg, Swedia.

Sosok Pratikno mulai dikenal masyarakat Indonesia secara luas, ketika ia dipercaya oleh KPU sebagai salah satu pemandu debat Calon Presiden pada 2009. Sebagai Dekan FISIP UGM, ia mendapatkan kesempatan sebagai moderator dalam debat capres terakhir yang bertopik “NKRI, Demokrasi, dan Otonomi Daerah”. Tak hanya itu, Pratikno juga ditunjuk menjadi tim seleksi anggota KPU dan Bawaslu.

Puncak karier akademis Pratikno adalah saat ia terpilih sebagai Rektor UGM masa bakti 2012–2017. Dalam proses putaran akhir pemilihan di Majelis Wali Amanat, Pratikno berhasil unggul dengan suara mayoritas. Dari 32 suara yang diperebutkan, Pratikno mendapatkan 26 suara, disusul oleh Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M. (5 suara) dan Prof. Dr. Techn. Danang Parikesit, M.Sc. (1 suara).

Setelah dinyatakan menang, Pratikno mengaku senang karena mendapatkan kepercayaan dari MWA yang telah memilihnya menjadi Rektor. Ia berjanji untuk mengawal proses demokratisasi dan menjadikan UGM menjadi rujukan bagi kemajuan bangsa, tempat merujuk segala bidang ilmu. Pratikno resmi dilantik menjadi Rektor UGM masa bakti 2012–2017 pada 28 Mei 2012 oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof. Dr. Sofian Effendi.

Baru dua tahun menjabat rektor atau tahun 2014, ia dipercaya menjadi anggota tim sinkronisasi Tim Transisi Jokowi-Jusuf kalla. Ia bersama Andrinof Chaniago dan Cornelis Lay, bertugas menyatukan semua usulan kelompok kerja Tim Transisi dan menetapkan langkah prioritas pelaksanaannya sebagai masukan kepada Presiden.

Sebagai anggota Tim Transisi, Pratikno memiliki kedekatan dengan Jokowi yang masih satu almamater di UGM. Kedekatan itu akhirnya membawa Pratikno menjadi Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Kerja 2014–2019. Setelah dilantik menjadi Mensesneg, Pratikno kemudian mengundurkan diri sebagai Rektor UGM pada Oktober 2014.

Posisi Pratikno sebagai Mensesneg pun membuat hubungan Jokowi dan Pratikno semakin dekat, Pratikno hampir selalu mendampingi Jokowi saat tengah menjalankan tugas. Pada tahun 2019, Pratikno kembali dipercaya untuk bekerja di bawah pemerintahan Jokowi. Ia kembali ditunjuk sebagai Mensesneg dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019–2024.

Daftar Penghargaan

  • Top Leader in IT Leadership kategori Institutions dari Majalah Itech (2017)
  • Best Ministry 2019 dari Obsession Media Grup (2019)
  • Bintang Mahaputera Adipradana (2020)

Penghargaan

Berkat kinerjanya yang mumpuni selama menjadi Mensesneg tahun 2014–2019, Praktikno mendapat anugerah Bintang Mahaputera Adipradana. Penghargaan itu tertuang dalam Keppres Nomor 118/TK/TH 2020 tanggal 6 November 2020 dan Penyerahan penghargaan dilakukan dalam acara Penganugerahan Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun 2020 di Istana Negara tanggal 11 November 2020.

Penghargaan itu melengkapi penghargaan sebelumnya yang didapat Mensesneg Pratikno. Tahun 2017, ia meraih penghargaan sebagai “Top Leader in IT Leadership” dalam kategori Institutions dari Majalah Itech di tahun 2017. Kemudian tahun 2019, ia pun mendapatkan penghargaan dari Obsession Media Group (OMG) untuk kategori “Best Ministry” dalam Obsession Award 2019 berkat inovasi yang dilakukannya dalam mengelola managemen kesekretariatan.

Kompas/Wawan H Prabowo

Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menyimak kata pengantar yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat membuka sidang kabinet paripurna tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020–2024 di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/1/2019).

UU Cipta Kerja

Kementerian Sekretariat Negara mempunyai tugas menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara untuk membantu Presiden dan Wakil Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Salah satu fungsinya adalah dukungan teknis, administrasi, dan analisis dalam penyiapan dan penyelesaian Rancangan Peraturan Perundang-Undangan.

Salah satu UU yang disiapkan kementerian tersebut adalah Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 2 November 2020. UU itu disusun dengan semangat untuk membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan dan memperbaiki penghidupan keluarga pekerja, serta memberi kesempatan besar bagi para pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) untuk memulai usaha atau bahkan mengembangkan usaha dengan melalui kemudahan perizinan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno mengaku adanya kekeliruan teknis pada naskah Undang-Undang tentang Cipta Kerja yang telah ditandatangani Presiden Jokowi. ”Hari ini kami menemukan kekeliruan teknis penulisan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Namun, kekeliruan tersebut bersifat teknis administratif sehingga tidak berpengaruh terhadap implementasi UU Cipta Kerja,” kata Pratikno (Kompas.id, 3/11/2020).

Meski demikian, Pratikno mengatakan kekeliruan teknis tersebut menjadi catatan dan masukan bagi pemerintah, khususnya Kemsetneg. Ia berjanji akan semakin menyempurnakan kendali kualitas terhadap RUU yang hendak diundangkan agar kesalahan teknis seperti di UU No. 11 tahun 2020 tidak terulang kembali.

Referensi

Arsip Kompas
  1. “Sosok dan Pemikiran: Pemekaran Daerah, Pilihan Rasional” (Kompas, 29 Sept 2007, halaman 5)
  2. “Menjadi moderator dalam debat capres cawapres 2009” (Kompas, 29 Mei 2009, halaman 3)
  3. “Memandu debat capres cawapres 2009” (Kompas, 3 Jul 2009, halaman 1)
  4. “Pengukuhan sebagai guru besar FISIP UGM” (Kompas Jogja, 23 Des 2009, halaman 10)
  5. “Bakal calon rektor UGM” (Kompas, 13 Maret 2012)
  6. “Terpilih sebagai rektor UGM 2012-2017” (Kompas, 24 Mar 2012, hlm. 12)
  7. “Pelantikan pratikno sebagai rektor UGM” (Kompas, 29 Mei 2012, hlm. 12)
  8. “UGM dan Univ Hawaii kerja sama bidang manajemen penanggulangan bencana” (Kompas, 12 Jun 2013, hlm.12)
  9. “Menjadi tim pakar untuk debat capres-cawapres” (Kompas, 11 Jun 2014, hlm. 4)
  10. “Pengumuman pratikno terpilih sebagai Mensesneg” (Kompas, 27 Okt 2014, hlm. 15)
  11. “Surat pengunduran diri Pratikno sebagai rektor UGM” (Kompas, 1 Nov 2014, hlm. 2)
  12. “Mensesneg akan angkat staf khusus” (Kompas, 8 Jan 2015, hlm. 4)
  13. “Mensesneg mengaku tidak ikut terlibat dalam penyusunan PP No 26 tahun 2015 tentang kantor staf presiden” (Kompas, hlm. 4 Mar 2015, 3)
  14. “Pratikno diminta kembali menjadi mensesneg” (Kompas, 23 Okt 2019, hlm. 2)
Situs Web
  1. https://setkab.go.id/inilah-71-nama-penerima-bintang-mahaputera-dan-bintang-jasa/
  2. https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/23/214837065/infografik-profil-pratikno-menteri-sekretaris-negara
  3. https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/23/135851065/profil-pratikno-menteri-sekretaris-negara-kabinet-indonesia-maju
  4. https://nasional.kompas.com/read/2019/10/23/14194081/pratikno-profesor-yang-kembali-dipercaya-jadi-sekretaris-negara
  5. https://nasional.kompas.com/read/2014/10/27/10365001/Kisah.Pratikno.Anak.Desa.yang.Bikin.Jokowi.Kepincut?page=all
  6. https://nasional.kompas.com/read/2014/10/26/18181481/Pratikno.dari.Kampus.UGM.ke.Kursi.Mensesneg

Biodata

Nama

Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc

Lahir

Bojonegoro, 13 Februari 1962

Jabatan

Menteri Sekretaris Negara (2019-2024)

Pendidikan

  • Sarjana Strata 1, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta (1985)
  • Sarjana Strata 2, Development Administration, University of Birmingham, Inggris (1991)
  • Sarjana Strata 3, Political Science, Flinders University of South Australia (1997)

Karier

Nonpemerintahan

  • Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM (1986–2019)
  • Pendiri Ademos Indonesia (1990-an)
  • Wakil Dekan bidang akademik FISIP UGM (2001–2004)
  • Direktur dan pengajar di Program Pascasarjana Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi (2003–2008)
  • Dekan FISIP UGM (2008-2012)
  • Rektor Universitas Gadjah Mada (2012-2014)

Pemerintahan

  • Menteri Sekretaris Negara (2014-2019)
  • Menteri Sekretaris Negara (2019-2024)

Kiprah Organisasi

  • Asosiasi Ilmu Politik Indonesia
  • Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia
  • Asian Consortium for Political Research (ACPR)

Penghargaan

  • Top Leader in IT Leadership kategori Institutions dari Majalah Itech (2017)
  • Best Ministry 2019 dari Obsession Media Grup (2019)
  • Bintang Mahaputera Adipradana (2020)

Karya

Publikasi

  • “Indonesia 2004: the Paradox of Change” kolaborasi dengan I Ketut Putra Erawan, dalam the 2004 Asia Barometer Volume, the Institute of Oriental Cultural University of Tokyo
  • “Local Democracy and Governance in Indonesia” dalam Priyambudi Sulistyanto et al (2004, eds), Regionalism in Post Soeharto Indonesia, Routledge Curzon, London
  • “Citizen Participation in Surakarta Municipality, Indonesia” dalam Isabel Licha (2004, ed), Citizen in Charge: Managing Local Budgets in East Asia and Latin America, Inter-American Development Bank, Washington, DC.
  • “Problema Pelayanan Publik dan Peluang Menemukan Terobosan” kolaborasi dengan Ambar Widaningrum, dalam Hasrul Hanif & Ucu Martanto (2005, ed), Seri Pembaharuan Manajemen Pelayanan Publik: Terobosan dan Inovasi Manajemen Pelayanan Publik, FISIPOL UGM
  • Managing Relation between Central and Local Government in Decentralisation and Regional Autonomy: Decentralization, Democratisation, And Accountability of Local Government (2005)
  • Political Policy of “Pemekaran Daerah” in Blue Print of Regional Autonomy (2006)
  • Paradigm of Local Government: From Hierarchy Towards Networking in Managing Political Dynamcis and Local Government Networking: Partnership, Participation, and Public Service (2007)
  • Network Governance and the Crisis of Organizational Theory (2007)
  • Monograf Keistimewaan Yogyakarta (2008)
  • Political Parties in Direct Elections for Local Leader: Some Problems for Democratic Consolidation in Deepening Democracy in Indonesia: Direct Elections for Local Leader (2009)
  • From Populism to Democratic Polity: Problems and Challenges in Solo Indonesia (2013)

Artikel Kompas

Demokratisasi dan Debirokratisasi dalam UU No. 5/1979 * Catatan Tambahan untuk Joko Sumpeno dan Djajusman   (263 bytes; 19037386 – IXB – )
PADA tanggal 22 Agustus yang lalu, harian ini memuat sebuah artikel menarik dari Joko Sumpeno dan Djajusman, berjudul Kemandirian Desa dan UU No. 5/1979. Dalam tulisan tersebut kedua penulis mengungkapkan, betapa UU No. 5/1979 yang memaksakan penyeragaman
KOMPAS(None) – Rabu, 14 Sep 1988   hlm: 004   (PRATIKNO) 

Keluarga

Istri

Siti Faridah

Anak

  • Anisa Firdia Hanum
  • Hilda Mutia Hanum
  • Gita Nadia Hanum

Sumber
Litbang Kompas

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Daftarkan email Anda sekarang untuk mendapatkan informasi terkini tentang tokoh ternama.

close