Daerah

Kota Bengkulu: Dari “Bumi Rafflesia” hingga Tempat Pengasingan Soekarno

Kota Bengkulu dikenal dengan julukan “Bumi Raflesia” karena menjadi habitat bunga langka berukuran raksasa, Rafflesia Arnoldi. Di masa perjuangan, kota ini pernah menjadi tempat pengasingan bagi sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan, termasuk Soekarno. Kini, Kota Bengkulu berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Monumen Pahlawan Nasional Fatmawati Soekarno yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Simpang Lima Ratu Samban, Kota Bengkulu, Rabu (5/2/2020). Monumen Fatmawati menjadi bentuk penghormatan Bangsa Indonesia terhadap dedikasi Ibu Negara Fatmawati Soekarno yang selalu mendukung perjuangan Presiden Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan di tengah keterbatasan pada masa penjajahan.

Fakta Singkat

Hari Jadi
17 Maret 1719

Dasar Hukum
Undang-Undang No. 6/1956

Luas Wilayah
151,70 km2

Jumlah Penduduk
373.591 jiwa (2020)

Pasangan Kepala Daerah
Wali Kota Helmi Hasan
Wakil Wali Kota Dedy Wahyudi

Instansi terkait
Pemerintah Kota Bengkulu

Kota Bengkulu adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Provinsi Bengkulu. Kota yang terletak di pantai barat Provinsi Bengkulu ini dahulu pernah dikuasai Inggris sebelum diserahkan kepada Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, Bengkulu ditetapkan sebagai kota kecil di bawah Pemerintahan Sumatera Bagian Selatan dengan luas 17,6 km2 berdasarkan UU Darurat 6/1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Selatan.

Pada tahun 1957, kota kecil Bengkulu berubah menjadi Kotapraja berdasarkan UU 1/1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kemudian berdasarkan UU 9/1967 jo PP 20/1968 tentang Pembentukan Propinsi Bengkulu, Kota Bengkulu ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Bengkulu.

Peristiwa jatuhnya benteng pertahanan Inggris Marlborough di Bengkulu ke tangan rakyat, 17 Maret 1719, ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bengkulu. Peristiwa itu merupakan lambang persatuan penduduk kota Bengkulu dan diangkat sebagai tonggak sejarah lahirnya kota itu.

Dengan wilayah seluas 151,70 km2, Kota Bengkulu dihuni oleh 373.591 jiwa. Secara administratif, Kota Bengkulu terbagi menjadi 9 kecamatan dan 67 kelurahan. Saat ini, Kota Bengkulu dipimpin oleh Wali Kota Helmi Hasan dan Wakil Wali Kota Dedy Wahyudi.

Kota Bengkulu terkenal dengan sebutan “Bumi Rafflesia” karena menjadi habitat Rafflesia Arnoldi. Bunga langka berukuran raksasa ini pertama kali ditemukan tahun 1818 di Bengkulu oleh Sir Thomas Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnoldi. Keduanya berkebangsaan Inggris dan Sir Stamford Raffles saat itu menjabat Letnan Gubernur mewakili Kerajaan Inggris yang memerintah di Indonesia.

Selain itu, Bengkulu dikenal pula sebagai tempat pengasingan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan termasuk Soekarno pada tahun 1930-an. Di masa inilah, Soekarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi istrinya.

Sejarah mencatat peran Fatmawati Soekarno yang menjahit Sang Saka Merah Putih, yang kemudian dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan RI. Penggalan sejarah tentang Fatmawati itu pun diabadikan dalam Monumen Pahlawan Nasional Ibu Agung Hajah Fatmawati Soekarno yang terletak di Simpang Lima Ratu Samban, pusat Kota Bengkulu.

Kota Bengkulu memiliki motto “Seiyo Sekato Kita Bangun Bumi Puteri Gading Cempaka Menuju Kota Semarak”. Seiyo Sekato mempunyai arti musyawarah untuk mufakat, sedangkan Semarak adalah singkatan dari sejuk, meriah, aman, rapih, dan kenangan.

Sejarah Pembentukan

Jejak sejarah Bengkulu terbentang mulai dari masa kerajaan, masa kekuasaan Inggris hingga diserahkan kepada Belanda, masa penjajahan Jepang, sampai di masa kemerdekaan.

Catatan sejarah Bengkulu tersebut dipaparkan dalam laman resmi Pemerintah Kota Bengkulu dalam tulisan dengan judul “Sejarah Kota Bengkulu” dan buku Sejarah Sosial Daerah Kota Bengkulu yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebelum Inggris datang ke Bengkulu, pada abad ke-13 sampai dengan abad ke-16, di wilayah Bengkulu sudah berdiri kerajaan-kerajaan berdasarkan etnis, diantaranya Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, dan Kerajaan Sungai Lemau .

Kerajaan Sungai Serut didirikan oleh Bintang Roano yang terkenal dengan gelar Ratu Agung. Kerajaan Sungai Serut terletak di Bengkulu tinggi yang kini bernama bukit yang letaknya di Kampung Kelawi kecamatan Sungai Serut kini.

Kerajaan Selebar berasal dari Kerajaan Jenggalu yang didirikan oleh seorang pemberani dan bijaksana yang namanya tidak disebut. Riwayat lain menyebutkan bahwa Kerajaan Selebar dibina oleh Rangga Janu, salah satu Kerabat Majapahit. Menurut sejarah, dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit karena penaklukan Kerajaan Demak antara 1518-1521 oleh Adipati Unus, beberapa bangsawan Majapahit yang juga pedagang menuju Bengkulu.

Kerajaan Sungai Lemau dengan rajanya Datuk Baginda Maharaja Sakti berasal dari Kerajaan Pagarutung Sumatera Barat.

Sampai akhir abad ke-15, kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit yang mengalahkan Sriwijaya pada abad ke-13.

Tahun 1685 untuk pertama kalinya bangsa Inggris mendarat di Bengkulu dengan menggunakan tiga kapal dagang masing-masing bernama The Caesar, The Resolution, dan The Depence. Rombongan bangsa Inggris yang dipimpin oleh Kapten J Andiew ini lantas melakukan kontak dagang dengan raja-raja di Bengkulu, seperti raja di Kerajaan Selebar dan Raja Kerajaan Sungai Lemau. Dengan beberapa persyaratan yang ditentukan para raja tersebut, akhirnya Inggris diizinkan menetap di Bengkulu.

Kemudian, traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 tahun 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan Benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar Muara Sungai Serut. Benteng ini diberi nama Fort York atau Benteng York.

Kehadiran Benteng York ternyata menjadi titik awal dibangunnya Benteng Marlborough di bawah pimpinan Joseph Collet, seorang Gubernur Inggris di Bengkulu yang memerintah wilayah ini dari tahun 1712 sampai 1716.

Menurut catatan sejarah, pembangunan Benteng Marlborough baru rampung lima tahun kemudian. Penyelesaiannya dilakukan berturut-turut oleh tiga gubernur Inggris pengganti Joseph Collet. Ketiganya, Gubernur Thiophilus Shyllinge (1716-1717), Rhicard Former (1717-1718), dan Thomas Cooke (1718).

Namun karena kesombongan dan keangkuhan Joseph Collet, begitu Benteng Marlborough selesai dibangun pada tahun 1719, rakyat Bengkulu di bawah pimpinan Pangeran Jenggalu menyerang pasukan Inggris di Ujung Karang. Benteng Marlborough berhasil mereka kuasai serta Inggris dipaksa meninggalkan Bengkulu. Peristiwa heroik ini kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Bengkulu.

Namun, pasukan Inggris kembali lagi ke Bengkulu dan perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Inggris tetap berlanjut. Pada tahun 1807 resident Inggris Thomas Parr dibunuh dalam suatu pertempuran melawan rakyat Bengkulu.

Thomas Parr adalah seorang Gubernur Inggris yang berkuasa di Bengkulu dari tahun 1805-1807. Ia adalah seorang Gubernur Inggris yang sangat kejam pada rakyat Bengkulu. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi kepada rakyat di sekitar kota Bengkulu dengan cara “tanam paksa”. Akibat tindakan-tindakannya melampaui batas, Thomas Parr dibunuh oleh rakyat Bengkulu. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Pemerintah Inggris memaksa rakyat membangun Tugu Thomas Parr.

Parr kemudian diganti Thomas Stamford Raffles, yang berusaha menjalin hubungan yang damai antara pihak Inggris dan penguasa setempat. Di bawah perjanjian Inggris-Belanda yang ditandatangani tahun 1824, Inggris menyerahkan Bengkulu ke Belanda, dan Belanda menyerahkan Singapura ke Inggris.

Sejak 1824-1942, daerah Bengkulu sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Namun, Belanda baru sungguh-sungguh mendirikan administrasi kolonialnya di Bengkulu tahun 1868.

Karena produksi rempah-rempah sudah lama menurun, Belanda berusaha membangkitkannya kembali. Ekonomi Bengkulu membaik dan Kota Bengkulu berkembang. Tahun 1878, Belanda menjadikan Bengkulu residentie terpisah dari Sumatera Selatan dan kota kecil Bengkulu dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Gewes Bencoolen.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Berdiri kokoh menghadap Samudra Hindia, Benteng Marlborough berada di sebuah bukit kecil di kawasan Pantai Tapak Paderi, Kelurahan Malabro, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu, Kamis (25/7/2019). Benteng dibangun pada masa pemerintahan empat deputi gubernur, yakni tahun 1712 hingga tahun 1718. Mulai dari Joseph Collet pada tahun 1712-1714 hingga Thomas Cooke pada 1718. Benteng peninggalan Inggris itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari bagaimana upaya pencarian hasil bumi berujung pada kolonisasi di pesisir barat Sumatera. Bangunan ini berada di atas lahan seluas 44.100 meter persegi dengan panjang 240,5 meter dan lebar 170,5 meter. Bangunan cagar budaya yang dikelola oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Setelah Belanda kalah dari Jepang pada tahun 1942, dimulailah masa penjajahan Jepang selama kurang lebih tiga tahun. Pada periode ini, kehidupan rakyat di daerah Bengkulu menderita secara fisik dan mental. Hasil bumi dan harta benda serta tenaga dikuras untuk kepentingan Pemerintah Jepang dalam upaya memenangkan perang Asia Timur Raya.

Pada masa Pemerintahan Jepang dan revolusi fisik, Bengkulu menjadi ajang pertempuran untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tidak sedikit putera terbaik Bengkulu yang gugur. Pada masa revolusi fisik, Kota Bengkulu menjadi tempat kedudukan Gubernur Militer Sumatera Selatan yang kala itu Gubernurnya adalah AK. Gani.

Setelah Indonesia merdeka, Bengkulu ditetapkan sebagai kota kecil di bawah Pemerintahan Sumatera Bagian Selatan dengan luas 17,6 Km2 berdasarkan UU Darurat 6/1956. Pada tahun 1957, kota kecil Bengkulu berubah menjadi Kotapraja berdasarkan UU 1/1957, yang meliputi empat wilayah Kedatukan dengan membawahi 28 Kepemangkuan.

Kemudian berdasarkan UU 9/1967 jo PP 20/1968 tentang Pembentukan Propinsi Bengkulu, Kota Bengkulu ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Bengkulu. Dengan ditetapkannya UU 5/1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, sebutan Kotapraja menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu.

Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu selanjutnya dibagi dalam dua wilayah setingkat Kecamatan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Nomor: 821.27-039 tanggal 22 Januari 1981.

Dengan ditetapkannya Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bengkulu Nomor 440/1981 dan Nomor 444/1981 dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Gubemur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Nomor 141/1982 tanggal 1 Oktober 1982, menghapus wilayah Kedatukan dan Kepemangkuan menjadi Kelurahan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 42/1982, wiIayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu, terbagi dua wilayah kecamatan definitif yang membawahi 38 Kelurahan.

Kemudian di tahun 1986, berdasarkan PP 46/1986 tentang Perubahan Batas dan Perluasan Wilayah Kotamadya Dati II Bengkulu, luas Wilayah Kotamadya Bengkulu berubah dari 17,6 km2 menjadi 144,52 km2 dan terdiri dari empat wilayah kecamatan, 38 kelurahan, dan 17 desa.

Selanjutnya, batas wilayah Kota Bengkulu juga diperbaharui berdasarkan Permendagri 47/2013 tentang Batas Daerah Kota Bengkulu dengan Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu dan Permendagri 52/2013 tentang Batas Daerah Kota Bengkulu dengan Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Saat ini, luas wilayah Kota Bengkulu mencapai 15.197,91 hektar.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI

Kondisi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu, Kamis (6/2/2020). Di sinilah Bung Karno mengisi waktunya dengan membangun kelompok sandiwara, dan merancang Masjid Jamik, Kota Bengkulu.

Geografis

Kota Bengkulu terletak di tepi barat Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkulu Tengah di bagian utara, Kabupaten Seluma di bagian selatan, Kabupaten Bengkulu tengah di bagian timur dan Samudera Hindia di sebelah Barat.

Kota Bengkulu memiliki luas wilayah 151,70 km2. Posisi Kota Bengkulu secara astronomis terletak di antara garis koordinat 3°45’-3°59’ Lintang Selatan dan 102°14’-102°22’ Bujur Timur.

Wilayah Kota Bengkulu memiliki bentuk permukaan wilayah yang relatif datar, terutama di wilayah pantai dengan ketinggian berkisar antara 0-10 m dpl, sedangkan di bagian timur ketinggiannya berkisar 25-50 m dpl.

Sebagian besar wilayah berada pada kemiringan/kelerengan 0-15 persen yaitu seluas 14.224 hektar (98,42 persen), dan sebagian kecil (1,58 persen) dari wilayah Kota Bengkulu yang memiliki kelerengan 15-40 persen seluas 228 hektar.

Sungai-sungai di wilayah Kota Bengkulu termasuk dalam satuan wilayah sungai (SWS) Kanal-Alas-Talo, yang mempunyai 35 sungai, dengan luas daerah pengaliran sungai (DPS) sekitar 6.884,3 km2.

Beberapa sungai di Kota Bengkulu adalah Sungai Air Bengkulu, Sungai Air Jenggalu, Sungai Air Riak, Sungai Air Babatan, Sungai Air Betungan, Sungai Air Muara, Sungai Air Riak, Sungai Air Lempuing, dan Sungai Air Sepang.

Di samping sungai, Kota Bengkulu juga memiliki Danau Dendam Tak Sudah dengan luas genangan sekitar 70 hektar.

KOMPAS/DEWI INDRIASTUTI

Wisatawan dari Australia berpose di dekat Rafflesia Arnoldi di hutan kawasan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Sabtu (17/3/2018).

Pemerintahan

Dalam laman Pemerintah Kota Bengkulu disebutkan Wali Kota Bengkulu dari masa ke masa sejak tahun 1950. Tercatat ada 15 kepala daerah yang pernah memerintah Kota Bengkulu.

Pasca kemerdekaan, Hamzah Sa’ari tercatat sebagai Ketua Dewan Pemerintah Kotapraja Bengkulu  periode 1945-1950. Kemudian dilanjutkan oleh K.Z. Abidin (1950-1960), Hasan Basri (1960-1965), M. Salim Karim (1965-1970), dan M. Zen Rani (1970-1975).

Ketika berstatus sebagai kotamadya, kepala daerah yang  memimpin Kota Bengkulu adalah Z. Thabri Hamzah (1975-1980), Syafiudin A.R. (1980-1985), Sulaiman Effendi (1985-1995), Achmad Rusli (1990-Maret 1992), H. A. Razie Jachya (Maret 1992-Oktober 1992), dan Chairul Amri Z. (1992-2002),

Selanjutnya saat berstatus sebagai kota, Bengkulu dipimpin oleh A. Chalik Effendie (2002-2007), Ahmad Kanedi (2007-2012), Penjabat Wali Kota Sumardi (17 November 2012-21 Januari 2013), Walikota Helmi Hasan (21 Januari 2013-21 Januari 2018), dan diteruskan oleh Penjabat Walikota Budiman Ismaun (22 Januari 2018-24 September 2018).

Sejak 24 September 2018, Kota Bengkulu dipimpin kembali oleh Helmi Hasan yang memenangkan Pilkada Kota Bengkulu 2018 dengan meraih 33,24 persen suara. Kali ini, Helmi Hasan berpasangan dengan Dedy Wahyudi sebagai Wakil Wali Kota Bengkulu.

Secara administratif, Kota Bengkulu mengalami dua kali pemekaran wilayah. Awalnya, Kota Bengkulu memiliki empat kecamatan yaitu Kecamatan Selebar, Gading Cempaka, Teluk Segara, dan Muara Bangka Hulu.

Kemudian pada tahun 2008, wilayah Kota Bengkulu bertambah lima kecamatan, yaitu Kampung Melayu, Ratu Agung, Ratu Samban, Singaran Pati dan Sungai Serut sehingga jumlah kecamatan menjadi sembilan kecamatan. Adapun jumlah kelurahannya sebanyak 67 kelurahan dengan Rukun Warga (RW) sebanyak 294 RW dan Rukun Tetangga (RT) sebanyak 1.269 RT.

Untuk mendukung roda pemerintahan, Pemerintahan Kota Bengkulu didukung oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) sebanyak 5.021 pegawai yang terbagi menjadi empat golongan, yaitu Golongan IV sejumlah 1.519 pegawai, Golongan III sejumlah 3.107 pegawai, Golongan II sejumlah 377 pegawai, dan Golongan I sejumlah 18 orang.

KOMPAS/WISNU AJI DEWABRATA

Pemilih mencoblos surat suara di salah satu tempat pemungutan suara (TPS) di Kota Bengkulu, Sabtu (3/7/2010).

Politik

Peta politik di Kota Bengkulu tecermin dari perolehan kursi yang diraih partai politik (parpol) dari pemilu ke pemilu. Selama empat kali penyelenggaraan pemilihan umum, perolehan kursi parpol di DPRD Kota Bengkulu berlangsung dinamis.

Pada Pemilu 2004, dari 24 parpol peserta pemilu, hanya  11 partai yang mempunyai kursi di DPRD Kota Bengkulu. Partai Golkar memperoleh kursi terbanyak dengan enam kursi, Disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan lima kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) dengan empat kursi.

Kemudian Partai Demokrat (PD), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) masing masing dengan 3 kursi,  Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dengan 2 kursi, serta PPD, PDK, PNBK dan PBB masing-masing dengan 1 kursi.

Lima tahun kemudian, di Pemilu 2009, dari 30 kursi yang tersedia di DPRD Kota Bengkulu, Partai Demokrat dan PKS berhasil memperoleh kursi terbanyak, masing-masing empat kursi. Kemudian disusul PAN dan Golkar tiga kursi; PNBK, PPP, PDI-P, Hanura, dan Gerindra masing-masing dua kursi. Sedangkan PKPI, PPIB, Pelopor, PDS, dan PKB masing-masing meraih satu kursi.

Pada Pemilu 2014, dari 35 kursi yang diperebutkan di DPRD Kota Bengkulu, Nasdem dan Gerindra meraih kursi terbanyak dengan masing-masing memperoleh lima kursi, disusul PKS dan PAN masing-masing empat kursi, kemudian Golkar, PPP, Hanura, dan Demokrat masing-masing memperoleh tiga kursi, PKB dengan dua kursi, serta PDI-P, PBB dan PKPI masing-masing meraih satu kursi.

Terakhir, di Pemilu 2019, dari 35 kursi di DPRD Kota Bengkulu, hanya 10 parpol yang memperoleh kursi DPRD Kota Bengkulu. Kesepuluh parpol yang memperoleh kursi tersebut adalah PAN dengan tujuh kursi, Gerindra, Demokrat, dan Golkar masing-masing memperoleh empat kursi. Kemudian Nasdem, PKS, PPP,  PKB, dan Hanura meraih tiga kursi serta PDI-P memperoleh satu kursi.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Layar monitor yang menampilkan hasil perolehan suara di Provinsi Bengkulu pada rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara partai politik dan calon legislatif di Kantor KPU, Jakarta, Senin (28/4/2014).

Kependudukan

Penduduk Kota Bengkulu menurut sensus penduduk tahun 2020 tercatat sebanyak 373.591 jiwa atau 18,58 persen dari total penduduk Provinsi Bengkulu. Dari jumlah tersebut, penduduk laki-laki tercatat sebanyak  188.624 jiwa sedangkan penduduk perempuan tercatat sebanyak 184.967 jiwa.

Dengan demikian, rasio jenis kelamin penduduk Kota Bengkulu pada tahun 2020 sebesar 102. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 100 penduduk perempuan terdapat 102 penduduk laki-laki.

Persebaran penduduk Kota Bengkulu saat ini masih belum merata. Konsentrasi penduduk terbesar berada di Kecamatan Selebar yang merupakan pusat permukiman penduduk, disusul Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Gading Cempaka, dan Kecamatan Teluk Segara.

Adapun wilayah terpadat adalah Kecamatan Ratu Samban yang merupakan wilayah pelayanan, perdagangan, dan pendidikan. Sedangkan Kecamatan Selebar tercatat sebagai kecamatan yang memiliki distribusi penduduk paling sedikit.

Kota Bengkulu sejak dahulu telah didiami oleh berbagai suku bangsa, antara lain Suku Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, Bugis, Minang Kabau, dan lain-lain. Karena itu, kebudayaan di Kota Bengkulu merupakan akulturasi kebudayaan/adat istiadat dari berbagai suku bangsa.

Berdasarkan data dari Kemenag Provinsi Bengkulu, masyarakat Kota Bengkulu hampir 95 persen memeluk Agama Islam, 4 persen Kristen dan Katolik, dan agama yang lainnya hanya 1 persen.

KOMPAS/KENEDI NURHAN

Festival Tabot 2006, 1-10 Muharam 1247 Hijriah (31 Januari-9 Februari 2006), berlangsung di Kota Bengkulu. Kegiatan ini adalah bagian dari ritual untuk mengenang peristiwa tragis terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, di Padang Karbala (di wilayah Irak sekarang) oleh kalangan Muawiyah.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
80,36 (2020)

Angka Harapan Hidup 
70,13 tahun (2020)

Harapan Lama Sekolah 
16,02 tahun (2020)

Rata-rata Lama Sekolah 
11,79 tahun (2020)

Pengeluaran per Kapita 
Rp 13,93 juta (2020)

Tingkat Kemiskinan
17,65 persen (2020)

Tingkat Pengangguran Terbuka
6,82 persen (2020)

Kesejahteraan

Pembangunan manusia di Kota Bengkulu dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Dalam kurun waktu 2010-2020, IPM Kota Bengkulu meningkat dari 74,92 menjadi 80,36 pada tahun 2020. Dengan capaian itu, IPM Kota Bengkulu selalu masuk kategori daerah dengan IPM tinggi. Dibandingkan kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, IPM Kota Bengkulu menempati peringkat teratas.

Dari tiga dimensi dasar, umur harapan hidup tercatat 70,13 tahun. Kemudian di bidang pendidikan, harapan lama sekolah tercatat 16,02 tahun dan rata-rata lama sekolah 11,79 tahun. Adapun pengeluaran per kapita sebesar Rp 13,93 tahun.

Dalam kurun waktu 2011-2020, tingkat pengangguran terbuka(TPT) di Kota Bengkulu cenderung fluktuatif di kisaran 3,11 persen hingga 8,73 persen. Terakhir pada tahun 2020, TPT Kota Bengkulu tercatat 6,82 persen.

Adapun tingkat kemiskinan di Kota Bengkulu dalam kurun lima tahun terakhir tergolong tinggi, bahkan berada di atas rata-rata tingkat kemiskinan provinsi dan nasional. Terakhir, data BPS menunjukkan angka kemiskinan di Kota Bengkulu tahun 2020 mencapai 17,65 persen, di atas tingkat kemiskinan Provinsi Bengkulu sebesar 15,30 persen dan tingkat kemiskinan nasional sebesar 10,19 persen.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA

Para penulis Bengkulu melakukan diskusi pembetukan forum penulis muda di Pulau Tikus, serangkaian dengan Bengkulu Writers Festival, 13-15 September 2019.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 
Rp 182,79 miliar (2019)

Dana Perimbangan 
Rp 913,74 miliar (2019)

Pertumbuhan Ekonomi
-0,25 persen (2020)

PDRB per kapita
Rp 59,70 juta/tahun (2020)

Ekonomi

Nilai produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Bengkulu di tahun 2020 mencapai Rp 23,50 triliun. Dari total PDRB tersebut, perekonomian Kota Bengkulu didominasi oleh perdagangan besar dan eceran dan reparasi kendaraan bermotor (20,31 persen), transportasi dan pergudangan (17,34 persen), dan jasa pendidikan (8,41 persen).

Adapun sektor usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kota Bengkulu adalah sektor perdagangan (25,30 persen) dan penyediaan akomodasi, makan dan minum (11,82 persen).

Dalam kurun waktu 2011-2019, pertumbuhan ekonomi Kota Bengkulu berkisar antara 5 persen hingga 7 persen. Namun di tahun 2020, pertumbuhan ekonominya turun hingga minus 0,25 persen akibat merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia dan dunia.

PDRB perkapita Kota Bengkulu terhitung tinggi, minimal jika dibandingkan dengan angka rata-rata provinsi. Tahun 2020, PDRB per kapita Kota Bengkulu mencapai Rp 59,70 juta sedangkan Provinsi Bengkulu sebesar Rp 36,31 juta. Tingginya angka tersebut juga dibantu jumlah penduduk yang relatif sedikit, sebanyak 373.591 orang.

Pendapatan Pemerintah Kota Bengkulu tahun 2019 tercatat sebesar Rp 1,17 triliun, yang bersumber dari dana perimbangan sebesar Rp 913,74 miliar (78,08 persen), pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 182,80 miliar (15,62 persen), sedangkan sisanya sebesar Rp 73,76 miliar (6,30 persen) diperoleh dari pendapatan lain-lain yang sah.

KOMPAS/ViNA OKTAVIA

Pengunjung menikmati pemandangan di Pantai Panjang, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, beberapa waktu lalu. Selain wisata alam, Kota Bengkulu juga menawarkan wisata sejarah dan wisata budaya.

Di sektor pariwisata, Kota Bengkulu memiliki wisata alam, sejarah, dan budaya. Wisata alam andalan Kota Bengkulu, antara lain Pantai Panjang Pulau Tikus, Pantai Tapak Padri, Pantai Pasir Putih di dekat Pelabuhan Samudera Pulau Baai, dan Danau Dendam Tak Sudah.

Adapun wisata sejarah di Kota Bengkulu diantaranya adalah rumah Fatmawati, istri Presiden RI Soekarno, dan rumah kediaman Presiden Soekarno sewaktu diasingkan Belanda di Bengkulu. Selain itu, terdapat pula Benteng Marlborough di tepi Pantai Tapak Padri, dan Monumen Parr, serta Monumen Hamilton.

Tak hanya itu, sejumlah potensi kuliner Kota Bengkulu juga menarik. Beberapa diantaranya seperti pendap, lempuk durian, bai tat, lemang tapai, rebung asam undak liling, dan bagar hiu. Selain itu, ada juga kerajinan kain besurek.

Untuk mendukung pariwisata, hingga tahun 2019, Kota Bengkulu telah memiliki 12 hotel berbintang dan 74 hotel non bintang. 

Untuk lebih mengenalkan Kota Bengkulu kepada wisatawan domestik dan mancanegara diperlukan promosi pariwisata baik di dalam maupun di luar negeri.

Di samping itu, keberadaan jalan tol Trans Sumatera akan mempermudah dan mempercepat transportasi antarkota dan antarprovinsi di Sumatera menuju Kota Bengkulu. Selain itu, infrastruktur jalan tol tersebut akan membuka peluang tumbuhnya potensi ekonomi dan memperluas lapangan kerja. (LITBANG KOMPAS)

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Yanti floriza (kanan) melayani calon pembeli melihat batik-batik khas Bengkulu di Toko Joewada, Kota Bengkulu, Bengkulu, Minggu (5/6/2016).

Referensi

Arsip Berita Kompas
  • “Raffles Hitam dari Bengkulu”, Kompas, 15 Juli 1988, hlm. 4
  • “Fort Marlborough, Benteng Kuno di Bengkulu”, Kompas, 23 Februari 1997, hlm. 19
  • “Kota Bengkulu * Otonomi Daerah”, Kompas, 13 September 2002, hlm. 08
  • “Perikanan Dijadikan Primadona * Otonomi Daerah”, Kompas, 13 September 2002, hlm. 08
  • “Kota Bengkulu: Memadukan Wisata Alam, Budaya, dan Sejarah *Wisata”, Kompas, 17 Mei 2003, hlm. 31
  • “Danau Dendam Tak Sudah: Kini Airnya Mulai Surut *Wisata”, Kompas, 17 Mei 2003, hlm. 32
  • “Tradisi Melayu-Bengkulu (1): Dan, Tabot Sakral Itu Pun Patah…”, Kompas, 15 Februari 2006, hlm. 14
  • “Tradisi Tabot Bengkulu (2-Habis): Wajah Budaya Bermuka Dua”, Kompas, 16 Februari 2006, hlm. 14
  • “Administratif: Bengkulu Akan Dikembalikan Menjadi Bencoolen”, Kompas Sumbagsel, 30 Maret 2009, hlm. 27
  • “Pesona Nusantara: Rumah Pengasingan Saksi Bisu Cinta Soekarno”, Kompas, 08 Oktober 2013, hlm. 23
  • “Jalan Yuk!: Bengkulu: Inggris dan Bung Karno *Natal & Tahun Baru”, Kompas, 19 Desember 2013, hlm. 03
  • “Asa dan Cinta Menggelora di Pengasingan *Kota & Jejak Peradaban Ekspedisi Sabang & Merauke”, Kompas, 28 Oktober 2013, hlm. 37
  • “Sejarah: Dari ”Bumi Rafflesia” hingga ”Bumi Seribu Candi”, Batik Berada * Selisik Batik”, Kompas, 21 Agustus 2016, hlm. 24
  • “Kota Bengkulu: Menjual Wisata Alam, Sejarah, dan Budaya”, Kompas, 27 Desember 2016, hlm. 24
  • “Jangan Lupakan Bengkulu”, Kompas, 24 September 2017, hlm. 10
  • “Merawat Kenangan Fatmawati Soekarno di Bengkulu”, Kompas, 05 Februari 2020, hlm. C
Buku dan Jurnal
Aturan Pendukung
  • UU 6/1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Selatan
  • UU 1/1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah
  • UU 9/1967 tentang Pembentukan Propinsi Bengkulu
  • UU 5/1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah
  • PP 20/1968 tentang Berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan Pelaksanaan Pemerintahan Di Propinsi Bengkulu
  • PP 46/1986 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu, Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkulu Utara dan Daerah Tingkat II Bengkulu Selatan
  • Permendagri 47/2013 tentang Batas Daerah Kota Bengkulu dengan Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu
  • Permendagri 52/2013 tentang Batas Daerah Kota Bengkulu dengan Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu
  • Perda Kota Bengkulu 1/2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bengkulu Tahun 2019-2023

Editor
Topan Yuniarto

Butuh Informasi Terkini tentang Berbagai Daerah?

Butuh Informasi Terkini tentang Berbagai Daerah?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi terkini tentang berbagai daerah.

close