Tokoh

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong

Alue Dohong ditunjuk Presiden RI Joko Widodo menjadi Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mendampingi Menteri Siti Nurbaya Bakar pada 25 Oktober 2019. Sebelumnya putera Dayak ini menjabat Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG). Pengalamannya itu menjadi bekal dalam mengatasi kebakaran hutan dan pelestarian hutan dan alam.

RIAN SEPTIANDI

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Alue Dohong, S.E, M.Sc, Ph.D

Lahir
Kotawaringin Timur,  5 Oktober 1966

Almamaterr
Universitas Palangka Raya
Nottingham University, UK
Queensland University, Australia

Jabatan Terkini
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2020-2024

Alue Dohong adalah seorang birokrat dan akademisi. Jabatan terakhirnya adalah Deputi Bidang Konstruksi Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG) sejak 2016. Sebelum berkecimpung di BRG, Alue Dohong mendirikan Lembaga Pengkajian, Pendidikan, dan Pelatihan Lingkungan Hidup (LP3LH) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Putera Dayak dari Kalimantan Tengah ini sudah lama menggeluti bidang pengolahan lahan basah atau lahan gambut.

Sebagai akademisi, Alue Dohong sejak 1994 menjadi dosen bidang pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Universitas Palangkaraya. Meraih gelar doktor bidang manajemen lingkungan dari Queensland University Austrlaia, ia dipercaya sebagai konsultan atau penasihat dan rekan peneliti di sejumlah organisasi/inisiatif nasional dan internasional yang bergerak di bidang lahan gambut, khususnya di Kalimantan Tengah.

Sebagai Wakil Menteri di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong membantu Menteri KLH menjalankan tugas dan fungsinya serta membantu mengkoordinir secara internal birokrasi serta tugas-tugas lain yang dapat diberikan. Alue Dohong menjadi orang petama dalam jajaran kabinet yang berasal dari Suku Dayak.

Putera Dayak

Alue Dohong lahir di Tubang Kalang, sebuah desa di wilayah Antang Kalang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada 5 Oktober 1966. Putera asli Dayak dari Kalimantan Tengah ini meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Palangkaraya tahun 1990. Di perguruan tinggi itu pula ia membaktikan ilmunya dan dikenal sebagai dosen senior ilmu lingkungan Universitas Palangkaraya.

Ia kemudian memperdalam lagi bidang ilmu yang menjadi minatnya dan meraih gelar master of science bidang Environmental Management dari Nottingham University, Inggris pada 2002. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Alue Dohong kemudian melanjutkan studi ke Australia untuk mengambil program doktor. Ia mengambil bidang School of Geography, Planning and Environmental Management di Queensland University, Australia hingga meraih gelar doktor (Ph.D) pada 2016. Disertasi doktoralnya mengenai ekosistem gambut tropis, mengupas lebih dalam soal upaya menyukseskan restorasi lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah. Usai meraih gelar doktor, ia mendapat bekal yang bisa diaplikasikan ke negara.

Alue Dohong memiliki sejumlah publikasi ilmiah yang tercatat dalam Scopus. Semua isu yang dibahas dalam publikasinya tidak jauh dari persoalan lahan gambut, hutan dan perubahan iklim. Salah satu publikasi ilmiah tahun 2013 membahas tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak pangan, lebih banyak hutan, sedikit emisi dan mampu menciptakan mata pencaharian masyarakat yang lebih baik.

Ia juga aktif membangun jejaring internasional terkait kehutanan dan lingkungan hidup. Suami dari Lilia Sandy ini dalam sejumlah publikasi ilmiahnya tercatat dirinya sebagai principal author maupun co-author, ia juga merupakan Anggota Society of Ecological Restoration sejak 2017 dan Steering Committee of Global Peatland Initiative.

Ayah dari Alexander Aldo Putra ini bahagia menjadi orang Dayak pertama yang mengemban tugas dalam kabinet. Ia mengemban tugas yang menangani masalah kehutanan, rehabilitasi lahan serta soal rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Ia menjalankan tugas negara pada bidang yang telah menjadi perhatiannya sejak lama.

Karier

Putera Dayak asal Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini mengawali kariernya di dunia usaha sebagai Office Manager di PT Sampaga Raya, Sampit, Kotawaringin Timur selama tiga tahun, dari tahun 1991 hingga 1994. Di tahun 1994 itu pula ia kemudian berstatus dosen hingga menjadi dosen senior bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Universitas Palangkaraya (UPR).

Di kota Palangkaraya ia banyak berkiprah terkait karier dan pekerjaannya, di antaranya menjadi Team Leader (Consultant Company) di PT Rancang Bangun Indonesia tahun 2000. Ia juga menjadi Executive Director LPLH-KT tahun 2002 hingga-2004, dan sebagai Kalimantan Site Coordinator Wetlands International IP sejak 2003 hingga 2011. Ia kemudian dipercaya sebagai Consultant AusAID di Jakarta pada 2008 dan pada 2013 menjadi Expert Cendral Kalimantan REDD+ Liaison Office.

Kiprahnya tidak hanya di Kota Palangkaraya dan Jakarta, ia juga melanglang buana menjadi Project Technical Advisor, Global Environment Centre (GEC) di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2009. Ia sebagai Freelance consultant/peatlands specialist AHT Group AG, Management & Engineering, Huyseenalle 66-68 D45128 Essen, Jerman pada 2009. Kemudian dipercaya sebagai Research Associate Earth Innovation Institute (EII), San Fransisco, USA (30 Januari 2013-31 Januari 2015).

Alue Dohong merupakan akademisi yang memang telah lama bergelut di bidang pengolahan lahan basah atau lahan gambut. Ia kemudian mendirikan Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Pelatihan Lingkungan Hidup (LP3LH) di Palangkaraya. Ia juga banyak menulis karya ilmiah dan publikasi tentang pengelolaan lahan gambut. Tahun 2016 Alue Dohong dipercaya  menduduki jabatan Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG). Dibentuknya BRG ini misi utamanya adalah  mempercepat pemulihan hidrologi dan vegetasi lahan gambut terdegradasi akibat kebakaran hutan gambut dan hutan.

Memiliki segudang pengalaman terkait dengan lahan gambut, Alue Dohong kemudian mendapat tugas negara yang tak jauh dari bidang  ilmu yang digelutinya selama ini. Jabatan  Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  mulai dijalaninya sejak dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo pada 25 Oktober 2019. Bersama Menteri Siti Nurbaya Bakar, ia akan menangani berbagai persoalan terkait lingkungan hidup, masalah kehutanan, rehabilitasi lahan, juga soal rencana ibu kota baru di Kalimantan Timur yang berkonsep smart, beautiful, and sustainable city.

Menurutnya, sepanjang sejarah Indonesia merdeka, baru sekali ini orang Dayak ditawari posisi di kabinet. Baginya penunjukan dirinya sebagai Wakil Menteri LHK merupakan kebahagiaan bagi suku Dayak di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.

KEMENTERIAN LHK

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong memberikan sambutan pada Aksi Bersih Mangrove di Estuari Dam Suwung kawasan Mangrove Conservation Forest, Denpasar Bali, Sabtu, (29/01/2022).

Daftar penghargaan

  • Wetlands Internaitonal President’s Medal for Staff Excellence (for providing outstanding leadership in Wetland Management and for developing relationship with and encouraging the involvement of local stakeholders) (2007)
  • The 2021 Australian Alumni Award untuk kategori Alumni of The Year

Penghargaan

Tahun 2007 Dr Alue Dohong mendapat anugerah Medali Presiden Internasional Wetlands untuk Keunggulan Staf, dalam memberikan kepemimpinan yang luar biasa dalam Manajemen Lahan Basah dan untuk mengembangkan hubungan dengan dan mendorong keterlibatan pemangku kepentingan lokal.

Tahun 2021 sebagai Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Alue Dohong memenangkan The 2021 Australian Alumni Award untuk kategori Alumni of The Year berkat kontribusinya dalam keahlian strategis dalam mencapai visi Indonesia yang ramah lingkungan. Lulusan program doktoral dari University of Queensland ini menyampaikan terima kasihnya kepada Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams.

KEMENTERIAN LHK

Wakil Menteri LHK Alue Dohong meresmikan Sumatran Rescue Alliance (SRA) sebuah lokasi Pusat penyelamatan satwa yang terletak di Langkat, Sumatra Utara (12/1/2022). SRA dibangun melalui sinergi antara KLHK melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatra Utara dan Balai KSDA Aceh, bersama dengan organisasi Orangutan Information Center (OIC).

KEMENTERIAN LHK

“Sebagai negara yang rentan terhadap dampak buruk dari perubahan iklim dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca global, Indonesia berkomitmen tinggi untuk mengurangi emisi GRK”, ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong (27 Agustus 2021)

Emisi gas rumah kaca

Perubahan iklim merupakan ancaman besar bagi kehidupan dan pembangunan global. Salah satu pemicunya adalah emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Terkait hal tersebut pemerintah Indonesia berkomitmen mengatasi perubahan iklim dengan mengesahkan Paris Agreement to the United Nation Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa mengenai Perubahan Iklim).

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menurunkan emisi GRK sesuai dengan target yang tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 29 persen atau 834 ton CO2e di seluruh sektor pada 2030. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim melalui dokumen Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050. Sektor Forestry and Other Land Use (FoLU) diharapkan  sudah mencapai kondisi net sink, dengan capaian 540 Mton CO2e pada 2050

NDC Indonesia mencakup aspek aksi mitigasi, aksi adaptasi dan dukungan sumber daya (pendanaan, peningkatan kemampuan, dan alih teknologi perubahan iklim). Target yang dituangkan dalam NDC Indonesia adalah mengurangi emisi sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan sampai dengan 41 persen dengan dukungna kerja sama internasional dari kondisi tanpa ada aksi (business as usual) pada 2030.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah Menyusun Dokumen Operasional Indonesia Rendah Karbon (Carbon Net Sink) di sektor FoLU 2030. Dokumen ini disusun dengan pendekatan analisis spasial, agar dapat digunakan sebagai panduan, khususnya bagi sektor kehutanan dan lahan di Indonesia.

Selain itu, KLHK telah mengembangkan berbagai macam modalitas atau support system untuk memastikan apa yang direncanakan di NDC dapat tercapai. Support system itu antara lain strategi dan peta jalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sistem inventori GRK, Sistem Registri Nasiional (SRN), dan Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK), Program Kampung Iklim (Proklim).

WAK

Harta kekayaan

Total kekayaan Alue Dohong tahun 2021 sebesar Rp 7,22 miliar. Jumlah kekayaan yang dilaporkan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 26 Maret 2022 terdiri dari harta tanah dan bangunan senilai Rp 6,83 miliar yang tersebar pada 10 bidang di Kota Palangkaraya, Kota Pulang Pisau, dan Kota Tangerang.

Dalam laporan itu Alue Dohong juga tercatat memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp 56,6 juta yang terdiri dari satu mobil dan dua motor, harta bergerak lainnya Rp 365 juta, kas dan setara kas Rp 753,18 juta. Dalam laporan itu Alue Dohong juga mencatatkan hutang sebesar Rp 780,45 juta, sehingga total harta kekayaan tahun 2021 tercatat sebesar Rp 7,22 miliar.

Total kekayaannya ini meningkat dibandingkan saat ia menjabat Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (RGM) pada 2016. Tahun 2016, Alue Dohong melaporkan harta kekayaannya dalam LHKPN sebesar Rp 4,89 miliar.

Alue Dohong tercatat telah menyampaikan laporan kekayaannya sebanyak empat kali.  Laporan berdasarkan jabatannya itu sejak menjadi Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (RGM) pada 2016; Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tahun 2019, 2020, dan 2021 sebagai berikut:

Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (RGM)

  • Laporan 21 April 2016, harta kekayaan sebesar Rp. 4.898.131.430

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

  • Laporan 25 Oktober 2019, harta kekayaan sebesar Rp. 6.110.365.755
  • Laporan 31 Desember 2020, harta kekayaan sebesar Rp 7.376.946.958
  • Laporan 31 Desember 2021, harta kekayaan sebesar Rp 7.225.764.459

Referensi

Biodata

Nama

Alue Dohong. S.E, M.Sc, Ph.D

Lahir

Tubang Kalang, Kotawaringin Timur,  5 Oktober 1966

Jabatan

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2020-2024

Pendidikan

Umum :

  • Sarjana (S1) Studi Pembangunan, Universitas Palangka Raya (UPR) (SE, 1990)
  • Sarjana (S2) Environmental Management, Nottingham University, UK (M.Sc., 2002)
  • Sarjana (S3) School of Geography, Planning and Environmental Management, Queensland University, Australia (Ph.D., 2016)

Khusus:

  • Australian Studies Centre Training (participant), Collaboration between PKA UI and Australian Embassy ( 9-16 Agustus 1999)
  • Pelatihan Peningkatan Ketrampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI), PAU-PPAI UT, Jakarta, (21-27 Agustus 2001)
  • Environmental Impact Assessment (AMDAL Type, Centre for Environmental Research (PPLH), the University of Palangka Raya (4-15 April 2002)
  • CIDA and the Canadian Environment Assessment Act course, CIDA Jakarta (Oktober 2002)
  • Training for Adipura Award Assessor, Banjarmasin (19-22 September 2005)
  • Regional Programme on the Management of Sustainability (RPMS) Southeast Asia, Bogor (19-24 Oktober 2008)
  • Training Program on Peatlands Assessment and Management Regional
  • Training of Trainers (ToT) Organizers: Global Environment Center/ASEAN Peatland Forests Project, Kuala Selangor, Selangor, Malaysia (22-26 Februari 2011)
  • 4th EABRN-UNESCO Training Workshop on Remote Sensing and GIS for Biosphere Reserve Management, WHIST (CEODE), Beijing, China, Organizers: UNESCO Beijing Office, EARBN, WHIST and CEODE China Academic of Sciences (10-23 April 2011)
  • Geographical Information System (GIS) Short Course at San Francisco State University, San Francisco, USA (6 September- 12 Oktober 2013)

Karier

Pekerjaan:

  • Office Manager PT Sampaga Raya, Sampit, Kotawaringin Timur (April 1991-Juli 1994)
  • Dosen Universitas Palangka Raya (UPR) (1994-1996)
  • Team Leader (Consultant Company) PT Rancang Bangun Indonesia (RBI)  (Februari-Juni 2000)
  • Executive Director LPLH-KT, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Agustus 2002-Januari 2004)
  • Kalimantan Site Coordinator Wetlands International IP (Maret 2003-Maret 2011)
  • Consultant AusAID Jakarta (25 Maret – 11 April 2008)
  • Project Technical Advisor, Global Environment Centre (GEC), Kuala Lumpur (24 Februari-31 Maret 2009)
  • Governance and Finance Specialist Kalimantan Forest and Climate Partnership (KFCP) (April 2009-Juni 2010)
  • Freelance consultant/peatlands specialist AHT Group AG, Management & Engineering, Huyseenalle 66-68 D45128 Essen, Germany (11 November-12 Desember 2009)
  • Pendiri Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Pelatihan Lingkungan Hidup (LP3LH) (2009-sekarang)
  • Expert Cendral Kalimantan REDD+ Liaison Office (4 April 2011-4 April 2013)
  • Research Associate Earth Innovation Institute (EII), San Fransisco, USA (30 Januari 2013-31 Januari 2015)

Pemerintahan

  • Badan Restorasi Gambut (BRG) RI: Deputi Bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan (11 Februari 2016-24 Oktober 2019)
  • Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di Kabinet Indonesia Maju (25 Oktober 2019-2014)

Organisasi

  • Anggota Society for Ecological Restoration (SER) (2017-sekarang)
  • Asia Community Group, SER (2017-sekarang)
  • Steering Committee Member, Global Peatland Initiative (GPI) (Maret 2018-April 2019)

Penghargaan

  • Wetlands Internaitonal President’s Medal for Staff Excellence (for providing outstanding leadership in Wetland Management and for developing relationship with and encouraging the involvement of local stakeholders) (2007)
  • The 2021 Australian Alumni Award untuk kategori Alumni of The Year

Karya

Buku

Keluarga

Istri

Lilia Sandy, S.Pi, MP

Anak

Alexander Aldo Putra

Sumber
Litbang Kompas

error: Content is protected !!