Paparan Topik | Hari Olahraga Nasional

Prestasi Indonesia di Ajang Olimpiade

Sepanjang keikutsertaannya di ajang Olimpiade, Indonesia sudah mengumpulkan 32 medali. Tiga cabang olahraga penyumbang medali Olimpiade bagi Indonesia adalah bulu tangkis (19), angkat besi (12), dan panahan (1).

KOMPAS/KARTONO RYADI
Foto kenangan ketika trio Srikandi Indonesia (dari kiri), Lilies Handayani, Nurfitriyana S Lantang, Kusumawardani, saat menerima medali perak di Olimpiade Seoul, Sabtu (1/10/1988).

Fakta Singkat

Indonesia di Olimpiade

  • 1952, pertama kali ikut Olimpiade di Helsinki, Finlandia
  • 1968 dan 1980, absen di Olimpiade Tokyo 1968 dan Moskwa 1980
  • 1988, pertama kali mendapatkan medali (1 perak)
  • 1992, pertama kali mendapatkan medali emas

Perolehan Medali

  • 1988, Seoul, 1 perak
  • 1992, Barcelona, 2 emas, 2 perak, 1 perunggu
  • 1996, Atlanta, 1 emas, 1 perak, 2 perunggu
  • 2000, Sydney, 1 emas, 3 perak, 2 perunggu
  • 2004, Athena, 1 emas, 1 perak, 2 perunggu
  • 2006, Beijing, 1 emas, 1 perak, 4 perunggu
  • 2012, London, 2 perak, 1 perunggu
  • 2016, Rio de Janeiro, 1 emas, 2 perak

Perolehan medali per cabang (hingga 2016)

  • Total 32 medali, yakni 7 emas, 13 perak, dan 12 perunggu.
  • Cabang bulu tangkis menyumbangkan 19 medali, yakni 7 emas, 6 perak, dan 6 perunggu.
  • Cabang angkat besi menyumbang 12 medali, yakni 6 perak dan 6 perunggu.
  • Cabang panahan menyumbang 1 medali perak.

Indonesia mulai berpartisipasi di pesta olahraga terbesar bangsa-bangsa dunia pada tahun 1952 atau ketika Olimpiade ke-15 digelar di Helsinki, Finlandia. Sejak saat itu, Indonesia hampir tidak pernah absen dalam mengirimkan atlet terbaiknya di ajang olahraga multicabang terbesar di dunia ini.

Indonesia hanya dua kali absen, yakni pada Olimpiade 1964 di Tokyo, Jepang, karena kontroversi menyangkut GANEFO dan Olimpiade 1980 di Moskwa, Rusia, karena turut serta dalam boikot terkait perang Soviet-Afganistan.

Sepanjang keikutsertaan di Olimpiade hingga tahun 2016, Indonesia mendapatkan 32 medali, yakni 7 emas, 13 perak, dan 12 perunggu. Bulu tangkis menjadi cabang olahraga andalan dan penyumbang terbesar medali bagi Indonesia. Bahkan, semua medali emas Indonesia berasal dari cabang tersebut.

Awal keikutsertaan

Pertama kali berpartisipasi pada 1952, Indonesia tercatat sebagai salah satu tim terkecil dengan mengirimkan tiga atlet putra di cabang angkat besi, renang, dan atletik. Saat itu, Indonesia mengirimkan tiga atlet terbaiknya, yakni Soedarmojo di cabang atletik, Habib Soeharko di cabang renang, dan Thio Ging Wie untuk angkat besi.

Dari ketiga atlet itu, Thio Ging Hwie menempati posisi ke-8 dalam angkat besi kelas ringan putra, Maram Sudarmodjo menempati posisi ke-20 dalam lompat tinggi putra, sedangkan Habib Soeharko hanya mengikuti babak penyisihan renang gaya dada 200 meter putra dan gagal lolos ke babak berikutnya.

Pada Olimpiade berikutnya yang digelar di Melbourne, Australia tahun 1956, Indonesia mengirimkan 22 atlet yang terdiri dari 20 atlet laki-laki dan 2 atlet perempuan. Sebanyak 13 atlet di antaranya merupakan atlet cabang sepak bola putra.

Tim sepak bola Indonesia mencatatkan prestasi fenomenal setelah menahan imbang Uni Soviet 0-0 pada babak perempat final. Namun, pada partai ulangan (replay), Indonesia kalah dari Soviet yang akhirnya berhasil menggondol medali emas. Kali kedua keikutsertaannya, Indonesia pulang tanpa membawa satu pun medali, sama seperti sebelumnya.

Tahun 1960, Indonesia kembali mengirimkan 22 atletnya ke Olimpiade Roma, Italia. Mereka terdiri dari 20 atlet laki-laki dan 2 atlet perempuan dan ambil bagian dalam kompetisi di delapan cabang olahraga, yakni anggar, angkat besi, atletik, balap sepeda, layar, menembak, tinju, dan renang.

Indonesia tidak berpartisipasi di Olimpiade Tokyo 1964 karena mendapat sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) terkait keikutsertaan Indonesia di dalam the Games of the New Emerging Forces (GANEFO) yang digagas Presiden Soekarno.

PPHOS
Tim Indonesia ke Olimpiade Helsinki diterima Presiden Soekarno di istana tanggal 10 Juni 1952.

Masa Orde Baru

Selepas dari sanksi IOC, Indonesia kembali berpartisipasi di Olimpiade Meksiko pada tahun 1968. Inilah keikutsertaan Indonesia yang pertama di Olimpiade pada masa Orde Baru.

Enam atlet Indonesia berangkat ke Meksiko dan berlaga di dua cabang olahraga, yakni angkat besi dan layar. Enam atlet tersebut terdiri dari 2 atlet angkat besi (Charlie Depthios dan Irsan Husen) serta 4 atlet cabang layar (Madek Kasman, John Gunawan, Robert Lucas, dan Tan Tjong Sian). Keenam atlet Indonesia tersebut belum berhasil mempersembahkan medali Olimpiade bagi Indonesia.

Meskipun demikian, kehadiran kontingen Indonesia di ajang Olimpiade itu berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa kondisi sosial politik di dalam negeri pascaperalihan kekuasaan tidak sampai membuat Indonesia absen dari pesta akbar tersebut.

Empat tahun kemudian, Indonesia ikut serta dalam Olimpiade Muenchen 1972 dengan mengirimkan 10 atletnya di cabang tinju, atletik, loncat indah, angkat besi, dan bulu tangkis. Ferry Sonneville bertindak sebagai kepala kontingen dibantu delapan ofisial.

Olimpiade 1972 itu menjadi kenangan pahit bagi atlet dan penyelenggara, termasuk Komite Olimpiade Internasional karena terjadi tragedi berdarah ”Pembantaian Muenchen” atau dikenal juga dengan tragedi kelompok ”Black September”. Sekelompok anggota garis keras Palestina menyerbu asrama atlet Israel di Muenchen dan menembak hingga tewas 11 atlet Israel yang akan bertanding di Olimpiade.

Setelah terjadi tragedi berdarah pada event sebelumnya, Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada, digelar dengan tingkat keamanan yang tinggi. Sebanyak 7 atlet Indonesia yang terdiri dari 5 atlet putra dan 2 putri putri, berangkat ke Montreal, Kanada, untuk mengikuti pesta olahraga terbesar dunia yang digelar bulan Juli 1976. Mereka berlaga di lima cabang olahraga, yakni panahan, atletik, tinju, angkat besi, dan renang.

Ketujuh atlet Indonesia itu adalah Frans VB dan Syamsul Anwar (tinju), Warino  (angkat besi), Carolina Riuewpasa (atletik), Donald Pandiangan dan Leans Suniar (panahan), dan Kristiono Sumono (renang).

Meski tak menggondol satu medali pun, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, cabang panahan putri sudah menunjukkan prestasinya dengan duduk di peringkat ke-9. Bahkan, pemanah Donald Pandiangan sempat membuat heboh karena saat berlatih catatannya melampaui rekor dunia. Namun, pada saat lomba, ia belum menyumbangkan medali.

Empat tahun kemudian, Indonesia tak berpartisipasi di Olimpiade. Indonesia, bersama negara-negara lainnya yang dimotori Amerika Serikat, memboikot Olimpiade Moskwa 1980. Tercatat sebanyak 58 negara memboikot ajang multievent empat tahunan tersebut.

Di Olimpiade ke-24 yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat tahun 1984, Indonesia mengirimkan 16 atlet dan sembilan ofisial. Mereka berangkat tanpa dibebani target medali. Partisipasi kontingen Indonesia di Olimpiade tersebut juga digunakan sebagai uji coba dan mengukur calon lawan di Asian Games 1986 yang menjadi sasaran utama pencapaian puncak prestasi Indonesia.

Ajang Olimpiade tersebut juga diwarnai aksi boikot balasan oleh negara-negara Eropa Timur yang dimotori Uni Soviet. Sebanyak 13 negara yang tergabung dalam Blok Timur termasuk Korea Utara, Laos, dan Ethiopia ikut serta dalam aksi boikot balasan tersebut.

Selama tujuh kali mengikuti Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia dicapai oleh Charlie Deptios yang memecahkan rekor dunia angkat besi kelas 52 kilogram di Olimpiade Muenchen, Jerman 1972. Namun, ia tidak mendapat emas karena memecahkan rekor tersebut dalam angkatan ekstra. Di Olimpiade yang sama, petinju Ferry Moniaga lolos hingga perempat final, tapi kalah oleh petinju Kuba.

Di Olimpiade Montreal, Kanada, tahun 1976, pemanah Leane Suniar Manurung menempati urutan ke-9. Sementara, atlet Donald Pandiangan menempati urutan ke-16 di cabang panahan.

KOMPAS/MARIO MAMOKO
Tim Olimpiade Indonesia Selasa siang (3/7/1984) dilepas Ketua Harian KONI Pusat D. Suprajogi. Pelepasan ditandai penyerahan bendera Merah Putih dari Suprajogi kepada pimpinan rombongan Saleh Basarah.

Medali pertama

Setelah tujuh kali berpartisipasi di ajang Olimpiade tanpa medali, pada partisipasinya ke-8, Indonesia baru bisa meraih medali. Medali pertama Indonesia diraih di Olimpiade Seoul, Korea Selatan pada 17 September–2 Oktober 1988.

Trio pemanah putri Indonesia, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani berhasil mempersembahkan medali perak setelah mengalahkan tim panahan Amerika Serikat.

Perolehan satu medali perak itu di Olimpiade Seoul itu menggores sejarah dalam lembaran olahraga Indonesia, yakni untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, Indonesia mendapatkan medali Olimpiade. Perolehan satu-satunya medali perak itu sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat 36 dari 159 negara peserta.

Prestasi tiga srikandi panahan Indonesia yang mengharumkan nama bangsa itu menghasilkan apresiasi yang tak terkira dari masyarakat Indonesia. Setelah kembali ke tanah air, mereka disambut dengan begitu meriah. Keberhasilan tim panahan itu menjadi penyemangat dan mengilhami atlet-atlet lain untuk berjuang mendapatkan medali pada Olimpiade berikutnya.

KOMPAS/JB KRISTANTO
Saat-saat bersejarah ketika tiga pemanah putri Indonesia, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani dan Lilies Handayani berdiri di podium juara sesaat setelah memperoleh pengalungan medali perak di lapangan panahan Olimpiade, Hwarang, Seoul hari Sabtu (1/10/1988).

Era medali emas

Menyusul perolehan medali perak di Olimpiade Seoul, Indonesia mencanangkan era medali emas pada keikutsertaannya di Olimpiade Barcelona, Spanyol, 1992.

Di Olimpiade ini, Indonesia menurunkan 47 atlet serta 22 pelatih dan ofisial. Kontingen RI akan mengikuti 11 cabang olahraga, termasuk satu cabang eksibisi Taekwondo, dari 28 cabang yang dipertandingkan dan tiga cabang eksibisi di Olimpiade ini.

Untuk pertama kalinya, cabang bulu tangkis secara resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingan di Olimpiade tersebut. Tim bulu tangkis Indonesia mengukir prestasi tertingginya pada Olimpiade itu dengan meraih 2 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Susi Susanti menjadi orang pertama Indonesia yang membuat “Indonesia Raya” dikumandangkan dalam acara puncak cabang olahraga ini.

Alan Budikusuma melengkapi kegemilangan Indonesia dengan meraih medali emas di partai final bulu tangkis nomor tunggal putra dengan menumbangkan rekannya sendiri, Ardy B Wiranata. Ardy menyumbang medali perak untuk kontingen Indonesia di cabang tersebut.

Medali perak lainnya diraih pasangan ganda putra Eddy Hartono dan Rudy Gunawan. Adapun satu-satunya perunggu direbut tunggal putra, Hermawan Susanto yang kalah di semifinal tunggal putra melawan Ardy B Wiranata.

Dua medali emas yang diraih Susy dan Alan membawa Indonesia menjadi negara Asia kedelapan yang mampu menggapai puncak tertinggi di arena Olimpiade, sesudah Jepang, Cina, Korea Selatan, Pakistan, Iran, India, Korea Utara. Prestasi itu sekaligus membuka era medali emas yang sudah didambakan sejak 40 tahun lalu, kala Indonesia pertama kali mengikuti Olimpiade. Di klasemen akhir, Indonesia menempati urutan ke-24.

Tradisi medali emas kemudian berlanjut di arena Olimpiade Atlanta 1996 di Amerika Serikat. Lagi-lagi, cabang bulu tangkis menjadi penyumbang. Sayangnya, jumlah medali emas dan perak yang diraih lebih sedikit daripada Olimpiade sebelumnya. Di ajang tersebut, Indonesia hanya meraih 1 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Hasil itu menempatkan Indonesia di urutan ke-41, melorot dari sebelumnya di urutan ke-24.

Semua medali diraih dari cabang bulu tangkis yang menjadi andalan tim Indonesia. Satu-satunya medali emas diraih pasangan ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja, sedangkan perak disumbangkan pemain tunggal putri, Mia Audina. Juara Olimpiade bulu tangkis tunggal putri sebelumnya, Susi Susanti, hanya menyabet perunggu. Satu medali perunggu lainnya disumbangkan oleh pasangan bulu tangkis ganda putra Denny Kantono/Antonius Iriantho.

KOMPAS/KARTONO RYADI
Pemain bulu tangkis putri terbaik, Susi Susanti (tengah), setelah menerima pengalungan medali emas tunggal putri bulu tangkis Olimpiade 1992 yang diraihnya di Pavelo de la Mar Bella, Barcelona, Selasa (4/8/1992). Susi menjadi orang Indonesia pertama yang mempersembahkan medali emas olimpiade bagi Ibu Pertiwi. Susi memastikan keberhasilannya setelah menundukkan pemain Korea Selatan Bang Soo-hyun di final.

Saat Olimpiade digelar di Sydney, Australia, tahun 2000, Indonesia mengirimkan 47 atlet yang berlaga di delapan cabang olahraga, yakni tinju, bulu tangkis, renang, loncat indah, panahan, atletik, layar, dan angkat besi. Kali ini, medali tak hanya disumbang dari cabang bulu tangkis, tetapi juga dari cabang angkat besi putri. Perolehan 6 medali yang terdiri dari 1 emas, 3 perak, dan 2 perunggu itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-37 dari 199 negara peserta.

Medali emas disumbang pemain bulu tangkis ganda putra, Tony Gunawan dan Chandra Wijaya. Adapun medali perak disumbang oleh Hendrawan (bulu tangkis tunggal putra), Tri Kusharyanto dan Minarti Timur (bulu tangkis ganda campuran), serta Raema Lisa Rumbewas (angkat besi putri). Koleksi medali kontingen Indonesia bertambah dengan raihan perunggu yang disumbang atlet angkat besi, Sri Indriyani, di kelas 48 kilogram dan Winarni di kelas 53 kilogram.

Pada Olimpiade Athena 2004, kontingen Indonesia hanya memperoleh 4 medali, yakni 1 emas untuk bulu tangkis tunggal putra, 1 perak untuk angkat besi, dan 2 perunggu dari bulu tangkis tunggal putra serta ganda putra. Pencapaian itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-48 dari 202 negara.

Di ajang Olimpiade Yunani, pemain bulu tangkis tunggal putra, Taufik Hidayat, menjadi pahlawan setelah mempersembahkan satu-satunya medali emas untuk kontingen Indonesia. Indonesia menambah dua medali perunggu dari pemain tunggal putra, Soni Dwi Kuncoro, dan pemain ganda putra, Flandy Limpele/Eng Hian. Adapun medali perak dipersembahkan atlet putri Lisa Rumbewas di cabang angkat besi putri kelas 48 kilogram.

Lagu “Indonesia Raya” kembali berkumandang di Olimpiade Beijing 2008, di Beijing University of Technology Gymnasium, mengiringi keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan meraih medali emas di cabang bulu tangkis ganda putra.

Di Olimpiade tersebut, sebenarnya Indonesia berpeluang menambah medali emas dari cabang bulu tangkis. Namun, kesempatan meraih emas kedua gagal dimanfaatkan Nova Widianto/Liliyana Natsir. Pada final ganda campuran, pasangan tersebut kalah dari pasangan Korea Selatan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dan harus puas dengan medali perak.

Maria Kristin Yulianti melengkapi koleksi medali bulu tangkis Indonesia dengan satu keping perunggu dari tunggal putri. Dengan hasil ini, dari cabang bulu tangkis Indonesia meraih 1 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Total medali yang diraih Indonesia adalah 5 medali, yakni 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Dua perunggu lainnya dipersembahkan dua atlet angkat besi, yakni Triyatno dan Eko Yuli Irawan.

Di Olimpiade Beijing 2008, ini Indonesia mengirimkan 24 atlet untuk tujuh cabang olahraga dan menempati di posisi ke-42 dari 204 negara peserta.

Pada tahun 2017, atlet angkat besi putri Indonesia Lisa Rumbewas mendapatkan medali perunggu Olimpiade Beijing 2008 setelah peraih perunggu dari Belarus (Nastassia Novikava) dinyatakan positif menggunakan doping. Hal ini menambah perolehan medali Indonesia menjadi 1 emas, 1 perak, dan 4 perunggu (Kompas, 4/12/2017).

KOMPAS/DANU KUSWORO
Tim bulu tangkis Indonesia (dari kiri ke kanan), Maria Kristin, Liliyana Natsir, Hendra Setiawan, Markis Kido, dan Nova Widianto, tiba kembali di Indonesia, Selasa (19/8/2008). Bulu tangkis Indonesia di Olimpiade Beijing 2008 meraih 1 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu.

Prestasi menurun

Olimpiade ke-30 di London, Inggris, diselenggarakan pada Juli–Agustus 2012. Indonesia mengirimkan 21 atlet terbaiknya untuk berlaga di tujuh cabang olahraga di Olimpiade tersebut. Jumlah atlet tersebut lebih sedikit dibanding kontingen yang dikirim pada Olimpiade Beijing 2008. Tujuh cabang itu adalah renang, atletik, anggar, angkat besi, panahan, bulu tangkis, dan menembak.

Setelah dalam lima Olimpiade berturut-turut, Indonesia selalu mendulang medali emas dari cabang olahraga bulu tangkis, Indonesia tak berhasil  mendapatkan emas dari cabang bulu tangkis. Bahkan, Indonesia tak meraih satu medali pun dari cabang andalan tersebut.

Di ajang Olimpiade London 2012, Indonesia hanya meraih 2 medali, 1 perak dan 1 perunggu. Medali medali perak diraih Indonesia melalui perjuangan luar biasa atlet angkat besi Triyatno. Sedangkan, medali perunggu dipersembahkan oleh atlet angkat besi Eko Yuli Irawan.

Tanpa medali emas, posisi Indonesia secara umum melorot dari pencapaian Olimpiade sebelumnya. Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 204 negara peserta, jauh menurun dibandingkan posisi Indonesia saat Olimpiade Beijing di posisi ke-42. Peringkat Indonesia masih di bawah Thailand yang berada di posisi ke-57 yang berhasil mempertahankan posisi teratas di Asia Tenggara.

Pada tahun 2016, atlet angkat besi putri Indonesia, Citra Febrianti mendapatkan medali perak Olimpiade London 2012 setelah atlet peraih medali perak (Wsu Shu Ching/Taiwan) dan perunggu (Christina Lovu/Moldova) dinyatakan positif menggunakan doping. Hal ini membuat perolehan medali Indonesia di Olimpiade London bertambah menjadi 2 perak dan 1 perunggu (Kompas, 5/8/2016).

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Lifter putra Indonesia, Triyatno (kiri) dan Eko Yuli Irawan, tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Sabtu (4/8/12). Triyatno mempersembahkan medali perak kelas 69 kilogram, sedangkan Eko meraih medali perunggu kelas 62 kilogram dalam ajang Olimpiade 2012 di London.

Olimpiade Rio, 2016

Pada Olimpiade ke-31 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil 2016, Indonesia mengirimkan sebanyak 28 atlet di tujuh cabang olahraga. Ketujuh cabang itu adalah bulu tangkis, angkat besi, renang, atletik, panahan, balap sepeda BMX, dan dayung.

Indonesia menutup kiprah pada Olimpiade Rio 2016 dengan koleksi 1 medali emas dan 2 perak. Satu medali emas dipersembahkan pasangan pebulu tangkis ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dua medali perak diraih lifter putri Sri Wahyuni Agustiani dan lifter putra Eko Yuli Irawan.

Medali emas Indonesia kali ini diperoleh setelah ganda campuran andalan Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, memenangkan partai final ganda campuran atas ganda Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dengan skor 21-14, 21-12 di Paviliun 4 Riocentro. Kemenangan tersebut bertepatan dengan peringatan kemerdekaan 17 Agustus.

Pencapaian itu mengembalikan tradisi medali emas kontigen Indonesia di Olimpiade yang sempat lepas pada tahun 2012. Sebelumnya, pada tahun 1992, 1996, 2000, 2004, dan 2008 cabang bulu tangkis selalu menghasilkan emas bagi Indonesia. Indonesia mengakhiri perjuangannya dengan berada di peringkat ke-46 dari 207 negara peserta.

Dibandingkan dengan perolehan negara tetangga lainnya di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi kedua, masih kalah dengan Thailand yang menduduki peringkat ke-33 atau teratas di Asia Tenggara dengan total perolehan 6 medali, yaitu 2 emas, 2 perak dan 2 perunggu.

Adapun Vietnam menduduki peringkat tiga Asia Tenggara dengan meraih 2 medali, yakni 1 emas dan 1 perak dari cabang menembak. Kemudian disusul oleh Singapura di peringkat ke-4  di Asia Tenggara dengan perolehan 1 medali emas di cabang renang dan Malaysia di peringkat ke-5 dengan perolehan 5 medali, yaitu 4 perak dan 1 perunggu.  Sementara, Filipina berada di posisi paling akhir dengan perolehan 1 medali perak dari angkat besi.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Presiden Joko Widodo (tengah) menunjukkan medali yang diraih dalam Olimpiade Rio 2016, dari kiri, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Sri Wahyuni dan Eko Yulianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (24/8/2016). Dalam kesempatan itu Presiden mengucapkan terima kasih atas perjuangan yang telah dilakukan dan akan fokus dalam pembinaan olahraga yang berpotensi tinggi dalam prestasi.

Menuju Olimpiade Tokyo

Indonesia kembali menyiapkan atlet-atlet terbaiknya untuk berlaga di Olimpiade Tokyo, Jepang yang sedianya dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Namun, penyelenggaraan ajang multicabang tersebut akhirnya ditunda akibat pandemi Covid-19.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) resmi mengumumkan penundaan setelah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengajukan penundaan satu tahun terhadap penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 kepada Presiden Komite IOC Thomas Bach pada 24 Maret 2020.

Penundaan itu membuat persiapan atlet Indonesia lebih panjang dan berpotensi menghadapi masalah anggaran karena dana pelatnas akan kosong sejak Agustus 2020 hingga pertengahan 2021.

Sekretaris Kemenpora Gatot S Dewa Broto menyatakan, pihaknya tidak mampu membiayai pelatnas hingga 2021. ”Anggaran pelatnas hanya dikondisikan untuk Olimpiade sampai awal Juli. Kalau untuk pelatnas jangka panjang, kami jujur tidak mampu. Cabang akan segera dikumpulkan untuk membahas ini,” kata Gatot (Kompas, 26/4/2020).

Dalam perkembangannya, Kemenpora menjamin dana pelatnas atlet untuk cabang olahraga Olimpiade tetap dianggarkan meskipun  pemerintah memotong anggaran Kemenpora. Untuk tahap awal, Kemenpora mengucurkan bantuan dana pelatnas untuk cabor panahan dan atletik pada Juli 2020. Cabor atletik melalui induk organisasinya, yakni PASI, menerima bantuan sebesar Rp 6,14 miliar, sedangkan panahan melalui Perpani menerima bantuan sebesar Rp 3,95 miliar. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Arsip Kompas
Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close