Tokoh

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Rycko Amelza Dahniel

Komjen Rycko Amelza Dahniel merupakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) yang dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 3 April 2023. Mantan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri ini menggantikan Boy Rafli Amar yang memasuki masa pensiun.

INA

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si.

Lahir
Bogor, 14 Agustus 1966

Almamater
Akademi Kepolisian
Universitas Indonesia

Jabatan Terkini
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2023 — sekarang)

Komisaris Jenderal Polisi Rycko Amelza Dahniel merupakan seorang perwira tinggi Polri yang kariernya terbilang moncer. Pria yang menghabiskan masa mudanya di Cibinong, Bogor, Jawa Barat ini dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Rycko dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 51/TPA Tahun 2022 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dari dan dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Utama di Lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Ia menggantikan Boy Rafli Amar yang memasuki masa purnabakti.

Kiprahnya dalam penanggulangan terorisme terbilang cemerlang. Lulusan terbaik Akpol 1988 ini mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa usai ikut melumpuhkan gembong teroris Dr. Azhari di Batu, Jawa Timur pada tahun 2005 silam. Ia mendapat penghargaan dari Kapolri bersama dengan para kompatriotnya, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, serta Idham Azis.

Selama berkarier di kepolisian, sosok yang pernah digadang-gadang sebagai calon Kapolri ini pernah menduduki jabatan strategis di kepolisian, antara lain, Kapolda Sumut (2016), Gubernur Akpol (2017–2019), Kapolda Jateng (2019), Kepala Badan Intelijen dan Keamanan atau Kabaintelkam Polri (2020–2021), dan Kepala Lemdiklat Polri (2021–2023).

Anak Bogor

Rycko mengabiskan masa kecilnya di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Ia menempuh pendidikan sekolah dasarnya di Cibinong dan lulus pada 1979. Kemudian, ia melanjutkan ke SMP di kecamatan yang sama hingga lulus pada 1982. Setelah menamatkan pendidikan menengahnya di SMAN Cibinong pada 1985, Rycko kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.

Setelah empat tahun menimba ilmu kepolisian di Akpol Semarang, Rycko berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menjadi lulusan terbaik dengan menyandang predikat Adhi Makayasa. Ia dan teman-teman seangkatan di Akpol selanjutnya dilantik oleh Presiden Soeharto di Istana Merdeka pada tanggal 23 Juli 1988.

Di sela-sela tugasnya sebagai polisi, Rycko masih sempat melanjutkan pendidikan magister (S2) di Ilmu Administrasi di Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan S2 pada tahun 2001. Berselang beberapa tahun kemudian, ia kembali mengambil pendidikan Doktoral (S3) di Universitas Indonesia. Ia mengambil Kajian Ilmu Kepolisian dan lulus tahun 2008 dengan predikat Cum Laude.

Selanjutnya, ia diangkat sebagai Guru Besar dalam jabatan Profesor di bidang ilmu Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) sejak tanggal 1 Agustus 2020 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim.

Karier

Setelah lulus dan diwisuda dari Akademi Kepolisian, Rycko ditugaskan pertama sebagai perwira polisi di Polres Metro Jakarta Pusat. Ia didapuk sebagai Kepala Unit Kejahatan dengan Kekerasan, selanjutnya ditugaskan sebagai instruktur di Akademi Kepolisian Semarang.

Tahun 1993, ia mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus dengan predikat terbaik. Selanjutnya, ia kembali bertugas di Polres Metro Jakarta Pusat. Berselang beberapa tahun kemudian, ia menjabat Kasat Reserse Polres Jakarta Selatan, lalu sebagai Wakasat Ekonomi Polda Metro Jaya pada 2005.

Kemudian ia bergabung dalam Bareskrim Polri. Rycko yang saat itu tergabung dalam tim Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil melumpuhkan teroris Dr Azhari dan kelompoknya, otak di belakang Bom Bali 2002 dan Bom Bali 2005.

Atas capaiannya, Rycko dan sejumlah perwira polisi lain mendapat kenaikan pangkat luar biasa yang dianugerahkan oleh Kapolri saat itu, Jenderal Susanto. Kenaikan pangkat tersebut Rycko raih bersama sejumlah koleganya seperti Tito Karnavian, mantan Kaplolri yang kini menjabat Menteri Dalam Negeri (Mendagri), juga mantan Kapolri Idham Azis.

Karier Rycko kian moncer setelah berprestasi di Bareskrim. Dia sempat ditunjuk sebagai Kapolres Jakarta Utara. Tahun 2009, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah jabatan strategis lainnya yang pernah diemban Rycko, antara lain, Wakapolda Jawa Barat (2013–2014), Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Lembaga Pendidikan Polri atau STIK Lemdikpol (2014–2016), dan Kapolda Sumatera Utara (2016–2017).

Saat masih berpangkat Inspektur Jenderal atau Irjen, Rycko pernah mengemban jabatan sebagai Kapolda Sumatra Utara tahun 2016 dan Kapolda Jawa Tengah tahun 2019. Pada tahun 2017, ia juga pernah menduduki posisi sebagai Gubernur Akpol.

Pada tahun 2020, Rycko yang naik pangkat menjadi Komjen kemudian ditunjuk menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen dan Keamanan atau Kabaintelkam Polri (2020–2021), dan setahun kemudian dipercaya menjabat Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri (2021 — Maret 2023).

Pertengahan 2020 lalu, nama Rycko sempat digadang-gadang menjadi calon Kapolri pengganti Idham Azis. Namun, pada akhirnya Presiden Jokowi menunjuk Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara.

Pada 3 April 2023, Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel dilantik sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Rycko dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara menggantikan Komjen Boy Rafli Amar yang memasuki masa pensiun. Pelantikannya bersamaan dengan pelantikan Menteri Pemuda dan Olahraga baru Dito Ariotedjo.

KOMPAS/NINA SUSILO

Presiden Joko Widodo melantik Ario Bimo Nandito Ariotedjo atau Dito Ariotedjo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga serta Komisaris Jenderal Rycko Amelza Dahniel sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Senin (3/4/2023) sore. Pelantikan dilangsungkan di Istana Negara, Jakarta.

Penghargaan

  • Lulusan Akpol terbaik dengan predikat Adhi Makayasa (1988)
  • Guru Besar dalam jabatan Profesor dibidang ilmu Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (2020)
  • Bintang Yudha Dharma Pratama (2022)Bintang Bhayangkara Pratama
  • Bintang Bhayangkara Nararya
  • Australian Federal Police Partnership Medal (2023)
  • Satyalancana Pengabdian 32 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 24 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 16 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 8 Tahun

KOMPAS.COM

‚ÄúTugas penanggulangan terorisme ini sangat mulia. Mulia bukan hanya karena menjaga keutuhan NKRI tapi bagaimana membuat manusia menjaga kemanusiaan, manusia menghormati satu sama lain. Ini penting,” kata Kepala BNPT Komjen Rycko Amelza Dahniel (5/4/2023)

Penghargaan

Lulusan terbaik Akpol 1988 ini mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Bareskrim, usai melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Ia juga mendapat  gelar Guru Besar dalam jabatan Profesor dibidang ilmu Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (2020).

Selama berkarier di kepolisian, Rycko banyak mendapat bintang jasa, antara lain, Bintang Yudha Dharma Pratama (2022), Bintang Bhayangkara Pratama, Bintang Bhayangkara Nararya, Australian Federal Police Partnership Medal (2023), Satyalancana Pengabdian 32 Tahun, Satyalancana Pengabdian 24 Tahun, Satyalancana Pengabdian 16 Tahun, Satyalancana Jana Utama, dan Satyalancana Ksatria Bhayangkara.

Memberantas terorisme

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Rycko Amelza Dahniel mengaku ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo untuk megoptimalkan kegiatan deradikalisasi kepada warga yang terpapar radikalisme dan terorisme.

Usai dilantik Presiden Jokowi di di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/4/2023), Rycko mengatakan, deradikalisasi itu mesti dilakukan dengan sinergi antara instansi pemerintah maupun kerja sama dengan pihak-pihak di dalam dan luar negeri.

Langkah utama yang bakal dikerjakan, yakni dengan melakukan upaya-upaya pencegahan. Pencegahan dengan menggunakan sentuhan dari hati hingga pencegahan yang lebih mengedepankan upaya-upaya dalam bidang edukasi, pendidikan, dan kesejahteraan.

Rycko lantas menekankan bahwa upaya pencegahan lebih baik daripada mengobati dan melakukan penegakan hukum terhadap orang yang telah terpapar radikalisme dan terorisme. Ia mengatakan, penegakan hukum terhadap orang yang terpapar ideologi terorisme adalah pilihan terakhir atau ultimum remedium dalam penanggulangan terorisme.

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Kepala Polda Sumatera Utara Inspektur Jenderal Rycko Amelza Dahniel (memegang mikrofon) menunjukkan 11 kilogram sabu yang disita dari jaringan teh hijau di Medan, Sumut, Selasa (7/2/2017). Dua bandar ditembak mati dan seorang lainnya ditangkap dalam kasus yang diungkapkan pada Senin itu.

KOMPAS.COM

Harta kekayaan

Menurut situs LHKPN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rycko terakhir kali melaporkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) pada 22 Desember 2014. Saat itu, dia masih menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian dan tercatat memiliki harta kekayaan sebesar Rp 16 miliar.

Jumlah tersebut terdiri dari sejumlah unsur. Tercatat, dia mempunyai 6 bidang tanah dan bangunan di wilayah Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri dan warisan orang tua senilai Rp 14 miliar. Mantan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri itu juga memiliki sejumlah alat transportasi, yakni dua unit mobil Toyota Kijang Innova masing-masing tahun 2012 dan 2014, mobil Toyota Hard Top tahun 1981, dan motor merek Honda tahun 2010. Total harta kekayaannya dari alat transportasi tersebut senilai Rp 418 juta.

Rycko juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 20 juta, lalu giro dan setara kas sebesar Rp 2 miliar. Rycko tercatat tidak memiliki utang maupun piutang, sehingga total harta kekayaan Rycko pada 2014 sebesar Rp 16,9 miliar.

Referensi

Biodata

Nama

Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si.

Lahir

Bogor, 14 Agustus 1966

Jabatan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2023 — sekarang)

Pendidikan

  • SDN (1979)
  • SMPN (1982)
  • SMAN (1985)
  • Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang (1988)
  • Magister (S2) Ilmu Administrasi di Universitas Indonesia (2001)
  • Doktoral (S3) pada Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia (2008)

Karier

  • Pama Polda Metro Jaya (1989)
  • Pamapta Polres Jakpus Polda Metro Jaya (1989–1990)
  • Kanit Serse Jatanras Restro Jakpus Metro Jaya (1990–1992)
  • Danton Tar Akpol Semarang (1992–1995)
  • Kaset Ops Puskodal Ops Polres Metro Jakpus Polda Metro (1995–1996)
  • Kasat Serse Polres Metro Jaksel Polda Metro Jaya (1996–2000)
  • Kanit Moneter Sat Serse Ek Dit Serse Polda Metro (2000–2001)
  • Wakasat Serse Ek Dit Serse Polda Metro Jaya (2001–2002)
  • Pamen Sespim Dediklat Polri (2002)
  • Kasat Ii Ditreskrim Polda Sumut (2002–2005)
  • Kanit Banmin Subden Bantuan Densus 88/Antiteror Bareskrim Polri (2005)
  • Kapolresta Sukabumi Polwil Bogor Polda Jabar (2005–2006)
  • Kanit I Dit Ii/Ekonomi Dan Khusus Bareskrim Polri (2006–2008)
  • Kapolres Metro Jakut Polda Metro Jaya (2008–2009)
  • Pamen Sde Sdm Polri (2009–2012)
  • Kabagjianpolmas Bidppitk Stik Lemdikpol (2012–2013)
  • Wakapolda Jabar (2013)
  • Kepala Stik Lemdikpol (2014–2016)
  • Kapolda Sumut (2016)
  • Gubernur Akpol (2017–2019)
  • Kapolda Jateng (2019)
  • Kabaintelkam Polri (2020–2021)
  • Kalemdiklat Polri (2021–2023)
  • Kepala BNPT (2023 — sekarang)

Organisasi

Penghargaan

  • Lulusan Akpol terbaik dengan predikat Adhi Makayasa (1988)
  • Guru Besar dalam jabatan Profesor dibidang ilmu Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (2020)
  • Bintang Yudha Dharma Pratama (2022)Bintang Bhayangkara Pratama
  • Bintang Bhayangkara Nararya
  • Australian Federal Police Partnership Medal (2023)
  • Satyalancana Pengabdian 32 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 24 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 16 Tahun
  • Satyalancana Pengabdian 8 Tahun
  • Satyalancana Jana Utama
  • Satyalancana Ksatria Bhayangkara
  • Satyalancana Karya Bhakti
  • Satyalancana Bhakti Pendidikan
  • Satyalancana Bhakti Buana
  • Satyalancana Bhakti Nusa
  • Satyalancana Dharma Nusa
  • Satyalancana Operasi Kepolisian
  • Satyalancana Wira Siaga
  • Satyalancana Kebhaktian Sosial
  • Satyalancana Wira Karya
  • Satyalancana Kebhaktian Sosia

Keluarga

Istri

Yudaningrum

Anak

  • Ipda Muhammad Yudisthira Rycko, S.Tr.K.
  • Nada Salsabila Rycko, S.Ked.
  • Aisyah Fahira Rycko

Sumber
Litbang Kompas