Paparan Topik | Perguruan Tinggi

Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, dan Prestasi Mahasiswa Indonesia

Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang memungkinkan mahasiswa melakukan berbagai kegiatan di luar kampus. Berbagai kegiatan mahasiswa di luar kampus akan diperhitungkan sebagai satuan kredit semester (SKS).

KOMPAS/PRIYOMBODO

Mahasiswa semester 2 jurusan Strategi Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengenal anatomi kamera digital dalam mata kuliah digital videografi di Gading Serpong, Tangerang, Banten, Senin (27/1/2020). Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan kebijakan kampus merdeka yang diharapkan akan memberi keleluasaan bagi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan zaman.

Fakta Singkat:

Kampus Merdeka
Bagian dari kebijakan “Merdeka Belajar” oleh Kemendikbudristek Nadiem Makarim untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan kompetensi lulusan perguruan tinggi.

Pokok Kebijakan

  1. Pembukaan Prodi Baru
  2. Sistem Akreditasi PT
  3. PT Negeri Berbadan Hukum
  4. Hak Belajar Tiga Semester di Luar Prodi

Bentuk Kegiatan di Luar Kampus:

  • Pertukaran Pelajar
  • Magang
  • Asisten Pengajar
  • Riset
  • Proyek Kemanusiaan
  • Wirausaha
  • Proyek Independen
  • Kuliah Kerja Nyata Tematik

Regulasi:

  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

Laman:
https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id

Merdeka Belajar: Kampus Merdeka

Kampus Merdeka merupakan salah satu bagian dari kebijakan Merdeka Belajar dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim. Secara umum, kebijakan Kampus Merdeka bertujuan untuk mendorong proses pembelajaran di perguruan tinggi yang semakin otonom dan fleksibel. Hal ini bertujuan demi terciptanya kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Berbagai program dalam kebijakan Kampus Merdeka diharapkan dapat menjawab tantangan perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang sesuai perkembangan zaman, kemajuan IPTEK, tuntutan dunia usaha dan dunia industri, maupun dinamika masyarakat.

Bila dikaitkan dengan program link and match, kebijakan Kampus Merdeka tidak saja melakukan link and match dengan dunia industri dan dunia kerja, tetapi juga dengan masa depan yang berubah dengan cepat.

Dalam hal ini, pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaiannya. Dari sisi proses, pembelajaran dalam Kampus Merdeka dapat dilihat pula sebagai salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) yang sangat esensial.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan.

Kebijakan Kampus Merdeka ini memiliki empat pokok kebijakan, yakni kemudahan pembukaan program studi baru, perubahan sistem akreditasi perguruan tinggi, kemudahan  perguruan tinggi negeri menjadi PTN berbadan hukum, serta hak belajar tiga semester di luar program studi.

Dari keempat pokok kebijakan tersebut, kebijakan yang langsung dapat dirasakan oleh mahasiswa adalah hak belajar tiga semester di luar program studi. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi lulusan baik soft skills maupun hard skills agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan sambutannya pada acara peluncuran penguatan Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) oleh BUMN di Jakarta, Rabu (12/2/2020). PMMB merupakan program yang bertujuan untuk memberikan pengayaan wawasan dan keterampilan mahasiswa untuk mempersiapkan dan menciptakan sumber daya manusia Indonesia unggul terutama dalam menghadapi persaingan global melalui keselarasan kurikulum industri dan perguruan tinggi. Kegiatan yang ditandai dengan penyematan pin PMMB oleh Menteri BUMN Erick Thohir ini dihadiri mahasiswa dan rektor dari 300 perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh tanah air.

Hak belajar tiga semester di luar program studi

Kebijakan hak belajar tiga semester di luar program studi sendiri memiliki tiga arah kebijakan baru.

Pertama, terkait dengan fleksibilitas mengambil kelas di luar program studi. Selama ini, mahasiswa tidak memiliki banyak fleksibilitas untuk mengambil kelas di luar program studi dan kampusnya sendiri.

Dengan program Kampus Merdeka, perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak satu semester (setara 20 SKS). Selain itu, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak dua semester (setara 40 SKS). Bagi mahasiswa, hak tersebut bersifat sukarela, yakni dapat diambil atau tidak.

Kedua, terkait dengan bobot SKS kegiatan di luar kelas. Selama ini, bobot SKS untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas sangat kecil. Padahal, mahasiswa sudah mengorbankan waktu yang sangat banyak. Dengan arah kebijakan baru, SKS yang diambil di prodi asal adalah sebanyak lima semester dari total semester yang harus dijalankan. Arah kebijakan ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan.

Ketiga, dibuat perubahan pendefinisian SKS. Selama ini, berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa, misalkan pertukaran pelajar maupun praktik kerja, malah menunda waktu kelulusan mahasiswa. Berdasarkan situasi tersebut, dibuat arah kebijakan perubahan definisi SKS.

Dalam arah kebijakan yang baru, SKS dipahami sebagai jam kegiatan, bukan semata jam belajar. Selanjutnya, kegiatan kemudian dipahami sebagai berbagai kegiatan mahasiswa yang dibimbing oleh dosen, baik kegiatan belajar di kelas, praktik kerja (magang), pertukaran pelajar, proyek di desa, wirausaha, riset, studi independen, hingga kegiatan mengajar di daerah terpencil.

Berbagai kegiatan yang dapat dipilih oleh mahasiswa selama mengambil hak belajar tiga semester di luar program studi dapat berasal dari program  yang ditentukan oleh pemerintah maupun program yang disetujui oleh rektor.

Persyaratan
Dalam pelaksanaan hak belajar tiga semester di luar program studi, terdapat beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh mahasiswa maupun perguruan tinggi, di antaranya, sebagai berikut.

  1. Mahasiswa berasal dari program studi yang terakreditasi.
  2. Mahasiswa aktif yang terdaftar pada PDDikti.

Di sisi lain, perguruan tinggi diharapkan untuk mengembangkan dan memfasilitasi pelaksanaan program Merdeka Belajar dengan membuat panduan akademik. Program-program yang dilaksanakan hendaknya disusun dan disepakati bersama antara perguruan tinggi dengan mitra.

Program Kampus Merdeka sendiri dapat berupa program nasional yang telah disiapkan oleh Kementerian maupun program yang disiapkan oleh perguruan tinggi yang didaftarkan pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

Pelaksanaan
Peran pihak universitas atau perguruan tinggi dalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi adalah memfasilitasi pemberian hak kepada mahasiwa. Hak mahasiswa yang perlu difasilitasi adalah:

  • Dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi paling lama dua semester atau setara dengan 40 SKS.
  • Dapat mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak satu semester atau setara dengan 20 SKS.

Perguruan tinggi kemudian menyusun kebijakan atau pedoman akademik untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran di luar prodi serta membuat dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra.

Di sisi lain, pihak di tingkat fakultas menyiapkan fasilitasi daftar mata kuliah tingkat fakultas yang bisa diambil mahasiswa lintas prodi. Selain itu juga menyiapkan dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra yang relevan.

Sementara, pihak di tingkat jurusan atau program studi menyusun atau menyesuaikan kurikulum dengan model implementasi Kampus Merdeka. Program studi atau jurusan juga memfasilitasi mahasiswa yang akan mengambil pembelajaran lintas prodi dalam lingkup satu kampus di universitas bersangkutan atau di kampus lain sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Jika ada mata kuliah/SKS yang belum terpenuhi dari kegiatan pembelajaran luar, prodi dan luar perguruan tinggi, disiapkan alternatif mata kuliah daring.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Direktur Laboratorium Hepatika Bumi Gora yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Mataram sekaligus peneliti Mulyanto (kiri), mengawasi pembuatan prototipe alat tes diagnostik cepat (RTD) RI-GHA Covid-19 RDT IgG/IgM di Laboratorium Hepatika Bumi Gora di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (1/6/2020). RI-GHA (Republik Indonesia-Gadjah Mada-Hepatika Mataram-Airlangga), merupakan RDT buatan dalam negeri yang melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Laboratorium Hepatika Bumi Gora Mataram, dan Universitas Airlangga. Setelah proses validasi selesai, RI-GHA yang telah diluncurkan Presiden Joko Widodo dan mendapat izin edar akan diproduksi massal pada akhir Juni 2020.

Bentuk kegiatan di luar kampus

Pokok kebijakan hak belajar tiga semester di luar program studi dalam kebijakan Kampus Merdeka memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar di luar perguruan tinggi.

Berbagai bentuk kegiatan belajar di luar perguruan tinggi yang mungkin dilakukan, di antaranya, melakukan magang atau praktik kerja di industri atau tempat kerja lainnya, melaksanakan proyek pengabdian kepada masyarakat di desa, mengajar di satuan pendidikan, mengikuti pertukaran mahasiswa, melakukan penelitian, melakukan kegiatan kewirausahaan, membuat studi atau proyek independen, dan mengikuti program kemanusisaan.

Semua kegiatan tersebut dilaksanakan dengan bimbingan dari dosen. Berbagai kegiatan dalam Kampus Merdeka diharapkan dapat memberikan pengalaman kontekstual lapangan yang akan meningkatkan kompetensi mahasiswa secara utuh, siap kerja, atau menciptakan lapangan kerja baru.

Pertukaran Pelajar
Saat ini, pertukaran mahasiswa dengan full credit transfer sudah banyak dilakukan dengan mitra perguruan tinggi di luar negeri. Namun, sistem transfer kredit yang dilakukan antarperguruan tinggi di dalam negeri sendiri masih sangat sedikit jumlahnya.

Pertukaran pelajar diselenggarakan untuk membentuk beberapa sikap mahasiswa yang termaktub di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 3 Tahun 2020, yaitu menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain, serta bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Tujuan pertukaran pelajar, antara lain, mahasiswa belajar lintas kampus (dalam dan luar negeri), tinggal bersama dengan keluarga di kampus tujuan, wawasan mahasiswa tentang Bhinneka Tunggal Ika akan makin berkembang, persaudaraan lintas budaya dan suku akan semakin kuat.

Selain itu, mahasiswa mampu membangun persahabatan mahasiswa antardaerah, suku, budaya, dan agama, sehingga meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Harapannya, akan terjadi transfer ilmu pengetahuan untuk menutupi disparitas pendidikan, baik antarperguruan tinggi dalam negeri, maupun kondisi pendidikan tinggi dalam negeri dengan luar negeri.

Magang atau Praktik Kerja
Selama ini mahasiswa kurang mendapat pengalaman kerja di industri atau dunia profesi nyata sehingga kurang siap bekerja. Sementara, magang yang berjangka pendek (kurang dari 6 bulan) sangat tidak cukup untuk memberikan pengalaman dan kompetensi industri bagi mahasiswa. Perusahaan yang menerima magang juga menyatakan magang dalam waktu sangat pendek tidak bermanfaat, bahkan mengganggu aktivitas industri.

Tujuan program magang kemudian diarahkan, antara lain, selama 1-2 semester memberikan pengalaman yang cukup kepada mahasiswa, pembelajaran langsung di tempat kerja (experiential learning). Selama magang, mahasiswa akan mendapatkan hardskills (keterampilan, complex problem solving, analytical skills,), maupun soft skills (etika profesi/kerja, komunikasi, kerja sama. Sementara, industri mendapatkan talenta yang bila cocok nantinya bisa langsung direkut, sehingga mengurangi biaya recruitment dan training awal.

Mahasiswa yang sudah mengenal tempat kerja tersebut akan lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja dan kariernya. Melalui kegiatan ini, permasalahan industri akan mengalir ke perguruan tinggi sehingga meng-update bahan ajar dan pembelajaran dosen serta topik-topik riset di perguruan tinggi akan makin relevan.

Kegiatan pembelajaran tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan mitra, antara lain, perusahaan, yayasan nirlaba, organisasi multilateral, institusi pemerintah, maupun perusahaan rintisan (startup).

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Mahasiswa asing yang sedang menjalani pertukaran Mahasiswa Farmasi belajar membuat jamu di Laboratorium Farmasi Universitas Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/8/2018). Kegiatan tersebut untuk memperkenalakan kearifan lokal nusantara di bidang pengobatan.

Asistensi Mengajar
Kualitas pendidikan dasar dan menengah di Indonesia masih sangat rendah (PISA 2018 peringkat Indonesia nomor 7 dari bawah). Jumlah satuan pendidikan di Indonesia sangat banyak dan beragam permasalahan baik satuan pendidikan formal, nonformal maupun informal. Kegiatan pembelajaran dalam bentuk asistensi mengajar dilakukan oleh mahasiswa di satuan pendidikan seperti sekolah dasar, menengah, maupun atas. Sekolah tempat praktik mengajar dapat berada di lokasi kota maupun di daerah terpencil.

Tujuan program asistensi mengajar di satuan pendidikan, antara lain, memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang pendidikan untuk turut serta mengajarkan dan memperdalam ilmunya dengan cara menjadi guru di satuan pendidikan.

Selain itu, dengan menjadi asisten mengajar akan membantu meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan, serta relevansi pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi dan perkembangan zaman.

Penelitian atau Riset
Bagi mahasiswa yang memiliki passion menjadi peneliti, Merdeka Belajar dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan penelitian di lembaga riset/pusat studi. Melalui penelitian mahasiswa dapat membangun cara berpikir kritis, hal yang sangat dibutuhkan untuk berbagai rumpun keilmuan pada jenjang pendidikan tinggi.

Dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan lebih mendalami, memahami, dan mampu melakukan metode riset secara lebih baik. Bagi mahasiswa yang memiliki minat dan keinginan berprofesi dalam bidang riset, peluang untuk magang di laboratorium pusat riset merupakan dambaan mereka. Selain itu, laboratorium/lembaga riset terkadang kekurangan asisten peneliti saat mengerjakan proyek riset.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Delegasi yang mendampingi Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air Belanda, Cora Van Nieuwenhuizen, melihat hasil penelitian Mahasiswa ITS berupa rancangan kapal cepat di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/3/2020). Kedatanggan Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air bersama pengusaha Belanda tersebut untuk menjalin kerjasama dengan ITS meliputi riset bidang kemaritiman dan pengelolaan sampah.

Proyek Kemanusiaan
Indonesia banyak mengalami bencana alam, baik berupa gempa bumi, erupsi gunung berapi, tsunami, bencana hidrologi, dan sebaginya. Perguruan tinggi selama ini banyak membantu mengatasi bencana melalui program-program kemanusiaan. Pelibatan mahasiswa selama ini bersifat voluntary dan hanya berjangka pendek.

Selain itu, banyak lembaga Internasional (UNESCO, UNICEF, WHO, dan lain-lain) yang telah melakukan kajian mendalam dan membuat pilot project pembangunan di Indonesia maupun negara berkembang lainnya.

Dengan mengikuti berbagai proyek kemanusiaan, mahasiswa dengan jiwa muda, kompetensi ilmu, dan minatnya dapat menjadi “foot soldiers” dalam proyek-proyek kemanusiaan dan pembangunan lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Kegiatan Wirausaha
Berdasarkan Global Entrepreneurship Index (GEI) pada tahun 2018, Indonesia hanya memiliki skor 21 persen wirausahawan dari berbagai bidang pekerjaan, atau peringkat 94 dari 137 negara yang disurvei. Sementara menurut riset dari IDN Research Institute tahun 2019, sebesar 69,1 persen milenial di Indonesia memiliki minat untuk berwirausaha.

Sayangnya, potensi wirausaha bagi generasi milenial tersebut belum dapat dikelola dengan baik selama ini. Kebijakan Kampus Merdeka mendorong pengembangan minat wirausaha mahasiswa dengan program kegiatan belajar yang sesuai.

Tujuan program kegiatan wirausaha, antara lain, memberikan mahasiswa yang memiliki minat berwirausaha untuk mengembangkan usahanya lebih dini dan terbimbing. Selanjutnya, menangani permasalahan pengangguran yang menghasilkan pengangguran intelektual dari kalangan sarjana.

Proyek Independen
Banyak mahasiswa yang memiliki passion untuk mewujudkan karya besar yang dilombakan di tingkat internasional atau karya dari ide yang inovatif. Idealnya, studi atau proyek independen dijalankan untuk menjadi pelengkap dari kurikulum yang sudah diambil oleh mahasiswa.

Perguruan tinggi atau fakultas juga dapat menjadikan studi independen untuk melengkapi topik yang tidak termasuk dalam jadwal perkuliahan, tetapi masih tersedia dalam silabus program studi atau fakultas. Kegiatan proyek independen dapat dilakukan dalam bentuk kerja kelompok lintas disiplin keilmuan.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Salah satu stan kuliner yang dikembangkan mahasiswa saat pameran usaha dalam rangka program Kuliah Kerja Usaha (KKU) dan Kuliah Kerja Sinergis (KKS) di Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/12/2019). Mereka tidak hanya belajar secara akademik melainkan mengembangkan dalam bidang industri kreatif beserta inovasinya.

Kuliah Kerja Nyata Tematik

Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) merupakan suatu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup di tengah masyarakat di luar kampus, yang secara langsung bersama-sama masyarakat mengidentifikasi potensi dan menangani masalah sehingga diharapkan mampu mengembangkan potensi desa/daerah dan meramu solusi untuk masalah yang ada di desa.

Kegiatan KKNT diharapkan dapat mengasah softskill kemitraan, kerja sama tim lintas disiplin atau keilmuan (lintas kompetensi), dan leadership mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah perdesaan.

Sejauh ini, perguruan tinggi sudah menjalankan program KKNT, hanya saja Satuan Kredit Semesternya (SKS) belum bisa atau dapat diakui sesuai dengan program kampus merdeka yang pengakuan kreditnya setara 6 – 12 bulan atau 20 – 40 SKS, dengan pelaksanaannya berdasarkan beberapa model. Diharapkan juga, setelah pelaksanaan KKNT, mahasiswa dapat menuliskan hal-hal yang dilakukannya beserta hasilnya dalam bentuk tugas akhir.

Pelaksanaan KKNT dilakukan untuk mendukung kerja sama bersama Kementerian Desa PDTT serta Kementerian/stakeholder lainnya. Pemerintah melalui Kementerian Desa PDTT menyalurkan dana desa Rp 1 miliar per desa kepada sejumlah 74.957 desa di Indonesia. Sedangkan, berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2019, terdapat 6.549 desa sangat tertinggal dan 20.128 desa tertinggal

Pelaksanaan KKNT dapat dilakukan pada desa sangat tertinggal, tertinggal, dan berkembang, yang sumber daya manusianya belum memiliki kemampuan perencanaan pembangunan dengan fasilitas dana yang besar tersebut. Dengan demikian, efektivitas penggunaan dana desa untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi masih perlu ditingkatkan, salah satunya melalui mahasiswa yang dapat menjadi sumber daya manusia yang lebih memberdayakan dana desa.

Bentuk Kegiatan di Luar Kampus

SUMBER INFOGRAFIK: laman kampusmerdeka.kemdikbud.go.id

Prestasi mahasiswa

Berbagai kegiatan di atas bukanlah kegiatan baru bagi mahasiswa. Akan tetapi, kebaruan dalam kebijakan Kampus Merdeka ini adalah bahwa kegiatan tersebut diperhitungkan sebagai SKS yang dipenuhi oleh mahasiswa.

Dalam praktiknya, berbagai kegiatan mahasiswa Indonesia sepanjang tahun 2020-2021, termasuk juga kegiatan yang tercantum dalam kebijakan Kampus Merdeka, telah menunjukkan prestasi yang patut dibanggakan.

Salah satu contoh bentuk kegiatan mahasiswa yang mengharumkan nama bangsa dapat dilihat dalam keikutsertaan mahasiswa Indonesia dalam kompetisi bertaraf internasional.

Awal 2021, tim mahasiswa Indonesia membuktikan kemampuan dan daya saingnya melalui keikutsertaan dalam kompetisi internasional inovasi kendaraan hemat energi Shell Eco-marathon (SEM). Dengan adanya pandemi, SEM digelar dengan menggunakan format baru berupa kompetisi virtual SEM Off-Track Awards (OTA) 2021 dari 1 Februari – 3 Maret 2021.

Shell Eco-marathon adalah ajang untuk bagi para mahasiswa untuk mengembangkan solusi mobilitas yang inovatif dalam mendesain, membangun, menguji, dan mengendarai kendaraan masa depan yang memenuhi unsur keamanan serta dapat menempuh jarak terjauh dengan menggunakan sumber energi seminimal mungkin.

Shell Eco-marathon pertama kali diadakan di Perancis pada tahun 1985. Pada tahun 2010, Shell Eco-marathon hadir pertama kali di Asia, yaitu di Malaysia. Kini, Shell Eco-marathon Asia menjadi gerakan nasional yang menggugah inspirasi dan antusiasme bagi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk bangkit dan berinovasi menjawab tantangan energi masa depan dunia secara mandiri.

Partisipasi Indonesia dalam kompetisi bergengsi ini merupakan keikutsertaan ke-11 sejak pertama kali SEM diadakan di Asia pada tahun 2010. Melalui ajang ini, berbagai inovasi kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan telah berhasil ditampilkan oleh para inovator muda asal Indonesia yang berkompetisi di kancah global.

Di antara 64 tim dari 12 negara yang mendaftar di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah, terdapat 4 tim asal Indonesia dinobatkan sebagai juara I dan II untuk kategori berbeda.

Tim Garuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi Juara I di kategori Vehicle Design Award for UrbanConcept, dan Tim Sapuangin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi Juara I di kategori Data & Telemetry Award. Selain itu, posisi runner-up berhasil dimenangkan oleh Tim Rakata Institut Teknologi Bandung (ITB) di kategori Data & Telemetry Award dan Tim Arjuna Universitas Indonesia (UI) di kategori Safety Award.

Tim Garuda UNY menjadi Juara I di kategori Vehicle Design Award for UrbanConcept karena dinilai berhasil menunjukkan pengembangan produk yang konstruktif yang menghasilkan pengurangan berat tanpa mengurangi performa kendaraan.

Tim Sapuangin ITS menjadi Juara I di kategori Data & Telemetry Award dinilai sukses menggunakan data telemetri, yaitu teknologi yang memungkinkan pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasi kepada perancang atau operator sistem dengan cermat sehingga meningkatkan optimasi strategi berkendara. Selain itu, tim Sapuangin juga mencetak sejarah sebagai tim yang pertama kali menjuarai kategori terbaru ini di dunia.

Penghargaan dalam OTA 2021 diberikan untuk tujuh kategori berbeda, yaitu Vehicle Design Award for UrbanConcept, Vehicle Design Award for Prototype, Data & Telemetry Award, Safety Award, Communications Award, Simulate to Innovate, dan Technical Innovation.

Secara global, ada total 154 tim dari 137 universitas di 37 negara yang berpartisipasi sampai tahap akhir, dengan 27 tim dari Indonesia. Para peserta tersebut bersaing menyajikan inovasi kendaraan hemat energi mereka di hadapan panel juri yang terdiri dari para eksekutif dari Shell, Nissan, SwRI, Altair, dan Schmid Elektronik. Para juara pertama dari setiap kategori berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 1.500 dolar AS dan runner-up sebesar 750 dollar AS.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) mengapresiasi capaian para anak bangsa di kancah dunia dalam kompetisi inovasi internasional seperti SEM Off-Track Awards 2021 tersebut. Kemendikbudristek berharap prestasi ini menjadi pendorong kuat bagi anak muda lainnya untuk mengembangkan semangat berinovasi.

Prestasi lain yang patut disebut adalah inovasi mahasiswa dalam kompetisi tingkat dunia. Lima mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya meraih medali emas pada ajang World Invention and Competition Exhibition (WICE) 2020 yakni membuat karya inovasi berupa sensor pendeteksi penangkapan ikan ilegal dan bencana laut. Mereka adalah Wildan Muhammad Mursyid (Teknik Material 2017), Ghifari Hanif Mustofa (Teknik Mesin 2017), Ahmad Fahmi Prakoso (Teknik Material 2018), Edo Danilyan (Biologi 2018), dan Aldiansyah Wahfiudin (Teknik Material 2018).

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR

Tim Universitas Negeri Yogyakarta melakukan pemeriksaan atas mobil konsep urban Garuda Urban Gasoline 19 di hanggar Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, Selasa (30/4/2019).

Di bidang medis, Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Monash University, dan Yayasan Tahija menemukan rekayasa teknologi melalui pemberian bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti yang menurunkan kejadian demam berdarah dengue hingga 77 persen. Publikasi temuan ini disampaikan oleh Ketua Proyek World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta Adi Utarini dalam diskusi daring, di Yogyakarta, 26 Agustus 2020.

Pada 2020, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan alat deteksi Covid-19 melalui embusan napas. Alat yang diberi nama GeNose C19 itu disebut bisa mendeteksi infeksi Covid-19 dalam waktu tiga menit. Keberadaan alat ini diharapkan bisa mempermudah penapisan Covid-19 di Indonesia.

GeNose C19 mendeteksi pola dari volatile organic compounds (VOC) atau senyawa organik mudah menguap yang terdapat pada embusan napas seseorang. Aktivitas bakteri atau virus di dalam jaringan tubuh manusia akan menghasilkan pola VOC yang khas.

GeNose dilengkapi sejumlah sensor yang bisa membedakan pola VOC yang terdapat dalam embusan napas seseorang. Pola VOC itu bisa dibedakan berdasarkan kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, pola VOC orang sehat akan berbeda dengan pola VOC orang sakit. Selain itu, pola VOC orang yang terinfeksi Covid-19 berbeda dengan orang sehat maupun orang yang menderita penyakit lain.

Untuk membaca atau menganalisis pola VOC, GeNose C19 dilengkapi dengan sistem artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Dari hasil analisis tersebut, bisa disimpulkan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Di bidang olahraga, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Yulfira Barkah berhasil menorehkan prestasi dalam ajang Spain Masters 2021. Mahasiswa asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UMSU) ini telah mengharumkan nama Indonesia setelah berhasil memenangkan medali emas pada ajang Spain Masters 2021, di Federación Española de Bádminton, Huelva, Spanyol pada Minggu (23/5/2021).

Yulfira Barkah berpasangan dengan Febby Valencia Dwijayanti Gani, menorehkan sejarah dengan meraih gelar juara Spain Masters 2021. Kesuksesan Yulfira-Febby dituai seusai membekuk wakil Denmark, Amalie MagelundFreja Ravn, pada laga final Spain Masters 2021 di Palacio de Deportes Carolina Marín, Spanyol.

Ganda putri Merah Putih tampil luar biasa saat mengatasi sang unggulan pertama turnamen. Mereka menang dua gim langsung dengan skor 21-16 dan 21-14. Hasil ini membuat Yulfira/Febby mengikuti langkah seniornya, Greysia Polii/ Apriyani Rahayu, yang juga sukses menjadi juara di Spain Masters pada 2020.

Prestasi yang diraih mahasiswa UMSU di level Internasional menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dapat meraih prestasi secara akademik, tetapi juga prestasi olahraga. Prestasi para mahasiswa tersebut memberikan nilai lebih karena diraih pada masa pandemi Covid-19.

Berbagai prestasi mahasiswa Indonesia di atas menunjukkan bahwa kegiatan mahasiswa terbukti mampu mengembangkan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian hingga kebutuhan mahasiswa. Selain itu, berbagai kegiatan mahasiswa mampu menjawab tantangan permasalahan riil yang sedang dihadapi masyarakat. (LITBANG KOMPAS)

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close