Paparan Topik | Hari Pahlawan

Sejarah Hari Pahlawan: Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November, merujuk pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Saat itu, kekuatan perlawanan rakyat Surabaya memperlihatkan kegigihan dalam menyerang Sekutu selama tiga minggu.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Veteran pejuang mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih di atas Hotel Majapahit saat Parade Surabaya Juang, Minggu (11/11/12), di Surabaya, Jawa Timur. Meski telah berusia lanjut, veteran tersebut tetap bersemangat mengikuti parade yang diselenggarakan dalam rangka Hari Pahlawan.

Fakta Singkat

Hari Pahlawan

  • Diperingati 10 November
  • Diatur dalam Keppres Nomor 316 Tahun 1959
  • Memperingati partriotisme bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dalam Pertempuran Surabaya

Pertempuran Pendahuluan (25–30 Oktober 1945)

  • Pendaratan Tentara Inggris di Surabaya
  • Inggris mengambil alih tempat-tempat vital di Surabaya
  • Pasukan Indonesia menyerang Inggris
  • Perundingan Soekarno-Hawthorn
  • Brigadir Mallaby terbunuh

Pertempuran Surabaya (10–28 November 1945)

  • Inggris mengultimatum Surabaya untuk menyerahkan senjata
  • Surabaya menolak tunduk
  • Pertempuran meletus pada 10 November 1945
  • Berangsur-angsur hingga 28 November 1945, Surabaya berhasil dikuasai Inggris

Akhir Pertempuran

  • Gunung Sari, lini pertahanan Surabaya terakhir berhasil direbut Inggris
  • Inggris sepenuhnya menguasai Surabaya
  • Pertahanan Surabaya berpindah ke Desa Lebaniwaras
  • Masih muncul serangan-serangan rakyat Surabaya secara sporadis

Setiap tanggal 10 November Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Produk hukum tersebut disahkan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 16 Desember 1959.

Dipilihnya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan mengacu pada pecahnya pertempuran besar di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 antara pejuang Indonesia dan Sekutu, dalam hal ini tentara Inggris.

Buku Pertempuran Surabaya (1985) karya Nugroho Notosusanto menyebut, Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran paling menegangkan dengan semangat patriotisme tinggi yang ditunjukkan bangsa Indonesia. Hal itu juga tergambar dari komentar Ricklefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia Since C. 1200 bahwa Surabaya menjadi pertempuran paling sengit pada masa Revolusi. Pihak Inggris sendiri memandang pertempuran tersebut laksana inferno, neraka. Rencana Inggris untuk menguasai Surabaya paling lambat 26 November terlambat dua hari karena kegigihan para pejuang di Surabaya.

Meskipun kemudian Surabaya secara keseluruhan jatuh ke tangan Inggris, Pertempuran Surabaya juga mengubah cara pandang Inggris dan Belanda terhadap Indonesia. Inggris semakin mulai mempertegas posisinya sebagai pihak yang netral, tak perlu mendukung Belanda. Di sisi lain, Belanda mulai menyadari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia mendapatkan dukungan yang luas dari rakyat, tak seperti gambaran mereka selama ini, hanya berasal dari kelompok pengacau sporadis (ekstremis).

Pertempuran yang diperingati setiap tanggal 10 November tersebut bukanlah pertempuran satu hari, tetapi melibatkan rangkaian pertempuran sejak akhir Oktober 1945 hingga akhir November 1945. Di dalamnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni pertempuran pendahuluan, pertempuran 10 November, dan pertempuran akhir. Diperkirakan, pertempuran tersebut melibatkan hingga 20.000 pasukan TKR dari berbagai penjuru Jawa Timur yang didukung oleh rakyat pejuang hingga 140.000 orang.

IPPHOS

Upacara Peringatan Tugu Pahlawan di Surabaya oleh Presiden Sukarno tanggal 10 November 1951.

Sekutu di Indonesia

Secara umum, pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia merupakan bagian dari komando South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Louis Mountbatten (Inggris). Mengingat tanggung jawab wilayah SEAC yang terlalu luas, Sekutu membentuk komando Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) untuk wilayah Indonesia. Pada 22 September 1945, Letnan Jenderal Philip Christison ditunjuk menjadi Komandan AFNEI. Ia tiba di Jakarta pada 29 September 1945.

Tugas AFNEI di Indonesia, antara lain, melucuti senjata Jepang, memulangkan tentara Jepang ke tanah airnya, membebaskan tentara Sekutu yang ditawan Jepang, dan mempertahankan keadaan hingga Indonesia diserahkan kembali kepada pemerintahan yang berkuasa sebelum PD II. Untuk menyelesaikan tugasnya, AFNEI mengerahkan tiga divisi, yakni Divisi India ke-23 di bawah komando Mayor Jenderal Hawthorn (Jawa Barat), Divisi India ke-26 di bawah komando Mayor Jenderal Chambers (Sumatera), dan Divisi India ke-5 di bawah komando Mayor Jenderal Mansergh (Jawa Timur).

Sebelumnya, pada 24 Agustus 1945, telah terwujud kesepakatan Civil Affair Agreement antara Inggris dan Belanda. Kesepakatan tersebut berisi kemauan Inggris membantu Belanda mengembalikan kekuasaan di Indonesia. Dengan demikian, Inggris mengikutsertakan aparat Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan tentara Belanda dalam pendaratan di Indonesia.

Resistensi penduduk Indonesia terhadap kedatangan pasukan Sekutu kebanyakan disebabkan oleh bantuan Sekutu terhadap Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Oleh karena itu, pecah pertempuran antara pasukan Indonesia dengan Sekutu (Inggris) di berbagai tempat di Indonesia.

Buku Sejarah TNI Jilid 1 (1945-1949) menyebutkan Pertempuran Surabaya menjadi salah satu pertempuran yang dihadapi oleh pasukan Indonesia secara frontal, selain di Ambarawa. Selain di dua kota tersebut, kebanyakan pertempuran dengan Sekutu terjadi secara gerilya.

IPPHOS

Pertemuan yang pertama kali antara presiden Soekarno dengan Letjen Christison panglima tentara Inggris di Indonesia pada tanggal 25 Oktober 1945.

Inggris di Surabaya

Sebagai bagian dari AFNEI, dibentuk pula tim Pemulangan Tawanan Perang Sekutu (RAPWI). Pada tanggal 19 September 1945, tim RAPWI tiba di Surabaya. Tim tersebut tidak disambut baik oleh pihak Indonesia karena tidak berkoordinasi dengan pimpinan Indonesia di Surabaya. Selain itu, interniran dari seluruh penjuru Jawa belum tiba di Surabaya sehingga mereka tidak dapat melaksanakan tugasnya. Ditambah lagi, tim RAPWI yang datang berisi wakil dari Belanda.

Pada akhir September, datang seorang perwira Angkatan Laut Belanda, Kapten Huijer di Surabaya, tanpa izin dari Inggris, untuk menerima penyerahan Jepang. Pada 3 Oktober 1945, Jepang menyerahkan tank, artileri, senjata antipesawat, alat transportasi, serta amunisi, lantas bertolak ke Semarang. Tak lama kemudian, berbagai persenjataan tersebut berhasil direbut oleh pasukan TKR dan menawan Kapten Huijer.

Untuk menjalankan tugas di Surabaya, awalnya Sekutu hanya mengerahkan Brigade Infanteri India ke-49 di bawah komando Brigadir Mallaby dengan kekuatan antara 4.000-6.000 pasukan. Brigade yang merupakan bagian dari Divisi India ke-23 tersebut tiba di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945. Pasukan Sekutu yang tiba di Surabaya dilarang mendarat sebelum mendapat izin dari pemimpin Indonesia di Jakarta. Oleh karena itu, terjadilah beberapa perundingan yang melibatkan pemimpin Sekutu dan pemimpin Indonesia di Surabaya.

Pada saat itu, beberapa pemimpin Indonesia di Surabaya antara lain, Gubernur Jawa Timur Suryo, Residen Surabaya Sudiman, Komandan TKR Karesidenan Surabaya dokter Moestopo, Ketua KNI Doel Arnowo, Ruslam Abdulgani, Radjamin Nasution, Mohammad, Rustam Zain, Inspektur Soejono Prawibismo, Djoko Sawondho, Mr. Masmuin, dan Moh. Jassin.

Dari beberapa pertemuan disepakati bahwa Indonesia mengizinkan Inggris masuk kota dan menempati beberapa objek sesuai tugasnya, yakni kamp interniran. Inggris menekankan bahwa mereka tidak melibatkan NICA atau tentara Belanda dalam pasukannya. Inggris juga meminta agar mereka yang bukan TKR, polisi, dan badan perjuangan, dilarang membawa senjata agar tugas Sekutu berjalan lancar. Disepakati pula pembentukan Kontak Biro sebagai sarana komunikasi.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO
Wapres Adam Malik beramah-tamah dengan Prof. Dr. Moestopo (tengah) dan Dr. Affandi (kanan) pada acara penganugerahan bintang-bintang jasa dalam rangka HUT ke-33 RI di Istana Negara,(15/8/1978). Pada Pertempuran Surabaya 1945, Moestopo merupakan Komandan TKR Surabaya.

Pertempuran pendahuluan

Meskipun telah menyepakati penguasaan beberapa objek sesuai tugas, Inggris kemudian juga menduduki beberapa objek penting, seperti Kantor Pos Besar, Gedung BPM, pusat kereta api, pusat otomobil, Gedung Internatio. Bahkan, Inggris juga menangkap beberapa tokoh pemuda. Selain itu, pada 26 Oktober malam, satu peleton dari Field Security Section di bawah pimpinan Kapten Shaw menyerbu Penjara Kalisosok untuk membebaskan Kapten Huiyer (NICA). Inggris juga membebaskan tawanan Belanda di kompleks Wonokitri.

Situasi bertambah panas ketika muncul leaflet di Surabaya pada tanggal 27 Oktober yang disebarkan melalui pesawat Dakota yang bertolak dari Jakarta. Leaflet yang juga disebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut ditandatangani oleh Mayor Jenderal Hawthorn, Panglima Divisi India ke-23, komando Sekutu di Jawa Barat. Isinya, ultimatum bagi pasukan Indonesia untuk menyerah kepada Sekutu dalam waktu 48 jam atau ditembak. Hal tersebut semakin memancing permusuhan terhadap Inggris di Surabaya hingga memunculkan seruan di radio untuk mengusir Inggris dari Surabaya.

Melihat tindakan-tindakan Inggris, pihak Indonesia mulai melihat kemungkinan perang yang tidak dapat dihindari. Kontak senjata pertama terjadi antara pasukan pemuda PRISAI dengan pasukan Gurka dari pihak Sekutu pada 27 Oktober pukul 14.00.

Pada tanggal 28 Oktober 1945, Mallaby mulai mengikuti arahan leaflet dengan memerintahkan untuk menguasai kendaraan berat yang dikuasai oleh pasukan Indonesia. Selain itu, Inggris juga mengevakuasi wanita dan anak-anak dari kamp Gubeng ke barak Darmo.

Setelah itu pertempuran-pertempuran lanjutan pun mengikuti. Gabungan TKR, polisi, dan badan perjuangan (PRI, API, BPRI) mengadakan serangan serentak ke tentara Inggris di seluruh Surabaya. Pihak Indonesia berusaha untuk merebut kembali tempat-tempat vital yang diduduki Inggris. Serangan di bawah komando Jenderal Mayor Yonosewoyo (Komandan Divisi TKR) tersebut berhasil mendesak Inggris dan berlangsung hingga 29 Oktober. Karena kekurangan amunisi, Brigade Infanteri India ke-49 memilih untuk bertahan.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Anggota TKR membalas serangan tentara sekutu saat Teaterikal Perang 10 November 1945 oleh Komunitas Rooderburg dalam rangka Parade Surabaya Juang 2014 di Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (9/11/14). Kegiatan yang diselenggarakan untuk menyambut Hari Pahlawan tersebut mengajak generasi muda untuk tidak melupakan jasa pahlawan.

Terbunuhnya Mallaby

Untuk meredakan pertempuran, Letnan Jenderal Chistison meminta Presiden Sukarno ikut menenangkan situasi di Surabaya. Oleh karena itu, Presiden Sukarno didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin bertolak ke Surabaya. Mereka tiba tanggal 29 Oktober dan bertemu Mallaby hingga disepakati gencatan senjata yang diumumkan lewat radio.

Pagi harinya, tanggal 30 Oktober 1945, Panglima Divisi India ke-23, Mayjen Hawthorn tiba di Surabaya dan segera mengadakan pertemuan dengan Presiden Sukarno. Hawthorn didampingi oleh Brigadir Mallaby dan Kolonel Pugh sedangkan Sukarno didampingi Hatta, Amir Sjarifuddin, Suryo, Sudirman, Doel Armono, Sungkono, Atmaji, dan Sumarsono. Hasilnya, Sekutu mengakui eksistensi Republik Indonesia, TKR, dan polisi. Selain itu, disepakati bahwa leaflet yang ditandatangani oleh Hawthorn dianggap tidak berlaku dan diberlakukan gencatan senjata.

Di sisi lain, Inggris diperbolehkan menguasai wilayah pelabuhan dan lapangan udara di utara serta wilayah kamp di selatan hingga interniran dapat dievakuasi. Sedangkan pasukan Indonesia menguasai pusat kota yang harus bebas dari tentara Inggris.

Pada saat itu pula, telah disepakati anggota Kontak Biro dari Inggris dan Indonesia. Dari Inggris, terdapat Brigadir Mallaby, Kolonel Pugh (wakil Mallaby), Wing Commander Groom, Mayor Hubson, dan Kapten Shaw. Sedangkan anggota Kontak Biro dari Indonesia adalah Residen Sudirman, Doel Arnowo, Atmaji, Mohammad, Sungkono, Suyono Prawirobismo, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, dan Kundan selaku juru bahasa. Setelah pertemuan tersebut, Sukarno dan Hawthorn kembali ke Jakarta pada pukul 13.00.

Walaupun telah disepakati gencatan senjata, di beberapa tempat masih terjadi tembak-menembak, seperti di Gedung Lindevetes dan Internatio. Oleh karena itu, para anggota Kontak Biro dari kedua belah pihak mendatangi objek pertempuran untuk menghentikan. Indonesia terdiri dari Residen Dirman Sudirman, Doel Arnowo, Sungkono, dan Kundan. Inggris diwakili Brigadir Mallaby.

Kedatangan anggota Kontak Biro dari Inggris dan Indonesia di Lindevetes berhasil menenangkan situasi. Selanjutnya, mereka datang ke Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Gedung yang diduduki Inggris tersebut dikepung para pemuda yang menuntut pasukan Inggris menyerahkan senjata, tetapi ditolak Inggris. Terjadi tembak-menembak sehingga situasi bertambah kacau hingga menewaskan Brigadir Mallaby dengan berbagai versi.

Salah satu versi Inggris, Mallaby ditembak oleh pasukan Indonesia setelah sebelumnya dipaksa untuk keluar dari mobil. Versi lain menyatakan Mallaby didorong masuk mobil dan dibakar. Selain itu, Kontak Biro Indonesia mengumumkan kematian Mallaby adalah faktor kecelakaan, tidak bisa dipastikan siapa yang menembah, bisa dari pasukan Indonesia atau terkena tembakan dari dalam Gedung Bank Internatio.

KOMPAS/ATM
Artikel “Berapa Jenderal Inggris yang Terbunuh di Surabaya” yang dimuat di harian Kompas, 11 November 1989, hlm. 12.

Inggris menambah kekuatan

Setelah kematian Mallaby, Panglima Sekutu di Asia Tenggara, Mountbatten, menyatakan akan menghukum orang Indonesia yang menyebabkan kematian Mallaby. Selain itu, Panglima Sekutu di Indonesia, Christison, memperingatkan rakyat Surabaya untuk menyerah.

Di sisi lain, tugas Sekutu untuk mengangkut tawanan perang dan interniran terus berlanjut. Kolonel Pugh yang menggantikan Mallaby berhasil mendeportasi sejumlah 6.050 wanita anak-anak hingga 6 November 1945. Pada saat evakuasi tersebut, tiba di Surabaya, Divisi India ke-5 di bawah komando Mayor Jenderal Mansergh dengan kekuatan 9.000 pasukan dan 24 tank. Sumber lain mengatakan, Mansergh datang dengan kekuatan 24.000 prajurit, satu peleton artileri, satu skuadron kavaleri, dan kapal perang serta pesawat terbang.

Pada tanggal 7 November 1945, datang surat dari Mansergh kepada Gubernur Suryo. Isinya, Sekutu menuduh Indonesia mempersulit proses evakuasi interniran dan pasukan Inggris pasca pertempuran 28–30 Oktober 1945. Untuk itu, pihak Inggris berniat untuk menduduki lapangan terbang Morokrembangan. Mansergh juga menuduh Suryo tidak dapat menguasai keadaan sehingga Surabaya dikuasai oleh kelompok pengacau.

Gubernur Suryo menolak dua tuduhan tersebut dengan mengirimkan surat balasan, yakni surat No. 1-KBK tanggal 9 November 1945. Suryo menyatakan, telah mengembalikan mayat-mayat tentara Inggris serta mereka yang luka. Mengenai Morokrembangan, Suryo menolak dan menyatakan tidak pernah menyerahkannya kepada Inggris.

Tidak menghiraukan balasan Suryo, datang surat lanjutan dari Mansergh berisi ultimatum bagi masyarakat Surabaya. Seluruh pemimpin gerakan muda, kepala polisi, serta petugas radio diminta melapor kepada Inggris dan menyerahkan senjatanya. Mereka akan ditangkap dan menjadi tawanan. Batas waktu yang diberikan adalah tanggal 9 November 1945 pukul 18.00. Pada hari itu pula, Inggris kembali menyebarkan leaflet lewat udara berisi ultimatum yang senada dengan surat dari Mansergh.

Pihak Surabaya berusaha untuk mengambil jalan kompromi dengan mengutus Residen Sudirman dan Mohammad Mangoendiprodjo menemui pihak Inggris di Jalan Westerbuitenweg. Mereka meminta agar ultimatum tersebut dicabut, tetapi ditolak. Dikirim utusan kedua dr. Sugiri dan Roeslan Abdulgani, tetapi Inggris tetap pada ultimatumnya.

Pemimpin RI di Surabaya juga meminta Presiden Sukarno untuk meminta Inggris membatalkan ultimatum. Presiden Sukarno mengutus Menteri Luar Negeri Subardjo untuk berunding dengan Jenderal Christison tetapi gagal. Akhirnya, Pemerintah Pusat menyerahkan kepada Pemerintah Surabaya untuk menjawab ultimatum. Pada pukul 22.00, Gubernur Suryo melalui radio menyatakan menolak ultimatum Inggris. Pemerintah Surabaya juga mengharapkan rakyat dan kekuatan perjuangan bersiap untuk menghadapi ancaman Inggris.

Sebelumnya, pada pukul 17.00, Komandan BKR Kota Surabaya, Sungkono, mengundang unsur kekuatan rakyat, yakni pimpinan TKR, PRI, BPRI, TP, Polisi Istimewa, BBI, PTKR, dan TKR Laut untuk berkumpul di Marks BKR Kota Jalan Pregolan No. 4. Mereka  yang datang untuk menanggapi undangan tersebut adalah Zarkasi dari Polisi Istimewa, Bambang Kaslan, Ruslan Wijayasastra dari PRI, pimpinan BPRI dan BBI, TKR Jombang, TKR Sidoarjo, dan TKR Laut. Secara aklamatif, Sungkono dipilih sebagai komandan pertahanan.

Kota Surabaya dibagi dalam tiga sektor. Sektor timur dipimpin Kadim Prawirodihardjo, sektor barat dipimpin oleh Koenkiyat, dan sektor tengah dipimpin oleh Kretarto dan Marhadi. Lini pertahanan pertama ditentukan di Jalan Jakarta ke Krembangan, Kapasan, dan Kedungcowek, lini kedua di sekitar viaduct, sedangkan lini ketiga di daerah Darmo.

Di sisi lain, Bung Tomo membakar semangat rakyat melalui radio yang dipancarkan dari Jalan Mawar Nomor 4. Radio tersebut menyiarkan penolakan pihak Indonesia atas ultimatum Inggris. Siaran tersebut dilanjutkan dengan permintaan bagi para pemuda untuk mempertahankan Surabaya dan memanggil pemuda dari berbagai kota di Surabaya dan Madura untuk datang membantu ke Surabaya.

IPPHOS

Bung Tomo berpidato pada rapat Umum BPRI di Surabaya, pada tanggal 20 Mei 1950. Pada tahun 1945, Bung Tomo membakar semangat rakyat Surabaya melalui siaran radio untuk ikut berjuang melawan Inggris.

Pertempuran 10 November

Pada tanggal 10 November 1945, Inggris mulai menggempur Surabaya dari laut dan udara. Dari pihak Inggris, disebutkan bahwa tujuan operasi ini adalah menyelamatkan tawanan perang Inggris dan interniran yang masih ditawan Indonesia. Sedangkan dari pihak Indonesia, para pejuang berusaha mempertahankan kemerdekaan dan enggan memenuhi tuntutan Inggris.

Pasukan Inggris terpusat di pelabuhan di sisi utara kota dan sengaja tidak menempatkan pasukan di sisi selatan kota. Pada pertempuran awal ini, Inggris menurunkan dua brigade (dari total tiga brigade) Divisi India ke-5.

Pada awalnya, Inggris berhasil melucuti senjata pasukan TKR yang berada di gudang Kalimas. Gerakan Inggris kemudian berlanjut ke selatan untuk menyergap pos-pos yang dijaga oleh pasukan TKR. Pasukan Inggris bergerak melalui Jalan Jakarta dan Jalan Kebalen. Jalan Nyamplungan, Pegirian, Sidotopo, Stasiun Prince Hendrik, Jalan Kapasan adalah titik-titik selanjutnya yang menjadi sasaran pasukan Inggris.

Sementara itu, bombardir dari udara dan laut terus dilancarkan dengan sasaran utama pusat-pusat penting pemerintahan, seperti Markas Pertahanan Surabaya, Kantor Gubernur Surabaya, dan Markas Besar PRI.

Para pemuda mempertahankan lini pertahanan pertama hingga pukul 18.00. Pada malam hari, regu penolong yang terdiri dari para perempuan mulai mengevakuasi korban-korban yang jatuh dalam pertempuran.

Pada pertempuran hari pertama, Inggris berhasil melumpuhkan lini pertahanan pertama Surabaya dan mengumpulkan sebanyak 3.500 interniran di sekitar Hotel Des Indes untuk dievakuasi.

KOMPAS/ATM
Lensa Berita bertajuk “Pertempuran Surabaya dan Hari Pahlawan” di harian Kompas, 6 November 2016, hlm. 10.

Pertempuran akhir

Walaupun terdesak pada pertempuran hari pertama, para pemuda Surabaya tidak segera menyerah dan terus mempertahankan Surabaya hingga tiga minggu.

Masing-masing sektor dan lini pertahanan secara berangsur berhasil dilumpuhkan oleh tentara Inggris dengan mengerahkan kekuatan darat, udara, dan laut. Pada tanggal 11 November Inggris mulai melancarkan serangan ke viaduct selama tiga hari berturut-turut sehingga akhirnya lini pertahanan kedua dapat diduduki. Pada tanggal 26 November 1945, Wonokromo jatuh ke tangan Inggris.

Pertempuran akhir antara tentara Inggris dan rakyat Surabaya terjadi di daerah Gunung Sari yang merupakan basis pertahanan terakhir Surabaya. Gunung Sari sepenuhnya jatuh ke tangan Inggris pada tanggal 28 November 1945. Jatuhnya Gunung Sari menjadi tanda jatuhnya Surabaya secara keseluruhan ke tangan tentara Inggris. Hal ini sesuai dengan target Sekutu yang berencana menguasai Surabaya hingga batas Sungai Surabaya.

Meski demikian, buku Sejarah Nasional Indonesia VI (1993) mencatat, perlawanan secara sporadis masih berlangsung dan kemudian markas pertahanan Surabaya berpindah ke Desa Lebaniwaras atau terkenal dengan sebutan Markas Kali.

Dengan demikian, Pertempuran Surabaya terjadi kurang lebih tiga minggu atau tepatnya 18 hari jika dihitung dari tanggal 10 November 1945. Pertempuran Surabaya membuat Indonesia kehilangan banyak pasukan dan senjata, tetapi pengorbanan dan perjuangan menghasilkan simbol perjuangan Revolusi.

Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November dipilih bukan untuk mengenang kemenangan Sekutu, tetapi mengenang kegigihan dan semangat patriotisme bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dengan tidak tunduk terhadap Sekutu. Dalam hal ini diwakili oleh rakyat Surabaya. (LITBANG KOMPAS)

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Peserta Heroic Track melihat patung yang bercerita tentang perjuangan pemuda saat mengunjungi Museum 10 Nopember di Surabaya, Senin (3/11/14). Kegiatan yang diselenggarakan Pemkot Surabaya dalam rangka menyambut Hari Pahlawan bertujuan agar pelajar selalu mengenang jasa pahlawan pada pertempuran mempertahankan kemerdekaan khususnya pertempuran 10 November 1945.

Artikel terkait

Referensi

Arsip Kompas
  • Surabaya, Pelajaran Baru bagi Tentara Inggris”. Kompas, 10 November 1990, hlm. 16.
  • Melihat Pertempuran Surabaya”. Kompas, 11 November 1990, hlm. 1.
Buku
  • Notosusanto, Nugroho (ed.). 1985. Pertempuran Surabaya. Jakarta: Mutiara Sumber Widya
  • Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia: Dari Budi Utomo sampai dengan Pengakuan Kedaulatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Kebangkitan Nasional.
  • Sejarah Nasional Indonesia VI: Republik Indonesia dari Proklamasi sampai Demokrasi Terpimpin. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  • Pusat Sejarah dan Tradisi Mabes TNI. 2000. Sejarah TNI Jilid 1 (1945-1049). Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi Mabes TNI.
  • McMillan, Richard. 2005. The British Occupation of Indonesia 1945-1946. New York: Routledge.
  • Ricklefs, M.C. 2008. A History of Modern Indonesia since c. 1200 – Fourth Edition. New York: Palgrave MacMillan.
  • Gonggong, Anhar, dkk. (Eds). 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI – Republik Indonesia: dari Proklamasi sampai Demokrasi Terpimpin. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  • Alwi, Des. 2012. Pertempuran Surabaya November 1945. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer
Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close