Paparan Topik | Virus Korona

Bersiap Hidup Bersama Korona

Melonjaknya kasus harian positif Covid-19 disusul Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali merupakan alarm serius yang harus disikapi semua pihak. Dalam kondisi seperti saat ini, masyarakat harus “bersiap hidup” bersama virus korona.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI

Gavrie (12), siswa SD Eben Haezar Manado, meringis menahan sakit ketika disuntik vaksin Sinovac untuk Covid-19 pada hari pertama vaksinasi untuk anak di Manado, Sulawesi Utara, Senin (5/7/2021). Pemprov Sulut menarget 100.000 siswa di Sulut bisa tervaksinasi, 52.000 di antaranya di Manado.

Fakta Singkat

Puncak Gelombang Pertama
14.518 kasus harian (30 Januari 2021)

Peningkatan Kasus
34.379 kasus harian (7 Juli 2021)

Jumlah Penduduk Indonesia
270,20 juta jiwa (Sensus Penduduk 2020)

Target Herd Immunity
Vaksinasi 70 persen jumlah penduduk

Indonesia sedang berduka. Setiap hari ada saja berita sedih yang mengabarkan saudara, teman, kerabat ataupun tetangga yang jatuh sakit atau meninggal setelah berjuang melawan virus korona. Warga yang tinggal di dekat jalan besar, setiap hari bahkan menyaksikan intensitas ambulans yang lebih sering lewat yang frekuensinya tidak hanya sekali, kadang meningkat sampai 2 – 3 kali sehari. Virus korona menyerang tidak pandang bulu dan semakin hari semakin dekat saja dengan kita.

Gelombang kedua pandemi Covid-19 benar-benar dahsyat. Jumlah kasus baru per hari di Indonesia pada 7 Juli 2021 mencapai 34.379 kasus. Diperkirakan, angka kasus baru akan lebih tinggi dalam beberapa hari atau pekan ke depan. Pemerintah memperkirakan kasus baru akan bisa menembus angka 40.000 dalam sehari. Dengan kata lain, tanda-tanda akan menurun belum akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Saat ini Indonesia sedang mengalami gelombang kedua pandemi akibat virus korona yang dampaknya jauh lebih besar daripada gelombang pertama. Puncak gelombang pertama terjadi pada 30 Januari 2021, dengan jumlah harian mencapai 14.518 kasus baru dalam satu hari.

Namun, setelah Januari 2021 jumlah kasus berangsur-angsur menurun hingga pertengahan Mei 2021, dengan jumlah kasus harian sekitar 2.000 kasus baru per hari. Tren positif ini ditunjang dengan mulai meningkatnya jumlah masyarakat yang menerima vaksin. Dengan penurunan kasus yang terjadi Mei 2021 lalu, optimisme masyarakat juga meningkat bahwa pandemi akan segera berakhir.

Sebenarnya pemerintah sudah memberi sinyal peringatan, bahwa kondisi penurunan kasus pada Mei 2021 belum benar-benar aman. Pemerintah pun membuat kebijakan peniadaan mudik lebaran di tahun 2021 ini. Namun, karena kebijakan peniadaan mudik dibuat jauh hari sebelumnya, ada sebagian masyarakat yang tetap melakukan perjalanan mudik jauh sebelum tanggal pemberlakuan peniadaan mudik diberlakukan.

Antisipasi arus balik masa lebaran pun dilakukan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Pemudik harus membawa hasil tes bebas Covid-19 ketika kembali dan dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama beberapa hari setelah tiba dari luar kota. Pemerintah pun memperkirakan akan terjadi ledakan kasus baru beberapa pekan setelah lebaran. Prediksi tersebut terbukti dengan angka kasus baru Covid-19 mencapai di atas 34.000 per hari.

Infografik: Tren Kasus Baru Covid-19 per hari dan Penerima Vaksin per hari

Sumber: kawalcovid19.id, diolah Litbang Kompas/RFC

Program Vaksinasi

Upaya program vaksinasi yang diharapkan mempunyai peran besar dalam penurunan kasus pada gelombang pertama, sepertinya kurang berpengaruh pada gelombang kedua ini. Hal ini bukan karena vaksinnya yang kurang manjur, tetapi karena vaksin memang bukan untuk mematikan virus korona.

Vaksin membantu membangun antibodi, sehingga ketika orang yang sudah divaksin terkena virus korona, maka kondisinya tidak akan seburuk orang yang belum divaksin. Jadi orang yang divaksin tetap bisa terkena atau terpapar virus korona jika tidak mematuhi protokol kesehatan.

Saat ini pemerintah sedang berupaya agar jumlah orang yang divaksin bisa mencapai 1 juta orang per hari. Namun banyak kendala yang menyebabkan hal ini tidak mudah untuk diwujudkan. Dari terbatasnya jumlah vaksin yang tersedia, keterbatasan tempat penyelenggaraan, sampai masih ada saja yang menolak untuk divaksin dengan berbagai alasannya.

Jumlah orang yang divaksin, memang sempat menembus satu juta orang per hari, namun jumlah ini belum bisa dipertahankan. Data yang dihimpun dari kawalcovid19.id, rekor terbanyak jumlah orang yang divaksin dalam 1 hari adalah 1,4 juta orang, yaitu pada 26 Juni 2021. Sampai saat ini, baru tiga hari saja jumlah orang divaksin lebih dari 1 juta dalam satu hari. Untuk rata-rata minggu pertama Juli adalah sekitar 700.000 orang per hari. Agak menurun dibandingkan rata-rata minggu terakhir Juni 2021 yang mencapai 800.000 orang per hari.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Rantis barracuda dan panser Anoa digunakan dalam penyekatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM darurat di kawasan Lampiri, perbatasan Bekasi dan Jakarta di Jalan Raya Kalimalang, Jakarta Timur, Selasa (6/7/2021). Pemprov DKI Jakarta siap mencabut izin usaha dan sanksi pidana bagi perusahaan di luar sektor esensial dan kritikal yang memberlakukan bekerja dari kantor atau WFO selama PPKM darurat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat sistem registrasi pekerja sektor esensial dan kritikal, yakni surat tanda registrasi pekerja (STRP), sebagai bukti bisa beraktivitas di Jakarta demi mengerem mobilitas warga selama PPKM darurat.

Upaya Mencapai Herd Imunity

Di Indonesia, sampai 7 Juli 2021 sudah sekitar 34 juta orang yang menerima vaksin dosis pertama atau sekitar 12,5 persen dari total penduduk Indonesia sebesar 270 juta. Sementara, hingga 7 Juli 2021 baru 14,4 juta orang yang menerima vaksin dosis kedua berdasarkan data covid19.go.id. Untuk mencapai herd imunity, paling tidak jumlah yang divaksin harus mencapai 70 persen dari total penduduk.

Jika jumlah yang divaksin per hari sesuai target pemerintah yaitu 1 juta orang per hari, maka perlu sekitar lima bulan lagi baru tercapai atau sekitar pertengahan Desember 2021. Tapi jika jumlah yang divaksin sesuai keadaan saat ini (± 600.000 orang per hari), maka target 70 persen baru tercapai sekitar akhir April 2022. Untuk mencapai herd imunity paling tidak baru tercapai sebulan kemudian atau Mei 2022, setelah semua mendapatkan dosis kedua.

Apakah setelah herd imunity, virus korona akan hilang? Jawabnya belum tentu. Kemungkinan besar virus korona akan tetap ada, walaupun mungkin saat itu efeknya sudah tidak akan sedahsyat sekarang. Kenyataan ini membuat beberapa negara akan mengakhiri perang melawan korona dan mempersiapkan diri untuk hidup berdampingan dengan virus ini.

Infografik: Perbandingan Penduduk yang Sudah Divaksin di Beberapa Negara
Sumber: ourworldindata.org, diolah Litbang Kompas/RFC

Langkah Singapura

Pemerintah Singapura pada akhir Juni 2021 menyatakan bahwa Covid-19 tidak akan pernah hilang, sehingga mereka sedang merancang blue print (cetak biru) mengenai tata cara hidup bersama korona. Ada beberapa alasan Singapura mengambil keputusan ini:

  1. Herd Imunity sudah hampir tercapai. Jumlah penduduk Singapura yang sudah divaksin sudah lebih dari 60 persen. Target terdekat mereka adalah paling tidak dua pertiga warga sudah menerima vaksin dosis pertama pada minggu pertama Agustus 2021. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga semua mendapatkan vaksin. Rencananya, vaksin ini akan rutin diulang setiap tahunnya untuk semua warga.
  2. Disiplin menjaga protokol kesehatan. Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan bahwa memakai masker adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah Covid-19. Selain itu, tentu protokol kesehatan lainnya tetap dilakukan, ditambah aplikasi Trace Together yang dapat melakukan pelacakan dengan siapa saja orang yang terkena Covid-19 pernah melakukan kontak.
  3. Penerapan karantina wilayah atau lockdown juga masih bisa diberlakukan di Singapura, hanya saja skalanya lebih kecil. Hal ini karena kasus baru di Singapura juga sudah mulai mereda, sehingga tiap wilayah bisa menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat ataupun lockdown hanya jika diperlukan.
  4. Rumah sakit di Singapura hanya akan fokus merawat pasien dengan bergejala berat saja. Setiap warga yang merasa kurang sehat, bisa membeli alat tes pribadi, dan melakukan isolasi mandiri. Penanganan pasien Covid-19 ke depan akan disamakan dengan penyakit infeksi lainnya.
  5. Kebijakan travel bubble diberlakukan di Singapura bersama negara-negara yang telah berhasil mengendalikan Covid-19. Beberapa sektor ekonomi Singapura yang banyak bergantung ke pada pekerja asing saat ini sedang kekurangan tenaga kerja. Diharapkan dengan kebijakan ini, pekerja asing dapat kembali masuk ke Singapura. Selain itu sektor pariwisata Singapura juga tentu akan meningkat kembali dengan kembali dibukanya pariwisata di negeri ini.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Pemprov Bali mencanangkan pemberian vaksin Covid-19 bagi warga berusia di bawah 18 tahun, terutama dari kalangan pelajar, di seluruh Bali mulai Senin (5/7/2021). Suasana pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi pelajar di SMA Negeri 4 Denpasar, Kota Denpasar.

Kebijakan Pemerintah Inggris

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson juga menyatakan bahwa Inggris berencana akan mencabut pembatasan sosial yang selama ini dilakukan. Setelah ini warga Inggris bisa bebas beraktivitas seperti sedia kala.

Tentu kebijakan ini ditentang oleh asosiasi medis Inggris (The British Medical Association). Namun Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid, juga mendukung PM Inggris dan menyatakan Covid-19 sama seperti flu biasa.

Seperti juga Singapura, kebijakan yang diambil pemerintah Inggris tersebut diambil dengan perhitungan yang hati-hati dan tidak sembarangan. Awalnya kebijakan akan diberlakukan pada 21 Juni 2021, namun karena dunia sedang menghadapi Covid-19 varian Delta, maka kebijakan ditunda.

Rencananya paling cepat kebijakan pemerintah Inggris tersebut akan diberlakukan pada tanggal 19 Juli 2021. Namun keputusan akhir masih belum ditetapkan. Saat ini pemerintah Inggris sedang merencanakan vaksin ulang untuk kelompok yang paling rentan, termasuk warga di atas usia 50 tahun. Saat ini sudah lebih dari dua pertiga warga Inggris yang divaksin, sehingga tidak lama lagi herd imunity akan segera tercapai.

AP/STEVE PARSONS

Penumpang pesawat tiba di salah satu hotel untuk menjalani karantina selama 10 hari setelah tiba di Bandara Heathrow, London, Senin (15/2/2021). Kewajiban karantina tersebut dilakukan Pemerintah Inggris untuk mencegah masuknya varian baru virus korona sehingga tidak mengganggu vaksinasi yang saat ini sedang dilakukan.

Situasi di Indonesia

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Pilihan bersiap hidup bersama korona merupakan pilihan paling realistis, namun tentu belum dalam waktu dekat ini. Indikator minimal yang perlu dicapai terlebih dahulu adalah jumlah warga Indonesia yang sudah divaksin sudah lebih dari dua pertiga jumlah penduduk, serta didukung juga dengan ketaatan dan kesadaran warga dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Saat ini berdasarkan Hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020, jumlah penduduk Indonesia sebesar 270,20 juta jiwa. Sehingga dengan asumsi percepatan vaksin seperti awal Juli 2021, maka paling cepat kebijakan pelonggaran sosial seperti rencana Singapura dan Inggris baru bisa diterapkan di Indonesia pada bulan Mei 2022.

Untuk bisa mencapai target pada Mei 2022, mau tidak mau Indonesia masih harus membatasi kegiatan dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Namun wilayah Indonesia sebenarnya berbeda dengan wilayah negara lain.

Sebagai negara kepulauan Indonesia bisa melakukan kebijakan per pulau, sehingga bisa saja pulau-pulau yang sudah berhasil memenuhi indikator minimal di atas, bisa mulai menerapkan kebijakan baru. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan membatasi keluar masuknya warga dari dan ke luar pulau.

Hal ini bisa menjadi solusi sementara agar perekonomian nasional masih bisa bertumbuh dan penanganan Covid-19 juga bisa lebih fokus ke daerah-daerah yang memang membutuhkan penanganan khusus. Dengan satu demi satu wilayah selesai, maka sumber daya manusia terutama di bidang kesehatan dari daerah yang sudah selesai, dapat dialihkan atau diperbantukan ke wilayah yang membutuhkan.

Dengan upaya kerja sama dan saling membantu, puncak pandemi Covid-19 akan dapat diatasi bersama. Namun untuk menghilangkannya sama sekali, sepertinya tidak mungkin terjadi, atau seandainya mungkin pun, akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sehingga yang perlu dilakukan adalah membatasi penyebaran virus ini dan menyiapkan diri untuk hidup berdampingan dengannya. (LITBANG KOMPAS)

KOMPAS/RIZA FATHONI

Iklan sosialisasi manfaat vaksin terpasang pada neon boks pilar penyangga Moda Raya Terpadu (MRT) di kawasan Staisun Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (12/12/2020). Pemerintah menargetkan jumlah sasaran vaksinasi Covid-19 sekitar 107 juta orang, 67 persen dari populasi berusia 18-59 tahun. Dari jumlah itu, hanya 32 juta orang masuk skema vaksin program pemerintah, sementara 75 juta penduduk lainnya menjadi sasaran vaksin mandiri. Rendahnya sasaran vaksinasi Covid-19 dengan skema program pemerintah atau gratis dikhawatirkan mengakibatkan pencapaian target cakupan imunisasi nasional untuk membentuk kekebalan komunitas sulit tercapai.

Referensi

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Dapatkan Artikel Paparan Topik Terkini dari Kompaspedia

Daftarkan email Anda dan ikuti berbagai paparan topik terkini.

close