Paparan Topik

Minyak Bumi: Sejarah, Proses Produksi, Jenis BBM, dan Produsen Dunia

Melonjaknya harga minyak mentah di pasar dunia membuat subsidi BBM yang dianggarkan dalam APBN membengkak. Pemerintah terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi pertalite, pertamax, dan solar per 3 September 2022 untuk mengurangi beban APBN.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Anjungan Central Plant Pertamina Hulu Energy Offshore North West Java (PHE ONWJ) di lepas pantai Karawang-Indramayu di Laut Jawa (22/07/2014). Indonesia menduduki peringkat ke-69 dari 129 negara dalam hal ketahanan energi pada 2014 yang dikeluarkan Dewan Energi Dunia (World Energy Council). Indonesia belum memiliki cadangan strategis dan cadangan penyangga energi.

Fakta Singkat

  • Minyak bumi pertama kali ditemukan oleh bangsa Asyiria, Babilonia kuno, dan Sumeria sekitar 5000 tahun sebelum masehi.
  • Minyak bumi atau minyak mentah merupakan bahan utama dalam pembuatan bahan bakar minyak (BBM).
  • Pada masa orde baru, Indonesia merupakan penghasil minyak dunia dan mampu memproduksi 1,5 juta barel per hari.
  • Sejak tahun 2004 Indonesia menjadi negara pengimpor minyak neto (net oil importer). Saat itu, Indonesia hanya mampu mengekspor minyak sekitar 400 ribu barel per hari, sementara yang dimpor 500.000 barel per hari.
  • Pada 2022, melonjaknya harga minyak mentah di atas 100 dollar AS/barel di pasar dunia membuat subsidi BBM membengkak tiga kali lipat, dari anggaran awal Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun.

Kendati Indonesia masih menghasilkan minyak bumi atau minyak mentah (petroleum) dan produksinya juga dijual di pasar internasional dengan nama Indonesian Crude Price (CPI), posisi Indonesia sebagai importir neto membuat lonjakan harga minyak dunia menambah beban APBN terutama di pos subsidi BBM.

BBM yang sebagian besar digunakan untuk kendaraan bermotor itu merupakan hasil olahan dari minyak mentah yang diambil dari perut bumi di darat maupun di lepas pantai. Pada masa orde baru, Indonesia masih penghasil minyak dunia dan mampu memproduksi 1,5 juta barel per hari.

Namun, sejak tahun 2004 Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak neto (net oil importer) karena jumlah minyak yang diimpor untuk keperluan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sudah melampaui jumlah minyak yang bisa diekspor. Saat itu, Indonesia hanya mampu mengekspor minyak sekitar 400 ribu barel per hari, sementara yang dimpor 500.000 barel per hari.

Predikat sebagai negara pengimpor minyak netto tetap bertahan hingga sekarang. Alhasil kenaikan harga minyak dunia dipastikan membebani anggaran negara karena tingginya subsidi BBM di APBN. Tahun 2022, melonjaknya harga minyak mentah di atas 100 dollar AS/barel di pasar dunia membuat subsidi BBM membengkak tiga kali lipat, dari anggaran awal Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun, jauh di atas asumsi APBN 2022 sebesar 63 dollar AS/barel.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia menambah beban APBN dan menekan ekonomi dalam negeri. Sebaliknya, bagi negara produsen minyak, kenaikan itu justru menguntungkan mereka dengan meningkatnya pendapatan dari ekspor minyak. Negara pengekspor minyak itu, antara lain, Arab Saudi, Rusia, Irak, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Anjungan Central Plant Pertamina Hulu Energy Offshore North West Java (PHE ONWJ) di lepas pantai Karawang-Indramayu di Laut Jawa (22/07/2014). Anjungan ini selain mampu memproduksi 40.300 barel minyak per hari (BOPD) juga memasok gas bumi sebesar 120 MMSCFD untuk pembangkit listrik milik PLN.

Sejarah

Minyak bumi atau minyak mentah merupakan bahan utama dalam pembuatan bahan bakar minyak (BBM). Minyak mentah yang disedot dari dalam bumi atau lepas pantai tidak dapat digunakan secara langsung dan harus dimurnikan dengan destilasi bertingkat hingga terwujud bahan bakar minyak (BBM) yang dipakai kendaraan bermotor.

Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks berupa senyawa hidrokarbon. Hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah terutama adalah alkana, dan sisanya adalah sikloalkana, alkena, alkuna, dan senyawa aromatik. Komponen kecil lainnya selain hidrokarbon adalah senyawa karbon yang mengandung oksigen, belerang, atau nitrogen.

Minyak bumi terbentuk dari pelapukan puing-puing berbagai jenis organisme seperti tumbuhan, hewan dan mikroorganisme, dan telah terkubur dengan lumpur di dasar laut selama jutaan tahun. Lumpur berubah menjadi berbagai batuan sedimen berpori, tetapi puing-puing organisme bergerak ke daerah bertekanan rendah dan terkumpul di batuan kedap air di daerah perangkap.

Minyak bumi sering disebut sebagai bahan bakar fosil karena minyak bumi berasal dari puing-puing organisme hidup, yang terakumulasi sebagai deposit minyak bumi di batuan permeable Bahan bakar fosil diklasifikasikan sebagai sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Untuk mengekstrak minyak, perlu melakukan proses pengeboran. Minyak mentah yang ditemukan biasanya dicampur dengan gas alam. Minyak mentah ini tidak dapat digunakan secara langsung dan harus dimurnikan dengan destilasi bertingkat hingga terwujud bahan bakar minyak (BBM) yang dipakai kendaraan bermotor. BBM sebagai hasil destilasi bertingkat dari minyak mentah itu bisa menjadi bensin, solar, aftur, dan minyak tanah.

Minyak bumi pertama kali ditemukan oleh bangsa Asyiria, Babilonia kuno, dan Sumeria sekitar 5000 tahun sebelum masehi. Pada masa itu, minyak bumi merembes ke permukaan daratan, sehingga orang-orang bisa mudah mengambilnya. Produk minyak bumi yang pertama kali dimanfaatkan yakni aspal  yang berbentuk cairan kental sebagai perekat oleh bangsa-bangsa kuno di wilayah timur tengah seperti Mesir, Sumaria, Babilonia, dan Arab.

Seiring perkembangan zaman, bangsa Arab dan Persia kemuidjan berhasil menemukan teknik distalasi minyak bumi. Sehingga adanya teknik tersebut mampu menjadikan minyak bumi sebagai bahan bakar. Pengetahuan dan pengunaan minyak bumi itu kemudian menurun pada orang-orang Romawi dan selanjutnya menyebar ke belahan benua Eropa.

Di belahan benua lain, suku Seneca di Pennsylvania (kini negara bagian di AS) mengumpulkan rembesan minyak bumi selama ratusan tahun. Rembesan minyak bumi tersebut digunakan sebagai salep, pengusir serangga, dan tonik. Ketika orang-orang Eropa tiba di Benua Amerika, mereka yakin bahwa rembesan minyak bumi yang diambil suku Seneca itu juga efektif untuk mengobati keseleo dan rematik.

Beberapa abad kemudian, para ilmuan melakukan pencarian sumber minyak bumi di beberapa wilayah, seperti Kuba, Meksiko, Bolivia, dan Peru. Pada Pertengahan abad ke-19, sebagian masyarakat di wilayah Amerika Utara sudah menggunakan minyak tanah dan minyak batu bara sebagai bahan bakar penerangan.

Meski minyak bumi telah lama dikenal orang, namun industri minyak bumi baru muncul setelah Kolonel Edwin L. Drake berhasil mengeluarkan minyak bumi dengan cara mengebornya di kedalaman 23 meter di Pennsylvania, AS pada tahun 1859.

Kemudian perusahaan minyak pertama yang dibangun pada 10 Januari 1870 adalah Standard Oil milik John D. Rockefeller yang menguasai 80 persen distribusi produk minyak utama, terutama minyak tanah. Sejak itu muncul perusahaan-perusahaan minyak di berbagai belahan dunia seiring penemuan sumur-sumur minyak di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Di Indonesia penemuan minyak bumi dilaporkan oleh Corps of the Mining Engineers pada dekade 1850-an, antara lain di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Temuan minyak terus berlanjut pada dekade berikutnya, antara lain, di daerah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866).

Selanjutnya, seorang pedagang Belanda bernama Jan Reerink menemukan adanya rembesan minyak di Majalengka, dekat lereng Gunung Ciremai, Cirebon, Jawa Barat pada 1871. Reerink kemudian mengebor dan membuat sumur minyak di wilayah rembesan tersebut Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi. Sumur ini dianggap sebagai sumur yang memproduksi minyak bumi pertama di Indonesia dengan mengunakan pompa yang digerakan oleh tenaga sapi.

Kemudian Reerink juga melakukan pengeboran di Panais, Majalengka, Cipinang dan Palimanan, dengan mengunakan pompa bertenaga uap yang didatangkan dari Canada, menghasilkan minyak yang sangat kental yg disertai dengan air panas yang memancur setinggi 15 meter. Pada 1876 permohonan pinjaman modalnya ditolak NV Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), sehingga akhirnya ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut dan kembali ke usaha dagang sebelumnya.

Dalam perkembangannya, pengolahan dan distribusi BBM di Indonesia tak bisa lepas dari keberadaan Pertamina, sebagai BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas. Perusahaan ini lahir pada 10 Desember 1957 yang awalnya bernama PT Perusahaan Minyak Nasional, disingkat PERMINA.

PT Permina kemudian berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina pada 1960. Kemudian, PN Permina bergabung dengan PN Pertamin menjadi PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) pada 20 Agustus 1968.

Selanjutnya, melalui UU No.8 Tahun 1971, pemerintah mengatur peran Pertamina untuk menghasilkan dan mengolah migas dari ladang-ladang minyak serta menyediakan kebutuhan bahan bakar dan gas di Indonesia. Kemudian berubah nama menjadi PT Pertamina (Persero) pada 2003 dan melakukan kegiatan usaha migas pada Sektor Hulu hingga Sektor Hilir.

Untuk menghasilkan dan mengolah migas, Pertamina bekerja sama dengan perusahaan pertambangan mengeksplorasi ladang-ladang minyak yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia antara lain Aceh, Riau, Kalimantan Timur, Kepulauan Natuna, Blora, dan Bojonegoro. Migas yang disedot dari ladang-ladang minyak itu kemudian dialirkan ke sejumlah kilang untuk diolah lebih lanjut menjadi BBM dan bahan bakar lainya.

Kilang-kilang minyak yang dimiliki PT Pertamina (Persero), antara lain, Dumai (127 ribu barel per hari) dan  Sungai Pakning (50 ribu barel per hari) di Riau, Musi (127,3 ribu barel per hari), Cilacap (348 ribu barel per hari) di Jawa Tengah, Balikpapan (260 ribu barel per hari) di Kaltim, Balongan (125 ribu barel per hari) di Jabar, serta Kasim (10 ribu brrel per hari) di Sorong, Papua.

Selain itu, minyak mentah juga diolah di kilang-kilang di luar Pertamina, antara lain, kilang minyak yang dikelola Pusdiklat Migas Cepu berkapasitas 3,8 ribu barel per hari di Blora, Jawa Tengah dan kilang minyak PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jatim dengan kapasitas 100 ribu barel per hari.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Warga antre untuk membeli bahan bakar di SPBU Reo, Kecamatan Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (13/01/2015). Antrean terjadi karena distribusi bahan bakar yang terbatas. Selain pemilik kendaraan para penjual bensin eceran juga antre untuk membeli bensin menggunakan jeriken. Bensin eceran dijual lagi Rp 20.000 per botol ukuran 1,5 liter.

Proses pembuatan BBM

Proses pembuatan Bahan Bakar Minyak (BBM) diawali dari pengambilan minyak bumi atau ekploitasi di ladang minyak baik di daratan maupun lepas pantai. Setelah minyak bumi diambil dari perut bumi yang berwujud minyak mentah kemudian diproses dalam kilang untyuk menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan kendaraan bermotor.

Agar dapat digunakan sebagai BBM, fraksi minyak mentah harus dipisahkan menurut titik didihnya. Proses pemisahan yang digunakan adalah distilasi bertingkat. Biasanya proses ini dilakukan dalam sebuah wadah berupa tabung besar yang sangat tinggi dan kedap udara. Awalnya minyak mentah akan dialirkan ke dalam tabung tersebut dan kemudian dipanaskan dalam tekanan 1 atmosfer pada suhu 370 derajat celcius. Hasilnya, komponen dengan titik didih tinggi tetap cair dan jatuh ke dasar tabung, sedangkan komponen titik didih rendah menguap atau berada di atas permukaan tabung.

Proses ini sering disebut proses primer sebab yang dihasilkan merupakan produk-produk dasar, seperti gas, aspal, bensin, nafta, dan minyak tanah, minyak diesel, dan oli. Meski sudah terbagi dalam beberapa jenis, namun semua hasil destilasi ini masih belum siap pakai dan harus melewati sejumlah proses selanjutnya.

Proses selanjutnya merupakan pengolahan lebih lanjut dari hasil unit pengolahan primer. Pengolahan pada tahap ini bertujuan untuk mengekstraksi dan memproduksi berbagai jenis BBM dalam jumlah besar dan dengan kualitas yang lebih tinggi sesuai dengan permintaan konsumen dan pasar. Pada proses ini, terjadi perubahan struktur kimia melalui proses cracking, reforming, alkilasi, treating, dan blending.

Proses cracking atau dikenal dengan istilah penyulingan minyak bertujuan untuk mengurai molekul-molekul senyawa hidrokarbon berukuran besar menjadi hidrokarbon yang lebih kecil.  Proses ini membuat minyak bumi yang mentah menjadi berbagai produk bahan bakar yang memiliki senyawa lebih kecil agar dapat digunakan dengan lebih mudah dan aman. Proses cracking ini sering disebut juga dengan proses refinery.

Proses pembuatan BBM selanjutnya adalah reforming. Proses reforming merupakan proses mengubah struktur pada molekul fraksi yang mutunya buruk menjadi molekul fraksi yang lebih baik. Proses ini dilakukan menggunakan metode katalis atau pemanasan.  Selain disebut sebagai proses reforming, tahapan ini juga sering dengan proses isomerisasi yang menghasilkan isomer dengan struktur dan kualitas lebih baik.

Kemudian, minyak yang memiliki struktur dan kualitas lebih baik ini akan memasuki proses alkilasi dengan menambahkan bahan tambahan berupa katalis asam yang kuat. Beberapa diantaranya seperti H2SO4 atau Asam sulfat, HCL atau asam klorida, dan AICI3 atau Asam Lewis.  Proses itu  menghasilkan molekul minyak menjadi lebih panjang dan bercabang sehingga mutunya meningkat.

Proses pembuatan BBM selanjutnya adalah treating atau disebut sebagai tahapan pemurnian minyak bumi sebelum akhirnya menjadi bahan bakar siap pakai. Pada tahapan ini, seluruh elemen-elemen yang mengotori minyak ketika dalam proses pengolahan akan dihilangkan. Meski sudah bersih, minyak hasil proses treating ini masih belum siap dipakai dan harus melewati tahapan terakhir, yakni blending.

Pada proses blending, minyak mentah akan ditambahkan dan dicampurkan dengan bahan-bahan aktif. Salah satu bahan aktif yang digunakan pada proses blending ini adalah Tetra Ethyl Lead (TEL) yang berguna untuk menaikkan bilangan oktan. Bahan-bahan aktif inilah yang nantinya akan meningkatkan kualitas produk agar menjadi bahan bakar siap pakai.

Minyak mentah yang diolah melalui proses tersebut akan menghasilkan bahan siap pakai untuk kebutuhan sehari-hari, berikut beberapa hasil olahan minyak bumi menjadi bahan bakar, antara lain:

  • LPG yang merupakan hasil pengolahan minyak bumi berupa gas cair yang memiliki unsur hidrokarbon ringan.
  • Bensin yaitu produk dari olahan minyak bumi yang sangat vital sebagai bahan bakar kendaraan bermotor
  • Kerosin atau minyak tanah yaitu hasil olahan minyak bumi yang sering dipakai untuk menyalakan api dan pembuatan arang.
  • Solar yaitu hasil olahan minyak bumi yang digunakan untuk bahan bakar mesin diesel.

Biasanya dari satu barel (setara dengan 159 liter) minyak mentah, melalui proses pembuatan BBM itu akan didapatkan 5 liter aspal, 6 liter elpiji, 15 liter aftur, 35 liter solar, 73 liter bensin, dan 25 liter produk lainnya.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Pekerja mengontrol proses produksi di anjungan lepas pantai Mike-Mike yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Laut Jawa, Utara Karawang, Jumat (17/7/2015). Total produksi perhari PHE ONWJ untuk minyak sebesar 40.400 barel per hari (bph) dan gas bumi mencapai 173 mmscfd, yang semuanya digunakan untuk menyuplai kebutuhan strategis nasional.

Jenis Bahan Bakar Minyak

Pertamina memproduksi berbagai bahan bakar minyak (BBM) dengan beberapa varian dengan spesifikasi tertentu. Produk BBM yang diproduksi terdiri dari bahan bakar bensin, bahan bakar untuk mesin diesel, dan minyak tanah.

Jenis bensin yang diproduksi Pertamina yang masih beredar dipasaran, yakni Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo. Premium merupakan bahan bakar minyak berwarna kuning. Premium merupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia. Salah satu sebabnya karena harganya yang relatif rendah. Bilangan oktan dari premium terendah di antara produk jenis bensin lainnya, yakni sebesar 88.

Jenis BBM Premium diproduksi sesuai dengan Keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Np.3674/K24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 tentang Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 88. Jenis BBM ini digunakan pada kendaraan dengan kompresi rendah atau di bawah 9:1. Apabila kendaraan dengan mesin bernilai tekanan tinggi memaksa memakai premium, maka akan mengalami knocking serta kerusakan pada mesin.

Berikutnya yakni Pertalite merupakan bahan bakar jenis bensin yang memiliki angka oktan minimal 90 dengan warna hijau terang. Berdasarkan spesifikasi dari uji lab, Pertalite tidak ada kandungan besi, mangan ataupun timbal. Kandungan sulfur Pertalite sebanyak 880 ppm. Jenis kendaraan yang cocok menggunakan Pertalite adalah jenis kendaraan dengan kompresi mesin 9:1 sampai dengan 10:1.

Kemudian bensin Pertamax merupaan bahan bakar jenis bensin dengan oktan minimal 92. Pertamax direkomendasikan untuk digunakan pada kendaraan yang memiliki kompresi rasio 10:1 hingga 11:1 atau kendaraan berbahan bakar bensin yang menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection (EFI).

Pertamax diklaim dapat membersihkan bagian dalam mesin, dilengkapi dengan pelindung antikarat pada dinding tangki kendaraan, saluran bahan bakar dan ruang bakar mesin , serta mampu menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna.

Adapun Pertamax Turbo adalah bahan bakar bensin yang memiliki oktan tertinggi, yakni 98. Bahan bakar ini hasil pengembangan produk Pertamax Plus (RON 95) yang memiliki RON (research octane number atau angka oktan) minimal 98 serta dilengkapi Ignition Boost Formula (IBF) oleh Pertamina dan Lamborghini.

Sebelum diluncurkan, Pertamax Turbo diuji coba pada Januari 2016 pada ajang balapan Lamborghini Blancpain Supertrofeo European, Sirkuit Vallelunya, Italia. Kemudian diluncurkan secara resmi pada 29 Juli 2016 di ajang balapan yang sama di Belgia. Standar Euro 4 diimplementasikan pada Pertamax Turbo.

Selain memproduksi bensin, pertamina juga memproduksi solar sebagai bahan bakar mesin diesel dan pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD. Mesin diesel banyak digunakan untuk kendaraan besar seperti bus, truk, alat berat, kendaraan militer  dan juga di berbagai mobil penumpang.

Jenis-jenis solar yang diproduksi Pertamina yakni Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex. Masing-masing disesuaikan untuk teknologi mesin diesel yang digunakan. Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex dibedakan pada nilai oktannya yang dalam bahan bakar diesel disebut Cetane Number (CN).

Solar memiliki CN paling rendah di antara ketiga bahan bakar tersebut, yakni hanya 48. Sedangkan Dexlite memiliki CN 51 dan Pertamina Dex CN 53. CN berfungsi menunjukkan kualitas pembakaran dalam ruang bakar mesin. Semakin tinggi kadar CN maka semakin baik juga kualitas dan kinerja mesin yang menggunakan bahan bakar tersebut.

Selain CN, kandungan lain yang menentukan kualitas tiga bahan bakar diesel Pertamina itu adalah sulfur. Semakin rendah sulfur mengindikasikan jenis bahan bakar itu lebih ramah lingkungan. Solar mengandung sulfur maksimal 2.500 part per million (ppm), sedangkan Dexlite maksimal 1.200 part per million (ppm). Sementara Pertamina Dex maksimal 300 part per million (ppm).

Kandungan sulfur yang lebih kecil akan membuat mesin dan gas buang kendaraan diesel jadi lebih bersih. Sebaliknya, jika kandungan sulfur terlalu tinggi, dapat mengakibatkan pembakaran tidak sempurna dan justru akan berdampak buruk pada kondisi mesin kendaraan.

Selain jenis-jenis BBM tersebut, Pertamina juga pernah memproduksi jenis BBM yang kini sudah tidak beredar di pasaran antara lain bensin Super pada 1980-an dengan nilai oktan 95, Premix (1994) dengan oktan 94, dan Super TT (1998) dengan oktan 98 yang mengandung unsur Methyl Tertra Butyl Ether (MTBE) yang kurang ramah lingkungan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Instalasi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Rewulu yang dioperasikan oleh Pertamina di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (4/12/2018). Instalasi tersebut merupakan salah satu TBBM terbesar di Jawa Tengah yang mendistribusikan BBM melalui truk tangki serta kereta api ke berbagai daerah.

Negara Produsen Minyak

Amerika Serikat menjadi negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Negara ini menghasilkan 16.476.000 barel per hari pada tahun 2020. Berdasarkan laporan British Petroleum (BP), produksi minyak dari Negeri Paman Sam mencapai 712,7 juta ton pada 2020. Jumlah itu menurun 5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 747,8 juta ton. Walau demikian, produksi minyak AS pada 2020 masih setara dengan 17,1 persen dari total produksi minyak bumi global yang sebesar 4,17 miliar ton.

Selain sebagai produsen minyak terbesar di dunia, Amerika Serikat juga menjadi negara konsumen minyak terbesar. Pada 2021, AS diperkirakan mengkonsumsi total 7,22 miliar barel produk minyak bumi. Selain sebagai produsen minyak terbesar dunia, Amerika Serikat juga mengimpor lebih dari 8 juta barel minyak per hari.

Rusia berada di posisi kedua penghasil terbesar emas hitam itu. Rusia diperkirakan menghasilkan sekitar 10.667.000 barel per hari dan menyumbang 12,1 persen dari produksi minyak global. Sebagian besar cadangan Rusia terletak di Siberia Barat, antara Pegunungan Ural dan Dataran Tinggi Siberia Tengah, serta di wilayah Ural-Volga, memanjang ke Laut Kaspia. Rusia memasok minyak dan gas alam ke banyak negara, terutama China dan Eropa.  Menurut catatan BP Statistical Review of World Energy 2021, Rusia memproduksi minyak bumi pada tahun 2020 sebesar 524,4 juta ton.

Produsen terbesar berikutnya yakni Arab Saudi. Produksi minyak Arab Saudi mencapai 11.039.000 barel per hari pada tahun 2020. Negara ini juga memiliki 15-17 persen dari cadangan minyak dunia dan merupakan pengekspor minyak terbesar.  Seperti negara-negara anggota OPEC, sektor minyak dan gasnya menyumbang sekitar 50 persen dari produk domestik bruto dan sekitar 70 persen dari pendapatan ekspornya. Arab Saudi juga mengekspor gas alam, emas, bijih besi, dan tembaga.

Negara penghasil minyak bumi terbesar selanjutnya adalah Kanada. Produksi minyak tahunan negara itu naik menjadi 5.558.000 barel per hari pada tahun 2021, naik dari tingkat produksi tahun 2020 sebesar 5.135.000 barel per hari.

Kemudian Irak di posisi ke-5. Irak mampu menghasilkan sekitar 4.114.000 barel per hari pada 2020 atau berkontribusi 4,7 persen terhadap produksi dunia.  Negara timur tengah ini memiliki cadangan minyak bumi terbesar kelima di dunia, yakni sebesar 145 miliar barel.

Berikutnya Cina menduduki peringkat sebagai negara penghasil minyak terbesar keenam, mengekstraksi sekitar 3.901.000 barel minyak per hari di tahun 2020. Besarnya volume produksi minyak negara itu sangat tergantung dari keahlian negara tersebut dalam menemukan dan mengekstraksi minyak, serta koneksi politiknya dan aturan yang mengatur di mana China dapat mengekstraksi minyak.

Sebagian besar minyak yang diproduksi China diekstraksi dari wilayah di negara Timur Tengah seperti Iran, bukan dari lahan di China. Tahun 2020, China memproduksi minyak sebesar 194,8 juta ton atau setara 4,7 persen produksi dunia.

Uni Emirat Arab merupakan salah satu negara anggota OPEC dan masuk dalam 10 negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Pada tahun 2020, produksi minyak di negara ini mengalami sedikit penurunan menjadi 3.657.000 barel per hari. UEA memiliki cadangan minyak bumi terbesar kedelapan di dunia dengan total sekitar 98 miliar barel.

Selanjutnya Brasil  yang memproduksi minyak bumi 3.026.000 barel per hari pada tahun 2020, dan kemudian meningkat menjadi 3.689.000 barel per hari pada 2021. Kontribusi Brasil terhadap produksi global mencapai 3,4 persen.

Penghasil minyak terbesar kesembilan adalah Kuwait. Tidak seperti banyak negara penghasil minyak, negara Timur Tengah ini mengalami penurunan tajam dalam tingkat produksi minyak antara tahun 2016 dan 2020. Pada tahun 2016, Kuwait memperoleh 3.000.000 barel per hari minyak, dibandingkan dengan tingkat 2.686.000 barel per hari pada tahun 2020. Sektor minyak menyumbang 60 persen dari PDB dan lebih dari 95 persen dari pendapatan ekspornya.

Posisi ke-10, Iran menghasilkan minyak sekitar 3.084.000 barel per hari pada 2020. Menurut Energy Information Administration, Iran memegang cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, serta cadangan gas alam terbesar kedua di dunia. Terlepas dari cadangan negara yang melimpah, produksi minyak di negara ini telah turun secara substansial dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya dikarenakan adanya sanksi dari Amerika Serikat.

10 Negara penghasil minyak dunia (barel per hari)

Negara

Kapasitas Produksi
(Barel per hari)

Amerika Serikat16.476.000
Rusia10.667.000
Arab Saudi11.039.000
Kanada5.135.000
Irak4.114.000
China3.901.000
Uni Emirat Arab3.657.000
Brasil3.026.000
Kuwait2.686.000
Iran3.084.000

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2021

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Suasana kilang pengolahan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap, Jumat (10/11/2017). PT Pertamina Refinery Unit IV Cilacap merupakan kilang terbesar dari 7 kilang Pertamina dengan kapasitas produksi 348.000 barel/hari. Kilang yang dibangun pada 1974 ini memasok 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa dan 34 persen di Indonesia.

Cadangan migas dunia

Menurut catatan BP Statistical Review of World Energy, total cadangan minyak yang di bumi pada 2019 mencapai 1.733,9 triliun barel, turun dari tahun sebelumnya dengan angka 1.735,9 triliun barel.

Dalam laporan itu, kawasan Timur Tengah masih menempati peringkat teratas sebagai penyumbang cadangan minyak terbesar di dunia dengan total mencapai 833,8 triliun barel. Disusul oleh kawasan Amerika Selatan dan Amerika Tengah yang memiliki cadangan minyak sebesar 324,1 triliun barel. Sementara kawasan Amerika Utara memiliki 244,4 triliun barel, Eropa 14,4 triliun barel, Afrika 125,7 triliun barel, dan Asia Pasifik memiliki 45,7 triliun barel.

Kendati kawasan Timur Tengah menyumbang angka tertinggi, tapi negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia justru bukan dari wilayah itu. Dengan jumlah 303,8 triliun barel, Venezueala mencatatkan namanya sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar dunia, mengalahkan negara Timur Tengah. Berikut daftar 10 negara dengan cadangan minyak terbesar dunia 2019:

  • Venezuela: 303,8 triliun barel
  • Arab Saudi: 297,6 triliun barel
  • Kanada: 169,7 triliun barel
  • Iran: 155,6 triliu barel
  • Irak: 145 triliun barel
  • Rusia: 107,2 triliun barel
  • Kuwait: 101,5 triliun barel
  • Uni Emirat Arab: 97,8 triliun barel
  • Amerika Serikat: 68,9 triliun barel
  • Libya: 48,4 triliun barel

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2021

KOMPAS/SUCIPTO

Suasana di salah satu sudut pembangunan program pengembangan kilang minyak atau refinery development master plan (RDMP) Pertamina Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (8/1/2022).

Peran perusahaan perminyakan sangat penting dalam menyedot minyak bumi dan mengolahnya lebih lanjut menjadi bahan bakar minyak untuk keperluan sehari-hari. Terdapat 7 perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia dari sisi revenue atau pendapatan. Ketujuh perusahaan itu, yakni Sinopec dari China, Royal Dutch Shell dari Inggris-Belanda, Saudi Aramco dari Arab Saudi, PetroChina dari China, British Proteleum atau BP dari Inggris, Exxon Mobile dari Amerika Serikat, dan Total dari Perancis.

Perusahaan migas terbesar itu tak hanya beroperasi di negara asalnya tapi juga di negara lain yang bekerja sama dengan perusahaan migas tersebut. Berikut profil singkat perusahaan migas kelas dunia tersebut.

China National Petroleum atau Sinopec adalah perusahaan migas terbesar asal China. BUMN negara tirai bambu ini mengendalikan banyak sumur-sumur minyak di luar negeri dan mencatatkan pendapatan 405,4 miliar dollar AS dan laba mencapai 10,54 miliar dollar AS di tahun 2021. Selain migas, Sinopec adalah produsen dan distributor berbagai produk petrokimia. Selain di China, perusahaan ini juga memiliki banyak kilang minyak di berbagai negara.

Royal Dutch Shell atau biasa disebut Shell adalah perusahaan minyak multinasional Inggris-Belanda. Perusahaan memiliki kantor pusat di kedua negara tersebut. Pada tahun 2019, perusahaan ini mencatatkan pendapatan sebesar 382,97 miliar dollar AS. Namun tahun 2021, pendapatan perusahaan ini turun menjadi 272,657 miliar dollar AS dengan laba bersih mencapai 20,638 miliar dollar AS. Perusahaan yang memiliki 80.000 karyawan ini menghasilkan minyak 3,237 juta barel per hari pada tahun 2021.

Saudi Aramco adalah perusahaan minyak yang berbasis di Arab Saudi. Pada tahun 2019, pendapatan perusahaan mencapai 356 miliar dollar AS, dan tahun 2021 pendapatannya meningkat menjadi 359,18 miliar dollar AS dengan laba 110 miliar dollar AS. Perusahaan milik kerajaan Arab Saudi ini menghasilkan 10,95 juta barel minyak per hari.

Ladang minyak terbesar yang dimiliki dan dioperasikan oleh Saudi Aramco, yakni Ghawar yang memiliki cadangan minyak mencapai 96 miliar barel. Ladang minyak Ghawar telah menyumbang lebih dari setengah produksi minyak mentah kumulatif Arab Saudi sejak 1938.

Berikutnya Petrochina adalah perusahaan minyak terbesar kedua di China dan beberapa kali bertengger di posisi 5 besar perusahaan minyak terbesar di dunia. Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar 347,76 miliar dollar AS di tahun 2019, dan tahun 2021 mencatatkan pendapatan 386,86 miliar dollar AS dan laba 13,61 miliar dollar. BUMN yang mempekerjakan 479.000 karyawan ini tiap hari mampu menghasilkan 4,45 juta barel minyak.

BP adalah salah satu perusahaan minyak tertua di dunia yang masih bertahan hingga saat ini. Operasi hulu dan hilirnya tersebar di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun 2019, perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar 296,97 miliar dollar AS. Dua tahun berselang, BP berhasil membukukan laba 12,85 miliar dollar AS yang merupakan rekor tertinggi dalam 8 tahun terakhir.

Exxon Mobil Sempat menjadi perusahaan migas terbesar dunia dalam beberapa dekade, posisi Exxon Mobile terus tergeser dan kini menempati urutan ke-6 dari sisi besaran pendapatan. Tahun 2019, perusahaan asal Amerika Serikat ini membukukan pendapatan sebesar 275,54 miliar dollar AS. Dua tahun berselang perusahaan ini membukukan pendapatan 285,640 miliar dollar AS dengan laba 23,040 miliar dollar AS. Exxon menproduksi minyak 3,229 juta barel per hari pada tahun 2021.

Adapun Total yang merupakan perusahaan migas asal Perancis ini selalu masuk 10 perusahaan terbesar dari sisi pendapatan. Perusahaan multinasional ini mencetak pendapatan kotor pada tahun 2019 sebesar 185,98 miliar dollar AS. Tahun 2021, perusahaan energi asal Prancis mencetak laba bersih 16 miliar dollar AS atau sekitar Rp229 triliun (asumsi kurs Rp14.300 per dollar AS). (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Buku
  • Minyak bumi dalam dinamika politik dan ekonomi Indonesia 1950-1960an, 2017
  • Wajah baru industri migas Indonesia: Potret Industri Hulu Minyak dan Gas Nasional di Era Orde Lama, Orde Baru, dan Lanskap Baru Pasca Reformasi, 2013
Arsip Kompas
  • Indonesia Bakal Jadi Pengimpor Minyak Mentah Tahun 2004, KOMPAS, 21 Mei 2003, halaman 13
  • Indonesia, “Net Oil Importer”!, KOMPAS, 26 Mei 2004, halaman 15
  • Untung Rugi Indonesia Tetap di Panggung OPEC, KOMPAS, 21 Februari 2005, halaman 15
  • Indonesia Keluar dari OPEC * Harga Minyak Jadi Beban, KOMPAS, 29 Mei 2008, halaman 15
  • Kilang Butuh Perhatian, KOMPAS, 18 Januari 2019, halaman 13
  • Bahan Bakar Minyak: Satu Harga, tapi Tak Sama, KOMPAS, 19 Januari 2022, halaman 9
  • Harga BBM dan Elpiji Nonsubsidi Terus Melonjak, KOMPAS, 01 Maret 2022, halaman: 9