Paparan Topik | Kemerdekaan RI

Detik-Detik Proklamasi dan Penyebaran Beritanya

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dilaksanakan dengan persiapan yang sangat cepat tanpa panitia resmi. Berbagai kalangan turut membantu terlaksananya proklamasi, mulai dari mempersiapkan hal-hal teknis, seperti tiang bendera dan mikrofon hingga penyebaran berita proklamasi ke seluruh wilayah.

IPPHOS/FRANS MENDUR
Soekarno membaca naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia  pada tanggal 17 Agustus 1945.
 
 

Fakta Singkat

Detik-Detik Proklamasi

  • Waktu Pelaksanaan: Tanggal 17 Agustus 1945 dimulai pukul 10.00
  • Tempat: Kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta
  • Susunan Acara: 1) Pembacaan Proklamasi, 2) Pengibaran Bendera, 3) Sambutan

Petugas Upacara

  1. Pembaca Proklamasi: Soekarno
  2. Pengibar Bendera: Latief Hendraningrat, Soehoed, dan SK Trimurti
  3. Sambutan: Suwirjo (Wali Kota Jakarta) dan dr. Muwardi

Persiapan 

  • Tiang bendera: diambil dari bambu tiang jemuran
  • Bendera: dijahit Fatmawati dengan kualitas tidak standar
  • Mikrofon dan pengeras suara: disiapkan Wilopo atas perintah Wali Kota Jakarta, Suwiryo
  • Memperbanyak selebaran dan naskah proklamasi: BM Diah dan kawan-kawan pemuda
  • Keamanan lokasi: prajurit Peta di bawah Latief Hendraningrat
  • Foto: Frans Soemarto Mendur

Lain-Lain

  • Soekarno sakit saat membacakan proklamasi.
  • Tentara Jepang terlambat datang melarang proklamasi.
  • Berita proklamasi dibacakan Jusuf Ronodipuro lewat radio.
  • Para pemuda meneruskan siaran radio berita proklamasi lewat pemancar buatan dari markas Menteng 31.

Rapat semalam suntuk para pemimpin gerakan kemerdekaan di rumah Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori (Jalan Imam Bonjol Nomor 1), Jakarta berakhir sekitar pukul 3 pagi tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum rapat ditutup, Soekarno menegaskan bahwa hari itu juga, jam 10.00 WIB, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dibacakan di halaman rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta (Sekitar Proklamasi, 1970).

Segala hal segera dipersiapkan, mulai dari antisipasi keamanan bila muncul upaya penggagalan rencana proklamasi, memperbanyak naskah proklamasi, selebaran, hingga hal-hal teknis seperti peralatan pendukung upacara.

Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia VI edisi 1993, para pemuda tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Masing-masing kelompok mengirimkan kurir untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera diumumkan. Selain itu, mereka juga mencetak selebaran dengan mesin stensil dan disebarkan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh masyarakat.

Chudanco Peta, Latief Hendaningrat beserta anak buahnya ditugaskan untuk berjaga-jaga di sekitar kediaman Soekarno oleh dr. Muwardi. Dilengkapi dengan senjata lengkap mereka diperintahkan segera mengeluarkan tembakan bila tentara Jepang mendadak datang untuk menggagalkan proklamasi.

Di tempat lain, Wali Kota Jakarta, Suwiryo, meminta kepada Wilopo mempersiapkan mikrofon dan peralatan pengeras suara. Peralatan itu akhirnya didapat dari Gunawan, pemilik toko Radio Satria di Salemba Tengah.

Persiapan proklamasi serba mendadak, termasuk tiang bendera yang belum ada. Sudiro, sekretaris Ahmad Subardjo dan Soekarno, meminta kepada Soehoed, komandan pengawal rumah Soekarno, untuk menyiapkan sebuah tiang bendera.

Di tengah kesibukan itu, Fatmawati, Istri Soekarno, mendengar teriakan bendera belum ada. Mendengar itu, Fatmawati mengeluarkan bendera yang ia simpan di almari kamarnya kemudian diberikan kepada salah seorang pemuda. Bendera Merah Putih ia jahit sendiri saat Guntur masih di dalam kandungan, sekitar satu setengah tahun sebelum proklamasi. Bendera jahitan tangan Fatmawati itu awalnya tidak dipersiapkan untuk menjadi sebuah bendera. Bahan kainnya tidak bagus, bentuk, dan ukurannya pun tidak standar.

Hatta yang ditunggu

Para pemuda yang sudah berkumpul sejak pagi mulai gelisah. Proklamasi tak kunjung diumumkan. Mereka khawatir tentara Jepang lengkap dengan senjatanya tiba-tiba datang. Para pemuda mendesak Muwardi untuk mengingatkan Soekarno. Ia mengetuk pintu kamar Soekarno dan menyampaikan kegelisahan pemuda. Soekarno menolak untuk segera mengumumkan proklamasi dan tetap menunggu Hatta.

Menurut kesaksian Sudiro dalam Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang (2015), situasi menggelisahkan karena Jepang bisa datang kapan saja. Belum lagi rumor-rumor yang beredar bahwa Hatta tidak ada di rumah. Bahkan, ada kabar bahwa Hatta tidak bersedia turut memproklamasikan kemerdekaan.

Dalam bukunya, Sekitar Proklamasi (1970), Hatta memberikan gambaran hal-hal yang dilakukannya sebelum berangkat ke rumah Soekarno tanggal 17 Agustus 1945.

Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang dari rapat kemerdekaan, Hatta mengisahkan makan sahur di rumah Maeda. Karena nasi tidak ada, yang dimakan hanya roti, telur, dan ikan sarden. Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih banyak, Hatta pulang dengan membonceng Soekarno.

Sampai di rumah, Hatta tidur dan bangun sekitar setengah sembilan. Hatta bercukur dan bersiap menuju Pegangsaan Timur 56. Kira-kira pukul 10 kurang 10 menit, Hatta berangkat.

Perjalanan dari rumah Hatta ke rumah Soekarno hanya memakan waktu lima menit. Dari sudut pandang Hatta, tidak ada orang yang gelisah menunggu karena mereka tahu ia adalah orang tepat waktu. Menurut Hatta, Soekarno pun tidak khawatir karena ia tahu kebiasaan Hatta.

Suasana kebatinan Hatta bertolak belakang dengan situasi ketegangan di rumah Soekarno. Ketegangan menjelang proklamasi dan kegelisahan pemuda ini digambarkan dalam buku Detik-detik Proklamasi: Saat-saat Menegangkan Menjelang Kemerdekaan Republik (2011).

Dalam pembicaraan dengan Soekarno, Muwardi menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan tidak perlu menunggu Hatta karena sudah ditandatangani olehnya. Dengan nada marah, Soekarno menjawab, “Saya tidak akan mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia jikalau Hatta tidak ada. Jikalau Mas Muwardi tidak mau menunggu, silahkan baca sendiri Proklamasi.”

Tak lama kemudian, terdengar teriakan. Orang-orang yang hadir ribut berseru, “Bung Hatta datang!”

Lima menit sebelum acara dimulai, Hatta yang berpakaian putih-putih menuju kamar Soekarno yang sedang tidak enak badan. Soekarno bangkit menyambut Hatta dan langsung berpakaian. Ia juga mengenakan setelan putih-putih seperti Hatta. Beberapa pemuda menyusul kemudian, memberitahu bahwa segala sesuatu sudah siap.

Proklamasi

Detik-detik bersejarah dimulai. Soekarno-Hatta keluar bersama-sama diiringi Fatmawati. Saat menuju serambi, Soekarno diapit oleh Hatta di sebelah kiri sementara Latief di sebelah kanan. Soekarno-Hatta sudah berada di tempat yang ditentukan. Hadirin berdiri. Latief Hendraningrat menjadi Komandan Upacara.

Di depan sekitar 300 orang, Soekarno menyampaikan pidato dengan pembukaan, “Saudara-saudara sekalian, saya telah minta saudara-saudara yang hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita.” Hari itu, pidato Soekarno lebih berapi-api dari biasanya. Setelah berpidato singkat, teks proklamasi dibacakan.

Saudara-saudara!

Dengan ini, kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami.

Proklamasi.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05.

Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno/Hatta.

Beberapa orang tampak mengucurkan air mata. Soekarno dan Hatta bersalaman. Indonesia merdeka.

IPPHOS/FRANS MENDUR
Upacara penaikan bendera Sang Merah Putih di halaman Gedung Pegangsaan Timur 56 (Gedung Proklamasi). Tampak antara lain Soekarno, Hatta, Latief Hendraningrat (menaikkan bendera), Ny. Fatmawati Soekarno dan Ny. SK Trimurti.
 
 

Pengibaran bendera

Setelah pembacaan naskah proklamasi, dua orang datang membawa baki berisi bendera Merah Putih. Mereka adalah Soehoed dan SK Trimurti. Baki itu kemudian disodorkan kepada Latief Hendraningrat.

Awalnya, Trimurti (istri Sayuti Melik) yang akan mengibarkan bendera. Namun, dia meminta prajurit yang melakukannya. Latief terpilih didampingi Soehoed. Trimurti memegangi ujung bendera yang dijahit Fatmawati (Kompas, 18 Oktober 2011). Mereka bertiga tercatat sebagai pengibar bendera Indonesia untuk pertama kali.

Waktu itu tidak ada protokol yang mengatur pengibaran bendera pusaka. Begitu bendera diterima, Latief maju ke tiang bendera yang sebenarnya adalah bambu untuk jemuran. Tiang itu dimodifikasi dengan ujungnya dipasang kerekan dengan tali kasar.

Sebenarnya, di halaman depan rumah terdapat tiang bendera yang lebih bagus. Namun, para pemuda tidak mau menggunakan tiang bendera yang berhubungan dengan Jepang. Alasannya, sebelum merdeka, bendera Merah Putih boleh dikibarkan asal bersanding dengan bendera Jepang, Hinomaru. Saat merdeka, para pemuda tidak rela pengibaran bendera Merah Putih beraroma Jepang.

Momen yang dinanti pun tiba. Bendera Sang Merah Putih dikerek oleh Latief. Untuk pertama kali, Merah Putih berkibar sendiri tanpa didampingi bendera lain.

Dalam buku Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang (2015), Latief menjelaskan, pengibaran bendera Merah Putih diiringi semua hadirin dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Lagu yang dinyanyikan adalah yang dengan refrain, “Indonesia Raya, merdeka, merdeka.”

Setelah pengibaran bendera, upacara dilanjutkan dengan sambutan dari Wali Kota Jakarta, Suwirjo, dan dr. Muwardi.

Selepas momen bersejarah

Setelah pengibaran bendera, Hatta dalam bukunya Sekitar Proklamasi (1970) menceritakan, mereka duduk-duduk kira-kira setengah jam. Setelah itu Hatta pulang. Di rumah, sanak saudara sudah menunggu. Semua terharu dan memberi selamat Indonesia Merdeka.

Sebelum Hatta pulang, Sudiro menceritakan bahwa sepasukan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh S. Brata (wartawan) datang terlambat. Mereka minta agar Proklamasi diulangi lagi, tetapi Soekarno menjawab bahwa Proklamasi hanya berlaku sekali saja, tetapi akan berlangsung selamanya.

Karena masih agak sakit, Soekarno masuk ke kamarnya lagi. Tak lama kemudian, apa yang dikhawatirkan pemuda hampir terjadi. Beberapa pembesar Jepang datang dan ingin menemuinya.

Sudiro menyampaikan kedatangan Jepang kepada Soekarno yang kemudian keluar menemui mereka dengan berdiri. Beberapa puluh orang anggota Barisan Pelopor yang mengelilingi mereka telah siap bertindak kalau sampai terjadi sesuatu.

Salah seorang Jepang menyatakan membawa perintah dari kantor pusat pemerintahan militer Jepang (Gunseikanbu) untuk melarang proklamasi. Dengan tenang, Soekarno menjawab, “Proklamasi sudah kami ucapkan.” Utusan Gunseikanbu segera meninggalkan tempat itu.

KOMPAS/JB SURATNO
Mohammad Jusuf Ronodipuro (1980), penyiar naskah proklamasi di RRI Jakarta.

Penyebaran berita proklamasi

Sejak Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu, siaran radio luar negeri sudah dilarang. Yang masih mengudara adalah siaran dalam negeri. Siaran dalam negeri pun mendapat penjagaan ketat sehingga butuh perjuangan untuk menyiarkan berita proklamasi.

Menurut kesaksian Jusuf Ronodipuro yang waktu itu bekerja di Radio Militer Jepang, semua pintu studio dikunci oleh Jepang pada tanggal 15 Agustus tahun 1945 setelah Jepang menyerah. Pegawai yang berada di kantor tak boleh keluar. Pihak Jepang juga menutup acara siaran luar negeri (Kompas, 11 September 1996).

Dampak dari kekalahan Jepang juga terlihat dari siaran radio. Sepanjang hari sejak tanggal 16 Agustus 1945, studio tersebut terus menyajikan acara hiburan.

Menjelang senja 17 Agustus 1945, Sjachrudin, wartawan kantor berita Domei, menyelundup ke ruang penyiar. Ia berhasil masuk setelah melompati tembok belakang dari Tanah Abang. Sjachrudin membawa dua lembar kertas, salah satunya berisi teks lengkap Proklamasi Kemerdekaan. Lembar satu lagi adalah surat Adam Malik yang berisi permintaan agar lembar teks proklamasi dibacakan sebagai berita.

Permintaan Adam Malik tidak mudah diloloskan karena siaran lokal terus dipantau pasukan Jepang. Ronodipuro dan teman-teman di bagian teknik berunding dan memutuskan untuk menggunakan pemancar siaran luar negeri yang sudah tak digunakan.

Sesuai rencana, tepat pukul tujuh malam, warta berita dimulai seperti biasa. Ronodipuro dengan tenang membacakan berita seputar Proklamasi Kemerdekaan. Naskah lengkap Proklamasi Kemerdekaan versi Indonesia dibacakan oleh Jusuf Ronodipuro, sementara terjemahannya dalam Bahasa Inggris dibacakan oleh Soeprapto.

Pembacaan siaran ini disiarkan ke seluruh penjuru Indonesia. Agar tidak ketahuan, pengeras suara di dalam studio telah diatur agar menyiarkan warta berita versi resmi. Petugas keamanan di studio yang mengawasi situasi mengangguk-angguk mendengar berita resmi. Mereka tidak tahu, dalam waktu yang sama, berita kemerdekaan Indonesia menyebar luas di angkasa.

Sekitar dua jam berselang, satu regu polisi militer Jepang (Kempetai) langsung menyerbu ke dalam studio. Jusuf dan redaktur pemberitaan, Bachtar Lubis pun dihajar habis-habisan hingga sebuah samurai siap ditebaskan ke kepala mereka. Beruntung, begitu samurai akan mengayun, Pimpinan Umum Radio Jepang masuk. Para aktor di balik penyebaran berita proklamasi pun selamat. Namun, sejak itu siaran radio dihentikan sama sekali oleh Jepang.

Di tempat lain di Jakarta, para pemuda meneruskan penyebaran berita proklamasi dengan membuat pemancar baru. Mereka mengambil alat pemancar dari kantor berita Domei bagian demi bagian. Pemancar tersebut didirikan di markas pemuda Menteng Nomor 31. Berita proklamasi diteruskan melalui pemancar tersebut.

REPRO/IPPHOS
Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia karya Frans Mendur dimuat pertama kali di harian Merdeka tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya.

Foto Mendur

Di samping disebarkan lewat selebaran dan siaran radio, peristiwa proklamasi sempat diabadikan lewat foto  oleh Frans Soemarto Mendur. Dengan kamera Leica, Mendur berhasil mengambil gambar ikonik hitam putih, Soekarno membaca naskah proklamasi di depan sebuah mikrofon, Hatta berdiri di sisi kirinya, Latief di sisi kanan, dan beberapa orang lainnya di latar belakang (Kompas, 19 Agustus 2019).

Selama persiapan proklamasi, karena tegangnya situasi, Latief lupa menghubungi RM Sutarto, kepala bagian perfilman Kantor Penerangan dan Propaganda Jepang untuk mengabadikan proklamasi. Namun, Frans dan kakaknya, Alexius Impurung Mendur, yang menjabat kepala bagian foto kantor berita Domei, berada tepat pada momen proklamasi.

Semua berawal dari Frans, wartawan foto Asia Raya, yang mendapat kabar dari seorang wartawan Jepang pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945. Wartawan Jepang itu mengabarkan bahwa Soekarno akan memproklamasikan kemerdekaan RI di kediamannya. Kabar tersebut juga didengar oleh Alex. Pagi harinya, Mendur bersaudara bergegas ke Pegangsaan Timur Nomor 56 dengan menenteng kamera secara sembunyi-sembunyi.

Tepat pukul 10.00 WIB momen yang ditunggu tiba. Soekarno mengeluarkan secarik kertas dan mulai membacakan teks proklamasi. Frans dan Alex mengabadikan momen itu dengan kamera masing-masing, termasuk momen pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat.

Saat perjalanan pulang, kamera Alex dirampas tentara Jepang. Rol filmnya dimusnahkan. Beruntung, Frans berhasil lolos ke kantornya dengan siasat. Frans memasukkan rol film ke kotak mentega, lalu menguburnya di tanah selama tiga hari. Setelah diambil, foto proklamasi diproses dan diterbitkan pertama kali oleh harian Merdeka pada 20 Februari 1946.

Hasil jepretan yang kini dikenal sebagai ikon proklamasi itu menjadi satu-satunya rujukan untuk mengenang gambaran peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Arsip Kompas
  • “Jusuf Ronodipuro. Sekali di Udara Tetap di Udara” , 11 September 1996, hlm. 28.
  • “’Sepi Ing Pamrih’ Latief Hendraningrat”, 18 Oktober 2011, hlm. 5.
  • “Kerja Sunyi Mendur Bersaudara Abadikan Proklamasi”, 19 Agustus 2019, hlm. C.
Buku
Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close