Paparan Topik | Vaksinasi Covid-19

Autoimun dan Vaksinasi Covid-19

Peluang penyintas autoimun untuk mendapat vaksin Covid-19 tidak sama dengan mereka yang normal atau dalam kondisi sehat. Masih ada harapan dan optimisme bagi penyandang penyakit ini untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Seorang lansia beraktivitas di pasar lama, Kota Tangerang, Banten, Minggu (31/1/2021). Nyeri pinggang inflamasi (peradangan) merupakan penyakit autoimun di mana kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sehingga terjadi peradangan pada sendi tulang belakang. Nyeri ini patut diwaspadai karena dapat berakibat fatal. Tak hanya keterbatasan gerak, peradangan akibat autoimun bisa menyebabkan gangguan jantung dan pembuluh darah, saluran cerna, serta ginjal.

Fakta Singkat

Autoimun
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri.

Fungsi Autoimun

  • Salah satu fungsi autoimun adalah melindungi tubuh dari gempuran mikroorganisme asing, seperti virus, dan bakteri.
  • Jika ada serangan, sistem imun memproduksi antibodi atau sel darah putih (sensitized lymphocytes).
  • Dalam kondisi normal, respon imun tidak melawan sel-sel pertahanan yang ada dalam tubuh manusia.
  • Dalam kondisi tertentu, yang terjadi adalah sel-sel imun melakukan kesalahan dan menyerang sel-sel yang seharusnya dilindungi.

Jumlah Penyakit
Ada sekitar 100 penyakit autoimun di dunia. (American Autoimmune Related Diseases Association)

Perjalanan Indonesia dalam vaksinasi Covid-19 masih panjang. Data dinamis Kementerian Kesehatan per 15 Juli 2021 menunjukkan 19 per 100 penduduk sudah mendapatkan vaksin dosis pertama dan 7 per 100 penduduk sudah mendapatkan vaksinasi dosis kedua.

Di tengah belum meratanya target tersebut, target vaksinasi juga sempat menjadi perbincangan masyarakat. Pertengahan Juni lalu, pemerintah menyatakan, bahwa vaksin hanya diberikan pada orang sehat.  Ada sederet kriteria bagi yang tidak bisa menerima, salah satunya adalah yang menderita autoimun (AI).

Penderita autoimun, misalnya, disarankan untuk menunda, atau tidak langsung divaksin. Banyak yang berpendapat, vaksinasi justru melemahkan dan membuat penyandangnya lebih rentan terinfeksi virus corona.

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

Sekitar 100 penderita penyakit lupus dari 5.000 orang yang terdata di Indonesia, Selasa (10/5/2005) petang, berkumpul di Taman Ismail Marzuki. Mereka mencanangkan 10 Mei sebagai Hari Lupus Nasional-sama dengan Hari Lupus Sedunia-yang dicanangkan 2004. Acara dipimpin Tiara Savitri, pendiri dan Ketua Umum Yayasan Lupus Indonesia.

Apa itu Autoimun?

Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Kementerian Kesehatan menyebutkan terdapat lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala serupa, seperti kelelahan, nyeri otot, dan demam.

Pada kondisi orang normal, sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Ketika terserang organisme asing, sistem kekebalan tubuh akan melepas protein yang disebut antibodi untuk melawan dan mencegah terjadinya penyakit.

Namun, pada penderita penyakit autoimun kondisi itu terbalik, yang terjadi adalah pelepasan sejumlah protein, yang disebut autoantibodi, yang menyerang sel-sel sehat. Sebagian ada yang menyerang organ tertentu, sebagian lain menginvasi seluruh sistem tubuh secara sistemik. Dengan kata lain, sistem kekebalan tubuh melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing, sehingga antibodi yang dilepaskan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat tersebut.

Menurut American Autoimmune Related Diseases Association, ada sekitar 100 penyakit autoimun di dunia. Untuk Indonesia, jenisnya antara lain rheumatoid arthritis, sindrom sjögren, systemic lupus erythematosus (SLE), ankylosing spondilitis, myastenia gravis, penyakit  Crohn, kolitis ulseratif, trombositopenia autoimun (ITP), anemia hemolitik autoimun (AIHA), hepatitis autoimun, dermatomyositis, sindrom Guillain Barre, ensefalitis NDMA, dan berbagai kondisi autoimun lainnya.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) terbilang banyak diderita penduduk di berbagai negara. Penyakit ini pada awalnya lebih banyak terjadi di kawasan non tropis, namun sekarang juga banyak melanda wilayah tropis. Mengacu pada Lupus Foundation of America, diperkirakan ada sekitar 5 juta penduduk dunia yang mengalami penyakit.

Sejumlah referensi umumnya menyebut faktor komposisi genetik individu, lingkungan, dan hormonal sebagai penyebab Systemic Lupus Erythematosus ini. Dalam konteks autoimun, ada juga faktor lain seperti diet tinggi inflamasi. Contohnya, makanan ultra proses yang kaya dengan gula, lemak jenuh, gluten, dan berbagai zat inflamatorik lainnya.

Beragam penelitian tentang kasus infeksi kronik seperti Epstein Barr dan Cytomegalovirus menunjukkan bahwa ketidakseimbangan mikrobiom saluran cerna, kekurangan faktor nutrisi penting seperti Vitamin D, stres berkepanjangan, dan merokok yang berperan dalam timbulnya autoimun.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Staf Institut Biosains Universitas Brawijaya tengah melakukan uji produk, Senin (4/11/2019). Di tempat inilah test pack pendeteksi diabetes militus Biosains Rapid Test GAD65 diproduksi. Kit diagnostik ini merupakan produk pertama Universitas Brawijaya dan alat medis pertama yang diproduksi di dalam negeri untuk mengetahui potensi diabetes melitus tipe 1 serta Latent Autoimmune Diabetes in Adult (potensi diabetes akibat autoimun pada orang dewasa)

Vaksinasi dan Autoimun

Perjalanan Indonesia dalam vaksinasi Covid-19 masih panjang. Data laman covid19.go.id per 12 Juli 2021 menunjukkan vaksinasi dosis tahap pertama telah mencapai 36.368.191 dan vaksinasi dosis kedua telah mencapai 15.036.468. Pemerintah menargetkan angka vaksinasi secara nasional sebesar 181.554.469. Jika mengacu angka ini maka posisi penerima vaksin secara lengkap atau dosis kedua baru mencapai 8,2 persen. Perjalanan vaksinasi masih jauh dari target untuk mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

Di tengah belum meratanya target tersebut, target vaksinasi juga sempat menjadi perdebatan. Pertengahan Juni lalu, pemerintah menyatakan, bahwa vaksin hanya diberikan pada orang sehat Ada sederet kriteria bagi yang tidak bisa menerima, salah satunya adalah yang menderita autoimun (AI).

Penderita disarankan untuk menunda, atau tidak langsung divaksin. Berbagai kalangan di masyarakat berpendapat, vaksinasi justru melemahkan dan membuat penyandang autoimun lebih rentan terinfeksi virus corona.

Meskipun demikian, sejumlah dokter memberikan alasan yang berbeda apakah penderita autoimun bisa mendapat kesempatan yang sama. Perlu diketahui, salah satu hal mendasar dalam masalah penderita autoimun adalah konsumsi obat-obatan penekan sistem kekebalan tubuh atau imunosupresan.

Dengan ditekannya respons imun, berarti imunitas rendah. Faktor inilah yang diperlukan tubuh untuk merespons vaksin. Jika kondisi autoimun tidak berat, sebaiknya hentikan dulu imunosupresan. Kalau tetap mengoonsumsi, vaksin tak bermanfaat dan tidak bekerja.

Persoalan ini juga ditekankan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada 9 Februari 2021, yang kemudian direvisi pada 18 Maret lalu. Dalam lampiran rekomendasi, disebutkan bahwa yang memenuhi kriteria tidak layak divaksinasi coronavac adalah individu dengan imunodefisiensi primer atau disebut sebagai sistem kekebalan tubuh yang bekerja tidak benar terkait dengan penyebab komposisi genetik individu.

Kondisi Terkontrol

Sebetulnya penyintas autoimun merupakan kelompok yang justru harus didorong untuk divaksinasi. Kondisi autoimun merupakan keadaan yang menahun, dan sampai sekarang belum ditemukan metode pengobatan yang bisa menyembuhkan. Di samping itu, penyintas autoimun juga berisiko tinggi terinfeksi Covid-19.

Penyakit autoimun banyak menyerang wanita, terutama usia produktif, sehingga hal ini memang sangat berbahaya. Pada beragam kondisi, autoimun biasanya menyebabkan kerusakan sel jaringan dalam tubuh, peradangan, gangguan pada persendian, saraf, kelenjar, dan organ penting lainnya.

Namun, dengan diagnosis segera, pengobatan yang tepat, pengaturan gaya hidup yang sesuai dan dukungan keluarga serta sesama penyintas, sebagian besar Orang Dengan Autoimun (ODAI) bisa  menjalani hidup dengan sehat, produktif, dan kondisi penyakit yang terkontrol. Nyatanya cukup banyak yang bisa mencapai remisi (autoimun tidak aktif) dengan obat minimal atau bahkan tanpa obat.

Untuk kasus seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE), pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini juga bisa dibilang sudah lebih baik. Setidaknya ini bisa dilihat dari banyaknya edukasi sejumlah komunitas seperti Yayasan Lupus Indonesia, Yayasan Syamsi Dhuha, Marisza Cardoba Foundation, dan lainnya. Tetapi harus diakui, masih banyak misinformasi terkait autoimunitas secara umum, termasuk faktor-faktor penyebab, pencetus, cara diagnosis, dan pengobatannya.

Dalam konteks vaksin Covid-19, sampai sekarang memang belum ada pilihan khusus untuk penderita autoimun. Stevent Sumantri, dokter dan konsultan alergi imunologi Klinik RS Pendidikan Siloam menyatakan vaksinasi bisa diberikan kepada penyintas autoimun. Dengan catatan, sejauh kondisinya terkontrol, dan tergantung jenis penyakitnya, sehingga definisi terkontrol pada penyakit yang diderita bisa sangat berbeda. Dengan kata lain, layak tidaknya vaksinasi Covid-19 dikembalikan pada dokter yang merawat.

Selain itu, tidak semua imunosupresan merupakan kontraindikasi vaksin. Imunosupresan adalah golongan obat yang digunakan untuk menekan atau menurunkan sistem kekebalan tubuh. Stevent mencontohkan, jika tidak menggunakan steroid dengan dosis lebih atau sama dengan 20 mg per hari, atau penggunaan terapi target dengan rituximab, penyintas autoimun boleh divaksin. Sementara itu, yang mesti mendapat perhatian khusus adalah pengguna imunosupresan methotrexate di mana disarankan menunda satu dosis setelah vaksin.

Stevent menekankan, individu autoimun sebetulnya tetap memberikan respons yang baik terhadap vaksin, walaupun masih menerima imunosupresan. Sebuah studi vaksin Covid-19 di Eropa menunjukkan penggunaan vaksin yang beragam, mulai dari mRNA, viral vector hingga vaksin diinaktivasi (inactivated vaccine).

Studi Lupus Europe Survey Center (Vacolup) berjudul “Tolerance and consequences of Vaccination against COVID-19 in Lupus patients” pada Mei 2021 lalu, menunjukkan respon yang cukup baik. Mayoritas pasien penyandang Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang divaksin dengan Pfizer (55 persen), Moderna (8 persen), Astra-Zeneca (10 persen), Sinovac (26 persen), Janssen (1 persen) dan lainnya (0,6 persen) tidak banyak mengalami efek samping, baik pada tahap pertama maupun kedua.

Berdasarkan sejumlah data riset di Eropa, profil keamanan, efek samping, dan efektivitas sama seperti pada populasi pada umumnya. Studi Vacolup itu memperlihatkan, tidak ada kekambuhan lebih tinggi pada penyintas Systemic Lupus Erythematosus saat divaksin. Bahkan, sebelum Covid-19, vaksinasi influenza dan pneumonia sudah menjadi bagian esensial dalam pengendalian kekambuhan dan komplikasi pada pasien AI.

Dari sisi komorbid, kondisi autoimun bisa dibilang sejajar dengan pasien dengan kondisi kronik seperti kanker, DM, gangguan ginjal, jantung, dan lainnya. Ini juga berarti harus ada kontrol teratur dari dokter yang merawat, termasuk memastikan tidak ada kontraindikasi spesifik dari vaksin yang mungkin tidak terdeteksi sebelumnya.

Sumber: Vacolup Study

Vaksin untuk Pasien Lupus

Studi ini dilakukan pada sejumlah responden yang merupakan penderita autoimun SLE (systemic lupus erythematosus), sesuai dengan tema utamanya, Tolerance and consequences of Vaccination against Covid-19 in Lupus Patients (VACOLUP). Jumlah responden survei sebanyak 571 orang.

Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi efek samping apa saja yang mereka alami setelah setelah menerima vaksin Covid-19. Seluruh data diolah di Rheumatology Department of Strasbourg and The National Reference Center for Rare Systemic Autoimmune Diseases (RESO) di Perancis.

Dari 571 responden, jenis vaksin yang diterima adalah : Pfizer (55 persen), Moderna (8 persen), Astra-Zeneca (10 persen), Sinovac (26 persen), Janssen (1 persen), dan lainnya (0,6 persen).

Dari vaksinasi tahap pertama, mayoritas (46 persen) menyatakan tak banyak efek samping yang dirasakan. Kalaupun ada, sifatnya masih dianggap biasa (36 persen), sedangkan yang mengalami gejala tertentu hanya sekitar 18 persen. Gejala yang dimaksud adalah pusing, sakit pada otot, dan lainnya).

Pada vaksinasi taha kedua, prosentasenya relatif sama. Sebagian besar menyatakan sangat minim (42 persen), selebihnya biasa (39 persen), dan gejala tertentu (19 persen).

Walaupun begitu, ada juga sebagian yang mengalami efek semacam peradangan (flares) (3,5 persen) dan harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Pendiri Cahaya Foundation, Eka Diah Purwanti (47) posisi ketiga dari kiri, merupakan penderita penyakit autoimun yang aktif mendampingi pasien rumah sakit untuk mengurus penjaminan layanan kesehatan.

Jenis dan Tipe Autoimun

Jenis autoimun

  • Menurut laman The American Autoimmune Related Diseases Association terdapat sekitar 100 jenis autoimun.
  • Dari sekian fungsi, salah satu fungsi autoimun adalah melindungi tubuh dari gempuran mikroorganisme asing, seperti virus, dan bakteri.
  • Jika ada serangan, sistem imun memproduksi antibodi atau sel darah putih (sensitized lymphocytes).
  • Dalam kondisi normal, respon imun tidak melawan sel-sel pertahanan yang ada dalam tubuh manusia.
  • Dalam kondisi tertentu, yang terjadi adalah sel-sel imun melakukan kesalahan dan menyerang sel-sel yang seharusnya dilindungi.

Empat tipe penyakit (autoimun) Lupus

  1. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

Systemic Lupus Erythematosus menyerang jaringan dan organ tubuh dengan tingkat gejala ringan hingga parah.Gejalanya bisa muncul tiba-tiba atau berkembang perlahan, dan bertahan lama, atau bersifat lebih sementara, sebelum akhirnya kambuh lagi.

Tidak jarang wujud gejalanya adalah ringan dalam waktu lama, atau bahkan tidak sama sekali, sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Contoh gejala: rasa nyeri dan lelah berkepanjangan, sehingga sering menghambat rutinitas kehidupan. Akibatnya penderita SLE juga sering merasa tertetkan, depresi, maupun cemas kendati hanya mengalami gejala ringan.

  1. Chronic cutaneous lupus erythematosus

Jenis lupus yang cenderung menyerang kulit. Cirinya dikenali lewat ruam pada kulit dengan berbagai tampilan klinis. Dalam sejumlah kasus, tidak jarang mereka yang mengalami ini kemudian menderita SLE juga.

Lupus ini masih terbagi lagi menjadi tiga, yaitu chronic cutaneous lupus erythematosus (CCLE, atau Discoid Lupus Erythematosus), subacute cutaneous lupus erythematosus (SCLE), dan tumid lupus.

  1. Lupus imbas obat (drug-induced lupus erythematosus)

Ada sekitar 100 jenis obat yang bisa menyebabkan efek mirip gejala lupus pada orang-orang tertentu. Gejala ini biasanya akan hilang begitu konsumsi obat berhenti.

  1. Neonatal lupus erythematosus

Jenis lupus yang menyerang bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki autoantibodi tertentu. Beberapa istilah untuk autoantibodi ini adalah anti-Ro, anti-La, dan anti RNP. Lupus ini hanya menyerang kulit bayi dan cenderung hilang, kendati tanpa pengobatan.

  1. Lupus anak-anak (childhood lupus)

Cenderung terjadi pada anak laki-laki, dan menyerang organ tertentu seperti ginjal.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Seorang lansia berjalan di klenteng Boen Tek Bio, pasar lama, Kota Tangerang, Banten, Minggu (31/1/2021). Nyeri pinggang inflamasi (peradangan) merupakan penyakit autoimun di mana kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sehingga terjadi peradangan pada sendi tulang belakang. Nyeri ini patut diwaspadai karena dapat berakibat fatal. Tak hanya keterbatasan gerak, peradangan akibat autoimun bisa menyebabkan gangguan jantung dan pembuluh darah, saluran cerna, serta ginjal.

Autoimun pada Wanita

Sekitar 80 persen penyakit autoimun di dunia menyerang kaum wanita. Berikut ini jenis autoimun yang sering dialami wanita.

  1. Celiac disease

Penyakit ini cenderung merusak lapisan usus. Salah satu dampaknya adalah penderita tidak bisa mencerna bahan gluten yang banyak terkandung dalam gandum.

Penyakit ini bisa menyebabkan kelelahan luar biasa, nyeri pada bagian perut, kembung, diare maupun sembelit, gatal pada kulit, hingga kelumpuhan pada beberapa bagian tubuh.

  1. Guillain-Barre Syndrome

Penyakit ini menyerang saraf yang menghubungkan otak dan tulang belakang. Dampaknya adalah otak kesulitan memberi perintah pada saraf otot, sehingga bisa menyebabkan kelumpuhan.

  1. Hemolytic Anemia

Autoimun yang menghancurkan sel-sel darah merah, sementara tubuh tidak bisa cepat memproduksi sel-sel darah merah pengganti. Penderita biasanya mengalami kelelahan, pucat, mata dan kulit menguning.

  1. Idiopathic Thrombocythopenic Purpura (ITP)

Sistem kekebalan tubuh yang menyerang trombosit (yang bertugas sebagai pembekuan darah). Ini bisa menyebabkan pecahnya jaringan darah pada tubuh. Cirinya adalah bercak-bercak yang semakin lama semakin luas dan berwarna gelap pada kulit.

  1. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

Jenis lupus yang banyak menyerang hampir seluruh jaringan tubuh, antara lain sendi, paru-paru, ginjal, dan jaringan saraf.

  1. Multiple Sclerosis

Autoimun yang merusak lapisan pelindung di sekitar saraf, sehingga menyebabkan gangguan kerja otak dan saraf tulang belakang. Penderita umumnya mengalami kesemutan, mati rasa, sulit melakukan keseimbangan tubuh, hingga kelumpuhan.

  1. Psoriasis

Autoimun yang bercirikan penumpukan sel kulit. Ini terjadi akibat sel-sel kulit yang tumbuh dalam kulit berkembang leibih cepat dan naik ke permukaan, sehingga kulit menebal dan menumpuk di permukaan kulit. Kulit penderita cenderung seperti bersisik, bercak merah tebal, dan tumbuhnya sisik pada bagian kepala, siku, dan lutut, serta rasa gatal dan nyeri.

  1. Autoimun Hepatitis

Autoimun yang menyerang sel-sel hati dan sistem kekebalan tubuh, yang bisa mengakibatkan hati mengeras dan gagal hati.

  1. Antibody Syndrome (Antiphospholipid)

Jenis autoimun yang menyerang lapisan dalam pembuluh darah, sehingga menyebabkan pembekuan (darah) pada saluran darah (vena dan arteri).

Vaksinasi Covid-19

Pada lampiran rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi Covid-19 pada pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid edisi18 Maret  2021 disebutkan kriteria warga usia 18-59 tahun yang tidak layak untuk divaksinasi Coronavac adalah :

  1. Reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat akibat vaksin Covid dosis pertama, atau akibat dari komponen yang sama yang terkandung dalam vaksin Covid-19
  2. Individu yang sedang mengalami infeksi akut. Jika infeksi sudah teratasi, dapat dilakukan vaksinasi.
  3. Individu dengan penyakit imunodefisiensi primer.

Untuk warga usia > 59 tahun, kelayakan vaksinasi ditentukan oleh kondisi frailty (kerapuhan) dari individu bersangkutan.

Dari sisi komorbid, kondisi autoimun bisa dikatakan sejajar dengan pasien dengan kondisi kronik seperti kanker, diabetes melitus, gangguan ginjal, jantung, dan lainnya. Hal ini juga berarti harus ada kontrol teratur dari dokter yang merawat, termasuk memastikan tidak ada kontraindikasi spesifik dari vaksin yang mungkin tidak terdeteksi sebelumnya. (LITBANG KOMPAS)

Infografik: Gejala Penyakit Lupus

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close