Paparan Topik | Transisi Energi

Batubara: Sejarah, Proses Pembentukan, Manfaat, dan Cadangan Dunia

Bahan bakar batubara masih mendominasi sumber pasokan listrik nasional. Tidak hanya di Indonesia, penggunaan batubara untuk pembangkit listrik juga masih dilakukan di berbagai negara.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Truk membawa cangkang sawit yang digunakan untuk campuran bahan bakar batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (12/10/2021). Alat berat mencampur batu bara dengan cangkang sawit di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Senin (11/10/2021). PLTU Sintang yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 21 Megawatt (MW) menggunakan bahan bakar co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara dalam hal ini cangkang sawit. Penggunaan cangkang sawit membantu meningkatkan bauran energi terbarukan.

Fakta Singkat

  • Pemerintah menerbitkan larangan ekspor batubara hingga sejak 1 — 31 Januari 2022
  • Pemerintah membuka kembali ekspor batubara secara bertahap pada 12 Januari 2022
  • Ekspor batubara itu diprioritaskan bagi produsen batubara yang sudah memenuhi ketentuan seratus persen Domestic Market Obligation (DMO) batubara.
  • Sektor pembangkit listrik adalah pengguna utama pasokan batubara dalam negeri.
  • Sejak 1980-an harga batubara internasional mengacu pada harga indeks batubara Newcatle atau ICE Newcastle.
  • Di Indonesia harga batubara menggunakan Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
  • Produksi batubara Indonesia terbesar ke-3 di dunia setelah China dan India.

Pemerintah menerbitkan larangan ekspor batubara hingga sejak 1 — 31 Januari 2022. Larangan ini dipicu oleh banyaknya eksportir batubara yang tidak memenuhi kewajiban mereka untuk menjual 25 persen dari produksinya ke dalam negeri untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal itu bisa mengancam ketersediaan listrik bagi jutaan pelanggan PLN.

Namun, pemerintah membuka kembali ekspor batubara secara bertahap pada 12 Januari 2022 setelah memastikan cadangan batubara untuk pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terpenuhi. Ekspor batubara itu diprioritaskan bagi produsen batubara yang sudah memenuhi ketentuan seratus persen Domestic Market Obligation (DMO) batubara.

Perubahan kebijakan itu menunjukkan betapa penting peran batubara bagi Indonesia dan negara-negara mengimpor batubara dari Indonesia. Negara pengimpor itu membutuhkan batubara untuk menyalakan sektor kelistrikannya yang masih mengandalkan PLTU.

Bagi Indonesia, sektor kelistrikan adalah pengguna utama pasokan batubara dalam negeri. Catatan Kementerian ESDM menyebutkan dari 137,5 juta ton kebutuhan batubara di dalam negeri pada 2021, kelistrikan menggunakannya sebanyak 113 juta ton atau setara 82 persen. Batubara sebagai bahan bakar untuk PLTU yang berkontribusi 65 persen terhadap seluruh energi primer pembangkit listrik di Indonesia.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Pekerja mengecek limbah cangkang sawit yang digunakan untuk campuran bahan bakar batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (12/10/2021). PLTU Sintang salah salah satu lokasi yang memiliki ketersediaan bahan bakar co-firing dalam hal ini cangkang sawit yang besar. Penghematan bahan bakar batu bara dapat dihemat hingga 10 persen dengan metode co-firing menggunakan cangkang sawit.

Sejarah

Batubara sudah dimanfaatkan manusia sebagai bahan bakar sejak zaman Yunani kuno sekitar 300 SM. Kemudian sekitar 2000 tahun lampau, di China sudah menambang dan memanfaatkan bahan bakar fosil itu. Di Eropa batubara ditemukan di Inggris dan Jerman sekitar abad pertama masehi, kemudian Batubara mulai ditambang secara komersial dan digunakan untuk pertama kalinya di New Castle, Inggris.

Abad ke-18, permintaan batubara meningkat pesat seiring penciptaan mesin uap oleh James Watt dan berkembang menjadi revolusi industri di Eropa seabad kemudian. Sejak itu, batubara menjadi komoditas berharga dunia dan menjadi bahan bakar yang sangat efisien untuk memanaskan tungku pembakaran. Penggunaan di dunia pada masa itu menjadi zaman keemasan batubara.

Sementara pertambangan batu bara di tanah air mulai dirintis oleh NV Oost Borneo Maatschappij tahun 1849 di Pengaron, Kalimantan Timur, kemudian diikuti penambangan di Ombilin, Sawahlunto yang mulai produksi pada 1892 serta Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan mulai pada 1919.

Tambang batubara modern pertama kali di Indonesia dibuka di Sawahlunto, Sumatera Barat. Penambangan itu dilakukan berkat temuan pada tahun 1868 oleh seorang insinyur pertambangan Belanda, Willem Hendrik de Greve, tentang adanya potensi besar kandungan batubara di Sungai Ombilin, salah satu sungai di Sawahlunto.

Setelah mengetahui kandungan sumber daya alam serta potensi ekonomi batu bara, pemerintah Hindia Belanda akhirnya melanjutkan eksplorasi. Sehingga, infrastruktur tambang batu bara pertama sekaligus pendukungnya ini dibangun di Sawahlunto. Pembangunan ini dilaksanakan pada 1883 hingga 1894.

Nilai investasi yang ditanamkan Pemerintah Hindia Belanda ketika itu sangat besar, 20 juta Gulden atau setara dengan Rp150 miliar. Jalur kereta api dibangun sepanjang 100 kilometer menghubungkan Sawahlunto dengan Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang. Lokomotif terbaru pun didatangkan dari Jerman. Alhasil, Batubara membuat Sawahlunto menjadi magnet bagi kaum pendatang di awal abad 20.

Penggalian pertama dilakukan tahun 1890 oleh ribuan orang rantai (orang-orang terpidana yang terus-menerus dirantai kakinya) dan kuli kontrak yang berasal dari berbagai daerah. Produksi pertama tahun 1892 sebesar 40.000 ton dari lapangan Sungai Durian.

Setelah Indonesia merdeka, pertambangan itu dikelola oleh negara melalui perusahan yang didirikannya, yakni PT Tambang Batubara Ombilin (TBO). TBO kemudian dilikuidasi menjadi anak dari PT Tambang Batubara Bukit Asam yang berada di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Batubara di Tanjung Enim sendiri baru dieksploitasi pada 1919, yang didahului kegiatan eksplorasi pada tahun 1915–1918.

Pertambangan batubara Indonesia memasuki masa suram pada permulaan tahun 1970-an akibat kalah bersaing dengan minyak bumi. Tahun 1973 misalnya, produksi merosot tinggal sebanyak 149.000 ton, padahal produksi batubara Indonesia, sempat mencapai 2,03 juta ton dalam tahun 1941.

Kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam Surat Presiden tanggal 16 September 1976 untuk meningkatkan pemanfaatan batubara. Surat ini berisi instruksi kepada beberapa menteri Kabinet Pembangunan II, agar segera mengambil langkah-langkah untuk mengembangkan pemanfaatan batubara di dalam negeri guna pembangkitan tenaga, khususnya dalam bidang industri dan tenaga listrik.

Selanjutnya  pada permulaan 1980 Departemen Pertambangan dan Energi menerbitkan undangan internasional kepada perusahaan pertambangan di luar negeri untuk melakukan eksplorasi dan pengembangan batubara di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dengan mulai masuknya Penanaman Modal Asing (PMA) di bidang pertambangan batubara, timbul pula minat pengusaha swasta nasional untuk turut mengusahakan batubara.

Pemerintah RI juga membentuk PT Tambang Batubara Bukit Asam (TBBA) sebagai pertambangan terpadu yang berdiri pada 2 Maret 1981 sebelumnya bernama Unit Produksi Bukit Asam yang merupakan bagian dari Perum Batubara.  Kebijaksanaan pengembangan batubara, yang merupakan kelanjutan kebijaksanaan umum energi nasional, mulai menampakkan hasil-hasil konkret sejak tahun 1984-1985. Produksi batubara tahun 1986 yang berjumlah 2,4 juta ton, bahkan telah melampaui produksi tertinggi sebelum perang dunia II. Angka produksi itu lebih dari separuhnya dihasilkan oleh PT TBBA.

Sejak itu, produksi batubara meningkat berlipat ganda, dari hanya 149.000 ton dalam tahun 1973, menjadi lebih dari 10.600.000 ton dalam tahun 1990. Dari produksi sebanyak itu sekitar 6,6 juta ton terpakai di dalam negeri, dan sisanya 4,0 juta ton diekspor.

Tiga dekade berselang, produksi batubara nasional meningkat pesat. Tahun 2020, produksi mencapai 562 juta ton, lebih dari separuhnya diekspor ke wilayah Asia Pasifik yang masih mengandalkan batubara sebagai pembangkit listriknya.

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Pekerja menimbang tandan buah segar kelapa sawit di Desa Kuala Air Hitam, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis (14/2/2019). Harga TBS di tingkat petani naik menjadi Rp1.050, namun produksi turun 50 persen karena musim trek.

Proses pembentukan

Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil yang terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utama bahan bakar tersebut adalah karbon dan sejumlah unsur lainnya, yakni hydrogen, nitrogen, oksigen dan sulfur.

Terdapat dua teori yang menerangkan terjadinya batubara, yakni Teori Insitu dan Teori Drift.  Menurut Teori Insitu, batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan di mana batubara tersebut terbentuk.

Sementara menurut Teori Drift, Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang bukan di tempat di mana batubara tersebut terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori drift biasanya terjadi di delta-delta.

Proses pembentukan batubara sendiri terdiri dari dua tahap, yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan). Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap di mana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi bebas oksigen (anaerobik) di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air. Kemudian materi itu busuk melepaskan unsur H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya, oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut.

Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut. Pada tahap ini persentase karbon akan meningkat, sedangkan persentase hidrogen dan oksigen akan berkurang. Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan.

Proses pembentukan batubara melalui empat tahap, yakni tahap gambut, tahap lignit, tahap bituminous coal, dan tahap antrasit atau anthracite. Awalnya andapan tumbuhan berubah menjadi gambut yang selanjutnya berubah menjadi batubara muda (lignite) atau disebut pula batubara coklat (brown coal) setelah mendapat tekanan yang besar dan panas. Lignit berwarna cokelat muda yang mengandung sekitar 35 persen karbon kering tanpa abu.

Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, maka batubara muda (lignit) akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batubara sub-bituminus (sub-bituminous). Tekanan dan panas yang terus mengubah lignit menjadi bituminous coal atau batu bara lunak dengan kadar karbon lebih tinggi yaitu sekitar 86 persen karbon.

Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batubara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam sehingga membentuk antrasit (anthracite). Tahap antrasit ini adalah tahap terakhir dari pembentukan batu bara. Antrasit adalah batu bara yang keras, mengkilap, dan memiliki kadar karbon sangat tinggi, yaitu sekitar 97 persen.

Dalam proses pembentukannya, batubara dengan tingkat pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu rendah seperti lignit dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga kandungan energinya juga rendah.

Sementara batubara yang bermutu tinggi, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar seperti batubara hitam dan anthracite.

Batubara bitumen adalah batubara dengan warna hitam atau hitam pekat. Batubara ini juga disebut batu bara hitam karena memiliki kilau mengkilap atau resin. Jenis ini mengandung 80-90 persen karbon dan 5-6 persen hidrogen.  Barubara ini biasa digunakan untuk PLTU, pembuatan besi atau gas kota dan menjadi salah satu sumber energi terpenting dalam industri kimia seperti industri pupuk dan kertas.

Sementara anthracite adalah jenis batubara yang paling baik kualitasnya. Jenis ini memiliki kandungan karbon sebesar 92,1 – 98 persen, sehingga berwarna hitam mengkilap. Penggunaan batubara anthracite pada pembangkit listrik tenaga uap, masuk ke dalam jenis batubara kualitas tinggi. Namun, persediaannya masih sangat terbatas, yaitu sebanyak 1 persen dari total penambangan batubara. Negara penghasil batubara ini, antara lain, Cina, Rusia, Ukraina, Korea Utara, Vietnam, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat.

Anthracite dibagi dalam tiga kelompok, yakni Meta Anthracite, Anthracite, dan Semi Antracite. Meta Anthracite yang memiliki kualitas paling baik, kandungan karbonnya bisa mencapai di atas 98 persen, serta persentase kandungan volatile matter-nya kurang dari dua persen (dalam keadaan kering). Berikutnya Anthracite yang mengandung persentase karbon 92–98 persen serta persentase kandungan volatile matter-nya 2–8 persen dalam kondisi kering. Sementara, Semi Anthracite mengandung persentase karbon 86–92 persen serta persentase kandungan volatile matter-nya 9–14 persen (dalam keadaan kering).

Kualitas batubara

Mutu batubara ditentukan oleh sifat fisika dan kimia yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan dari nilai kalor yang dikandung per kilogram batubara. Kualitas batubara berdasarkan kelas nilai kalor ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 13 tahun 2000 yang diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003.

Kualitas batubara dikelompokkan kedalam 4 kelas kalori batubara, yaitu kalori rendah (< 5.100 kkal/kg), kalori sedang (5.100 kkal/kg –6.100 kkal/kg), kalori tinggi (6.100 kkal/kg – 7.100 kkal/kg), dan kalori sangat tinggi (> 7.100 kkal/kg).

Berdasarkan kelas batubara itu, sekitar 26 persen sumber daya batubara di Indonesia merupakan kelas batubara rendah, 65 persen berupa kelas batubara sedang, 7 persen berupa kelas batubara tinggi, dan hanya 2 persen berupa kelas batubara sangat tinggi.

Kelas batubara rendah dan sedang banyak terdapat di Pulau Sumatera, sedangkan kelas batubara sedang dan tinggi umumnya terdapat di Pulau Kalimantan.

Sementara harga batubara ditetapkan berdasarkan formula tertentu dengan mempertimbangkan nilai kalori. Nilai kalori batubara yang tinggi dengan kandungan total moisture, total sulfur, dan total ash yang rendah akan membuat harga batubara semakin mahal. Harga batubara ditetapkan berdasarkan Free on Board (FOB) vessel sampai ke tempat.

Di dunia internasional, sejak 1980-an harga batubara mengacu pada harga indeks batubara Newcatle atau ICE Newcastle. Di ICE Newcastle harga batu bara untuk kontrak November 2021, misalnya 150 dollar AS per metrik ton, sementara untuk kontrak Desember 2021, komoditas ini dihargai 147,25 dollar AS per metrik ton.

Sementara di Indonesia menggunakan Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sejak tahun 2009. HBA batubara pada periode Januari 2021 adalah 75,84 dollar AS per ton. HBA ditutup di level 159,79 dollar AS per ton pada Desember 2021. Rekor tertinggi dicetak pada November 2021 yang sebesar 215,01 dollar AS per ton. Secara rata-rata, HBA sepanjang 2021 menjadi 121,47 dollar AS per ton, jauh melampaui pada 2020 yang hanya 58,17 dollar AS per ton.

HBA di awal tahun 2022 turun tipis seiring meningkatnya produksi batubara oleh China. Kementerian ESDM menetapkan HBA pada Januari 2022 sebesar 158,50 dollar AS per ton. Angka HBA tersebut turun 1,29 dollar AS per ton dibandingkan dengan HBA Desember 2021 yang mencapai 159,79 dollar AS per ton.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Ekskavator memindahkan batubara yang didatangkan dari Kalimantan dari dalam tongkang ke atas truk di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta Utara, Rabu (5/1/2022). Pemerintah kini mewajibkan setiap eksportir batubara untuk memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri atau DMO batubara sebesar 25 persen dari total produksi tahunan setiap mereka hendak mengekspor batubara.

Manfaat batubara

Batu bara termasuk dalam sumber daya alam Indonesia yang sangat berharga dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Manfaat utama batubara dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai sumber tenaga pembangkit listrik. Mayoritas produksi batubara di dunia dimanfaatkan untuk PLTU di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLTU masih dominan dengan 36.976 MW atau sebesar 50 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional.

Pada tahun 2020, konsumsi batubara dalam negeri mencapai angka 121,89 juta ton. Penggunaan terbesar, yaitu untuk menyuplai PLTU atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang jumlahnya mencapai 237 PLTU batubara. Rincian tersebut sebanyak 31 persen berlokasi di Bali, Jawa dan Nusa Tenggara, 25 persen berada di daerah Sumatera dan 17 persen berada di Sulawesi. Selain itu, di Maluku sebesar 2 persen dan di Papua sebesar 1 persen.

Tidak hanya Indonesia, tercatat beberapa negara lainnya juga menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama pada pembangkit tenaga listriknya, antara lain, China, India, Kore Selatan, Jepang, Jerman, Rusia, dan Polandia.

Manfaat lain batubara, yakni sebagai penghasil produk gas. Batubara yang ada di dalam tanah secara langsung menghasilkan gas alam. Selanjutnya, gas alam yang dihasilkan oleh batubara murni ini akan diolah di pertambangan untuk dijadikan berbagai macam produk. Misalnya, untuk bahan bakar industri, pembangkit listrik tenaga gas, serta produk hidrogen dan solar.

Manfaat lainnya batubara banyak digunakan dalam dunia industri berkat panas yang dihasilkan sangat tinggi. Di bidang industri, barubara membantu menghasilkan produk alumunium, menghasilkan produk baja, membantu produksi dalam industri semen, industri kertas, serta membantu produksi pupuk pertanian.

10 Negara dengan PLTU Batubara Terbesar 2019

Negara Kapasitas (MW) Share (persen)
China 1.004.948 49,1
Amerika Serikat 246.187 12,0
India 228.964 11,2
Russia 46.862 2.3
Japang 46.682 2,3
Jerman 44.47 2,2
Afrika Selatan 41.435 2,0
Korea Selatan 37.6 1,8
Indonesia 32.373 1,6
Polandia 30.87 1,5

Sumber: www.carbonbrief.org/mapped-worlds-coal-power-plants

Produsen batubara

Berdasarkan data BP’s Statistical Review of World Energy 2021, total produksi batu bara dunia pada tahun 2020 mencapai 7,74 miliar ton. Produksi dunia itu menurun sekitar 19 persen dibandingkan tahun 2019 yang tercatat 8,13 miliar ton. Penurunan terjadi karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia.

Negara China menduduki urutan pertama dalam daftar negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Produksi batu bara China pada tahun 2020 mencapai 3,9 miliar ton atau setara dengan 50,4 persen dari total produksi batu bara dunia. Berikutnya India yang masuk peringkat ke-2 pada daftar negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Pada tahun 2020, India memproduksi batu bara sebanyak 756,5 juta ton atau setara dengan 9,8 persen dari total produksi batu bara dunia.

Produksi batubara Indonesia terbesar ke-3 di dunia. Pada tahun 2020, Produksi batu bara Indonesia tahun lalu mencapai 562,5 juta ton, sementara pada tahun 2019 produksinya mencapai 616 juta ton. Produksi batu bara Indonesia menyumbang 7,3 persen dari total produksi batu bara dunia.

Produksi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil batu bara terbesar di Asia Tenggara. Negara di Asia Tenggara yang menghasilkan batubara, antara lain,Vietnam dan Thailand yang masing-masing memproduksi 46,6 juta ton dan 13,3 juta ton pada tahun 2020.

Produksi batubara Indonesia mengalahkan hasil produksi batubara Amerika Serikat dan Australia yang berada pada urutan berikutnya. Amerika Serikat pada tahun 2020 memproduksi batubara sebanyak 484,7 juta ton, sedangkan Australia sebesar 476,7 juta ton.

Meski demikian, urutan negara produsen batubara terbesar tergantung dari batubara yang diproduksi setiap tahunnya. Sebagai contoh, pada tahun 2015, negara penghasil batu bara terbesar dunia adalah Cina dengan 1,8 miliar ton. Selanjutnya Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan produksi mencapai 455,16 juta ton. India berada di urutan ketiga dengan produksi 283,86 juta ton. Sementara Indonesia memproduksi 242 juta ton berada di posisi ke-5.

15 negara penghasil Batubara terbesar di dunia  2020

Negara Produksi tahun 2020
China 3,9 miliar ton
India 756,5 juta ton
Indonesia 562,5 juta ton
Amerika Serikat 484,7 juta ton
Australia 476,7 juta ton
Rusia 399,8 juta ton
Afrika Selatan 248,3 juta ton
Kazakhstan 113,2 juta ton
Jerman 107,4 juta ton
Polandia 100,7 juta ton
Turki 70,8 juta ton
Kolumbia 50,6 juta ton
Vietnam 46,6 juta ton
Mongolia 43,1 juta ton
Serbia 39,8 juta ton

Sumber : BP’s Statistical Review of World Energy 2021

10 negara penghasil Batubara terbesar di dunia 2015

Negara Produksi (juta ton)
China 1827,01
Amerika Serikat 455,16
India 283,86
Australia 275,02
Indonesia 241,08
Rusia 184,46
Afrika Selatan 142,89
Kolombia 55,61
Polandia 53,72
Kazakhstan 45,82

Sumber: BP’s Global Company 2016

KOMPAS/PRIYOMBODO

Tongkang-tongkang bermuatan batubara melintas di sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (8/3/2021). Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi batubara Indonesia per 8 Maret 2021 sebesar 93,42 juta ton atau setara 16,99 persen dari target produksi sebesar 550 juta ton pada tahun 2021.

Cadangan batubara dunia

Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, cadangan batu bara dunia sebanyak 1,07 triliun. Negara yang memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia adalah Amerika Serikat dengan jumlah 248,94 miliar ton. Itu merupakan data cadangan terbukti yang tercatat hingga akhir 2020. Setelah Amerika Serikat, posisi kedua diduduki oleh Rusia dengan jumlah cadangan terbukti batu bara tercatat mencapai 162,17 miliar ton.

10 negara dengan cadangan terbukti batu bara terbesar:

  1. Amerika Serikat: 248,94 miliar ton.
  2. Rusia: 162,17 miliar ton.
  3. Australia: 150,23 miliar ton.
  4. China: 143,19 miliar ton.
  5. India: 111,05 miliar ton.
  6. Jerman: 35,9 miliar ton.
  7. Indonesia: 34,87 miliar ton.
  8. Ukraina: 34,37 miliar ton
  9. Polandia: 28,39 miliar ton
  10. Kazakhstan: 25,6 miliar ton

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2021

Cadangan batubara Australia dan China berada di posisi ketiga dan keempat menurut data tersebut. Menyusul India dan Jerman diurutan berikutnya. Indonesia berada diurutan ke-7 dengan jumlah cadangan terbukti batu bara, yakni 34,87 miliar ton. Namun berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), status per Juli 2020, jumlah cadangan batubara Indonesia mencapai 39,56 miliar ton.

Indonesia sebagai produsen batubara terbesar ketiga dunia memiliki cadangan mencapai 34,87 miliar ton dan rasio cadangan terhadap produksi (R/P Ratio) selama 62 tahun. Artinya, dengan asumsi kekuatan produksi yang dilakukan seperti selama ini, tingkat keawetan cadangan batubara Indonesia adalah 62 tahun. Sejalan dengan itu, cadangan batubara Indonesia setara dengan 3,2 persen dari total cadangan batubara dunia sebanyak 1,07 triliun ton. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Buku
  • —. Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2020, Kementerian ESDM, Jakarta, 2020
  • —. BP’s Statistical Review of World Energy 2021
  • Arif, Irwandy. 2014. Batubara Indonesia. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
  • —. 2009. Prospek Pertambangan Batubara Indonesia. Penerbit Bisinfocus Data Pratama.
Arsip Kompas
  • “Kebangkitan Kembali Batu Bara Indonesia”, Kompas, 25 Jul 1991, hlm. 4
  • “11 Tahun PT Tambang Batubara Bukit Asam Krisis Minyak Bumi Menyelamatkan Hidupnya”. Kompas, 1 Mar 1992, hlm. 8
  • “Batu Bara Ombilin: Pilar Pembangunan yang Jadi Ancaman”. Kompas, 30 Jul 2004, hlm. 30
  • “Batu Bara Menjadi Andalan Indonesia untuk Hadapi Lonjakan Harga Minyak”. Kompas, 08 Apr 2005, hlm. 15
  • “Sawahlunto: Jejak Batu Bara Seabad Lalu”. Kompas, 24 Mei 2008, hlm. 42
  • “Jejak Peradaban: Batubara, Geliat Kota Sawahlunto”. Kompas, 03 Apr 2013   hlm. 24
  • “Sawahlunto: Dari Kota Arang ke Kota Wisata”. Kompas, 4 Sep 2015, hlm. 36
  • “Batubara dan Masa Depan Energi Kita”. Kompas, 8 Oct 2015, hlm. 6
  • “Lubang Kalam, Kisah dari Sawahlunto”. Kompas, 22 Jan 2016   hlm.12
  • “PLN Jamin Tidak Ada Pemadaman Listrik”. Kompas, 6 Jan 2022   hlm. 9
  • “Potret Dinamika Si ”Emas Hitam””. KOMPAS, 6 Jan 2022, hlm. B
  • “Ekspor Batubara Dibuka”, KOMPAS, 11 Jan 2022,  hlm. 9
  • “Ekspor Bergulir Kembali, Fokus Tegakkan Kepatuhan”, KOMPAS, 15 Jan 2022, hlm. 9.
  • “Ketenagalistrikan: Dominasi Batubara Semakin Meningkat”, KOMPAS, 19 Jan 2022,  hlm. 10
  • “Pertambangan Batubara: Pemerintah Harus Tegas pada Perusahaan”, KOMPAS, 27 Jan 2022,  hlm. 9
error: Content is protected !!