Tokoh

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Budi Arie Setiadi

Budi Arie Setiadi didapuk sebagai Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) pada 25 Oktober 2019. Presiden Joko Widodo meminta Budi Arie mendampingi Menteri Abdul Halim Iskandar dalam membangun infrastruktur dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa.

Kemendes PDTT

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Budi Arie Setiadi

Lahir
Jakarta, 20 April 1969

Almamaterr
Universitas Indonesia

Jabatan Terkini
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi 2019–2024

Budi Arie Setiadi dikenal sebagai aktivis sosial, relawan, politikus, dan pengusaha. Namun, ia lebih dikenal luas sebagai aktivis yang memimpin kelompok Pro-Jokowi (Projo), sebuah organisasi relawan terbesar pendukung Joko Widodo sejak Pilpres 2014. Projo tetap konsisten mendukung Jokowi hingga Pilpres 2019.

Alumnus FISIP UI kelahiran Jakarta, 20 April 1969 ini aktif berkiprah di gerakan mahasiswa sejak di kampus. Dirinya pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI dan Presidium Senat Mahasiswa UI. Saat meletus gerakan reformasi 1998, ia menginisiasi surat kabar kritis Bergerak. Budi juga pernah menjabat Kepala Balitbang PDI-P DKI, dan Wakil Ketua DPD PDI-P DKI.

Kini Presiden Joko Widodo memintanya menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) mendampingi Menteri Abdul Halim Iskandar untuk bergerak membangun desa.

Anak Jakarta

Budi Arie Setiadi lahir di Jakarta pada 20 April 1969 dari pasangan Joko Asmoro dan Pudji Astuti. Budi bisa dibilang anak kota. Lahir, besar hingga berkarier semua dijalaninya di Jakarta. Mengawali pendidikan formal di SD Fons Vitae II Jakarta Utara hingga ia lulus SMP di sekolah yang sama. Kemudian melanjutkan ke SMA Kolose Kanisius di Jakarta Pusat pada 1988. Lulus SMA tahun 1990 Budi diterima di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Sejak memasuki dunia kampus Budi memiliki kiprah aktivis yang cukup panjang. Berbagai organisasi kemahasiswaan ia ikuti, mulai dari pers mahasiswa, komunitas olahraga, hingga organisasi politik mahasiswa. Di kalangan aktivis ia kerap dipanggil dengan nama Muni. Ia pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI tahun 1994, juga Presidium Senat Mahasiswa UI periode 1994/1995. Budi juga aktif mendirikan dan membina Forum Studi Mahasiswa (FSM) UI, dan juga aktif di Kelompok Pembela Mahasiswa (KPM) UI. Bagi Budi berorganisasi itu adalah cara terbaik menempa seseorang. Menurutnya, berorganisasi di dunia kemahasiswaan membuat kita lebih kritis, lebih peduli terhadap lingkungan, bangsa, negara, dan rakyat. Budi dikenal juga aktif di bidang pers kemahasiswaan. Ia dipercaya menjadi Redaktur Pelaksana (Redpel) Majalah Suara Mahasiswa UI pada 1993–1994.

Lulus dari FISIP UI dan menyandang gelar sarjana pada 1996 tidak menyurutkan aktivitasnya. Kiprah aktivisnya terus berlanjut hingga selepas dunia kampus. Saat terjadi gerakan reformasi 1998, ia aktif ikut dalam demo 1998. Bahkan, ia yang menginisiasi lahirnya surat kabar kritis Bergerak. Pada tahun itu pula ia terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumnus Universitas Indonesia (ILUNI UI) hingga tahun 2001. Aktivitasnya tidak berhenti hanya sampai di situ, ia juga mendirikan Gerakan Sarjana Jakarta (GSJ) dan Masyarakat Profesional Indonesia (MPI).

Di sela-sela kesibukannya, Budi masih menyempatkan diri untuk menulis. Karya tulisannya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, antara lain, Berubah Demi Rakyat (2004) dan Menjemput Takdir Sejarah (2015), serta sejumlah tulisan lain yang dimuat di majalah dan media cetak.

Tahun 2006 Budi melanjutkan studi pascasarjana di Manajemen Pembangunan UI. Pada 29 Mei 2022 Budi yang merupakan Alumni Departemen Ilmu Komunikasi terpilih sebagai Ketua ILUNI FISIP UI periode 2022–2025. Ia meraih 689 suara mengungguli Cecep Rukendi (Alumnus Departemen Antropologi 1997) yang meraih 431 suara.

Budi Arie Setiadi menikah dengan Zara Murzandina. Mereka dikarunia dua anak, yaitu Nadila Raisha dan Diandra.

Karier

Selepas dari kampus, beragam jalur profesi pernah ia jalani. Budi mengawali kariernya sebagai jurnalis di surat kabar mingguan Media Indonesia pada 1994. Setelah dua tahun menjadi jurnalis di Media Indonesia, kemudian ia bersama beberapa koleganya mendirikan Mingguan Ekonomi Kontan pada 1996. Di sini ia menghabiskan kariernya sebagai jurnalis Kontan hingga tahun 2001. Ia kemudian berpindah ke PT Mandiri Telekomunikasi Utama hingga menduduki jabatan direktur utama (2001–2009). Budi juga pernah menjadi Pemimpin Umum Tabloid Bangsa pada 2008 hingga 2009.

Kariernya di dunia usaha terus melejit. Ia menduduki sejumlah jabatan penting di beberapa perusahaan. Tahun 2010, Budi berkarier di PT Daya Mandiri. Jabatannya di perusahaan itu adalah Direktur yang dijalaninya hingga tahun 2014. Ia juga memegang jabatan Direktur Utama NKR Investama, sekaligus sebagai Direktur PT Sarana Global Informasi dari tahun 2009 hingga 2014. Tahun 2011 Budi juga memegang jabatan Direktur Utama di PT Mitra Lumina Indonesia hingga tahun 2014.

Sementara itu, karier di dunia politik dimulai saat ia bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia pernah menjadi Kepala Balitbang PDI Perjuangan DKI Jakarta periode 2005–2010 dan menjadi Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta. Setelah itu, ia absen di dunia politik hingga kemudian mendirikan relawan Pro-Jokowi alias Projo pada Agustus 2013.

Projo merupakan sebuah organisasi relawan pendukung Joko Widodo pada Pilpres 2014. Dapat diakui, Projo menjadi salah satu organisasi masyarakat (ormas) yang berhasil mengantarkan Jokowi pada kemenanganan Pilpres 2014. Projo tetap konsisten mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019. Projo memegang peranan penting pada pemenangan Jokowi di dua pilpres, yakni Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Di balik kesuksesan Projo tersebut, ada peran Budi sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum Relawan Projo.

Pada 25 Oktober 2019 Presiden Joko Widodo resmi melantik Budi Arie Setiadi sebagai Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Ia bersama Menteri Abdul Halim Iskandar mendapat amanat dari Presiden Jokowi untuk mengawal 75.436 desa di Indonesia. Aspek yang harus dikawal tidak hanya infrastruktur, tetapi juga mencakup kualitas sumber daya manusianya.

Kemendes dan PDTT

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi menghadiri sekaligus menutup Gegesik CreArtive Festival 2022 di alun-alun Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, pada Rabu (8/6/2022).

Daftar penghargaan

Penghargaan

Kementerian Desa dan PDTT

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi menghadiri dialog tentang Verifikasi Lapang Program Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) di kantor Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore pada Kamis (31/3/2022).

KOMPAS.COM

“Jumlah desa dan dana desa kan tidak sedikit. Kami akan minta bantuan dari berbagai elemen masyarakat untuk sama-sama mengawal permasalahan desa,” ujar Budi Arie Setiadi (5 November 2019)

Dana desa

Desa memiliki potensi untuk memajukan perekonomian domestik. Adanya Dana Desa membuat pembangunan semua desa di Indonesia terus digenjot untuk menyerap tenaga kerja dan memacu perekonomian desa.

Pembangunan yang bersumber dari Dana Desa semakin menegaskan komitmen Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia dari pinggiran, perbatasan, dan desa. Oleh karena itu, yang dibangun bukan hanya jalan tol, bandara atau pelabuhan, melainkan juga infrastruktur skala kecil yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat desa.

Sejak pertama kali disalurkan tahun 2015, jumlah Dana Desa terus meningkat. Pada tahun 2015–2022 Dana Desa yang tersalurkan sebanyak 400,1 triliun rupiah. Selain berhasil menunjang aktivitas ekonomi warga desa, sepanjang 2015–2021 dana desa juga telah digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang menunjang kualitas hidup masyarakat desa.

Pemanfaatan dana desa di antaranya untuk pembangunan sarana olahraga, prasarana air bersih, prasarana MCK, Polindes, drainase, PAUD, Posyandu, dan sumur. Selain untuk kebutuhan primer warga desa, dana desa juga dimanfaatkan untuk pembangunan jalan desa, jembatan, pasar desa, BUM Desa, tambatan perahu, embung, irigasi, dan penahan tanah.

Pemanfaatan dana desa dalam kurun 2015–2021 juga telah berhasil meningkatkan Indeks Desa Membangun (IDM), yaitu desa berstatus mandiri dari 174 desa (2015) menjadi 3.269 desa (2021); status desa maju dari 3.608 desa (2015) menjadi 15.321 desa (2021); dan desa berkembang dari 22.882 desa (2015) menjadi 38.082 desa (2021).

Sebaliknya, desa tertinggal dan sangat tertinggal terus menurun. Tahun 2015 jumlah desa tertinggal sebanyak 33.592 desa dan desa sangat tertinggal ada 13.453. Tahun 2021 jumah tersebut menurun menjaadi 12.636 desa tertinggal dan 5.649 desa sangat tertinggal.

Sementara itu, untuk pagu Dana Desa tahun 2022 telah ditetapkan sebesar 68 triliun rupiah dan dialokasikan kepada 74.961 desa di 434 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Pemanfaatan Dana Desa tahun 2022 diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan sektor prioritas dalam rangka mempercepat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Dana Desa yang bersumber dari APBN ini berperan besar dalam mewujudkan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Dana Desa tahun 2022 sangat berpotensi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat desa.

KOMPAS.COM

Harta kekayaan

Total kekayaan Budi Arie Setiadi tahun 2021 sebesar Rp102,2 miliar. Jumlah kekayaan yang dilaporkan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 4 Maret 2022 terdiri dari harta tanah dan bangunan senilai Rp63,3 miliar yang tersebar pada 12 bidang di Kota Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Padang.

Dalam laporan itu Budi Arie Setiadi juga tercatat memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp1,4 miliar yang terdiri dari empat mobil; harta bergerak lainnya sebesar Rp2,30 miliar; surat berharga senilai Rp24,5 miliar; serta kas dan setara kas sebesar Rp10,6 miliar. Total harta kekayaan tahun 2021 tercatat sebesar Rp102,2 miliar.

Budi Arie Setiadi tercatat telah menyampaikan laporan kekayaannya sebanyak tiga kali. Laporan berdasarkan jabatannya itu dibuat saat menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2019, 2020, dan 2021. Berikut ini adalah laporannya.

  • Laporan 18 November 2019, harta kekayaan sebesar Rp100.614.600.000
  • Laporan 31 Desember 2020, harta kekayaan sebesar Rp101.521.852.000
  • Laporan 31 Desember 2021, harta kekayaan sebesar Rp221.852.000

Referensi

Biodata

Nama

Budi Arie Setiadi

Lahir

Jakarta, 20 April 1969

Jabatan

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi 2019–2024

Pendidikan

  • SD Fons Vitae Marsudirini, Koja, Jakarta Utara.
  • SMP Fons Vitae Marsudirini, Koja, Jakarta Utara.
  • SMA Kolose Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat.
  • Sarjana (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
  • Sarjana (S2) Magister Manajemen Pembangunan Sosial Universitas Indonesia.

Karier

  • Jurnalis surat kabar mingguan Media Indonesia (1994–1996).
  • Jurnalis tabloid Kontan (1996–2001).
  • Direktur Utama PT Mandiri Telekomunikasi Utama (2001–2009).
  • Pemimpin Umum Tabloid Bangsa (2008–2009).
  • Direktur PT Daya Mandiri (2010–2014).
  • Direktur Utama NKR Investama (2009–2014).
  • Direktur PT Sarana Global Informasi (2009–2014).
  • Direktur Utama PT Mitra Lumina Indonesia (2011–2014).
  • Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (2019–2024).

Organisasi

  • Ketua Forum Studi Mahasiswa UI (1992–1993)
  • Redaktur Pelaksana Suara Mahasiswa UI (1993–1994)
  • Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP UI (1994–1995)
  • Presidium Senat Mahasiswa UI (1994–1995)
  • Pendiri Keluarga Besar UI (1998)
  • Mendirikan surat kabar Bergerak (1998)
  • Pendiri dan Presidium Masyarakat Profesional Indonesia (1998–1999)
  • Ketua Presidium Gerakan Sarjana Jakarta (1998–2000)
  • Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) (1998–2001)
  • Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta (2005–2010)
  • Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan PDI Perjuangan DKI Jakarta (2005–2010)
  • Koordinator Nasional Relawan Projo (2013–2014)
  • Ketua Umum Relawan Projo (sejak 2014)
  • Dewan Penasihat Ikatan Alumni (Iluni) UI (2016–2019)
  • Ketua ILUNI FISIP UI (2022–2025)

Penghargaan

Karya

Buku

Keluarga

Istri

Zara Murzandina

Anak

  • Nadila Raisha
  • Diandra

Sumber
Litbang Kompas

error: Content is protected !!