Foto | Kebudayaan

Patung Ikonik di Jakarta

Patung merupakan karya seni tiga dimensi yang diciptakan menggunakan bahan keras dan lunak. Karya seni patung mengutamakan fungsi keindahan dan estetika.

Patung merupakan karya seni tiga dimensi yang diciptakan menggunakan bahan keras dan lunak. Karya seni patung mengutamakan fungsi keindahan dan estetika. Manusia sudah akrab dengan benda yang menyerupai mahkluk hidup seperti manusia itu sendiri maupun hewan. Patung sering kita jumpai di tempat-tempat seperti museum, gereja, taman, dan tempat umum lainnya. Patung memilik bentuk dan jenisnya yang beragam.

Di Jakarta ada beberapa jenis patung yang mempunyai ciri khas dan karakteristik masing-masing. Penggolongan jenis patung dapat dilihat berdasarkan bentuk, fungsi, ukuran, bahan, dan proses pembuatannya. Dibuatnya patung bertujuan untuk mengabadikan dan mengenang jasa tokoh atau peristiwa penting, tetapi juga merupakan ikonik yang menambah daya tarik kota Jakarta. Berikut patung yang menjadi ikonik di Jakarta yang terekam dalam foto-foto di Arsip Kompas.

Patung Hermes

KOMPAS/JULIAN SIHOMBING

Patung perunggu yang di kepalanya menggunakan helm bersayap dengan mata dan tangan kanan menunjuk ke arah langit ini, terdapat di persimpangan Harmoni, Jakarta Pusat, tepat di atas jembatan di antara Jalan Veteran dan Jalan Ir H Juanda. Patung ini menggambarkan Dewa Hermes dalam mitos Yunani, atau Mercurius dalam mitos Romawi. Hermes dianggap sebagai malaikat pelindung. Di zaman Belanda penempatan patung ini di atas jembatan sebagai simbol untuk menjaga dan melindungi pedagang yang menyeberangi Jembatan Harmoni. Patung Hermes yang terlihat di Jembatan Harmoni saat ini adalah duplikat.

KOMPAS/AGUS HERMAWAN

Patung Dewa Hermes atau Merkurius yang biasa terlihat di jembatan Harmoni depan Gedung Adhi Karya, sempat hilang sebelum akhirnya diketemukan Jumat (20/08/1999) lalu. Patung yang sudah ada sejak 1905 itu ternyata diselamatkan oleh aparat Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta lantaran roboh dan miring.

KOMPAS/MULYAWAN KARIM

Patung Dewa Hermes yang sempat raib dari tempatnya di Jembatan Harmoni tanggal 20 Agustus 1999 kini sedang dirawat atau dikonservasi di Museum Sejarah Jakarta. Cat yang sempat menutup tubuhnya dikerok untuk menampilkan lagi warna aslinya, warna perunggu kuning kehitaman. Patung antik yang berasal dari tahun 1905 itu dibaringkan di salah satu meja kerja di ruang kantor Museum Sejarah Jakarta.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Belasan siswa British International School mengagumi patung Dewa Hermes di belakang Stad Huis yang kini jadi Museum Sejarah Jakarta, Selasa (23/5/2006). Patung itu merupakan kembaran patung serupa di bursa saham Amsterdam. Para siswa asing itu mengunjungi kawasan Kota Tua Jakarta untuk melihat jejak hubungan Eropa-Asia Timur dan Indonesia.

Patung Dewa Hermes yang terbuat dari batu perunggu setinggi 12 meter. Patung ada semenjak zaman Belanda berlokasi di jembatan Harmoni, Jakarta Pusat sejak tahun 1905. Patung Hermes yang merupakan inspirasi dari Dewa Hermes dalam mitologi Yunani dikenal sebagai Dewa Kaum Pedagang serta Saudagar. Patung  ini berbentuk sosok pria bertubuh kekar, kepala dan mata memandang ke atas mengikuti tangan kanan yang juga menuding. Kaki kanan ditekuk sedang kaki kiri berpijak di atas sebuah bola. Tangan kirinya memegang tongkat (kini telah patah), seolah-olah ia akan terbang mengawang.

Patung Hermes dibuat oleh Prof. dr. Ernst Stolz , seorang ahli penyakit kulit dari Belanda pada tahun 1989. Pada 20 Agustus 1999, patung Hermes diselamatkan oleh aparat Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta karena patung tersebut telah roboh dan miring. Kemudian, patung tersebut dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta. Pemindahan itu dilakukan agar lebih mudah dirawat dan terlindungi. Pada tahun 1999 dibuatkan replika patung Hermes oleh Arsana dari Yogyakarta.

Patung Selamat Datang

KOMPAS/DANU KUSWORO

Air mancur Bunderan HI, Jakarta Pusat, Rabu, 16 Mei 2001.

Lokasi: Bunderah Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Patung Selamat Datang dibuat dalam rangka persiapan penyelenggaran Asian Games IV di Jakarta tahun 1962. Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno, yang kemudian didesain oleh Henk Ngantung. Pengerjaan pembuatan patung ini dimulai pada tahun 1961 yang berlangsung selama setahun. Patung ini terbuat dari bahan perunggu dengan sistem cor. Tinggi patung ini 17 meter dengan berat sebesar 5,5 ton. Pada tahun 1962 Patung Selamat Datang diresmikan oleh Presiden Soekarno. Patung ini menggambarkan sepasang manusia yang menggenggam bunga dan melambaikan tangan, simbol selamat datang bagi pendatang.

Patung Tugu Tani

KOMPAS/JHONNY TG

Inilah Patung Tani Bergerilya karya seniman Soviet yang diresmikan tahun 1963 oleh Presiden Soekarno (waktu itu) di Taman Prapatan, Menteng, Jakarta Pusat. Patung Pak Tani belakangan ini sering dipersoalkan keberadaannya, karena digambarkan membawa simbol komunis.

Lokasi: Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Patung Tugu Tani berlokasi di Taman Segitiga Menteng, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat. Patung ini terbuat dari bahan perunggu, yang merupakan hadiah Uni Soviet kepada kepada Pemerintah Indonesia. Patung dibuat oleh seniman ternama Rusia, yaitu Matvei Manizer dan Otto Manizer.  Pada tahun 1963 Presiden Soekarno meresmikan patung Tugu Tani. Dengan berdirinya patung seorang petani yang hanya menggunakan celana pendek, kegagahannya tampak terlihat dengan membawa sarung pistol yang berada di sisi kanan tubuhnya.  Patung ini juga menggambarkan kepahlawanan di masa perjuangan.

Patung Pembebasan Irian Barat

KOMPAS/DUDY SUDIBYO

Patung Pembebasan Irian Barat di tengah-tengah Lapangan Banteng Jakarta 1978. Dibangun sebagai monumen pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda 1962.

Lokasi: Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Patung Pembebasan Irian Barat berlokasi di tengah-tengah Lapangan Banteng. Gagasan untuk membuat patung tersebut berasal dari Presiden Soekarno, kemudian dibuatkan sketsa oleh Henk Ngantung (Wakil Gubernur Jakarta 1960–1965 dan Gubernur Jakarta 1964–1965). Tujuan pembangunan patung tersebut, mengingatkan perjuangan bangsa Indonesia untuk bertekad membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda pada tahun 1962.

Patung Pembebasan Irian Barat terbuat dari perunggu, berukuran setinggi 11 meter dengan berat 8 ton. Tinggi kaki patung 20 meter dari jembatan, sedangkan dari landasan bawah 25 meter. Edhi Sunarso dan Sanggar Keluarga Arca Yogyakarta adalah pematung yang membuat patung tersebut. Pada tanggal 17 Agustus 1963 Presiden Soekarno meresmikan Patung Pembebasan Irian Barat.

Patung Dirgantara

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

Di puncak Tugu Pancoran atau Monumen Patung Dirgantara yang seolah disanggah oleh tiang yang melengkung ini, terdapat patung sesosok manusia yang seolah dalam posisi akan terbang. Lokasinya tepat di depan bekas Mabes TNI AU yang dirancang untuk menyambut mereka yang baru tiba di Jakarta melalui Bandara Halim Perdanakusuma.

Lokasi: Pancoran, Jakarta Selatan.

Patung Dirgantara atau biasa disebut patung Pancoran karena lokasinya di Pancoran, Jakarta Selatan. Patung ini mulai dibuat pada tahun 1964–1965. Patung Dirgantara terbuat dari perunggu. Pengerjaannya dilakukan oleh sanggar Keluarga Arca Yogyakarta dan Edhi Sunarso. Tinggi patung 38 meter dengan tinggi patung 11 meter, berat 11 ton, dan tinggi kaki monuman 27 meter. Pembuatan patung ini, merupakan peringatan tonggak sejarah penerbangan Indonesia. Penerbangan ini sudah dimulai sejak Belanda menjajah Indonesia.

Patung Diponegoro

KOMPAS/RIZA FATHONI

Patung Diponegoro yang terbuat dari bahan perunggu karya Moenir Pamuntjak, yang terletak di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, telah diresmikan, Selasa (6/12/2005). Patung ini menggantikan posisi patung Kartini. Sesuai dengan keinginan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, peletakan patung tokoh nasional disesuaikan dengan nama jalan yang ada dan ini menambah koleksi patung di Jakarta.

Lokasi: Gambir, Jakarta Pusat.

Patung Diponegoro letaknya di dekat terowongan menuju Monumen Nasional, yang merupakan pemberian dari Dr. Mario Piltto. Beliau adalah seorang usahawan terkemuka yang pernah menjabat sebagai Konsul Jendral Kehormatan Indonesia di Italia. Prof. Cobertaldo adalah pemahat dari Italia yang ditugaskan membuat patung tersebut. Patung Diponegoro terbuat dari perunggu, sedangkan di dasarnya terbuat dari beton. Patung ini dibuat di Italia pada tahun 1965. Selain di Monas, patung Diponegoro yang sedang naik kuda juga terdapat di Taman Suropati Menteng.

Patung Pemuda Membangun

KOMPAS/EDWARD LINGGA

Suatu badan semacam Dewan Keindahan Kota perlu dibentuk untuk merancang dan membina keindahan Kota Jakarta. Patung-patung yang menghias Jakarta ternyata tidak memuaskan, baik dari segi estetis maupun segi penempatannya. Salah satu contoh ialah penempatan patung Pemuda Membangun di bundaran Senayan, Jakarta dianggap mengganggu lalu lintas.

Lokasi: Bundaran Senayan, Jakarta Selatan.

Patung yang terletak di bundaran air mancur Senayan, dibuat oleh tim patung yang tergabung dalam biro Insinyur Seniman Arsitektur di bawah pimpinan Imam Supardi. Yang berperan sebagai penanggung jawab pelaksana pembuatan patung ialah Munir Pamuncak. Patung ini terbuat dari beton bertulang terlapisi teraso. Pembuatan patung ini dimulai pada Juli 1971 yang berlangsung setahun dan diresmikan pada bulan Maret 1972. Patung ini menggambarkan seorang pemuda dengan semangat menyala-nyala membawa obor, untuk mendorong semangat membangun yang pada hakekatnya harus dilakukan oleh generasi muda.

Patung Arjuna Wijaya

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

 Patung Arjuna Wijaya.

Lokasi: Gambir, Jakarta Pusat.

Patung Arjuna Wijaya ditempatkan di jalur tengah Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Patung ini melukiskan tokoh Mahabharta dari pihak Pandawa, yakni Arjuna, yang akan ke medan pertempuran didampingi Sri Kresna sebagai saisnya. Arjuna melambangkan generasi pemuda harapan bangsa, sedangkan Sri Kresna merupakan figur penutan dan guru yang selalu menuntun muridnya. Kereta yang mereka naiki ditarik delapan ekor kuda. Desain patung Arjuna Wijaya dipercayakan kepada seniman Nyoman Nuarta. Patung ini diresmikan oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta Soeprapto pada tanggal 16 Agustus 1987. Biaya yang dihabiskan untuk membangun patung tersebut Rp300 juta. Pada tahun 2014 patung Arjuna Wijaya direnovasi dengan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp4 miliar. Kemudian pada 11 Januari 2015 diresmikan kembali oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Patung Jenderal Soedirman

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Dua polisi sedang merapikan kain pembungkus patung Jenderal Sudirman yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Sabtu (16/8/2003).

Patung yang terbuat dari perunggu setinggi 11 meter (tinggi badan patung 6,5 meter dan tinggi tempat penyangga 4,5 meter) itu dipasang di kawasan Dukuh Atas. Jalan Jenderal Sudirman , Jakarta Pusat. Biaya pembuatan patung sebesar Rp 6,6 miliar didapat dari pengusaha dengan kompensasi dua titik reklame di tempat strategis. Patung ini dibuat oleh Edi Sunaryo, yang kemudian diresmikan pada 16 Agustus 2003. Patung ini bertujuan untuk mengenang jasa pahlawan nasional Jenderal Soedirman.

Patung Yuri Gagarin

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Patung Yuri Gagarin, kosmonot Rusia yang menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa, menghiasi Taman Mataram, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/3/2021). Patung perunggu itu hibah dari Pemerintah Rusia kepada Pemerintah Indonesia.

Lokasi: Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Patung Yuri Gagarin terbuat dari Perunggu, yang menjadi simbol hubungan persahabatan Jakarta dan Moskwa (Rusia). Hubungan persahabatan ini sudah terjalin selama 72 tahun semenjak 3 Februari 1950. Patung kosmonot pertama Rusia yang berhasil ke luar angkasa pada tahun 1961 ialah Yuri Alekseyevich Gagarin. Patung ini sekarang menghiasi Taman Mataram, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Referensi

Arsip Kompas
  • Foto: Arjuna Wijaya, KOMPAS, 03-08-1987, hlm 3.
  • Info Jabotabek: Patung Arjuna Wijaya Diresmikan, KOMPAS, 08-11-2003, hlm 18.
  • Patung Diponegoro di dekat Monas: Penyumbangya Tak Pernah Melihat Letaknya, KOMPAS, 03-12-1978, hlm 6.
  • Patung Tugu Tani Tidak Perlu Dibongkar, KOMPAS, 09-05-2001, hlm 17.
  • Patung Pahlawan, Tugu Tani yang Tak Pernah Tenang, KOMPAS, 10-05-2001, hlm 17.
  • Mereka Berkerja di Awang-awang, KOMPAS, 21-12-1991, hlm 7.
  • Foto: Pembuatan Patung Pantjoran, KOMPAS, 29-06-1967, hlm 1.
  • Grafik: Patung Ikonik Jakarta, KOMPAS, 26-10-2021, hlm F.
  • Foto: Selamat Tinggal, KOMPAS, 21-03-1985, hlm 3.
  • Tugu Selamat Datang: Titik Awal Pembangunan Jakarta, KOMPAS, 04-06-1999, hlm 1.
  • Diskusi Patung-patung di Djakarta: Djakarta Perlu Punja Dewa Keindahan Kota * Patung-patung Monumental di Djakarta Tidak Memuaskan, KOMPAS, 07-08-1972, hlm 3.
Buku

—. 2000. Monumen Dan Patung di Jakarta. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi DKI Jakarta

error: Content is protected !!