Daerah

Kota Serang: Pusat Peradaban Banten di Masa Lalu

Tak hanya terkenal sebagai Kota Santri, Kota Serang dikenal pula sebagai pusat peradaban Kerajaan Banten di masa lalu. Kota Serang juga strategis karena menjadi jalur utama penghubung lintas Jawa-Sumatera.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Masjid Agung Banten di Desa Kaseman, Kecamatan Kaseman, Serang, Banten, Jumat (15/8/2008) didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin dan putranya, Sultan Maulana Yusuf, pada tahun 1566. Salah satu masjid tertua di Indonesia tersebut menjadi penanda Kota Serang. Kehidupan warga di Serang lekat dengan suasana yang religius.

Fakta Singkat

Hari Jadi
10 Agustus 2007

Dasar Hukum
Undang-Undang No. 32/2007

Luas Wilayah
266,74 km2

Jumlah Penduduk
692.101 jiwa (2020)

Pasangan Kepala Daerah
Walikota H. Syafruddin

Wakil Walikota Subadri Ushuludin

Kota Serang terletak di ujung Pulau Jawa bagian barat. Tak hanya sebagai pusat pemerintahan Provinsi Banten, Kota Serang sekaligus menjadi penyangga ibu kota negara karena hanya berjarak 70 kilometer dari DKI Jakarta.

Sebelum menjadi daerah otonom, Kota Serang merupakan bagian dari Kabupaten Serang. Pembentukan Kota Serang sendiri tak lepas dari amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten. Hal ini lalu dipertegas oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang yang disahkan pada tanggal 10 Agustus 2007. Tanggal pengesahan ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Serang berdasarkan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2008.

Kota seluas 266,74 kilometer ini secara administratif memiliki enam kecamatan dan 67 kelurahan. Pemerintahan Kota Serang saat ini dipimpin oleh Walikota H Syafruddin dan Wakil Walikota Subadri Ushuludin.

Kota yang dihuni oleh 692.101 jiwa ini dikenal pula sebagai Kota Santri. Bermacam tradisi religius warga sudah dilakukan sejak masa leluhurnya. Lambang Kota Serang, yakni perisai segi enam, menunjukkan rukun iman dan kereligiusan masyarakatnya berlandaskan agama.

Kota ini memiliki semboyan “Kota Serang Madani”. Dengan semboyan itu, Pemerintah Kota Serang berharap bisa mewujudkan pemerintahan yang bersih, adil, bertanggung jawab, agung, dan berwibawa, sehingga dapat menciptakan masyarakat kota yang sejahtera di segala bidang kehidupan.

Sejarah Pembentukan

Perjalanan sejarah Kota Serang tak bisa dilepaskan dari lintasan sejarah Kabupaten Serang dan dinamika sejarah wilayah Banten sejak masa Kerajaan Hindu, Kesultanan Banten, kolonial Belanda, hingga zaman kemerdekaan.

Armando Cortesao dalam bukunya “The Suma Oriental of Pires”, memaparkan bahwa nama Banten pertama kali muncul dalam laporan  perjalanan Tome Pires seorang Portugis yang menjabat sebagai inspektur pajak di Malaka yang ikut dalam ekspedisi ke Jawa pada tahun 1513.

Disebutkan bahwa Banten adalah sebuah kota pelabuhan yang ramai dan berada di kawasan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome Pires ini dapat dijadikan petunjuk bahwa Bandar Banten sudah berperan sebelum berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1526, atau pada masa Kerajaan Sunda. Bisa diduga bahwa Banten telah berdiri sekurang- kurangnya pada pertengahan abad kesepuluh atau bahkan abad ke-7.

Pada zaman Kerajaan Hindu, Serang menjadi bagian dari Kerajaan Padjadjaran dengan rajanya bernama Prabu Pucuk Umum atau disebut juga Ratu Ajar Domas. Pusat pemerintahannya adalah kadipaten yang terletak di Banten Girang, sekitar Sempu. Untuk zaman Kerajaan Hindu ini, tidak banyak artefak yang ditemukan.

Serang kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Banten. Kesultanan ini berdiri pada abad ke-16. Ibu kota pemerintahan berada di Banten Lama, tepatnya di Teluk Banten di pesisir pantai Laut Jawa.

Sultan Banten pertama adalah Maulana Hasanuddin yang diangkat pada tahun 1552. Maulana juga putra dari Sunan Gunung Jati. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Banten mengalami perkembangan pesat. Banten juga menjadi pusat perdagangan di barat Pulau Jawa.

Setelah Sultan Hasanuddin, raja-raja yang pernah memerintah, yakni Maulana Yusuf (1570-1585), Maulana Muhammad (1585-1596), Sultan Abdul Muafakir (1596-1651), dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683).

Pada masa Sultan Banten kedua Maulana Yusuf (1570-1580), kegiatan pengembangan area persawahan dilakukan dengan mendorong masyarakat Banten membuka daerah baru untuk persawahan. Pembukaan area persawahan tersebut disertai dengan pembuatan saluran irigasi dan bendungan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah yang baru dibuka tersebut.

Untuk persawahan yang dekat dengan ibukota Kesultanan, Maulana Yusuf membangun danau buatan yang dinamakan Tasik Ardi. Air danau Tasik Ardi berasal dari sungai Cibanten melalui saluran khusus ke danau, kemudian airnya dialirkan ke daerah-daerah persawahan di sekitar danau.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah kepemimpinannya, Banten melawan VOC yang ingin memonopoli perdagangan. Sayangnya, Sultan Ageng Tirtayasa gagal mengalahkan VOC karena dikhianati putranya Sultan Haji. Sultan Haji membantu VOC. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Kerajaan Banten pada 1683.

Kedatangan bangsa Barat saat itu awalnya hanya bertujuan untuk memperoleh barang komoditas ekspor yang laku di pasar dunia. Namun, akibat semangat imperialisme dan kolonialisme bangsa Belanda yang terlalu mendominasi menjadikan seluruh sendi kehidupan masyarakat Banten dikuasai Belanda.

Wilayah Kota Serang adalah bagian dari Kabupaten Serang yang dibangun setelah Gurbernur Jenderal HW Deandels (1808-1811) berkuasa di Hindia Belanda pada 1808. Pada saat itu, Keraton Surosowan sebagai pusat kota Kesultanan Banten dibumihanguskan dan ditetapkan sebagai kawasan prefek/landrosambt (daerah setingkat karesidenan). Kawasan ini terbagi menjadi tiga daerah setingkat kabupaten, yaitu Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer, yang seluruhnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Serang.

Hingga pada tahun 1817, Residen J De Bruijn WD, mulai melakukan penataan kota dan pembangunan gedung pemerintahan. Kemudian, pada 8 Oktober 1926, pusat Pemerintahan Kerajaan Banten di Banten Girang dipindahkan ke wilayah Banten Lama, yang saat ini berjarak 3 kilometer dari Kota Serang.

Kendati praktik kolonialisasi memberikan dampak yang cukup buruk bagi perkembangan Kesultanan Banten, namun mereka turut serta membawa beberapa implikasi yang mampu memberikan peradaban bagi Kota Serang hingga saat ini.

Kota Serang tergolong sebagai salah satu perkotaan kolonial. Pemerintah Belanda ketika itu membangun berbagai fasilitas kota yang cukup lengkap, seperti rumah tinggal, bangunan perkantoran, bangunan perdagangan (pasar), dan bangunan publik lain. Keberadaan beberapa bangunan tersebut telah memberi perubahan bagi Kota Serang yang cukup signifikan selama perjalanan sejarahnya.

KOMPAS/MULYAWAN KARIM

Kompleks Istana Surosowan, peninggalan paling penting di kompleks situs arkeologi Banten Lama, tempat bertakhtanya sultan Banten pada areal kira-kira empat hektar kini tinggal puing. Bangunan megah yang pernah berdiri di sana, cuma bisa dibayangkan lewat alur-alur batu fondasi yang masih tersisa. Sisa-sisa masa kejayaan Kesultanan Banten itu bisa ditemukan di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, sekitar 10 kilometer utara Kota Serang.

Dalam wilayah administrasi, seiring berjalannya waktu, Serang terbagi dalam dua wilayah administrasi yakni Kabupaten Serang dan Kota Serang. Kabupaten Serang sendiri, dibentuk sejak masa kekuasaan Kolonial Hindia Belanda, yang penetapan hari jadinya, didasarkan pada pendirian pemerintah Kerajaan Islam Banten pada 8 Oktober 1526.

Sementara Kota Serang sendiri, merupakan pemekaran dari Kabupaten Serang yang baru dibentuk pada tanggal 2 November 2007 dengan dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2007.

Ide pembentukan Kota Serang muncul lantaran luasnya wilayah serta besarnya jumlah penduduk di Provinsi Banten dan Kota Serang yang mengakibatkan pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat belum sepenuhnya terjangkau.

Kondisi demikian perlu diatasi dengan memperpendek rentang kendali pemerintahan melalui pembentukan daerah otonom baru sehingga pelayanan publik dapat ditingkatkan. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Kota telah melakukan kajian secara mendalam dan menyeluruh mengenai kelayakan pembentukan daerah dan berkesimpulan bahwa Pemerintah perlu membentuk Kota Serang.

Geografis

Kota Serang terletak antara 5o99’-6o22’ Lintang Selatan dan 106o25’ Bujur Timur. Kota Serang berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara serta dikelilingi oleh Kabupaten Serang di bagian timur, selatan, dan barat.

Kota Serang memiliki luas wilayah 266,74 kilometer persegi atau sekitar 3,08 persen dari luas wilayah Provinsi Banten. Sebagian besar wilayahnya terletak di dataran rendah berketinggian kurang dari 500 mdpl.

Kecamatan Kasemen merupakan kecamatan terluas yaitu sekitar 63,36 kilometer persegi atau sekitar 23,75 persen dari luas wilayah Kota Serang. Sementara kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Serang yang hanya sekitar 9,7 persen dari luas wilayah Kota Serang, atau sekitar 25,88 kilometer persegi.

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS

Beberapa pengunjung memancing di Danau Tasikardi di Kota Serang, Banten, awal September 2016. Danau itu merupakan sumber air bersih yang dipasok melalui tiga pengindelan atau penyaringan pada masa Kesultanan Banten. Tasikardi saat ini menjadi tujuan wisata.

Pemerintahan

Sejak resmi menjadi kota, untuk menjalankan roda pemerintahan sebelum diselenggarakan Pilkada, Asisten Daerah (Asda) I Pemprov Banten Asmudji HW terpilih sebagai Penjabat Walikota Serang. Asmudji HW terpilih setelah Depdagri menyaring tiga nama calon yang diajukan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Asmudji dilantik di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto pada  tanggal 2 November 2007.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 5 Desember 2008,  H Bunyamin dan Tubagus Haerul Jaman terpilih sebagai walikota dan wakil walikota yang akan menjabat periode 2008-2013. Namun demikian,  M Bunyamin meninggal dunia di tengah masa jabatan, tepatnya pada tahun 2011. Kepemimpinan di Kota Serang lalu dilanjutkan oleh Tubagus Haerul Jaman hingga akhir periode.

Tubagus Haerul Jaman kembali menjabat Walikota setelah terpilih dalam pemilihan walikota pada tahun 2013. Berpasangan Sulhi Choir, Tubagus memimpin Kota Serang selama 5 tahun (2013-2018). Kini, Kota Serang tengah dipimpin oleh Walikota Syafrudin Syafe’i bersama Wakil Walikota Subadri Ushuludin (2018-petahana).

Secara administratif, Kota Serang terdiri atas enam kecamatan, yakni Kecamatan Serang, Kaemen, Walantaka, Curug, Cipocok Jaya, dan Taktakan. Enam kecamatan tersebut terbagi atas 67 kelurahan.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Pemkot Serang didukung oleh 4.224 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan Golongan II 28 orang, Golongan III 127 orang, Golongan IV 709 orang, dan pejabat fungsional sebanyak 3.357 orang. Adapun sejumlah 88,92 persen PNS Kota Serang merupakan tamatan D IV/SI atau bahkan lebih tinggi.

Jumlah anggota DPRD Kota Serang sebanyak 45 orang. Dari jumlah tersebut, Golkar dan Gerindra masing-masing menempatkan 7 wakil, disusul PDI-P, Nasdem, dan PKP masing-masing 6 wakil, PKS 5 wakil, serta Demokrat dan PAN masing-masing 4 wakil.

KOMPAS/IMAN NUR ROSYADI

Monumen daerah di kota Serang ini menggambarkan kota itu sebagai tempat pergolakan masyarakatnya pada masa penjajahan Belanda.

Politik

Peta politik di Kota Serang berlangsung dinamis sejak Kota Serang menyelenggarakan pemilihan umum untuk pertama kalinya pada Pemilu 2009. Hal itu tampak dari perolehan suara partai politik dan tercermin dari perolehan kursi di DPRD Kota Serang.

Di Pemilu 2009, Partai PDI Perjuangan berhasil mendapatkan kursi terbanyak di DPRD Kota Serang, yakni 8 kursi. Disusul kemudian Partai Golkar dan Demokrat masing-masing 7 kursi. Sedangkan partai lain yang tergabung dalam Fraksi Gabungan Hanura sebanyak 10 kursi dan Fraksi Maslahat sebanyak 13 kursi.

Pada Pemilu 2014, Golkar berhasil meraih kemenangan di Kota Serang. Golkar berhasil menempatkan tujuh wakilnya di DPRD Kota Serang. Kemudian berturut-turut PDI-P dan PKB masing-masing 6 kursi, Demokrat dan Gerindra 5 kursi, Nasdem 4 kursi, Gabungan Amanat Hanura 6 kursi dan Gabungan Madani 6 kursi DPRD Kota Serang.

KOMPAS/ANITA YOSSIHARA

Petugas TPS 12 Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, menghitung perolehan suara, Sabtu (30/82008). Ini merupakan kali pertama warga Kota Serang memilih wali kota dan wakilnya untuk periode 2008-2013.

Kekuatan politik Kota Serang kembali berubah di Pemilu 2019. Kali ini, Gerindra mendominasi perolehan suara dengan meraih 61.094 suara (16,49 persen) dari total suara sah. Disusul oleh Golkar 52.268 suara (14,11 persen) dan PKS dengan perolehan 39.909 suara (10,77 persen).

Kemudian berturut-turut PDI-P 8,54 persen, PPP 7,68 persen, PAN 7,67 persen, Nasdem 7,47 persen, Demokrat 6,98 persen, PKB 6,63 persen, Hanura 4,71 persen, Berkarya 3,80 persen, Perindo 1,98 persen, PBB 1,68 persen, PSI 0,95 persen, Garuda 0,46 persen, dan PKPI 0,08 persen.

Dengan perolehan suara itu, dari 45 kursi yang tersedia di DPRD Kota Serang, Golkar dan Gerindra masing-masing meraih 7 kursi, PDI-P, Nasdem, dan PKP masing-masing 6 kursi, PKS 5 kursi, serta Demokrat dan PAN masing-masing 4 kursi.

Kependudukan

Populasi penduduk Kota Serang mencapai 692.101 jiwa berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020. Penduduk laki-laki sebanyak 353.971 jiwa, sedangkan penduduk perempuan berjumlah 338.130 jiwa.

Tingkat kepadatan penduduk di wilayah ini sebesar 2.595 jiwa/km2 sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Serang dari tahun 2010 hingga 2020 mencapai angka 1,76 persen.

Mayoritas penduduk Kota Serang ialah usia produktif dengan persentase 67 persen. Kemudian, disusul penduduk usia muda 0-14 tahun sebesar 30 persen dan penduduk usia lanjut sebesar 3 persen. Dari jumlah penduduk itu, tercatat sebesar 86,83 persen penduduk usia 0-17 tahun memiliki akta kelahiran dan sebesar 98,3 persen penduduk di atas 5 tahun memiliki Nomor Induk Kependudukan.

Penduduk Kota Serang terbesar bekerja di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 28,03 persen. Sedangkan penduduk yang bekerja di sektor industri pengolahan sebesar 16,32 persen.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Buruh Tanam Banten – Aktivitas buruh tanam di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kota Serang, Provinsi Banten, Jumat (19/6/2015). Para buruh tanam di kawasan tersebut perharinya mendapatkan upah sebesar Rp 60.000.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
72,16 (2020)

Angka Harapan Hidup 
68,13 tahun (2020)

Harapan Lama Sekolah 
12,84 tahun (2020)

Rata-rata Lama Sekolah 
8,76 tahun (2019)

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
9,26 persen (2019)

Tingkat Kemiskinan
6,06 persen (2020)

Kesejahteraan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Serang terus meningkat dalam satu dekade terakhir (2010-2020). Tahun 2010, IPM Serang masih berada di angka 68,25, dan meningkat menjadi 72,16 di tahun 2020. Capaian tersebut mengindikasikan bahwa IPM Kota Serang termasuk dalam kategori tinggi. Dibanding kabupaten/kota lain di Provinsi Banten, IPM Kota Serang menduduki peringkat ke-4 di bawah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kota Cilegon.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari adanya kenaikan angka harapan hidup, harapan lama sekolah, dan rata-rata lama sekolah yang merupakan indikator pengukuran IPM. Angka harapan hidup Kota Serang meningkat dari 67,20 tahun pada tahun 2010 menjadi 68 pada tahun 2020. Harapan lama sekolah (HLS) meningkat dari 10,99 di tahun 2010 menjadi 12,84 pada 2020. Rata-rata lama sekolah (RLS) Kota Serang naik dari 8,32 menjadi 8,76 pada tahun 2020.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kota Serang sebesar 63,79 persen berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2020. Sementara itu, wilayah ini memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 9,26 persen. TPT Kota Serang itu meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 8,08 persen.

Persentase penduduk miskin Kota Serang dalam lima tahun terakhir cenderung menurun. Pada tahun 2015, angkanya mencapai 6,28 persen dan turun menjadi 6,06 persen pada tahun 2020. Dengan jumlah penduduk miskin mencapai 42,24 ribu jiwa pada tahun 2020, tingkat kemiskinan Kota Serang menduduki posisi terendah ketiga dari delapan kabupaten/kota di Provinsi Banten.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

Anak-anak membaca buku di mobil perpustakaan keliling milik Pemda Banten saat menghadiri rangkaian acara literasi di Rumah Dunia di Kota Serang, Banten, pada Sabtu (21/4/2018). Acara digagas Forum Taman Bacaan Masyarakat.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 
Rp 190 miliar (2020)

Dana Perimbangan 
Rp 942 miliar (2020)

Pertumbuhan Ekonomi
-1,29 persen (2020)

PDRB per kapita
Rp 46,12 juta/tahun (2019)

Inflasi
0,26 persen (2020)

Ekonomi

Perekonomian Kota Serang terutama disumbang oleh sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 27,75 persen dari total produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar Rp 31,58 triliun. Sektor lain yang berkontribusi cukup besar adalah sektor konstruksi sebesar 18,69 persen dan real estate sebesar 9,21 persen.

Pertumbuhan ekonomi Kota Serang dalam satu dekade melaju di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten. Sepanjang 2010-2019, pertumbuhan ekonominya berkisar antara 6,33 persen hingga 8,34 persen. Sedangkan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Kota Serang terkontraksi minus 1,29 persen akibat dampak negatif pandemi Covid-19.

Di bidang investasi, Kota Serang memerlukan pengembangan untuk mencapai keberhasilan menjadi kota industri dan perdagangan. Bila dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Banten, nilai investasi Kota Serang tergolong rendah.

Berdasarkan data DPMPTSP Provinsi Banten, total investasi yang masuk pada tahun 2019 mencapai sekitar Rp 3,7 triliun dengan rincian Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 3,643 triliun (27 proyek) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 55,20 miliar (41 proyek).

KOMPAS/ANITA YOSSIHARA

Beberapa peziarah berada di depan Wihara Avalokitesvara di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, Kamis (17/9). Wihara itu merupakan peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah yang dibangun di dekat pusat pemerintahan kerajaan Islam Banten pada tahun 1652.

Di sektor pariwisata, Kota Serang memiliki beberapa destinasi wisata utama, satu diantaranya adalah Kawasan Banten Lama, yang merupakan ikon Provinsi Banten. Banten Lama merupakan suatu kawasan wisata, berlokasi di Kecamatan Kasemen berjarak 12 Km ke arah utara dari pusat Kota Serang menuju teluk Banten.

Kawasan tersebut berupa kompleks peninggalan Kesultanan Banten terdiri atas peninggalan-peninggalan sejarah di antaranya Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Istana Kaibon, Benteng Speelwijk, Museum Kepurbakalaan Banten, dan Vihara Avalokitesvara.

Referensi

Arsip Berita Kompas
  • “Banten, Indahnya Peninggalan Masa Lalu * Perjalanan”, Kompas, 18 Mei 2003, hal. 16
  • “Cagar Budaya Kota Serang, “Laesa Maiestas”!”, Kompas, 12 Juli 2005, hal. 38
  • “Kota Serang: Penjabat Wali Kota Dilantik, Kantor Belum Siap”, Kompas, 3 November 2007, hal. 26
  • “Asa Banten Menjadi Pusat Kebudayaan Islam”, Kompas, 18 Februari 2020, hal. C
Buku dan Jurnal
Internet
Aturan Pendukung

Penulis
Antonius Purwanto

Kontributor
Kathrin

Editor
Ignatius Kristanto

Butuh Informasi Terkini tentang Berbagai Daerah?

Butuh Informasi Terkini tentang Berbagai Daerah?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi terkini tentang berbagai daerah.

close