Paparan Topik | Hari Olahraga Nasional

Pasang Surut Prestasi Indonesia di Ajang Asian Games

Meskipun tak pernah absen mengirimkan atletnya ke Asian Games, prestasi Indonesia di ajang tersebut tidak stabil. Indonesia pernah berada di posisi ke-2 namun pernah menduduki urutan ke-22.

KOMPAS/SUMOHADI MARSIS

Christian Hadinata, salah satu spesialis ganda bulu tangkis terbesar dunia saat ini, menjadi tulang punggung Indonesia dalam persaingan melawan RRC. Mengaku sudah mulai bosan bermain, Christian (33), tak terkalahkan di nomor beregu maupun perorangan. Di nomor perorangan, ia membimbing pemain muda Ivanna dan Icuk Sugiarto yang masih muda dan baru berlatih sebulan bersamanya, untuk meraih medali emas ganda putra dan campuran. Dalam gambar, Christian (kanan) dan Icuk Sugiarto diwawancara TVRI setelah menundukkan Luan Jin/Lin Jiangli dari Cina.

Fakta Singkat

Peringkat Indonesia di Asian Games (AG)

  • AG I, 1951, New Delhi, peringkat 7
  • AG II, 1954, Manila, peringkat 10
  • AG III, 1958, Tokyo, peringkat 12
  • AG IV, 1962, Jakarta, peringkat 2
  • AG V, 1966, Bangkok, peringkat 6
  • AG VI, 1970, Bangkok, peringkat 4
  • AG VII, 1974, Teheran, peringkat 5
  • AG VIII, 1978, Bangkok, peringkat 7
  • AG IX, 1982, New Delhi, peringkat 6
  • AG X, 1986, Seoul, peringkat 9
  • AG XI, 1990, Beijing, peringkat 7
  • AG XII, 1994, Hiroshima, peringkat 10
  • AG XIII, 1998, Bangkok, peringkat 11
  • AG XIV, 2002, Busan, peringkat 14
  • AG XV, 2006, Doha, peringkat 22
  • AG XVI, 2010, Guangzhou, peringkat 15
  • AG XVII, 2014, Incheon, peringkat 17
  • AG XVIII, 2018, Jakarta-Palembang, peringkat 4

Sumber: Asian Olympic Council. Dirangkum Litbang Kompas/ERI

Pada Asian Games pertama tahun 1951, Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari 11 negara peserta. Saat menjadi tuan rumah pada tahun 1962, prestasi Indonesia di ajang empat tahunan itu mencapai puncak dengan berada di urutan ke-2 dari 16 negara peserta. Ketika kembali menjadi tuan rumah tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat ke-4 dari 45 negara peserta.

Pasang surut prestasi Indonesia dalam ajang tersebut tampak sejak Asian Games I digelar di New Delhi, India, hingga Asian Games XVIII di Jakarta-Palembang, Indonesia. Naik dan turunnya prestasi Indonesia di Asian Games, antara lain disebabkan karena perbedaan jumlah negara peserta, biaya, hingga pembinaan atlet.

KOMPAS/VALENS DOY

Para Juara Tenis pulang, Rombongan terakhir kontingen Indonesia ke Asian Games VII Teheran yg terdiri atas para pemain tenis putri dan seorang pelatih Senin tiba di tanah air. Mereka terdiri dari Ny. Lita Sugiarto, Leny Kaligis, Ny. Yolanda Soemarno, Ny. Loanita Rahman, dan pelatih Ny. Mien Gondowidjojo.

Asian Games I-V

Asian Games I, New Delhi, 1951: Solidaritas Negara-negara Asia
Asian Games I di New Delhi, diikuti oleh 11 negara, yakni Afganistan, Myanmar, Sri Lanka, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan tuan rumah India.

Acara yang digelar pada 4–11 Maret 1951 tersebut diikuti oleh 489 atlet yang berlaga di enam cabang olahraga, yakni atletik, angkat besi, basket, balap sepeda, renang, dan sepak bola. Pada saat itu, Indonesia mengirimkan 35 atlet yang bertanding di dua cabang, yaitu sepak bola (18 atlet) dan atletik (17 atlet).

Dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut, Jepang keluar sebagai juara umum dengan perolehan 24 medali emas, 21 perak, dan 15 perunggu. Sementara, Indonesia menempati peringkat ke-7 dengan perolehan 5 medali perunggu dari cabang atletik.

Atlet Indonesia yang berhasil meraih medali adalah Hendarsin (loncat jangkit), Maram Sudarmodjo (loncat tinggi), Bram Matulessy (lempar lembing), Annie Salamun (lempar cakram), dan tim lari estafet putri yang terdiri dari Darwati, Lie Djiang Neo, Triwulan, dan Suriowati.

Partisipasi Indonesia pada Asian Games perdana itu tidak semata dimaknai hanya dari jumlah medali. Kehadiran kontingen Indonesia di India merupakan wujud solidaritas terhadap kerja keras negara Asia lainnya untuk menggelar Asian Games (Kompas, 9/11/2010).

Asian Games II, Manila, 1954: Capaian Terendah Indonesia
Tiga tahun berikutnya, pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ini diselenggarakan di Manila, Filipina. Sebanyak 970 atlet dari 18 negara berlomba memperebutkan 202 medali di tujuh cabang olahraga.

Prestasi Indonesia di Asian Games II ini justru menurun. Indonesia hanya meraih tiga medali perunggu dan duduk di peringkat ke-10. Medali perunggu tersebut diraih dari cabang polo air, angkat besi, dan menembak.

Tiga medali itu disumbang oleh atlet menembak Lukman Saketi dari nomor tembakan serbu 25 meter, tim putra polo air, dan Thio Ging Hwie dari angkat besi di nomor angkatan 67,5 kilogram.

Perolehan jumlah medali kontingen Indonesia di Asian Games 1954 ini merupakan capaian terkecil sepanjang keikutsertaan Indonesia di Asian Games. Pada ajang Asian Games II ini, Jepang kembali keluar sebagai juara umum dengan 38 medali emas, 36 perak, dan 24 perunggu.

Asian Games III, Tokyo, 1958: Prestasi Terbaik Timnas Indonesia
Setelah menjadi nomor satu di ajang sebelumnya, Jepang ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games III. Ibu kota negara itu, Tokyo, menjadi pusat kegiatan event empat tahunan itu pada 24 Mei – 1 Juni 1958.

Asian Games kali ini mempertandingkan 13 cabang olahraga, yakni atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, sepeda (jalan raya dan trek), hoki lapangan, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, gulat, judo, dan angkat besi. Sebanyak 302 medali dari 13 cabang olahraga diperebutkan oleh 1.820 atlet dari 20 negara peserta.

Posisi tiga besar masih dikuasai Jepang, Filipina, dan Korea Selatan, sama seperti Asian Games sebelumnya. Keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games III belum menghasilkan medali emas maupun perak. Indonesia hanya meraih 6 medali perunggu di cabang atletik, renang, dan sepakbola.

Secara jumlah, perolehan medali Indonesia dalam Asian Games kali ini meningkat dibandingkan ajang sebelumnya. Namun, posisi Indonesia masih berada di papan bawah, yakni di peringkat ke-12 dari 20 negara peserta.

Meski demikian, tim sepakbola Indonesia berhasil meraih prestasi di ajang ini dengan menduduki peringkat ke-3 dan mendapatkan medali. Prestasi sepakbola itu dicapai setelah Indonesia menjadi juara grup B dan lolos ke babak perempat final setelah mengalahkan Myanmar dan India. Indonesia lolos ke babak semifinal setelah mengalahkan Filipina di babak perempat final. Namun, di semifinal tim Indonesia dikandaskan tim Taiwan dengan skor 0-1.

Pada laga perebutan medali perunggu, timnas Indonesia kembali bertemu India dan berhasil memukul telak India dengan skor 4-1. Medali perunggu tersebut merupakan satu-satunya medali yang diraih timnas sepakbola Indonesia dari ajang Asian Games hingga tahun 2018.

Asian Games IV, Jakarta, 1962: Emas Pertama Indonesia
Setelah mengikuti tiga kali Asian Games, Indonesia didapuk menjadi tuan rumah ajang Asian Games IV.  Di ajang yang digelar pada 24 Agustus hingga 4 September 1962 ini, sebanyak 1.460 atlet mewakili 16 negara Asia turut ambil bagian pada 13 cabang olahraga.

Cabang olahraga yang dipertandingkan adalah atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, tinju, balap sepeda (jalan raya dan trek), hoki, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli dan gulat. Asian Games 1962 menyediakan 357 medali, sejumlah 120 di antaranya medali emas untuk diperebutkan di 13 cabang olahraga.

Sebagai tuan rumah, Indonesia mengirimkan 333 atlet di 13 cabang olahraga. Pada ajang kali ini, prestasi Indonesia terbilang mencengangkan dengan mendulang emas pertama Asian Games. Emas pertama dipersembahkan oleh Minarni dan teman-temannya dari cabang bulu tangkis putri.

Tak berapa lama kemudian, atlet lari Mohammad Sarengat juga mendapat medali emas dari cabang atletik lari 100 meter sekaligus menjadi orang tercepat di Asia dengan memecahkan rekor lari 100 meter dengan catatan waktu 10,5 detik di babak final. Serengat juga kembali menyumbang medali emas dalam cabang lari gawang 110 meter sekaligus memecahkan rekor Asia untuk lari gawang 110 meter dengan catatan waktu 14,4 detik.

Lagu “Indonesia Raya” pun mulai sering terdengar di podium kemenangan seiring bertambahnya medali emas kontingen Indonesia. Hingga akhir penyelenggaraan, Indonesia meraih 11 medali emas, 12 perak, dan 28 perunggu (Kompas, 31/8/1974).

Dari 16 negara peserta yang berkompetisi, Indonesia menempati urutan kedua setelah Jepang. Hasil runner up tersebut merupakan capaian terbaik Indonesia dari seluruh keikutsertaannya di ajang Asian Games hingga tahun 2018.

Pada gelaran kali ini, TVRI mulai mengudara secara resmi dan meliput kegiatan selama Asian Games berlangsung.

Asian Games V, Bangkok, 1966: Tenis Putri Mengejutkan
Di ajang Asian Games V yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand pada 9 hingga 20 Desember 1966, sebanyak 18 negara berpartisipasi pada ajang tersebut. Tak kurang dari 2.486 atlet dan ofisial ikut serta dalam 14 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Indonesia mengirimkan kontingennya dalam dua gelombang pemberangkatan. Kontingen berangkat gelombang pertama berjumlah 58 orang di bawah pimpinan Brigjen Subiantoro menggunakan pesawat Garuda. Kontingen gelombang pertama ini meliputi para atlet yang akan bertanding dalam cabang olahraga atletik, voli, tenis, bulu tangkis putri, menembak, dan gulat. (Kompas, 2/12/1966)

Sedangkan pemberangkatan kontingen gelombang kedua berjumlah 47 atlet di bawah pimpinan pelatih PSSI Mangindaan (Kompas, 5/12/1966).

Jepang masih tetap mendominasi pesta olahraga ini sejak pertama kali digelar tahun 1951. Negeri sakura ini meraih 78 emas, 53 perak, dan 33 perunggu. Korea Selatan dan tuan rumah Thailand mendamping Jepang di tiga besar. Mereka menguasai sekitar 75 persen medali yang diperebutkan.

Indonesia berhasil menempati urutan ke-7 dengan perolehan 22 medali, yakni 5 emas, 5 perak, dan 12 perunggu (Kompas, 22/12/1966).

Salah satu prestasi Indonesia yang mengejutkan terjadi di cabang tenis putri, terutama dengan pencapaian atlet tenis putri Indonesia Lanny Kaligis.

Tim tenis putri indonesia mempersembahkan emas pertama bagi kontingen Indonesia setelah mengalahkan tim tenis putri Jepang dengan angka 2-1 (Kompas, 15/12/1966).

Selanjutnya, Indonesia juga mendapatkan medali emas dari cabang tenis ganda putri dan perorangan putri. Di nomor tunggal putri, Lanny Kaligis berhasil memperoleh medali emas dengan mengalahkan atlet tenis Jepang Kazuko Kuromatsu dengan straight set di final tenis tunggal putri. Lanny Kaligis ikut memperjuangkan perolehan ketiga medali emas Indonesia dari cabang tenis putri (Kompas, 23/12/1966).

Dalam situs Asian Olympic Council (OCA), Indonesia tercatat meraih posisi ke-6 dalam Asian Games V dengan perolehan 21 medali, yakni 7 emas, 4 perak, dan 10 perunggu.

KOMPAS/KARTONO RYADI

Suzanna Anggarkusuma (23) dan Yayuk Basuki (16, kanan) pasangan emas Asian Games Seoul, ketika menerima untaian bunga tanda kemenangan di Stadion Tenis Olympic Park Seoul. Di dada mereka pun ada medali emas.

Asian Games VI-X

Asian Games VI, Bangkok, 1970: Ikut Dibiayai Bensin
Empat tahun kemudian, kompetisi olah raga terbesar di Asia ke-6 digelar di Bangkok. Seharusnya, Asian Games VI akan dilaksanakan di Korea Selatan, tetapi batal karena negara tersebut menarik diri sebagai tuan rumah terkait konflik dengan Korea Utara. Asian Games VI kemudian digelar secara sederhana di Bangkok, Thailand pada 9–20 Desember 1970.

Asian Games VI mempertandingkan lebih sedikit cabang olahraga, yakni sebanyak 13 cabang. Tak kurang dari 2.149 atlet dan ofisial dari 18 negara terlibat dalam ajang ini.

Indonesia membagi dua atletnya, sebagian mengikuti Asian Games, sebagian lagi mengikuti Ganefo Asia. (Kompas, 31/8/1974) Di ajang Asian Games, Indonesia mengirimkan 161 atlet ditambah 5 orang staf pimpinan, 13 anggota, dan 40 delegasi olahraga (Kompas, 21/12/1970).

Salah satu sumber pembiayaan pemberangkatan para atlet ke Asian Games diperoleh dari pengumpulan dana yang dikoordinasi oleh Komite Dana KONI Pusat. Salah satu upaya pengumpulan dana dilakukan dengan pemungutan Rp 50 untuk satu kali pembelian bensin di DKI Jakarta (Kompas, 8/12/1970).

Selain itu, pengiriman atlet ke Asian Games juga mendapatkan pesan tantangan dari KONI. Induk organisasi olahraga yang mengirimkan atletnya tidak akan mendapatkan bantuan selama satu tahun apabila atletnya gagal mencapai target. Dalam Asian Games kali ini, KONI menargetkan “the best four” untuk perorangan dan “the best three” untuk beregu (Kompas, 2/12/1970).

Asian Games VI ini juga didukung oleh TVRI dan RRI, dengan mengadakan siaran langsung untuk upacara pembukaan dan beberapa pertandingan (Kompas, 9/12/1970).

Dalam Asian Games kali ini, beberapa atlet mengalami cidera sehingga kehilangan peluang memenangkan emas. Atlet lari 4×100 meter Indonesia, Edy Effendi, diserang kejang di arena pertandingan (Kompas, 12/12/1970). Cidera lutut dialami atlet bulu tangkis Indonesia, Minarni, dalam pertandingan single melawan Hiroe Yuki dari Jepang (Kompas, 19/12/1970).

Pelari putri Taiwan, Chi Cheng, mengalami kejang otot saat mengikuti nomor lari 400 meter putri. Saat itu, ia sudah berada 25 meter dari garis finis dan 6 meter mendahului kawan-kawannya (Kompas, 15/12/1970).

Medali emas pertama untuk Indonesia diperoleh dari cabang bulu tangkis beregu. Rudy Hartono dan kawan-kawan berhasil mendapatkan emas setelah menundukkan Thailand dengan skor akhir 3-0. Dua pertandingan tersisa, yakni single dan double, tidak dipertandingkan sesuai aturan Asian Games VI (Kompas, 15/12/ 1970).

Atlet tinju Indonesia, William Gomies, menambah perolehan medali emas setelah berhasil mengalahkan petinju Pakistan, Arif Malik, dalam final laga tinju kelas menengah (Kompas, 17/12/1970).

Di Asian Games VI ini, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand kembali menjadi tiga besar sama seperti ajang sebelumnya. Indonesia berhasil meraih 20 medali, yakni 2 emas, 5 medali perak, dan 13 perunggu. Dengan hasil ini, Indonesia meraih posisi ke-9 dari 18 negara peserta (Kompas, 28/12/1970).

Dengan hasil perolehan medali Indonesia di Asian Games VI yang dianggap gagal, pemerintah Indonesia saat itu berencana untuk tidak akan mengirimkan olahragawan ke luar negeri sampai dengan Asian Games VII pada tahun 1974 (Kompas, 23/12/1970).

Data berbeda dicantumkan situs resmi Olympic Council of Asia (OCA). Dalam Asian Games VI, Indonesia berhasil meraih 23 medali, yakni 9 emas, 7 perak, dan 7 perunggu. Hasil tersebut mengantarkan Indonesia pada peringkat ke-4 dari 18 negara peserta.

Asian Games VII, Teheran, 1974: Kontingen Mini
Edisi ke-7 Asian Games yang digelar di Teheran, Iran, pada 1–16 September 1974 terbilang mewah dan gemilang karena didukung kekayaan dan persiapan terbaik dari negara penyelenggara, Kerajaan Iran di bawah Syah Reza Pahlevi. Sebanyak 3.010 atlet dan ofisial dari 25 negara ikut serta dalam pesta olahraga yang memperebutkan ratusan medali dari 16 cabang olahraga.

Indonesia mengirimkan 9 ofisial dan 21 atlet yang bertanding dalam 4 cabang pertandingan, yakni bulu tangkis putra dan putri, tinju, tenis putri, dan loncat indah (Kompas, 31/8/1974).

Di ajang kali ini, muncul kekuatan baru dengan keikutsertaan China. Di sisi lain, Taiwan yang sebelumnya terlibat dalam Asian Games II hingga VI dikeluarkan dari keanggotaan.

Dalam debutnya, China sudah menduduki peringkat ke-3 setelah Jepang dan tuan rumah Iran. Sedangkan Indonesia berhasil mendapatkan 11 medali, yakni 3 emas, 4 perak, dan 4 perunggu, sehingga memperoleh urutan ke-9.

Emas pertama Indonesia dipersembahkan oleh Lita Sugiarto dari cabang tenis putri perseorangan. Di babak final, Lita menang melawan unggulan pertama, Pauline Peisachov dari Israel, dengan skor 7-6 dan 6-4 (Kompas, 27/9/1974).

Emas kedua dan ketiga diperoleh dari cabang bulu tangkis yang keduanya mempertandingkan All Indonesian Final.

Final bulu tangkis ganda putra mempertandingkan pasangan Tjuntjun/Johan Wahyudi dan Christian/Ade Chandra. Nomor ini dimenangkan oleh Tjuntjun/Johan Wahyudi dengan angka 15-9, 15-7.

Sedangkan final bulu tangkis ganda campuran dimenangkan oleh pasangan Christian/Regina Masli atas pasangan Tjuntjun/Sri Wiyanti dengan angka 15-10, 15-8 (Kompas, 16/9/1974).

Salah satu apresiasi bagi para peraih medali adalah hadiah berupa darmawisata selama empat hari ke Singapura dari perusahaan swasta, ASTRA. Selain itu, peraih medali emas dari cabang bulu tangkis mendapatkan karcis abonemen gratis selama satu tahun dari Jakarta Theater dan setengah tahun bagi peraih medali perak dan perunggu (Kompas, 16/10/1974).

Data berbeda ditampilkan oleh Olympic Council of Asia (OCA) terhadap hasil perolehan medali Asian Games VII. OCA menempatkan Indonesia di peringkat ke-5 dengan perolehan 15 medali emas, 14 perak, dan 17 perunggu.

Asian Games VIII, 1978, Bangkok: Bonanza dari Bulu tangkis dan Tenis
Bangkok kembali menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya dalam Asian Games ke-8 yang digelar pada 9–20 Desember 1978. Asian Games kali ini diikuti oleh 2.861 atlet dari 24 negara.

Minimnya negara peserta kebanyakan diakibatkan oleh persoalan politik, seperti misalnya Vietnam, Laos, Kamboja, Iran, maupun Israel (Kompas, 11/12/1978).

Indonesia mengirimkan 98 kontingen yang terdiri dari 68 atlet dan 20 pelatih yang bertanding dalam 11 cabang olahraga, yakni atletik, anggar, angkat besi, bulu tangkis, balap sepeda, menembak, panahan, tenis, tenis meja, renang, dan tinju (Kompas, 3/12/1978).

Negara sakura Jepang masih tetap terunggul di Asia sejak ajang ini pertama kali digelar dengan meraih 70 medali emas, 59 perak, dan 49 perunggu. China sebagai pendatang baru mulai mendekati kedigdayaan Jepang dengan meraih 51 emas, 54 perak, dan 46 perunggu. Posisi berikutnya dicapai Korsel, Korut, dan Thailand.

Indonesia berhasil meraih 33 medali, yakni 8 emas, 7 perak, dan 18 perunggu. Emas pertama Indonesia diraih dari cabang tenis beregu putra dengan kemenangan Atet Wiyono di nomor tunggal dan Atet Wiyono/Gondowijoyo di nomor ganda melawan tim tenis Pakistan di babak final (Kompas, 14/12/1978).

Medali emas Indonesia yang lain diraih dari cabang bulu tangkis beregu putra, bulu tangkis tunggal putra, bulu tangkis ganda putra, bulu tangkis ganda putri, tenis ganda putra, tenis tunggal putra, dan tinju kelas menengah (Kompas, 20 Desember 1978).

Dua bintang lapangan Indonesia di Asian Games kali ini adalah Liem Swie King dan Atet Wiyono. Liem Swie King menyumbang dua medali emas dari tunggal putra dan beregu putra. Sedangkan Atet Wiyono menyumbang emas dari tenis nomor beregu putra dan tunggal putra (Kompas, 20 Desember 1978).

Dengan hasil tersebut, Indonesia berhasil menduduki peringkat ke-7 dari 25 negara peserta Asian Games VII.

Asian Games IX, 1982, New Delhi: Terbaik di Asia Tenggara
Asian Games IX digelar di New Delhi, India, pada 19 November–4 Desember 1982. Sekitar 4.000 atlet dari 33 negara memperebutkan 196 medali emas dari 21 cabang pertandingan dalam pesta olahraga Asia ini (Kompas, 20/11/1982).

Indonesia mengirimkan 115 atlet untuk bertanding dalam 18 cabang olahraga. (Kompas, 12 November 1982) Kali ini, Indonesia memasang target minimal posisi ke-6 (Kompas, 17 November 1982).

Indonesia berhasil naik satu peringkat dengan menduduki urutan ke-6 dengan perolehan 15 medali, yakni 4 emas, 4 perak, dan 7 perunggu. Cabang bulu tangkis dan tenis masing-masing menyumbang dua emas.

Medali emas pertama Indonesia diraih dari cabang tenis beregu putra pada hari ke-6 Asian Games. Tim tenis putra Indonesia terdiri dari Hadiman, Justedjo Tarik, Dinald Wailan Walalangi, dan Tintus Wibowo (Kompas, 25 November 1982).

Medali emas selanjutnya didapatkan dari cabang tenis nomor tunggal putra setelah Yustedjo Tarik menundukkan andalan Korsel, Kim Choon Ho, dengan angka 6-3, 6-7,6-3 di final (Kompas, 2 Desember 1982).

Dua emas selanjutnya diraih dari cabang bulu tangkis. Pasangan ganda putra Christian Hadinata/Icuk Sugiarto mempersembahkan emas setelah menang 15-6 dan 15-8 melawan pasangan China Luan Jin/Lin Jiangli di babak final.

Selanjutnya, emas diperoleh dari pasangan ganda campuran Indonesia dalam laga All Indonesian Final antara Chistian Hadinata/Ivanna Lie melawan Icuk Sugiarto/Ruth Damayanti. Pasangan Christian Hadinata/Ivanna Lie berhasil meraih juara dengan skor 3-15, 15-18, 15-10 (Kompas, 4 Desember 1982).

Prestasi ini menempatkan Indonesia menjadi yang terbaik di jajaran negara-negara ASEAN yang sebelumnya kerap didominasi Thailand dan Filipina. Hal serupa terjadi pada China yang berhasil menjadi terunggul di Asia setelah untuk pertama kalinya meruntuhkan dominasi Jepang. China berhasil mengumpulkan medali terbanyak yakni 61 emas, 51 perak, dan 41 perunggu, sementara Jepang di peringkat ke-2 dengan 57 emas, 52 perak, dan 44 perunggu.

ASIAN GAMES X, Seoul, 1986: Satu Medali Emas
Asian Games X digelar di Seoul, Korea Selatan pada 20 September hingga 5 Oktober 1986. Sejumlah 4.893 atlet dari 27 negara saling berkompetisi memperebutkan 270 medali emas dari 25 cabang pertandingan.

Indonesia mengirimkan 205 atlet yang bertanding di 22 cabang atau seluruh nomor yang final kecuali senam beregu putra (Kompas, 21/9/1986).

Prestasi Indonesia merosot tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Indonesia hanya mampu meraih 1 medali emas, 5 perak, dan 14 perunggu.

Medali emas Indonesia diraih dari cabang tenis. Sedangkan medali perak diperoleh dari cabang balap sepeda, taekwondo kelas layang ringan, taekwondo kelas bantam, taekwondo kelas walter, dan tinju kelas bulu.

Indonesia mendapatkan medali perunggu dari cabang angkat besi kelas 56 kg, bowling (all event), bowling trio putri, bulu tangkis beregu putra, bulu tangkis beregu putri, bulu tangkis ganda putri, bulu tangkis ganda putra, perahu layar kelas divisi II selancar angin, renang 200 meter dada putra, renang estafet 4×100 meter bebas putra, taekwondo kelas terbang, tenis beregu putri, tenis ganda putra, dan tenis ganda campuran (Kompas, 6/10/1986).

Satu-satunya medali emas direbut dari cabang tenis nomor ganda putri setelah Suzanna Anggarkusuma/Yayuk Basuki mengalahkan pasangan Korea Selatan, Kim Il-soon/Lee Jung-soon, 6-3, 6-7 (4-7), 6-4 (Kompas, 2/10/1986).

Di luar tenis, hanya cabang taekwondo yang menampilkan kejutan dari para atlet Indonesia. Dari tujuh atlet taekwondo yang diturunkan, kontingen taekwondo Indonesia menyumbangkan tiga medali perak dan satu medali perunggu (Kompas, 2/10/1986).

Hal ini membuat Indonesia menempati urutan ke-9 dari 27 negara peserta Asian Games X. Di Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan ke-3 setelah Filipina (6) dan Thailand (7).

KOMPAS/KARTONO RYADI
Pemain bulu tangkis putra Indonesia menuai kejayaan di arena bulu tangkis Asian Games XII Hiroshima di Tsuru Memorial Gymnasium, Institut Teknologi Hiroshima dengan merebut medali emas nomor beregu putra. Gambar dari kiri Ardi B Wiranata, Hermawan Susanto, Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Bambang Suprianto, Joko Suprianto, Hariyanto Arbi dan Rudi Gunawan.

Asian Games XI-XV

Asian Games XI, Beijing, 1990: Dua Ganda Yayuk Basuki
Asian Games ke-11 digelar di Beijing, China, pada 22 September hingga 7 Oktober 1990. Total terdapat 6.122 atlet dari 37 negara bertanding dalam 29 cabang olahraga yang memperebutkan 308 medali emas.

Indonesia mengirimkan 75 atlet putra, 51 atlet putri, serta 52 pelatih. Para atlet tersebut bertanding di cabang atletik (13 atlet), anggar (8), angkat besi (12), bulu tangkis (19), dayung (18), panahan (8), renang/loncat indah (9), tenis (12), judo (5), balap sepeda (10), layar (2), tinjut (7), dan menembak (6) (Kompas, 14/9/1990).

Medali pertama bagi Indonesia diperoleh dari cabang angkat besi kelas 48 kilogram. Ponco Ambarwati berhasil memenangkan medali perunggu sebagai medali pertama bagi Indonesia dalam Asian Games XI (Kompas, 24/9/1990).

Sedangkan medali emas pertama untuk Indonesia diperoleh dari cabang tinju. Petinju kelas menengah Indonesia, Pino Bahari, berhasil menang mutlak atas petinju Mongolia Altangerel Bandin dalam babak final (Kompas, 4/10/1990).

Emas selanjutnya diperoleh dari cabang tenis ganda putri. Pasangan Yayuk Basuki/Suzanna Wibowo berhasil mengalahkan pasangan Korsel Lee Jeong-myung/Kim Il-soon dengan skor 6-2 dan 6-1 di babak final (Kompas, 5/10/1990).

Medali emas ketiga Indonesia juga diraih dari cabang tenis. Pasangan ganda campuran Indonesia Yayuk Basuki/Suharyadi memenangkan pertandingan melawan pasangan Korsel Kim Il Soon/Yoo Jin Sun dengan skor 6-3, 3-6, 6-3 (Kompas, 6/10/1990).

Asian Games X ini dikuasai oleh China dengan perolehan 183 medali emas, terpaut jauh dari posisi nomor dua Korsel dengan 54 medali emas (Kompas, 8 /10/1990).

Di ajang ini, Indonesia meraih total 30 medali, yakni 3 emas, 6 perak, dan 21 perunggu. Hal ini mengantarkan Indonesia menempati ke-7 dari 37 negara peserta. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi pertama, diikuti Thailand (peringkat ke-9), Malaysia (10), dan Filipina (13) (Kompas, 8/10/1990).

Asian Games XII, Hiroshima, 1994: Masih Dari Bulu tangkis
Asian Games XII diselenggarakan di Hiroshima, Jepang, dari tanggal 2 hingga 16 Oktober 1994. Sebanyak 6.828 atlet dan ofisial dari 42 negara tercatat ikut berpartisipasi memperebutkan 337 medali emas dalam 34 cabang olahraga. Indonesia mengirimkan 139 atletnya ke Asian Games XII ini.

Bendera Merah Putih pertama kali berkibar di Asian Games XII saat Omita Ompi berhasil meraih medali perak dari cabang karate nomor perseorangan putri (Kompas, 4 Oktober 1994).

Lagu “Indonesia Raya” akhirnya berkumandang di Hiroshima setelah regu bulu tangkis putra Indonesia berhasil mengalahkan regu Korea Selatan dengan skor 5-0 (Kompas, 10 Oktober 1994).

Dua tambahan medali emas kembali diraih dari cabang bulu tangkis, yakni dari nomor tunggal putra dan ganda putra. Final tunggal putra bulu tangkis mempertemukan dua pemain Indonesia, Joko Suprianto dan Heryanto Arbi. Heryanto Arbi berhasil mengalahkan Joko Suprianto dengan angka 15-7, 15-1. Sedangkan pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky meraih emas setelah mengalahkan pasangan Malaysia Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang dengan angka 15-10, 15-2 (Kompas, 16 Oktober 1994).

Di Asian Games XII ini, China berhasil mengungguli tuan rumah Jepang dengan meraih 126 medali emas, 83 perak, dan 58 perunggu. Sementara, Jepang berada di posisi kedua dengan perolehan 64 medali emas, 75 perak, dan 79 perunggu.

Indonesia berhasil mendapatkan 26 medali, yakni 3 emas, 12 perak, dan 13 perunggu. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-10 dari 42 negara peserta. Dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia berada di posisi ke-2 setelah Malaysia yang duduk di posisi ke-8.

Asian Games XIII, Bangkok, 1998: Jumlah Emas Sesuai Target
Asian Games XIII digelar di Bangkok, Thailand, pada tanggal 6 hingga 20 Desember 1998. Atlet yang berpartisipasi berjumlah 6.554 orang dari 42 negara peserta yang bertanding dalam 36 cabang olahraga.

Indonesia memasang target 6 medali emas, 14 perak, dan 23 perunggu dalam ajang ini. Enam medali emas ditargetkan dari cabang bulu tangkis (2), karate (1), taekwondo (1), dan tenis (2) (Kompas, 6/12/1998).

Emas pertama diraih dari cabang bulu tangkis saat regu bulu tangkis putra Indonesia mengalahkan China di babak final (Kompas, 12/12/1998).

Emas selanjutnya diperolah dari cabang selancar angin yang tak diunggulkan mendulang emas. Atlet selancar angin Indonesia, Oka Sulaksana, berhasil mengumpulkan angka tertinggi setelah protesnya dikabulkan oleh panitia (Kompas, 14/12/1998).

Petenis putri andalan Indonesia, Yayuk Basuki, juga berhasil menambah medali emas bagi Indonesia. Ia meruntuhkan harapan tuan rumah dengan mengalahkan Tamarine Tanasugarn dalam babak final tenis tunggal putri dengan angka 6-4, 6-2 (Kompas, 18/12/1998).

Pasangan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky menambah medali emas bagi Indonesia dengan mengalahkan Siripong Siripool/Pramote Teerawiwatana di pertandingan final bulu tangkis ganda putra.

Medali emas kelima diperoleh dari cabang karate. Karateka Indonesia, Arief Taufan Syamsudin, secara tak terduga sukses meraih emas bagi Indonesia. Ia menang telak atas lawannya, Fakhruddin Taher dari Emirat Arab, di babak final nomor kumite kelas 60 kilogram (Kompas, 18/12/1998).

Dari cabang yang tak diunggulkan mendapat emas, atletik, Indonesia berhasil menambah satu medali emas. Atlet Supriati Sutono merebut medali emas nomor lari putri 5.000 meter Asian Games XIII (Kompas, 19/12/1998).

Di Asian Games XIII ini, Indonesia berhasil memenuhi target enam emas walaupun tak berasal dari cabang yang direncanakan. Indonesia berhasil memperoleh 27 medali, 6 emas, 10 perak, dan 11 perunggu. Meski jumlah medali emasnya meningkat, tetapi peringkat Indonesia turun satu peringkat, yakni di posisi ke-11 dari 42 negara peserta.

Thailand sebagai tuan rumah berada di posisi ke-4 atau tertinggi di Asia Tenggara dengan 24 emas, 26 perak, dan 40 perunggu. Sementara, Indonesia yang berada di urutan ke-11 berada di posisi kedua tertinggi di negara-negara Asia Tenggara diikuti Malaysia dan Singapura.

Asian Games XIV, Busan, 2002: Jauh dari Target
Asian Games XIV dilaksanakan di Busan (Pusan), Korea Selatan, pada 29 September hingga 14 Oktober 2002. Total terdapat 6.572 atlet dari 44 negara peserta yang berkompetisi dalam 38 cabang olahraga .

Kontingen Indonesia diberi target 15 medali emas dalam gelaran Asian Games ke-14 ini (Kompas, 29/9/2002).

Emas pertama bagi Indonesia diraih dari cabang tenis beregu putri. Tim tenis putri Indonesia mempersembahkan medali emas setelah di final mengalahkan Jepang 2-1. Tim ini terdiri dari Angelique Widjaja, Wynne Prakusya, Liza Andriyani, dan Wukirasih Sawondari (Kompas, 6/10/2002).

Emas kedua dipastikan dari cabang selancar angin nomor mistral kelas berat putra. Atlet selancar angin Indonesia, Oka Sulaksana, tak harus menyelesaikan race terakhirnya untuk mendapatkan emas karena nilai Oka sudah tidak mungkin dikejar lawan-lawannya (Kompas, 10/10/2002).

Karateka Indonesia, Muhammad Hasan Basri, menambah perolehan medali emas Indonesia dengan mengalahkan Mehdi Amouzadeh dari Iran di babak final kumite kelas -65 kilogram (Kompas, 13/10/2002).

Emas keempat diperoleh dari cabang bulu tangkis nomor tunggal putra. Taufik Hidayat berhasil menumbangkan Lee Hyun-il dari Korea Selatan dengan angka 15-7, 15-9 (Kompas, 15/10/2002).

Pada Asian Games 2002 ke-14 di Busan, Korea Selatan, Indonesia meraih 4 medali emas, 7 perak, dan 12 perunggu, jauh dari target yang diberikan, 15 emas.

Perolehan medali tersebut menempatkan Indonesia di urutan ke-14 peraih medali di bawah dua negara Asia Tenggara lain, Singapura dan Malaysia.

Asian Games XV, Doha, 2006: Pemerintah Mengaku Gagal
Asian Games XV diselenggarakan di Doha, Qatar, pada 1 hingga 15 Desember 2006. Terdapat 39 cabang olahraga yang dipertandingkan yang diikuti oleh 9.520 atlet dari 45 negara peserta.

Indonesia memberangkatkan 131 atlet yang berlaga pada 84 nomor pertandingan di 20 cabang olahraga. Saat berangkat ke ajang tersebut, kontingen Indonesia menargetkan 4 emas, 7 perak, dan 12 perunggu (Kompas, 19/12/2006).

Medali pertama diraih Indonesia saat peboling Putty Insavilla Armein merebut perak dalam nomor boling tunggal putri (Kompas, 4/12/2006). Sedangkan, medali emas pertama juga didapatkan dari cabang boling, yakni dari nomor tunggal putra oleh peboling Ryan Leonard Lalisang (Kompas, 5/12/2006).

Perolehan emas Indonesia bertambah setelah Taufik Hidayat berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya, Lin Dan, dalam partai final bulu tangkis tunggal putra (Kompas, 10/12/2006).

Di akhir Asian Games berlangsung, Indonesia berhasil mengumpulkan 20 medali, yakni 2 emas, 3 perak, dan 15 perunggu. Hal ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-22 dari 45 negara peserta.

Dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara lain yang menjadi peserta Asian Games, Indonesia berada di peringkat terbawah. Indonesia berada di bawah Thailand (peringkat 5), Malaysia (11), Singapura (12), Filipina (18), dan Vietnam (19).

Dengan hasil tersebut, Menpora Adhyaksa Dault mengakui bahwa Indonesia gagal di Asian Games 2006 (Kompas, 15/12/2006).

KOMPAS/KORANO NICOLASH LMS
Memborong Tiga Emas sekaligus–yang dilakukan Tim Perahu Naga Putra Indonesia, mengejutkan tidak hanya tim lawan-lawannya, tetapi juga tuan rumah China yang merupakan tim paling kuat pada kategori putra maupun putri cabang ini, yang digelar di Zengcheng Dragon Boat Lake, Guangdong, China, Sabtu (20/11/2010).

Asian Games XVI-XVIII

Asian Games, XVI, Guangzhou, 2010: Rekor Perahu Naga
Asian Games XVI digelar di Guanzhou, China, pada 12 hingga 27 November 2010. Sebanyak 9.704 atlet berpartisipasi dari 45 negara peserta yang bertanding di 42 cabang olahraga.

Dalam ajang ini, Indonesia mengirimkan 214 atlet (122 putra dan 92 putri) yang berkompetisi dalam 26 cabang olahraga.

Dua medali pertama Indonesia diperoleh dari cabang wushu dan angkat besi. Ivana Ardelia yang turun di cabang wushu menyumbangkan medali perak. Sedangkan Jadi Setiadi mendapatkan medali perunggu di cabang angkat besi (Kompas, 14/11/2010).

Medali emas pertama Indonesia diperoleh dari cabang perahu naga yang sempat tidak dimasukkan KONI dalam daftar kontingen Indonesia ke Asian Games XVI. Tim putra perahu naga berhasil meraih emas dalam nomor 1.000 meter straight race dengan catatan waktu 3 menit 32,016 detik (Kompas, 19/11/2010).

Tim perahu naga putra Indonesia kembali menambah medali emas dengan memenangkan nomor 500 meter straight race.(Kompas, 20/11/2010)

Tim yang sama juga mempersembahkan emas dalam nomor 250 meter straight race. Hasil tersebut membuat Indonesia memecahkan rekor sebagai negara di Asia yang mampu meraih tiga emas cabang perahu naga sekaligus dalam satu kali Asian Games (Kompas, 21/11/2010).

Medali emas keempat diperoleh Indonesia dari cabang bulu tangkis. Pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan meraih emas setelah mengalahkan pasangan peringkat satu dunia dari Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dengan angka 16-21, 26-24, 21-19 (Kompas, 21/11/2010).

Asian Games 2010 dimenangkan oleh China sebagai juara umum dengan perolehan 199 medali emas, 119 perak, dan 98 perunggu. Posisi kedua ditempati oleh Korsel dengan 76 medali emas, 65 perak, dan 91 perunggu. Jepang menyusul di urutan ketiga dengan perolehan 48 medali emas, 74 perak, dan 94 perunggu.

Indonesia memperoleh 26 medali, yakni 4 emas, 9 perak, dan 13 perunggu. Di Asian Games kali ini, peringkat Indonesia meningkat dengan duduk di urutan ke-15. Dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia berada di posisi ke-3 setelah Thailand dan Malaysia (Kompas, 28/11/2010).

Asian Games XVII, Incheon, 2014: Lompat Jauh Di Luar Perkiraan
Asian Games XVII digelar di Incheon, Korea Selatan, pada 19 September hingga 4 Oktober 2014. Sebanyak 9.501 atlet dari 45 negara bertanding dalam 36 cabang olahraga.

Indonesia mengirimkan 306 kontingen yang bertanding di 23 cabang olahraga ke ajang ini dengan target sembilan emas dan masuk sepuluh besar (Kompas, 18/9/2014).

Dua medali pertama Indonesia diperoleh dari cabang wushu dan angkat besi. Juwita Niza Wasni meraih medali perak dari cabang wushu nomor jurus nandao (golok) dan nanquan (pukulan tangan kosong). Sedangkan, Sri Wahyuni berhasil meraih perak dari cabang angkat besi kelas 48 kilogram putri (Kompas, 21/9/2014).

Ganda putri bulu tangkis Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari mempersembahkan medali emas pertama bagi Indonesia. Pasangan tersebut mengalahkan pasangan Jepang yang menjadi unggulan pertama, Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo, di babak final dengan angka 21-15, 21-9 (Kompas, 28/9/2014)

Indonesia kembali meraih emas dari cabang bulu tangkis setelah pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memenangkan pertandingan melawan ganda putra tuan rumah, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, 21-16, 16-21, 21-17 (Kompas, 29/9/2014).

Medali emas ketiga bagi Indonesia diperolah dari cabang lompat jauh. Atlet lompat jauh Indonesia, Maria Natalia Londa, berhasil mempersembahkan medal emas dengan lompatan sejauh 6,55 meter (Kompas, 30/9/2014).

Indonesia mendapatkan medali emas keempat setelah peraih medali emas wushu dari Malaysia, Tai Cheau Xuen, gagal dalam tes doping dan didiskualifikasi. Medali emas pun jatuh ke tangan Juwita Niza Wasni yang sebelumnya meraih medali perak (Kompas, 6/10/2014).

Juara umum Asian Games XVII ini adalah China dengan perolehan 151 medali emas, 108 perak, dan 83 perunggu. Posisi selanjutnya ditempati oleh Korea Selatan disusul Jepang.

Indonesia gagal mencapai target sembilan medali emas dan posisi sepuluh besar. Sejumlah 20 medali diperoleh Indonesia, yang terdiri dari 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Di ajang ini, Indonesia menduduki peringkat ke-17 dari 45 negara peserta (Kompas, 8/10/2014).

Pencapaian Indonesia di Asian Games XVII terbilang stagnan bahkan bisa disebut mengalami penurunan dibanding pada Asian Games XVI di Guangzhou (2010). Indonesia sama-sama meraih empat emas dari Asian Games sebelumnya, tetapi berkurang dari sisi total medali (20 dibanding 26).

Dibandingkan negara-negara ASEAN, prestasi Indonesia turun satu peringkat menjadi peringkat keempat. Indonesia kalah dari tiga negara sesama negara se-Asia Tenggara, yakni Thailand yang berada di urutan kelima dengan total 47 medali, Malaysia di posisi ke-14 dengan 33 medali, dan Singapura pada urutan ke-15 dengan 24 medali.

Kemenpora mengaku bertanggung jawab atas kegagalan kontingen Indonesia mencapai target (Kompas, 7/10/2014).

Asian Games XVIII, Jakarta-Palembang, 2018: Pencak Silat Lumbung Emas

Tahun 2018, Indonesia menjadi tuan rumah di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ke-18. Event yang digelar pada 18 Agustus sampai 2 September 2018 ini, adalah kedua kalinya Indonesia sebagai tuan rumah.

Acara digelar di Jakarta dan Pelembang untuk mempertandingkan 40 cabang olahraga yang memperebutkan 1.552 medali, 465 di antaranya medali emas. Sebanyak 11.300 atlet dari 45 negara ikut berpartisipasi dalam ajang ini. Indonesia menjadi negara yang mengirimkan paling banyak atletnya, yakni 938 atlet.

Medali pertama Indonesia diperoleh dari cabang wushu. Atlet wushu Edgar Xavier Marvelo (19) berhasil memperoleh medali perunggu dalam nomor changquan wushu putra (Kompas, 20/8/2020). Sedangkan, medali emas pertama bagi Indonesia dipersembahkan oleh atlet Defia Rosmaniar dari cabang taekwondo nomor disiplin poomsae. Sejak taekwondo dipertandingkan pada Asian Games Seoul 1986, baru kali ini cabang taekwondo mempersembahkan emas bagi Indonesia (Kompas, 20/8/2018).

Indonesia meraih total 98 medali dengan rincian 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Medali emas Indonesia diperoleh dari cabang pencak silat (14), panjat tebing (3), bulu tangkis (2), balap sepeda MTB downhill (2), paralayang (2), taekwondo (1), wushu (1), karate (1), angkat besi (1), dayung (1), tenis (1), dan jetski (1), dan sepak takraw (1) (Kompas, 2/9/2018).

Total perolehan medali Indonesia kali ini merupakan perolehan terbanyak sepanjang keikutsertaan dalam ajang Asian Games. Hal itu menempatkan Indonesia di urutan ke-4 dari 45 negara peserta, tertinggi dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara lain. Thailand yang pada ajang-ajang sebelumya kerap berada di atas Indonesia, kini menempati peringkat ke-12, disusul Malaysia (14), Vietnam (17), Singapura (18), dan Filipina (19).

Selain disebabkan perbedaan jumlah negara peserta, naik turunnya prestasi Indonesia di ajang Asian Games turut diwarnai oleh persoalan biaya dan pembinaan atlet. (LITBANG KOMPAS)

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Presiden joko Widodo mengalungkan medali emas kepada atlet taekwondo putri Indonesia, Rosmaniar Defia, setelah di final kelas individual pomsae wanita berhasil mengalahkan atlet taekwondo putri Iran di Balai Sidang, Senayan, Jakarta, Minggu (19/8/2018). Rosmaniar menyumbangkan emas Asian Games 2018 pertama bagi Indonesia.

Referensi

Arsip Kompas
Buku
  • Harahap, Sorip. 1987. Asian Games I-X: Riwayat Singkat dan Perkembangannya. Jakarta: KONI Pusat.
Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close