Peta Tematik

Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api aktif di Pulau Jawa, Indonesia dengan frekuensi letusan yang tergolong tinggi.

Fakta Singkat 

Nama kawah
Pasarbubar, Pusung London, Kawah 48 dan Kawah 56

Tipe gunungapi
Strato, dengan kubah lava

Letak
Perbatasan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten di Provinsi Jawa Tengah, dengan Kabupaten Sleman di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Posisi geografis
110° 25,5’ Bujur Timur
7° 32,5’ Lintang Selatan

Tinggi puncak
2.986 mdpl

Status gunungapi
Siaga (5 November 2020)

Gunung Merapi merupakan sebuah gunung api yang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Gunung ini termasuk dalam salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia dengan periode letusan yang pendek, yaitu antara 2 hingga 7 tahun. Letusan terakhir terjadi pada 21 Juni 2020 lalu. Karakteristik ini menjadikan gunung ini kerap dimanfaatkan oleh para vulkanolog sebagai objek penelitian dan penyelidikan.

Gunung Merapi ini berbentuk kerucut dengan komposisi magma basaltic andesit berkadar silika (SiO2) sekitar 52 hingga 56 persen. Menjelang letusan, kubah lava yang tumbuh di kawah terus membesar dan menimbulkan ketidakstabilan. Posisi yang tidak stabil ini jika mendapat dorongan dari tekanan gas dari dalam, menyebabkan terjadinya longsor disertai awan panas.

Tingginya aktivitas letusan perlu diimbangi dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah di sekitar Merapi, termasuk dengan menyiapkan peta bahaya dan jalur evakuasi agar dapat menentukan upaya yang cepat dan tepat demi meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi sebagai salah satu acuan teknis bagi wilayah sekitar dalam melakukan mitigasi bencana, terutama jika terjadi letusan.

Untuk merepresentasikan kondisi sekitar Gunung Merapi dan tingkat bahayanya, peta di atas dibuat secara tiga dimensi dengan memanfaatkan  Peta KRB Gunung Merapi dipadukan dengan citra satelit dan data ketinggian.

Terdapat tiga tingkatan zonasi kerawanan bencana, yaitu:

  • KRB I merupakan kawasan yang berpotensi dilanda lahar/banjir serta terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Lahar ini dapat mengalir mengikuti badan sungai bahkan dalam kapasitas yang tinggi dapat meluap dari badan sungai dan berpotensi meluas menuju daerah pemukiman, pertanian dan infrastruktur.
  • KRB II merupakan kawasan rawan bencana yang terdiri atas dua bagian yaitu, aliran massa dan lontaran. Aliran massa dapat berupa awan panas, aliran lava dan lahar sedangkan lontaran berupa material jatuhan dan lontaran batu (pijar).
  • KRB III merupakan kawasan yang berada dekat dengan sumber bahaya sehingga dapat dipastikan terlanda awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu (pijar) serta hujan abu lebat. Tingginya tingkat kerawanan pada kawasan KRB III ini maka tidak diperkenankan digunakan untuk hunian tetap. Penentuan batas KRB III ini mengacu kepada sejarah aktivitas letusan Gunung Merapi dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.

Selain itiu terdapat zonasi bahaya berdasarkan jangkauan material letusan yang digambarkan dalam radius dengan jarak tertentu. Gunung Merapi memiliki karakteristik letusan normal dengan indeks letusan pada skala VEI (Volcano Explosivity Index) 1 hingga 3, yang artinya jarak jangkauan awan panas berkisar paling maksimum 8 km. Namun pada letusan besar dengan skala VEI 4, awan panas dapat menyebar pada jangkauan 15 km bahkan lebih.

Sejarah letusan

Pencatatan sejarah letusan Gunung Merapi dimulai sekitar abad XVII oleh  kolonial Belanda. Berikut ini merupakan beberapa rentetan sejarah letusan Gunung Merapi.

Tahun 1006 – 1900
Letusan gunung merapi diperkirakan terjadi lebih kurang sebanyak 33 kali, dengan 7 di antaranya adalah letusan besar.

30 Januari 1904
Letusan Sedang, terdapat 16 korban jiwa, 14 orang luka parah serta 3 desa rusak total.

Februari 1906
Terjadi letusan besar, puluhan ribu orang tertimbun material beserta harta benda yang ada.

Oktober 1920
Letusan sedang, terdapat 35 korban jiwa, 1 desa rusak total, puluhan hewan ternak mati dan 87 km2 areal pertanian rusak

17 Desember 1930
Terjadi letusan terbesar yang tercatat sejauh ini, tipe letusan adalah Plinian, ditandai dengan semburan gas dan abu vulkanik hingga mencapai stratosfer. Awan panas melebar hingga 20 km ke arah barat dan mengakibatkan 13 daerah rusak, dan korban mencapai 1.369 orang meninggal.

18 Januari 1954
Terjadinya Awan panas, hujan abu, lapilli, estrus doma lava menyebabkan adanya korban meninggal dunia sebanyak 64 orang dan 57 orang luka-luka.

April – Mei 1961
Terjadi aliran lava, awan panas serta mengakibatkan 6 orang meninggal dunia, 19 ternak mati dan lebih dari 100 rumah hancur.

8 Oktober 1967
Letusan kecil, disertai hujan deras.

Januari 1969
Adanya letusan yang memuncak, terjadi awan panas letusan dengan kilat listrik, longsoran lava, hujan abu, estrus kubah lava disertai bom gunungapi, guguran lava dan guguran awan panas mengakibatkan 3 orang meninggal dunia, 3 desa dan 19 rumah rusak.

Oktober 1972
Letusan gas di hulu Kali Batang. Asap letusan berwarna hitam mencapai tinggi lebih kurang 3 km di atas puncak, suara bergemuruh.

Januari – Maret 1973
Asap tebal membumbung lebih kurang 500 m di atas puncak. Terjadi gempa gunungapi tipe A, bersumber dalam.

April 1973
Muncul lava baru di atas lava 1969. Diperkirakan berada pada lubang letusan bulan Oktober 1972.

Desember 1973
Terjadi lahar hujan akibat hanyutnya bahan longsoran. Lava mengalami longsor akibat hujan lebat pada bulan Desember. Awan panas mencapai 7 km.

November 1984
Terjadi hujan abu, kerikil dan semburan awan panas mengarah ke selatan dan barat mengakibatkan 52 orang meninggal dunia, 4 luka, belasan orang dinyatakan hilang dan sekitar 4.000 warga mengungsi.

2 Februari 1992
Luncuran awan panas Gunung Merapi hingga ke wilayah kaki gunung. Bau belerang di wilayah Jurangrejo, Srumpung, Magelang serta terjadinya awan panas dengan radius hingga 6,5 km.

22 November 1994
Terjadi erupsi gunung merapi dengan meruntuhkan kubah lava. Mengakibatkan terjadi awan panas sejauh 6,5 km kea rah barat laut dan selatan. Akibat letusan itu, dikabarkan 58 orang meninggal dunia.

17 Agustus 1997
Terjadinya semburan awan panas bercampur debu dan pasir. Awan panas mengalir ke Kali Krasak sepanjang 6 km dan Kali Boyong sepanjang 4-5 km.

10 Februari 2001
Terjadi semburan awan panas dan hujan abu. Letusan menyembur ke udara setinggi lebih kurang 5 km dari puncak merapi. Tidak ada korban pada peristiwa ini, namun diperkirakan 571 orang diungsikan.

Mei 2006
Ditemukan dua relawan meninggal dunia setelah terperangkap awan panas di dalam bungker Kaliadem saat merapi meletus bulan Mei 2006.

Oktober – November 2010
Terjadi erupsi dengan semburan awan panas mencapai 9 km, namun erupsi berlanjut sehingga jarak luncuran awan panas mencapai 14 km dari puncak. Terjadi hujan kerikil dan pasir hingga mencapai Kota Yogyakarta, sedangkan hujan abu vulkanik pekat hingga mencapai wilayah Purwokerto dan Cilacap. Pada Letusan ini menyebabkan 151 orang meninggal dunia. 291 rumah rusak serta lebih kurang 320.090 jiwa diungsikan.

11 Mei 2018
Terjadi letusan dengan tipe freatik. Status bahaya dinyatakan pada level 1 atau normal.

17 November 2019
Terjadi letusan normal dengan amplitude max 70 milimeter dalam durasi 155 detik. Status gunung merapi ditetapkan pada level II atau waspada. Tinggi kolom letusan lebih kurang 1.000 meter dan 2 desa terkena dampak, yaitu hujan abu tipis.

Januari – April 2020
Sepanjang 2020, dari Januari hingga Juni tercatat sudah terjadi 10 kali erupsi. Secara umum terjadi letusan dan awan panas hingga mencapai lebih kurang 1.000 – 5.000 meter dari kawah gunung.

Terkini: 21 Juni 2020
Terjadi erupsi 2 kali, dengan tinggi kolom erupsi lebih kurang 6.000 meter dari puncak merapi. Sedangkan arah angin mengarah ke barat. Karakter erupsi di dominasi oleh gas.

Kontributor:
Muhammad Fiqi Fadillah

Editor:
Slamet JP

Referensi:

Artikel Kompas.com

  • “INFOGRAFIK: Riwayat Letusan Merapi Sejak 1990-an”. 11 Mei 2018
  • “Fakta Terkini Erupsi Merapi, Status Masih Waspada hingga Hujan Abu Tipis di Magelang”. 17 November 2019
  • “Erupsi Merapi dan Sejarah Letusannya”. 29 Maret 2020
  • “Merapi Kembali Erupsi 21 Juni, Tercatat Sudah 10 Kali Sepanjang 2020”. 21 Juni 2020
Pahami Lebih Dalam dengan Infografik Peta Tematik

Pahami Lebih Dalam dengan Infografik Peta Tematik

Daftarkan email Anda dan dapatkan pemahaman mendalam dengan infografik peta tematik Kompaspedia

close