Kronologi | Perpustakaan

Lini Masa Perkembangan Perpustakaan Indonesia

Sejarah perpustakaan di Indonesia baru mencatat berdirinya perpustakaan di Nusantara pada era kolonialisme Belanda. Sebuah perpustakaan Gereja yang dirintis pada tahun 1624 tercatat sebagai perpustakaan pertama di Indonesia.

 

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Suasana di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta (16/02/2021). Banyak mahasiswa yang mencari referensi bacaan untuk mata kuliah mereka di sini

Kapan pastinya perpustakaan pertama kali didirikan di Indonesia hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan para pustakawan dan sejarawan. Tidak ditemukannya catatan mengenai bukti berdirinya perpustakaan menjadi penyebab sulitnya menelusuri sejarah perpustakaan di Idonesia. Sebagian pustakawan meyakini bahwa perpustakaan sudah dikenal sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha yang menyimpan naskah tulisan para biksu atau pendeta di dalam tempat penyimpanan khusus. Kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram bisa jadi telah menyimpan kitab keagamaan atau manuskrip karya sastra dari para pujangga keraton masing-masing. Tetapi sekali lagi pendapat ini masih perlu dikaji lebih dalam lagi.

Catatan mengenai berdirinya perpustakaan di Indonesia baru terlihat pada era kolonialisme Belanda. Perpustakaan berdiri seiring dengan pendirian fisik gereja sebagai sarana menyebarkan ajaran agama. Berdasarkan catatan Doris Jedamski dalam “The Establishment of Libraries” yang dimuat dalam Language and Literature (Archipelago Press, 1998: 86-87), perpustakaan tertua bergaya Barat di Hindia Belanda adalah Perpustakaan Bataviaan Kerkeraad yang didirikan sekitar 1624. Pada waktu itu hanya rohaniwan Kristiani yang boleh menggunakan koleksi buku dan naskah-naskahnya.

Selain itu, dengan didirikannya Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenshappen (BGKW) pada 1778, perpustakaan di Hindia Belanda pun berkembang, yaitu dengan dibukanya ruang bacaan bagi umum, dan disebut-sebut sebagai perpustakaan rujukan pertama di Indonesia pada abad ke-19.

1624
Perpustakaan Bataviaan Kerkenraad atau Dewan Gereja Batavia dirintis. Perpustakaan ini baru diresmikan pada 27 April 1643 karena keterbatasan dana. Pendeta Ds (Dominus) Abraham Fierenius diangkat sebagai kepala perpustakaan. Layanannya tidak hanya dibuka untuk perawat rumah sakit Batavia, namun diperluas sampai Semarang dan Jawa Tengah.

24 April 1778
Perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) didirikan di Batavia atas prakarsa Mr. J.C.M. Rademaker, selaku ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). BGKW mengandalkan bantuan dan sumbangan dermawan untuk pendanaan koleksinya. 

1799
Ketika VOC bubar,  Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tetap beroperasi dengan mengandalkan sumbangan dermawan dan gubernemen.

1842
Didirikan perpustakan khusus yang menunjang kegiatan penelitian dalam bidang penelitian di Bogor bernama Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzor.

1846
Perpustakaan BGKW mengeluarkan katalog buku pertama di Indonesia dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Floret Catalogue Systematicus hasil suntingan P.Bleeker. Pada tahun 1848, edisi kedua terbit dengan judul dalam bahasa Belanda.

1899
Kebijakan Etisch Politiek (Politik Etis) yang terdiri dari irigasi, transmigrasi dan edukasi turut menumbuhkan perpustakaan sekolah rakyat (volkschool) yang disebut volksbibliotheek dengan koleksi dipasok oleh Volkslectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka).

1911
Perpustakaan Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzor berubah nama menjadi Central Natuurwetenschap-pelijke Bibliotheek van het Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel. Selanjutnya berubah lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis.

1924
Nama BGKW ditambahkan Koninklijk, menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Perubahan nama tersebut dilatari keberhasilannya dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan.

26 Januari 1950
Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berubah nama menjadi Lembaga Kebudajaan Indonesia.

17 September 1962
Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Namanya berubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaan menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan nama Perpustakaan Museum Pusat.

28 Mei 1979
Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional. Perpustakaan yang ada di dalamnya dikenal sebagai Perpustakaan Museum Nasional. 

1980
Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan.

1989
Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Seorang anak membaca buku di perpustakaan mini di Taman Bima, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat (18/04/2017). Keberadaan perpustakaan itu diharapkan menumbuhkan minat baca warga di sekitarnya. (Kompas/Tatang Mulyana Sinaga)

Sumber: Kanal Youtube Harian Kompas, 5 Februari 2016

Referensi

Arsip
  • Setelah 30 Tahun Indonesia Merdeka: Belum Ada Perpustakaan Nasional. KOMPAS, 23 Oktober 1975, hal. 4.
  • Mengenyahkan Pemeo “Kudu Kawalanda”. KOMPAS, 16 Febuari 2008, hal. 7.
Buku
  • Sulistyo-Basuki. (1994). Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Penulis
Arief Nurrachman

Editor
Rendra Sanjaya

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Daftarkan email Anda dan ikuti kronologi peristiwa terkini secara lengkap di Kompaspedia.

close