Tokoh

Doni Monardo

Letnan Jenderal Doni Monardo yang sudah berpengalaman menjamin keselamatan dua Presiden RI mengemban tugas baru, menjadi Kepala BNPB. Ketika pandemi datang, Doni ditugaskan mengomandoi penanganan Covid-19 di Indonesia.

Fakta Singkat

Nama Lengkap
Letnan Jenderal TNI
Doni Monardo

Lahir
Cimahi, Jawa Barat,
10 Mei 1963

Almamater
Akmil (1985)
Seskoad (1999)
Lemhannas (2012)

Jabatan Terkini
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (sejak 2019)

Letnan Jenderal TNI Doni Monardo menjadi potret sosok perwira tinggi dengan karier militer cemerlang di pemerintahan dua presiden yang berbeda. Kiprahnya memimpin di sejumlah kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendorong kariernya menanjak. Sejak 2019, Doni diberi tanggung jawab memimpin lembaga yang harus berdiri paling depan di saat bencana datang.

Di masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden, dia sukses mengomandani Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Tak hanya meningkatkan kualitas seluruh anggota Paspampres, Doni juga berhasil meningkatkan fasilitas dan peralatan Paspampres.

Salah satu keberhasilan lainnya terlihat saat digelar pertemuan KTT APEC 2013 di Nusa Dua, Bali.  Paspampres dibawah kepemimpinannya sukses mengamankan dan mengawal  pimpinan negara-negara anggota Asia-Pasific Economic Cooperation atau sering disingkat dengan APEC.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Doni dipromosikan menjadi komandan pasukan elit Kopassus pada tahun 2014. Selanjutnya, ia menjadi Panglima Komando Daerah Militer XVI/ Pattimura dan Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi.

Saat terpilih kembali menjadi Presiden pada periode kedua, Joko Widodo menunjuk Doni sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di tengah pandemi korona, Doni juga merangkap jabatan sebagai Kepala Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Keluarga Tentara

Doni Monardo lahir di Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 10 Mei 1963. Anak dari pasangan Letkol (purn) Nasrul Saad dengan Roeslina ini, sejak kecil sudah berpindah-pindah ke beberapa daerah mengikuti pekerjaan orang tua sebagai polisi militer.

Di mulai dari kota kelahirannya Cimahi, kemudian pindah Aceh yakni ke Meulabouh dan selanjutnya sempat tinggal di Lhokseumawe sebelum menetap di Banda Aceh sampai tingkat SMP. Tahun 1975, orang tuanya kembali dipindahtugaskan. Kali itu, bergeser menuju daerah asalnya di Padang dan Doni menyelesaikan pendidikan SMA di ibukota Sumatera Barat tersebut.

Setelah lulus dari SMAN 1 Padang pada tahun 1981, Doni melanjutkan pendidikan ke akademi militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah dan lulus tahun 1985. Penugasan pertamanya selepas lulus adalah bergabung menjadi anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Tahun 1992, Doni menikahi Santi Ariviani yang dikenalnya tahun 1991 di Padang, Sumatera Barat. Ariviani adalah puteri dari Kolonel (purn) Taufik Marta yang pernah menjadi Bupati Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat selama dua periode yakni 1990-2000.

Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya yang lahir 1993 diberi nama Azzianti Riani Monardo dan menikah dengan seorang anggota Kopassus. Sementara anak keduanya adalah Reizalka Dwika Monardo kelahiran tahun 1997 yang juga menempuh pendidikan militer seperti Doni. Adapun anak ketiganya Adelwin Azel Monardo yang lahir 2003.

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)

Kepala BNPB Doni Monardo beserta jajarannya berkunjung ke Redaksi Harian Kompas di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2019). Kunjungan tersebut diterima oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy. Pada kesempatan tersebut Donin Monardo memberikan penjelasan seputar bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di tanah air serta upaya mitigasi bencana yang dilakukan.

Karier

Di awal karier militernya selepas Akmil, Doni tercatat sebagai anggota Kopassus dan pernah ditugaskan di daerah-daerah rawan konflik seperti Timor Timur dan Aceh. Sekitar 12 tahun ia digembleng di kesatuan elit militer itu. Selanjutnya, bapak tiga anak ini bertugas di Bali bergabung dengan Batalyon Raider di Bali. Tugas itu diembannya selama dua tahun dari 1999 hingga 2001.

Kemudian ia ditarik menjadi anggota Paspampres sebagai salah satu komandan datasemen markas (Dandenma) hingga tahun 2004. Doni selanjutnya dikirim ke Korea Selatan (Korsel) untuk mengikuti pelatihan counter terrorism. Setelah pulang dari Korsel, Doni bertugas di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan di tempatkan di Aceh sebelum akhirnya ditarik kembali ke Paspampres selama beberapa bulan.

Tahun 2006 hingga 2008, Doni ditugaskan ke Sulawesi Selatan sebagai pasukan Kostrad dan menjabat Danbrigif Linud 3/Tri Budi Sakti. Ia lalu ditarik kembali ke DKI Jakarta sebagai Komandan Grup A Paspampres hingga 2010. Selama menjadi pengawal Presiden, ia sudah mengawal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kunjungan ke 27 negara di dunia.

Setelah dua tahun di Paspampres, Doni ditugaskan di Bogor sebagai Danrem 061/Surya Kencana selama beberapa bulan. Kemudian Doni kembali ditarik ke Jakarta untuk menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal (Wadanjen) Kopassus tahun 2010 dan dipromosikan sebagai perwira tinggi militer dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).

Di kesatuan elit itulah karier Doni terus bersinar, bahkan mencatatkan prestasi gemilang. Salah satunya saat Ia ditunjuk oleh Presiden SBY sebagai Wakil Komando Satuan Tugas dalam misi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh perompak Somalia.

Keberhasilannya itu membuat Doni kemudian dipromosikan menjadi Komandan Paspampres (Danpaspampres) pada pertengahan 2012. Sebelumnya, ia sempat mengikuti Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVIII Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Pangkatnya pun naik satu tingkat menjadi Mayor Jenderal (Mayjen).

Sebagai Danpaspampres, Doni merupakan figur yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Presiden. Ia menjabat Danpaspampres hingga era pemerintahan Presiden SBY yang berakhir pada 2014.

Di masa pemerintahan Joko Widodo, Doni kembali ke kesatuan asalnya di militer dan ditunjuk sebagai Danjen Kopassus. Komandan pasukan elit itu dipegangnya sekitar setahun, hingga 2015. Ia berhasil mengubah citra Kopassus di mata masyarakat yang dahulu galak dan seram menjadi Kopassus yang akrab dengan masyarakat dengan programnya sapa, senyum, dan salam.

Selanjutnya ia menjadi panglima militer di dua wilayah berbeda. Tahun 2015 hingga 2017, Doni Monardo bertugas sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVI/Pattimura di Maluku dan Maluku Utara. Selanjutnya, membawahi kemiliteran di Jawa Barat dan Banten selaku Pangdam III/Siliwangi hingga Maret 2018.

Jabatan panglima di Kodam III Siliwangi itu menjadi jabatan terakhirnya di dunia militer. Dia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) selama satu tahun berikutnya.

Terhitung sejak 9 Januari 2019, Doni dipercaya Presiden Jokowi menduduki posisi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jabatan setara menteri yang tugasnya penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan keadaan darurat bencana, rehabilitasi, dan rekonstruksi daerah bencana.

Peran BNPB bagi Indonesia vital mengingat situasi dan posisi geografis negeri ini. Berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik dan kawasan cincin api menyebabkan Indonesia rawan gempabumi dan dampak ikutan dari gempa. Selain itu, bencana lainnya pun terus mengintai Indonesia. BNPB punya tugas strategis melakukan koordinasi dan memimpin penanggulangan bencana di negeri ini.

Sebagai Kepala BNPB, Doni kemudian diberi tanggung jawab lagi sebagai Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020. Dengan jabatan ini, Doni menjadi  komandan terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19 yang sudah menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ia memimpin gugus yang bertugas mengkoordinasikan kegiatan antarlembaga untuk mencegah dan menanggulangi dampak penyakit akibat virus korona tipe baru atau Covid-19.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO (WAK)

Presiden Joko Widodo melantik Letjen Doni Monardo sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/1/2019). Mantan Danjen Kopassus dan Komandan Paspampres di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014 itu menggantikan Laksamana Muda (Purn) Willem Rampangilei.

Daftar Penghargaan

  • Bintang Jasa Utama
  • Bintang Yudha Dharma Pratama
  • Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
  • Bintang Yudha Dharma Nararya
  • Bintang Kartika Eka Paksi Nararya

Penghargaan

Selama berkarier di militer Doni mendapat sejumlah penghargaan antara lain Bintang Jasa Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya,  dan Bintang Kartika Eka Paksi Nararya.

Selain itu, Doni juga pernah mendapatkan  Satyalancana (SL.) Dharma Bantala, SL. Kesetiaan XXIV, SL. Kesetiaan XVI, SL. Kesetiaan VIII, SL. Dwidja Sistha, SL. Dharma Nusa, SL. Wira Siaga, SL. Ksatria Yudha, serta SL. Wira Karya.

Humanis dan Peduli Lingkungan

Meski aktif lama di dunia militer, Doni dikenal sebagai pemimpin yang humanis dan pecinta lingkungan. Perilaku itu terbentuk dari gemblengan tugas militer di daerah-daerah rawan konflik. Selama bertugas Doni lebih mengedepankan kemanusian daripada kekerasan sebagai filosofi hidupnya.

Filosofi itu dipraktikkan selama dalam tugasnya di daerah konflik seperti di Aceh dan Maluku. Ketika menjabat sebagai Pangdam XVI/Pattimura di Maluku misalnya, Doni berhasil mendamaikan Desa Mamala dan Morella di Kabupaten Maluku Tengah memiliki sejarah konflik berkepanjangan yang tak sedikit menelan korban jiwa. Bahkan, Doni diangkat menjadi Warga Kehormatan Kota Ambon.

Kepeduliannya terhadap lingkungan dibuktikan lewat program Citarum Hanum saat dia menjabat Pangdam III/Siliwangi. Konsep yang diinisiasinya itu yang bertujuan mengembalikan kebersihan dan kualitas air Citarum serta meminimalisir kerusakan akibat dampak aktivitas publik di sekitarnya.

Doni pun sebelumya dikenal sebagai tentara yang rajin menanam pohon di kawasan militer dimana dia ditugaskan. Tak heran jika Doni menjadi pendiri dan pembina Paguyuban Budidaya Trembesi (Budiasi). Organisasi ini fokus pada penyediaaan bibit pohon penghijauan dan penanaman pohon di lahan kosong atau kritis.

Bersatu Melawan COVID-19

Sebagai Kepala Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, beban di pundak Doni berat. Melawan pandemi Covid 19, menurut Doni harus bersama-sama, mulai dari pusat hingga daerah. Terlebih,  ”perang” melawan Covid-19 ini adalah sebuah upaya bela negara.

Karena tak bisa berjuang sendirian, di awal pengangkatannya sebagai pucuk pimpinan perang melawan pandemic ini, Doni mengatakan akan menngundang semua kementerian dan lembaga terkait, kepala daerah, dokter paramedis dan lainnya untuk bekerja sama.

Problem data yang tidak transparan akhirnya dipecahkan dengan koordinasi dan semangat kolaborasi antar berbagai lembaga. Dalam wawancara khusus dengan Kompas (15/4/2020), Doni mengingatkan Kementerian Kesehatan agar berani apa adanya sehingga semua orang sadar bahaya Covid-19. Posko bersama siap dibentuk dengan back up dari TNI dan Polri.

” Saya mengingatkan Kementerian Kesehatan agar berani apa adanya sehingga semua orang sadar bahaya virus ini. ”

Doni Monardo (Kompas, 15/4/2020)

Selain data, dua tantangan berat saat pandemi yakni keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) dan rapid test juga diusahakan dicarikan solusi. Semua ini adalah demi perjuangan menahan sebaran Covid 19 yang tidak boleh gagal. Jika sampai kalah, fasilitas kesehatan yang ada tidak akan sanggup menampung ledakan jumlah pasien. Oleh sebab itu, menurut Doni, semua harus bersatu, tak hanya pemerintah.

Biodata

Nama

Lahir

Jabatan

:  Letnan Jenderal TNI Doni Monardo

:  Cimahi, Jawa Barat, 10 Mei 1963

:  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (sejak 2019)

Pendidikan

  • SMA Negeri 1 Padang (1981)
  • Akmil (1985)
  • Seskoad (1999)
  • Lemhannas (2012)

Karier

Militer

  • Danyon-11 Grup-1/Kopassus (1998-1999)
  • Danyonif 900/Raider (1999-2001)
  • Dandenma Paspampres (2001-2003)
  • Katim Analis Intel Kolakoops TNI (2003-2004)
  • Waasops Danpaspampres (2004-2006)
  • Danbrigif Linud 3/Tri Budi Sakti (2006-2008)
  • Dan Grup A Paspampres (2008-2010)
  • Danrem 061/Surya Kencana (2010-2011)
  • Wakil Danjen Kopassus (2011-2012)
  • Danpaspampres (2012-2014)
  • Danjen Kopassus (2014-2015)
  • Pangdam XVI/Pattimura (2015-2017)
  • Pangdam III/Siliwangi (2017-2018)

Pemerintahan

  • Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) (2018-2019)
  • Kepala BNPB (2019-sekarang)
  • Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Maret 2020 – sekarang)

Kiprah Organisasi

  • Pendiri dan pembina Paguyuban Budiasi ( Budidaya Trembesi ) yang bergerak di bidang lingkungan hidup

Penghargaan

  • Bintang Jasa Utama
  • Bintang Yudha Dharma Pratama
  • Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
  • Bintang Yudha Dharma Nararya
  • Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
  • Satyalancana Dharma Bantala
  • Satyalancana Kesetiaan XXIV
  • Satyalancana Kesetiaan XVI
  • Satyalancana Kesetiaan VIII
  • Satyalancana Dwidja Sistha
  • Satyalancana Dharma Nusa
  • Satyalancana Wira Siaga
  • Satyalancana Ksatria Yudha
  • Satyalancana Wira Karya

Keluarga

  • Santi Aviriani (istri, menikah 1992)
  • Azzianti Riani Monardo (anak, lahir 1993)
  • Reizalka Dwika Monardo (anak, lahir 1997)
  • Adelwin Azel Monardo (anak, lahir 2003)

Sumber: Litbang Kompas

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Butuh Informasi Terkini tentang Tokoh Ternama?

Daftarkan email Anda sekarang untuk mendapatkan informasi terkini tentang tokoh ternama.

close