Paparan Topik | Kesehatan

Pengaruh Pandemi pada Kesehatan Mental

Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak guncangan yang bisa mempengaruhi kesehatan mental. Menurunnya kondisi kesehatan mental yang berlarut-larut, bagi sebagian orang, dapat berdampak menurunkan produktifitas dan kualitas hidup.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Komunitas Yoga Gembira melakukan kegiatan senam yoga bersama di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/8/2018). Selain dapat menguatkan, menyehatkan dan merelaksasi otot, sendi dan tulang, yoga juga dilakukan untuk menenangkan jiwa.

Fakta Singkat

  • Pandemi Covid-19 mempengaruhi kesehatan mental yang memicu kelelahan mental.
  • Kelelahan mental dapat diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak seimbang antara pekerjaan dengan kehidupan personal.
  • Masih banyak propinsi yang tidak menyediakan ketersediaan penyelenggaraan kesehatan jiwa di puskesmas.
  • Dalam tiga dekade terakhir penderita depresi di Indonesia terus meningkat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata jiwa memiliki arti roh manusia yang ada dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup. Jiwa juga diartikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran, dan angan-angan.

Definisi kesehatan mental yang baik menurut Kementerian Kesehatan yaitu ketika seseorang berada dalam kondisi batin yang tenang dan tenteram, hingga memungkinkan menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitarnya. Jika seseorang memiliki mental yang sehat ia akan mudah membangun hubungan yang positif dengan orang lain dan kuat dalam menghadapi tantangan hidup serta mampu memiliki kehidupan karir yang baik.

Pribadi yang bermental sehat mampu membangun hubungan yang positif dengan orang dan dan menggunakan potensi secara maksimal dalam menghadapi masalah hidup. Sedangkan pada orang yang kesehatan mentalnya terganggu maka akan menghadapi situasi yang tidak stabil pada emosi, suasana hati serta kendali emosi yang mengarah pada perilaku buruk. Lebih jauh, kesehatan mental yang bermasalah akan merusak kehidupan sehari-hari bukan hanya hubungan dengan orang lain juga prestasi dan produktifitas dalam hidupnya.

Jiwa manusia ibarat spon (karet busa) yang menyerap apapun yang masuk ke dalamnya. Beragam kejadian dan peristiwa yang terjadi dapat mempengaruhi emosi manusia. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi baik pekerjaan maupun kehidupan pribadi akan berpengaruh pada jiwa manusia. Demikian pula dengan berbagai paparan informasi baik dari media online atau media apapun semuanya akan terserap dalam pikiran. Berita negatif akan mempengaruhi emosi kita demikian pula dengan berbagai peristiwa dalam keseharian.

Kesehatan Mental

Menurut Institute for Health Metrics and Evaluation, tubuh kita dikelilingi oleh medan energi tak terlihat yang sering terbuka atau mendengarkan musik tertentu bisa mengisi medan energi kita. Sementara kata-kata atau pikiran negatif, emosi orang lain, alkohol, penyakit, dan trauma punya dampak menghabiskan energi. Umumnya kesehatan mental  berkaitan dengan banyak hal, seperti keinginan, ketertarikan, dan rasa frustrasi yang biasanya berhubungan dengan kebutuhan akan kebebasan.

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) juga menyatakan  lebih dari 792 juta penduduk dunia berhadapan dengan kesehatan mental, dan yang paling sering dialami adalah gangguan kecemasan dan depresi.

Depressi dan gangguan kecemasan banyak terjadi di negara maju dengan prevalensi cukup tinggi yaitu 14-16 persen, yaitu di negara Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat dan Belanda. Prevalensi gangguan kesehatan mental yang tinggi juga dialami di negara-negara yang rawan konflik dan minim kebebasan seperti Afghanistan, Brasil, Iran dan Libya. Sementara itu di Indonesia dalam tiga dekade terakhir prevalensi masalah kesehatan mental terus meningkat.

Saat ini Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20 persen populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa.

Menurut IHME, pada tahun 2017 gangguan jiwa cukup banyak dialami di Indonesia diantaranya gangguan cemas, depresi, skizofrenia, bipolar, gangguan perilaku, autis, gangguan perilaku makan, cacat intelektual, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Dalam tiga dekade  gangguan depresi akan menjadi persoalan utama masalah kesehatan jiwa di Indonesia.

10 Besar Penyakit Mental di Indonesia

NoTahun 1990Tahun 2017
1DepresiDepresi
2AnsietasAnsietas
3Gangguan PerilakuSkizofrenia
4SkizofreniaGangguan Mental
5Gangguan MentalBipolar
6BipolarGangguan Perilaku
7Gangguan IntelektualSpektrum Autisme
8Spektrum AutismeGangguan Makan
9Gangguan makanGangguan Intelektual
10ADHDADHD

Sumber : Institut of Health Metric and Evaluation 2017

Sementara, menurut Hasil Riskesdas 2018 memperlihatkan bahwa penderita depresi di Indonesia sudah dialami anak usia remaja (15-24 tahun) dengan prevalensi 6,2 persen, prevalensi terus bergerak naik sesuai  dengan peningkatan usia yaitu : 55 – 64 tahun sebesar 6,5 persen, 65-74 tahun 8,0 persen  dan usia di atas 75 tahun sebesar 8,9 persen.

Prevalensi Depresi menurut kelompok umur

Usia 15-2425-3435-4445-5455-6465-74>75
Persen6,25,45,66,16,58,08,9

Sumber : Riskesdas 2018

Sedangkan di masa  pandemi semua keinginan dan kebutuhan terkendala oleh situasi yang tidak menguntungkan, terkendala karena kemampuan finansial maupun sosial. Hal itu mempengaruhi kondisi kesehatan mental masyarakat, orang cenderung mudah stress baik karena pembatasan kontak fisik dan menurunnya kemampuan daya beli.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Stan cek-up mental disediakan dalam acara festival yang mengambil tema “Mental Health among Youth” di Indonesian Medical Education and Research Institute (Imeri) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Kelelahan Mental

Menurut ahli isolasi fisik ataupun sosial, yang dialami kebanyakan orang di masa pandemi mendorong munculnya perilaku doomscrolling atau doomsurfing.

Doomscrolling merupakan istilah yang menggambarkan kecenderungan menelusuri media sosial secara terus-menerus, terutama mengakses berita negatif. Karena isolasi ini membuat seseorang menjadi tidak mau kehilangan apa yang sudah ada sebelumnya, baik secara sosial maupun fisik. Sehingga salah satu cara didapat  melalui media sosial, termasuk membuat perilaku scrolling atau surfing.

Doomscrolling dilakukan untuk menutup kecemasan dengan sesuatu yang lebih kuat, seperti sesuatu yang buruk. Perilaku ini memiliki efek negatif bagi kesehatan baik fisik maupun mental.

Menurut Prof Dr Jeremy Huckins dari Departemen Psikologi dan Neurosains, Dartmouth College Hanover, Amerika Serikat, situasi  pandemi membuat kesehatan mental mahasiswa terganggu.

Perubahan pola hidup dan berbagai informasi negatif meningkatkan rasa kecemasan mahasiswa, hal itu dialami sekitar 40 persen mahasiswa Indonesia akibat pandemi Covid-19. Hal yang sama terjadi  di Bangladesh,  lebih dari 50 persen mahasiswanya mengalami kecemasan yang berlebih. Kecemasan berlebih juga menimpa sekitar 25-50 persen mahasiswa di China.  Gangguang kejiwaan seperti depresi dan ansietas telah menjadi gejala global akibat pandemi.

Namun demikian, tidak dimungkiri di berbagai belahan dunia masyarakat banyak yang harus kehilangan pekerjaan dan penghidupan seperti sebelum pandemi. Kondisi ini tentunya banyak berpengaruh pada kondisi kesehatan mental seseorang, hingga akhirnya terjadi kelelahan mental karena tekanan hidup.

Kelelahan mental seringkali ditandai dengan rasa kelelahan yang sangat pada tubuh, kualitas tidur menurun drastis, nyeri otot dan nyeri sendi serta  gejala lain yang memburuk ketika melakukan banyak aktifitas.

Jika dibiarkan berlangsung cukup lama maka akan terjadi kelelahan mental kronis, penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya keseimbangan hidup dan bekerja. Misalnya, kerja tanpa henti, kekhawatiran keuangan, tanggungjawab rumah tangga, ataupun ketidakpuasan dengan satu atau beberapa bidang kehidupan. Selain itu juga jika tiba-tiba terjadi perubahan hidup yang besar secara mendadak.

Gejala mental yang tidak sehat antara lain:

  • Perubahan sifat misalnya, jika awalnya ceria menjadi lebih pendiam
  • Merasa cemas/ketakutan terhadap suatu hal
  • Sering sakit/imunitas tubuh menurun
  • Perubahan pola tidur, ataupun insomnia
  • Menjadi pribadi yang moodian (mood tidak teratur)

Mengatasi Kelehatan Mental:

  1. Menghilangkan sumber stress
    Cara ini akan sangat tergantung pada sumber masalahnya
  1. Istirahat dari kesibukan harian.
    Istirahat akan sangat membantu meredakan perasaan lelah mental. Hal itu dapat dilakukan dengan mengambil jeda/liburan panjang dari tugas selama beberapa hari, atau menonton video, berkumpul dengan teman, atau makan bersama keluarga.
  1. Membuat jurnal harian
    Dalam mengisi jurnal berfokus pada hal-hal positif yang kita miliki selain juga berbagai persoalan yang dihadapi.
  1. Mencapai tidur yang berkualitas.
    Tidur berkualitas sangat penting untuk  meningkatkan kesehatan fisik selain kesejahteraan mental emosional.
  1. Relaksasi dengan melakukan self hipnosis, seperti senam yoga, tai-chi, dan aromaterapi.

Selain itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi beban kerja pada mental dan pikiran. Beberapa langkah yang bisa dilakukan yakni mengurangi paparan informasi yang masuk lewat mata dan telinga kita seperti media sosial.  Pikiran yang terus menerus menerima konten yang negatif akan menguras proses kognitif dan emosional. Hal itu akan mengganggu kualitas tidur sehingga dibutuhkan jeda agar stress berkurang.

Upaya lainnya yakni membuat rutinitas positif malam hari.  Melakukan rutinitas ringan yang positif  di malam hari akan membuat pikiran dan tubuh lebih rileks. Hal itu dapat dilakukan dengan menonton film ringan bertema komedi dan menghindari menonton film yang bertema horor ataupun kekerasan. Selain itu menulis jurnal atau catatan harian mampu membuang rasa lelah dan membangun kesadaran diri lebih baik.Selain itu, melakukan pekerjaan ringan seperti merawat tanaman dan hewan peliharaan akan membangkitkan motivasi diri.

Relaksasi seperti senam yoga, meditasi, dan latihan pernapasan penting untuk mengurangi ketegangan pikiran dan emosi. Melatih rasa syukur akan meningkatkan zat kimia maupun hormon yang baik di dalam tubuh.

Kunci meningkatkan kesehatan mental lainnya adalah mengurangi penyebab stress. Tentu saja kita harus mengenali penyebab stress pada diri kita sehingga kita mampu mengurangi penyebab stress itu sendiri. Dalam masyarakat yang kurang peduli pada kesehatan jiwa seringkali mengabaikan kelelahan mental yang dianggap remeh. Padahal jika dibiarkan akan mengakibatkan akan mengganggu kesehatan mental.

Sementara itu bagi yang sedang berada dalam kondisi perawatan kesehatan mental, maka ia harus memperhatikan kondisi kesehatan mentalnya dengan tetap mengikuti petunjuk spesialis kesehatan jiwa. Dalam kondisi demikian maka penting baginya untuk menjali komunikasi sosial dengan lingkungan terdekat agar mengurangi efek negatif pada stabilitas emosinya.

Situasi pandemi dapat menciptakan rasa cemas, takut dan ansietas, bahkan rasa terasing  maka pengobatan atau bahkan terapi harus menjadi prioritas. Dalam hal ini dukungan lingkungan sosial dan keluarga bagi yang memiliki masalah kesehatan mental di masa pandemi menjadi sangat penting.

Dalam laman resmi WHO diulas tentang pentingnya menjaga Kesehatan mental di masa pandemi, yang dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu :

  • Mematuhi aturan. Mengikuti aturan yang ditetapkan di setiap wilayah masing-masing dengan memantau informasi dari sumber yang resmi.
  • Lakukan rutinitas harian jika perlu buatlah rutinitas baru yang mendukung Kesehatan. Contohnya : bangun pagi dengan waktu yang sama, menjaga kebersihan diri, mengonsumsi makanan sehat, olahraga rutin, menyediakan waktu bekerja dan istirahat yang seimbang dan melakukan hal ringan dan menyenangkan.
  • Mengurangi kebiasaan mengonsumsi berita negatif
  • Menjaga kontak sosial dengan telepon atau online
  • Mengurangi minuman beralkohol dan menghindari narkoba
  • Mengurangi menatap layar komputer atau gawai terus menerus

KOMPAS/ELOK DYAH MESSWATI

Paguyuban Penyembuhan Alternatif Indonesia di Jakarta, Selasa (18/1/2005) mengadakan terapi tertawa. Belasan anggota paguyuban turut tertawa bersama di bawah pengawasan pelatih Armand Archisaputra, pendiri Klub Tawa Seuri Euy. Terapi tertawa bisa mencegah serangan jantung disamping untuk kesehatan jiwa dan raga, seperti dikemukakan pada hasil penelitian dari Dr.M. Miller, Direktur Centre for Preventive Cardiology Maryland Medical Centre Baltimore AS.

Dalam laman Kementrian Kesehatan disebutkan secara umum gangguan kesehatan mental ada tiga jenis yaitu stress, gangguan kecemasan dan depresi.

Stres
Stres merupakan keadaan seseorang berada dalam tekanan emosional seperti gelisah, cemas, dan mudah tersinggung, hingga mengganggu konsentrasi, mengurangi motivasi. Perubahan akibat stres :

  • Menjadi penyendiri dan enggan berinteraksi dengan orang lain.
  • Enggan makan atau makan secara berlebihan.
  • Marah-marah, dan terkadang kemaharan itu sulit dikendalikan.
  • Menjadi perokok atau merokok secara berlebihan.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Penyalahgunaan obat-obatan narkotika.

Perilaku stres juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik, yaitu : gangguan tidur, lelah, sakit kepala, sakit perut, nyeri dada, nyeri atau tegang pada otot, penurunan gairah seksual, obesitas, hipertensi, diabetes dan gangguan jantung.

Dalam kehidupan sehari-hari termasuk tekanan pekerjaan sulit menghindari tekanan stress, oleh karena itu perlu dilakukan manajemen stres yang baik, seperti :

  • Selalu berpikir positif
  • Belajar menerima suatu masalah atau hal-hal yang tidak dapat diubah
  • Belajar mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi.
  • Meminta saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang sedang dialami.
  • Menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
  • Melakukan hal-hal baru yang menantang dan lain dari biasanya guna meningkatkan rasa percaya diri.
  • Melakukan aktivitas fisik, meditasi, atau teknik relaksasi guna meredakan ketegangan emosi dan menjernihkan pikiran.
  • Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial
  • Menghindari cara-cara negatif untuk meredakan stres, misalnya merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan narkoba.
  • Bekerja dengan mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen waktu lebih baik dan hidup juga lebih seimbang

Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis saat seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-harinya. Pada orang normal rasa cemas timbul jika ada kejadian tertentu saja, tetapi pada orang yang mengalami gangguan kecemasan dapat atimbul dalam situasi apapun. Hingga pada penderita gangguan kecemasan akan berdampak pada rasa percaya diri, mudah marah, stress, sulit konsentrasi dan menjadi penyendiri.

Hal itu biasanya akan mempengaruhi kualitas kesehatan fisiknya; yaitu : sulit tidur, badan gemetar, mengeluarkan keringat secara berlebihan, otot menjadi tegang, jantung berdebar, sesak napas, mudah merasa lelah, sakit perut atau kepala, pusing, mulut terasa kering dan kesemutan.

Para ahli jiwa mengungkapkan bahwa tidak diketahui secara pasti penyebab seseorang mengalami gangguan kecemasan, umumnya disebabkan oleh peristiwa traumatik seperti intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di lingkungan luar ataupun keluarga. Namun, adapula karena genetik dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan non-adrenalin di dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati.

Untuk mengurangi gejala gangguan kecemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan metode relaksasi sederhana, seperti yoga atau meditasi, mengonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, menghindari minuman beralkohol, atau zat penenang lainnya, tidak merokok, berolahraga secara rutin. Jika kondisi tidak membaik maka disarankan berkonsultasi dengan dokter, biasanya pasien gangguan kecemasan akan mendapat obat-obatan anti ansietas dan terapi kognitif.

Depresi
Seseorang penderita depresi mengalami gangguan suasana hati sedih terus menerus yang berlanngsung berminggu minggu hingga berbulan bulan. Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga dapat menyebabkan masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara berperilaku penderitanya, hingga menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.

Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi seseorang yang mengalami depresi:

  • Kehilangan ketertarikan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.
  • Terus-menerus merasa sedih, bahkan terus-menerus menangis.
  • Merasa sangat bersalah dan khawatir berlebihan.
  • Tidak dapat menikmati hidup karena kehilangan rasa percaya diri.
  • Sulit membuat keputusan dan mudah tersinggung.
  • Tidak acuh terhadap orang lain.
  • Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri

Berikut ini adalah dampak depresi terhadap kesehatan fisik yang mungkin dapat terjadi:

  • Gangguan tidur dan badan terasa lemah.
  • Berbicara atau bergerak menjadi lebih lambat.
  • Perubahan siklus menstruasi pada wanita.
  • Libido turun dan muncul sembelit.
  • Nafsu makan turun atau meningkat secara drastis.
  • Merasakan sakit atau nyeri tanpa sebab.

Depresi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kehilangan orang yang dicintai, rasa kesepian dan kepribadian yang rapuh.  Penyakit parah yang berkepanjangan membuat penderitanya menjadi depresi ataupun pengguna obat-obatan terlarang termasuk alkohol.

Infografik: Kesehatan Jiwa pada Anak

Kendala Pengobatan

Persoalan kesehatan jiwa di Indonesia belum mendapat perhatian optimal karena belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa sehingga tidak semua orang penderita kesehatan jiwa mendapat pengobatan yang baik. Sarana dan prasana untuk gangguan kesehatan jiwa menjadi tidak memadai di setiap wilayah salah satunya adalah kurangnya tenaga professional. Indonesia baru memiliki 1.053 psikiater dan tenaga professional.

Di Indonesia dokter atau medis yang memberikan pelayanan kesehatan jiwa untuk masyarakat tidak mampu belum merata. Ada propinsi yang menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa di tiap puskesmas, tetapi banyak pula propinsi yang tidak menyediakan medis untuk kesehatan jiwa. Di DKI Jakarta tidak ada puskesmas dengan dokter ahli jiwa, mungkin karena beranggapan di Jakarta sudah banyak rumah sakit swasta yang menyediakan psikiater.

Selain itu persoalan stigma dan diskriminasi sangat menghalangi penderita untuk mendapatkan pengobatan yang baik, selain juga mereka kehilangan hak asasi karena mengalami gangguan kesehatan jiwa. Tentu saja masih dibutuhkan jalan panjang bagi penderita kesehatan mental atau gangguan jiwa selain menyediakan fasilitas kesehatan, stigma dan diskriminasi terhadap penderita yang harus dihilangkan. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Arsip Kompas
  • Kesehatan Mental: Mengelola Diri untuk Jiwa Prima, Kompas, Jumat 19 Agutus 2022, hlm1
  • Kecenderungan Menelusuri Berita Negatif, Kompas, Sabtu, 05 Sept 2020, hlm 5
  • Mahasiswa Alami Gangguan Kecemasan Akibat Pandemi Covid-19, Kompas, Senin, 21 Sep 2020, hlm 5