Paparan Topik | Hari Buah Sedunia

Hari Buah Sedunia: Pentingnya Konsumsi Buah pada Masa Pandemi

Mengonsumsi buah dan sayur yang cukup, bahkan lebih dari yang disarankan, mempunyai berbagai manfaat kesehatan. Selain kaya serat, vitamin dan mineral, sayur dan buah amat penting dalam pertumbuhan anak dan meningkatkan sistem imun.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pedagang menyiapkan buah pesanan pelanggan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (11/6/2021), Rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) pada bahan kebutuhan pokok (sembako) termasuk beras, jagung, daging, sayur dan buah-buahan oleh pemerintah menuai beragam reaksi di masyarakat. Selain berpotensi melemahkan daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19, para petani sejumlah komoditas pangan khawatir PPN sembako justru akan semakin menekan harga di tingkat petani.

Fakta Singkat

Hari Buah Sedunia
Hari buah itu ditetapkan pada 1 Juli 2007 di Mauerpark, Prenzlauer Berg, Berlin, Jerman.

Standar Konsumsi Buah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar konsumsi buah dan sayur sebesar 400 gram per hari.

  • Mengonsumsi buah dan sayur yang cukup, bahkan lebih dari yang disarankan asal tidak berlebihan, mempunyai berbagai manfaat kesehatan. Selain kaya serat, vitamin dan mineral, sayur dan buah amat penting dalam pertumbuhan anak, dan meningkatkan sistem imun.
  • Buah dan sayur juga berperan penting dalam masalah kegemukan, penyakit tidak menular, penurunan zat gizi mikro (micronutriet deficiency), hingga menurunkan risiko depresi maupun kecemasan.
  • Kurangnya konsumsi buah dan sayur sering disebabkan oleh masalah ketersediaan, keterjangkauan, dan kurangnya pengetahuan tentang manfaat buah.

Peran Lembaga terkait
Kementerian Pertanian (Dirjen Hortikultura)
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan

Sejarah Hari Buah

Hari buah ditetapkan pada 1 Juli 2007 di Mauerpark, Prenzlauer Berg, Berlin, Jerman. Lokasi ini dulu dikenal sebagai tembok pemisah Jerman Barat dan Timur, yang kemudian dirobohkan di tahun 1989. Sekarang tempat ini menjadi taman publik yang sangat populer bagi anak-anak muda di Jerman.

Pada saat itu, sejumlah lulusan dari Universitas of Applied Science Alice Salomon, di Berlin, Jerman, bertemu dalam sebuah pesta di tahun 2007. Sebagai acara anak muda, mereka biasanya saling berbagi informasi dan pengalaman tentang profesi dan proyek yang sudah mereka dikerjakan.

Dalam acara itu, para peserta menyepakati sebuah hal yang universal dan mulia, yakni menyatukan masyarakat dan organisasi untuk berbagi pangan. Salah satunya membagikan buah-buahan kepada rekan atau kerabat mereka.

Saat pertama kali dideklarasikan, sejumlah kue buah (fruitcake) dan buah-buahan dibagikan kepada sekitar 400 orang untuk dimakan bersama teman, sahabat, maupun keluarga. Contoh ini kemudian diharapkan memberikan inspirasi kepada siapa pun untuk menikmati hidup dengan buah, dan tentunya juga berbagi buah dengan yang lain.

Dalam sejumlah referensi internasional, konsep hari buah kemudian juga disebut sebagai Hari Buah dan Sayur Internasional. Hari buah merupakan hari penting dalam menghadapi tantangan dalam mengedepankan buah-buahan dalam negeri dengan potensi yang cukup tinggi untuk dikembangkan dalam rangka swasembada buah secara nasional.

Slogan Fruit of The Year dimunculkan setiap tahunnya dan dipilih sebuah buah yang mewakili tema peringatan. Peringatan ini memiliki tujuan dasar sosial, yaitu berbagi makanan. Pada Hari Buah Sedunia 2021, semangka terpilih semangka (watermelon) sebagai Fruit of The Year. Tahun ini mengangkat tema “Create Change Together”

Tema Hari Buah Sedunia

Tahun Fruit Of The Year Tema
2007 Strawberry (stroberi) “Come Together”
2008 Raspberry “Together in Diversity”
2009 Apple (apel) “Creativity and Innovation”
2010 Pineapple (nanas) “Combat Poverty and sSocial Exclusion”
2011 Mango (mangga) “Volunteering”
2012 Cherry (ceri) “Active Ageing and Solidarity between Generations
2013 Fig (tin, ara) “Share Fruit and Smiles
2014 Pear (pir) “Create Positive Messages
2015 Blueberry (bluberi) “Our World, Our Fruit, Our Future
2016 Lime (jeruk nipis) “Spice up Your Life
2017 Quince (kwinsi) “Reformation Our Food
2018 Kiwi “Cherish Others
2019 Papaya (pepaya) “Flirt with More Fruit
2020 Mandarin (jeruk mandarin) “Take a Fruit Break
2021 Watermelon (semangka) “Create Change Together

Hari Buah Sedunia ini biasanya diperingati dengan melakukan beberapa kegiatan untuk menggugah bahwa potensi buah secara nasional masih bisa dikembangkan untuk mampu bersaing dengan produk impor.

Indonesia sebagai negara beriklim tropis dan segala potensi yang ada sudah saatnya menghasilkan buah-buahan kualitas terbaik sehingga mampu mengedepankan buah-buahan lokal dan segera menuju swasembada buah nasional.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Penjual rujak menyiapkan beragam jenis buah potong di gerai Rujak Kolam Medan di ITC Mangga Dua, Jakarta, Kamis (24/6/2021). Meski relatif mahal Rujak Kolam Medan merupakan salah satu gerai rujak yang memilki banyak pelanggan. Sebelum masa pandemi, pembeli harus rela antre untuk dapat makan di tempat. Saat ini pelanggan lebih banyak yang membeli untuk dibungkus atau memesan secara daring.

Misi Hari Buah Sedunia

Perdamaian dan kebinekaan

Misi hari buah :

  • Pertama, menjadi semangat dan keyakinan akan perdamaian sepanjang masa.
  • Kedua, menjadi gerakan agar lebih peduli dengan masyarakat yang hidupnya miskin,
  • Ketiga, mengajak semua orang untuk menciptakan lingkungan maupun semangat hidup yang positif.
  • Keempat, menggugah untuk lebih peduli akan kesehatan sekaligus mengurangi pemborosan makanan.
  • Kelima, keanekaragaman buah menjadi simbol kebinekaan masyarakat dan budayanya. Dengan kata lain, berbagi buah menjadi simbol solidaritas pertukaran budaya.

“Leaving No One Behind”

Menurut laman un.org, Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadikan hari buah sebagai pengingat akan pentingnya nutrisi dan kecukupan pangan. Di samping itu, juga mendesak berbagai pihak agar meningkatkan kualitas produksi yang berkelanjutan serta mengurangi pemborosan.

Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengingatkan bahwa konsumsi buah kita masih kurang. Artinya, buah dan sayur menjadi dasar yang utama dalam menu (makan) yang sehat dan bervariasi.

Keduanya (buah dan sayur) juga memberi limpahan nutrisi, memperkuat sistem imun dan menurunkan risiko terhadap penyakit.

Guterres juga menambahkan, di tengah pandemi yang masih mengancam kehidupan manusia, kita harus bersama-sama memastikan mendapat makanan yang bergizi. Termasuk juga masyarakat miskin. “Kita harus memastikan semua (golongan) mendapatkannya (Leaving no one behind)”.

Mengacu pada laman un.org, Sidang Umum PBB tahun 2019 menyatakan bahwa, Hari Buah 2021 menjadi momen penting bagi dunia agar lebih menyadari fungsi buah dan sayur. Selain menjadi sumber nutrisi, kecukupan pangan dan kesehatan, juga untuk pencapaian pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs). SDGs adalah rencana aksi global untuk menyudahi kemiskinan, mengurangi kesenjagan dan melindungi lingkungan.

Peringatan Hari Buah juga didukung deklarasi lain, di antaranya The Rome Declaration on Nutrition and The Framework for Action (FAO-WHO, 2014), The UN Decade of Action on Nutrition (2016-2025), The UN Declaration on Rights of Peasants and Other People Working in Rural Areas (UNHRC 2018), The UN Decade of Family Farming 2019-2028 (UN, 2018), dan WHO’s Global Strategy on Diet, Physical Activity and Health (WHO 2004).

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS

Koordinator pemandu Kusuma Agrowisata, menjelaskan buah yang bisa dipetik pengunjung di tujuan wisata di Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (6/5/2021).

Konsumsi sayur dan buah

Kondisi gizi seimbang tidak lepas dari konsumsi sayur dan buah. Kementerian Kesehatan menyebutkan, kedua bahan ini menjadi indikator sederhana untuk kondisi tersebut. Sayur dan buah bisa dibilang dua hal yang tak terpisahkan. Keduanya mengandung vitamin dan mineral, dan serat yang diperlukan tubuh setiap harinya.

Vitamin
Beberapa vitamin dan mineral penting yang terkandung dalam sayur dan buah adalah: vitamin A, vitamin C, vitamin E, magnesium, seng, kalium, fosfor, dan asam folat. Sebagian vitamin dan mineral dalam sayur dan buah-buahan juga berperan sebagai antioksidan atau penangkal senyawa jahat dalam tubuh.

Sumber karbohidrat
Buah-buahan juga menjadi sumber karbohidrat terutama fruktosa dan glukosa. Jenis buah yang menyediakan lemak tak jenuh adalah alpukat dan buah merah. Sayur tertentu juga menyediakan karbohidrat, seperti wortel dan kentang sayur.

Pencegahan penyakit tidak menular kronik
Berbagai kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah mampu menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol darah. Begitu pula untuk menurunkan risiko sulit buang air besar (BAB) dan kegemukan. Inti dari semua itu adalah, konsumsi sayur dan buah yang baik berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular kronik.

Batasi kadar gula
Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat, semakin tinggi kandungan fruktosa dan glukosanya. Ini dicirikan oleh rasa yang semakin manis.
Minum jus bergula mengandung 150-300 kalori, yang biasanya berasal dari gula (atau susu kental manis) yang ditambahkan. Oleh karena itu, konsumsi buah yang terlalu matang dan minuman jus bergula juga perlu dibatasi agar kadar gula darah terkendali.

Badan Kesehatan Dunia WHO secara umum menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sebanyak 400 gram per orang per hari. Angka itu terbagi atas:

  • 250 gram sayur (atau setara dua porsi atau dua gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan)
  • 150 gram buah (atau setara tiga buah pisang ambon ukuran sedang, atau satu potong pepaya ukuran sedang, atau tiga buah jeruk ukuran sedang).

Bagi masyarakat Indonesia, terutama balita dan anak-anak usia sekolah, dianjurkan untuk mengkonsumsi sayur dan buah-buahan 300-400 gram per orang per hari. Sedangkan untuk remaja dan orang dewasa, 400-600 gram per orang per hari. Dengan perhitungan, dua per tiga dari jumlah anjuran konsumsi itu adalah porsi sayur.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Pengunjung memilih buah-buahan yang ditawarkan dengan potongan harga di pasar swalayan di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Senin (28/06/2021). Potongan harga masih menjadi senjata utama pelaku usaha untuk menarik minat pengunjung berbelanja.

Buah yang kaya nutrisi dan sehat

Diperkirakan ada sekitar 2.000 jenis buah yang berbuah di dunia ini. Biasanya buah berarti bagian dari tumbuhan yang manis, daging yang menyegarkan, dan berbiji. Tak sedikit yang bisa dimakan mentah begitu saja, sementara ada sejumlah jenis yang juga bisa diolah atau dimasak. Daya tarik buah umumnya adalah warna, bentuk, dan rasa.

Pengelompokan jenis buah lazimnya terbagi atas:
1. Apel dan pir
2. Citrus (jeruk) (orange, grapefruit, mandarin, lime)
3. Stone fruit (nektarin, aprikot, peach, plum)
4. Tropis dan eksotik (pisang, mangga)
5. Jenis beri-berian (stroberi, rasberi, bluberi, kiwi, dan markisa)
6. Melon (semangka, rockmelon, honeydew)
7. Tomat dan alpukat

Para ahli kesehatan sepakat bahwa kandungan buah bergizi tinggi, dan mudah disesuaikan untuk pola makan apa pun.
Berikut ini adalah 20 buah yang amat dan sehat.

1. Apel
Kaya serat, bagus untuk mengontrol gula darah, pencernaan, dan kesehatan jantung. Selain kaya akan vitamin C, buah ini juga efektif untuk menurunkan risiko serangan jantung, stroke, kanker, kegemukan, dan gangguan saraf.

2. Blueberry
Tinggi akan kandungan antioksidan dan anti peradangan. Juga efektif untuk mengontrol diabetes tipe 2, gangguan jantung, kegemukan, tekanan darah tinggi, beberapa jenis kanker, dan penurunan kognitif.

3. Pisang
Sumber potasium yang baik. Secara takaran kebutuhan nutrisi dalam sehari, pisang mengandung vitamin B6, vitamin C, dan magnesium. Pisang juga dianggap efektif untuk gula darah yang baik dan kesehatan pencernaan.

4. Jeruk (orange)
Sarat dengan vitamin C (91 persen untuk takaran nutrisi sehari) dan antioksidan. Selain itu, juga banyak mengandung potasium, folat, vitamin B1, dan serat. Buah ini juga baik untuk menurunkan peradangan, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan gula darah.

5. Buah naga
Bergizi tinggi, termasuk karotenoid, serat, besi, magnesium, vitamin C dan E.

6. Mangga
Kaya dengan kandungan potasium, folat, serat, vitamin A, C, B6, E, dan K. Buah ini juga efektif sebagai antioksidan dan anti peradangan. Selain kesehatan pencernaan, buah ini juga melindungi tubuh dari diabetes tipe 2, penyakit jantung, alzheimer, parkinson, dan beberapa jenis kanker.

7. Alpukat
Masyhur sebagai buah berkalori tinggi, lemak sehat, dan rendah gula. Sejumlah studi menunjukkan buah ini bisa menurunkan kolesterol, dan lutein darah.

8. Leci
Banyak mengandung vitamin C, potasium, serat, polyphenol (untuk bahan anti radang), dan antioksidan.

9. Nanas
Tinggi akan kandungan vitamin C dan mangan. Selain efektif untuk menjaga metabolisme tubuh dan gula darah, antioksidannya juga bagus untuk anti peradangan.

10. Stroberi
Kaya dengan vitamin C, folat, mangan, dan juga sarat dengan antioksidan. Buah ini juga tergolong rendah indeks glikemiknya sehingga tak berdampak pada gula darah.

11. Durian
Dengan aromanya yang khas, buah berduri ini banyak mengandung serat, potasium, mangan, vitamin C, B6, dan B1.

12. Ceri
Mengandung banyak serat dan potasium, yang baik untuk kesehatan jantung dan pencernaan tubuh. Antioksidannya juga efektif untuk mengatasi stres oksidatif.

13. Zaitun
Meski banyak diolah sebagai minyak, buah ini mengandung banyak vitamin E, lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat), dan tembaga. Buah ini sering disarankan untuk mengatasi kasus penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, dan kegemukan.

14. Semangka
Sumber antioksidan dan kaya dengan vitamin A, C, beta karoten, potasium, dan magnesium. Kandungan llikopennya juga efektif untuk menurunkan stres oksidatif, peradangan, risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes tipe 2.

15. Kiwi
Banyak mengandung vitamin C, buah ini juga kaya akan beta karoten, serat, potasium, folat, dan vitamin E. Buah ini berkhasiat terutama untuk masalah pencernaan (sembelit).

16. Peach
Kaya akan potasium, serat, vitamin A, C, E, beta karoten serta karotenoid. Kulitnya mengandung antioksidan tinggi.

17. Jambu biji
Jenis buah yang juga sarat dengan vitamin C. Satu jambu biji seberat 55 gram setara dengan 140 persen kebutuhan nutrisi sehari. Buah ini juga dikenal sebagai antioksidan, mengandung beta karoten, dan efektif untuk kesehatan mata, jantung, ginjal, dan kulit.

18. Anggur
Kaya akan potasium dan vitamin K. Jenis yang berwarna merah, ungu merupakan antioksidan yang tinggi. Buah ini sering disarankan untuk menurunkan risiko penyakit jantung, beberapa jenis kanker, dan kesehatan otak.

19. Delima
Dikenal sebagai antioksidan yang tinggi, buah ini efektif untuk sejumlah penyakit kronis.

20. Grapefruit
Jenis jeruk besar yang dagingnya merah keunguan ini kaya akan vitamin C, potasium, serat, dan beta karoten. Buah ini efektif untuk masalah kolesterol tinggi dan sejumlah peradangan.

Standar konsumsi buah dan sayur

Pada 11 November 2003, WHO dan FAO mengumumkan sebuah standar yang bertujuan untuk menaikkan konsumsi buah dan sayuran. Namun, upaya untuk mencapainya bukan hal yang mudah.

Pola makan sehat
Rendahnya kebiasaan makan buah dan sayur diperkirakan menyebabkan sekitar 2,7 juta kematian setiap tahunnya. Hal ini termasuk satu dari sepuluh penyebab faktor dalam mortalitas di berbagai belahan dunia. Fakta ini terungkap dalam pertemuan WHO Global Forum on Noncommunicable Disease” (Penyakit Tidak Menular, atau PTM) Prevention and Control” pada tahun 2002.

Konsumsi buah dan sayur sebetulnya terbukti menyehatkan sekaligus bisa melindungi warga dari berbagai penyakit. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang peduli dengan masalah (konsumsi) itu.

Dalam masalah itu, FAO dihadapkan pada tantangan untuk membuat masyarakat lebih peduli pada kebutuhan tersebut. Salah satunya adalah pola makan yang lebih sehat dan bergizi. Di tengah harapan itu, berbagai negara juga diharapkan menghasilkan produk hortikultura yang terjangkau harganya dan berkualitas baik. Artinya, sedikit menggunakan pestisida dan meminimalkan kerusakan buah akibat pascapanen.

Sekitar 60 persen dari kasus-kasus kematian secara umum disebabkan oleh penyakit tidak menular. Kondisi ini tak lepas dari pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik serta kebiasaan merokok. Konsumsi buah dan sayur secara teratur bisa menurunkan risiko PTM seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, obesitas, dan beberapa jenis kanker.

Kebutuhan mikronutrien

Laporan bertajuk “Joint FAO/WHO Expert Consultation on Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Diseases” merekomendasi minimum konsumsi mikronutrien sebesar 400 gram per hari.

Ukuran itu juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan mikronutrien  (zat gizi mikro), serat, dan substansi nonnutrisi yang juga bermanfaat. Konsumsi buah dan sayur juga bisa mengontrol tubuh dari bahaya konsumsi lemak, gula dan garam yang berlebihan.

Laporan FAO pada laman International Year of Fruits and Vegetables 2021, ditekankan bahwa konsumsi yang cukup, menghasilkan sejumlah manfaat, yaitu:

  1. Tumbuh Kembang Anak.
    Vitamin A, kalsium, besi dan folat, diketahui sangat penting untuk anak-anak. Selain menjadikan tubuh sehat, semua kandungan itu juga menjadi dasar untuk sistem imun yang kuat hingga dewasa.
  1. Panjang Umur
    Sejumlah studi di sepuluh negara di Eropa menunjukkan rutinitas orang-orang yang memiliki harapan hidup lebih panjang salah satunya rutin mengonsumsi sayur dan buah.
  1. Kesehatan Mental
    Konsumsi sekitar 7 sampai 8 porsi dalam sehari bisa menurunkan risiko depresi maupun kecemasan.
  1. Jantung yang Sehat
    Risiko terkena penyakit kardiovaskuler bisa dikurangi melalui kandungan serat dan antioksidan dari buah dan sayur.
  1. Minimalisir Kanker
    Sekitar 120-an studi tentang pola makan, konsumsi buah dan sayur terbukti menurunkan risko kanker paru, usus besar, payudara, rahim, oesophagus (kerongkongan), rongga mulut,  perut, kandung kemih, pankreas dan ovarium.
  1. Turunkan Risiko Obesitas.
    Konsumsi buah dan sayur juga bisa menjaga tubuh dari risiko adipositas dan kegemukan (obesitas).
  1. Kurangi Risiko Diabetes.
    Sejumlah daun hijau dan porsi buah yang banyak juga diketahui bisa mengurangi risiko diabetes tipe 2.
  2. Konsumsi sayur dan buah cenderung menjaga kesehatan usus dan memperbanyak bakteri yang bisa mengurangi inflamasi (peradangan), termasuk divericulosis.
  3. Meningkatkan Imunitas.
    Konsumsi buah dan sayur juga bisa mengurangi penyakit infeksi. Dalam konteks Covid-19, sayur dan buah memang tidak menyembuhkan, tetapi setidaknya mempercepat kesembuhan.

Di balik itu semua, masih ada masalah yang mengganjal. Walaupun banyak negara yang tinggi produksi buah dan sayuran, namun masih banyak orang yang kurang mengkonsumsinya. Ini terlihat pada negara-negara di Asia, Afrika, dan Eropa Timur dan Eropa Tengah. Kondisi itu juga dialami oleh masyarakat yang kondisi sosial ekonominya masih rendah.

Kurangnya konsumsi tidak lepas dari perilaku makan yang bisa dibilang cukup kompleks. Ada aspek fisik, biologis, historis, dan juga budaya. Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan perilaku tersebut.

Transportasi dan penyimpanan

Ketersediaan buah dan sayur erat terkait dengan kondisi musim. Ada sejumlah buah yang tidak bisa panen sepanjang tahun. Tidak jarang hal ini masih ditambah dengan daya tahan buah yang tak lama, sehingga jika tak cepat dikonsumsi akan busuk atau rusak. Selain itu, tidak semua wilayah yang mempunyai sistem transportasi dan fasilitas penyimpanan yang baik.

Keadaan demikian seringkali menyebabkan hambatan dalam perdagangan. Buah yang tidak bisa langsung tersedia seringkali menyebabkan permintaan yang rendah dan harga jual yang tidak menguntungkan. Ini juga menyebabkan insentif yang rendah bagi petani untuk menanam buah maupun sayur.

Ekonomi dan budaya

Kemiskinan juga harus diperhitungkan sebagai faktor penting. Bukan hal baru jika orang lebih memilih karbohidrat yang mengenyangkan seperti beras dan singkong. Jika masih ada sisa uang, digunakan untuk membeli sedikit sayur atau lauk yang terjangkau harganya.

Buah dan sayuran juga dipengaruhi oleh lingkungan maupun budaya setempat. Pengetahuan seseorang akan jenis makanan dan selera biasanya dimulai dari kehidupan seorang anak. Apa yang sehari-hari sejak kecil hingga dewasa kemudian menjadi identitas tersendiri.

Apa yang biasa mampu dibeli, ditambah selera pribadi tentunya, itulah yang menjadi pola makannya. Namun, hal ini mungkin saja berubah, salah satunya dengan meningkatnya penghasilan. Hal ini tidak jarang justru membuat orang lebih banyak mengkonsumsi pangan yang mengandung gula, garam, lemak tinggi.

Perubahan tersebut sebetulnya juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan seseorang. Kesenangan akan buah atau sayur tertentu biasanya lebih karena rasa yang enak. Namun, belum tentu banyak yang tahu tentang manfaatnya.

Contohnya, wanita hamil, ibu menyusui, atau penderita HIV/AIDS. Secara medis mereka membutuhkan nutrisi tinggi. Namun, kesadaran keluarga atau masyarakat sekitarnya yang rendah membuat kebutuhan itu tidak diketahui.

Aspek lain yang juga penting adalah persaingan para produsen makanan. Dengan banyaknya iklan makanan dan minuman yang sebetulnya mengandung lemak, gula, dan garam yang tinggi, bukan tidak mungkin, hal tersebut akan memengaruhi persepsi seseorang akan makanan yang ‘sehat’.

Persoalan konsumsi buah tidak hanya menjadi persoalan masyarakat sebagai konsumen. Mata rantai dan distribusi yang melibatkan petani, pengusaha, pedagang, dan tentu saja peran pemerintah menjadi faktor kunci meningkatkan konsumsi buah secara nasional. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close