Paparan Topik | Virus Korona

Meneropong Varian Baru Virus Korona

Mutasi virus korona mendapat perhatian WHO karena penularannya relatif lebih tinggi. Penemuan kasus Covid-19 dari mutasi virus baru di Indonesia menguatkan sinyal kewaspadaan agar protokol kesehatan lebih diperketat guna mencegah peningkatan kasus.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Warga menunggu bus transjakarta seusai pulang kerja di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (6/1/2021). Tingginya angka harian kasus positif Covid-19 di Tanah Air serta temuan varian baru virus SARS-Cov-2 yang disebut lebih cepat menular membuat pemerintah memutuskan untuk memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jawa dan Bali.

Fakta Singkat
Mutasi virus adalah perubahan pada materi genetik virus yang dapat memengaruhi struktur atau cara kerja virus.

Kasus Varian Baru di Indonesia
• B.1.1.7 dari Inggris
• B.1.617 dari India
• B.1.351 dari Afrika Selatan

Whole Genome Sequencing adalah teknik komprehensif yang digunakan dalam proses pengurutan sekuens DNA menjadi suatu gambaran genom utuh.

Pelacakan kontak merupakan kunci utama memutus rantai transmisi.

Protokol 5M:
• Mencuci Tangan
• Menggunakan Masker
• Menjaga Jarak
• Menjauhi Kerumunan
• Mengurangi Mobilitas

Awal Januari 2021, sejumlah ahli menyebut varian baru virus korona mulai menyebar ke seluruh wilayah Inggris dan sejumlah negara. Sampel varian ini berasal dari seseorang yang tinggal di daerah Canterbury, Kent, wilayah tenggara Inggris pada September 2020. Organisasi Kesehatan Dunia mengonfirmasi hal ini melalui The Covid-19 Genomics UK Consortium (COG-UK).

Menurut Public Health England temuan itu awalnya hanya menyebar di sebagian kecil masyarakat sejak September 2020 hingga pertengahan November 2020. Kasus ini mulai terkuak saat angka infeksi di Kent tetap tinggi kendati sudah ada karantina wilayah atau lockdown lokal, yang kemudian terus menyebar ke London dan Essex. Temuan inilah yang kemudian populer sebagai varian B.1.1.7. Di kawasan Asia Pasifik varian B.1.1.7 kemudian ditemukan di 35 negara, di antaranya Australia, Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan dalam rilisnya menyebutkan per 3 Mei 2021 ditemukan 13 kasus Covid-19 varian mutasi virus dari Inggris (B.1.1.7), 2 kasus COVID-19 varian mutasi virus dari India (B.1.617), dan 1 kasus Covid-19 varian mutasi virus dari Afrika Selatan (B.1.351).

AFP/PAUL ELLIS
Layanan kesehatan nasional Inggris (NHS) membuka layanan pengujian berkendara di bekas lokasi Park and Ride di Southport, Inggris. Layanan tersebut merupakan bagian dari penambahan pengujian untuk mencegah penyebaran varian baru virus korona.

Apa itu Mutasi Virus?

Dalam laman Covid19.go.id dijelaskan mutasi virus atau varian baru virus adalah hal yang lazim ditemui dalam masa pandemi.

Mutasi virus adalah perubahan pada materi genetik virus yang dapat memengaruhi struktur atau cara kerja virus. Hal ini bisa terjadi saat virus sedang mereplikasi dirinya di dalam sel tubuh manusia. Virus anakan tidak sama dengan induk virus (parental strain). Virus korona atau SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 merupakan jenis virus RNA (ribonucleic acid), yaitu virus dengan materi genetik berantai tunggal.

Karena strukturnya ini, virus RNA diketahui lebih mudah mengalami mutasi. Meski begitu, frekuensi mutasi virus korona diketahui cukup stabil, bahkan tidak lebih cepat daripada virus influenza yang terkenal sangat sering bermutasi hingga vaksinnya perlu diganti setiap tahun.

Mutasi virus korona sudah terjadi beberapa kali. Akan tetapi, perubahan yang terjadi tidak menyebabkan dampak yang signifikan sehingga tidak memerlukan perhatian khusus.

Pada September 2020 para peneliti di berbagai negara menemukan mutasi D614G yang menyebabkan perubahan pada bagian protein spike, yaitu protein yang membentuk mahkota virus korona. Singkatnya, pada awal kemunculannya, mahkota virus korona memiliki protein yang bernama D614. Lambat laun, struktur protein ini berubah menjadi G614 akibat mutasi.

Beberapa studi menyatakan bahwa mutasi ini membuat SARS-CoV-2 jadi lebih mudah menular. Namun, kebenarannya masih terus diteliti. Penelitian memang menunjukkan bahwa orang yang tertular virus korona dengan mutasi D614G memiliki jumlah virus yang lebih banyak di dalam tubuhnya. Meski begitu, hal ini belum tentu membuat virus jadi lebih mudah menyebar. Salah satu studi menyatakan intensitas dan jumlah virus ditubuh dapat mempermudah dan menambah keakuratan deteksi virus korona melalui swab test dan tes PCR.

Baca juga: Mengapa Varian Baru Covid-19 Lebih Berbahaya

Meski virus korona yang sudah bermutasi lebih mudah memperbanyak diri di dalam tubuh, beragam studi penelitian belum menemukan bukti bahwa mutasi virus ini dapat menyebabkan gejala Covid-19 yang lebih parah, kendati penularannya ditemukan relatif lebih tinggi. Keparahan infeksi virus korona masih sangat dipengaruhi oleh faktor usia seseorang dan ada tidaknya penyakit penyerta.

Mutasi virus SARS-CoV-2 menyebabkan munculnya varian virus yang terdeteksi sejak bulan Desember 2020. Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes menjelaskan ada tiga varian mutasi yang perlu diperhatikan dan diwaspadai yaitu B.1.1.7 di Inggris, B.1.351 di Afrika Selatan dan P.1 di Brazil.

Kewaspadaan terhadap mutasi virus disebabkan virus ini tidak bisa tertangkap dan bersembunyi dari antibodi yang ada di tubuh, penularan yang lebih cepat dan masif, bertambahnya keparahan penyakit dan tidak terdeteksi lagi dengan alat diagnostik (PCR) yang ada. Hal ini menjadi sangat berbahaya sehingga harus dilakukan surveillance genome atau merupakan upaya pelacakan dan pemantauan genom.

AP/STEVE PARSONS

Penumpang pesawat tiba di salah satu hotel untuk menjalani karantina selama 10 hari setelah tiba di Bandara Heathrow, London, Senin (15/2/2021). Kewajiban karantina tersebut dilakukan Pemerintah Inggris untuk mencegah masuknya varian baru virus korona sehingga tidak mengganggu vaksinasi yang saat ini sedang dilakukan.

Whole Genome Sequencing

Setiap makhluk hidup memiliki materi genetik berupa Ribonucleic Acid (RNA) atau Deoxyribonucleic Acid (DNA) yang tersimpan dalam tiap sel penyusun tubuhnya yang disebut genom. Data genom makhluk hidup ini, didapatkan melalui teknik Whole Genome Sequencing (WGS).

Whole Genome Sequencing adalah teknik komprehensif yang digunakan dalam proses pengurutan sekuens DNA menjadi suatu gambaran genom utuh dengan menggunakan teknologi Next Generation Sequencing (NGS).

Proses pengurutan dan perangkaian sekuen genom ini layaknya menyusun puzzle yang memiliki jutaan hingga miliaran keping gambar. Proses Whole Genome Sequencing sendiri dilakukan menggunakan komputasi dan algoritme kompleks yang disebut bioinformatika.

Genom adalah satu set komplit materi genetik (DNA/ RNA) dari suatu organisme yang mengandung data penting (tersimpan dalam gen) untuk menjalankan fungsi organisme dalam melakukan aktivitas kehidupan. Secara fisik, genom dibagi ke dalam beberapa molekul-molekul asam nukleat yang berbeda, sementara secara fungsi, genom dibagi menjadi gen-gen.

Istilah genom dipopulerkan Hans Winkler dari Universitas Hamburg, Jerman, tahun 1920, sebagai gabungan dari kata gen dan kromosom yang semula dimaksudkan untuk menyebut kumpulan gen. Genom pada setiap organisme mengandung informasi biologis yang diperlukan untuk membangun jaringan tubuh, mempertahankan hidup, dan mewariskan ke keturunan selanjutnya.

Kebanyakan genom, terbuat dari DNA tetapi sejumlah virus tersusun atas RNA pada genomnya. Ilmu yang mempelajari lebih lanjut mengenai genom disebut genomika (genomics). Sejauh ini, sejumlah besar organisme sudah dipetakan urutan nukleotida pada genomnya dengan teknik sekuensing DNA dalam berbagai proyek genom, misalnya Proyek Genom Manusia (Human Whole Genome Project) yang telah selesai pada tahun 2003.

Perbandingan genom organisme dapat memberikan informasi mengenai karakteristik organisme, evolusi, dan berbagai proses biologis yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup tersebut. Genom manusia (Homo sapiens) terdiri dari 23 kromosom yang berpasangan dengan lebih dari 3 miliar base pair DNA (pasangan basa). Pada tubuh manusia, terdapat 3 juta pasang DNA yang semua berlokasi di dalam inti setiap sel.

Baca juga: Varian Baru SARS-Cov-2 Menyerang Balik

Pelacakan di Indonesia

Per tanggal 1 Maret 2021, dari total 462 kasus yang di sekuensing ditemukan dua kasus B.1.1.7. Dua kasus ini ditemukan dari pelaku perjalanan dari luar negeri yang datang ke Indonesia. Penemuan varian baru B.1.1.7 adalah hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan Badan Litbang Kesehatan. Saat ini sedang dilakukan penelusuran kasus dan kontaknya untuk penyelidikan epidemiologi sebagai tindak lanjut ditemukannya varian B.1.1.7.

Kegiatan WGS ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan surveilan genom virus SARS-COV-2 yang telah dilakukan sejak virus ini masuk ke Indonesia. Data hasil pemeriksaan genom ini diunggah ke repositori Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Selain Balitbangkes lembaga lain yang melakukan pemeriksaan WGS adalah LBM Eijkman, Labkesda Jabar, LIPI, BPPT, UI, UGM, UNS, UIN Jakarta, UNPAD, ITB, UNAIR, UPN Veteran Jakarta, Universitas Tanjungpura, Universitas Hasanudin, dan Universitas Andalas. Hasil sekuensing sudah dipublikasikan di GISAID.

Hingga 23 April 2021 jumlah laboratorium yang tergabung dalam WGS sebanyak 17 laboratorium dengan hasil sekuensing yang sudah terdaftar sebanyak 1.191 sequences virus. Ada sepuluh kasus B.1.1.7 dan satu kasus B.1.525 yang ditemukan. Empat kasus penemuan varian virus B.1.1.7 berasal dari pekerja migran Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia dan Ghana, 2 kasus di Sumatera Utara, 1 kasus di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan, serta Jawa Barat sebanyak 2 kasus. Varian B.1.5.2.5 ditemukan dari PMI yang masuk ke Indonesia pada tanggal 20 Januari 2021 melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Pinang Batam.

Varian Baru Virus Korona

Terdapat ribuan varian SARS-CoV-2, ada juga pengelompokan yang jauh lebih besar yang disebut klad. Klad atau klade adalah suatu kelompok taksonomi yang memiliki satu leluhur bersama dan semua keturunannya juga berasal dari moyang. Beberapa nomenklatur klad yang berbeda untuk SARS-CoV-2 telah diusulkan oleh sejumlah peneliti.

Mulai Desember 2020, GISAID, mengacu pada SARS-CoV-2 sebagai hCoV-19, mengidentifikasi tujuh klad (O, S, L, V, G, GH, dan GR). Pada Desember 2020 pula, Nextstrain mengidentifikasi lima klad (19A, 19B, 20A, 20B, dan 20C).

Dalam artikel tahun 2020 di International Journal of Infectious Diseases, terdapat identifikasi lima klad global (G614, S84, V251, I378, dan D392). Andrew Rambaut mengusulkan istilah “garis keturunan” dalam artikel tahun 2020 di Nature Microbiology. Pada Desember 2020, telah ada lima garis keturunan utama (A, B, B.1, B.1.1, dan B.1.777) yang diidentifikasi.

Cluster 5

Cluster 5, juga disebut sebagai ΔFVI-spike oleh State Serum Institute (SSI) Denmark, ditemukan di Jutlandia Utara, Denmark, dan diyakini telah menyebar dari mink (hewan spesies Amerika Utara) ke manusia melalui kawasan peternakan.

Pada 4 November 2020, diumumkan bahwa populasi cerpelai yakni hewan mamalia di Denmark akan dimusnahkan untuk mencegah kemungkinan penyebaran mutasi ini dan mengurangi risiko terjadinya mutasi baru. Karantina wilayah dan pembatasan perjalanan diberlakukan di tujuh kota di Jutlandia Utara untuk mencegah penyebaran mutasi yang dapat membahayakan tanggapan nasional atau internasional terhadap pandemi COVID-19.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa Cluster 5 memiliki kepekaan yang agak menurun untuk menetralkan antibodi. Institut Serum Negara (Statens Serum Institut) Denmark memperingatkan bahwa mutasi ini dapat mengurangi efek vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan, meskipun tidak mungkin menjadikan vaksin tidak berguna. Setelah karantina wilayah dan pengujian massal, SSI mengumumkan Cluster 5 kemungkinan besar telah punah pada 19 November 2020.

Garis keturunan B.1.1.7

Garis keturunan B.1.1.7, disebut juga 20I/501Y.V1 atau Variant of Concern 202012/01 (VOC-202012/01), sebelumnya dikenal sebagai Variant Under Investigation pertama pada Desember 2020 (VUI-202012/01), pertama kali terdeteksi pada Oktober 2020 selama pandemi COVID-19 di Inggris dari sampel yang diambil bulan sebelumnya.

Sejak itu, prevalensinya menjadi dua kali lipat setiap 6,5 hari, perkiraan interval generasinya.Varian ini berkorelasi dengan peningkatan yang signifikan pada tingkat infeksi COVID-19 di Inggris. Peningkatan ini diperkirakan setidaknya sebagian karena mutasi N501Y.

Garis keturunan B.1.351

Varian 501.V2, disebut juga 20H/501Y.V2, VOC-202012/02, atau garis keturunan B.1.351. Pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan dan dilaporkan oleh departemen kesehatan negara itu pada tanggal 18 Desember 2020. Peneliti dan pejabat melaporkan bahwa prevalensi varian tersebut lebih tinggi di antara orang muda tanpa penyebab yang jelas dan jika dibandingkan dengan varian lain, varian ini lebih sering mengakibatkan penyakit serius dalam kasus tersebut.

Departemen Kesehatan Afrika Selatan juga mengindikasikan bahwa varian tersebut mungkin mendorong gelombang kedua pandemi COVID-19 di negara tersebut karena varian tersebut menyebar lebih cepat daripada varian virus sebelumnya lainnya.

N439K

Mutasi N439K berarti perubahan dari asparagina (N) menjadi lisina (K) pada posisi asam amino 439.Mutasi ini diyakini pertama kali ditemukan pada musim semi tahun 2020 di Skotlandia. Mutasi ini menghilang selama pembatasan sosial di negara tersebut. Namun, mutasi ini ditemukan pula di Rumania, Norwegia, Swiss, Irlandia, Belgia, Jerman, dan Inggris. Mutasi ini telah masuk ke Indonesia sejak bulan November 2020.

E484K

Mutasi E484K berarti perubahan dari asam glutamat (E) menjadi lisina (K) pada posisi asam amino 484. Mutasi ini dilaporkan termasuk mutasi kabur, yaitu mutasi yang memudahkan virus untuk kabur dari sistem kekebalan tubuh inangnya, setidaknya satu bentuk antibodi monoklonal terhadap SARS-CoV-2.

Mutasi E484K ada dalam varian garis keturunan P.1 (Jepang dan Manaus), garis keturunan P.2 (Brazil, juga dikenal dengan B.1.1.248),dan varian 501.V2 (Afrika Selatan). Mutasi ini telah masuk ke Indonesia sejak bulan Februari 2021.

N501Y

Mutasi N501Y berarti perubahan dari asparagina (N) menjadi tirosina (Y) pada posisi asam amino 501. Mutasi ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan virus untuk mengikat sel manusia.Mutasi N501Y ada dalam varian P.1 (Jepang dan Brazil), Variant of Concern 202012/01 (Britania Raya), 501.V2 (Afrika Selatan), dan COH.20G/501Y (Columbus, Ohio).

Kasus di Indonesia

Di beberapa negara saat ini sedang terjadi lonjakan kasus Covid-19. Beberapa faktor yang menjadi penyebab peningkatan kasus di negara-negara tersebut adalah mobilitas pergerakan masyarakat adanya varian baru virus COVID-19 yaitu B.117 asal Inggris, kemudian B.1351 asal Afrika Selatan dan varian mutasi ganda dari India B. 1617.

Varian yang digolongkan dengan Varian of Concern atau VoC yang diwaspadai itu ada tiga jenis yaitu B.117, B.1351, dan varian B1617. Varian B.117 ini diketahui memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi sekitar 36% – 75% dibandingkan dengan jenis virus yang beredar sebelumnya.

Varian B.117 saat ini merupakan varian yang paling banyak dilaporkan oleh orang dari berbagai negara. WHO mencatat berbagai peningkatan kasus sampai 49% varian B.117 yang bersirkulasi di Asia Tenggara. Terkait mutasi atau varian baru di Indonesia, Kemenkes memyatakan masih terus meneliti dan melakukan pengujian pada 786 laboratorium. Laboratorium-laboratorium ini juga yang memeriksa Covid-19.

Sebaran kasus varian baru di Indonesia per 3 Mei 2021 antara lain varian jenis B. 1617 ada di Kepulauan Riau 1 kasus, dan DKI Jakarta 1 kasus. Varian B.117 ada di Sumatera Utara 2 kasus, Sumatera Selatan 1 kasus, Banten 1 kasus, Jawa Barat 5 kasus, Jawa Timur 1 kasus, Bali 1 kasus, Kalimantan Timur 1 kasus. Sementara untuk varian B. 1351 ada di Bali 1 kasus.

Mutasi virus terjadi berulang-ulang, artinya bisa menyebabkan infeksi lebih berat, apalagi mutasi tersebut cenderung berperilaku mendominasi sekaligus menguasai. Pada saat di masyarakat sudah memiliki imunitas, baik melalui vaksin, atau terinfeksi, virus-virus yang bermutasi sangat mungkin untuk menghindarinya dan terus berkembang.

Semakin tinggi jumlah kasus yang terjadi dalam populasi, risiko mutasi pun semakin banyak. Sementara itu, berkembangnya varian yang bersifat multipel juga cenderung lebih mudah menyebar. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat bahaya sebuah virus, para ahli biasanya melihat kode genetik. Secara sederhana, ini berarti melihat bagaimana perilakunya dalam lingkup laboratorium dan memonitor penyebarannya di masyarakat.

Munculnya varian-varian baru dalam Covid-19 seringkali dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Sebetulnya belum ada pembuktian yang betul-betul kuat. Risiko tertinggi sampai sekarang masih tertuju pada kondisi kaum lansia atau mereka yang mempunyai masalah kesehatan sebelumnya.

Yang pasti bahaya infeksi yang lebih tinggi akan terjadi pada populasi yang tidak menjalankan vaksinasi.  Saran terbaik untuk menghadapi merajalelanya varian baru tersebut, selain vaksinasi, adalah tiga hal. Rajin mencuci tangan, jaga jarak, gunakan masker dan selalu waspada jika berada dalam sebuah ruangan tertutup.

Pelacakan kontak merupakan kunci utama memutus rantai transmisi. Pelacakan kontak tersebut dilakukan untuk mencari dan memantau kontak erat dari kasus konfirmasi. Hal ini penting karena kasus konfirmasi dapat menularkan ke orang lain sejak 2 hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari sejak timbul gejala.

Untuk mencegah penularan lebih meluas, pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi mobilitas. Situasi yang ada di Indonesia mengharuskan masyarakat untuk mematuhi betul apa yang sudah dianjurkan atau dilarang oleh pemerintah dan menerapkan protokol kesehatan 5M secara ketat.

KOMPAS/KRISTI DWI UTAMI

Siswa mencuci tangan sebelum masuk ke SD Negeri Simbangdesa 01, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada hari pertama pembelajaran tatap muka, Selasa (9/3/2021). Usai penerapan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat berskala mikro berakhir, Pemerintah Kabupaten Batang memutuskan untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka bagi sekolah-sekolah yang berada di desa yang berstatus sebagai zona hijau atau nol kasus Covid-19. Pembelajaran tatap muka di Batang merupakan yang pertama di Jateng.

Protokol Kesehatan (5M)

  1. Mencuci Tangan

Rutin mencuci tangan hingga bersih adalah salah satu protokol kesehatan yang cukup efektif untuk mencegah penularan COVID-19. Untuk hasil yang maksimal, cucilah tangan setidaknya selama 20 detik beberapa kali sehari, terutama saat:

  • Sebelum memasak atau makan
  • Setelah menggunakan kamar mandi
  • Setelah menutup hidung saat batuk, atau bersin.

Untuk membunuh virus dan kuman-kuman lainnya, gunakan sabun dan air atau pembersih tangan dengan alkohol setidaknya dengan kadar 60 persen.

  1. Memakai Masker

Pada awal pandemi COVID-19 tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa penggunaan masker hanya direkomendasikan untuk orang sakit, bukannya orang sehat. Namun, virus korona jenis SARS-CoV-2 benar-benar baru, sehingga protokol kesehatan bisa berubah-ubah seiring bergulirnya waktu.

Beberapa waktu selang kebijakan WHO di atas, WHO akhirnya mengeluarkan imbauan agar semua orang (baik yang sehat atau sakit) agar selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Kebijakan WHO ini juga ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo.

Protokol kesehatan virus korona terkait masker pun semakin digalakkan di beberapa negara. Di Amerika Serikat (AS), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memperbarui pedoman terkait penggunaan masker.

CDC mengimbau masyarakat AS harus memakai masker meski berada di dalam rumah pada kondisi tertentu. Menurut CDC, penggunaan masker di dalam rumah perlu dilakukan ketika:

  • Terdapat anggota keluarga yang terinfeksi COVID-19.
  • Terdapat anggota keluarga yang berpotensi terkena COVID-19 karena aktivitas di luar rumah.
  • Merasa terjangkit atau mengalami gejala COVID-19.
  • Ruangan sempit.
  • Tidak bisa menjaga jarak minimal dua meter.
  1. Menjaga Jarak

Protokol kesehatan lainnya yang perlu dipatuhi adalah menjaga jarak. Protokol kesehatan ini dimuat dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI dalam “Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.”

Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplet dari orang yang bicara, batuk, atau bersin, serta menghindari kerumunan, keramaian, dan berdesakan. Bila tidak memungkinkan melakukan jaga jarak, maka dapat dilakukan berbagai rekayasa administrasi dan teknis lainnya.

Rekayasa administrasi dapat berupa pembatasan jumlah orang, pengaturan jadwal, dan sebagainya. Sedangkan rekayasa teknis antara lain dapat berupa pembuatan partisi, pengaturan jalur masuk dan keluar, dan lain sebagainya.

  1. Menjauhi Kerumunan

Selain tiga hal di atas, menjauhi kerumunan merupakan protokol kesehatan yang juga harus dilakukan. Menurut Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), masyarakat diminta untuk menjauhi kerumunan saat berada di luar rumah. Semakin banyak dan sering bertemu orang, maka kemungkinan terinfeksi virus korona pun semakin tinggi.

Oleh sebab itu, hindari tempat keramaian terutama bila sedang sakit atau berusia di atas 60 tahun (lansia). Menurut riset, lansia dan pengidap penyakit kronis memiliki risiko yang lebih tinggi terserang virus korona.

  1. Mengurangi Mobilitas

Virus korona penyebab COVID-19 bisa berada di mana saja. Jadi, semakin banyak seseorang menghabiskan waktu di luar rumah, maka semakin tinggi pula terpapar virus jahat ini. Oleh sebab itu, bila tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah berada di rumah.

Menurut Kemenkes, meski seseorang sehat dan tidak ada gejala penyakit, belum tentu seseorang tersebut pulang ke rumah dengan keadaan yang masih sama. Pasalnya, virus korona dapat menyebar dan menginfeksi seseorang dengan cepat. Karena itu, tetap waspada dan jaga pola hidup demi kesehatan. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close