Foto | Hari Olahraga Nasional

Petinju Berprestasi Indonesia

Indonesia memiliki banyak petinju berprestasi, baik di amatir maupun profesinal. Arsip Kompas memilihkan beberapa profil petinju yang penampilannya di atas ring selalu ditunggu.

Wiem Gommies

KOMPAS/M SYAMIN PARDEDE

Petinju Wiem Gommies sekalipun sudah terhitung kawakan belum juga tergoyahkan. Pada Semifinal PON X/1981 ia merontokkan Winarno, Lampung. Begitu kuatnya sehingga Winarno mengundurkan diri pada babak pertama.

KOMPAS/RAKARYAN SUKARJAPUTRA

Petinju amatir legendaris Wiem Gommies pada tahun 2012.

Welhelem Gommies atau Wiem Gommies adalah petinju amatir kelas menengah yang pernah jaya pada era 60-an hingan awal 90-an. Gommies lahir di Ambon 31 Desember 1945.

Prestasi:

  • Medali emas tinju kelas menengah Asian Games VI Bangkok tahun 1970.
  • Medali emas kelas menengah di Kejuaraan Tinju Asia di Teheran tahun 1971.
  • Medali emas kelas menengah pada Turnamen Internasional Tinju Piala Presiden tahun 1976.
  • Medali emas kelas menengah Sea Games IX Kuala Lumpur tahun 1977.
  • Medali emas kelas menengah Asian Games VIII Bangkok tahun 1978.

Lainnya:

  • Mendapat Penghargaan Satya Lencana Kebudayaan RI kelas III tahun 1972.

Wongsosuseno

KOMPAS/KARTONO RYADI

Petinju kelas welter ringan dari sasana Sawunggaling Surabaya, Wongsosuseno (kanan) saat bertanding melawan juara OBF, Lee Chang Kil dari Korea Selatan di Istora Senayan, Jakarta (28/7/1975). Malam itu ia merebut gelar dari sang juara bertahan dan menjadi petinju Indonesia pertama menyandang gelar juara Orient Boxing Commission.

KOMPAS/KARTONO RYADI

Petinju Wongsosuseno disambut ibu dan kerabatnya di ruang ganti setelah mempertahan gelar dengan memukul KO lawannya petinju asal Filipina Dan de Guzman di Istora Senayan, Jakarta (10/4/1976).

Petinju kelahiran Malang, 17 November 1948 ini merupakan petinju profesional Indonesia pertama yang menyandang gelar Internasional OBF (Orient Boxing Commission) di kelas welter ringan pada usia  30 tahun.

Prestasi:

  • Mengalahkan petunju Korea Selatan Lee Chang Kil dengan menang angka sekaligus merebut Gelar Juara OBF di Istora Senayan pada 28 Juli 1975.
  • Mengalahkan petinju Filipina Dan de Guzman dengan KO pada ronde ke-11 di Istora Senayan Jakarta 10 April 1976.
  • Menang angka dari petinju Korea Selatan Sang Hyun Kim di Istora Senayan Jakara 24 Januari 1977.

Lainnya:

  • Kehilangan gelar setelah kalah angka dari petinju Filipina Moises Contija di Istora Senayan Jakarta 29 September 1977.
  • Dalam kurun waktu 1975–1977 lebih dari tujuh kali melakukan pertandingan nongelar.
  • 12 Agustus 1982 mengundurkan diri dari ring tinju setelah kalah KO pada ronde ke-3 dalam perebutan gelar kelas welter OPBF melawan Hwang Jun Sok dari Korea Selatan di Seoul 1 Agustus 1982.

Ellyas Pical

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Petinju Ellyas Pical saat bertarung melawan petinju Korea Selatan Judo Chun di Istora Senayan (3/5/1985). Petinju asal Saparua dengan pukulan tangan kiri mematikan itu merobohkan petinju Korea tersebut di ronde ke delapan.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ

Ellyas Pical (57) mantan juara dunia IBF saat berpose dengan sabuk juara kebanggaannya pada tahun 2014.

Ely yang lahir di Saparua, Maluku pada 24 Maret 1960, adalah Petinju kebanggaan bangsa Indonesia setelah berhasil menjadi juara tinju profesional Indonesia pertama yang merebut sabuk juara dunia kelas super terbang IBF.

Prestasi:

  • Medali emas Piala Presiden III  tahun 1980.
  • Medali emas Piala Presiden IV tahun 1981.
  • Juara Nasional kelas super terbang  profesional setelah mengalahkan Wongso Indrajit tahun 1983.
  • Juara kelas super terbang OPBF setelah mengalahkan petinju Korea Selatan Chung Jee-yon di Seoul taun 1984.
  • Mengalahkan petinju Korea Selatan Judo Chun dengan KO pada ronde-8 di Istora Senayan 1985 sekaligus merebut gelar juara dunia IBF.

Lainnya:

  • Setelah beberapa kali gelarnya lepas dan direbut kembali, gelar juara benar-benar hilang setelah ditaklukan petinju asal Kolombia, Juan Polo Perez pada Oktober 1989.
  • Selama karier di dunia tinju profesional bertanding sebanyak 26 kali, dengan menang 20 kali, kalah 5 kali dan imbang 1 kali.
  • Penerima Anugrah Tanda Jasa Olahraga Kelas I dari Pemerintah Indonesia.

Albert Papilaya

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Petinju kelas menengah andalan Indonesia Albert Papilaya (kanan) mendaratkan pukulan telak ke wajah petinju Filipina Mario Tison dan berhasil menang angka di perempat final Kejuaraan Tinju Piala Presiden ke XV di Istora Senayan (17/2/1993).

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Sersan Satu Brimob Albert Papilaya di depan mobil kesayangannya pada tahun 1993.

Albert Papilaya adalah legenda tinju amatir Indonesia kelahiran Tobelo Maluku Utara, 15 September 1967.

Prestasi:

  • Medali emas pada PON XIII, XIV.
  • Beberapa kali juara pada Kejuaraan Piala Wali Kota Manila.
  • Beberapa Kali juara Turnamen Piala Presiden.
  • Medali emas kelas menengah Sea Games XVI Manila tahun 1991.
  • Medali emas kelas menengah Sea Games XVII Singapura tahun 1993.
  • Medali emas kelas menengah Sea Games  XIX Jakarta tahun 1997.

Lainnya:

  • Masuk delapan besar di Olimpiade Barcelona tahun 1992.
  • Berkarier sebagai anggota Polri.

Yohannes Christian John (Chris John)

KOMPAS/DANU KUSWORO

Petinju Indonesia, Chrisjon (kanan) sukses mempertahankan gelar dalam pertarungan melawan penantangnya, Juan Manuel Marquez Mendes (Meksiko), di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (4/3/2006). Chrisjon menang angka mutlak dalam pertarungan yang berjalan 12 ronde penuh.

KOMPAS/NICHOLAS KORANO

Mantan juara dunia tinju kelas bulu WBA Chris John di lantai dua rumahnya di kawasan Krakatau VI, Semarang, Jawa Tengah.

Petinju kelahiran Banjarnegara pada 14 September 1981 ini dijuluki “The Dragon”. Ia juga merupakan atlet terbaik Jateng pada cabang olahraga wushu tahun 1997.

Prestasi:

  • Menjadi juara dunia kelas bulu WBA setelah mengalahkan Oscar Leon di Bali tahun 2003.
  • Setelah sepuluh tahun mempertahankan gelar juara, Chrisjon. mengundurkan diri dari karier profesional pada Desember 2013 setelah kalah dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka di Australia tahun 2013.

Lainnya:

  • Mendapat penghargaan Satyalencana Wira Karya dan Atlet Favorit 2006.
  • Selama karienya melakukan 52 pertandingan, dengan 48 kali menang, 3 draw dan 1 kalah.
  • Setelah pensiun, ia aktif di bidang politik.

Daud Jordan

KOMPAS/PRIYOMBODO

Selebrasi kemenangan petinju Indonesia, Daud ”Cino” Jordan, dalam laga memperebutkan sabuk juara kelas ringan WBO Asia-Pasifik dan Afrika, Jumat (5/2/2016) malam, di Balai Sarbini, Jakarta. Daud Jordan menang angka atas petinju Jepang, Yoshitaka Kato.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Petinju muda berbakat, Daud Jordan (20), Jumat (18/5) dini hari, meraih gelar juara kelas bulu WBO Asia Pasifik Youth setelah mengalahkan Renan Salim.

Petinju dengan nama panggung “Cino” ini lahir di Ketapang, Kalimantan Barat pada 10 Juni 1987. Ia memulai karier bertinjunya pada usia 16 tahun.

Prestasi:

  • Menjadi petinju terbaik pada Kejuaraan Nasional Tinju Amatir Sub-Yunor dan Yunior di Sulawesi Selatan, tahun 2001.
  • Juara kelas bulu WBO Asia Pasifik Youth setelah mengalahkan Renan Salim dari Filipina dengan KO, tahun 2007.
  • Juara kelas bulu WBO Oriental Asia setelah mengalahkan petinju Robert Allanic dengan KO, tahun 2009.
  • Juara IBO kelas bulu Asia Pasifik setalah mengalahkan petinju Frankie Archuleta dengan TKO, tahun 2011.
  • Juara dunia kelas bulu IBO setelah mengalahkan petinju Lorenzo Villanueva dengan KO, tahun 2012.
  • Kehilangan gelar juara dunia IBO setelah kalah TKO dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka, tahun 2013.
  • Merebut juara dunia kelas ringan IBO setelah mengalahkan Daniel Brizuela, tahun 2013.
  • Merebut  gelar Juara kelas ringan WBO Asia Pasifik setelah mengalahkan petinju Ronald Alvares Pintillas dengan TKO pada ronde ke-5, tahun 2014.

Lainnya:

  • Rekor pertandingan  37 kali menang,  kalah 3 kali.
Dapatkan Arsip Foto Harian Kompas Terkini

Dapatkan Arsip Foto Harian Kompas Terkini

Daftarkan email Anda dan dapatkan berbagai artikel terkait arsip foto Harian Kompas yang dapat Anda unduh.

close