Tokoh

Anies Baswedan

Setelah sebelumnya dikenal sebagai tokoh pendidikan, Anies Baswedan lebih aktif di panggung politik dan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Setelah menjadi pemimpin ibu kota, langkah dan kebijakan yang sering disorot publik dilatarbelakangi semangat kolaborasi pemerintah dan warganya.

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Dr. Anies Rasyid Baswedan, PhD

Lahir
Kuningan, Jawa Barat,
7 Mei 1969

Almamater
Universitas Gadjah Mada
University of Maryland
Northern Illinois University

Jabatan Terkini
Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022

Mendorong kolaborasi untuk membangun interaksi positif antara pemerintah dan warga untuk mencari solusi bagi setiap permasalahan terus menjadi mantra Anies dalam memajukan ibu kota. Semangat positif ini pula yang didengungkan untuk menyatukan ikatan yang sempat tercerai-berai saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Rekonsiliasi pun menjadi salah satu seruan dalam pidato pertama Anies Baswedan usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Pelantikan Anies sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta itu menandai babak baru perjalanan kariernya ke panggung politik yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan dan akademis.

Dunia pendidikan memang jalan awal titian karirnya. Dimulai dari menjadi peneliti, kemudian Rektor Universitas Paramadina, hingga sempat menjadi Menteri Pendidikan di Kabinet Kerja Jokowi–Jusuf Kalla.  Selama berkecimpung di dunia intelektual, dia pun aktif menuangkan rentetan pemikirannya dalam artikel di sejumlah media massa nasional. Ia juga menggagas gerakan di bidang pendidikan seperti Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasi.

Ketertarikan pada dunia pendidikan tak bisa lepas dari sosok kedua orang tuanya yang berlatar belakang akademisi. Kedua orang tuanya adalah dosen di dua universitas ternama di Yogyakarta. Karier tertinggi bidang pendidikan terwujud saat dia dipilih Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dalam Kabinet Kerja 2014-2019.

Setelah lengser dari posisi menteri pada tahun 2016, Anies pun aktif di panggung politik. Ia diminta Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk maju bersama Sandiaga Uno dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Melalui dua putaran Pilkada,  ia bersama Sandiaga Uno memenangi kontestasi pilkada dan dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017-2022.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno dielu-elukan oleh warga saat tiba di Balai Kota DKI Jakarta untuk melakukan serah terima jabatan, usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo, Jakarta, Senin (16/10). Pasangan Anies-Sandi akan memimpin Jakarta untuk periode 2017-2022.

Terasah selama masa pendidikan

Anies yang lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 7 Mei 1969 memang berasal dari keluarga berlatar belakang pendidikan yang mumpuni. Ayahnya Rasyid Baswedan pernah menjadi Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia dan dosen Fakultas Ekonomi di universitas tersebut. Ibunya, Aliyah, adalah seorang guru besar dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Negeri Yogyakarta.

Pasangan pengajar itu memiliki tiga anak yakni Anies Baswedan, Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan. Anies merupakan anak tertua dari pasangan pengajar itu.  Ketiga anaknya sejak kecil mereka didik dengan lempeng dan tegas. Alhasil, ketiganya berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana.

Kakeknya Abdurrahman (AR) Baswedan adalah seorang jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir. kakeknya dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara pada November 2018.

Anies kecil pada saat usia enam tahun didaftarkan orang tuanya sekolah di Sekolah Dasar (SD) IKIP Laboratori II Yogyakarta dan lulus tahun 1982. Selanjutnya, ia meneruskan pendidikan di SMP Negeri 5 di kota yang sama.

Anies melanjutkan ke SMA Negeri 2 di Kota Yogyakarta pada tahun 1985. Di tengah masa pendidikannya, ia mendapat kesempatan mencicipi bersekolah selama setahun di South Milwaukee, Senior High School, Wisconsin, Amerika Serikat. Konsekuensinya, kelulusannya di SMA di negeri ini jadi mundur satu tahun. Dia baru mendapatkan ijazah SMA-nya pada tahun 1989.

Selama di SMA Negeri 2 Yogyakarta, Anies remaja aktif terlibat organisasi OSIS di sekolahnya. Ia terpilih sebagai wakil ketua osis di sekolahnya dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus orang ketua OSIS se-Indonesia. Anies pun terpilih menjadi ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985.

Setelah menyelesaikan SMA, Anies melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, tepatnya di Fakultas Ekonomi. Jiwa kepemimpinannya berkembang dan terasah berkat aneka kegiatan organisasi yang ia ikuti selama mengenyam pendidikan tinggi.

Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI di kampus tersebut. Di fakultasnya, Anies menjabat sebagai ketua senat mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali senat mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dia terpilih menjadi ketua senat UGM pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan. Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif dan senat sebagai lembaga legislatif.

Meski aktif berorganisasi di kampus, Anies tak melalaikan tugasnya sebagai mahasiswa dan gelar sarjana ekonomi pun disandangnya pada tahun 1995. Kemudian Anies bekerja di lembagai kajian ekonomi di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM.

Berkat aktivitasnya di lembaga itu, Anies mendapatkan beasiswa untuk studi magister dan doktornya. Dia menempuh pendidikan S2 di University of Maryland, School of Public Policy, College Park, Amerika Serikat (AS) dan menyelesaikan pendidikan magisternya pada 1998.

Pada tahun 1999, Anies melanjutkan pendidikan S3-nya di  Northern Illinois University, Department of Political Science, Dekalb, Illinois, AS. Tahun 2005, pendidikan doktoralnya selesai dengan disertasi berjudul “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia”.

Karier

Setelah mendapatkan gelar doktor dan kembali ke tanah air, Anies meneruskan berkarya di bidang riset. Tak hanya sebagai peneliti, ia menjabat sebagai Direktur Riset pada The Indonesian Institute yang memiliki fokus pada riset dan analisa kebijakan publik. Tulisan-tulisannya tentang demokrasi dan pendidikan menghiasi media massa nasional.

Kariernya di bidang intelektual berlanjut saat dia terpilih sebagai Rektor Universitas Paramadina pada 15 Mei 2007. Sebelumnya, posisi tersebut dipegang cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Saat diangkat sebagai rektor universitas swasta di DKI Jakarta tersebut, Anies masih berusia 38 tahun dan tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia. Jabatan rektor diembannya hingga tahun 2011.

Ketika menjabat rektor, Anies banyak meluncurkan ide di bidang pendidikan yang kemudian cukup mendapatkan apresiasi. Salah satunya  adalah Gerakan Indonesia Mengajar yang diluncurkan tahun 2010. Program ini mengirimkan sarjana-sarjana yang sudah menjalani proses rekrutmen dan saringan untuk menjadi pengajar di SD di daerah-daerah terpencil nusantara.

Setahun kemudian, dia membidani lahirnya Gerakan Indonesia Menyala yang dilatarbelakangi keprihatinan minimnya bahan bacaan bermutu bagi anak-anak di daerah terpencil. Gerakan ini telah mendorong ratusan orang dan institusi untuk mengirimkan buku dan membentuk perpustakaan di daerah-daerah.

Tahun 2013, Anies mewujudkan gagasannya membentuk Kelas Inspirasi. Berbeda dengan gerakan sebelumnya, program ini menggerakkan para professional atau pekerja di berbagai kota untuk mengajar selama satu hari di SD. Tujuannya sederhana, yakni memberi inspirasi yang bisa melekat kuat di benak para siswa SD.

Karirnya berubah di tahun berikutnya ketika Anies dipilih Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Jabatan itu disandangnya hingga pertengahan 2016, usai kala ia digantikan oleh Muhadjir Effendy.

Ketika menjadi Menteri, Anies merombak organisasi misalnya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dipisahkan dan digabung dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Ia juga melakukan pembenahan pada seleksi terbuka Kemendikbud dan Program Uji Kompetensi Guru dan Sertifikasi Guru untuk meningkatkan kompetensi guru. Anies juga menerapkan kurikulum pendidikan baru yang dikenal sebagai Kurikulum 2013. Ia juga menetapkan bahwa Ujian Nasional bukan lagi menjadi  tolak ukur kelulusan, melainkan sebagai pemetaan pemerataan kualitas pendidikan dan guru.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri, Anies Baswedan melirik dunia politik. Ia maju menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Sandiaga Uno sebagai calon wakilnya pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017-2022. Pada kontestasi politik inilah, ia menang dan terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta mengalahkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang digelar dalam dua putaran Pilkada.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO (NUT)

Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana mengucapkan selamat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022 Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang telah dilantik di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10).

Daftar Penghargaan

  • Young Global Leader, World Economic Forum (2009)
  • Nakasone Yasuhiro Award, Institute for International Policy Studies (IIPS) (2010)
  • Worlds 20 Future Figure, Majalah Foresight, Tokyo, Jepang (2010)
  • 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia dari Lembaga Royal Islamic Strategic Studies Centre Yordania (2010)
  • Pimpinan anti korupsi dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (2018)
  • Kepala daerah terbaik atau Best Achiever Jakarta in Regional Leader versi majalah Men’s Obsession (2018)
  • Bapak Peningkatan Kompetensi Guru Indonesia dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) (2018)
  • Grand Property Award untuk kategori Gubernur yang Paling Menginspirasi dan Aktif Melakukan Pembinaan kepada BUMD (2018)
  • Gubernur Terbaik di Anugerah Indonesia Maju 2019 yang diberikan oleh Warta Ekonomi dan Rakyat Merdeka (2019)

Penghargaan

Banyak penghargaan yang diraih Anies, baik selama meniti karier akademisi ataupun di dunia politik. Saat menjadi akademisi, ia meraih sejumlah penghargaan internasional antara lain Top 100 Public Intelectuals, Majalah Foreign Policy, Washington, Amerika ( 2008 ) dan Young Global Leader, World Economic Forum ( 2009 ). Pada tahun 2010, apresiasi yang didapat antara lain Nakasone Yasuhiro Award, Institute for International Policy Studies (IIPS), Worlds 20 Future Figure, Majalah Foresight, Tokyo, Jepang, dan 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia dari Lembaga Royal Islamic Strategic Studies Centre, Yordania.

Pencapaian yang ia kumpulkan selama melangkah di dunia politik atau pun menjabat Gubernur DKI Jakarta antara lain Anugerah Obsession Award 2018 pada kategori Best Achiever in Regional Leader dan Penghargaan Bapak Peningkatan Kompetensi Guru Indonesia dari IGI. Ia juga mendapatkan Grand Property Award, penghargaan Pimpinan Anti Korupsi dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan serta Kepala Daerah Bebas Korupsi dari KPK.

Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendapatkan beberapa penghargaan. Misalnya, Komite Sustainable Award (STA) memberi apresiasi atas keberhasilan Pemprov DKI Jakarta mengembangkan transportasi yang berkesinambungan (2020). Pencapaian lain pemprov atas usahanya melayani warga ibu kota adalah penghargaan dari KPK terkait LHKPN, Gratifikasi, serta Aplikasi Pelayanan Publik serta penghargaan terkait Provinsi dengan Indeks Demokrasi Terbaik dari BPS.

KOMPAS/ALIF ICHWAN (AIC)

Penghargaan IDI 2017 – Menko Polhukam Wiranto menyerahkan penghargaan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2017 kepada Gubernur DKI Anies Baswedan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X, Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dan yang mewakili Gubernur Babel Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Bangka Belitung, Tarmin AB (dari kiri ke kanan) di Jakarta, Kamis (13/12/18). Sebelumnya Wiranto juga membuka launching Buku Indek Demokrasi Indonesia (IDI) Tahun 2017.

PUBLIKASI

  • Political Islam in Indonesian: Present and Future Trajectory, University of California (2004)
  • Indonesia Politics in 2007: the Presidency, Local Elections and Future of Democracy, BIES Australian National University (2007)

Kolaborasi Pemerintah dan Warga

Jakarta bukan sembarang daerah. Kedudukannya yang spesial bahkan dikenali dengan namanya yang diawali dengan Daerah Khusus Ibukota (DKI). Wilayah yang terdiri dari 5 kota dan 1 kabupaten ini, yang juga sekaligus menjadi ibu kota Indonesia, tentu menyandang beban tersendiri.

Dengan posisinya sebagai pusat ekonomi sekaligus pemerintahan negeri ini, jumlah penduduknya lebih besar dibandingkan luas wilayahnya.  DKI Jakarta yang dihuni oleh lebih dari sepuluh juta warga pun sarat dengan persoalan perkotaan mulai dari kedisiplinan warga, kemacetan, transportasi, sampah, penataan kota, dan lain-lain.

Dalam wawancara dengan Kompas di tahun keduanya memimpin ibukota, Anies menyadari bahwa pemprov punya otoritas dan kapasitas fiskal, namun kalah cepat dalam hal kreativitas dan inovasi. Sementara itu,  jumlah penduduk dan keberadaan teknologi informasi telah menyebabkan DKI Jakarta padat dengan sumber daya akan manusia, pengetahuan, jaringan, institusi.

Anies ingin kekuatan-kekuatan ini bergabung sehingga akan terjadi terobosan yang bisa dinikmati masyarakat dalam memecahkan aneka persoalan di ibu kota, baik terkait langsung perkotaan, warga, atau pun hal lain. “Dengan konsep kolaborasi, pemerintah tak sekadar memberi ruang, tetapi proaktif mengajak warga, komunitas, dan elemen sipil terlibat dalam beragam inisiatif bersama. Solusi perkotaan menjadi sesuatu yang inklusif, tak lagi eksklusif”, kata Anies (Kompas, 18/10/2019).

Baca juga: Politik Tikungan Terakhir Anies Baswedan

Biodata

Nama

Dr. Anies Rasyid Baswedan, PhD

Lahir

Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969

Jabatan

Gubernur DKI Jakarta (2017-2022)

Pendidikan

  • SD IKIP Laboratori II, Yogyakarta (1982)
  • SMP Negeri 5, Yogyakarta (1985)
  • SMA, South Milwaukee, Senior High School (AFS Year Program), Wisconsin, Amerika (1988)
  • SMA Negeri 2, Yogyakarta (1989)
  • S1, Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta (1995)
  • S2 University of Maryland, School of Public Policy, College Park, Amerika (1998)
  • S3, Northern Illinois University, Department of Political Science, DeKalb, Illinois, Amerika Serikat (2005)

Karier

Pemerintahan

  • Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah Kabinet Kerja (2014-2016)
  • Gubernur DKI Jakarta (2017-2022)

Non Pemerintahan

  • Redaktur dan Pembawa Acara “Tanah Merdeka” (Program TVRI Yogyakarta) (1989-1991)
  • Program Koordinator di Center for Student and Community Development (1993-1994)
  • Peneliti dan Koordinator Proyek di Pusat antar Universitas (PAU) – Studi Ekonomi UGM (1994-1996)
  • Peneliti pada The Office of Research, Evaluation, and Policy Studies, Northern Illinois University (2000-2004)
  • Peneliti pada Center for Governmental Studies, Northern Illinois University (2000)
  • Research Manager di IPC, Inc., Chicago, Illinois, Amerika (2004-2005)
  • Peneliti Utama di The Indonesian Survei Institute (LSI), Jakarta (2005-2007)
  • Research Director The Indonesian Institute, Center for Public Policy Analysis, Jakarta (2005-2009)
  • National Advisor Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah pada Partnership for Governance Reform, Jakarta (2006-2007)
  • Rektor Universitas Paramadina (2007-2011)
  • Pendiri dan Ketua Gerakan Indonesia Mengajar (2010)
  • Presenter Program Save Our Nation, Metro TV (2010)
  • Presenter Young Global Leaders Summit, Tanzania, Afrika (2010)

Organisasi

  • Pengurus Yayasan Paramadina ( 2005 – 2007 )
  • Pengurus Bina Antar Budaya-AFS Indonesia ( 2006 )
  • Pengurus AMINEF-Fullbright ( 2008 )
  • Pengurus Financial Club ( 2011 )

Penghargaan

  • JAL Scholarsip (1993)
  • Fulbright Scholarship (1997)
  • William P Cole III Fellowship, Universitas Maryland (1998)
  • ASEAN Student Awards Program (USAID-USIA-NAFSA) (1998)
  • Indonesian Cultural Foundation Scholarship (1999)
  • Gerald Maryanov Fellow, Northem Illions University (2004)
  • William P Cole III Fellow di Maryaland School of Public Policy, ICF Scholarship (2005)
  • Top 100 Public Intelectuals, Majalah Foreign Policy, Washington, Amerika (2008)
  • Young Global Leader, World Economic Forum (2009)
  • Nakasone Yasuhiro Award, Institute for International Policy Studies (IIPS) (2010)
  • Worlds 20 Future Figure, Majalah Foresight, Tokyo, Jepang (2010)
  • 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia dari Lembaga Royal Islamic Strategic Studies Centre,
  • Yordania (2010)
  • Pimpinan anti korupsi dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (2018)
  • Kepala daerah terbaik atau Best Achiever Jakarta in Regional Leader versi majalah Men’s Obsession (2018)
  • Bapak Peningkatan Kompetensi Guru Indonesia dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) (2018)
  • Grand Property Award untuk kategori Gubernur yang Paling Menginspirasi dan Aktif Melakukan Pembinaan kepada BUMD (2018)
  • Gubernur Terbaik di Anugerah Indonesia Maju 2019 yang diberikan oleh Warta Ekonomi dan Rakyat Merdeka (2019)

Karya

Artikel Kompas

  • Siapakah Ruling Elite Indonesia? Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 31 Oktober 2006.
    Demokrasi adalah kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat. Sebagai slogan, kata-kata Abraham Lincoln itu tampak menarik. Dalam kenyataannya, kekuasaan itu tidak identik dengan rakyat kebanyakan, tetapi dengan kaum elite. Kaum elite adalah bagian dari rakyat yang mengontrol akses pada sumber daya ekonomi dan politik, seperti finansial, informasi, pendidikan, status sosial, dan agama.
  • Bentangkan Optimisme Bangsa. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 27 Oktober 2008.
    Para pemuda yang berkumpul di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 memiliki kesadaran bersama tentang masa depan. Mereka menyadari transformasi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern mulai terjadi di Nusantara.
  • Masa Depan Demokrasi. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 9 Februari 2009.
    Sesungguhnya demokratisasi bukan sekadar liberalisasi partai politik. Namun, karena salah satu simbol paling nyata dari otoritarianisme Orde Baru adalah restriksi partai, liberalisasi menjadi simbol utama dan penting dari demokratisasi. Demokratisasi di Indonesia ekuivalen dengan liberalisasi partai.
  • Kaderisasi: Regenerasi Pemimpin Partai Politik. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 2 Juli 2009.
    Regenerasi adalah kata yang menjadi wacana intensif dalam beberapa waktu terakhir ini. Dalam “election season” tahun 2009, salah satu tantangannya adalah pada regenerasi. Pemilihan umum 9 April 2009 menghasilkan lebih dari 70 persen wajah baru. Sebuah regenerasi di tubuh DPR.
  • Piala Dunia, Trofi Bagi Mandela. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 13 Juli 2010.
    Setelah seharian mempresentasikan dan mendiskusikan Indonesia Mengajar, sebuah program pengiriman sarjana terbaik untuk menjadi guru SD selama satu tahun di desa terpencil, sore itu saya duduk di kereta api menuju Stasiun Tugu di Yogyakarta, untuk kemudian ke Magelang.
  • Peringatan bagi Pemimpin. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 25 Juli 2011.
    Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab.
  • Janji Kemerdekaan. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 15 Agustus 2011.
    Pemiliknya jelas masih miskin. Namun, dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi ribuan penumpang kereta yang tiap hari lewat di depan rumahnya: Kami juga pemilik sah republik ini. Kami percaya di bawah bendera ini kami juga akan sejahtera!
  • Ini soal Tenun Kebangsaan. Titik! Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 11 September 2012.
    Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah..
  • Penerobos Batas dan Kelumrahan. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 9 November 2013.
    Muriel Pearson atau K’tut Tantri tergetar. Pertempuran hebat sejak 10 November 1945 di Surabaya merupakan titik balik buat dirinya.”Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang. Sebagai perempuan Inggris, barangkali aku dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai jalan yang bisa kukerjakan,” tulisnya dalam Revolt in Paradise.Ia menjadi penyiar Radio Pemberontakan, bahu-membahu dengan…
  • VIP-kan Guru-Guru Kita!. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 28 November 2013.
    Berapa jumlah guru yang masih hidup?” itu pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di tanah Jepang. Kisah itu beredar luas. Bisa jadi itu mitos, tetapi narasi itu punya konteks yang valid: pemimpin ”Negeri Sakura” itu memikirkan pendidikan sebagai soal amat mendasar untuk bangkit, menang, dan kuat. Ia sadar bukan alam yang membuat Jepang menjadi kuat, melainkan kualitas manusianya. Pendidikan jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral….
  • Memenangkan Indonesia. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 16 April 2014.
    Indonesia harus diurus oleh orang baik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani: kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya. Efeknya dahsyat.Bung Karno dan generasinya membuat sebangsa bergerak. Semua merasa ikut punya Indonesia. Semua beriuran tanpa syarat demi tegaknya bangsa merdeka dan berdaulat. Ada yang beriuran tenaga, pikiran, uang, barang, dan termasuk nyawa. Namun, merdeka itu bukan cuma soal menggulung…  
  • Kolaborasi Membangun Jakarta. Oleh Anies Baswedan. KOMPAS, 17 Oktober 2019.
    Jakarta adalah kumpulan jutaan cerita. Ada beragam cerita di setiap sudutnya. Ini kisah tentang seorang warga di salah satu sudut Ibu Kota. Ia seorang sopir angkutan kota. Kini, hari-harinya tak dipenuhi amarah, wajahnya memancarkan aura ramah. Ia tidak lagi terbebani setoran atau menerima omelan penumpang karena ngetem; berhenti lama di pinggir jalan. Praktik-praktik yang membuat jalanan tak nyaman tentu tak bisa dibiarkan. Ngetem…

Keluarga

Istri

Fery Farhati S.Psi, M.Sc

Anak

  • Mutiara Annisa Baswedan
  • Mikail Azizi Baswedan
  • Kaisar Hakam Baswedan
  • Ismail Hakim Baswedan

Sumber
Litbang Kompas

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Daftarkan email Anda sekarang untuk mendapatkan informasi terkini tentang tokoh ternama.

close