Paparan Topik

Resesi Global: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Linimasa Resesi

Sejarah mencatat serangkaian resesi global yang terjadi dalam 70 tahun terakhir muncul karena berbagai sebab. Aneka krisis tersebut memberi dampak yang berbeda pada wajah perekonomian global.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Suasana permukiman padat yang sebagian besar dihuni warga miskin di tepian anak Kali Ciliwung yang membelah kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (30/9/2022). Pada APBN 2023 yang baru disahkan, pemerintah memasang target ambisius untuk menekan angka kemiskinan di kisaran 7,5 sampai 8,5 persen di tengah tren inflasi dan ancaman resesi global tahun depan.

Fakta Singkat

Definisi resesi:
Penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Penyebab resesi

  • Guncangan ekonomi yang tiba-tiba
  • Utang yang berlebihan
  • Gelembung aset
  • Inflasi terlalu tinggi
  • Terlalu banyak deflasi
  • Perubahan teknologi

Dampak resesi

  • Gelombang PHK
  • Kinerja instrumen investasi turun
  • Pelemahan daya beli masyarakat
  • Peningkatan kemiskinan

Sejarah resesi setelah Perang Dunia II:

  • Resesi 1973-1975
  • Resesi 1979-1982
  • Resesi 1991
  • Resesi 2009

Resesi ekonomi global kembali menghantui negara-negara di dunia pada tahun 2023. Sejumlah lembaga internasional, di antaranya Bank Dunia, Dana Moneter Internasional atau IMF, dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan ekonomi dunia di 2023 berisiko masuk jurang resesi.

Kekhawatiran akan terjadinya resesi global tersebut dipicu oleh setidaknya lima hal. Pertama, adalah pandemi Covid-19. Kendati pandemi Covid-19 telah mulai mereda dan banyak negara telah membebaskan warganya untuk beraktivitas seperti biasa, namun pada saat meluasnya wabah Covid-19 pada awal tahun 2020 sampai dengan awal tahun ini, aktivitas ekonomi global menurun drastis. Setiap negara lebih fokus menangani Covid-19 dan menerapkan pembatasan aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi secara global mengalami kontraksi.

Pada saat yang sama, banyak negara melakukan proteksi atas hasil pangan untuk mengantisipasi wabah Covid-19 yang berkepanjangan dan berakibat pada meningkatnya harga pangan karena kurangnya suplai. Indonesia juga sempat mengalami resesi ekonomi pada akhir tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Kedua, perang Rusia-Ukraina. Perang yang berlangsung sejak bulan Februari 2022 lalu, telah menghilangkan PDB global hingga 2,8 triliun dollar AS (Bisnis Indonesia, 28 September 2022). Perang Rusia Ukraina mengganggu rantai pasok global sehingga menimbulkan krisis terutama di sektor pangan dan energi, yang pada akhirnya mempercepat laju inflasi.

Ketiga, tingginya tingkat inflasi. Dalam World Economic Outlook Update July 2022, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi inflasi global karena harga pangan dan energi serta ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang masih tinggi. Inflasi diproyeksikan akan mencapai 6,6 persen di negara maju serta 9,5 persen di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang pada tahun ini.

Tekanan inflasi global terjadi seiring dengan tingginya harga beberapa komoditas pangan dan energi (minyak mentah, gas alam, dan batu bara) akibat terganggunya rantai pasok yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina

Keempat, kenaikan suku bunga acuan. Bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga acuan sejak semester kedua tahun ini. Tekanan inflasi di negara Barat dan AS membuat bank sentral terus menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi.

Kelima, penurunan permintaan global. Akhir-akhir ini perusahaan di banyak negara mulai mengurangi hasil produksinya karena permintaan global mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan kelesuan ekonomi dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi secara global akan berkontraksi.

Terlepas dari dinamika perkembangan global yang diperkirakan akan terjadi tahun depan tersebut, sejarah perekonomian dunia mencatat, sejak Perang Dunia II, ekonomi dunia pernah mengalami empat resesi global, yaitu tahun 1975, 1982, 1991, dan 2009.

EPA/ ADRIAN BRADSHAW

Beijing memiliki distrik bisnis sebagai buah dari 30 tahun reformasi perekonomian, Senin (8/12/2008). Bangunan – bangunan di distrik bisnis  kosong akibat krisis ekonomi global. Harga bangunan yang ditawarkan kepada pembeli kini sekitar 50 persen dari harga seharusnya. Namun, hal ini diduga hanya berlangsung untuk sementara.

Pengertian, penyebab, dan dampak resesi

Resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Para ahli menyatakan resesi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, meningkatnya tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan ukuran pendapatan dan manufaktur yang berkontraksi untuk jangka waktu yang lama.

Resesi dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis atau irama ekspansi dan kontraksi reguler yang terjadi dalam perekonomian suatu negara.

Selama resesi, perekonomian melambat yang ditandai oleh menurunnya kegiatan produksi, meningkatnya pengangguran, mundurnya kegiatan industri, dan melemahnya kegiatan perekonomian pada umumnya dan output ekonomi negara secara keseluruhan menurun. Titik di mana ekonomi secara resmi jatuh ke dalam resesi tergantung pada berbagai faktor.

Pada 1974, ekonom Julius Shiskin, mencetuskan definisi resesi sebagai penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut seperti dikutip dari tulisan berjudul “What Is a Recession?” di laman Forbes. Definisi resesi ini menjadi standar umum selama bertahun-tahun kemudian.

Di Amerika Serikat (AS), Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) umumnya diakui sebagai otoritas yang menentukan tanggal mulai dan berakhirnya resesi AS. NBER memiliki definisi sendiri  mengenai resesi, yaitu “penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh perekonomian, berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.”

Masih menurut Forbes, terdapat lebih dari satu cara untuk memulai resesi, dari kejutan ekonomi yang tiba-tiba hingga dampak dari  inflasi yang tidak terkendali. Setidaknya terdapat enam penyebab resesi.

Pertama, guncangan ekonomi yang tiba-tiba. Guncangan ekonomi adalah masalah kejutan yang menimbulkan kerugian finansial yang serius. Wabah Covid-19 yang memukul sektor ekonomi di seluruh dunia, adalah contoh yang lebih baru dari goncangan ekonomi yang tiba-tiba.

Kedua, utang yang berlebihan. Ketika individu atau dunia usaha terlalu banyak berutang, di mana biaya utang meningkat yang ujungnya bisa memicu gagal bayar sehingga bisa menyebabkan kebangkrutan ekonomi.

Ketiga, gelembung aset. Terjadi investasi berlebihan di pasar saham atau di sektor properti yang ketika gelembung itu meletus maka bisa menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.

Keempat, inflasi terlalu tinggi. Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik seiring waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk. Tetapi, inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. Bank sentral mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, dan suku bunga yang lebih tinggi menekan kegiatan ekonomi.

Kelima, terlalu banyak deflasi. Meskipun inflasi yang tak terkendali dapat menyebabkan resesi, deflasi bisa menjadi lebih buruk. Deflasi yang terlalu besar dari waktu ke waktu bisa menyebabkan tingkat upah menurun yang selanjutnya menekan harga-harga barang dan jasa.

Keenam, perubahan teknologi. Penemuan baru meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang. Tetapi, mungkin ada periode jangka pendek penyesuaian terhadap terobosan teknologi.

Adapun dampak dari resesi relatif bervariasi di berbagai kelompok negara. Berdasarkan riset Bank Dunia, rata-rata pertumbuhan per kapita menurun lebih banyak di negara maju daripada negara berkembang selama resesi global.

Perbedaan dampak resesi global bagi tiap negara juga sangat bergantung pada kebijakan yang diambil dan fundamental ekonomi negara  yang  bersangkutan. Kedalaman dan kecepatan resesi bergantung pada tingkat ketergantungan suatu negara pada perdagangan global dan aktivitas ekspor-impor. Besarnya  dampak  krisis  telah  menyebabkan adanya  koreksi  proyeksi  tingkat  pertumbuhan  ekonomi  berbagai  negara dan  dunia.

Sementara itu, resesi secara umum memberikan sejumlah dampak. Pertama, perlambatan ekonomi akan membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya. Keterpurukan dunia usaha itu pada akhirnya berdampak pada semakin sedikitnya lapangan kerja dan bertambahnya angka pengangguran.

Kedua, kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman.

Ketiga, ekonomi yang semakin sulit berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu. Daya beli masyarakat yang menurun juga menyebabkan bertambahnya jumlah orang miskin.

Dalam sejarahnya, seperti dikutip dari Bank Dunia dalam tulisannya berjudul “Global Recessions”, sejak Perang Dunia II, ekonomi dunia setidaknya pernah mengalami empat resesi global, yaitu tahun 1975, 1982, 1991, dan 2009.

Keempat resesi global tersebut ditandai dengan terpuruknya ekonomi dan krisis keuangan di banyak negara di seluruh dunia. Kendati demikian, setiap resesi memiliki keunikan tersendiri. Berikut ini akan dipaparkan keempat resesi global seperti disebutkan oleh Bank Dunia tersebut.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Pembangunan proyek gedung bertingkat di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (28/6/2020). Bank Indonesia memproyeksikan, proses pemulihan ekonomi mulai menguat pada triwulan III-2020 seiring relaksasi pembatasan sosial berskala besar sejak pertengahan Juni 2020. Namun bayangan resesi global yang bisa berdampak ke ekonomi Indonesia kian nyata.

Resesi 1973-1975: krisis minyak

Resesi ini berlangsung selama 16 bulan, dari November 1973 hingga Maret 1975, dan sering disebut sebagai resesi krisis minyak. Resesi ini menandai kemerosotan ekonomi terpanjang sejak Depresi Hebat atau Great Depression pada era 1930-an.

Krisis ekonomi tahun 1970-an terkait erat dengan embargo minyak yang diberlakukan oleh produsen minyak Arab terhadap AS dan secara tidak langsung terhadap Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) atas dukungannya terhadap Israel selama Perang Yom Kippur 1973.

Meskipun embargo telah berakhir pada Maret 1974, perubahan suplai minyak dan kenaikan harganya memicu inflasi serta pelemahan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di sejumlah negara. Harga minyak tetap tinggi sepanjang satu dekade, dengan rata-rata tahunan meningkat dari sekitar 1,30 dolar AS pada akhir 1960-an menjadi lebih dari 11 dolar AS pada 1970-an.

Ketergantungan Barat pada impor minyak Arab kemudian muncul ke permukaan, ketika embargo dan lonjakan harga minyak menunjukkan betapa bergantungnya “Zaman Keemasan Kapitalisme” pada pasokan minyak asing.

Di sisi lain, sebenarnya ada dua faktor lainnya yang turut memicu resesi. Faktor pertama adalah kebijakan kontrol harga upah yang dibuat oleh Presiden AS Richard Nixon. Kebijakan ini menyebabkan harga barang melambung dan menurunkan permintaan. Tingkat upah yang tinggi juga membuat pelaku bisnis melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Faktor kedua, AS melepaskan standar emas dan menyebabkan inflasi tak terkontrol. Menurut Investopedia, runtuhnya Perjanjian Bretton Woods yang menetapkan nilai tukar mata uang berkontribusi pada kenaikan inflasi AS dari 2,4 persen pada Agustus 1972 menjadi 7,4 persen setahun kemudian.

Hal itu menyebabkan Bank Sentral AS (Federal Reserve, the Fed) meningkatkan dana federal menjadi 10 persen antara akhir 1972 dan pertengahan 1973. Setelah meningkatkan tingkat dana federal menjadi 13 persen pada paruh pertama tahun 1974, Bank Sentral AS memotongnya menjadi 5,25 persen dalam waktu kurang dari setahun.

AS pun dalam periode ini mengalami stagflasi dan pertumbuhan ekonomi negatif selama lima kuartal. Tercatat paling dalam pada kuartal I 1975, yakni minus 4,8 persen. Tingkat pengangguran pun melonjak dua tahun setelah resesi pada Mei 1975 sebesar 9 persen.

Faktor lainnya adalah bahwa pemerintah AS menghabiskan sejumlah besar uang untuk perang Vietnam. Setelah itu, saham AS di Wall Street juga jatuh pada 1973-1974. Meskipun embargo dicabut pada tahun 1974, harga minyak tetap tinggi.

Tak hanya di AS, Jerman juga mengalami resesi terburuk pada tahun 1975. Hal ini juga disebabkan oleh krisis minyak global dan PDB Jerman turun sebesar 0,9 persen.

Sementara itu di Inggris, resesi ekonomi mulai terasa pada tahun 1973, setelah pecahnya Perang Yom Kippur. Harga minyak meningkat empat kali dan Inggris tidak dapat menghindari masalah inflasi.

Kendati pemerintah terus mendorong pertumbuhan ekonomi, inflasi terus meroket seiring dengan peningkatan angka pengangguran. Setelah perang usai, biaya hidup di Inggris meningkat sebesar 26 persen. Situasi ini berlangsung hingga musim panas 1975.

Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal lalu diterapkan terutama oleh beberapa negara maju. Harapannya, pertumbuhan ekonomi bisa pulih pada 1976. Namun, negara G7 seperti Kanada, Perancis, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat, kecuali Jerman dan Jepang, masih terus mengalami inflasi tinggi.

AP / KATSUMI KASAHARA

Pejalan kaki menyeberangi jalan di pusat pembelanjaan Ginza, Tokyo, 9 Desember 2008. Jepang sudah jatuh dalam resesi ekonomi yang gawat. Ekspor melemah, permintaan domestik merosot, dan gelombang pemutusan hubungan kerja mulai terjadi. Resesi yang dalam membuat para ibu rumah tangga di Jepang berupaya melakukan penghematan demi menjaga ekonomi rumah tangga mereka.

Resesi 1979-1982: resesi double-dip

Resesi pada kurun waktu ini berlangsung selama dua periode yang diselingi periode pertumbuhan dan pemburukan sebelum pulih sepenuhnya. Resesi ini kerap disebut dengan resesi double-dip atau double-dip recession.

Pada masa resesi double-dip, ekonomi tumbuh negatif, kemudian meningkat tajam namun kemudian turun lagi sebelum akhirnya kembali tumbuh seperti semula. Karena kurva produk domestik bruto (PDB) dan data ekonomi lainnya pada grafik menyerupai huruf W, maka dikenal pula sebagai resesi berbentuk W.

Dalam resesi kali ini, ekonomi AS terpuruk dua kali. Pada Januari 1980, ekonomi AS jatuh ke dalam resesi selama enam bulan. Kemudian pada Juli 1980, pertumbuhan kembali positif dan ekonomi tetap dalam ekspansi yang berlangsung selama 12 bulan. Satu tahun kemudian, pada Juli 1981, ekonomi AS  sekali lagi jatuh ke dalam resesi yang parah, yang berlangsung selama 16 bulan.

Pada resesi pertama tahun 1980, penyebabnya tak terlepas dari kebijakan moneter akomodatif yang ditujukan untuk mengurangi meningkatnya pengangguran mendorong inflasi AS menjadi 7 persen pada awal 1979, tepat sebelum Revolusi Iran yang menyebabkan harga minyak naik drastis.

Ketika itu, Bank Sentral AS sudah menaikkan suku bunga ketika Paul Volcker diangkat sebagai Kepala Bank Sentral AS pada Agustus 1979. Suku bunga naik dari 10,5 persen pada saat pengangkatannya menjadi 17,5 persen pada April 1980.  Resesi singkat ini secara resmi berakhir ketika Bank Sentral AS menurunkan suku bunga kembali ke 9,5 persen pada Agustus 1980. Namun demikian, di sisi lain, inflasi masih tetap tinggi.

Pada resesi kedua 1982, dipicu oleh kenaikan harga minyak pada 1979, pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan sejumlah negara maju, serta krisis utang Amerika Latin.

Pada 1979, harga minyak naik tajam. Salah satu penyebabnya, revolusi Iran yang turut mendorong inflasi di perekonomian negara maju. Di beberapa negara maju, inflasi bahkan mencapai dua digit.

Karena kondisi tersebut, negara-negara maju seperti Jepang, Italia, Inggris, Jerman, hingga Amerika Serikat menerapkan kebijakan uang ketat untuk meredam inflasi. Negara-negara ini mengendalikannya dengan menaikkan suku bunga.

Akibatnya, suku bunga pinjaman dalam dolar melonjak. Di satu sisi, kebijakan tersebut berhasil meredam inflasi di AS. Di sisi lain, pada saat yang sama memicu kelesuan pada perekonomian AS dan juga dunia. Negara-negara yang memiliki pinjaman dalam dolar pun tercekik. Mereka mengalami kesulitan dalam pembayaran utang.

Pada Agustus 1982, Meksiko menyatakan tidak bisa membayar utangnya. Setelah itu, negara-negara lainnya juga menyatakan tak mampu membayar utang. Krisis utang pecah dan dunia dilanda resesi. Seiring lesunya perekonomian, permintaan minyak pun ikut turun. Dampaknya, harga minyak yang sempat mencapai titik tertingginya pada tahun 1980-an, secara perlahan turun.

Di resesi 1982, perekonomian negara maju umumnya bisa pulih lebih cepat, meskipun angka pengangguran masih tinggi. Namun, resesi global ini mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi berkepanjangan di negara Amerika Latin, Karibia, dan Afrika wilayah Sub-Sahara.

KOMPAS/KARTONO RYADI

Bisnis rumahan di Jakarta yang biasanya dijalankan dengan modal kecil tidak boleh dipandang sebelah mata (16/5/1978). Banyak contoh industri rumahan ini kemudian menjadi besar dan produknya berhasil melanglang buana. Di tengah krisis ekonomi global sejumlah cerita juga menunjukkan tangguhnya usaha rumahan ini.

Resesi 1990-1991: Krisis Simpan Pinjam dan Perang Teluk

Resesi periode ini berlangsung selama delapan bulan, mulai Juli 1990 hingga Maret 1991. Resesi ini dipicu oleh dua peristiwa, yakni krisis simpan pinjam (S&L) dan Perang Teluk Pertama (190-1991).

Lembaga pemberi pinjaman (the savings and loan, S&L) adalah bank lokal kecil yang dirancang untuk membantu orang Amerika memiliki rumah. Tetapi ketika inflasi meningkat pada 1970-an dan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga untuk menekan harga yang lebih tinggi, S&L mengalami kerugian besar. Upaya deregulasi yang dianggap buruk hanya memperburuk masalah, dan industri menuju kehancuran pada akhir 1980-an.

Persoalan perumahan dari krisis S&L ini diperburuk oleh invasi Irak ke Kuwait, produsen minyak utama dunia. Perang Teluk Pertama juga memicu ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak yang tajam yang menyebabkan harga minyak menjadi lebih dari dua kali lipat. Resesi yang dihasilkan melihat pengangguran mencapai 6,8 persen dan PDB turun 0,1 persen.

Di Eropa Timur dan Tengah serta negara-negara eks Uni Soviet, transisi ke ekonomi pasar salah satunya dipersulit oleh inflasi tinggi. Sementara itu, negara-negara Skandinavia mengalami krisis perbankan parah di awal tahun 1990-an setelah liberalisasi sektor keuangan dan ekspansi cepat di pasar kredit pada tahun 1980-an.

Di Amerika Serikat, melemahnya lembaga pemberi pinjaman sejak 1980-an membebani pasar perumahan, terutama selama krisis kredit 1990-1991. Selama delapan bulan, ekonomi AS terpuruk dengan PDB terkontraksi 1,1 persen dan tingkat penganggurannya sebesar 7 persen.

Salah satu penyebabnya adalah Bank Sentral AS menurunkan suku bunga secara bertahap untuk menekan inflasi. Langkah Bank Sentral AS tersebut membuat perekonomian melambat. Ekonomi pun semakin terpuruk setelah Irak menginvasi Kuwait pada musim panas 1990 dan AS turut terlibat di dalamnya.

Akibat lainnya adalah harga minyak dunia melonjak lebih dari dua kali lipat. Di Jepang, gelembung harga aset pecah sehingga mengakibatkan resesi dan periode panjang pertumbuhan rendah dan inflasi yang mendekati nol.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Seorang warga mengajak cucunya mengirup udara segar di ‘ruang terbuka’ yang berada di antara jalur kereta di kawasan hunian semi permanen padat penduduk di Pademangan, Jakarta Utara, jumat (18/6/2021). Pandemi Covid 19 telah berdampak sistemik hingga membuat tingkat kemiskinan naik. Bank Dunia mencatat, sepanjang Februari 2020 hingga Februari 2021, sekitar 1,8 juta orang Indonesia menjadi penganggur, 3,2 juta orang kehilangan pekerjaan, dan 2,8 juta orang telah jatuh ke dalam kemiskinan per September 2020.

Resesi 2007-2009: Resesi Terburuk

Resesi periode ini berlangsung selama 18 bulan, mulai Desember 2007 hingga Juni 2009. Resesi ini kerap disebut sebagai krisis terburuk sejak Depresi Besar atau Great Depression pada tahun 1930.

Dalam  buku  terbitan  Bappenas  berjudul “Penyebab  dan  Dampak  Krisis  Keuangan  Global“,  disebutkan  bahwa  krisis  keuangan  yang terjadi di AS bermula dari krisis kredit perumahan di negara itu.

Disebutkan, Amerika Serikat pada tahun 1925 telah menetapkan undang-undang mengenai Perumahan (mortgage). Peraturan tersebut berkaitan dengan sektor properti, termasuk kredit kepemilikan rumah yang memberikan kemudahan bagi para kreditur.

Banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada masyarakat yang sebenarnya secara finansial tidak layak memperoleh kredit, yaitu kepada masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi kredit yang mereka lakukan.

Situasi tersebut memicu terjadinya kredit macet di sektor properti (subprime mortgage) yang mengakibatkan efek domino yang mengarah pada bangkrutnya beberapa lembaga keuangan di Amerika Serikat.

Hal ini dikarenakan lembaga pembiayaan sektor properti umumnya meminjam dana jangka pendek dari pihak lain yang umumnya adalah lembaga keuangan. Jaminan yang diberikan perusahaan pembiayaan kredit properti adalah surat utang (subprime mortgage securities) yang dijual kepada lembaga-lembaga investasi dan investor di berbagai negara. Padahal, surat utang tersebut tidak ditopang dengan jaminan debitor yang memiliki kemampuan membayar kredit perumahan yang baik.

Dengan adanya tunggakan kredit properti, perusahaan pembiayaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada lembaga-lembaga keuangan, baik bank investasi maupun aset management. Hal tersebut mempengaruhi likuiditas pasar modal maupun sistem perbankan.

Kondisi tersebut mengarah kepada terkurasnya likuiditas lembaga-lembaga keuangan karena tidak memiliki dana aktiva untuk membayar kewajiban yang ada. Ketidakmampuan membayar kewajiban tersebut membuat lembaga keuangan yang memberikan pinjaman terancam kebangkrutan.

Kondisi yang dihadapi lembaga-lembaga keuangan besar di Amerika Serikat mempengaruhi likuiditas lembaga keuangan yang lain, baik yang berada di Amerika Serikat maupun di luar Amerika Serikat terutama lembaga yang menginvestasikan uangnya melalui instrumen lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Disinilah krisis keuangan global bermula.

Sementara itu, dalam situs Britannica, disebutkan bahwa resesi periode 2007-2009 terjadi karena krisis kredit subprima yang membuat tingkat penyitaan aset meningkat 79 persen pada 2007 dan menghancurkan pasar perumahan AS.

Hal itu kemudian memicu krisis perbankan, lantaran banyak lembaga keuangan yang telah mengambil sekuritas berbasis kredit berisiko tinggi tak mendapat pengembalian pinjaman dari nasabahnya. Beberapa institusi keuangan besar seperti Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac, dan Lehman Brothers runtuh pada 2008.

Akibat berikutnya, pasar saham jatuh dan indeks utama kehilangan lebih dari setengah nilainya selama krisis. Pasar saham AS anjlok, dengan nilai pasar yang tersapu akibat krisis mencapai 8 triliun dolar AS selama periode 2007-2009.

Dampaknya, PDB AS menyusut hingga 4,3 persen dan tingkat pengangguran mencapai 10 persen pada Oktober 2009. Dampak lainnya, tingkat kemiskinan di AS meningkat dari 12,5 persen pada tahun 2007 menjadi lebih dari 15 persen pada tahun 2010.

Amerika Serikat, sebagai episentrum krisis, kemudian menempuh langkah serius untuk mengatasi krisis agar resesi tidak berkepanjangan dan berisiko jatuh ke dalam depresi. Untuk itu, Pemerintah AS mengeluarkan beragam stimulus ekonomi, termasuk dana talangan sebesar 700 miliar dolar AS untuk institusi keuangan dan paket lain sebesar 800 miliar dolar AS.

Krisis tak hanya menimpa AS, namun menyebar cepat ke kawasan Eropa Barat dan negara-negara lain seiring jatuhnya harga saham global. Sebagian besar negara industri mengalami perlambatan ekonomi dengan berbagai tingkat keparahan.

Beberapa negara yang terdampak itu adalah Islandia yang sangat terpukul oleh krisis keuangan dan mengalami resesi parah. Tiga bank terbesar di negara itu juga dinasionalisasi.

Latvia bersama dengan negara-negara Baltik lainnya, juga terkena dampak krisis keuangan. PDB negara itu menyusut lebih dari 25 persen pada 2008-2009 dan tingkat pengangguran mencapai 22 persen selama periode yang sama.

Sementara itu, Spanyol, Yunani, Irlandia, Italia, dan Portugal mengalami krisis utang negara yang memerlukan intervensi bantuan dari Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional (IMF) serta mengakibatkan pengenaan langkah-langkah pengetatan. (LITBANG KOMPAS)

Referensi

Arsip Kompas
  • “AS menuju resesi ekonomi?”, Kompas, 15 Aug 1973, hlm. 02
  • “Resesi ekonomi dunia: Minyak menggeliat mencari ekuilibriumnya”, Kompas, 01 September 1979, hlm. 07
  • “Pidato nasional pertama presiden Reagan: Keadaan ekonomi AS kini paling jelek sesudah krisis 1929”, Kompas, 7 Feb 1981, hlm. 07
  • “Sedikit tentang Resesi Dunia Dewasa Ini”, Kompas, 23 Juli 1981, hlm. 04
  • “Presiden Ronald Reagan: AS berada dalam resesi”, Kompas, 21 Oktober 1981, hlm. 02
  • “Presiden ADB: Perekonomian Dunia Ambang Resesi”, Kompas, 06 November 1990, hlm. 08
  • “Apakah AS akan Bisa Bangkit dari Resesi”, Kompas, 20 Maret 1992, hlm. 09
  • “Resesi Global, Jelas Bukan Sekadar Wacana”, Kompas, 16 Oktober 2001, hlm. 37
  • “Ekonomi AS: Pertanda Resesi di Depan Mata”, Kompas, 12 Januari 2008, hlm. 21
  • “Ekonomi AS Menuju Resesi?”, Kompas, 19 Februari 2008, hlm. 06
  • “Menanti Akhir Resesi Ekonomi”, Kompas, 14 April 2008, hlm. 06
  • “Ekonomi Global di Tepi Jurang”, Kompas, 17 September 2008, hlm. 06
  • “Ekonomi Global: Resesi Sudah Resmi Dimulai”, Kompas, 18 November 2008, hlm. 10
  • “Antibodi Resesi Global”, Kompas, 15 Oktober 2019, hlm. 06
  • “Menghindari Resesi Ekonomi”, Kompas, 21 Juli 2022, hlm. 07
  • “Dampak Resesi Ekonomi Global”, Kompas, 05 Agustus 2022, hlm. 06
  • “Resesi Global dan Pilihan Kebijakan”, Kompas, 12 Oktober 2022, hlm. 06