Kronologi

Seniman-Seniman Betawi yang Melegenda

Suku Betawi yang berada di Jakarta saat ini masih tetap bertahan meskipun harus beradaptasi dengan modernisasi dan kehidupan kota Jakarta sebagai ibu kota negara. Di bidang seni dan budaya, kesenian Betawi pun tetap dijaga dan dilestarikan oleh para seniman Betawi.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Liong dan ondel-ondel berkolaborasi diiringi musik tanjidor saat tampil di jalur pedestrian Taman Dukuh Atas, Jakarta, untuk memeriahkan Imlek, Kamis (23/1/2020).

Suku Betawi memiliki produk seni dan budaya dengan berbagai macam bentuk seperti musik gambang kromong atau lenong, pantun berbalas, karya sastra, palang pintu, dan pertunjukan topeng Betawi. Saat ini, seniman-seniman yang melestarikan kesenian Betawi semakin sedikit mengingat modernisasi yang terjadi dan kurangnya regenerasi dari para seniman itu sendiri.

Dalam sejarah, tercatat beberapa seniman yang melestarikan budaya Betawi lewat film, pertunjukan, karya sastra, sampai ke musik. Mulai dari Benyamin Sueb sebagai seniman serba bisa yang mempopulerkan budaya Betawi musik serta perfilman, Ellya Khadam sang pelopor aliran musik dangdut di Indonesia, Ismail Marzuki sang penyair yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional, Bokir dan Mandra melalui kesenian Topeng Betawi, hingga SM Ardan dan Firman Muntaco yang berjuang mempopulerkan Betawi melalui karya-karya sastranya.

  • Ismail Marzuki (Jakarta, 11 Mei 1914 – Jakarta 25 Mei 1958)

Ismail Marzuki adalah seorang penyair, musisi, dan komposer legendaris Betawi yang mendapat gelar sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Ismail Marzuki diketahui telah menciptakan sebanyak kurang lebih 250 lagu, di antaranya Rayuan Pulau Kelapa dan Indonesia Pusaka. Meski perjalanan hidup Ismail Marzuki terhitung singkat karena meninggal di usia 44 tahun, namun Ismail Marzuki dianggap sebagai salah satu musisi terbaik dan berpengaruh di Indonesia. Namanya diabadikan dalam sebuah pusat kebudayaan dan kesenian yaitu Taman Ismail Marzuki di Jakarta Pusat.

Karier, Karya, dan Penghargaan:

  • 1923 – Ismail Marzuki bergabung dalam perkumpulan musik Lief Java yang sebelumnya bernama Rukun Anggawe Santoso.
  • 1931 – Ismail Marzuki membuat karya pertamanya, lagu O Sarinah yang melambangkan bangsa yang tertindas penjajah.
  • 1955 – Ismail Marzuki menciptakan lagu untuk pemilu
  • 1961 – Ismail Marzuki meraih Piagam Wijayakusuma yang diberikan Presiden Soekarno
  • 1968 – Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan pusat kesenian Taman Ismail Marzuki di Cikini, Jakarta Pusat, untuk mengenang Ismail Marzuki beserta karya-karyanya
  • 1988 – Ismail Marzuki mendapat penghargaan dari pemerintah karena lagu ciptaannya Als de Orchideeen Bloeien (Bila Anggrek Mulai Berbunga) diakui sebagai lagu anggrek negara ASEAN
  • 2004 – Ismail Marzuki mendapat gelar pahlawan nasional
  • 2017 – Ismail Marzuki mendapat Anugerah Komponis Indonesia dari Perpustakaan Nasional

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando (kanan) disaksikan anggota DPR Jamal Mirdad menyerahkan Anugerah Komponis Indonesia kepada Ismail Marzuki yang diwakili anaknya, Rachmi Aziah (tengah), di Jakarta, Selasa (14/3/2017). Ismail Marzuki mendapat anugerah ini karena perannya sebagai komponis pejuang dan maestro musik legendaris Indonesia

  • Firman Muntaco (Jakarta, 5 Mei 1935 – Jakarta, 10 Januari 1993)

Firman Muntaco yang mempunyai nama asli Firmansyah Muntaco merupakan salah satu sastrawan kebanggaan masyarakat Betawi berkat tulisan-tulisan sketsanya. Hasil karyanya telah mencapai 5000 buah sketsa sosial dengan menggunakan bahasa dan dialek khas Betawi.

Karier:

  • 1954 – Firman Muntaco mulai rajin menulis.
  • 1956 – Muntaco dipercaya untuk mengisi rubrik Tjermin Djakarta (kemudian berubah menjadi rubrik Gambang Djakarte), sebuah rubrik yang dikelola oleh koran Berita Minggu.
  • 1958–1959 – Muntaco sempat kuliah di Akademi Publisistik namun tidak selesai.
  • 1960 – Buku pertama Muntaco, Gambang Djakarte, diterbitkan oleh PT Suluh Indonesia. Buku ini berisi 22 sketsa Muntaco yang sebelumnya sudah dipublikasikan dalam koran Berita Minggu.
  • 1963 – Buku kedua Muntaco Gambang Djakarte yang berisi 21 cerita diterbitkan oleh Pantjaka.
  • 1974Ratu Amplop, sebuah karya yang ditulis oleh Firman Muntaco diangkat ke layar lebar. Film disutradarai oleh Nawi Ismail dan dibintangi oleh legenda Betawi, Benyamin Sueb.
  • 1975 – Muntaco mendirikan Sanggar Betawi yang menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan pementasan kebudayaan dan kesenian khas Betawi.
  • 1977 – Muntaco menjadi Ketua Harian Lembaga Kebudayaan Betawi dan bergiat di TVRI Stasiun Pusat Jakarta sebagai koordinator Paket siaran Budaya Betawi. Acara tersebut disiarkan di TVRI, yaitu Cakrawala Budaya Nusantara, Taman Bhinneka Tunggal Ika, Nusantara Menyanyi, dan Nusantara Menari.

 Karya dan Prestasi:

  • Penghargaan kebudayaan dari Menteri Penerangan Ali Murtopo dan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
  • 1969 – Memenangkan sayembara cerita pendek Betawi
  • 2006 – Buku Gambang Jakarte diterbitkan ulang.

KOMPAS/H SUJIWO TEJO

Ceplas-Ceplos Acara mengenang Pejuang Kesenian Betawi Firman Muntaco di TIM Jakarta, Rabu (10/2/1993) malam. Tampak aktor Deddy Mizwar sedang membacakan karya almarhum yang penuh ceplas-ceplos.

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

  • Benyamin Sueb (Jakarta, 5 Maret 1939 – Jakarta, 5 September 1995)

Benyamin Sueb atau Benyamin S seorang seniman serba bisa karena kepiawaiannya sebagai aktor, pelawak, musisi, maupun pemain alat musik. Seniman yang akrab dipanggil Bang Ben ini mempopulerkan musik gambang kromong menjadi salah satu ikon Betawi. Sebagai aktor, ia telah membintangi 47 judul film hingga akhir hayatnya.

Karier:

  • 1950 – Memulai karier bermusik dan bergabung dengan grup band Melody Boys yang membawakan genre musik blues.
  • 1957 – Mengganti nama band Melody Boys menjadi Melodi Ria karena situasi politik yang saat itu menentang keras budaya Barat.
  • Awal 1970-an – Benyamin S mempopulerkan musik Gambang kromong yang menjadi peninggalan kebudayaan Betawi. Gambang kromong versi modern ini disesuaikan dengan genre-genre musik yang populer saat itu.
  • 1972 – Benyamin S berkolaborasi musik dengan Bing Slamet yang membuat namanya semakin terkenal karena pemain gambang kromong sudah mulai langka.
  • 5 Maret 1990 – Benyamin S mendirikan Radio FM yang dinamakan Bens Radio.
  • 6 Desember 1995 – Pemprov DKI Jakarta menamakan salah satu jalan di daerah Kemayoran menjadi Jalan Benyamin Sueb.
  • 2018 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan Taman Benyamin Sueb yang berlokasi di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Karya dan Prestasi:

  • 1971 – Film Banteng Betawi
  • 1972 – Film Biang Kerok
  • 1972 – Film Si Doel Anak Betawi
  • 1973 – Benyamin S menerima penghargaan Piala Citra sebagai aktor terbaik Festival Film Indonesia (FFI) dalam film Intan Berduri
  • 1974 – Benyamin S mendapat penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai seniman yang memajukan bahasa Betawi lewat seni musik
  • 1977 – Penghargaan Festival Film Indonesia untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dalam film Si Doel Anak Modern
  • 1993–1995 – Program acara televisi Benjamin Show di Televisi Pendidikan Indonesia
  • 1993–1995 – Serial televisi Si Doel Anak Sekolahan di RCTI
  • 2018 – Penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) untuk kategori Legend Award
  • 2011 Benyamin S menerima Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

KOMPAS/KARTONO RYADI

Seniman asli Betawi, Benyamin Sueb, diiringi boneka ondel-ondel, yang menjadi salah satu ciri khas kesenian Betawi, pada panggung khusus memperingati HUT ke 22 TVRI hari Kamis malam, 23 Agustus 1984 di Balai Sidang Senayan, Jakarta. TVRI mengudara pertama kali pada tahun 1962, dengan jangkauan siaran baru meliputi DKI Jakarta dan sekitarnya.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO

  • Bokir (Bogor, 25 Desember 1925 – Jakarta, 18 Oktober 2002)

Bokir bin Dji’un merupakan seniman yang mempopulerkan kesenian Topeng Betawi. Selain menjadi pemain Topeng Betawi, Bokir juga piawai menjadi aktor. Terhitung sejak 1994, ia telah membintangi hampir 50 film nasional.

Karier, Karya, dan Prestasi:

  • 1938 – Bokir mulai menggemari dan memainkan kesenian Topeng Betawi. Bokir lebih banyak membantu pemain-pemain Topeng Betawi profesional dan memainkan alat-alat musik seperti kendang ataupun rebab.
  • 1960-an – Bokir mendirikan dan memimpin kelompok Topeng Betawi Setia Warga. Tokoh-tokoh Betawi seperti Bolot, Malih, dan Hajah Nori pernah bermain bersama Setia Warga.
  • 1970-an – Setia Warga mulai dikenal masyarakat sebagai kelompok lenong yang sering tampil di stasiun TVRI.
  • 1978 – Bokir membintangi film Betty Bencong Slebor sebagai Juragan Bokir bersama nama-nama Betawi lainnya seperti Benyamin Sueb dan Aminah Cenderakasih.
  • 14–15 November 1981 – Bokir bersama Nasir dan kelompok Setia Warga bermain Topeng Betawi di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki.
  • 5 Maret 1982 – Bokir bersama tujuh penari dan grup Setia Warga melawat ke Malaysia dan Singapura. Lawatan tersebut mementaskan tari Jaipong, tari Blantek, dan tari Lilin.
  • 30 April 1992 – Bersama Mak Siti, Naserin dan Nasir T, Bokir berhasil menyabet penghargaan sebagai perintis pengembangan kesenian Betawi oleh grup seni Lenong Rumpi.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO

Gigi yang maju ke depan merupakan peruntungan Haji Bokir Jiun, yang dipertahankan sampai kini. Bahkan ketika melawak di LCC Jakarta, Kamis 7 Juli 1988 pasal gigi itu masih jadi salah satu bahan pengocok perut.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

  • SM Ardan (Medan, 2 Februari 1932 – Jakarta, 26 November 2006)

Syahmardan atau akrab disebut SM Ardan adalah sastrawan, penulis puisi, novel, esai, cerpen, dan naskah lenong. Karier SM Ardan banyak diisi sebagai redaktur majalah-majalah bertajuk seni dan menulis beberapa skenario film. SM Ardan menjadi sosok pertama kali menggunakan dialek Betawi dalam karya sastra Indonesia.

Karier:

  • 1948 – SM Ardan menamatkan pendidikan setingkat sekolah rakyat di Taman Muda.
  • 1950-an – SM Ardan mulai menulis puisi yang dipublikasikan di majalah sekolah.
  • 1951 – SM Ardan melanjutkan pendidikan setingkat SMP, yaitu Taman Dewasa dan ke Taman Madya setingkat SMA tetapi tidak tamat.
  • 1953–1954 – SM Ardan menjadi redaktur Majalah Suluh dan Majalah Pena.
  • 1954 – SM Ardan menjadi redaktur Majalah Arus.
  • 1955-1956 – SM Ardan menjadi redaktur Majalah Genta.
  • 1956 – Kumpulan cerpen SM Ardan berjudul Terang Bulan Terang di Kali diterbitkan Gunung Agung.
  • 1958 – SM Ardan menjadi redaktur Majalah Trio.
  • 1959 – 1966 – SM Ardan menjadi wartawan Berita Minggu Suluh Indonesia.
  • 1963 – SM Ardan mengelola rubrik remaja “Kuncup Harapan” di koran Berita Minggu. Selain mengelola rubrik, SM Ardan juga menjadi ketua Seksi Teater Kuncup Harapan dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan di Indonesia hingga tampil di TVRI.
  • 1966 – SM Ardan menjadi redaktur Majalah Abad Muslimin.
  • 1967 – 1970 – SM Ardan menjadi wartawan Suara Indonesia.
  • 1969 – SM Ardan menjadi penggubah lakon dan sutradara kebudayaan Betawi, yaitu lenong di Taman Ismail Marzuki.
  • 1972 – 1978 – SM Ardan menjadi redaktur pelaksana majalah Violeta.
  • 1978 – 2006 – SM Ardan menjadi kurator Sinematek Indonesia.
  • 1979 – SM Ardan bersama Ali Shahab mendirikan Teater September sebagai kelanjutan dari Teater 66
  • 1982 – 1990 – SM Ardan menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Djakarta (DKJ) selama dua periode.

 Karya:

  • 1955 – Cerpen Terang Bulan Terang di Kali
  • 1965 – Novel Nyai Dasima
  • 1977 – Skenario film Pembalasan si Pitung

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Gubernur DKI Jakarta R Soeprapto, Selasa siang (10/12/1985) melantik 25 anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Ruang Huriah Adam TIM Jakarta. Gubernur DKI berjabat tangan dengan anggota termuda DKJ, Wiwiek Widyastuti (33 tahun), yang mewakili seni tari Betawi. Anggota DKJ antara lain SM Ardan, Leon Agusta; Elly Pasha; Toety Heraty Nurhadi; Sri Warso Wahono; Farida Feisol. Tiga anggota DKJ terpilih tidak hadir, dua di antaranya Sudarmadji dan Abdul Hadi WM. Seorang lain, Soemantri Sastrasuwondo sedang sakit.

KOMPAS/JOHNNY TG

  • Ellya Khadam (Jakarta, 23 Oktober 1932 – Depok, 2 November 2009)

Siti Alya Husnah atau yang akrab disapa Ellya Khadam merupakan penyanyi dan aktris film berdarah Betawi. Pelantun lagu Boneka dari India ini menjadi salah satu pelopor dari aliran musik dangdut di Indonesia. Kecintaannya terhadap musik mulai dirasakan sejak kecil ketika ia mendengar tetangganya memainkan lantunan musik bernuansa India. Ciri khas Ellya Khadam ialah memunculkan identitas India dalam musik dan penampilannya. Dimulai dari berpakaian khas India serta mengadaptasi tarian, olah vokal, dan mimik muka dari bintang film India. Selain bermusik, Ellya juga sering membintangi film-film bernuansa Betawi seperti Benyamin Biang Kerok dan Bing Slamet Setan Djalanan.

Karier dan Prestasi:

  • 1956 – Ellya Khadam ikut tampil dalam sebuah temu orkes antara beberapa orkes di kompleks Hotel Indonesia. Di tempat tersebut, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Melayu seperti Munif Bahasoan, Ali Atamimi, dan Husein Bawafie.
  • 1957 – Ellya Khadam merilis lagu yang mendongkrak namanya, yaitu Boneka dari India. Selain mendongkrak namanya, lagu ini juga menjadi pelopor dari aliran musik dangdut di Indonesia.
  • 1970 – Ellya Khadam tampil di Taman Ismail Marzuki bersama orkes Melayu Chandralela.
  • 1972 – Ellya Khadam membintangi film bernuansa Betawi yaitu Benyamin Biang Kerok dan Bing Slamet Setan Djalanan bersama aktor Benyamin Sueb
  • 2000 – Ellya Khadam mendapat Anugerah Dangdut TPI 2000 atas jasanya turut mengambangkan musik dangdut

KOMPAS/JOHNNY TG

Anugerah Dangdut Televisi Pendidikan Indonesia (AD TPI) 2000 digelar di Jakarta Hilton Convention Centre, Jakarta, Jumat (07 Juli 2000) malam. Lagu Bulan Berkaca yang dilantunkan Camelia Malik terpilih sebagai Lagu Dangdut Terbaik. Sedangkan penghargaan Penyanyi Rekaman Lagu D Pria Terbaik direbut Muchsin alatas dengan lagu Tak Punya Muka. Dewan juri yang terdiri dari Wahyu Wijayadi (ketua), Abdul Hadi WM, Arswendo Atmowiloto, Bre Redana, Dwiki Dharmawan, Edy Lestahulu, George Kamarullah, Jay Subiyakto, Munif Bahasuan, Resa Umami, Sapardi Joko Damono, Sys NS, Titik Nur, Ukat S, dan Yudi Subroto menyeleksi 93 karya yang ditayangkan oleh TPI dan memilih 14 kategori. Pedangdut Ellya Khadam, juga ikut meramaikan AD TPI 2000.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

  • Mandra (Jakarta, 2 Mei 1964)

Mandra bin Na’ih merupakan seorang pelawak, pemain film, dan pemain lenong Betawi. Awal karier Mandra dengan bergabung dalam grup Setia Warga milik Bokir. Keponakan Bokir ini kemudian dikenal luas sejak membintangi serial Si Doel Anak Sekolahan. Mandra terhitung telah melakoni kurang lebih 14 film dan 15 sinetron. Selain itu, Mandra banyak berkontribusi dalam dunia perfilman guna melestarikan budaya Betawi mengingat dirinya saat ini adalah pimpinan rumah produksi Viandra Productions.

Karier, Karya, dan Prestasi:

  • 1970-an – Mandra memulai karier sebagai pemain lenong dan tergabung dalam grup Setia Warga milik Bokir.
  • 1983 – Mandra mulai bermain film sebagai pemeran pendukung dalam film Cinta Annisa.
  • 1994 – 2003 – Mandra tampil dalam serial Si Doel Anak Sekolahan.
  • 1999 – Mandra meluncurkan album musik berjudul Gubernur.
  • 2000 – Mandra mendirikan rumah produksi Viandra Productions. Rumah produksi ini menghasilkan film-film bernuansa Betawi di antaranya Mandragede, Tarzan Betawi, Babe, Juleha Jadi Pocong, dan Gado-Gado Betawi.
  • 2018–2019 – Mandra membintangi sekuel dari proyek yang membesarkan namanya, yakni Si Doel The Movie dan Si Doel The Movie 2.
  • 1997 & 2011 – Nominasi sebagai Aktor Pembantu dalam ajang Piala Vidia
  • 2019 – Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia dalam film Si Doel The Movie 2

KOMPAS/FRANS SARTONO

Mandra (duduk), dibalik layar sinetron, bukan sekadar aktor dengan logat Betawi medok. Tetapi, lelaki kelahiran Cisalak, Jakarta Timur, 2 Mei 1964 itu, adalah sutradara, produser, sekaligus pemilik rumah produksi Viandra Production. Produksinya kebanyakan berjenis drama komedi dan berlatar belakang Betawi. Beberapa produksi Viandra antara lain Mandragade, Tarzan Betawi, Babe Juleha, Jadi Pocong, dan Gado-gado Betawi.

Referensi

Arsip Kompas

“Mengenang Komponis Ismail Marzuki”. Kompas, 14 Mei 1968 halaman 2

“Menengok Kembali Musikalitas Ismail Marzuki *Jendela”. Kompas, 11 Mei 2002 halaman 33

“Ismail Marzuki: Pahlawan Nasional yang Ahli Irama Musik *Musik”. Kompas, 12 November 2004 halaman 43

“Firman Muntaco, Pejuang Betawi, Sudah Pergi”. Kompas, 12 Januari 1993 halaman 16

“Mengenang Firman Muntaco: ‘Hei, Raja Mau Duduk Terus Lu!’”. Kompas, 12 Februari 1993 halaman 16

“Kilas Benyamin”. Kompas, 24 Desember 2006 halaman 24

“Lebih Jauh dengan: Bokir Jiun”. Kompas, 17 Juli 1988 halaman 2

“Topeng Betawi Tetap Menggeliat”. Kompas, 16 November 1981 halaman 6

“Penghargaan Untuk Perintis Seni Betawi”. Kompas, 3 Mei 1992 halaman 10

“Seniman Bokir Meninggal Dunia”. Kompas, 19 Oktober 2002 halaman 9

“Bokir Melawat ke Malaysia”. Kompas, 13 Februari 1982 halaman 6

“Nama & Peristiwa: SM Ardan”. Kompas, 4 November 1979 halaman 7

“Memoriam: SM Ardan, Ketekunan dan Kesetiaan Itu…”. Kompas, 3 Desember 2006 halaman 28

“Sang Maestro Sastrawan Betawi”. Kompas, 30 Juni 2013 halaman 29

“Empat Kali Ellya”. Kompas, 6 Agustus 1970 halaman 2

“Ellya Khadam: Boneka Cantik dan Akseptabilitas Dangdut * Box”. Kompas, 22 Mei 2000 halaman 12

“Obituari: Ellya Khadam Si ‘Boneka India’ Wafat”. Kompas, 3 November 2009 halaman 12

“Nama dan Peristiwa: Mandra”. Kompas, 26 Juni 2004 halaman 12

“Nama & Peristiwa: Mandra – ‘Mengejar Cinta’”. Kompas, 7 September 2010 halaman 22

“Persona: Mandra”. Kompas, 13 Juli 2003 halaman 4

error: Content is protected !!