Kronologi

Kronologi Kompetisi Sepakbola Indonesia: Pembentukan Liga Perserikatan Indonesia (Bagian Kedua)

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, PSSI tidak butuh waktu lama untuk membangun kembali organisasinya. Inilah kebangkitan aktivitas sepakbola Indonesia yang sempat berhenti selama pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan.

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Kapten Persib Bandung, Adeng Hudaya dengan piala kemenangan. Persib Bandung tampil sebagai juara divisi utama PSSI 1986 setelah membungkam Perseman, Manokwari 1-0 (11/3/1986) di Stadion Utama. Yunias Muray (kiri) mewakili Perseman Manokwari sebagai juara II serta Berty Tutuarima (kanan) dari Persija, juara III.

Hasil kongres PSSI pada September 1950 untuk menggulirkan kembali liga sepakbola Indonesia, menjadi keputusan bersejarah. Kongres pertama sejak pendudukan Jepang ini memutuskan kompetisi dimulai pada tahun 1951. Kompetisi ini merupakan kelanjutan dari liga sepakbola yang sudah berkembang sejak tahun 1930-an. Kesebelasan yang mengikuti liga merupakan kelanjutan tim-tim yang lahir pada masa Hindia Belanda yang dikenal sebagai tim perserikatan atau bond.

Liga perserikatan merupakan kejuaraan tingkat amatir dan menjadi cikal bakal liga profesional di kemudian hari. Tim-tim yang mengikuti liga merupakan representasi dari tiap-tiap daerah sehingga PSSI pada awalnya melaksanakan kompetisi dari tingkat distrik hingga nasional. Ini menjadi penyebab pemain tim perserikatan merupakan putra asli daerah.

Antusiasme masyarakat yang besar terhadap liga sepakbola perserikatan melahirkan tim-tim baru. Hal ini membuat PSSI dari tahun ke tahun berulangkali melakukan perubahan sistem kompetisi. Pada pertengahan tahun 1960-an PSSI mengenalkan sistem pembagian grup berdasarkan geografis yang biasa dikenal dengan wilayah barat dan wilayah timur. Pada akhir tahun 1970-an PSSI mulai membagai kompetisinya ke dalam beberapa divisi.

September 1950


Kongres pertama PSSI sejak masa pendudukan Jepang. Pertemuan ini memutuskan beberapa hal penting untuk menguatkan organisasi PSSI. Kepanjangan nama PSSI diubah dari Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dan memindahkan kantornya dari Yogyakarta ke Jakarta. PSSI juga berencana untuk menggulirkan kompetisi antarperserikatan yang akan diadakan setiap tahunnya dimulai tahun 1951.

1951


PSSI menyelenggarakan kompetisi pertamanya bernama Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI. Peserta yang boleh mengikuti Kejurnas PSSI adalah semua perserikatan sepakbola yang pada 1 April 1951 telah menjadi anggota PSSI. Kejuaraan ini dibagi dalam dua tahap yakni kompetisi tingkat distrik dan kompetisi tingkat nasional. Kompetisi tingkat distrik terdiri dari enam wilayah yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia timur. Pemenang dari masing-masing distrik akan maju ke tingkat nasional. Persibaya Surabaya menjadi kampiun perdana dalam Kejurnas PSSI ini.

Kesebelesan PSM Makassar melawan PSBI Blitar dalam pertandingan kompetisi sepakbola Perserikatan PSSI 1973, di Stadion Utama Senayan, Jakarta (5/12/1973). Pertandingan berakhir dengan kemenangan PSM Makassar menang 5-2 (1-2).
KOMPAS/KARTONO RYADI

19 November-26 Desember 1954


Terjadi perubahan pada waktu pertandingan dari 2 x 35 menit menjadi 2 x 45 menit. Berdasarkan sistem kompetisi musim ini maka tim peringkat ke-1 sampai ke-3 otomatis lolos ke tingkat nasional musim berikutnya. Sementara itu, peringkat ke-4 sampai ke-6 harus berjuang terlebih dahulu di tingkat distrik.

1957


Kejurnas PSSI 1957 mengalami peningkatan jumlah tim di tingkat nasional menjadi 7 perserikatan. Pada musim ini terjadi sedikit perubahan sistem kompetisi. Tim peringkat ke-1 sampai ke-5 berhak langsung maju ke tingkat nasional Kejurnas PSSI 1959. Sedangkan, peringkat ke-6 dan ke-7 harus berjuang di tingkat distrik.

26 Juni-9 Agustus 1964


Terjadi peningkatan tim di tingkat nasional dari tujuh menjadi sembilan tim. Para peserta terdiri dari peringkat ke-1 sampai ke-5 Kejurnas PSSI 1961. Empat tim sisanya diperebutkan oleh tim-tim yang bertanding terlebih dahulu di babak interzona. PSSI juga menambah jumlah zona dari enam zona menjadi delapan zona sebelum ke tingkat nasional.

1964-1965


Terjadi pembagian wilayah di tingkat nasional. Sepuluh tim peserta yang lolos tingkat nasional dibagi menjadi dua wilayah yakni wilayah barat dan wilayah timur berdasarkan asal geografisnya. Posisi pertama dan kedua pada masing-masing grup akan lolos ke babak semifinal yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

26 November 1965-17 September 1966


Terjadi penambahan jumlah peserta di tingkat nasional menjadi 12 tim dengan masing-masing grup terdiri dari enam tim.

1967-1969


Berbeda dengan musim sebelumnya, PSSI mengadakan kejuaraan selama dua tahun dengan proses kompetisi cukup panjang. Pada Kejurnas PSSI 1969, persepakbolaan Indonesia dibagi ke dalam empat wilayah. Setiap wilayah terdiri dari atas beberapa tingkat mulai dari rayon-interrayon-zona-interzona-wilayah. Peserta yang musim lalu berada di tingkat nasional tidak perlu lagi berlaga di tingkat terbawah. Mereka secara otomatis berada di tingkat wilayah dan menunggu tim lain yang berjuang dari tingkat paling rendah. Peringkat dua besar di masing-masing wilayah berhak lolos ke tingkat nasional.

Suasana Kericuhan saat pertandingan antara Persija Jakarta dan PSMS Medan saat pertandingan final kompetisi PSSI 1975 (8/11/1975).
KOMPAS/KARTONO RYADI

1973-1975


Terjadi penambahan jumlah peserta dari 8 tim menjadi 18 tim. PSSI juga menetapkan perluasan wilayah dengan dibagi menjadi empat grup nasional. Grup A bermain di Surabaya, grup B di Semarang, dan grup C serta D di Jakarta. Peringkat ke-1 dan ke-2 setiap grup berhak lolos ke babak delapan besar. Di babak delapan besar setiap perserikatan dibagi menjadi dua grup. Juara pertama dan kedua tiap grup pada babak delapan besar berhak maju ke babak semifinal dan lanjut ke final. Pada musim ini Persija dan PSMS ditetapkan sebagai juara bersama karena terjadi insiden di lapangan yang membuat wasit tidak dapat mengatasinya.

Desember 1977-Januari 1978


Kejurnas PSSI 1977/1978 pada tingkat nasional diikuti oleh 18 tim dengan sistem kompetisi yang sama dengan musim selanjutnya. Pada musim ini lima tim peringkat teratas langsung lolos ke tingkat nasional musim kompetisi 1978/1979 seiring dengan pemberlakuan sistem divisi. Empat tim yang melaju sampai semifinal Kejurnas PSSI 1977/1978 otomatis akan lolos tingkat nasional musim depan. Sedangkan, peringkat ke-3 di setiap grup babak delapan besar akan dipertemukan untuk memperebutkan satu tiket tersisa tingkat nasional musim 1978/1979.

15 November 1978-13 Januari 1979


Terjadi penurunan jumlah peserta pada Kejurnas Utama PSSI 1978/1979 yang hanya diikuti oleh 5 tim peserta, menurun dari 18 tim pada Kejurnas PSSI 1977/ 1978. Hal ini disebabkan karena sistem kompetisi dibagi berdasarkan divisi. Lima tim peringkat teratas pada Kejurnas PSSI 1977/1978 masuk dalam Divisi Utama yang akan bertanding dalam dua putaran. Sedangkan, tim-tim yang lain harus berjuang terlebih dahulu di Divisi I. Tim yang berada di peringkat ke-1 Divisi Utama akan ditetapkan sebagai juara. Peringkat ke-5 Divisi Utama akan terdegradasi dan digantikan oleh peringkat ke-1 Divisi I.

21 Agustus-31 Agustus 1980


Kejurnas PSSI mulai tahun 1980 dikenal sebagai Kompetisi Perserikatan PSSI. Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1980 diikuti oleh enam tim yang mencakup lima tim peringkat teratas Kejurnas Utama PSSI 1978/1979 dan satu tim promosi dari Divisi I PSSI 1978/1979. Sistem kompetisi yang berlaku pada Divisi Utama Perserikatan PSSI adalah keenam tim bertanding dengan sistem setengah kompetisi di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Kemudian peringkat satu dan dua berhak maju ke babak final. Pada musim ini Divisi Utama Perserikatan PSSI tidak menerapkan degradasi.

Pemain Persija melakukan victory lap dengan menjunjung bendera DKI Jaya di atas kepala setelah Persija tampil sebagai juara kompetisi PSSI 1973, sementara suporter cilik ikut memeriahkan. Tampak antara lain (dari depan) kiper cadangan A Rake, Yudo Hadiyanto dan di belakang adalah Widodo (11/12/1973).
KOMPAS/KARTONO RYADI

21 September-10 November 1983


Terjadi peningkatan jumlah peserta tim menjadi sepuluh. Mereka terdiri dari enam tim peserta Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1980 dan empat tim promosi Divisi I 1980. Kemudian sepuluh tim terbagi menjadi dua grup yakni wilayah barat dan wilayah timur. Empat kota ditunjuk sebagai tuan rumah Divisi Utama yakni wilayah barat (Padang dan Bandung) sedangkan wilayah timur (Gresik dan Semarang). Musim ini tidak menerapkan degradasi karena PSSI akan menambah jumlah tim pada kompetisi musim selanjutnya.

15 Januari-23 Februari 1985


Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 diikuti oleh 12 tim yang terdiri dari sepuluh tim peserta Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 dan dua tim promosi dari Divisi I Perserikatan PSSI 1983. Kedua belas tim terbagi dalam dua grup wilayah barat dan timur. Kompetisi di wilayah barat akan diadakan di Banda Aceh dan Jakarta. Sedangkan wilayah timur akan diadakan di Makassar dan Surabaya.

30 Oktober 1985


PSSI menetapkan dua tim peringkat terbawah pada babak enam kecil Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985 akan dipertemukan dengan peringkat ke-1 dan ke-2 Divisi I Perserikatan PSSI 1985 untuk menentukan dua tim promosi ke Divisi Utama musim selanjutnya. Model kompetisi ini kemudian mempertemukan Persija Jakarta dari Divisi Utama melawan PSIM Yogyakarta dari Divisi I. Pertandingan kedua mempertemukan Persema Malang dari Divisi Utama melawan Persiba Balikpapan dari Divisi I.

1 November 1987-27 Maret 1988


Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1987/1988 tidak banyak mengalami perubahan. Musim ini masih tetap diikuti oleh 12 tim yang dibagi dalam dua grup wilayah. Peringkat ke-4 dan ke-5 di setiap wilayah bertahan di Divisi Utama musim berikutnya. Sedangkan juru kunci di setiap wilayah otomatis terdegradasi ke Divisi I.

27 Maret 1988


PSSI menetapkan perubahan penyelenggaraan Kompetisi Divisi Utama Perserikatan mulai tahun 1990/1991 dan tahun berikutnya menjadi dua tahun sekali. Perubahan yang sama juga terjadi pada Divisi I dan Divisi II. Organisasi induk sepakbola Indonesia ini beralasan apabila kompetisi dilakukan setahun sekali tidak ada kesempatan tim perserikatan untuk mengadakan kompetisi klubnya. Hal ini akan mengakibatkan terhambatnya pembinaan dan regenerasi pemain perserikatan.

Para pemain kesebelasan Persib Bandung saat melawan Persiraja Banda Aceh, dalam kompetisi Djarum Super Divisi Utama Perserikatan PSSI, di Stadion Utama Senayan, Jakarta (4/8/1994).
KOMPAS/EDDY HASBY

19 November 1989-11 Maret 1990


Sistem degradasi pada musim ini mengalami perubahan. Peringkat ke-4 tiap wilayah tetap bertahan di Divisi Utama. Namun, peringkat ke-5 dan ke-6 setiap wilayah akan bertanding dalam babak play-off secara silang. Dua tim yang menang akan bertahan dan yang kalah akan terdegradasi.

16 Oktober 1991


Ketua Umum PSSI Kardono mensahkan 14 pemain Galatama untuk dapat bermain di Kompetisi Divisi Utama Perserikatan pada musim 1991/1992. Hal ini mengundang kekecewaan beberapa pihak karena dianggap melanggar peraturan di tengah kompetisi Galatama yang masih bermain dan persiapan untuk Divisi Utama. Padahal menurut peraturan alih status pemain ke perserikatan dapat dilaksanakan setelah kompetisi liga berakhir atau karena sebab tertentu yang diputuskan oleh Ketua Umum PSSI. Sedangkan, pihak PSSI memberi alasan bahwa alih status ini karena untuk menyesuaikan dengan program pelatnas dan kontrak pemain telah habis sehingga jasanya dapat dimanfaatkan oleh tim perserikatan.

27 Oktober 1991-29 Februari 1992


PSSI pada musim kompetisi ini tidak menerapkan degradasi untuk menambah jumlah peserta pada musim selanjutnya menjadi 16 tim.

13 November 1993-17 April 1994


Tim peserta kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1993/1994 diikuti oleh 16 tim yang terdiri dari 12 tim musim sebelumnya dan empat tim promosi Divisi I. Dari 16 tim dibagi ke dalam dua grup wilayah dengan masing-masing terdiri dari delapan tim.

29 Januari 1994


Muncul wacana untuk menggabungkan kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI dengan kompetisi Galatama yang bernama Liga Indonesia dalam Sidang Paripurna PSSI. Hal ini mengakibatkan dihapuskannya kompetisi Galatama, dan beberapa peraturan dari kedua liga akan disesuaikan.

Daftar Juara Perserikatan (1951-1994)

Tahun Nama Perserikatan
1951 Persibaya (Surabaya)
1952 Persibaya (Surabaya)
1954 Persija (Jakarta)
1957 PSM (Makassar)
1959 PSM (Makassar)
1961 Persib (Bandung)
1964 Persija (Jakarta)
1964/1965 PSM (Makassar)
1965/1966 PSM (Makassar)
1966/1967 PSMS (Medan)
1969 PSMS (Medan)
1971 PSMS (Medan)
1973 Persija (Jakarta)
1975 Persija (Jakarta) dan PSMS (Medan)
1978 Persebaya (Surabaya)
1978/1979 Persija (Jakarta)
1980 Persiraja (Banda Aceh)
1983 PSMS (Medan)
1985 PSMS (Medan)
1986 Persib (Bandung)
1986/1987 PSIS (Semarang)
1987/1988 Persebaya (Surabaya)
1989/1990 Persib (Bandung)
1991/1992 PSM (Makassar)
1993/1994 Persib (Bandung)


Sumber:
Saputra, Asep, dkk. 2010. Sepakbola Indonesia Alat Perjuangan Bangsa dari Soeratin hingga Nurdin Halid (1930-2010). Jakarta: Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Referensi

Arsip Kompas
  • “Kompetisi PSSI Tingkat Nasional”, dalam KOMPAS 11 September 1965, hlm. 2.
  • “Kompetisi PSSI 1965/1966”, dalam KOMPAS 18 Oktober 1965, hlm. 3.
  • “Kompetisi PSSI Tetap Menurut Program Semula”, dalam KOMPAS 8 Januari 1966, hlm. 3.
  • “PSM djuara PSSI lagi”, dalam KOMPAS 19 September 1966, hlm. 1.
  • “Kompetisi Kedj. PSSI 1966/1967”, dalam KOMPAS 28 September 1966, hlm. 3.
  • “Olahraga: Kompetisi PSSI Dimulai”, dalam KOMPAS 19 Juni 1968, hlm. 2.
  • “Olahraga: Kompetisi Nasional PSSI Masuki Tingkat Wilajah”, dalam KOMPAS 2 April 1969, hlm. 2.
  • “Olahraga: Babak Penjisihan Dan Final-round PSSI Digabungkan”, dalam KOMPAS 17 Mei 1969, hlm. 2.
  • “Olahraga: PSMS Medan Djuara PSSI”, dalam KOMPAS 8 Juli 1969, hlm. 2.
  • “Putaran-Final Kompetisi PSSI 1973/75 Dilakukan di Surabaya, Semarang dan Jakarta”, dalam KOMPAS 9 September 1975, hlm. 10.
  •  “Setelah Kericuhan Yang Tak Teratasi Dua Kesebelasan Menjadi Juara Kembar PSSI”, dalam KOMPAS 10 November 1975, hlm. 1.
  • “Kompetisi PSSI tingkat wilayah dimulai besok”, dalam KOMPAS 14 Desember 1977, hlm. 10.
  • “Dari 18 besar ke 8 besar PSSI”, dalam KOMPAS 4 Januari 1978, hlm. 5.
  • “Kalender dan kompetisi PSSI selayang-pandang”, dalam KOMPAS 22 Februari 1978, hlm. 6.
  • “Sepakbola Indonesia dan Masa Perjuangan PSSI”, dalam KOMPAS 19 April 1980, hlm. 5.
  • “Malam ini, PSMS vs Persipura awali kejuaraan 6 besar PSSI”, dalam KOMPAS 21 Agustus 1980, hlm. 10.
  • “Persiraja Juara Nasional PSSI * Menang Mutlak 3-1 atas Persipura”, dalam KOMPAS 1 September 1980, hlm. 1.
  • “PSSI tak hendaki perubahan”, dalam KOMPAS 13 September, hlm. 10.
  • “Kompetisi divisi utama PSSI: Medan dan Malang buka kemenangan *PSMS 1, Persib 0 *Persema 1, PSM 0”, dalam KOMPAS 22 September 1983, hlm. 1.
  • “PSMS juara, Persib terbaik * Persib 2, PSMS 3”, dalam KOMPAS 11 November 1983, hlm. 1.
  • “Sepak bola divisi utama PSSI: Babak pertama di empat kota * Final di Jakarta”, dalam KOMPAS 16 November 1984, hlm. 10
  • “Hampir 1 milyar dirogoh dari kantung penonton”, dalam KOMPAS 24 Februari 1985, hlm. 11.
  • “Model kompetisi Divisi I Perserikatan: Persija dan Persema hadapi juara pertama dan kedua”, dalam KOMPAS 31 Oktober 1985, hlm. 1.
  • “Sepak bola Promosi-Degradasi: Persija juara, Yogya tersisih”, dalam KOMPAS 15 Januari 1986, hlm. 10.
  • “Sepak bola promosi-degradasi: Balikpapan ke divisi utama, Malang ke divisi satu”, dalam KOMPAS 16 Januari 1986, hlm. 10.
  • “Kejuaraan divisi utama PSSI dimulai hari ini: Panas di Medan, dingin di Surabaya * Persiba belum biasa main malam’, dalam KOMPAS 28 Januari 1986, hlm. 10.
  • “Akhirnya sebuah mahkota untuk Persib Bandung *Persib 1, Manokwari 0”, dalam KOMPAS 13 Maret 1986, hlm. 1.
  • “Kompetisi divisi utama PSSI: Bengkulu tuan rumah pertama”, dalam KOMPAS 7 Oktober 1986, hlm. 10.
  • “Hari ini:Pertarungan “Empat Kecil” Juga Pasti Menegangkan”, dalam KOMPAS 4 Maret 1987, hlm. 14.
  • “”Pertempuran” Akhir di Senayan”, dalam KOMPAS 11 Maret 1987, hlm. 1.
  • “PSIS Raih Mahkota Kejuaraan”, dalam KOMPAS 12 Maret 1987, hlm. 1.
  • “Sepak Bola Divisi Utama PSSI: PSM Ujungpandang Siap Tempur”, dalam KOMPAS 28 Oktober 1987, hlm. 14.
  • “Persebaya Empat Kali Juara”, dalam KOMPAS 28 Maret 1988, hlm. 1.
  • “Dari Sidang Paripurna PSSI: Kompetisi Perserikatan Diperbaiki”, dalam KOMPAS 28 Maret 1988, hlm. 10.
  • “Kompetisi Divisi Utama Serentak Di Enam Kota”, dalam KOMPAS 1 November 1989, hlm. 14.
  • “Persib Juara Baru”, dalam KOMPAS 12 Maret 1990, hlm. 1.
  • “Liga Injak-Injak Peraturan”, dalam KOMPAS 27 Oktober 1991, hlm. 14.
  • “Kompetisi Perserikatan Wilayah Timur: Persebaya Agak Khawatir, PSIS Siap Bertarung Keras”, dalam KOMPAS 27 Oktober 1991, hlm. 14.
  • “Proses Alih Status Merupakan Kesepakatan Galatama dan PSSI”, dalam KOMPAS 28 Oktober 1991, hlm. 15.
  • “Kompetisi Perserikatan Diikuti 16 Kesebelasan”, dalam KOMPAS 19 Desember 1991, hlm. 15.
  • “Kompetisi Perserikatan Tanpa Degradasi”, dalam KOMPAS 19 Januari 1992, hlm. 15.
  • “PSM Juara 1992”, dalam KOMPAS 1 Maret 1992, hlm. 1.
  • “Divisi Utama PSSI: Tiket Pertandingan PSM-Persebaya Diserbu”, dalam KOMPAS 13 November 1993, hlm. 19.
  • “Divisi Utama PSSI: Tiket Pertandingan PSM-Persebaya Diserbu”, dalam KOMPAS 17 April 1994, hlm. 1.
Buku
  • Elison, Eddie. 2014. Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepak Bola Kebangsaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  • Herfiyana, Novan, dkk. 2011. Muatan Lokal Ensiklopedia Sepak Bola Indonesia. Jakarta: PT Lentera Abadi.
  • Palupi, Srie Agustina. 2004. Politik & Sepak Bola di Jawa, 1920-1942. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  • Saputra, Asep, dkk. 2010. Sepakbola Indonesia Alat Perjuangan Bangsa dari Soeratin hingga Nurdin Halid (1930-2010). Jakarta: Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Penulis
Martinus Danang
Editor
Inggra Parandaru

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Ikuti Kronologi Peristiwa dari Awal hingga Akhir

Daftarkan email Anda dan ikuti kronologi peristiwa terkini secara lengkap di Kompaspedia.

close