Paparan Topik | Ekonomi Digital

Metaverse: Dimensi Kehidupan Virtual Buatan Manusia

Metaverse menjadi topik pembicaraan hangat masyarakat dunia setelah CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengubah nama Facebook menjadi Meta dan mengumumkan proyek metaverse. Tidak hanya Meta, perusahaan-perusahaan besar lain pun juga tengah bersaing mengembangkan metaverse.

KOMPAS/HARYO DAMARDONO

Suasana taman di Gedung MPK 21 Facebook di Menlo Park, California, Kamis (13/6/2019). Taman ini juga digunakan untuk bekerja dengan akses Wifi super cepat. Facebook bahkan membangun rooftop dengan taman luas sehingga pegawai Facebook dapat berjalan keliling taman.

Fakta Singkat

Metaverse

  • Metaverse adalah aspek sosial dari game, virtual reality (VR), augmented reality (AR), dan mata uang digital yang memungkinkan individu berinteraksi dengan satu sama lain secara virtual.
  • Karakteristik metaverse: tak terbatas, terus-menerus, terdesentralisasi, ekonomi virtual, dan pengalaman sosial.
  • Mata uang yang digunakan dalam metaverse: Kripto.
  • Sektor-sektor dalam metaverse: korporat, gaming, hiburan, dan real-estate.
  • Teknologi yang digunakan dalam mengembangkan metaverse: extended reality (XR) yang merupakan perpaduan dari virtual reality (VR), augmented reality (AR), dan mixed reality (MR).
  • Beberapa perusahaan raksasa dunia yang tengah bersaing dalam proyek metaverse: Meta, Epic Games, Microsoft, Roblox, dan Nvidia.

Apa itu Metaverse?

Metaverse bukan merupakan istilah baru, melainkan sudah terlebih dahulu diperkenalkan oleh penulis science-fiction Neal Stephenson pada tahun 1989 melalui novelnya yang berjudul Snow Crash. Stephenson menjelaskan terminologi metaverse sebagai ruang virtual tiga dimensi.

Meskipun belum semua platform mengusung teknologi tiga dimensi, namun saat ini sudah banyak platform metaverse yang dapat digunakan seperti Roblox, Fortnite, Sandbox, Decentraland, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan besar dunia berlomba-lomba mengembangkan metaverse untuk “curi start” agar dapat memikat masyarakat duluan sehingga mendapat permintaan yang tinggi.

Pada 28 Oktober 2021, Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook Inc resmi mengubah nama Facebook menjadi Meta Platform Inc. Selain menaungi anak buah perusahaan Facebook sebelumnya dalam satu brand, Meta mempunyai visi, yaitu membawa metaverse ke dalam kehidupan nyata dengan tujuan membantu manusia menghubungkan, bersosialisasi, dan mengembangkan bisnis.

Penggantian nama dan pengenalan metaverse ini dengan cepat menjadi trending topic dan perbincangan dunia. Google Trends mencatat bahwa semenjak Zuckerberg mengenalkan Meta dan metaverse pada periode 24–30 Oktober 2021, angka pencarian dengan kata kunci “metaverse” melonjak berlipat-lipat.

Metaverse membuka gerbang menuju era baru yang lebih modern dari sebelumnya, yakni World Wide Web 3.0 atau semantic webSemantic web adalah model halaman website generasi ketiga yang mampu melakukan integrasi data dalam bentuk metadata.

Selain itu, semantic web juga merupakan kombinasi ataupun perpaduan dari berbagai teknologi di dalamnya. Metaverse tidak berdiri sendiri, melainkan akan memadukan teknologi Web 3.0 lainnya seperti blockchain, Non-Fungible Token (NFT), cryptocurrency, dan lain-lain.

Mark Zuckerberg juga menyebut metaverse sebagai internet yang dikembangkan. Metaverse merupakan aspek sosial, game, virtual reality (VR), augmented reality (AR), dan mata uang digital yang memungkinkan individu berinteraksi dengan satu sama lain secara virtual. Dalam metaverse, pengguna dapat melakukan aktivitas layaknya kehidupan nyata seperti hangout bersama teman-teman, bekerja, menonton konser, dan masih banyak lagi aktivitas lainnya.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Kepala Kebijakan Produk Facebook Monika Bickert (kanan) menyampakan kebijakan dan standar komunitas Facebook di Kantor Facebook Singapura, Selasa (13/11/2018).

Karakterikstik Metaverse

Salah satu perusahaan media, Sensorium, memaparkan bahwa Metaverse mempunyai karakteristik tak terbatas, terus-menerus, imersif, terdesentralisasi, ekonomi virtual, dan pengalaman bersosial.

  • Tak Terbatas

Sebagai ruang virtual tiga dimensi, metaverse meniadakan adanya batasan fisik. Metaverse terdiri dari ruang yang tidak terbatas berapapun penggunanya dan dapat digunakan dalam waktu yang sama, tidak ada batasan apapun.

  • Terus-Menerus

Metaverse tidak dapat dicabut ataupun diulang. Pengguna dapat bebas memasuki dunia virtual dan dunia tersebut terjadi secara terus-menerus.

  • Terdesentralisasi

Metaverse tidak dikontrol oleh korporat ataupun organisasi manapun, melainkan seluruh penggunanya. Teknologi blockchain berperan besar dalam mengontrol metaverse.

  • Imersif

Salah satu karakteristik metaverse adalah imersif yakni teknologi yang mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital. Metaverse dirancang se-realistis mungkin sehingga akan mengadaptasi lingkungan, objek, warna, pencahayaan, dan lain-lain layaknya dunia nyata.

  • Ekonomi Virtual

Selain menggunakan blockchain sebagai penyimpanan data, metaverse akan memanfaatkan teknologi cryptocurrency sebagai mata uang.

  • Pengalaman Sosial

Titik berat metaverse adalah pengguna. Seluruh partisipan di dunia virtual berpean penting dalam menciptakan dan mengembangkan masa depan metaverse melalui user-generated content.

Baca juga: Facebook Ganti Nama, Lomba Teknologi ”Metaverse” Dimulai

KOMPAS/HARYO DAMARDONO

Suasana kerja di Gedung MPK 21 Facebook di Menlo Park, California, Rabu (12/6/2019). Pegawai Facebook bekerja di ruang yang terbuka tanpa sekat-sekat.

.

Sektor-sektor Metaverse

Sensorium juga menyatakan bahwa di dalam dunia virtual metaverse terdapat sektor-sektor tersendiri. Sektor-sektor tersebut adalah korporat, gaming, hiburan, dan real-estate.

  • Korporat

Semenjak adanya Pandemi Covid-19, masyarakat mulai terbiasa untuk melakukan pekerjaan jarak jauh dan fleksibel melalui virtual meeting. Metaverse hadir untuk melengkapi ataupun mengembangkan virtual meeting tersebut menjadi lebih advanced dari sebelumnya.

  • Gaming

Sektor gaming di metaverse sebenarnya bukan merupakan hal yang lumrah. Hal ini dikarenakan saat ini sudah tersedia gaming metaverse yang lebih sederhana seperti Axie Infinity, Sandbox, Illuvium, dan Decentraland.

  • Hiburan

Dalam sektor hiburan, banyak aktivitas yang dapat dilakukan di metaverse seperti bersosialiasi dengan pengguna lain, konser virtual, dan lain-lain.

  • Real-Estate

Di metaverse, pengguna juga dapat membeli properti virtual yang dilindungi oleh sertifikat kepemilikan.

Dalam menyelam ke lautan metaverse, pengguna memerlukan headset VR khusus metaverse yang digunakan sebagai perantara. Salah satu headset VR yang akan digunakan adalah Oculus Quest 2 milik Meta Platforms Inc, sedangkan headset-headset lainnya masih dalam tahap pengembangan. Headset VR tersebut akan menggunakan teknologi yang disebut extended reality (XR) dan merupakan gabungan dari augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan mixed reality (MR).

Baca juga: ”Metaverse” Economy

KOMPAS/AMIR SODIKIN

Seorang pengunjung sedang menikmati teknologi realitas tertambahkan atau augmented reality dari sebuah produk di Pameran Augmented Reality pada Jumat (15/6/2012). Pameran pertama di Asia ini digelar di kampus Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Pengembangan Metaverse

Terdapat perusahaan-perusahaan besar yang sedang mengembangkan proyek metaverse yakni Meta (Facebook), Epic Games, Microsoft, Roblox, dan Nvidia.

  • Meta

Sebelum mengganti nama Facebook menjadi Meta, Mark Zuckerberg selaku CEO menekankan kepada seluruh karyawannya bahwa ia mempunyai ambisi dan visi baru melebihi sekadar perusahaan sosial media, yaitu proyek metaverse.

Pada 28 Oktober 2021, Zuckerberg resmi memperkenalkan Meta. Demi menunjukkan usaha dan menarik perhatian masyarakat, Zuckerberg mengganti perusahaan mereka sebelumnya dengan nama Meta dengan harapan proyek metaverse miliknya menjadi pilihan masyarakat. Diketahui Meta mengucurkan pengeluaran sebanyak 10 miliar dolar demi menyukseskan metaverse.

  • Epic Games

Tim Sweeney selaku CEO Epic Games yang terkenal dengan proyek video gim Fortnite juga mengemukakan niatnya untuk  proyek metaverse. Fortnite yang mulanya hanya menyajikan video gim bertajuk battle royale kemudian memperluas produk-produknya seperti menyelenggarakan konser. Hal ini yang mendorong Tim Sweeney untuk mengembangkan metaverse versinya.

  • Microsoft

Microsoft juga tengah mengembangkan proyek metaverse miliknya yang dinamakan Mesh dan termasuk ke dalam platform Microsoft Teams. Pandemi yang terjadi selama beberapa tahun terakhir memaksa karyawan untuk melakukan remote working. Maka dari itu, Microsoft lebih berfokus kepada corporate-oriented metaverse dengan harapan karyawan-karyawan dapat bertemu lagi dengan koleganya meski secara virtual.

  • Roblox

Perusahaan gaming Roblox juga terlibat dalam mengembangkan metaverse ke dalam game Roblox. Craig Donato, Chief Business Officer Roblox mengemukakan bahwa fokus Roblox yaitu fitur pengguna yang dapat membuat avatar mereka sendiri, kehidupan sosial virtual, dan dapat melakukan transaksi secara digital menggunakan kripto yang disebut Robux ketimbang berpatokan dengan teknologi VR dan AR.

  • Nvidia

Perusahaan teknologi multinasional Nvidia juga berpartisipasi aktif dalam persaingan metaverse. Nvidia memperkenalkan NVIDIA Omniverse sebagai proyek metaverse-nya. Dilansir dari laman resmi Nvidia, Omniverse merupakan platform tanpa batas dan dibuat untuk kolaborasi virtual dan simulasi digital secara real-time. Baik kreator, designer, peneliti, ataupun engineer dapat menggunakan Omniverse dengan mengkolaborasikan design tools, aset, ataupun proyek di ruang virtual.

Baca juga: Metaverse dan Masa Depan Nasionalisme

KOMPAS/MEDIANA

Suasana area duduk di kantor Facebook Indonesia (18/5/2018).

Metaverse: Blockchain, Non-Fungible Token (NFT), dan Kripto

Pengembangan Web 3.0 tidak serta-merta berdiri sendiri, melainkan berkaitan satu sama lain. Metaverse membutuhkan teknologi Web 3.0 lainnya agar bisa berfungsi dengan baik. Blockchain, NFT, dan kripto merupakan beberapa di antaranya.

Blockchain adalah teknologi yang memanfaatkan komputasi untuk membuat kelompok-kelompok atau blok terhubung satu sama lain. Blok-blok ini berisi catatan transaksi dan melacak aset dari sebuah jaringan bisnis. Berbeda dengan bank yang tersentralisasi, blockchain mempunyai sifat terdesentralisasi sehingga tidak terpusat ke satu pihak saja. Saat ini blockchain banyak digunakan sebagai penyimpanan mata uang kripto, namun besar kemungkinan metaverse akan menggunakan teknologi blockchain juga.

Penelitian yang dilakukan Lik-Hang Lee, Tristan Braud, dkk dalam jurnal yang berjudul “All One Needs to Know about Metaverse: A Complete Survey on Technological Singularity, Virtual Ecosystem, and Research Agenda” mengemukakan bahwa blockchain mempunyai karakteristik data storage, data sharing, dan data interoperability yang berperan secara signifikan terhadap jalannya metaverse.

Metaverse akan membutuhkan data pribadi pengguna yang sangat banyak sehingga sangat tidak memungkinkan jika data tersebut hanya dikelola satu pihak. Blockchain di sini berperan dalam menyimpan data pengguna metaverse yang sangat banyak tersebut, hal itu yang menjadikan salah satu karakteristik blockchain, yakni data storage.

Selain itu, blockchain juga mempunyai karakteristik data sharing yang mana masing-masing pengguna secara anonim menyimpan data pengguna yang lain sehingga data tersebut tersebar. Meski privasi dapat dikatakan aman, namun blockchain juga menimbulkan konflik baru, yakni membuka jalan bagi perangkat lain untuk membuka data. Seperti contoh bank dan perusahaan asuransi tidak mempunyai data pelanggan-nya, namun mereka mempunyai data satu sama lain yang kemudian muncul transaksi jual-beli data. Hal ini yang dinamakan data interoperability dan dapat terjadi dalam metaverse.

Selain blockchain, Non-Fungible Token (NFT) juga akan berperan penting dalam semesta metaverse. NFT merupakan aset digital yang berbentuk karya senin ataupun barang-barang koleksi yang dapat dipergunakan untuk membeli sesuatu secara virtual. Karya-karya NFT dapat dibeli di marketplace seperti OpenSea, Mintable, Rarible, dan Nifty Gateway.

Karya-karya yang dijual secara digital melalui NFT dapat digunakan di metaverse. Seperti misalnya jika terdapat pameran lukisan virtual, karya-karya digital NFT dapat dipajang di pameran tersebut dan masih banyak lagi.

Kripto akan digunakan sebagai mata uang yang digunakan dalam metaverse. Kripto pun digunakan sebagai alat pembayaran di metaverse saat ini seperti The Sandbox, Decentraland, dan lain-lain. The Sandbox misalnya, game berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna menjelajahi dunia virtual ini sudah menggunakan Ethereum (ETH) dan token Sandbox (SAND) sebagai mata uang yang termasuk ke dalam kripto. Kedepannya, metaverse tetap akan menggunakan kripto sebagai mata uang.

Baca juga: Untung atau Buntung di Dunia Kripto

Pemerintah-pemerintah dunia menyambut antusias fenomena metaverse. Pemerintah Kota Seoul, Korea Selatan mengumumkan rencana mengembangkan kota dengan metaverse. Seoul akan memadukan berbagai fasilitas umum dengan metaverse, seperti warga Seoul dapat mengunjungi museum ataupun pusat kota secara virtual. Negara-negara dunia juga berlomba-lomba mengembangkan metaverse-nya sendiri.

Di Cina, perusahaan teknologi Baidu merilis aplikasi virtual reality (VR) yang mengisyaratkan fokusnya untuk membuat metaverse versinya sendiri. Indonesia pun turut meramaikan persaingan metaverse setelah Presiden Jokowi menunjuk CEO WIR Group, Michael Budi untuk memimpin proyek metaverse versi Indonesia. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Jurnal
error: Content is protected !!