Paparan Topik | ASEAN Para Games

ASEAN Para Games: Sejarah, Cabang, Tuan Rumah, dan Prestasi Indonesia

Pesta Olahraga Difabel Asia Tenggara merupakan ajang olahraga dua tahunan yang diadakan setelah Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) bagi atlet-atlet penyandang cacat fisik (difabel). ASEAN Para Games diikuti 11 negara di Asia Tenggara dan diselenggarakan oleh tuan rumah SEA Games dibawah pengawasan ASEAN Para Sports Federation (APSF), federasi yang menaungi organisasi olahraga difabel di tingkat ASEAN.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Aksi lompatan Daniel Patay saat merebut emas dari cabang renang 50 meter gaya dada dalam ajang ASEAN Para Games VI/2011 di Kolam Renang Tirtomoyo, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/12/2011). Kemenangan ini sekaligus memecahkan rekornya sendiri dengan catatan waktu 45 detik, sebelumnya 47 detik.

Fakta Singkat

  • Pesta olahraga difabel Asia Tenggara diselenggarakan pertama kali tahun 2001 di Malaysia.
  • Sebanyak 11 negara di kawasan Asia Tengggara menjadi peserta ASEAN Para Games.
  • Malaysia menjadi tuan rumah tiga kali (tahun 2001, 2009, dan 2017), sementara Indonesia dua kali (2011 dan 2022), dan yang menjadi tuan rumah sekali, yakni Filipina (2005 dan 2020 tapi batal digelar), Vietnam (2003), Thailand (2008), Myanmar (2014), dan Singapura (2015).
  • Tiga negara sudah menjadi juara umum adalah Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Thailand terbanyak menyandang predikat juara umum (enam kali), Indonesia dua kali, dan Malaysia satu kali.
  • Nilai bonus atlet peraih medali dari Indonesia sama seperti bonus atlet di SEA Games. Tahun 2017, Atlet individu peraih medali emas mendapat Rp200 juta, Rp100 juta untuk perak, dan Rp60 juta bagi perunggu.

Sejarah

Ajang pesta dua tahunan penyandang difabel di Asia Tenggara tak bisa lepas dari sejarah terbentuknya ASEAN Para Sports Federation (APFS). Gagasan pembentukan federasi itu digaungkan Presiden Dewan Paralimpiade Malaysia Dato’ Zainal Abu Zarin pada tahun 1990-an.

Zainal mengusulkan suatu ajang untuk memfasilitasi olahraga bagi penyandang disabilitas. Ia lantas bertemu dengan pejabat dari ASEAN National Paralympic Committee (NPC) dan mengusulkan gagasan pembentukan ASEAN Para Games yang digelar setelah ajang SEA Games.

Pada Mei 2000, APSF terbentuk di Malaysia setelah dilakukan pertemuan-pertemuan persiapan SEA Games 2001 di negara tersebut. Federasi itu bertujuan untuk mendukung penyandang disabilitas di tingkat ASEAN melalui olahraga dengan semangat persahabatan dan solidaritas. Selain itu, turnamen ini dilakukan untuk mempromosikan dan mengembangkan olahraga sebagai platform untuk rehabilitasi dan mengasimilasi difabel dalam hidup bermasyarakat.

Pada tahun 2001, Dato’ Zainal terpilih sebagai Presiden pertama APSF dan Malaysia yang menjadi tuan rumah SEA Games ditunjuk menyelenggarakan  ASEAN Para Games untuk pertama kalinya. Ajang itu mengacu pada aturan dan cabang-cabang olaraga yang dipertandingkan di Paralimpiade, pesta olahraga difabel dunia yang digelar setelah Olimpiade.

ASEAN Para Games mengikuti konsep dan peraturan sesuai ajang Paralimpiade, pesta olahraga difabel tingkat dunia. Ajang tersebut sekaligus sebagai persiapan bagi negara-negara peserta di ajang Paralimpiade maupun Asian Para Games dan di bawah pengawasan ASEAN Para Sports Federation (APSF), federasi olahraga yang menaungi organisasi-organisasi olahraga difabel tingkat ASEAN.

Tuan rumah penyelenggaraan ajang ini sebagian besar sama dengan negara penyelenggara SEA Games, namun beberapa kali terpaksa diselenggarakan di luar penyelenggara SEA Games. Pesta para difabel itu pertama kali diselenggarakan di Malaysia  pada Oktober 2001 setelah Ajang SEA Games ke-21 yang digelar di negara tersebut.

Simak Video: Surakarta Tuan Rumah ASEAN Para Games 2022

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Atlet cabang olahraga boccia melakukan latihan sebelum mereka mengikuti ajang Asean Para Games di GOR Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (20/7/2022).

Cabang Olahraga

ASEAN Para Games 2022 atau ajang ke-11 akan mempertandingkan 14 cabang olahraga, yaitu blind judo, bulu tangkis paralimpiade, tenis meja paralimpiade, catur paralimpiase, panahan paralimpiade, atletik paralimpiade, boccia, angkat berat paralimpiade, renang paralimpiade, tenis kursi roda, basketball kursi roda, goalball, Sepakbola CP, dan bola voli duduk. Sebanyak 14 cabang olahraga ini akan digelar di empat belas venue di Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan Semarang.

Jumlah cabang itu lebih sedikit dibandingkan ajang terakhir atau ASEAN Para Games ke-9 yang digelar di Kualalumpur, Malaysia pada September 2017 lalu. Di ajang ke-9 itu sebanyak 16 cabang olahraga dengan 369 nomor pertandingan dilombakan. Cabang olahraga itu adalah para atletik Paralimpiade, Renang Paralimpiade, Tenis Meja Paralimpiade, Catur Paralimpiade, Bulu Tangkis Paralimpiade, Angkat Berat Paralimpiade, Balap Sepeda Paralimpiade, Panahan Paralimpiade, Ten Pin Boling, Goalball, Bola Voli Duduk, Tenis, Boccia, Sepak bola 5 lawan 5 pemain, dan Sepak bola 7 lawan 7 pemain, serta Basket.

Sebenarnya ada ajang ke-10 yang seharusnya digelar di Manila, Filipina pada 2019. Ajang itu awalnya ditunda menjadi tahun 2020, namun kemudian terpaksa dibatalkan karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk kawasan Asia Tenggara.

Ada dua cabang olahraga yang khas bagi kaum difabel di ASEAN Para Games XI, yakni Boccia dan sepakbola cerebral palsy.

Cabang olahraga Boccia didesain untuk penyandang disabilitas celebral palsy pertama kali diperkenalkan di Paralimpiade 1984. Boccia merupakan olahraga ketepatan dengan cara melempar bola yang dilakukan pemain sambal duduk di kursi roda.

Bola yang dilempar berdiameter 100 milimeter, dengan berat 275 gram. Sementara ukuran lapangan 12,5 meter x 6 meter. Anggota tim beregu berisi tiga orang, masing-masing pemain melempar dua bola. Sementara untuk permainan berpasangan, tiap orang melempar tiga bola, dan untuk tunggal melempar enam bola.

Ada tiga warna bola dalam boccia: putih, merah, dan biru. Putih merupakan bola jack, bola pertama yang dilempar olah salah satu tim. Tim yang berhadapan, masing-masing akan mendapatkan 6 bola. Tim yang pertama mendapatkan bola merah, yang lainnya mendapatkan bola biru. Masing-masing tim akan melempar atau menggunakan alat untuk mendorong bola sedekat mungkin dengan bola putih yang disebut dengan “jack.” Bola yang terdekat dengan jack yang dihitung poin.

Sementara untuk sepak bola kaum difabel sesuai dengan Komite Paralimpiade Internasional (IPC) ada dua cabang, yakni lima lawan lima dan tujuh lawan tujuh. Untuk sepak bola tujuh lawan tujuh, peserta untuk penyandang celebral palsy atau kelainan neurologis. Sementara untuk lima lawan lima, peserta dibatasi untuk kalangan tunanetra. Untuk ajang ke-11 di Solo pada Juli 2022 ini hanya sepak bola 7 lawan 7 yang dipertandingkan.

Aturan sepak bola untuk penyandang gangguan saraf atau cebebral palsy hampir sama dengan sepak bola konvensional, hanya saja disesuaikan dengan kondisi fisik para atlet. Luas lapangan mempunyai ukuran dengan panjang 70–75 meter dan lebar 50–55 meter, dengan ukuran gawang 5×2 meter. Pertandingan berlangsung 2 x 60 menit.

Adapun ukuran lapangan sepak bola lima lawan lima yang dimainkan kaum tunanetra mirip lapangan futsal dan dikelilingi pembatas yang memungkinkan tidak terjadinya out. Setiap tim terdiri dari lima pemain, termasuk satu orang penjaga gawang yang tidak tunanetra. Lama waktu bermain 2×25 menit dengan istirahat per babak 10 menit.

Peraturan dari sepak bola lima lawan lima mirip dengan futsal. Namun, ada peraturan yang mempermudah pemain tunanetra untuk tahu arah gawang dan pemain lawan lewat keberadaan pemandu yang berada di belakang gawang lawan. Selain itu, aturan yang mempermudah setiap pemain untuk menentukan posisi bola lewat suara yang berbunyi dari dalam bola jika bola bergerak.

Cabang olahraga di ASEAN Para Games 2022:

  • Para Atletik (AT)
  • Para Swimming (SW)
  • Para Badminton (BW)
  • Para Tenis Meja (TT)
  • Para Chess (CH)
  • Para Powerlifting (PO)
  • Boccia (BO)
  • Blind Judo (Judo)
  • Goalball (GB)
  • Wheelchair Tennis (WT)
  • Para Archery (AR)
  • CP Football (FT)
  • Wheelchair Basketball (WB)
  • Sitting Volleyball (SV)

Simak Video: Bulu Tangkis Targetkan Enam Emas ASEAN Para Games 2022

KOMPAS/LUSIANA INDRIASARI

Muhammad Fadli, mantan pebalap motor yang kehilangan kaki kirinya, mewakili Indonesia untuk lomba balap sepeda difabel (paracycling) di ASEAN Para Games 2017 di Malaysia.

Peserta

ASEAN Para Games XI 2022 digelar 30 Juli — 6 Agustus 2022 di Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Kegiatan ini diikuti 2.309 peserta yang terdiri dari 1.648 atlet dan 661 official dari 11 negara di Asia Tenggara, yakni Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Jumlah atlet peserta ASEAN Para Games 2022:

  • Indonesia 321 atlet
  • Thailand 312 atlet
  • Filipina 144 atlet
  • Vietnam 126 atlet
  • Kamboja 113 atlet
  • Malaysia 89 atlet
  • Myanmar 69 atlet
  • Singapura 44 atlet
  • Laos 37 atlet
  • Brunei Darussalam 15 Atlet
  • Timor Leste 15 atlet.
  • Jumlah 648 atlet

Sementara itu, ajang sebelumnya yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 17–23 September 2017 atau 17 hari setelah SEA Games 2017, menggelar 16 cabang olahraga dengan 479 nomor pertandingan. Sebanyak 1.452 atlet dari 11 negara ASEAN berpartisipasi dalam ajang ke-9 tersebut, termasuk Timor Leste yang kembali berlaga di ASEAN Para Games setelah terakhir kali berpartisipasi pada tahun 2011 atau edisi ke-6.

Berikut adalah jumlah atlet di masing-masing negara peserta di ajang ke-9 di Malaysia.

  • Brunei (27)
  • Kamboja (75)
  • Indonesia (192)
  • Laos (50)
  • Malaysia (331)
  • Myanmar (120)
  • Filipina (115)
  • Singapura (92)
  • Thailand (291)
  • Timor Leste (14)
  • Vietnam (150)

Simak video: 130 Kendaraan Ramah Difabel Disiapkan untuk ASEAN Para Games 2022

KOMPAS/AGUNG SETYAHADI

Jaenal Arifin meraih medali perak di nomor 200 meter T54, kategori untuk atlet berkursi roda dengan fungsi lengan dan tangan normal di hari terakhir ASEAN Para Games Singapura 2015, Rabu (9/12/2015). Indonesia meraih 81 medali emas tetapi gagal mempertahankan gelar juara umum yang direbut oleh Thailand.

Tuan rumah

Sebanyak 11 kali ASEAN Para Games (APG) telah diselenggarakan sejak pertama kali dipertandingkan pada tahun 2001. Satu di antaranya dibatalkan karena pandemi Covid-19, yakni ajang ke-10 yang seharusnya diselenggarakan di Filipina tahun 2020. Malaysia merupakan negara terbanyak menjadi tuan rumah, yakni tiga kali (tahun 2001, 2009, dan 2017), sementara Indonesia dua kali sebagai tuan rumah (2011 dan 2022).

Adapun beberapa negara-negara anggota lainnya menjadi tuan rumah sekali, yakni Filipina (2005 dan 2020 tapi batal digelar), Vietnam (2003), Thailand (2008), Myanmar (2014), dan Singapura (2015). Negara Asia Tenggara lainnya yang belum pernah menjadi tuan rumah, yakni  Brunei, Kamboja, Laos, dan Timor-Leste.

Tuan rumah penyelenggaraan ajang ini biasanya sama dengan negara penyelenggara SEA Games, namun beberapa kali terpaksa diselenggarakan di luar penyelenggara SEA Games. Tahun 2009, tuan rumah ASEAN Para Games diambil alih Malaysia dari Laos karena tuan rumah yang ditunjuk mengalami banyak kendala.

Laos sebelumnya menjadi tuan rumah ajang SEA Games ke-25 yang digelar pada Desember 2009. Malaysia mengambil alih untuk menjadi tuan rumah ASEAN Para Games ke-5 guna memastikan kelangsungan ajang bagi kalangan difabel tersebut.

Tahun 2022, hal serupa terjadi di ASEAN Para Games 2022 di mana Vietnam sebagai menjadi tuan rumah SEA Games ke-31 yang digelar pada Mei 2022 seharusnya juga menyelenggarakan ajang ASEAN Para Games XI. Namun, karena banyak kendala, terpaksa Indonesia mengambil alih sebagai tuan rumah ajang tersebut.

Kota Surakarta ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan pesta dua tahunan kalangan difabel itu karena infrastruktur olahraga di kota itu memadai untuk event tersebut. Solo juga pernah menjadi tuan rumah ajang yang sama pada tahun 2011 lalu. Selain di Solo, tiga tempat lainnya juga menggelar pertandingan APG 2022, yakni Karanganyar, Sukoharjo, dan Semarang.

Berikut daftar cabang olahraga dan venues-nya pada APG 2022:

  1. Atletik di Stadion Manahan Solo
  2. Bulutangkis di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
  3. Tenis meja di Solo Techno Park (Jebres)
  4. Catur di Hotel Lorin Dewangsa Sukoharjo
  5. Angkat Berat di Hotel Solo Paragon
  6. Boccia di GOR FKor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Manahan)
  7. Judo Tunanetra di Convention Hall Terminal Tirtonadi Solo
  8. Goalball di GOR UNS Surakarta (Kentingan)
  9. Tenis kursi roda di Lapangan Tenis Gelora Manahan Solo
  10. Panahan di Lapangan Kotabarat Solo
  11. Sepak Bola CP di Stadion Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Kentingan)
  12. Basket kursi roda di GOR Sritex Arena Solo
  13. Voli duduk di GOR Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta (Plesungan)
  14. Renang di Kolam Renang Jatidiri Semarang

Galeri Foto: Persiapan Asean Para Games 2022 di Surakarta

KOMPAS/Agung setyahadi

Atlet bulutangkis difabel Suryo Nugroho meraih kemenangan bersejarah melawan musuh bebuyutan sekaligus juara dunia para-badminton Cheah Liek Hou dari Malaysia di final tunggal putra kelas lower 5 ASEAN Para Games Singapura 2015, Selasa (8/12/2015). Suryo meraih medali emas ketujuh dari bulu tangkis, melebihi target enam medali emas.

Prestasi Indonesia

Sejak pertama kali digelar pada 2001, ASEAN Para Games sudah melahirkan tiga negara yang menjuarai ajang multievent kaum difabel tingkat Asia Tenggara. Ketiga negara itu adalah Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Thailand tercatat sebagai negara terbanyak menyandang predikat juara umum, yakni enam kali pada tahun 2003, 2005, 2008, 2009, 2011, dan 2015. Sementara itu, Indonesia terbanyak kedua dengan dua kali meraih juara, yakni pada tahun 2014 dan 2017. Adapun Malaysia baru sekali menjadi juara, tepat saat ajang tersebut digelar untuk pertama kalinya di negara itu tahun 2001.

Tahun Ajang ke- Kota tuan rumah Tanggal Juara ke-1 Ke-2 Ke-3
2001 I Malaysia Kuala Lumpur 26–29 Oktober  Malaysia  Thailand  Myanmar
2003 II Vietnam Hanoi1 21–27 Desember  Thailand  Vietnam  Malaysia
2005 III Filipina Manila 14–20 December  Thailand  Vietnam  Malaysia
2008 IV Thailand Nakhon Ratchasima 20–26 Januari  Thailand  Malaysia  Vietnam
2009 V Malaysia Kuala Lumpur 15–19 Agustus  Thailand  Malaysia  Vietnam
2011 VI Indonesia Solo 15–20 Desember  Thailand  Indonesia  Malaysia
2014 VII Myanmar Naypyidaw 14–20 Januari  Indonesia  Thailand  Malaysia
2015 VIII  Singapura 3–9 Desember  Thailand  Indonesia  Malaysia
2017 IX Malaysia Kuala Lumpur 17–23 September  Indonesia  Malaysia  Thailand
2020 X Filipina Capas & Metro Manila 18–25 Januari (dibatalkan) dibatalkan dibatalkan dibatalkan
2022 XI Indonesia Solo 23-30 Juli 2022

Sumber: Litbang Kompas/ERI, diolah dari pemberitaan sejumlah media

Di ajang ASEAN Para Games Solo 2011, Thailand berhasil merebut juara umum dengan koleksi 123 emas, 98 perak, dan 73 perunggu, sementara kontingen Indonesia sebagai tuan rumah menduduki peringkat kedua dengan mengumpulkan 113 emas, 108 perak, 89 perunggu. Malaysia menempati peringkat ke-3 dengan 51 emas, 36 perak, dan 45 perunggu.

Sementara di ajang ke-7 yang digelar pada Januari 2014 di Naypyidaw, Myanmar, kontingen ”Merah Putih” yang diperkuat 150 atlet berhasil mengumpulkan 99 medali emas, 69 perak, dan 49 perunggu. Pencapaian itu menempatkan Indonesia sebagai juara umum mengalahkan Thailand yang meraih 96 emas, 82 perak, dan 70 perunggu dan menempati peringkat ke-2. Adapun peringkat ketiga ditempati Malaysia yang mengumpulkan 50 emas, 49 perak, dan 41 perunggu.

Namun, di ajang berikutnya, ajang ke-8 yang digelar di Singapura pada 2015, prestasi Indonesia turun satu peringkat dengan menduduki peringkat ke-2. Indonesia meraih 81 emas, 74 perak, dan 63 perunggu. Sementara Thailand tampil sebagai juara umum mendulang 95 emas, 76 perak, dan 79 perunggu.

Di ASEAN Para Games di Kuala Lumpur 2017 yang digelar pada 17–23 September, atlet-atlet difabel Indonesia kembali mengukir prestasi juara umum. Kontingen ”Merah Putih” berjaya dengan perolehan 126 medali emas, 75 perak, dan 50 perunggu. Indonesia melampaui tuan rumah Malaysia yang mengumpulkan 90 emas, 85 perak, dan 83 perunggu. Adapun Thailand di peringkat ketiga dengan 68 emas, 73 perak, dan 95 perunggu.

Di ajang ke-11 yang digelar di Surakarta, Jawa Tengah pada 30 Juli — 6 Agustus 2022, tuan rumah Indonesia, dalam hal ini Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia kembali menargetkan juara umum dengan menargetkan 104 medali emas pada perhelatan ASEAN Paragames 2022.

Target medali emas Indonesia pada 14 cabang olahraga yang diikuti, yakni paraatletik (35 medali emas), pararenang (27), paratenis meja (12), paracatur (10), parabadminton (6), paraangkat berat (6), blind judo (3), dan parapanahan (2). Cabang olahraga yang masing-masing ditargetkan 1 emas, yakni voli duduk, boccia, dan sepak bola CP.

Perolehan medali ASEAN Para Games IX 2017 di Malaysia

Peringkat Negara Emas Perak Perunggu Jumlah medali
1  Indonesia 126 75 50 251
2  Malaysia 90 85 83 258
3  Thailand 68 73 95 236
4  Vietnam 40 61 60 161
5  Filipina 20 20 29 69
6  Myanmar 11 15 17 43
7  Singapura 10 18 24 52
8  Brunei 2 6 6 14
9  Timor Leste 2 0 1 3
10  Kamboja 0 5 5 10
11  Laos 0 4 4 8
Jumlah   369 362 374 1.105

Sumber: Litbang Kompas/ERI, diolah dari pemberitaan Kompas

Perolehan Medali Kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2017

Cabang Emas Perak Perunggu Jumlah
Atletik 40 28 17 85
Renang 39 13 12 64
Catur 14 9 5 28
Tenis Meja 14 10 4 28
Bulutangkis 8 5 4 17
Angkat berat 7 4 11
Sepeda 2 3 7 12
Panahan 1 3 4
Sepakbola 1 1
Boling  –  – 1 1
Jumlah 126 75 50 251

Sumber: Litbang Kompas/ERI, diolah dari pemberitaan Kompas

Baca juga: Giat Berlatih Sambut ASEAN Para Games 2022

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Salah satu atlet difabel berenang gaya bebas dengan satu tangannya saat berlatih untuk ajang ASEAN Para Games 2022 di Hotel Sahid, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2022). Ajang olahraga multiajang atlet difabel se-Asia Tenggara ini mempertandingkan 14 cabang olahraga.

Bonus Atlet

Sejak olahraga untuk difabel dikelola Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2011, kehidupan atlet difabel semakin baik. Pemerintah memberikan bonus bagi atlet yang berperstasi atau peraih medali di ajang ASEAN Para Games (APG) sama seperti atlet peraih medali di ajang SEA Games.

Nilai bonus atlet peraih medali sejak tahun 2015 nilainya sama seperti peraih medali di ajang SEA Games, namun pada tahun-tahun sebelumnya bonus atlet peraih medali di APG nilainya lebih kecil dibandingkan peraih medali SEA Games. Pemberian bonus sejak tahun 2015 itu mengacu pada prinsip kesetaraan, bahwa tidak ada perbedaan antara atlet normal dengan atlet dengan disabilitas. Mereka telah sama-sama berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional.

Di APG 2011, pemerintah memberi bonus peraih emas dengan uang senilai Rp40 juta, perak Rp15 juta, dan perunggu Rp7,5 juta, sementara peraih emas SEA Games mendapat Rp200 juta.

Di APG 2014, Kemenpora kembali memberikan bonus bagi atlet peraih medali di ASEAN Para Games 2014. Untuk perorangan/double, peraih medali emas mendapat bonus Rp117 juta, Perak Rp52 juta, dan Perunggu Rp29 juta. Sementara untuk beregu, masing-masing atlet mendapat Rp58 juta bagi peraih medali emas, Perak Rp26 juta, dan Perunggu Rp14 juta.

Di APG Singapura 2015, bonus mencapai Rp200 juta diberikan untuk atlet perorangan peraih medali emas, Rp50 juta untuk peraih perak, dan Rp30 juta untuk peraih medali perunggu. Sedangkan untuk kelompok beregu mendapatkan Rp100 juta/orang bagi medali emas, peraih perak mendapat Rp30 juta, dan Rp20 juta bagi peraih medali perunggu. Nilai bonus itu sama seperti peraih medali di ajang SEA Games 2015.

Bonus atlet ASEAN Para Games 2017 kembali diserahkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, bersamaan dengan para atlet peraih medali SEA Games di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta pada Oktober 2017. Tidak ada pemotongan pajak untuk nominal bonus yang diterima para atlet. Pencairan bonus ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga No.79/2017 tentang pemberian penghargaan untuk atlet berprestasi.

Nilai bonus peraih medali berbeda untuk atlet individu, ganda, dan beregu. Atlet individu mendapat jumlah bonus, yakni Rp200 juta untuk medali emas, Rp100 juta untuk perak, dan Rp60 juta bagi peraih medali perunggu. Adapun nominal untuk nomor ganda Rp160 juta untuk emas, Rp80 juta untuk perak, serta Rp 48juta untuk perunggu. Sementara pada kategori beregu Kemenpora mengucurkan bonus senilai Rp100 juta bagi peraih medali emas, Rp50 juta perak, dan Rp30 juta untuk perunggu.

Bonus atlet untuk ASEAN Para Games 2022 juga bakal diberikan pemerintah bagi atlet berprestasi. Jika mengacu pada nilai bonus yang diterima atlet peraih medali di SEA Games 2022, nilai bonus itu berbeda bagi atlet individu, ganda, maupun beregu.

Atlet peraih medali emas emas nomor tunggal di SEA Games 2022 menerima bonus sebesar Rp500 juta, perak Rp300 juta, dan perunggu Rp150 juta. Sementara atlet peraih medali emas nomor ganda, menerima bonus sebesar Rp400 juta, perak Rp240 juta, dan perunggu Rp150 juta. Adapun untuk atlet peraih medali emas nomor beregu di SEA Games 2022  menerima bonus sebesar Rp350 juta, perak Rp210 juta, dan perunggu Rp105 juta. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Arsip Kompas
  • ASEAN Para Games: 11 Negara Berlaga di Para Games, KOMPAS, 16 Maret 2011 Halaman: 28
  • ASEAN Para Games: Mereka Pun Telah Berjuang, Melampaui Keterbatasan Fisik, KOMPAS, 21 Desember 2011 Halaman: 29
  • ASEAN Para Games: Target Indonesia Tetap di Peringkat Kedua, KOMPAS, 03 Januari 2014 Halaman: 29 Indonesia Juara Umum *Membayar Kegagalan di SEA Games 2013, KOMPAS, 21 Januari 2014   Halaman: 30
  • Olahraga Difabel: Mereka yang Terlahir Kembali dari Olahraga, KOMPAS, 19 Desember 2015 Halaman: 30 Kehidupan Atlet: Membidik Bonus Kehidupan, KOMPAS, 19 Desember 2015   Halaman: 30
  • Rp 5 M untuk Emas Olimpiade * Bonus untuk Para Atlet Difabel Disamakan dengan Atlet Lainnya KOMPAS, 17 Desember 2015 Halaman: 28
  • Kehidupan Atlet: Membidik Bonus Kehidupan, KOMPAS, 19 Desember 2015 Halaman: 30
  • Asean Para Games 2017: Pembuktian Diri Atlet Paralimpiade, KOMPAS, 13 September 2017 Halaman: 28
  • ASEAN Para Games 2017: Mereka Pulihkan Harkat Bangsa, KOMPAS, 24 September 2017, Halaman: 1
  • Bonus Atlet: Menpora Janjikan Cair Akhir Tahun, KOMPAS, 27 September 2017 Halaman: 30
  • ASEAN Para Games 2017: Pelatih Kecewa Bonus Menurun, KOMPAS, 14 Januari 2018, Halaman: 6
  • ASEAN Para Games 2020: Tambahan Rp 15 Miliar akibat Penundaan Ajang, KOMPAS, 22 Desember 2019 Halaman: 4
  • ASEAN Para Games 2022: Pengalaman Solo Jadi Kunci Penyelenggaraan, KOMPAS, 21 Juli 2022 Halaman: 14
error: Content is protected !!