Paparan Topik

Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi

Upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan reproduksi kembali menjadi perhatian pascapandemi. Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day bukanlah sebuah seremonial semata, melainkan sebuah gerakan untuk menguatkan kesadaran pada kesehatan reproduksi di seluruh dunia.

KOMPAS/LASTI KURNIA

Ribuan remaja ABG mengantre untuk mendapatkan tiket konser Boyband Korea Selatan Super Junior (Suju) di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Sabtu (7/4/2012). Sensus Penduduk Indonesia 2010 menunjukkan penduduk berusia 10-24 tahun di Indonesia berjumlah 28 persen dari populasi. Mereka menghadapi hambatan kultural dalam mengakses pelayanan terkait hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual.

Fakta Singkat

  • Data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2020 jumlah remaja (usia 10 – 24 tahun) sebesar 67 juta jiwa atau sebesar 24 persen dari total penduduk Indonesia.
  • Data WHO, di negara negara berkembang sekitar 21 juta remaja usia 15–19 tahun mengalami kehamilan dan mengisi angka kelahiran 11,6 persen dari seluruh angka kelahiran di dunia.
  • Di Indonesia terdapat 51 angka kelahiran dari 1000 peristiwa kelahiran oleh remaja usia 15–19 tahun
  • United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation pada 2021 memperkirakan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia 20 per 1.000 kelahiran

World Contraception Day atau Hari Kontrasepsi Sedunia yang digelar setiap 26 September merupakan kampanye untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kehidupan seksual dan kesehatan reproduksi.

Dalam hal ini, kesehatan reproduksi bukan hanya berbicara tentang kesehatan rahim wanita dan angka melahirkan, tetapi bagaimana perempuan dan keluarga merencanakan kehidupan berkeluarga serta keinginan memiliki anak. Upaya menjaga kesehatan reproduksi akan mempermudah individu dan keluarga untuk merencanakan kehamilan, serta mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Menurut data WHO, di negara-negara berkembang, sekitar 21 juta remaja usia 15–19 tahun mengalami kehamilan dan berkontribusi menambah angka kelahiran 11,6 persen dari seluruh angka kelahiran di dunia. Angka tertinggi kehamilan pada usia ini terdapat di Asia Timur sebesar 95 persen dan Afrika Barat sebesar 70 persen. Hal ini yang membuat pentingnya kampanye kesehatan reproduksi bagi remaja.

Menurut data BPS, pada tahun 2017, di pedesaan terdapat 51 kelahiran per 1000 penduduk pada perempuan yang masih berusia 15–19 tahun. Sementara di perkotaan, terdapat 24 kelahiran per 1000 penduduk pada perempuan yang masih berusia 15–19 tahun.

Menurut BKKBN, usia yang paling tepat untuk menikah paling muda adalah 21 tahun, karena perempuan perlu memiliki kedewasaan mental dan tubuh yang siap untuk mengemban fungsi reproduksi. Para remaja biasanya belum memiliki kematangan dalam hal cara berpikir dalam menyelesaikan masalah dan mereka tidak berpengalaman menghadapi konflik.

BKKN menemukan bahwa 50 persen perkawinan pada usia muda berakhir dengan perceraian. Hal ini menunjukkan remaja belum cukup dewasa menjalani perkawinan. Menurut BKKBN pernikahan dini di antara remaja usia belasan akhir hingga 20-an awal banyak terjadi karena alasan adat atau kehamilan di luar nikah.

Sejarah

Hari Kontrasepsi Sedunia pertama kali ditetapkan pada tahun 2007 oleh sepuluh organisasi keluarga berencana internasional. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan reproduksi dan kehidupan seksual yang baik sehingga mampu merencanakan kehamilan, juga bertujuan untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan ataupun penyakit infeksi seksual.

Gerakan ini didukung oleh 15 LSM internasional, organisasi pemerintah dan masyarakat ilmiah, dan dunia medis yang ikut berkepentingan untuk mengampanyekan dan melaksanakan program Hari Kontrasepsi Sedunia.

Bergabungnya berbagai LSM dan kelompok kepentingan menghasilkan Koalisi World Contraception Day (WCD). Koalisi ini terdiri dari beragam kelompok dari berbagai negara. Karena menyadari sasaran mereka adalah kelompok muda dari berbagai negara yang tentunya berbeda budaya, mereka sepakat untuk menetapkan kunci keberhasilan program World Contraception Day (WCD), yakni:

  1. Mengembangkan pendidikan seksual yang komprehensif dan informatif bagi generasi muda.
  2. Mendorong dan mempermudah akses pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual bagi anak muda.
  3. Membuang opini tabu yang menghalangi anak muda dalam memahami seksualitas.
  4. Menolak ketidaksetaraan gender.

 
WCD membuat tagline “it’s your life, it’s your future”, inilah hidupmu dan masa depanmu, untuk kampanye untuk menyasar anak perempuan usia 13–25 tahun. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesehatan remaja dan perempuan.

Partner dari WCD ikut terlibat mengampanyekan pengendalian kehamilan yang aman serta pendidikan seks yang sehat bagi remaja. Upaya yang dilakukan WCD di Amerika dan beberapa negara Eropa adalah memberikan pendidikan seks melalui beragam pelatihan dan kampanye tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan kehidupan seksual. Upaya lainnya, antara lain, memberikan konseling hingga memberikan kemudahan akses terkait kesehatan reproduksi.

Program kampanye kesehatan reproduksi dan seksual ini dilakukan melalui media internet dengan beragam konten yang berisi hal praktis dan sangat teknis untuk para remaja dan kelompok dewasa muda. Sebab, usia remaja dan dewasa muda adalah usia dini dan usia yang tepat untuk memperlajari dan memahami kesehatan reproduksi.

Gerakan WCD menyasar kelompok usia produktif, yaitu kelompok dewasa muda, baik laki-laki dan perempuan, termasuk para pekerja. Salah satu yang dilakukan adalah mengajak laki-laki pekerja untuk ikut serta dalam perencanaan keluarga.

Sejak tahun 2015, salah satu lembaga yang mendukung WCD adalah Institut Bill & Melinda Gates untuk Population and Reproductive Health (Gates Institute) di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dengan sponsor dari Bayer melalui program The 120 Under 40.

The 120 Under 40 menjadi program penghargaan untuk pengembangan generasi muda yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam bidang perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi di seluruh dunia. Penghargaan tersebut diberikan pada 120 pemimpin muda berusia di bawah 40 tahun yang melakukan gerakan mempromosikan kesehatan reproduksi dan seksual.

Program ini memberikan penghargaan pada generasi muda di bawah usia 40 yang mengampanyekan perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi di seluruh dunia. Sejak diluncurkan tahun 2015, The 120 Under 40 telah menjadi bagian dari program kesehatan seksual di dunia dan pemenangnya diambil dari seluruh negara di dunia. Pemenang harus memenuhi kriteria sebagai pemimpin atau pendorong di negaranya dengan membangun program yang bermanfaat bagi komunitas dan negaranya.

Mereka adalah para pemuda usia di bawah 40 tahun dan dipilih sebanyak 120 orang setiap tahunnya dari seluruh dunia. Sebanyak 120 pemenang dipilih dan ditentukan oleh juri yang ahli dalam bidang perencanaan keluarga, tahun 2019  terpilih 120 orang dari 37 negara, salah satunya Indonesia.

Pada tahun 2019, salah satu pemuda Indonesia memperoleh penghargaan tersebut, ini merupakan satu-satunya dari Indonesia. Neira Ardaneshwari Budiono adalah CO-founder TABU yang pada saat menerima penghargaan tersebut berusia 23 tahun. TABU adalah sebuah lembaga yang aktif mempromosikan dan mengedukasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi anak muda Indonesia lewat media sosial. Selain itu, TABU juga memberikan pendidikan seksual melalui kelas pendidikan seks, seminar, serta talkshow di sekolah dan perguruan tinggi.

Program ini memberi dukungan pada pemenang dengan memberikan kesempatan lebih luas untuk bekerja dan membangun jaringan internasional. Mereka akan dilibatkan dalam pertemuan internasional para pemuda seperti konferensi internasional mengenai perencanaan membangun keluarga. Mereka juga mengikuti training, seperti Gates Institute’s Global Health Leadership Accelerator, karena para pemenang ini akan menjadi pemimpin dalam perencanaan keluarga dan diharapkan dapat memberi dampak secara global.

Tantangan di Indonesia

Di Indonesia, persoalan yang masih mengemuka adalah pernikahan usia dini di bawah 20 tahun, bahkan masih terjadi pernikahan di bawah 17 tahun. Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), pernikahan usia belia berpotensi meningkatkan angka putus sekolah dan kemiskinan akibat perampasan hak anak untuk bertumbuh kembang, meraih pendidikan, dan bekerja.

Kendala yang terjadi adalah remaja yang menikah harus keluar dari sekolah atau putus sekolah. Jika pun mampu sekolah, hanya sampai tingkat menengah atas. Umumnya pengantin remaja yang dinikahkan demi adat atau karena hamil di luar pernikahan memiliki pendidikan yang rendah. Mereka tidak memiliki akses pendidikan yang baik dan umumnya tidak memiliki sumber penghasilan yang memadai.

Terkadang mereka masih harus berjuang menghadapi tekanan pihak sekolah ataupun keluarga. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kemampuan baik finansial maupun material bagi dirinya sendiri. Biasanya hidup mereka tergantung pada keluarga besar, dalam hal ini adalah orang tua ataupun mertua termasuk dalam pengasuhan anak mereka.

Selain itu, secara medis, pernikahan muda beresiko pada kesehatan reproduksi perempuan yang masih remaja seperti keguguran, kematian bayi, penyakit kelamin, kanker serviks, bahkan hingga gangguan mental akibat tekanan psiko-sosial yang harus dihadapi  remaja dalam pernikahannya. Menikah remaja biasanya bukanlah sebuah pilihan sadar, tetapi karena keterdesakan situasi baik tekanan adat maupun kasus hamil di luar nikah.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,  perkawinan anak sangat lekat dengan kesetaraan gender, di mana perempuan sering sekali dikawinkan pada usia yang masih anak-anak. Hal ini terjadi, antara lain, karena faktor kemiskinan, menjaga hubungan keluarga besar, atau melindungi dari hamil di luar nikah.

Lain halnya lagi bagi wanita dewasa yang sudah menikah, persoalan terbesar adalah perencanaan keluarga memiliki anak. Perencanaan memiliki keturunan yang dilakukan dengan baik akan mampu meningkatkan kebahagiaan bagi wanita karena mendukung kesehatan seksual mereka. Kesehatan seksual memiliki dimensi luas, yaitu kesehatan fisik dan relasi dengan pasangan.

Oleh karena itu, merencanakan pernikahan dan perencanaan membangun keluarga sangat penting untuk mencapai kehidupan perkawinan yang sehat bagi pasangan. Perencanaan bukan hanya untuk memiliki jumlah anak sesuai keinginan, tetapi membangun hubungan harmonis suami-istri. Di sinilah perlunya membangun keluarga dan pasangan yang baik, agar menghasilkan komunikasi yang lebih nyaman bagi pasangan yang mendukung pada pengembangan diri dan karier masing-masing.

Ketiadaan perencanaan atau kehidupan perkawinan yang hanya berjalan semengalirnya saja atau sekadar “lihat saja nantinya” seringkali merugikan dan menghambat pengembangan karir atau kehidupan berkeluarga.

Perencanaan keluarga dapat mengurangi angka kematian ibu (AKI). Menurut WHO, AKI adalah kematian selama masa kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan kecelakaan atau cedera.

Dalam hal ini, tentu saja pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab menjamin setiap ibu mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Ibu hamil harus mendapat perhatian, kemudian pertolongan persalinan dari tenaga terlatih, perawatan pasca-persalinan bagi ibu dan bayi serta akses terhadap keluarga berencana. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah hulu persoalan, yaitu pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual pada kelompok remaja dan dewasa muda.

Merujuk data BKKBN, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia tahun 2015 masih tinggi, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) terakhir yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015.

Meskipun proporsi kunjungan yang tinggi oleh bidan/dokter sebesar 90,9 persen (SDKI 2017) kematian ibu tetap menunjukkan angka yang tinggi. Hal itu sangat berbeda dengan pengamatan UNFPA pada ICPD 25+, bahwa di seluruh dunia ada korelasi negatif antara proporsi kunjungan bidan atau dokter kandungan dengan AKI. Maksudnya, makin tinggi kunjungan dan pelayanan kesehatan maka angka kematian ibu makin rendah, tetapi di Indonesia hal ini belum tercapai.

Pada tahun 2017 hampir 300 ribu perempuan meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan dan sekitar 5 juta anak balita meninggal setiap tahun. Dengan Total Fertility Rate (TFR) sebesar 2,35, berarti wanita (usia 15–49 tahun) rata-rata mempunyai 2–3 anak selama masa usia suburnya. Angka TFR yang tinggi artinya rata-rata usia kawin yang rendah, biasaya terjadi pada kelompok perempuan dengan  tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi).

Sementara itu, data terbaru BKKBN tahun 2020 kematian bayi pada 2019 sekitar 26.000 kasus meningkat hampir 40 persen menjadi 44.000 kasus pada 2020. Jika dikaitkan masa pandemi, ini terjadi karena putus pakai KB pada pasangan usia subur karena pada masa pandemi jumlah petugas yang turun ke masyarakat berkurang. Selain itu, yaitu tingginya angka unmet need (kebutuhan ber-KB tak terpenuhi) serta kehamilan tak diinginkan, yaitu dari target 17,5 persen naik menjadi 20,3 persen.

Maka dari itu, tidak salah jika WHO mengatakan angka kematian bayi masih tinggi di Indonesia, United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation 2021 memperkirakan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia 20 per 1.000 kelahiran. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2017, AKI Indonesia 177 per 100.000 kelahiran hidup. Bandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura (8 kematian per 100.000 kelahiran hidup) dan Malaysia (29 kematian). Sedangkan, data sampling registration system (SRS) Kementerian Kesehatan pada 2018 menunjukkan 76 persen kematian ibu pada fase persalinan dan pasca-persalinan.

Menurut Koordinator Kesehatan Maternal dan Neonatal, Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan, kasus kematian ibu dan anak pada Januari sampai September 2021 mencapai angka 3.794 orang, sedangkan pada Januari sampai September 2020 angka kematian pada ibu dan anak tercatat sebanyak 3.048 orang.

Kajian pada Juni 2020 pada masa awal pandemi menyatakan bahwa kunjungan pasien puskesmas mengalami penurunan sebanyak 84 persen, kunjungan ibu hamil menurun 69 persen, kegiatan posyandu menurun sebanyak 46 persen dan cakupan imunisasi menurun sebanyak 57 persen, serta kunjungan balita stunting atau gizi buruk menurun sebanyak 69 persen.

Angka Kematian Ibu (AKI) per 100 ribu kelahiran hidup

Tahun1991199720022007201220152021
AKI390334307228359305300

Sumber : Kementerian Kesehatan

Optimisme sedikit meningkat jika melihat Total Fertility Rate (TFR), yaitu jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya. Data terbaru hasil Pendataan Keluarga (PK21) yang dilaksanakan oleh BKKBN menunjukkan TFR tahun 2021 sebesar 2,24 menurun dari tahun 2019 sebesar 2,45.

Hal itu dicapai melalui kerja keras karena didera suasana pandemi Covid-19, salah satunya adalah dengan memperluas mitra dinas-dinas KB di kabupaten/kota dengan bidan-bidan praktik swasta, untuk mengakses alat maupun obat dan anggaran tidak lagi melalui Puskesmas tetapi langsung kepada Dinas KB di Kabupaten/Kota dan penyelenggaraan Gerakan Sejuta Akseptor.

Berdasarkan Age Spesific Fertility Rate (ASFR), yaitu banyaknya kelahiran tiap 1000 perempuan pada kelompok umur tertentu. Pada tahun 2015–2018, ASFR paling tinggi pada kelompok umur 25–29 tahun, sedangkan yang paling rendah pada kelompok umur 45–49 tahun.

Hasil pendataan ASFR tahun 2021 menunjukkan bahwa tahun 2019 masih tinggi, 38 per 1000, kemudian tahun 2020 ada 25 per 1000, dan ternyata di tahun 2021 menjadi 20,5 per 1000. Artinya, jumlah perempuan yang hamil dan melahirkan antara usia 15–19 tahun itu mengalami penurunan per seribunya. Dengan demikian, peluang resiko tinggi terjadinya kematian karena usia yang terlalu muda dapat ditekan.

Keluarga Berencana (KB)

Di Indonesia, perencanaan keluarga telah digaungkan sejak masa Presiden Soeharto dengan progam Keluarga Berencana (KB). Tujuannya saat itu adalah menurunkan angka kelahiran dan melawan idiom masyarakat Indonesia dahulu, yaitu “banyak anak banyak rezeki”.

Pemerintah telah mengeluarkan beragam cara merencanakan kehamilan. BKKBN membagi nya menjadi 2 jenis, yaitu metode kontrasepsi jangka pendek yang terdiri dari kondom, pil KB, dan suntikan KB; serta metode kontrasepsi jangka panjang yang terdiri dari alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), Implan, Tubektomi, dan Vasektomi. Dengan kata lain, ada tiga jenis pilihan metode kontrasepsi bagi pasangan usia subur yang sudah menikah.

  1. Pertama adalah kontrasepsi hormonal yang terdiri dari IUD hormonal, implan, pil KB, kontrasepsi darurat, dan suntikan KB.
  2. Kontrasepsi non-hormonal yang terdiri dari IUD non-hormonal, kondom, serta sterilisasi (tubektomi, dan vasektomi).
  3. Metode klasik yang biasa digunakan adalah alami berdasar metode kalender, senggama terputus, dan metode menyusui yang dikenal dengan MAL atau Metode Amenorea Laktasi. Metode MAL ini dapat digunakan bagi Ibu yang baru saja melahirkan dan menyusui bayinya.

Tahun lalu, Hari Kontrasepsi Sedunia di Indonesia mengambil tema “Meningkatkan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Guna Mencapai Indonesia Sehat. Hal itu tercapai atas kerja sama dan dukungan stakeholder, provider media, dan mitra kerja masyarakat.

BKKBN mengimbau seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan Klinik KB yang bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kobar untuk memberikan pelayanan KB gratis kepada masyarakat. Selain itu, dilakukan penyuluhan KB & kesehatan reproduksi di sejumlah RPTRA, hingga potongan harga menarik bagi peserta KB di merchant tertentu.

KOMPAS/DEDI MUHTADI

Sejumlah ibu muda berkumpul di ruang Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Karyamukti, Kota Banjar, Jawa Barat Senin (20/3/2017) untuk membuat kerajinan berupa peta keluarga. Itu merupakan bagian dari kegiatan Kampoeng Keluarga Berencana (KB) yang membantu menyosialisasikan program pemerintah mulai dari keikutsertaan ber-KB, aktivitas bina anak di bawah lima tahun (balita), bina remaja, bina lanjut usia hingga pengembangan usaha warga di desa itu.

Remaja Indonesia

Berbicara kesehatan reproduksi, semakin dini memahaminya, maka makin baik, karena akan menjadi panduan sepanjang hidupnya. Dalam hal ini remaja adalah hulu dari pelaku kesehatan seksual dan reproduksi.

Data sensus penduduk tahun 2020 jumlah remaja (usia 10 – 24 tahun) sebesar 67 juta jiwa atau sebesar 24 persen dari total penduduk Indonesia. Sedangkan, Sensus Penduduk 2020 (BPS, 2021) menunjukkan dari 270,20 juta penduduk Indonesia, 27,94 persennya adalah remaja.

Hasil survei SDKI Tahun 2017 menunjukkan terdapat 55 persen remaja pria dan 1 persen wanita merokok, 15 persen remaja pria dan 1 persen remaja wanita menggunakan obat terlarang, 5 persen remaja pria minum minuman beralkohol, serta 8 persen pria dan 1 persen wanita yang pernah melakukan hubungan seksual saat pacaran.

Perilaku berisiko remaja disebabkan oleh rendahnya pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi di mana dapat berisiko memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, di antaranya terkait penyakit menular seksual dan kelahiran pada remaja yang mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang Kesehatan reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bersama dengan John Hopkins Centre for Communication Program (JHCCP) menyelenggarakan Youth Summit 2021 dengan tema “Remaja Keren Cegah Stunting: Berani Beraksi Berkolaborasi”. Pertemuan ini melanjutkan pertemuan tahun 2017 , komitmen kita Bersama JHCPP, BKKBN dan Forum Generasi Berencana Indonesia (FGI) telah menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu:

  1. Pengembangan panduan pemberian edukasi kesehatan reproduksi bagi pendidik berdasarkan rentang usia.
  2. Penerapan pendekatan pelibatan remaja yang bermakna (Meaningful youth Participation/MYP) oleh institusi pemerintah/organisasi
  3. Pemberian edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif diberikan mulai usia yang lebih muda, atau sejak remaja mengalami pubertas
  4. Pengembangan platform online kesehatan reproduksi remaja yang mudah dan ramah diakses remaja
  5. Pemberian layanan kesehatan yang ramah remaja dan disesuaikan dengan kebutuhan, khususnya untuk remaja rentan dan termarginalkan.

Pada tahun 2021, JHCPP dan BKKBN berusaha mewujudkan rekomendasi tersebut dengan mengembangkan beberapa inisiasi program dan platform, yaitu:

  1. JHCPP, BKKBN, dan Hipwee.com bekerja sama mengembangkan platform online, yaitu Dokter GenZ dalam upaya memberikan edukasi yang komprehensif bagi remaja ragam identitas yang mudah dan ramah diakses dari mana saja.,
  2. JHCPP, BKKBN, dan Forum Generasi Berencana Indonesia (FGI) mengembangkan panduan edukasi kesehatan reproduksi dan seksual remaja berdasarkan segmentasi usia bagi pendidik sebaya
  3. Menginisiasi penerapan prinsip pelibatan remaja yang bermakna (MYP) oleh FGI.

Secara umum di Indonesia, Hari Kotrasepsi Nasional masih menjadi sebuah gerakan kampanye penggunaan alat kontrasepsi belum menyentuh pada gerakan membangun pola pikir masyarakat. Suatu masyarakat akan kuat jika perencanaan keluarga tentang kehidupan seksual dan reproduksi dibuat dengan baik, karena akan mendukung kemajuan dalam berkarir dan produktifitas masyarakat. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Internet