Paparan Topik | Lebaran 2021

Ragam Perayaan Ramadhan dan Lebaran

Ramadhan dan Idul Fitri memiliki makna khusus dalam ajaran Islam bukan hanya membangun sisi spiritualitas umatnya, namun juga sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Persinggungan antara budaya tradisi lokal dengan nilai-nilai ke-Islaman justru memperkaya khazanah budaya lokal.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Pedagang menganyam janur menjadi kulit ketupat di lapak di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/5/2020). Menjelang Hari Raya Idul Fitri, penjual kulit ketupat musiman mulai bermunculan di Bekasi yang dijual Rp 1.000 per buah. Di tengah pandemi Covid-19 sesuai anjuran pemerintah untuk merayakan Idul Fitri di rumah, penjual kulit ketupat tetap berharap dapat meraup rezeki. Ketupat sebagai makanan tradisi hari raya Lebaran ini banyak dibuat mendekati waktu Lebaran.

Fakta Singkat

Tradisi Ramadhan dan Lebaran:

  • Memiliki makna khusus dalam ajaran Islam
  • Mengandung nilai sosial dan toleransi
  • Memperkaya khazanah budaya lokal
  • Memupuk kebiasaan berbagi
  • Melestarikan kuliner khas lokal tradisional
  • Membangun sisi spiritualitas umat

Sejumlah Tradisi Ramadhan dan Lebaran

  • Balimau, Teluk Kabung, Sumatera Barat
  • Sekura, Lampung Barat
  • Malam Selikuran, Yogyakarta
  • Gerebeg Syawal, Yogyakarta
  • Tumbilotohe, Gorontalo
  • Binarundak, Sulawesi Utara
  • Nyama Selam, Bali
  • Perang Topat, Lombok
  • Meriam Karbit, Pontianak
  • Meugang, Aceh
  • Sanggringan, Gresik

Idul Fitri secara semantik bermakna kembali kepada kesucian. Id artinya ’kembali’ dan fitri artinya ’suci’. Ramadan diimajikan sebagai modal rohaniah untuk mengembalikan rute manusia pada jalan kesadaran fitrah. (Kompas, Sabtu, 26 Jul 2014, Lebaran dan Kemajemukan)

Secara spiritual, Idul Fitri diartikan sebagai momen kemenangan bagi umat Islam, setelah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Ketika puasa, seseorang menahan lapar-haus sepanjang hari dan tidak melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa. Orang kaya bisa ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang hari-harinya penuh lapar dan haus, sementara si miskin bisa meningkatkan daya sabarnya di tengah kemiskinan dan kemelaratan yang melilitnya.

Tatkala puasa dijalankan, setiap orang diminta mengendalikan diri, baik secara fisik maupun hati dan pikiran, agar tak terjatuh pada dosa, baik dosa privat maupun dosa publik, sehingga bisa mengantar yang bersangkutan kepada “fitrah”-nya yang asal.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, lebaran tidak hanya merupakan “properti” atau hak milik umat Islam. Ia telah menjadi peristiwa sosial yang melibatkan umat agama lain. Idul Fitri tak lagi menjadi kegembiraan eksklusif mereka yang berpuasa, tetapi juga milik mereka yang sepanjang hidupnya tak pernah menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri tak hanya dirayakan para ulama dan kaum santri, tetapi juga kaum abangan. Kegembiraan lebaran dirasakan semua warga bangsa.

Beberapa potongan tradisi lokal yang mengisi keagamaan dan ke-Islaman tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, yang masing masing ritual tersebut terkandung  nilai-nilai sosial dan spiritual. Uniknya masing masing tradisi tersebut sangat lokal  dan berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, tetapi semua tradisi tersebut memiliki nilai yang sama yaitu menyambut bulan besar dalam Islam yaitu Ramadhan dan Syawal. 1 Syawal adalah perayaan Idul Fitri yang selalu disambut dengan sukacita bagi pemeluk agama Islam.

KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG

Peserta Grebeg Syawal mengangkut gunungan berupa hasil bumi dan makanan memasuki halaman Masjid Gedhe Kauman di kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (29/7/14). Grebeg Syawal adalah tradisi tahunan yang dihadiri ribuan warga. Acara itu digelar Keraton Yogyakarta sebagai rasa syukur dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Makna Istilah Lebaran

Lebaran berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan. Sedangkan Luberan bermakna meluber atau melimpah, layaknya air yang tumpah dan meluber dari bak air. (Dito Alif Pratama, UIN Walisongo, “Lebaran Ketupat dan Tradisi Masyarakat Jawa”, laman NU)

Pesan moral yang hendak disampaikan dari luberan adalah budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin, dengan begitu akan membahagiakan para fakir miskin dan diharapkan angka mengikis angka kemiskinan yang ada di negara kita.

Adapun Leburan berarti habis dan melebur. Yaitu momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari “nol” kembali.

Berikutnya adalah Laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini Laburan dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. Karena itu merupakan simbol kejernihan dan kesucian hati yang sebenarnya.

Baca juga: Lebaran di Era Kolonial: Dari Beduk hingga Ketupat Dadakan

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA

Warga mengikuti kenduri dalam tradisi bakda ketupat atau lebaran ketupat di Dusun Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (12/6/2019)

Lebaran Ketupat

Idul Fitri merupakan momentum suci bagi umat Islam usai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air tentunya memiliki cara tersendiri untuk menyambut datangnya hari kemenangan tersebut, begitupun masyarakat Jawa yang terbiasa melaksanakan Lebaran Ketupat.

Lebaran Ketupat kerap dianggap sebagai pelengkap hari kemenangan di hari raya. Masyarakat Jawa umumnya mengenal dua kali pelaksanaan Lebaran, yaitu Idul Fitri dan Lebaran ketupat. Idul Fitri dilaksanakan tepat pada tanggal 1 Syawal, sedangkan Lebaran ketupat adalah satu minggu setelahnya (8 Syawal).

Tradisi Lebaran ketupat diselenggarakan pada hari ke delapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama 6 hari. Hal ini berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunnah 6 Hari di bulan Syawal.

Dalam sejarahnya, Lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, saat itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Pada hari itu, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak.. Setelah masak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat aneka macam bentuk ketupat yang dimiliki tiap-tiap daerah yang juga memiliki arti dan maksud tersendiri. Sebut aja ketupat Bawang khas Madura, ketupat ini berbentuk persegi empat dan dianggap sebagai ketupat penyedap, sebagaimana bumbu masak berupa bawang.

Baca juga: Ramadhan dan Siasat Politik Pemerintah Kolonial

Ada juga Ketupat Glabed yang dipopulerkan oleh masyarakat Tegal. Kupat glabed adalah ketupat yang dimakan dengan kuah berwarna kuning kental. Sedangkan penamaan ketupat ini pun berasal dari ucapan orang Tegal yang mengekspresikan kekentalan kuah ketupat tersebut dengan istilah “glabed-glabed”.

Selain itu, ada juga Ketupat Bebanci khas Betawi, Sesuai dengan namanya, ketupat bebanci adalah masakan dengan unsur utamanya adalah ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan rempah-rempah.

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Ketupat Agung menjadi maskot dalam acara Lebaran Topat, yang dipusatkan di obye wisata Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, hari Jumat (22/6/2018).

Filosofi Ketupat

Penggunaan istilah ketupat dalam Lebaran ketupat tentu bukan tanpa filosofi yang mendasarinya, Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” (Mengakui Kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Prosesi ngaku lepat umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orangtuanya. Dengan begitu, kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua, tidak angkuh dan tidak sombong kepada mereka serta senantiasa mengharap ridho dan bimbinganya.

Hal ini merupakan sebuah bukti cinta dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya begitupun orang tua kepada anaknya.

Lebaran berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan. Sedangkan Luberan bermakna meluber atau melimpah, layaknya air yang tumpah dan meluber dari bak air.

Pesan moral yang dihendak disampaikan dari luberan adalah budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin, dengan begitu akan membahagiakan para fakir miskin dan diharapkan angka mengikis angka kemiskinan yang ada di negara kita.

Adapun Leburan berarti habis dan melebur. Yaitu momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari Nol kembali.

Berikutnya adalah Laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini Laburan dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. Karena itu merupakan simbol kejernihan dan kesucian hati yang sebenarnya.

Baca juga: Ramadhan, Bung Karno, dan Perjuangan Revolusi

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Warga berebut gunungan hasil bumi dan kupat dalam tradisi Seribu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/8/2014). Ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi Lebaran Ketupat yang dilakukan sepekan setelah Idul Fitri di Makam Sunan Muria.

Ramadhan di Sumatera Barat

Ramadhan menjadi bulan yang dinanti karena mengandung kebaikan di dalamnya, hal inilah yang diresapi oleh masyarakat di Kelurahan Sungai Pisang Teluk Kabung Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang, Sumatera Barat.  Di sana telah lama hidup tradisi Balimau yang dilakukan sehari menjelang  puasa Ramadhan dan di akhir Ramadhan.

Kegiatan yang di lakukan adalah  arak arakan warga di kampung yang membawa nampan yang disebut Balimau yang berisi dua nampan, dengan jambangan logam sebagai penghubung, dilengkapi dengan dua atau tiga gelas berisi air limau dan bedak tepung beras berhias janur kuning dan kain. Arak arakan kegiatan Balimau hanya berjarak 500 m saja, pada awal Ramadhan ritual itu sebagai simbol meninggalkan keburukan dan menyambut kebaikan bergerak ke arah  timur. Sedangkan pada penutupan Ramadhan arak arakan bergerak ke arah barat menandakan Ramadhan telah berakhir.

Baca juga: Tradisi Ramadhan di Tanah Air

Dalam Balimau mengandung unsur menghormati para ninik mamak yang dianggap sebagai pelindung keluarga besar, oleh sebab itu anak dan ponakan harus  menyediakan 4 Balimau yang masing-masing untuk datuk atau penghulu, orangtua, hulubalang, dan imam suku tersebut.  Sementara di penutup Ramadhan pada arak arakan Balimau dilakukan pagi hari pada 1 Syawal  sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri dan bergerak ke arah barat. Arak arakan di iringi oleh musik tradisional seperti talempong, gendang, tiupan dan pupuik darek dengan komposisi musik yang diselaraskan dengan gerak langkah konstan.

Di akhir kegiatan Balimau biasanya para ninik mamak mengusapkan air Balimau di kening masing masing yang kemudian diikuti oleh para kemenakan dan anak anak. Hal itu dilakukan sebagai simbol membersihkan diri dari keburukan untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dan pada akhir Ramadhan semua dosa terampuni dan kembali suci.

Tradisi Balimau juga diyakini  menjadi salah satu perekat silaturahmi, karena pada momen ini biasanya para perantau ikut terlibat untuk berkumpul bersama keluarga.

KOMPAS/INGKI RINALDI

Sejumlah warga Kelurahan Sungai Pisang Teluk Kabung Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (9/8), mengarak nampan berisikan gelar dengan air limau yang dihiasi janur dalam tradisi Balimau. Tradisi adat yang dilakukan secara turun-temurun itu dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan dan sebelum shalat Idul Fitri.

Ekspresi Topeng Sekura

Tradisi Pesta Topeng Sekura dikenal di Desa Kenali, Kecamatan Bebalau, Lampung Barat biasanya dirayakan pada hari kedua hingga ke tujuh Syawal atau tujuh hari setelah Lebaran. Dalam bahasa Lampung sekura artinya topeng, itulah sebabnya perayaan itu disebut dengan Sekura, karena harus mengenakan topeng dengan berbagai ekspresi wajah.

Pesta yang hanya diikuti oleh laki-laki tersebut  diyakini telah lahir sekitar abad ke-9 Masehi ketika penyebaran Islam di mulai di Provinsi Lampung. Saat itu terjadi perang saudara antara penganut animisme Ratu Sekerumong dengan penganut Islam pimpinan Maulana Penggalang Paksi bersama empat putranya yaitu  Maulana Nyerupa, Maulana Lapah Liwai, Maulana Pernong dan Maulana Belunguh. Kelompok Islam menggunakan topeng agar dapat membedakan dengan lawannya yang masih terbilang saudara.

Sekura mengenal dua jenis topeng yaitu sekura kamak yang  artinya buruk atau kotor,  dipakai pria dewasa terbuat dari kayu dengan hiasan dedaunan ataupun sulur menjuntai dan pakaian compang camping. Kedua adalah sekura betik, artinya bersih biasa dipakai untuk remaja topengnya terbuat  dari kain dilengkapi kacamata hitam.

Sekura diramaikan dengan ajang perlombaan, biasanya Panjat Pinang dengan beragam hadiah  hasil sumbangan warga desa,  biasanya dilakukan secara bergantian di beberapa desa. Dengan demikian mereka bisa saling mengunjungi perayaan Sekura di tetangga desanya maka silaturahim pun terbangun. Perayaan Sekura juga menjadi magnet bagi para perantau untuk selalu kembali ke kampung halaman mengunjugi kerabat dan sanak famili.  Kini Perayaan Sekura melambangkan perjuangan berperang melawan hawa nafsu saat bulan Ramadhan sekaligus ajang silaturahim sesama warga desa ataupun antar desa.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Suasana silaturahmi Idul Fitri di Lampung Barat yang dikemas dalam pesta sekura di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Lampung Barat, Sabtu (18/7/2015). Saat Idul Fitiri, warga Lampung Barat saling mengunjungi antar desa menggunakan sekura (topeng). Tradisi sakura diturunkan sejak abad ke 9, saat itu terjadi perang saudara antara pengikut Ratu Sekerumong dan pengikut Maulana Penggalang Paksi.

Refleksi Malam Selikuran

Adalah kegiatan di bulan Ramadhan dalam rangka mendekatkan diri pada  Yang Maha Kuasa. Kegiatan yang dilakukan yaitu membaca  Al Quran, qiroah, tausiah, zikir, istighfar, doa, dan diakhiri dengan berbuka puasa bersama, setelah melaksanakan  sholat Maghrib para hadirin akan mendapatkan  besek  atau kotak makanan untuk dibawa pulang.

Selikur artinya artinya 21 karena kegiatan tersebut dilaksanakan pada puasa ke 21 atau sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan  dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar.  Dahulu kala awal-awal tradisi itu dijalankan biasanya Sultan membaca Al Quran di Masjid Gedhe Kauman dengan diarak para Abdi Dalem, dan sepanjang jalan dari menuju masjid dipasang lampu lampu  menyemarakkan suasana.

Kini Tradisi malam Selikuran ini  menjadi salah satu bentuk pelestaran tradisi Islam kesultanan Yogyakarta, selain juga untuk menunjukkan bahwa Sultan adalah pemimpin pemerintahan dan pemimpin keagamaan. Biasanya para Abdi Dalem Keparak mulai menyelakan lampu lampu atau lilin di Keraton Kilen,  dua lilin di Gedhong Sedahan, 13 lilin di Gedong Prabayaksa, satu di Bangsal Pengapit dan empat di Bangsal Kencana.  Lilin yang berada di gerbang menuju Keraton Kilen disertai dengan cawan berisi bunga dan bokor berisi air. Lilin menjadi simbol penerangan dan air dimaknai sebagai pemberi ketentraman hati dan bunga memancarkan keharuman.

Grebeg Syawal

Grebeg Syawal merupakan kegiatan yang dilakukan Keraton Yogyakarta sebagai tanda  menyambut Idul Fitri tepatnya 1 Syawal yaitu arak arakan Gunungan Lanang yaitu sayur sayuran yang dibentuk seperti gunung. Ritual Keraton Yogyakarta ini selalu menarik perhatian warga masyarakat di kota itu karena masyarakat lokal percaya bahwa Gunungan Lanang itu membawa ketentraman dan keberkahan jika bisa mendapatkan sayuran dari gunungan tersebut. Maka dari itu tidak mengherankan jika warga Yogyakarta rela berdesak desakan untuk mendekati gunungan  mengambil sebagian dari sayuran tersebut.  Arak arakan gunungan tersebut dikawal dan dilakukan oleh para abdi keraton yang  dibawa keluar dari keraton menuju masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.

 

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Umat Islam di Yogyakarta memiliki cara tersendiri untuk menyongsong malam kedua puluh satu Ramadhan yang dalam masyarakat Jawa dikenal dengan “malem selikuran”. Salah satunya adalah dengan Kirab Obor dan Budaya Islami, yang dimotori oleh Forum Silaturahmi Pariwisata Indonesia (Fosipa) di Jalan Malioboro Yogyakarta, Kamis (10/9/2009) dinihari.

Lentera Tumbilotohe dari Gorontalo

Tumbilotohe artinya penerang, adalah tradisi yang telah ada secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat Gorontalo termasuk orang Gorontalo yang tinggal di Manado, yaitu menyalakan lampu atau  dian kecil yang mulai dilakukan tiga hari menjelang Idul Fitri. Penerangan kecil atau kata lain dian adalah penerangan konsep sederhana yang menggunakan botol bekas di isi minyak damar atapun minyak kelapa atau minyak tanah dengan kain atau sumbu untuk di bakar. Dahulu sumber dian menggunakan damar dan sejenis janur yang disebut daun Woka yang harum jika dibakar. Konon Tumbilotohe sudah dilakukan sejak abad XV masehi sebagai lampu jalan agar mudah menuju masjid ataupun ketika membagikan zakat fitrah pada malam hari.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI

Zainuddin Husain (42) menyalakan lilin yang terpisah ke dalam 14 gelas di depan rumahnya di Ketang Baru, Singkil, Manado, Sulawesi Utara, Senin (3/6/2019). Tradisi yang disebut Tumbilotohe ini dalam bahasa Gorontalo, secara harfiah, berarti menyalakan lampu. Tradisi ini dilakukan pada malam ke-27 Ramadhan yang bertepatan dengan malma pewahyuan atau lailatulkadar.

Binarundak dan Nasi Jaha

Dalam masyarakat Motoboi Besar Sulawesi Utara memasak nasi Jaha bersama sama menjadi kegiatan menyenangkan. Tradisi yang dilakukan selama tiga berturut turut setelah Idul Fitri ini mengangkat penganan tradisional yaitu beras ketan yang diberi bumbu, santan dan jahe kemudian dimasukkan dalam batang bambu yang telah dilapisi daun pisang.  Kemudian bambu tersebut dibakar dengan serabut kelapa, setelah matang maka nasi Jaha dinikmati bersama sama warga desa. Kebersamaan dan mengucapkan rasa syukur menjadi inti dari perayaan Binarundak biasanya para perantau akan merindukan suasana kampung halaman dan kehangatan sosial.

Nyama Selam Potret Keberagaman

Nyama Selam adalah sebutan orang Bali untuk menyebut orang muslim di sana, hingga ada istilah perayaan Nyama Selam. Yang paling khas adalah “ngejot” yaitu tradisi berkirim makanan sebelum hari raya masing masing, semisal orang muslim akan mengirim makanan pada tetangga satu hari sebelum Idul Fitri.  Tradisi ngejot ini telah berlangsung sejak Bali masih berbentuk kerajaan dan hal itu ditemukan hampir di seluruh Pulau Bali. Jika orang Muslim memberikan makanan menjelang Idul Fitri maka orang Hindu akan membalas dan mengirim makanan sebelum perayaan Nyepi atau Galungan. Oleh karena itu kegiatan Nyama Selam sarat dengan toleransi dan keberagaman.

Lebaran Topat di Lombok

Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat umat Hindu dan Islam berdampingan dengan damai, dan kerukunan itu terjalin dengan sebuah permainan yaitu saling melempar ketupat. Ketupat adalah makanan khas saat Idul Fitri, maka Lebaran Topat adalah momen Perang Topat menjadi festival lempar ketupat masyarakat pada saat Lebaran yang dilakukan oleh masyarakat muslim dan Hindu.  Kegiatan itu dilakukan setelah selesai berdoa dan berziarah di Makam Loang Baloq di kawasan Pantai Tanjung Karang dan Makam Bintaro di kawasan Pantai Bintaro.

Festival Meriam Karbit di Pontianak

Festival meriam karbit yang digelar Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat biasanya dilakukan di tepi Sungai Kapuas, yang  digelar 3 hari yakni sebelum, saat, dan sesudah Lebaran. Dahulu konon kabarnya meriam digunakan masyarakat untuk mengusir hantu atau kuntilanak agar tidak mengganggu manusia. Meriam dibuat dari batang pohon kelapa atau kayu durian untuk menjadi meriam yang panjang dan lebar dengan biaya pembuatan sekitar Rp 15 – 30 juta. Kini meriam karbit telah menjadi bagian kesenangan warga Pontianak dengan menjadikan meriam karbit sebagai ajang perlombaan dalam festival.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Meriam karbit disiapkan di sepanjang Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (3/6/2019). Meriam itu akan dipakai dalam Festival Meriam Karbit pada malam takbiran, Selasa (4/6/2019). Festival diikuti oleh 39 kelompok dengan meriam sebanyak 259 buah.

Tradisi Meugang

Di Provinsi Aceh tradisi Meugang berlangsung bersamaan dengan masuknya Islam ke wilayah pesisir barat itu. Dahulu kala Meugang adalah kegiatan yang dilakukan  Sultan Aceh untuk berbagi makanan yaitu daging merah pada semua warga, karena daging adalah makanan mewah sehingga rakyat biasa jarang menikmati santapan tersebut. Tradisi tersebut telah berlangsung ratusan tahun dan  bukan lagi menunggu sedekah daging merah tetapi setiap keluarga akan berupaya menyediakan masakan berbahan daging. Meugang di Aceh dilaksanakan menjelang puasa, menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, oleh karena itu masyarakat berbondong bondong membeli daging sapi ataupun daging kerbau.

Daging tersebut dimasak dengan beragam jenis masakan, di Pidie Bireun masakan daging dibuat sebagai kari dan sop daging, sementara itu kari sendiri bisa berbeda beda tiap wilayah ada yang memasak bumbu merah maupun bumbu putih. Di Aceh Besar biasanya saat meugang daging diolah menjadi daging asam keueung, rendang dan sop daging serta sie ruboh atau daging masak cuka.  Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan dibuat gulai bumbu merah dengan rasa pedas, sesuai dengan selera asli masyarakat Minang, karena di wilayah tersebut adalah warga Aceh keturunan Minang.

Selain daging merah, di Aceh juga biasa menyediakan jajanan khusus pada perayaan Meugang yaitu tape (ketan yang difermentasi), lemang yaitu ketan yang dimasukkan dalam bambu dan dipanggang serta timpan yaitu makanan yang terbuat dari tepung ketan dengan isi sarikaya atau kelapa muda dan dibalut daun pisang yang dikukus.

Simak Galeri Foto: Tradisi Menjelang Puasa

Meugang menjadi momen berkumpul anggota keluarga, para perantau biasanya akan pulang saat meugang, bahkan di beberapa kampung menantu harus membawa daging untuk mertuanya. Meskipun harga daging sangat mahal saat perayaan meugang masyarakat Aceh tetap menyambut momen yang hanya tiga kali dalam setahun. Maka sudah terbiasa bagi orang Aceh untuk menyiapkan dana jauh-jauh hari agar dapat membeli daging merah saat meugang.

Selain itu di Aceh memiliki tradisi memasak kari dalam jumlah sangat besar pada saat Nuzulul Quran, hal itu dimaksudkan untuk berbagi pada fakir miskin, janda dan yatim agar semuanya ikut menikmati  kari atau gulai lezat  daging merah, baik sapi, kambing dan kerbau.

KOMPAS/ZULKARNAINI

Pasar daging di Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh, Senin (12/4/2021). Perayaan hari meugang membuat harga daging di Aceh melonjak.

Kolak Ayam khas Gresik

Sanggringan adalah makanan khas di wilayah Gresik, Jawa Timur, dengan bahan dasar ayam kampung yang dimasak dengan citarasa manis seperti kolak, hingga sanggringan disebut sebagai kolak ayam. Masakan ini merupakan tradisi  zaman dulu. Konon dahulu sanggringan awalnya dibuat untuk Raja yang sudah lama menderita sakit tidak kunjung sembuh. Suatu ketika sang raja bermimpi mendapat petunjuk memasak ayam kampung yangdiberi bumbu dengan gula merah yang manis. Maka dimasaklah ayam tersebut dengan bumbu jintan, bawang daun, kelapa dan gula merah, setelah matang Sunan meminta beras ketan untuk disantap bersama Sanggringan.

Sanggringan bukan hanya sekedar masakan, ia memiliki nilai sosial karena Sunan menghendaki agar warganya ikut menikmati makanan tersebut. Hingga menjadi tradisi untuk memasak Sanggringan dalam jumah besar setiap tanggal 23 Ramadhan. pada perkembangannya kemudian tradisi Sanggringan tidak hanya dimiliki kaum keraton, masyarakat pun  memupuk kebiasaan berbagi tersebut dengan secara kolektif melakukannya di masjid  warga. Agar dapat dibagi  lebih banyak dan mudah bercampur nasi maka ayam Sanggringan dijadikan ayam suwir, kemudian dibagikan dalam acara berbuka puasa bersama.

KOMPAS/ADI SUCIPTO

Bapak-bapak di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (11/8/2012) memasak kolak ayam untuk buka puasa bersama di Masjid Jami’ Sunan Dalem. Tradisi kolak ayam atau sanggringan sudah berlangsung 487 tahun sejak 22 Ramadhan 946 Hijriyah.

Referensi

Surat Kabar

Tradisi Balimau, Membuka dan Menutup Ramadhan, Kompas, 12 Agustus 2010

Kemeriahan Topeng Sekura, Kompas, 21 Juli 2015

Maksuba dan Punggawa Dapur Lebaran, Kompas, 22 Juli 2015

Merawat Akar Lewat Ramadhan, Kompas 8 Juni 2019

Meugang, Tradisi Warisan Sultan, Kompas, 19 Mei 2019

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close