Foto

Peresmian Pabrik Sepeda Turangga

Pada masa pemerintahan Soeharto, salah satu tujuan didirikannya pabrik sepeda Turangga di Batu Ceper, Tangerang adalah untuk mengatasi masalah transportasi bagi pegawai negeri di seluruh Indonesia. Pabrik sepeda Turangga didirikan di atas tanah seluas 21.550 meter persegi dan mempekerjakan 150 orang karyawan. Model pertama sepeda yang dibuat adalah jenis roadster atau onthel.

KOMPAS/Piet Warbung

Presiden Soeharto memberi sambutan pada peresmian pabrik sepeda yang didirikan oleh Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang (12/7/1974). Dalam kesempatan itu presiden memberi nama merek dagang Turangga, yang artinya kuda. 

KOMPAS/Piet Warbung

Setelah pengguntingan pita yang dilakukan oleh Ibu Negara, Presiden Soeharto didampingi Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Subroto (tengah) meninjau pabrik sepeda Turangga.

Bertepatan dengan Hari Koperasi ke-27 pada tanggal 12 Juli 1974, Presiden Soeharto meresmikan pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang.

Presiden Soeharto menyambut baik dibangunnya pabrik sepeda oleh IKPN, sebab menurutnya hal itu menunjukkan bahwa kegiatan koperasi dapat hidup dan berkembang dalam tata demokrasi-ekonomi berdasarkan Pancasila dan sejalan dengan gerak usaha pembangunan. Tidak sampai di situ, koperasi juga dapat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Dalam acara peresmian tersebut Presiden memenuhi permintaan Ketua Umum IKPN-SI Raden Pandji Soeroso untuk memberi nama pabrik sekaligus merek dagang sepeda produksinya. Presiden Soeharto kemudian memberi nama Turangga atau kuda, yang katanya merupakan salah satu dari lima syarat  menurut nenek moyang untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia. Keempat syarat lainnya adalah wisma (rumah), wanita (istri), kukilo (burung) sebagai lambang hiburan, dan curigo (keris). “”Turangga” atau kuda merupakan alat transportasi atau alat penghubung, karena itu saya beri nama pabrik ini,  Turangga. Dengan kepala kuda sebagai lambang mereknya. Mudah-mudahan dapat dikenal di mana-mana,” kata Presiden waktu itu yang disambut dengan tepuk tangan riuh para hadirin.

KOMPAS/Piet Warbung

Presiden Soeharto melihat proses perakitan sepeda onthel Turangga.

Ketua Umum IKPN-SI dalam laporannya di acara peresmian itu menjelaskan, selain berencana akan memperluas usahanya lagi dengan mendirikan pabrik mesin jahit, kompor dan petromaks. Pendirian pabrik sepeda dimaksudkan untuk mengatasi masalah transportasi pegawai negeri yang jumlahnya 1,4 juta di seluruh Indonesia. Yang mana saat itu masalah kenaikan ongkos transportasi menjadi masalah kronis bagi kaum pengabdi negeri ini. Dibangunnya pabrik sepeda diharapkan mampu menekan harga sepeda, sehingga terjangkau bagi anggota koperasi pegawai negeri.

Pabrik sepeda ini didirikan di atas tanah seluas 21.550 meter persegi dan mempekerjakan 150 orang karyawan. Model pertama sepeda yang dibuat adalah jenis roadster atau onthel, yaitu sebuah sepeda tipe standar dengan gigi yang tak bisa diubah. Ukuran bannya  28 inchi, dengan ciri posisi duduk tegak. Sadelnya terbuat dari kulit tebal atau plastik. Di bagian roda depan, ada dinamo sebagai sumber listrik untuk lampu. Kemudian disusul produk jenis lainnya seperti sepeda mini dan sport. Pada tahun pertama pabrik ini memproduksi 36 ribu set dan menurut rencana, secara bertahap produksinya akan terus ditambah setiap tahun.

Guna menjalankan pabrik, sebanyak 28 unit mesin produksi diimpor dari Jepang dengan persediaan bahan baku yang didatangkan dari India, Taiwan, Hongaria, Cekoslowakia, dan Polandia. Di awal produksi, pabrik ini hanya assembling (merakit) sambil terus membuat sendiri frame (kerangka) sepeda dari pipa besi dengan cara las.

Karena terus merugi, setelah tujuh tahun berjalan, pabrik sepeda pertama milik koperasi pegawai negeri ini akhirnya dijual ke perusahaan swasta. Menurut Soemitro Djojohadikusumo yang menjabat Ketua Umum IKPN kala itu, penyebab meruginya pabrik sepeda Turangga karena kesalahan manajemen, yaitu menjual sepeda secara kredit kepada cabang-cabang IKPN, yang  kemudian ternyata tidak melunasi kewajibannya.

Pada era modern seperti sekarang ini, sudah jarang orang yang sengaja menggunakan sepeda jenis onthel sebagai alat transportai sehari-hari, terlebih di perkotaan. Kini sepeda onthel—sebagian orang menyebut sepeda onta—dengan berbagai merek, termasuk Turangga, lebih disukai karena hobi semata, nostalgia ke masa lalu, atau sebagai barang antik.

KOMPAS/Piet Warbung

Presiden Soeharto memperhatikan sepeda onthel produksi pabrik Turangga. Sampai akhir tahun 1970-an, sepeda jenis ini menjadi andalan sebagai alat transportasi bagi masyarakat terlebih di daerah pedesaan.

KOMPAS/Piet Warbung

Seorang karyawan pabrik sepeda Turangga memperlihatkan salah satu proses pembuatan sepeda saat Presiden Soeharto dan rombongan meninjau pabrik.

KOMPAS/Rudy Badil

Aktivitas karyawan pabrik sepeda Turangga di Batu Ceper, Tangerang (10/7/1975). Pabrik yang didirikan oleh Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) tahun 1974 ini menggunakan mesin produksi yang didatangkan dari Jepang.

Referensi

KOMPAS, 13 Juli 1974. Hal 1. Pabrik Sepeda “Turangga” Diresmikan Kepala Negara.

KOMPAS, 11 Juli 1975. Hal 4. Koperasi dapat Menjadi Wadah Usaha Besar

KOMPAS, 20 November 1981. Hal 2. Pabrik Sepeda “Turangga” Dijual

Foto lainnya dapat diakses melalui https://www.kompasdata.id/
Klik foto untuk melihat sumber.

error: Content is protected !!