Tokoh

Gubernur Papua Lukas Enembe

Lukas Enembe adalah warga wilayah pegunungan Papua pertama yang terpilih sebagai Gubernur Papua selama dua periode. Ketua DPD Partai Demokrat Papua ini sebelumnya pernah menjadi Wakil Bupati Puncak Jaya 2001—2006, kemudian menjabat sebagai Bupati Puncak Jaya 2007—2012.

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Lukas Enembe, S.I.P,  M.H

Lahir
Mamit, Tolikara, Papua, 27 Juli 1967

Almamater
Universitas Sam Ratulangi, Manado
Universitas Hasanuddin, Makassar

Jabatan Terkini
Gubernur Papua 2018-2023

Nama Lukas Enembe bukanlah sosok yang asing bagi masyarakat Papua khususnya di wilayah pegunungan Papua. Berawal dari menjabat sebagai Wakil Bupati dan pada pilkada berikutnya terpilih menjadi Bupati Puncak Jaya. Ia kembali terpilih sebagai bupati pada periode keduanya menjadi bukti dirinya dipercaya masyarakat Puncak Jaya. Di bawah kepemimpinannya, banyak terobosan baru terjadi dengan kebijakan yang memihak rakyat Puncak Jaya.

Lukas Enembe kemudian menjadi Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Demokrat Papua dan mencalonkan diri sebagai calon gubernur dalam Pilkada Papua 2013. Ia pun terpilih menjadi Gubernur Papua masa bakti 2013—2018 dalam pemilihan kepala daerah langsung yang digelar pada Januari 2013. Ia berhasil terpilih kembali pada Pilkada Papua 2018 dan menjabat sebagai Gubernur Papua untuk periode kedua. Lukas telah tampil sebagai pemersatu rakyat Papua antara wilayah pegunungan dan pantai.

Lukas Enembe hadir untuk mengangkat status kesetaraan antara pedalaman dan pesisir sebagai orang Papua. Ia menjadi tokoh inspirator yang mampu meruntuhkan benteng diskriminasi antar sesama pewaris di Papua. Lukas melangkah dari hutan menuju peradaban baru Papua untuk menjadi penyelamat serta mengangkat derajat dan martabat orang-orang pegunungan yang direndahkan, bahkan dihilangkan selam 50 tahun sejak Papua dimasukkan ke dalam wilayah NKRI.

Anak pegunungan

Lomato Enembe atau lebih dikenal Lukas Enembe lahir di Distrik Mamit, yang kini masuk wilayah Kabupaten Tolikara, Papua pada 27 Juli 1967. Lomato Enembe terlahir dari pasangan Tagolenggawak Enembe dan Deyaknobukwe Enumbi. Lomato kecil tumbuh dalam kasih dan pelukan hangat keluarganya di Mamit.

Ketika Lomato sudah memasuki usia sekolah, sang ibu dengan berat hati melepas kepergian sang putra untuk menempuh pendidikan di SD YPPGI Mamit. Lomato merupakan sosok yang cenderung pendiam, pemalu, namun memiliki otak yang cemerlang. Saat sekolah, guru dan teman-temannya mulai memanggil Lomato dengan sebutan Lukas sebagai bentuk penghormatan dan tanda bahwa Lomato adalah bagian dari keluarga besar umat Kristiani.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD YPPGI Mamit pada 1980, Lukas melanjutkan pendidikan SMP di Mulia. Di usianya yang sangat belia, Lukas telah melakukan perjalanan jauh hanya dengan membawa bekal sejumlah ubi bakar yang disimpannya di dalam noken kecil.

Tiba di Mulia, Lukas berusaha mencari keluarga dekat ibunya, namun tidak ada yang mengenalnya. Lukas pun terus berjuang mengelilingi Kota Mulia dengan harapan dapat berjumoa dengan keluarga ibunya. Namun, perjuangan itu tanpa hasil dan membuat Lukas memutuskan meninggalkan Mulia  dan terbang ke Sentani. Ia beruntung mendapatkan harga tiket pesawat yang cukup murah untuk dibeli dengan uang bekalnya.

Lukas akhirnya bersekolah di SMP Negeri Sentani (SMP Negeri 1 Jayapura di Sentani) dan satu-satunya anak pegunungan yang diterima pada 12 Januari 1980. Lukas Enembe menyelesaikan pendidikan SMP pada 1983 dan melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 3 Sentani (sekarang SMA 1 Kemiri) serta lulus pada 1986.

Setelah tamat SMA, Lukas mengikuti ujian seleksi penjaringan masuk ke perguruan tinggi negeri dan diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Sam Ratulangi Manado cabang Gorontalo. Baru empat semester menimba ilmu di Gorontalo, Lukas memutuskan untuk pindah ke Manado dan mendaftar di Fakultas Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT).

Putra pegunungan Tolikara ini cukup lama menghabiskan masa belajarnya di UNSRAT. Namun sisi positifnya, ia mendapatkan banyak pengalaman organisasi, berhasil memperluas wawasan dan membangun hubungan dengan banyak teman serta sosok yang disenangi. Berkat dukungan orang tua dan ketekunan belajar, Lukas dapat menyelesaikan pendidikannya dan menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik pada 1995.

Setelah lulus kuliah, Lukas mengikuti tes pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)  dan diterima sebagai pengajar di Universitas Cenderawasih Papua. Namun, pada saat keluarnya Surat Keputusan (SK), Lukas langsung dipindahkan untuk bertugas di Kantor Sosial dan Politik di Kabupaten Merauke. Tidak lama bertugas di Merauke, Lukas mendapat tugas belajar di lembaga pendidikan keagamaan The Christian Leadership and Second Linguistic di Cornerstone College di Asutralia pada 1998—2001.

Berselang beberapa tahun kemudian, Lukas mengambil pendidikan pascasarjana bidang Konsentrasi Magister Hukum di Universitas Hasanuddin Makassar hasil kerja sama dengan Universitas Cenderawasih Jayapura. Ia meraih gelar master dari kampus tersebut pada 2011.

Karier

Setelah lulus dari Universitas Sam Ratulangi, Lukas Enembe memulai karier dengan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau sekarang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Sosial Politik Kabupaten Merauke. Tak lama kemudian, ia mengikuti tugas belajar di Australia. Di Negara kanguru itu Lukas belajar bahasa Inggris dan mendalami ilmu kepemimpinan Kristen.

Setelah tiga tahun menimba pendidikan agama Kristen di Australia, Lukas Enembe pulang ke Papua dan mengikuti proses pencalonan Bupati Puncak Jaya. Ia mendaftarkan dirinya sebagai bupati, walaupun akhirnya “hanya” menduduki posisi sebagai Wakil Bupati Puncak Jaya periode 2001—2006 mendampingi bupati terpilih, yaitu Eliezer Renmaur.

Meskipun memiliki wewenang terbatas, sebagai Wakil Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe telah menggagas kebijakan yang cukup berani. Dia melakukan berbagai terobosan baru dalam kewenangannya sebagai anak daerah untuk kemajuan dan kepentingan rakyat Puncak Jaya.

Pada 2002, Lukas Enembe menjalin kemitraan dengan maskapai penerbangan Air Regional yang dimotori oleh Kapten Fingki, Kapten Bambang dan kawan-kawan. Kehadiran maskapai penerbangan ini turut memberikan kontribusi besar bagi pembangunan serta kemajuan daerah dan rakyat Puncak Jaya.

Sebagai seorang visioner, Lukas Enembe mampu mengetahui dengan benar, tepat dan terukur bahwa pendidikan adalah fondasi bangsa. Untuk itu, ia bersama para anggota DPRD Puncak Jaya ikut serta memperjuangkan Program Beasiswa dan mendorong bantuan program studi bagi seluruh mahasiswa yang berasal dari Puncak Jaya. Selain itu, ia juga menggagas berdirinya lembaga pendidikan di Mulia yang diwujudkan dengan pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menjelang berakhir masa jabatan sebagai Wakil Bupati Puncak Jaya periode 2001—2006, ia memutuskan untuk maju sebagai calon Gubernur Provinsi Papua 2006. Kala itu, Lukas Enembe mengukir sejarah karena belum ada orang Papua pegunungan yang mencalonkan diri pemimpin Papua.

Saat Lukas Enembe menyatakan diri maju sebagai salah satu calon Gubernur Papua, peta politik di Papua mulai berubah ke arah yang lebih terbuka dan demokratis. Lukas tampil sebagai pemersatu rakyat Papua antara gunung dan pantai. Ia beraksi untuk menghancurkan dikotomi pantai dan gunung atau Papua dan pendatang.

Meski akhirnya gagal dalam proses demokrasi pemilihan Gubernur Papua pada 2006, Lukas Enembe memutuskan kembali ke Puncak Jaya. Kemudian Lukas Enembe mengandeng Henoch Ibo maju sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya periode 2007—2012. Hasilnya, sebanyak 51.000 suara memberikan dukungannya kepada pasangan Lukas Enembe dan Henoch Ibo. Pasangan itu akhirnya ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya 2007-2012.

Di sela-sela kesibukannya sebagai bupati, Lukas membentuk Asosiasi Para Bupati Pegunungan Tengah untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pegunungan Tengah. Asosiasi ini dibentuk dengan tujuan membangun satu kekuatan dalam upaya lobi dana di pusat serta memperjuangkan aspirasi masyarakat terkait pembangunan. Selain itu, asosiasi ini juga bertujuan untuk menyatukan kekuatan para bupati pegunungan untuk menuju Papua satu.

Komisi Pemilihan Umum Papua menetapkan enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur untuk pemilihan kepala daerah tahun 2013.  Empat pasangan diusung partai politik yakni Lukas Enembe-Klemen Tinal, Habel Melkias Suwae-Yop Kogoya, Manase Roberth Kambu-Blasisus Adolf Pakage, dan Alex Hasegem-Marthen Kayoi. Sementara dua lainnya dari jalur perseorangan, yaitu Wellington Wenda-Waynand Watory dan Noak Nawipa-Johanes Wob.

Pemilihan Gubernur Papua 2013 yang digelar pada Januari 2013, Pasangan Lukas Enembe dan Klemen Tinal terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua 2013-2018 dengan meraih 1.199.657 suara atau 52 persen. Pasangan itu mengalahkan lima pasangan lainnya yakni pasangan Noakh Nawipa-Johannes Wob meriah 178.830 suara (8 persen), MR Kambu-Blasius A Pakage 301.349 suara (13 persen), Habel Melkias Suwae-Yop Kogoya 415.382 suara (18 persen), disusul Wellington Wenda-Weynand Watory 153.453 suara (7 persen), dan Alex Hesegem-Marthen Kayoi 72.120 suara (3 persen).

Setelah KPU menetapkan kemenangannya, Lukas Enembe mengatakan, semua calon adalah putra terbaik Papua. Oleh karena itu, pihaknya pun mengajak semua calon dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Papua. ”Ini adalah kemenangan rakyat Papua untuk menuju peradaban baru.”

Bagi Lukas Enembe, orang pendatang dan orang pesisir menjadi Gubernur Papua itu hal biasa. Ketika anak pedalaman yang selama ini diberikan stigma bodoh, tidak mampu dan belum maju menjadi Gubernur Papua itu adalah peristiwa yang luar biasa.

Lukas Enembe dan Klemen Tinal dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua periode 2013-2018 di Stadion Mandala, Jayapura, pada 9 April 2013. Gamawan mengingkatkan, sejak menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, keduanya kini adalah milik seluruh warga Papua, baik yang tinggal di gunung maupun daerah pantai. Karena itu, harus melayani seluruh warga Papua.

Di Pilkada Papua 2018, KPU Papua menetapkan dua pasangan calon gubernur-wakil gubernur Papua sebagai peserta Pilkada Papua 2018. Pasangan petahana Lukas Enembe-Klemen Tinal yang diusung Partai Demokrat akan bersaing dengan pasangan John Wempi Wetipo-Habel Suwae yang diusung PDIP dan Gerindra.

Pasangan calon petahana Lukas Enembe-Klemen Tinal kembali meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Papua periode 2018-2023 yang digelar Juni 2018. Dalam rapat pleno KPU, pasangan Lukas-Klemen meraih 1.939.539 suara atau 67,54 persen, sedangkan pasangan John-Habel memperoleh 932.008 suara atau 32,46 persen. Total pemilih yang menggunakan hak suara 2.871.547 orang.

Pada 5 September 2018, Lukas Enembe – Klemen Tinal kembali dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua oleh Presiden Joko Widodo. Usai pelantikan, Lukas mengatakan bahwa peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) menjadi fokus utama dalam kepemimpinannya lima tahun ke depan. Untuk itu dirinya bersama Klemen Tinal akan memberikan beasiswa bagi anak-anak Papua dan membangun sekolah-sekolah. Langkah itu juga dipercaya bisa menanggulangi kemikinan di Papua yang masih terlalu besar.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Gubernur dan wakil Gubernur Papua Lukas Enembe – Klemen Tinal

Daftar penghargaan

  • Berhasil memenangkan bidding untuk Provinsi Papua sebagai Penyelenggara PON XX tahun 2020 (2014)
  • Penanganan Daerah Terisolir di Daerah Otonomi Khusus 2017 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
  • Anugerah Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia (2017)
  • Kepala daerah Inspiratif 2017 dari Majalah Sindo Weekly
  • Gelar Sultan Raja Panglima Besar dari Suku Kutianyir, Lintau Buo Utara, Tanah Datar, Padang, Sumatera Barat (2017)
  • Tokoh Pembangunan Daerah Indonesia Timur dari iNewsmaker Awards (2017)
  • Beritasatu Public Leader Awards atas kinerja inovatif selama pandemi Covid-19 dari Berita Satu Media Holdings (2021)

Penghargaan

Lukas Enembe memiliki berbagai macam penghargaan dan prestasi baik dari masyarakat, media hingga pemerintah. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI memberi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) bagi Pemerintah Provinsi Papua tiga tahun berturut-turut dimulai dari 2014—2016. Manurut Lukas Enembe, hasil yang diraih merupakan buah dari kerja keras pemerintah daerah bersama seluruh SKPD dalam mengelola keuangan negara.

Pada tahun 2017, Lukas meraih penghargaan iNewsmaker Awards 2017 untuk kategori “Tokoh Pembangun Daerah Indonesia Timur”, karena dinilai sukses mendorong pembangunan infrastruktur di Bumi Cenderawasih. Lukas juga mendapat penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri RI terkait Penanganan Daerah Terisolir di Daerah Otonomi Khusus 2017. Ia dinilai berhasil menangani daerah terisolir di bumi Cenderawasih. Lukas juga menerima penghargaan Anugerah Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama karena dinilai telah berhasil menjaga toleransi di wilayahnya.

PEMERINTAH PROVINS PAPUA

Pertemuan Gubernur Papua Lukas Enembe dengan Sekda Papua definitif Dance Yulian Flassy dan Penjabat Sekda Papua, Doren Wakerkwa di Jayapura, Jumat (5/3/2021). Pertemuan ini bertujuan untuk menyelesaikan polemik dualisme jabatan sekda Papua.

Tidak boleh lagi ada pihak yang berbicara tentang perbedaan di Papua. Kita semua memiliki hak sama sebagai warga negara di Indonesia,” kata Gubernur Papua Lukas Enembe (Kompas, 6/9/2019)

Membangun Papua

Sebelum menjadi Gubernur Papua, Lukas Enembe sudah terlebih dahulu terjun untuk membangun Papua dengan menjabat sebagai Wakil Bupati dan Bupati di Kab. Puncak Jaya. Terpilihnya Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua berhasil mematahkan stigma masyarakat bahwa putra-putri Papua dari pegunungan yang selama ini dinilai terbelakang, terbodoh, tidak memimiliki kemampuan dan mitos-mitos merendahkan lainnya terbukti dapat memimpin dan membangun Papua.

Dalam pPidato setelah dikukuhkan sebagai Gubernur Papua pada 9 April 2013 di Jayapura, orang nomor satu di Papua itu mengatakan bahwa kemenangannya merupakan miliki rakyat Papua sebagai “Gerakan Peradaban Baru: Bersama Menuju Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera”. Gerakan ini merupakan kebijakan pembangunan yang lebih memihak rakyat.

Melalui gerakan itu, pemerintah ingin agar Papua dapat berdiri tegak dengan harkat dan martabat yang sejajar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa menghilangkan identitas diri dan kekhususan ke-Papua-annya.

Selain itu, Papua juga harus mandiri yang merupakan hakekat dari otonomi khusus. Mandiri bukanlah dalam isolasi, tetapi saling membutuhkan. Untuk mencapai tujuan mandiri perlu adanya dorongan pembangunan wilayah berbasis kampung dan untuk itulah, generasi Papua penting memiliki sifat harus bisa dan percaya diri. Papua kaya akan sumber daya alamnya, namun hal itu berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya. Masih banyak masyarakat yang mengalami kemiskinan.

Lukas ingin masyarakat Papua memiliki hidup yang sejahtera untuk perubahan hidup yang lebih baik. Karena itu, Lukas berjuang agar masyarakat Papua dapat menikmati hasil dari usaha pertambangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan pertanian skala besar.

Sebagai Gubernur Papua, Lukas ingin agar semua elemen masyarakat untuk bersama menyatukan langkah dan pikiran untuk mengatasi berbagai tantang dan persoalan. Tantangan terbesar dari generasi ini adalah 6-K: Bebas dari Kemiskinan, Kebodohan, Keterbelakangan, Ketertinggalan, Keterisolasian dan Ketidakadilan.

Sudah saatnya membangun generasi Papua dengan peradaban baru yang menjunjung tinggi nilai-nilai kasih, persamaan, keadilan, gotong-royong, kesantunan, kesederhanaan dan keterbukaan. Dengan peradaban baru, Lukas ingin mewujudkan image dan pandangan bagi Papua. Selain itu juga, Lukas Enembe ingin mewujudkan pendekatan baru, strategi baru, kebijakan baru dan hubungan baru antara sesama anak bangsa di Republik Indonesia.

Gubernur Papua Lukas Enembe

Harta kekayaan

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaran Negara yang dikeluarkan KPK tahun 2020, Lukas Enembe memiliki harta kekayaan senilai Rp 31,28 miliar yang dilaporkan ke KPK pada 30 Maret 2021. Sebagian besar kekayaan Lukas berasal dari aset berupa uang kas dan setara kas dengan nilai sebesar Rp 17,9 miliar.

Harta kekayaan Lukas Enembe berupa tanah dan bangunan tercatat sebesar Rp 11,1 miliar. Aset properti tersebut berupa lima bidang tanah dan bangunan yang seluruhnya tersebar di Kota Jayapura. Semua aset yang dimiliki Lukas merupakan hasil sendiri bukan dari warisan atau hibah.

Selain itu, Ia juga memiliki aset berupa surat berharga senilai Rp 1,26 miliar. Untuk aset kendaraan, Lukas memiliki tunggangan berupa mobil Toyota Fortuner tahun 2017 senilai Rp 300 juta, mobil Honda Jazz tahun 2017 dengan taksiran Rp 150 juta, Toyota Land Cruiser 2010 senilai Rp396 juta, dan Toyota Chamry 2010 senilai Rp 85 juta. Jadi, total harta bergeraaknya adalah sebesar Rp 932 juta. Lukas Enembe dalam LPHKN menyebutkan tidak memiliki harta bergerak lainnya, harta lain dan tidak memiliki utang.

Total hartanya itu meningkat sekitar Rp 10 miliar dibandingkan awal Lukas menjabat Gubernur Papua periode periode kedua yang melaporkan hartanya tahun 2019 sebesar Rp 21,19 miliar. Sementara tahun 2016 pada saat Lukas menjabat Gubernur Papua periode Pertama . harta yang dilaporkan dalam LHKPN tercatat sebesar Rp 11,81 miliar.

Referensi

Arsip Kompas

“Kilas Politik & Hukum: Hari Ini, 9 Gubernur Dilantik”, KOMPAS, 5 September 2018, hal. 2.

“Jalan Ringroad Jayapura Dioperasikan”, KOMPAS, 2 Agustus 2019, hal. 15

“Varia Olahraga: Gubernur Papua Jamin Keamanan PON 2020”, KOMPAS, 22 Januari 2020, hal. 19.

Situs web

https://papua.go.id/view-detail-page-292/profil-gubernur-papua.html

https://www.papua.go.id/view-detail-berita-4334/gubernur-lukas-terima-penghargaan-kepala-daerah-inspiratif-2017.html

https://www.papua.go.id/view-detail-berita-4479/inews-maker-nobatkan-gubernur-lukas-sebagai-tokoh-pembangun-daerah-indonesia-timur.html

https://papua.go.id/view-detail-gubernur-37/gubernur-papua-lukas-enembe-menerima-penghargaan-opini-wtp-dari-anggota-bpk-ri.html

https://papua.bpk.go.id/tiga-kali-meraih-wtp-penyerahan-lhp-lkpd-ta-2016-kepada-pemerintah-provinsi-papua/

https://www.tribunnews.com/nasional/2017/04/29/berhasil-implementasikan-otonomi-daerah-gubernur-papua-dapat-penghargaan

https://www.beritasatu.com/politik/737099/berita-satu-beri-penghargaan-kepada-pemimpin-publik-inovatif-di-masa-pandemi

https://internasional.kompas.com/read/2019/05/10/10035131/tujuh-putra-papua-lulus-dari-universitas-ternama-di-amerika-serikat?page=all.

https://internasional.kompas.com/read/2019/05/10/10035131/tujuh-putra-papua-lulus-dari-universitas-ternama-di-amerika-serikat?page=all.

https://www.kompas.com/tren/read/2019/09/10/180000965/istana-presiden-di-papua-segera-dibangun-ini-6-istana-kepresidenan-yang?page=all

https://www.papua.go.id/view-detail-berita-4486/undefined

https://money.kompas.com/read/2021/04/03/124201726/intip-kekayaan-lukas-enembe-gubernur-papua-yang-naik-ojek-ke-png?page=all

https://www.demokrat.or.id/aura-kemenangan-dalam-deklarasi-papua-bangkit-ii/

https://www.papua.go.id/index.php/view-detail-berita-5888/lukas-enembe-diarak-usai-dilantik-jokowi.html

https://nasional.kontan.co.id/news/gubernur-papua-susun-siasat-untuk-tingkatkan-ipm

Buku

Wonda, Sendius. 2015. Lukas Enembe Gubernur Papua: Tokoh Pluralis, Moderat dan Modern (Bangkit dari Pegunungan Mengukir Sejarah Peradaban Baru). Yogyakarta: ETM Press.

Biodata

Nama

Lukas Enembe S.I.P., M.H

Lahir

Mamit, Tolikara, Papua, 27 Juli 1967

Jabatan

Gubernur Papua 2018-2023

Pendidikan

  • SD YPGI Mamit (1980)
  • SMP Negeri 1 Sentani (1983)
  • SMA Negeri 3 Sentani (1986)
  • Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) (1955)
  • The Christian Leadership and Second Linguistic di Cornerstone College (2001)
  • Magister Hukum Universitas Hasanuddin Makassar (2011)

Karier

Pemerintahan

  • PNS Kantor Sosial dan Politik di Kab. Merauke (1996—1998)
  • Izin belajar di Australia (1998—2001)
  • Wakil Bupati Kab. Puncak Jaya (2001—2006)
  • Bupati Puncak Jaya (2007—2012)
  • Gubernur Papua (2013—2018)
  • Gubernur Papua periode kedua (2018—sekarang)

Organisasi

  • Organisasi Kepemudaan di Sulawesi Utara (1988—1995)
  • Ketua Mahasiswa Jayawijaya Sulawesi Utara (1989—1992)
  • Pengurus SEMA FISIP UNSRAT Manado (1990—1995)
  • Koordinator PPM FISIP UNSRAT Manado (1992—1994)
  • Ketua IPMIRJA Sulawesi Utara (1992—1995)
  • Ketua Tim Penggerak Kegiatan Keluarga Tani Pegunungan Tengah (1995—1996)
  • Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua (2010—2012)

Parpol

  • Penasehat beberapa partai politik di Pegunungan Tengah (2001—2006)
  • Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Damai Sejahtera (PDS) (2003—2006)
  • Ketua DPD Partai Demokrat Papua (2006—2018)
  • Ketua DPD Partai Demokrat Papua (2018-2023)

Penghargaan

  • Berhasil memenangkan bidding untuk Provinsi Papua sebagai Penyelenggara PON XX tahun 2020 (2014)
  • Penanganan Daerah Terisolir di Daerah Otonomi Khusus 2017 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
  • Anugerah Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia (2017)
  • Kepala daerah Inspiratif 2017 dari Majalah Sindo Weekly
  • Gelar Sultan Raja Panglima Besar dari Suku Kutianyir, Lintau Buo Utara, Tanah Datar, Padang, Sumatera Barat (2017)
  • Tokoh Pembangunan Daerah Indonesia Timur dari iNewsmaker Awards (2017)

Karya

Publikasi

Papua : Antara Uang dan Kewenangan

Keluarga

Istri

Yulce Wenda

Anak

  • Hemdrikus Cornelius Tigionuoban Enembe
  •  Eldoarado Gamael Enembe
  • Astract Bona Timoramo Enembe
  • Dario Alvian Nells Isak Enembe
  • Jacklin Enembe

Sumber
Litbang Kompas

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Daftarkan email Anda sekarang untuk mendapatkan informasi terkini tentang tokoh ternama.

close